Move Your Heart

Tittle: Move Your Heart

Author: Nana Cho

Genre: Romance

Rate: T

Cast:

  • Lee Howon [Infinite’s Hoya]
  • Lee Kira [OC]
  • Lee Sungri

Disc: This plot is originally mine!

[…]

[Move your heart]

[…]

“Three two one split!” Suara namja itu membahana di seluruh penjuru ruang latihan dance kami. Memberikan aba-aba pada setiap gerakan yang kami lakukan.

“Kira, luruskan kakimu itu. Apa kau tak tahu cara melakukan split?”

“Aaaargh!!!” Aaasshh jinjja… kupikir namja itu benar-benar gila. Ditariknya kaki kananku dengan paksa, hanya agar kaki kanan dan kiriku lurus, sejajar dengan tubuhku. Tapi, ini pertama kalinya aku melakukan split, dan ini benar-benar sakit!

“Jangan manja!” Benar ‘kan apa yang kubilang, dia memang gila!

PLOK PLOK PLOK…

Sekarang, gliran tepuk tangannya yang memberi kami aba-aba, sesuai dengan beat musik yang terputar. Breakbeat, begitu musik pengiring kami ini disebut. Kami memang sedang berlatih breakdance sekarang, dan ini adalah pengalaman pertamaku berlatih gerakan dance ini. Kau tahu? Ini benar-benar susah.

“Hosh… hosh…” Kuatur nafasku seraya menyeka keringatku yang terus mengucur deras.

“Setengah jam lagi, kita mulai berlatih rockdown!” Aasshh apa katanya? Rockdown? Gerakan apalagi itu? Bahkan aku baru pertama kali ini mendengarnya. Jinjja…

GLEK.

Kutegak begitu saja air mineral dari botol yang kugenggam. Ini adalah pengungkapan dari rasa lelah dan sebalku yang sudah menumpuk dan nyaris membuatku meledak. Hhh…

Namja itu – yang terus memberi kami aba-aba – bernama Lee Howon. Tapi, dia lebih banyak dikenal dengan nama ‘Hoya’, dia adalah b-boy yang sekitar satu minggu ini menjadi instruktur kami di club dance ini. Aku tak tahu, apa alasan ketua memasukkan seorang b-boy ke dalam kelompok kami.

Padahal, kelompok kami lebih terlatih untuk melakukan gerakan cover dance yang sudah terkenal dibawakan oleh boyband dan girlband. Atau, gerakan dance standart, karena pada dasarnya kelompok kami adalah club dance penari latar. Tapi, entah kenapa kami harus berlatih breakdance seperti ini. Bahkan, jujur saja ini adalah yang pertama untukku, karena bassic-ku adalah penari tarian daerah, bukan tarian modern.

Ya, setidaknya kupikir kelas breakdance ini akan menjadi kelas yang cukup menyenangkan karena pelatih kami itu. Sejak pertama kali melihatnya, dia benar-benar tampan. Tubuhnya tegap, berisi, memesona, dan tak seperti b-boy yang lain, yang terlihat agak urakan, Hoya oppa terlihat terawat dan benar-benar er, seksi. Tapi, siapa sangka ternyata namja itu menyimpan dua tanduk di balik pesonanya. Pertama, dia benar-benar seorang yang keras! Tak boleh telat, tak boleh salah, semua harus dilakukan sesuai keinginannya. Kedua, seperti yang kubilang, dia orang gila. Lihat saja, dia akan menarik kaki seseorang jika dia tak bisa melakukan split. Tak perduli orang itu kesakitan atau apa. Mungkin ini baik untuk kedepan. Tapi, ini benar-benar menyakitkan!

“Perhatikan kakimu Kira-ssi!” Kudengar suara sumbang itu memanggil namaku untuk ke sekian kalinya. Kurasa, dia sudah memanggilku lebih dari sepuluh kali hari ini. Hanya karena gerakan rockdown sial ini.

“Perhatikan tempo-nya Kira-ssi!”

