Other Side 10 [END]

Title : Other Side

Author : Qey.Yeonsone a.k.a kikiy

Main cast : SNSD’s member

Other cast : Temukan sendiri!

Rating : PG 15

Length : Chaptered

Genre : Mystery, Thriller

Disclaimer : all is mine except the cast

~~

-finally, i do this. destroy Girls’ Generation!!-

~~

ZZZAAP! BRAK! AAAARRRGGHHH……….

Sebuah pistol dengan peredam sukses membuat kepala Sunny berlubang. Tubuh Sunny sukses
terhempas ke atas badan Taeyeon. BRAK! Darah Sunny melumuri wajah Taeyeon. Lekas-lekas Taeyeon
menyingkirkan badan Sunny yang sudah tidak bernyawa itu.

Taeyeon mengelap wajahnya. Ia melihat siapa si penembak Sunny.

Hyoyeon.

Tengah mengangkat pistolnya dengan tangan kanannya.

Nafas Hyoyeon nampak tidak beraturan. Keringatnya juga sangat terlihat di pelipisnya.

Sedangkan tangan kiri Hyoyeon, tengah memegang perutnya yang BERDARAH.

“Aaaarrrgghhh…” erang Hyoyeon lalu ambruk ke lantai.

“Hyoyeon!” pekik Taeyeon.

Ia berlari menghampiri Hyoyeon yang sedang meringkuk kesakitan memegangi perutnya. Hyoyeon
menangis, sebuah hal yang langka bagi seorang Hyoyeon menangis.

“Hyo? Gwenchanayo?” tanya Taeyeon panik.

Hyoyeon menggeleng.

“Cepat pergi dari sini jika kau mau hidup. Bawa semua orang pergi!” perintah Hyoyeon susah payah.

“Bagaimana dengan kau? Bukankah yang membunuh Sunny? Bukankah kita sudah aman?”

Hyoyeon kembali menggeleng lemah.

“Bukan Sunny. Bukan juga diantara kita. Dia sangat berbahaya. CEPAT PERGI! Tinggalkan aku!”

“Tapi hyo? Nugu?”

“Yang penting kau pergi sekarang!!!” pekik Hyoyeon dengan sisa kekuatannya yang ada.

Taeyeon mengambil nafas. Air matanya sudah mengalir.

“Bagaimana denganmu?” isak Taeyeon.

“JUST GO!!” teriak Hyoyeon.

Taeyeon mengangguk. Ia menyeka air matanya.

“Bawa ini!” perintah Hyoyeon menyodorkan pistolnya. “Ambil pelurunya di tas.”

Taeyeon mengangguk lagi. Kali ini dengan pasrah. Ia berlari mengambil peluru di tas Hyoyeon.

Saat ia hendak menuju kamar Tiffany untuk membangunkannya, sekali lagi Taeyeon memandang
Hyoyeon. Hyoyeon nampak sedang mengatur nafasnya sambil terlentang. Darah yang keluar pun
semakin banyak. Sejatinya Taeyeon tidak tega meninggalkan Hyoyeon yang tengah sekarat, tapi itulah
perintah Hyoyeon. Agar meninggalkannya dan membawa pergi yang lain. Taeyeon merasa, tengah
mendapat tugas berat yang siap ia pikul hanya sendirian.

~~

~Taeyeon PoV~

“Hiks… Fany-a! Palli bangun!” teriakku pada Tiffany.

Tiffany bergeming. Namun justru Yoona yang bangun disebelah Tiffany. Ia terlihat kaget melihatku
menangis.

“Onnie? Waeyo?” tanya Yoona panik.

Aku menggeleng. Bingung menjawab apa.

“Cepat bangunkan Fany! Kita akan pergi dari sini.”

“Waeyo?” tanya Yoona cemas.

Aku menggeleng panik.

“Pokoknya cepat bangunkan Miyoung. Bantu aku.”

Yoona mengangguk.

“Onnie? Onnie? Ireona.” Yoona mengguncang pelan lengan Tiffany. Aku pun ikut membantu
membangunkan Tiffany.

“Tiffany…” teriakku pada Tiffany sembari menepuk-nepuk pipinya.

“Kenapa tidak bangun? Biasanya Tiffany onnie mudah dibangunkan?” ucap Yoona bingung bercampur
cemas.

Aku pun demikian. Sedari tadi air mataku tak juga berhenti. Membuatku sedikit kesulitan bernafas.

“Periksa denyut nadinya.” perintahku lirih.

Yoona menurut. Ia memeriksa denyut nadi Tiffany. Raut yang sulit ditebak muncul di wajah cantik
Yoona.

“Masih berdenyut, tapi sangat lemah.” bisik Yoona.

Aku membulatkan mataku. Lantas menelan pahit ludahku. Kutatap wajah Miyoung yang tengah terlelap
tenang tanpa memperdulikan betapa khawatirnya kami disini.

“Apa yang ia makan atau minum sebelumnya?” tanyaku pada Yoona.

Yoona menggeleng. Ia lalu mendekatkan hidungnya ke mulut Tiffany. Mengendusnya perlahan. Seketika
raut wajah Yoona berganti menjadi raut wajah ketakutan.

“O… Onnie? Ini baunya sama dengan racun Manager Oppa dulu.” bisik Yoona bergetar.

Aku tercekat. Sebulir air mata meleleh ke pipiku. Dilanjutkan beberapa tetes lagi yang menyusul
kemudian. Dengan bergetar, aku menggoncang badan Tiffany. Namun tentu saja hanya bergeming. Aku
menggigit bibir. Sesungguhnya apa yang terjadi di sini? Kenapa yang kualami saat ini benar-benar aneh?
Aku menatap Yoona yang terlihat sangat ketakutan.