“Ya! Kau hanya asal bergerak?”

“Kira-ssi!”
“Aaasshhh apalagi?” Kuhentikan gerakanku seraya berdiri dan menatapnya malas. Aku benar-benar lelah.

Terang saja, tingkahku ini mengalihkan perhatian semua member lain yang tengah beristirahat di pinggir ruangan. Sebenarnya, kami memang sudah cukup menarik perhatian member lain selama satu hari ini. Hanya gara-gara gerakan sial ini.

“Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba berhenti? Lanjutkan latihanmu!”

“Aaasshh… jinjja!” Kulanjutkan lagi gerakan rockdown-ku. Haah… apa aku tak berhak berhenti? Sudah lebih dari satu jam aku berlatih gerakan sial ini, dan Hoya-ssi tak memberiku istirahat! Hanya karena aku adalah yang terburuk dalam melakukan gerakan ini. Ini penindasan!

Ini semua gara-gara gerakan rockdown kemarin! Seluruh kakiku, mulai dari pangkal paha hingga pergelangan kaki, semua terasa pegal, sakit! Rasanya seperti ada sepuluh orang Kang Hodong di kakiku ini setiap kali aku berjalan. Benar-benar berat! Sial!

“Terkutuklah kau Lee Howon!!!” Teriakku gemas seraya menggenggam kaleng softdrink di tanganku.

KREEK~

Mwo?! Kaleng yang kugenggam penyok! Aku kuat ternyata. Hahaha…

Untung saja aku ada di taman belakang kampus yang sepi dari jamahan manusia, jadi aku bisa berteriak-teriak sesuka hatiku.

“Siapa yang kau kutuk yeoja manja?” Heh? ‘Yeoja manja’ katanya? Suara ini?

Kutengokkan kepalaku kearah sumber suara dengan gugup. Perasaanku mulai tak enak.

“Neo…” Mulutku terbuka, jariku mengacung menunjuk wajah jelek itu, aku mematung begitu saja. Siapa yang tak memaku melihat orang yang baru saja kau sumpahi ada di belakangmu sekarang?

“Yaa. Tak sopan menunjuk instrukturmu tepat di depan mukanya.”

“Lalu apa? Aku harus melakukan gerakan sial itu lagi?” Kucoba bangkit dari dudukku dengan sekuat tenaga, seraya menahan rasa sakit di kakiku.

“Hm? Bahkan aku tak yakin kakimu baik-baik saja sekarang.” Dia tahu aku kesakitan? Waah…

“Aigoo… ini pasti aroma minyak yang kau pakai untuk memijat kakimu. Aasshh…” Digosok-gosoknya hidung mancung itu. Cih. Pantas saja dia tahu kakiku sakit.

“Bukan urusanmu!” Kupakai slingbag-ku kemudian mulai berjalan melewatinya dengan langkah yang terpincang-pincang. Dia benar-benar menyebalkan!

“Kita lihat, seberapa jauh kau bisa berjalan dengan keadaan kakimu itu Kira-ssi.”

“Kau tak perlu menolongku jika aku terjatuh nanti!” ucapku ketika aku berhasil berdiri tepat di depannya.

“Jinjja?” Aaasshh… ekspresi apa itu yang ditunjukkannya? Dia meremehkanku?

Kulanjutkan langkahku melewatinya meskipun kurasakan kakiku semakin kaku dan kaku. Aku tak berjalan dengan selayaknya. Tapi, aku hanya melangkah dengan satu kaki, dan menyeret kaki lain yang ada di belakang.

Sampai akhirnya,

BRUGH.

“Aaaw…” Ya, aku terjatuh dengan sukses. Kakiku kram, dan aku masih berada dalam jarak pandang Hoya sekarang. Well, ini memang memalukan. Tapi, kakiku benar-benar sakit!

“Benar ‘kan apa yang kubilang. Kkaja.” Kutatap sebuah tangan yang mengulur di depan wajahku itu skeptis.

“Aku bisa sendiri.” Meskipun aku berkata begitu. Tapi, sungguh! Kakiku benar-benar tak bisa digerakkan. Apayo…

“Hhh… kau tak akan bisa berdiri dengan keadaan seperti ini Kira Agassi.”

“Hyaaa apa yang kau lakukan Hoya-ssi?!” Reflek teriakanku pecah, seiring dengan tubuhku yang tiba-tiba diangkat namja menyebalkan itu, kemudian aku digendongnya dengan bridal style! Omona!

“Turunkan aku! Dasar namja mesum!”

“Ya! Suaramu itu benar-benar sumbang kau tahu? Joyonghage Kira Agassi.” Mwo? Sumbang katanya?

“Lee Howon namja menyebalkan, namja gila, turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri!”

“Joyonghi! Apa kau tak malu hah? Semua orang sedang melihat kearah kita sekarang.” Bisik namja gila itu seraya menatapku dan menghentikan langkahnya di lorong menuju klinik.

Benar apa yang dikatakannya, semua mahasiswa yang ada disini sedang menatap kesatu arah sekarang. Menatap kearah kami berdua yang terlihat seperti seorang namja brandal yang sedang mencoba menculik sang putri kaya. Sebenarnya, aku malu. Tapi, aku tak peduli! Aku harus turun dari gendongan namja gila ini!

“Aniya. Wae? TURUNKAN AKU LEE HOWON!”

“Aasshh… jangan begini chagiya, bukankah kakimu sedang sakit? Aku ‘kan hanya tak mau kau lebih sakti lagi…” MWO?! Kenapa dia harus mengeraskan volume suaranya? Kenapa dia juga harus memanggilku..

“Yaa! Neo –”

“Nde chagiya? Tunggu, sebentar lagi kita sampai di klinik.”

CUP.

“Diamlah atau akan membuatmu lebih malu dari ini.” Bisiknya di telingaku, menyusul bibirnya yang dengan sangat yakin menyentuh pipiku!

Sial! Aku kehabisan kata-kata untuk membalasnya! Aku hanya bisa diam, menyembunyikan pipi merahku ke dada bidangnya.

“Yaaa! Jangan tekan terlalu keras pabo!”

DUGH.

Sekali lagi, kakiku refleks menendang Hoya yang tengah memijit kakiku. Membuatnya otomatis terjatuh kebelakang dengan sukses. Aku suka sekali refleks kakiku hari ini. Hahaha…

“Aasshh… yeoja macam apalagi yang menendang dan mengatai orang yang menolongnya? Dasar yeoja ajaib, joyonghi!” Namja itu bangkit dari jatuhnya, kemudian mulai berjongkok lagi di depanku, memijit kakiku.

“Mianhae, aku aarrgh! Sakit pabo!”

“Silahkan mengumpat sesuka hatimu. Asal jangan menendangku.”

“Dengan aaww pelan-pelan memijitnya Hoya pabo!”

PLAK.

Kali ini, tanganku yang berhasil mendarat mulus di pundaknya. Sungguh, ini adalah bagian dari reflek! Hahaha…

“Yaa! Kau tak boleh menendangku bukan berarti kau boleh memukulku!” Akhirnya berhenti juga pijitan maut itu.

“Mianhae. Tapi, tadi benar-benar sakit…”

“Itu karena kau tak melakukan pemanasan terlebih dulu kemarin.” Dibereskannya obat gosok dan alat pijat yang dipakainya tadi, kemudian bangkit dari jongkoknya.

“Itu karena kau langsung menyuruhku melakukan gerakan sial itu, dan tak mengijinkanku istirahat!”

“Itu karena kau terlambat.” SKAK.

“Ne, araseo… tapi kau benar-benar kejam! Lagipula alasanku terlambat masuk akal.”

“Telat mendapat buss. Kau pikir itu sebuah alasan yang masuk akal untuk yeoja yang bahkan rumahnya saja hanya berjarak 200m dari tempat latihan.” Ya, kali ini aku SKAK MAT!