“Kita harus tetap membawa Miyoung keluar. Yoona? Apa kau bisa menggendongnya? Aku bantu.”
usulku.

Yoona mengangguk.

“Ne, aku bisa.”

~~

Yoona menggendong Tiffany di depanku. Sedangkan aku membuntutinya dibelakang. Yoona nampak
tidak keberatan sama sekali. Ia menggendong Tiffany dengan mudah. Syukurlah…

Belum sempat kami sampai di ruang tengah tempat Hyoyeon berada, secara tiba-tiba lampu apartemen
padam. Aku kalap, dengan cepat kupeluk Yoona. Kurasakan badan Yoona bergetar.

“Ottokhae?” lirihnya bergetar.

“Gwenchana… Tenang. Pelan-pelan kita ke pintu. Aku akan tetap merangkulmu, jadi kita tidak terpisah.”
sahutku berusaha tenang. Namun kenyataannya, saat ini aku tengah menghadapi ketakutan terbesar
yang baru pernah kualami.

Aku mengendap-endap menuju ruang tamu untuk keluar. Sayang sekali ponselku tertinggal di kamar.
Begitupun ponsel Yoona. Kenapa saat ini bukan kecerdasan yang hadir? Malah justru tindakan bodoh
dan ceroboh? Sekarang yang bisa kuandalkan hanyalah insting. Aku meraba-raba tembok disampingku,
sesekali aku juga meraba benda yang sedikit familiar.

Aku merasakan pintu penghubung antara ruang tengah dan ruang tamu yang terbuka. Secercah
perasaan lega muncul begitu saja. Tentu saja! Aku akan bebas sebentar lagi. Kupercepat langkahku,
membuat Yoona mengimbangi.

Saat aku meraba pintu ruang tamu, ingin sekali aku menjerit girang. Kuraih engsel pintu, perlahan
kucoba untuk membukanya. Namun tidak bisa…

Berkali-kali kutekan engsel pintu. Namun nihil.

“Onnie, itu terkunci.” bisik Yoona.

DAMN! Benar. Pintu ini bukan pintu otomatis seperti apartemen kami dulu. Pintu ini dikunci secara
manual. Kuraba lubang kuncinya. Tidak ada! Lalu dimana kuncinya?

“Kuncinya tidak ada, ottokhae?” tanyaku.

Kurasakan badan Yoona sedikit mengejang.

“Aish, ottokhae?? Bagaimana kalau kita berpencar?”

Aku terdiam ragu. Jikalau kami berpencar, maka level bahaya lebih besar. Namun, jika tidak berpencar,
kemungkinan kunci ditemukan sangatlah kecil.

Aku menarik nafas panjang.

“Josumnida. Kau tidak apa-apa sambil menggendong Miyoung?” timpalku setuju pada Yoona.

“Gwenchana, tidak usah dipikirkan.”

~~

Aku melangkahkan kaki dengan sangat perlahan melintasi ruang tengah. Tujuanku adalah menuju kamar
Jessica. Sedangkan Yoona ke dapur. Aku berhenti, berusaha mengingat dimana tadi letak Hyoyeon
berada. Namun, tak kudengar nafas tersengal-sengal seperti tadi lagi. Jangan-jangan… Aish, apa yang
terjadi dengan Hyoyeon?

Tapi kembali teringat kata-kata Hyoyeon yang menyuruhku untuk membawa semuanya pergi dari sini.

Aku memijit pelipisku yang terasa dihantam palu. Aku menghela nafas. Hyoyeon mianhae… Aku tidak
bisa menolongmu sekarang.

Kuteruskan ayunan kakiku menuju kamar Jessica. Baru juga kuletakkan tanganku ke engsel pintu dingin
itu. Suara gaduh terdengar.

PRANG!!

Aku mengurungkan tanganku untuk memutar kenop pintu. Jantungku semakin berdebum keras,
membuat perasaan nyeri disana. Suara apa itu? Seperti kaca yang pecah. Terlalu besar untuk piring,
gelas atau sebangsanya. Dan lebih kecil dari lemari kaca mungkin. Apa itu?

“Aaaaahh… LEPASKAN AKU!!” pekik seseorang yang kuyakini adalah suara Yoona. Arah suaranya dari
dapur! Aku terbelalak, bukankah di dapurr ada meja kaca? Jangan-jangan…

Bulu-bulu sekujur tubuhku terasa meremang. Aku urung membuka kamar Jessica. Kulangkahkan
kakiku dengan cepat menuju dapur. Dengan hanya mengandalkan insting, aku berlari dan terus berlari.
Menerjang apa yang ada di depanku. Sedapat mungkin aku mengabaikan semua rasa perih akibat
goresan benda yang kutabrak.

Setelah kurasakan aku tengah berada di dapur, aku mulai menajamkan semua alat indra yang kumiliki.
Dibantu oleh cahaya bulan yang mengintip dibalik tirai dapur, aku berusaha mencari sosok Yoona,
Tiffany atau siapa saja yang ada di sana. Aku terus melangkah. Hingga kakiku terasa menginjak sesuatu.
Sesuatu yang tajam. Aku berjongkok. Meraba-raba lantai. Hey, bukankah ini pecahan kaca? Pecahan
kaca meja makankah?

Aku kembali bangkit, meneruskan langkahku. Aku kembali menginjak sesuatu, sesuatu cairan yang
lengket, dan kental. Feelingku menyatakan sesuatu yang tidak baik. Aku kembali berjongkok. Meraba
lantai untuk kedua kalinya. Saat cairan itu menodai tanganku, aku mengangkat tanganku. Berusaha
menajamkan pandanganku. Kucium jari-jariku yang berlumurkan cairan itu. Jari-jariku terasa bergetar
saat indra penciumanku mengetahui cairan apa ini. Sudah kuduga, ini… Darah.

Krsk…

Belum sempat aku memeriksa kebelakang ke tempat asal suara.

BUAK!

Sakit! Nyeri! Aku ambruk. Kurasakan cairan yang sama dengan apa yang baru kutemukan mengalir di
pelipisku. Aku merasakan kepalaku berdenyut keras sebelum akhirnya… aku memasuki dunia yang
sangat gelap…

~Taeyeon Pov END~

~~

Byur!

Seluruh badan Taeyeon disiram banyak air oleh seseorang. Membuat seluruh badannya kuyup.
Taeyeon memicingkan matanya. Berusaha mengenali keadaan sekitarnya. Ia meringis perlahan sambil
mengeluarkan suara mendesis. Ia memegangi kepalanya yang terasa sangat nyeri. Hendak ia gerakkan
tangannya untuk memegang kepalanya, namun tangan Taeyeon rupanya tertahan karena terikat tali.
Membuatnya tidak bisa bergerak.

~Nunmuli neomchyeoseo ddo kangmuli dwego

Ddo badaga dwemyeon geudae

Nae mameul alkkayo jomdeo algo sipnayo

Neoman saranghaneun nal

Nae pyeoni dweeoseo ddo haneobsi utgo

Ddo haneobsi ulmyeon andwaeyo

Neomu apado geudaeman saranghal nanikka~

Terdengar seseorang bernyanyi. Tidak terlalu jelas. Terkesan lirih dan mengerikan. Taeyeon menahan
nafasnya, saat ia merasakan bulu-bulu kecil di sekujur tubuhnya berdiri karena merinding. Suasana di
ruangan dimana Taeyeon berada terasa sangat mencekam. Gelap, dingin, berbau aneh, belum lagi suara
seorang gadis bernyanyi.

Prok… Prok… Prok…

Suara asing kembali terdengar. Seperti orang bertepuk tangan. Memberikan tepukan tangan kepada
gadis yang bernyanyi.

“Kamsahamnida~ jeongmal kamsahamnida~” masih suara yang sama dengan tadi.

-Click-

Lampu menyala. Membuat Taeyeon dengan refleks menutup kembali kedua matanya. Taeyeon mulai
mengadaptasikan matanya. Ia mengamati ruangan tempat ia berada. Ia berada di sudut dinding sebuah
ruangan. Sebuah ruangan yang dindingnya berlapiskan kaca. Layaknya ruang dance. Hanya saja, ruangan
itu nampak tidak terawat. Ditandai dengan kacanya yang terlihat sedikit menguning karena berjamur.

“Kau sudah sadar Taeyeon?” tanya seseorang. Menghentikan pengembaraan Taeyeon terhadap ruangan
itu.

Ternyata, suara orang bernyanyi dan bertanya adalah suara Jessica, yang nampak tengah duduk bersila
di tengah ruangan. Tangannya menggenggam pisau dapur besar. Taeyeon menelan ludah.

“APA YANG KAU LAKUKAN, UNNIE? LEPASKAN AKU!!” bentak seseorang di sudut lain. Buru-buru

Taeyeon menoleh. Mendapati Yoona dengan keadaan yang tidak jauh berbeda dengan Taeyeon.
Terikat.

Sekujur tubuh Yoona bersimbah darah segar yang keluar dari luka sayatan-sayatan kecil di semua
tubuhnya. Luka sayatan yang dihasilkan saat tubuh Yoona jatuh menghantam meja kaca dengan keras.

Taeyeon terbelalak. Ia menatap Yoona panik.

“Yoona? Gwenchana?” pekiknya.

Yoona menatap Taeyeon pilu. Ia menggeleng. Sementara disudut lain, terlihat Hyoyeon yang tengah
memegangi perutnya. Kali ini, Hyoyeon terlihat jauh lebih pucat. Seluruh bajunya pun bermandikan
darahnya.

Di sudut keempat, ada Tiffany yang terlihat masih belum sadarkan diri.

“Huft, aku bosan.” rutuk Jessica, membuat Taeyeon kembali mengalihkan arah pandangannya ke Jessica.
Kilatan matanya nampak tajam menatap Jessica.

“JESSICA? APA YANG KAU LAKUKAN??? KAU GILA? DIMANA INI???” teriak Taeyeon lantang.

Jessica tertawa keras. Sangat mengerikan.

“Euung~ ruangan ini ada di sebelah apartemen kita. Kau tidak tahu ya? Di gudang, ada pintu yang
menghubungkan apartemen kita dengan apartemen sebelah tempat dimana kita sekarang. Ups,
sepertinya aku kelepasan.” jelas Sica, namun semakin membuat Taeyeon gusar.

“SHIT! Apa yang kau lakukan kepada kami? Kenapa kau lakukan ini?”

Jessica menatap Taeyeon dengan kosong.

“Jadi, selama ini kau yang membunuh Seo, Yul dan Soo???” tanya Taeyeon lagi. Nadanya terdengar
tercekat. Seakan setiap katanya tertahan di lehernya.

Jessica menghela nafas. Ia memiringkan kepalanya seolah berfikir.

“Hmm… Tidak juga. Aku yang membunuh mereka. Tapi aku membunuh mereka dengan kalian. Huh~ ini
membingungkan.” rajuk Jessica.

Taeyeon mengerutkan kening. Berusaha mengolah perkataan Jessica. Namun perkataan itu justru
membuat kepalanya semakin bertambah pening.