“Aassh… lalu untuk apa kau kesini? Aku tak pernah melihatmu disini sebelumnya. Atau, jangan bilang kau mahasiswa baru!”

“Aniya, ini bukan kisah fiksi remaja Kira-ssi. Aku kemari karena aku mencarimu.” Jawabnya seraya duduk di sampingku.

“Mwo? Aku? Wae?” Kutunjuk hidungku sendiri dengan bingung.

“Ne, ketua club bilang kualitas tari daerahmu di club adalah yang terbaik. Tapi, kau tak bisa melakukan gerakan breakdance sedikitpun. Makadariitu, aku berniat untuk mengajakmu mengikuti ini. Dengan sedikit kelas tambahan tentunya. Eotte?” Dielungkannya sebuah kertas kearahku.

Kubaca dan kucermati kertas itu dengan baik.

‘Prepix Haw[1] present: Spring Movement Dance Competition

Categori:

  • Solo
  • Duet
  • Group

 

Criteria:

  • Original dance!
  • Mix Traditional dance, and Modern dance

 

Reward:

  • 1st Winner: Trophy, Cash Money 1.000.000 KRW & Free Attending Prepix Haw’s class for three month
  • 2nd Winner: Trophy, Cash Money 500.000 KRW & Free Attending Prepix Haw’s class for two month
  • 3rd Winner: Trophy, Cash Money 250.000 KRW & Free Attending Prepix Haw’s class for one month.

Let’s Move It Spring!’

 

“Kau yakin? Aku tak bisa breakdance.” Kukembalikan brosur itu ketangannya. Aku tak yakin bisa.

“Aku tak bisa tarian daerah. Maka dari itu, kau harus mengajariku, dan aku akan mengajarimu. Kita maju ke kompetisi itu bersama. Eotte”

“Berlatih denganmu?”

“Ne. Kita bisa mengambil extra time di club.” Extra time? Apakah ini berarti aku hanya akan berlatih dengannya? Berdua saja?

“Ehm… baiklah, akan kucoba.”

“Okay! Mohon bantuannya Kira-ssi.”

“Ne.”

Apakah kalian ingat kalimat Hoya beberapa hari yang lalu? ‘Aku berniat untuk mengajakmu mengikuti – kompetisi –  ini. Dengan sedikit kelas tambahan tentunya.’ Sedikit? Jadi ini yang dia maksud dengan sedikit kelas tambahan? 3x satu minggu, disamping latihan rutin kami di club yang juga terjadwal satu minggu 3x. Padahal, di hari minggu – ketika tak ada jadwal latihan – aku terbiasa mengisi acara festival, ataupun menjadi penari latar di beberapa acara musik. Itu berati, aku tak punya waktu istirahat!

“Jadi, menurutmu tarian apa yang akan kita padukan dengan gerakan breakdance kita?” Tanya Hoya dengan mata dan jari yang sibuk dengan pad di tangannya.

“Kurasa, Chunaengjeon cocok untuk tema acara ini. Festival musim semi ‘kan?” Kuhenyakkan tubuhku di sampingnya, kemudian menenggak begitu saja sebotol air mineral di tanganku. Kami baru berlatih satu gerakan, dan aku sudah merasa sangat lelah.

“Chunaengjeon? Tarian yang ada di festival musim semi itu?”
“Ne, eotte?”

Hoya terlihat memaut alis tebalnya, menunjukkan bahwa namja itu sedang berpikir tentang ideku kali ini.

“Ya, kurasa itu tak terrlalu buruk. Lagipula, kau bisa menarikannya ‘kan?”

“Dengan sangat lancar.”

“Baguslah. Sekarang, yang perlu kita lakukan adalah memilih lagu, dan gerakan. Tapi, yang paling penting adalah; melatihmu breakdance.

“Andwae… tidak breakdance lagi.” Kupasang pose terkapar paling natural yang bisa kulakukan.

“Yaa! Kita akan melakukan gerakan breakdance di festival itu, jadi kau juga harus melatihnya. Kau tak tahu bahwa kau sangat payah?”