“Aku memang membunuhnya, tapi bukan Jessica. Jika kau ingin bicara dengan Jessica, bicaralah
padanya.” Jessica menjawab raut kebingungan Taeyeon. Ia menunjuk kaca di depannya.

Taeyeon mengikuti arah telunjuk Jessica. Ke arah kaca kekuningan yang ada di depannya. Taeyeon tidak
lagi memperhatikan Jessica, namun ia memperhatikan apa yang ditunjuknya. bayangannya.

Taeyeon terus menatap pantulan Jessica di cermin. Sedikit kesulitan, diakibatkan kaca itu sudah buram
karena usang. Hingga sontak ia terbelalak. Otomatis badan Taeyeon tergetar. Yang ada di kaca itu
memang sama dengan Jessica. Sama-sama duduk bersila, dan satu tangannya menunjuk ke depan.
Namun, Jessica yang ada di kaca tengah menangis. Tidak seperti Jessica yang ada di situ yang terlihat
memandang bayangannya dengan datar.

Jessica bangkit. Mendekat ke arah kaca. Ia menyunggingkan senyum. Tapi, bayangannya justru semakin
mengeluarkan banyak air mata. Nafasnya nampak tersengal. Jessica berhenti saat ia hampir menyentuh
kaca.

Ia mengangkat tangan, mengelus pipi bayangannya. Seolah yang ia lakukan bisa menghapus air mata
Jessica yang ada di hadapannya. Ia beralih menatap Taeyeon lagi. Ia tersenyum.

“Dialah Jessica. Bukan aku.” tandasnya tajam.

Taeyeon menggigit bibirnya.

“Lantas s…siapa kau??” gagapnya.

“Naega?” tanya Jessica.

Taeyeon mengangguk gugup.

“Who am i?” tanya Jessica lagi. Ia mengangkat sebelah alisnya. “siapa aku…”

Jessica kembali menatap Taeyeon. Menyeringai seram.

“Aku adalah kalian…”

“M…mwo?” bisik Taeyeon tidak percaya. Sekilas Taeyeon melirik Yoona yang memandang Jessica
dengan tatapan yang sama dengannya. Tidak percaya.

“Aku adalah sebuah sisi dibalik kalian semua. Sisi lain yang bisa terbuka hanya jika kalian memiliki
perasaan negatif terhadap satu sama lain. Aku terbentuk dari perasaan marah kalian, perasaan benci
kalian, semua hal negatif dari kalian. Saat kalian mengeluarkan perasaan itu, maka aku semakin muncul
ke dunia ini. Pintu kebebasanku semakin terbuka lebar. Harusnya aku berterimakasih pada kalian
semua… Hihihi!!” lantang Jessica yang diakhiri kikikan kecil.

“Aku tercipta karena kalian!! Aku muncul setelah keempat orang itu kecelakaan. Aku bisa merasuki
keempat orang itu dengan bebas. Bisa membunuh kalian satu-persatu dengan perlahan…” desis Jessica.

“LALU APA TUJUANMU, HAH?” pekik Yoona.

“Tujuanku? Membunuh semua member SNSD untuk mendapatkan keabadian… AKU BOSAN! Hidup
di dalam kaca! Menghabiskan waktuku untuk meniru setiap gerakan kalian di depan kaca. Aku ingin
bebas. Aku bisa mendapatkan kehidupan setelah perasaan negatif kalian semakin banyak. Dan saat
aku membunuh kalian. Kekuatanku semakin besar. Kau tahu? Aku membunuh Kwon Yuri dengan tubuh
Sunny. Dan aku membunuh Seo Joo Hyun dengan tubuh Sooyoung. Setelah aku membunuh dua orang
itu, apa kalian tahu apa yang terjadi?” Jessica memotong dongengnya.

“Aku bisa memasuki satu orang selain keempat orang itu…” jelas Jessica. Ia lantas beralih menatap
Taeyeon sembari menyunggingkan senyum dinginnya. Taeyeon bergidik ngeri.

Jessica mendekati Taeyeon. Ia berjongkok di depannya. Membuat keduanya sejajar. Ia mendekatkan
wajahnya ke telinga Taeyeon. Lalu meniupkan beberapa patah kata disana.

“Aku masuk ke tubuhmu, Yeonniee…” bisik Jessica tajam.

Tubuh Taeyeon menegang. Taeyeon menarik bola matanya untuk menatap wajah Jessica yang masih
berjarak sempit dengan telinga Taeyeon.

“A.. Apa maksudmu?” bisiknya rapuh.

Jessica tersenyum lagi.

“Kau bodoh Yeonnie. Itu artinya, kau yang membunuh Sooyoung.”

Seluruh tenaga Taeyeon seolah luruh seketika mendengar pernyataan Jessica. Tanpa rintangan, air mata
Taeyeon ikut luruh. Membuat tenaganya terasa semakin hilang terkuras. Perasaan bersalah meledak-
ledak di hatinya. Taeyeon menangis keras.

“Aish, uljima.” bisik Jessica.

Ia bangkit. Berbalik lantas berjalan ke arah sudut Hyoyeon.

“Tapi, Hyoyeon yang bodoh rupanya mulai curiga. Ia curiga dengan semua yang terjadi. Aku pun
membunuhnya di kamar. Dengan cara menusuk perutnya. Namun, tak kusangka dia masih hidup. Dia
membunuh Sunny. Dia bahkan menggunakan pistol yang kupersiapkan untuk membunuh Sunny. Hanya
demi untuk menyelamatkanmu Yeonnie. Namun, sayang seribu sayang, rencananya gagal.” Jessica
berjalan menjauhi Taeyeon, dia kini berjongkok di depan Hyoyeon yang terkapar.