“Tapi, apa kita tak bisa jika hanya melatih gerakan yang akan kita pakai saja. Kau tak akan menyuruhku untuk melakukan handstand atau freeze dengan memakai Hanbok ‘kan?”

“Kenapa harus pakai Hanbok?” Tanyanya polos seolah benar-benar tak tahu apa alasanku harus memakai Hanbok.

“Jangan bilang kau tak tahu apa kostum Chunaengjeon Hoya-ssi.”

“Tapi, kurasa kita bisa memodifikasi masalah kostum ini.”

“Bagaimana kalau kita bahas konsep kita saja dulu hari ini, setidaknya itu lebih penting daripada gerakan breakdance yang belum tentu kulakukan. Eotte?” Terlebih, aku juga tak pelu terlalu banyak tersiksa dengan gerakan breakdance itu. Haha…

“Ne, bagus juga idemu. Tumben.”

“Aassshh…” Kulempar handuk kecil yang sudah basah dengan keringatku itu kearahnya, tepat mengenai pundak tegapnya.

“Hahaha…” Hoya tertawa, kurasa ini bukan pertama kalinya akku melhatnya tertawa. Tapi, kenapa ini? Rasanya, seperti ada sesuatu yang meletup-letup di hatiku ketika melihatnya tertawa. Aku tak tahu, apa ini.

‘Geu gose honjaseo na ulgo itjiman

Nunmuri meomchweoseo na utgo itjiman

Dashi tto kidaryeo

Na dashi sumswilttae kkaji’

Suara merdu Woohyun terdengar dari arah tasku. Pasti seseorang tengah menelfonku. Kuambil ponselku, kemudian membaca sekilas sederet nama yag tertera di layar ponsel.

‘Sungri’ dia menelfon? Bisa kutebak apa yang membuatnya bermasalah.

“Yeoboseyo?” Sapaku seraya berjalan agak menjauh dari Hoya.

“Yeoboseyo, kau ada waktu Kira-ah?”

“Ada. Tapi, tak banyak. Kau tahu sendiri aku sangat sibuk latihan akhir-akhir ini. Mworago?”

“Araseo, aku ingin mengobrol denganmu. Bagaimana kalau besok  sore kita bertemu di kedai ramen Kim Ajjuma?”

“Hmm… boleh juga, sepertinya besok aku tak ada latihan. Pasti ini masalah si ‘Ratu Kampus’ itu. Ne?” Ya, besok adalah hari minggu, dan aku juga tak ada acara apapun.

“Tahu saja kau.”

“Kira! Waktu istirahatmu sudah habis!” Kulempar pandanganku kearah namja gila itu, kemudian menatapnya sengit. Aku masih punya 10menit waktu istirahatku!

“Nee… sudah dulu ya Sungri-ah, sampai jumpa besok.”

“Ne. Annyeong…”
“Annyeong…”

Kumasukkan ponselku begitu saja kedalam tas, kemudian berjalan kearahnya.

“Siapa yang menelfonmu?” Tanyanya seraya bersiap-siap mengambil posisi untuk mulai menari.

“Temanku. Wae?” Kubenarkan posisiku, berdiri tegap di samping Hoya, dengan posisi menghadap kearahnya, dan menatapnya tajam.

“Namja?”

Denting sitar musik kolosal mulai terdengar. Menandakan bahwa tarian kami bermulai dari sini. Hoya melangkahkan kakinya kearahku, seiringan dengan musik yang mengalun lembut. Sementara, kulangkahkan kakiku pula mendekat kearahnya, seirama dengannya seraya terus menatapnya tajam.

“Yeoja. Wae? Kau ingin kukenalkan dengannya?

Mata kami masih salig bertatapan, seolah tak ingin melewatkan sedikitpun gerakan satu sama lain. Kurasakan tubuhku mulai terangkat keudara, kupegang erat pundak namja itu, tepat sesaat sebelum dia memutarku. Kurasa, gerakannya terlalu bersemangat kali ini. Putarannya sungguh cepat. Sampai pusing kepalaku ini karenanya.