“Hyonnie~ apa kau merasa sakit? aku akan membuatmu tidak merasakan sakit lagi. Selamanya~~”

Taeyeon tersentak.

“Jessica? Apa yang…”

Sebelum Taeyeon menyelesaikan kata-katanya, Jessica mengangkat pisaunya. Lalu menghunuskan
pisaunya ke dada Hyoyeon. Taeyeon menutup mata. Tidak sanggup melihat kejadian tragis yang
disuguhkan di depan matanya. Air mata Taeyeon semakin deras mengalir dari matanya, mengaliri pipi.
Beberapa tetes merember ke ujung hidungnya.

“Poor little Hyoyeonnie~~” ucap Jessica dengan nada penuh penyesalan.

Jessica berbalik. Ia tersenyum senang.

“Taeng, kabar baik. Aku merasakannya. Aku bisa masuk ke salah satu dari kalian lagi… Itu artinya
kekuatanku untuk bebas semakin besar.” pekiknya sambil melompat-lompat kegirangan.

“Aku akan mencobanya…”

Tiba-tiba, Jessica terkulai di lantai. Ia menutup matanya. Namun, yang pipinya nampak berair. Jessica
telah kembali ke Jessica yang asli.

Tiba-tiba, tubuh Tiffany bergerak. Jemarinya bergerak sedikit demi-sedikit. Lama-kelamaan, matanya
terbuka. Ia terduduk. Lalu mulai bangkit. Ia berjalan lambat mendekati rak kayu lapuk yang ada di
dinding. Mengambil sesuatu di sana. Taeyeon menegang, saat menyadari yang diambil oleh Tiffany. Itu
kapak.

Sedangkan Jessica pun mulai mengembalikan kesadarannya, ia duduk. Memegang kepalanya. Taeyeon
yakin ia sudah kembali.

“Jessica, lepaskan aku!” desis Taeyeon.

Jessica menggelengkan kepalanya keras, menghilangkan kunang-kunang dimatanya. Ia beralih menatap
Taeyeon lalu mengangguk. Dengan cepat Jessica bangkit, berlari kecil ke arah Taeyeon.

Tiffany pun sama, ia berusaha mencegah Jessica. Ia mengangkat kapaknya dibalik punggung Jessica.

“Sica! AWAAS!!!” pekik Taeyeon.

BRUK! Tiffany tersungkur. Kapak yang ia bawa jatuh terlempar jauh darinya. Yoona yang menubruknya.
Yoona nampak lunglai, matanya pun hanya terbuka setengahnya saja. Sedetik kemudian, dia ambruk.

“Cepat unnie, lepaskan Tae unnie.” bisiknya lemah.

Jessica mengangguk, ia lantas kembali berjibaku berusaha membuka ikatan tali yang mengikat
pergelangan tangan dan kakiku. Tiffany bangkit. Wajahnya menampakkan amarah yang besar.
Diambilnya kapak besar yang sempat terlepas dari tangannya.

“Dasar pengganggu!!” umpat Tiffany.

Ia mengangkat tinggi-tinggi kapaknya, lalu menghunuskannya ke kepala Yoona.

“KYAAAAAAAAAAA……….” pekik Jessica melihat kepala Yoona yang menggelinding ke arahnya.

Tiffany dengan semangatnya, melanjutkan pekerjaannya. Ia memotong-motong tubuh Yoona menjadi
beberapa bagian. Jessica dan Taeyeon berkeringat dingin. Jessica masih berusaha melepaskan ikatan tali
di tangan Taeyeon setelah berhasil melepaskan ikatan kakinya.

Jessica berhasil membuka ikatan tali tangan dan kaki Taeyeon. Ia sejenak memandang tangan dan kaki
Taeyeon. Ia lalu kembali melilitkan tali itu tanpa mengikatnya, hanya melilitkannya saja. Membuat
Taeyeon heran.

“Biarkan seperti ini. Aku akan mengalihkan perhatiannya. Kunci pintu ada di rak yang ada di sebelah
pintu itu. Selamatkan dirimu…” bisik Jessica dengan nafas tersengal.

“JUNG SOOYEON!!” pekik Tiffany.

Jessica menoleh sebentar, ia lalu meremas tangan Taeyeon. Jessica memandang Taeyeon penuh harap.

“Hajiman…” bisik Taeyeon.

Jessica mengangguk meyakinkan. Sebelum ia mengeluarkan kata-kata lagi. Tiffany telah menjambak
rambut Jessica ke belakang.

“AAARRGHH….” erang Jessica.

Tiffany sama sekali tidak mengindahkan erangan Jessica. Ia terus menjambak rambut coklat Jessica.
Menyeretnya ke tengah ruangan.

“Apa maumu?? Kau menginginkan jiwa kami? Kau tidak akan bisa!!!” pekik Jessica yang sukses
membuat wajah Tiffany merah padam karena marah. Terlihat jelas, Jessica berusaha mengulur waktu.
Memberikan peluang besar bagi Taeyeon.

Taeyeon menatap Jessica. Air matanya semakin deras keluar dari pelupuknya. Sekali lagi ia dihadapkan
oleh dua pilihan sulit. Kejadian yang hampir sama seperti saat Hyoyeon. Jessica balik menatap Taeyeon.
Ia tersenyum tegar, lalu mengangguk kecil. Hanya kecil agar Tiffany tidak menyadarinya. Tiffany
menendang dada Jessica. Membuat Jessica jatuh dengan posisi terlentang. Ia mengerang perlahan.

“Wae? Sakit Sooyeonnie? Ini belum apa-apa. Aku akan beritahu kau apa yang dinamakan sakit yang
sebenarnya.”