“Aniya. Aku hanya tak suka kau dekat namja lain.” Ujarnya datar kemudian menurunkan tubuhku. Apa maksud ucapannya tadi?

“Hhh… sudahlah, aku lelah. Kita lanjutkan lain kali saja.”

Namja itu tiba-tiba pergi, meninggalkanku yang tengah kebingungan sendiri di tengah-tengah ruangan. Aaasssh… lama-lama aku bisa gila!

Sudah tiga bulan setelah Hoya memberiku kabar tentang kommpetisi ini. Angin hangat musim semi juga mulai menyapa walaupun dengan sedikit malu-malu. Satu lagi, gerakan beakdance-ku sudah benar-benar mengalami kemajuan sekarang. Ya, walaupun aku belum bisa dikatakan ahli. Tapi, aku sudah menguasai gerakan-gerakan breakdance yang akan disisipkan di tarian kami. Ini semua karena jadwal latihan yang cukup membuatku gila, dan tentu saja, Hoya yang tak pernah berhenti mengomeliku untuk terus berlatih.

Akhirnya, hari ini adalah hari yang kami nanti. Hari pelaksanaan ‘Prepix Haw present: Spring Movement Dance Competition’! Waah… aku tak sabar untuk tampil. Kira-kira, bagaimana penampilan kami nanti?

Kupatut diriku di depan cermin di ruang ganti, memandangi sesosok yeoja dengan hanbok dan rambut yang digulung. Tapi, bukan hanbok lengkap yang kupakai kali ini. Hanya hanbok dengan kain tipis, dan mudah untuk dilepas. Tak seperti hanbok biasa yang bahkan memerlukan waktu beberapa jam untuk memakainya. Ini disesuaikan dengan konsep kami berdua, karena nanti di tengah-tengah penampilan, aku harus melepas hanbok-ku, meninggalkan sebuah kaus dan celana training di baliknya. Gelungan rambutku juga tak terlalu rumit. Gelungan ini memang terlihat cukup besar, karena aku mempunyai sebuah kejutan yang ada di balik rambutku. Tapi, ni tak lebih dari rambut yang digulung-gulung saja. Untung ada Sungri, sahabatku yang selalu siap membantuku. Termasuk membantuku menyiapkan penampilan kami kali ini.

“Kau ingat cara melepasnya ‘kan Kira?” Tanya Sungri seraya membenarkan pita yang terikat pada gelungan rambutku. Pita inilah yang akan menjadi kunci dari penampilanku.

“Ne, tinggal menarik ujungnya saja ‘kan.”

“Ne. Sudah siap.” Dapat kulihat Sungri menepuk nepuk kedua tangannya, seolah membersihkan debu. Kuperhatikan sekali lagi penampilanku di cermin. Geoura geoura naega yeppeuni. Hehehe…

“Kau sudah –”

“Nde?” Kupalingkan kepalaku kearah Hoya yang telah berdiri di belakangku dengan kostum hip hopnya.

Ya, bisa kalian tebak ‘kan tema kami kali ini, kisah antara seorang b-boy yang sangat modern dan seorang gadis Korea asli yang masih benar-benar menekuni budayanya. Tapi, akhirnya sang gadis juga terpengaruh, dan tertarik untuk menjadi seorang b-girl. Kisah yang simple ‘kan?

“Hoya?” Kulambaikan tanganku di depan matanya yang masih menatap kearahku.

“Eh, nde? Eung, kau sudah siap?”

“Sudah, kapan giliran kita tampil?”

“Sepertinya sebentar lagi, kkaja kita ke belakang panggung.” Digandengnya tanganku, kemudian mengajakku berjalan menuju kebelakang panggung. Tak seperti biasanya – menarikku –  kali ini dia benar-benar menggandengku selayaknya seorang yeoja. Membuatku hanya bisa mengangguk dan tersenyum seraya mengikuti langkahnya di belakang. Meskipun bisa kurasakan blush on di pipiku sudah makin memerah karena wajahku yang memanas.