Taeyeon beringsut ke arah rak buku. Meminimalisirkan gerakannya agar tidak tertangkap basah oleh
Tiffany. Taeyeon tetap tidak melepaskan pandangannya barang sebentar dari Tiffany dan Jessica.
Jessica dan Tiffany nampak masih beradu mulut. Terang sekali Jessica tengah berusaha mengulur-ulur
waktunya. Agar Taeyeon bisa keluar dari tempat itu.

“Siapa kau sebenarnya? Tidak punya tubuh? Menumpang seenaknya ditubuh kami?” umpat Jessica.

Tiffany tersenyum sinis.

“Aniya sayang. Perlu kukatakan berapa kali? Aku adalah kalian. Kalian adalah aku.”

Jessica memutar bola matanya kesal, sembari matanya melirik Taeyeon yang rupa-rupanya badannya
sudah menempel ke rak itu. Jessica sedikit lega. Tiba-tiba, Tiffany kembali menarik rambut coklat Jessica.
Ia mencengkramnya kuat-kuat, membuat Jessica berteriak keras.

“GYAAAAAAAA………….”

“Berteriaklah, berteriaklah sepuasmu Jessica! Jika itu bisa membuatmu bebas. Hahahahahaha…..” cela
Tiffany.

Tiffany menyeret Jessica ke kaca. Ia menatap pantulannya sendiri. Menatap Tiffany di pantulannya yang
nampak tengah mengatupkan kedua matanya.

“Look at that Sica!” perintah Tiffany. “Tiffany yang malang sedang tertidur, ah ania. Lebih tepatnya
sekarat. Karena obat yang kuberikan padanya. Sebentar lagi ia akan mati. Dan aku akan memiliki tubuh
ini.” bisiknya senang.

“Aku tidak bertanya.” balas Jessica dingin.”

Tiffany menggeram. Kembali ia cengkram rambut Jessica. Tanpa belas kasihan, ia hantamkan kepala
Jessica ke kaca.

PRAK! Kepala Jessica bersimbah darah. Mata Jessica masih setengah terbuka, menyisakan sisa kesadaran
yang ia miliki. Tiffany tertawa puas.

“Kenapa tidak menjerit. Sica, my dear??”

Untuk kedua kalinya, Tiffany menghantamkan dahi Jessica ke kaca. Membuat kaca itu pecah, dan serta
merta membuat permukaan kulit kepala Jessica terkoyak. Jessica ambruk. Namun masih bernafas. Ia
terasa sulit untuk membuka matanya. Bau anyir yang keluar dari kulitnya sendiri merebak kemana-
mana. Jessica berusaha melebarkan pandangannya. Mencari sosok Taeyeon. Ia memicingkan matanya.
Seulas senyum ia lemparkan saat melihat Taeyeon tengah berusaha membuka pintu dengan kunci yang
sudah ia dapatkan.

“Apa sekarang terasa sakit Sooyeonie?” bisik Tiffany. Membuat Jessica kembali memutar bola matanya
ke arah wajah Tiffany. Meniliknya dengan tatapan dingin.

“JAWAB!!!” teriak Tiffany sambil mengarahkan kapaknya ke leher Jessica. Jessica hanya tersenyum
samar.

“I-ini tidak ada rasanya Fany-a.” bisik Jessica. Masih berusaha mencantumkan nada mengejek pada
ucapannya.

Tiffany tertawa garang.

“Baiklah, jika kau ingin lebih dari ini.”

-krieet-

terdengar pintu ruangan terbuka. Membuat Tiffany menoleh. Mendapati Taeyeon sedang mematung
ditempat. Siap lari kapan saja.

“DAMN! Mau lari kemana kau Kim Taeyeon?”

~~

Taeyeon’s PoV

Aku menemukan kunci di rak yang Jessica maksudkan. Oh my, mungkinkah aku masih dibiarkan hidup.
Kembali kutilik Tiffany yang sedang berjibaku dengan Jessica. PRAK! Aigo! Ia bahkan membenturkan
kepala Sica ke kaca! Ah, persetan dengan itu! Urusanku kini adalah keluar dari ruangan terkutuk ini.
Masalah Jessica, aku bisa meminta bantuan saat aku keluar nantinya.

Aku menghela nafas. Menyadari keegoisanku. Well, seharusnya kugunakan keegoisanku dari awal, saat
ku temui Hyoyeon tadi. Harusnya aku langsung pergi dan meminta bantuan. Cish, tapi itu tidak berguna
lagi sekarang. Aku kembali beringsut mendekat ke arah pintu. Kumasukkan kunci yang terbuat dari
logam kuningan itu ke lubangnya. Ku putar dengan sangat sangat dan sangat perlahan.

-klek-

oke, satu kali berhasil. Kembali kulihat Tiffany dengan was-was. Nampaknya ia masih belum

menyadarinya. Aku menarik nafas lega.

-klek-

putaran kedua. Well, tidak ada masalah. Aku tinggal membukanya dan segera keluar dari sini.

-krieeet-

heh? Kenapa berbunyi? Aish, aku baru sadar ini kan pintu tua! Aku mengalihkan pandanganku ke
Tiffany. Dan SIAL! Dia tengah menatapku dengan pandangan, err… mengerikan.

“DAMN! Mau lari kemana kau, Kim Taeyeon!!!” teriaknya.

Aku langsung tersadar sepenuhnya. Kubuka pintu lebar-lebar. Lalu keluar. Berharap Tiffany tidak
mengejarku. Tapi, tentu saja aku salah! Tiffany mengejarku. Belum sempat Tiffany keluar dari pintu.
Kulihat Jessica menarik rambutnya. Membuat Tiffany terjengkang kebelakang. Well, thaks Jessica! Kau
sudah mau merelakan dirimu sendiri demi aku. Semoga kau akan diterima disisi-Nya. Amin…

Aku keluar dari ruangan aneh dan sialan itu. Yak! Seperti yang dikatakan Tiffany tadi, ini memang
bukan apartement kami, tapi apartement sebelah mungkin. Desain ruangannya memang sama dengan
apartement kami, tapi tata interiornya yang berbeda.

Yang jadi masalah saat ini adalah… dimana pintu yang menghubungkan apartement ini dengan
apartement kami? Tapi tunggu dulu, bukankah aku bisa langsung lewat pintu depan? Yay! Taeyeon is
very clever…

Aku berlari ke ruang tamu. Untung saja lampu disini tidak mati seperti lampu apartement. Tapi lampu
disini hanya remang-remang. Pintu depan sudah di depan mata. Saat aku hendak membukanya. Sial!
Lagi-lagi terkunci! Lantas apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin kudobrak karena ini terbuat dari
kayu keras.

Aku kembali berlari ke dalam. Namun kudapati Tiffany baru saja keluar dari ruang ‘dance’ itu. Buru-

buru ku sembunyikan tubuhku dibalik guci bunga besar. Dadaku sungguh berdetak melebihi saat aku
berolah raga. Aku menahan nafas. Agar Tiffany tidak menyadari keberadaanku. Tiffany ke dapur. Yes!
Kesempatan! Aku menyusup masuk ke kamar yang terbuka di samping guci itu.

Kamar yang bercat biru. Huh! Lantas apa yang akan kukerjakan disini? Ah, mungkin kuncinya ada disini.
Aku membuka laci-laci, lemari, rak atau apa yang kutemukan disitu. Namun tidak ada. Mungkin saja
eung dia… Tiffany atau dia yang merasukinya mengantonginya.

Tap! Tap! Tap! -cklek-

Aku membelalak. Tiffany menemukanku! Aaaah…. Tidak! Aku tidak ingin mati sekarang! Eomma! Appa!
Tolong anakmu! Tiffany tersenyum kecil.

“Jika aku menemukanmu. Kau yang jaga. Itulah aturan permainan petak umpet.” ujarnya santai.

Aku mengerutkan kening. Sedikit aneh dengan ucapannya. Ah… Dia memang bukan Tiffany. Aku
merapat ke jendela.

“Waeyo? Apa kau takut?” desis Tiffany persis seperti ular. Ah, sial. Itu tidak penting!

Aku meraba-raba badanku. Mencari senjata yang mungkin bisa kugunakan. Aku meraba saku hoodieku.
Hey, apa ini?? I… Ini? Pistol? Ini pistol yang diberikan Hyoyeon padaku? Ya, benar. Aigo~ lagi-lagi
aku terselamatkan. Aku menggegam pistol hitam itu, lalu mengarahkannya ke Tiffany. Tiffany sedikit
terkaget. Ia mengangkat kedua tangannya.

“Whoa~ easy Taeng. Darimana kau dapatkan pistol itu?”

Aku tidak memperdulikannya.

“Tidak penting. Serahkan kuncinya atau aku akan…”

“Aku akan apa Taetae? Menembakku?” ejeknya.

Aku semakin mengeratkan genggaman telapak tangannku ke pistol. Mengaitkan telunjukku ke
pelatuknya dan siap menariknya kapan saja.

-klek-

hey? Kenapa tidak keluar peluru? Ada apa ini? Kembali ku tarik pelatuk pistol beberapa kali? Sial! Pasti
tidak ada pelurunya. Aku baru ingat, tadi Hyoyeon memberikan pelurunya secara terpisah. Kembali ku
raba saku hoodieku. Dan benar saja. Pelurunya ada di sana.

“Hahahahahaha~ stupid girl! Harusnya kau belajar menggunakannya sebelum kau coba-coba untuk
menembakku Taeng.” ujar Tiffany sambil menurunkan kedua tangannya. Kali ini ia kembali mendekat ke
arahku.

Tanganku berusaha cepat memasukkan peluru ke dalam pistol itu. Ya Tuhan… Bagaimana caranya?
Peluru ini dimasukkan kemana?? Aku membolak-balik pistol hitam itu dengan panik. Sementara Tiffany
entah sejak kapan berdiri sedekat ini denganku.

Aku menelan ludah. Come on, Kim Taeyeon. Think! Think! Think! Sebelum aku berfikir lebih panjang lagi,
Tiffany berhasil merebut pistolku lalu membuangnya ke belakang.

“You’re mine, arra?” bisiknya ditelingaku. Aku kembali menelan ludah. Tiffany tidak membawa
kapaknya, tapi ia membawa pisau dapurnya yang sangat besar.

Diarahkannya pisau dapur itu ke leherku. Aku menahan tangannya. Kami saling mendorong pisau.
Tiffany berusaha menghujamkan pisau itu untuk mengoyak leherku. Namun aku berusaha menahannya
agar itu tidak terjadi. Keringatku bercucuran. Aku semakin terdesaku ke arah jendela besar yang bagian
bawahnya sebatas pahaku.

“Tiffany, stop it!” desisku.

“Sorry, i can’t stop it.” balasnya licik.

Tiffany semakin mendorong pisaunya, membuatku terpaksa memundurkan badanku hingga menekan
jendela itu.

KLAP!

Jendelanya terbuka! Oh my! Aku terdorong keluar. Aku akan mati! Selagi aku masih menyadarinya,
kutarik badan Tiffany untuk terjun bersamaku. Tiffany sedikit menjerit tertahan. Aku tidak perduli.