“PENAMPIL SELANJUTNYA, DATANG DARI WOOLIM DANCE CLUB, PLEASE WELCOME, HOYA AND KIRA…”

PLOK PLOK PLOK…

Riuh rendah tepuk tangan penonton mengiringi langkah kami memasuki panggung, bersamaan dengan dentingan sitar lagu ‘Fox Rain’ sebagai latar musik kami. Tubuhku mulai melenggak lenggok gemulai, mengikuti irama lagu ballad itu. Sementara, Hoya masih berdiri di tempatnya, menatapku seolah dia adalah seorang pemuda yang tengah terpesona dengan tarianku.

Memasuki Bait kedua lagu, musik mulai mengalun lebih lembut. Hoya melangkahkan kakinya kearahku, kuhentikan gerakanku sesaat, saling bertatapan dengannya. Langkah Hoya semakin mendekat, dielungkannya tangannya kedepanku. Kusambut tangan itu. Sesaat kemudian, Hoya membawaku ke dekapannya, kemudian mengangkat tubuhku ke udara. Kami berdua mulai berputar-putar ketika lagu ini mencapai klimaksnya.

“Dubidubidurappa dubidubidurappa dubidubidurappa…” Suara lembut Shin Minah mengiringi kami. Membuatku sesaat merasa seperti seekor Gumiho yang tengah menjalin cinta dengan seorang pemuda tampan.

Lagu ballad itu berakhir, tergantikan dengan sebuah beat lagu techno. Hoya menurunkan tubuhku, kemudian mulai menunjukkan gerakan breakdance andalannya. Jika tarianku tadi terkesan lemah gemulai, tarian Hoya benar-benar terlihat powerfull dan, ehm, memesona. Ya, dia memang seorang b-boy handal.

“Kyaaaa… kyaaa…” Entah berapa ratus yeoja yang berteriak untuknya.

Lagu kami mulai berganti, dengan sebuah lagu hip hop kontemporer. Saatnya kejutan!

Aku mulai berjalan ke tengah panggung, mendekati Hoya. Namja itu sudah siap melakukan freeze untuk menutupi aksiku. Aku berdiri di belakangnya, dengan posisi saling berpunggungan. Lalu, ketika Hoya berdiri dengan tangannya dan melakukan freezing, kutarik pita di kepalaku, melepas gelunganku, dan otomatis mengeluarkan ribuan kelopak bunga yang memang sedari tadi ada di dalam rambutku. Ini membuat kami berdua seperti pasangan yang tengah dihujani bunga.

Melihat kelopak bunga sudah turun, Hoya kembali ke posisinya semula, berdiri memebelakangiku, yang secara otomatis menutupi tubuhku. Kutarik obi hanbok yang kupakai, menanggalkan pakaian traditional itu. Sekarang, yang kupakai adalah T-shirt hitam, dan celana training putih.

“Kyaaaa…” Teriakan para yeoja itu semakin menjadi-jadi. Terlebih, ketika kami berdua mulai menari bersama, melakukan gerakan demi gerakan breakdance dengan kompak.

Lagu ini hampir berakhir, penampilan kami juga hampir berakhir. Saatnya Hoya melakukan handstand, dan aku dengan split. Tapi, kenapa namja gila itu belum mengambil ancang-ancang?

Tiba-tiba ditariknya tubuhku begitu saja kearahnya, membuatku otomatis terjatuh kedalam dekapannya. Aku benar-benar tak tahu tentang gerakan ini, dan…

“KYAAA!!!” Teriakkan penonton menjadi-jadi. Suasana hall menjadi panas dan heboh, begitu juga dengan wajahku yang menjadi sangat panas! Kenapa tidak? Hoya menciumku di depan umum! Ini tak ada di latihan!