Dan selanjutnya mulai merasakan sensasi jatuh dari lantai 6 sebuah gedung apartemen. Terasa seperti
terbang…

Aku memejamkan mataku. Menyerah pada takdirku bahwa aku akan mati dengan cara seperti ini.

BRAK! Kurasakan tubuhku menghantam keras permukaan besi. Mungkin aku terjatuh diatas mobil.
BRAK! Suara yang hampir sama menyusul. Aku yakin itu Tiffany

Seluruh tubuhku terasa hancur. Sakit sekali. Saat ini yang kulakukan hanyalah menunggu malaikat maut
menjemputku. Aku mencoba menggerakkan tanganku. Tapi terasa berat sekali. Air lengket berbau
anyir terasa mengalir ke dahiku. Begitupun seluruh tubuhku. Aku mulai kesulitan untuk bernafas. Sesak
sekali. Dadaku terasa terbakar. Seluruh tulangku seakan remuk redam, sehingga tak ayal aku sukar
menggerakkan badanku. Namun, yang aku herankan, aku masih sadar. Meski badanku terasa remuk.

Akh, harus berapa lama lagi malaikat itu datang? Kupejamkan mataku. Kilatan-kilatan memori dibalik
kegelapan muncul tiba-tiba. Secara otomatis.

Semua seakan rol film yang usang di putar di benakku yang kosong. Aku melihat moment-moment
indah bersama SNSD. Aku hanya bisa diam melihat rol-rol film sejarah masa hidupku bersama SNSD.
Banyak sekali yang disuguhkan didepanku. Seperti saat kami bermain bersama, tertawa bersama,
tampil dipanggung bersama, menangis bersama. Semua itu membuatku tersenyum sekaligus menangis.
Menyadari bahwa sudah tak memungkinkan lagi untuk kami bersama seperti dulu…

Tiba-tiba rol yang tengah kutonton itu berlari cepat. Sinarnya begitu menyilaukan seperti kereta api
expres yang sedang berjalan. Rol itu terus bergerak seolah tengah mencari film yang bagus untuk

kutonton. Tiba-tiba rol itu berhenti. Sebuah tayangan lagi untukku…

Itu bukankah…

Aku melihat saat kami baru saja tampil di panggung bersama untuk pertama kalinya, memakai baju
hijau-putih, menyanyikan Into The New World dengan semangat, dengan senyum lebar…

Betapa indahnya…

Tiba-tiba…

Aku memejamkan mataku saat aku mendengar teriakan-teriakan yang memekakan telingaku…

Taeyeon…

Taeyeon…

Taeyeon…

Taeyeon…

Taeyeon…

Taeyeon…

Suara Tiffany, suara Yoona, suara Hyoyeon, suara Jessica, suara Sunny, suara Seohyun, suara Yuri, suara
Sooyoung, suara Leeteuk Oppa, suara Eomma, suara Appa, suara SooMan ahjusshi, suara Hayeon… Dan
masih banyak beratus-ratus suara familiar mendengung di kepalaku.

Aaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrgggghhh…………. Aku menutup rapat-rapat telingaku. Berusaha

menghilangkan suara-suara itu… Aku terisak. Sebenarnya dimana aku?

Adakah yang bisa memberitahu dimana aku?

Ataukah ini yang dinamakan mati?

~~

END of OTHER SIDE

~~

yeeeeee….. *bakar rumah* *apadeh*

at last, selesek juga ni ..readers pasti uda bosen abis ma ni FF.

Bagaimana? Bagaimana? Aneh? Geje? Yah, saia tau kok =..=

ini saia bikin nggantung. Kan gak mungkin happy ending. Lagipula kalo nggantung masi ada alesan buat
bikin sequel. Bwakakakak~ *bilang aja dari tadi,* -,-

saia lagi sedih banget, fb saia di hack fp saia juga *tau kan masalah ttg sone n antis?* makanya ke-
setres-an saia ini berdampak pada FF saia yang tadinya bobrok jadi tambah bobrok…

ohya,

special thx buat KoFaLo yang mau mempublish FF nista ini,dan buat readers *yang RCL* yang udah
membubuhkan komen2 kalian… :3 kamsa, kamsa, kamsa… Saia doain ketemu bias.😄

Last…

Seperti biasa, saia ingatkan untuk RCL *tetep*. Twitter saia — @Kikiyeoniiee

yang mau ngobrol2 boleh~

ya sudah, akhir kata ‘jigeumeun so nyeo shi dae…’

kamsaaaa….. *bow*

30 responses

  1. eonniii ana bingung dengan crita akhirnya…
    sebenarnya memang bener apa cuma mimpi aja??
    ko terakhirnya pada manggil taeyeon semua??
    lanjut ke squel ya eonn
    fighting!!!

  2. Waah… Trnyata nie author 1 ngepost d’sini,y? *maklum,reader baru >_<*.

    Nice epep…^^ Tpi masih bingung saia sama jlan crita'a… *salah sndiri sieh lu sok sokan langsung baca ending -_-!!#d'tmpuk rantang sama Author kyeopta*^^V

    OnKey deh… Blik dulu lah cari part sebelumnya… :3

    Buat Author… FIGHTING!!! \(^O^)/. Terus hasilkan karya2 baru… *halah… Banyak bacot lu! -,-*

  3. idih baca ini merinding deh, apaligi klo ngbayangin c yoona bneran d mutilasi *author tegaa T.T
    but, aku udah ngkutin ceritanya dr awal smpe akhir… 10000000 jempol buat author..
    ni author nya admin snsd for soneindo kan?aku jg sdih tu fp ilang *nangis di pojokan
    ayo aku dkung klo mau bkin sequel *\(^^)/*
    *komenku ada di tiap part FF ini yaaa =D

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s