“Kurasa kisah di pentas kita belum selesai. Saranghae, dan kau harus membalas perasaanku.” Bisiknya kemudian membimbingku bediri. Mwo?! pernyataan cinta macam apa itu? Tapi, kurasa aku juga pasti akan membalasnya tanpa diminta. Hehehe…

Kami membungkuk bersama, kemudian berjalan keluar panggung seolah tidak terjadi apaun. Meskipun, seluruh penonton masih terus berteriak dan heboh, begitu juga hatiku yang masih terus menerus heboh sendiri.

“Hoya pabo!”

PLAK.

Kupukul pundaknya perlahan, ketika kami sudah sama-sama berdiri di belakang panggung.

“Yaa! Appo… kenapa tiba-tiba memukulku?”

“Kau sendiri kenapa tiba-tiba menciumku bodoh?”

“Karena aku mencintaimu. Sudah jelas ‘kan?” Sekarang mata tajamnya itu menatapku dalam-dalam. Tak bisa kulihat sedikitpun kebohongan disana, yang kulihat hanyalah ketulusan.

“Kau? Kenapa memukulku?”

“Itu, karena aku juga mencintaimu bodoh!” Kutundukkan kepalaku dalam-dalam demi menyembunyikan pipiku yang sudah semerah kepiting rebus. Aassh…

“Jinjja?” Kurasakan tangannya mengangkat daguku perlahan, membuatku menatap matanya lagi.

“Apa wajahku terlihat seperti tak suka?”

“Aniya, naekko haja, Naega neol saranghae, eo?” Senyumnya mengembang. Senyum itu, senyum yang selalu membuat hatiku meletup-letup ketika melihatnya.

“Ne.” Kuanggukkan kepalaku menjawabnya. Akibatnya? Tubuhku sedang di dekap erat olehnya. Erat, benar-benar erat seolah tak ingin melepasku lagi.

“Aku lelah, bisakah kita tak datang ke ‘Prepix Haw’ hari ini?”

“Yaa! Hari ini ‘Gamblerz Crew’[2] akan datang ke ‘Prepix Haw’ Chagiya.”

“Tapi aku lelah sekali. Aku baru saja menyelesaikan latihan untuk festival musim panas.”

“Aku tak mau tahu, yang pasti kau harus menemaniku ke ‘Prepix Haw’”

“Aaasshh…”

Yah, beginilah keseharian kami sekarang, sibuk dengan kegiatan di club, sekaligus mengikuti kelas di ‘Prepix Haw’. Kami berhasil mendapat uang 1.000.000 KRW , trophy, dan free attending ‘Prepix Haw’ class for 3 month. Tapi, ini benar-benar melelahkan. Setidaknya, aku beruntung ada namjaku yang terus berada di sampingku, meskipun tak terlalu membantu. Hehehe…

[1] Prepix Haw, salah satu kelompok dance yang terkenal di Korea. Mereka pernah beramai-ramai muncul di mv S. Tiger feat B2ST (Doojoon, Junhyung, Gikwang) , Should I Hug Or Not

[2] Gamblerz Crew, sebuah kelompok breakdance yang sangat terkenal di Korea, bahkan dunia International.

 

bashing, coment, saran, mention @nanacho9541 on twitter,

sekalian promo, like page kami juga ya ^^ Infinite’s Abernathy

15 responses

  1. BabyHo! Dari kemarin kucariin kamu gak ada, ternyata lagi main disini? Kekeke XDD
    Aku baru pertama kali baca FF Infinite darimu thor. And… I like it😀
    Bagian awalnya mengingatkan pada Be Mine. Dan yang bagusnya, si Woohyun muncul di tengah2 (meskipun cuma suaranya) Hahaha😀
    Ceritanya singkat namun padat. Aku suka!
    Fighting for Inspirit!

    • iya, ini kayak side-story ‘my glow shadow’ y kayak ‘My Lovely Stalker’ sama ‘I Feel You’ gitu /promoteruuuss
      hehe gamshahamnida chingu :*
      eh, jangan cium saya, nanti Myungsoo curiga >///< /plakk

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s