[1shoot] Senior Next Door

Tittle: Senior Next Door

Author: Nana Cho

Genre: Romance(?), friendship(?)

Rate: T

Length: 1shoot

Cast:

  • Lee Jinki (Shinee Onew)
  • Yoon Saera (OC)
  • Kim Jonghyun (Shinee Jonghyun)
  • And another cast

A/n: SAENGIL CHUKHA HAMNIDA Onew dubu ♥(>̯┌┐<)•° saya gamau panjang panjang akh kasi sambutan, yang penting Onew makin ganteng sama makin sangtae aja, udah cukup kkk~

Warning: failed ending, don’t like don’t read oke?

[…]

[Senior Next Door]

DUK.

Suara benturan koper dan petak marmer jelas terdengar membahana meenuhi ruangan hampa ini. Ruangan yang tak terlalu luas. Ruangan inilah yang akan menjadi tempat tinggalku selama beberapa tahun study-ku disini. Di Seoul.

Segera kubongkar muatanku dari dalam koper, kemudian menatanya serapih mungkin ke tempat yang seharusnya. Lelah? Ne, aku sangat lelah. Setelah perjalanan sekitar dua jam, aku harus memberesi semua barang-barangku sekarang.

Namaku, Yoon Saera. Aku adalah gadis 19 tahun yang baru saja menyelesaikan SMA-ku di Yongin, dan sekarang aku akan melanjutkan kuliahku di Seoul University. Yah, aku tahu aku ini memang cukup cerdas – atau beruntung lebih tepatnya – sampai aku bisa memasuki universitas nomor satu di Korea itu. Ehem.

Ini adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di Seoul, sekaligus pertama kalinya bagiku menginjakkan kaki di apartment kecil ini. Apartment yang akan menjadi rumahku selama disini. Aku masih berharap datangnya seorang tetangga tampan nan baik hati selayaknya novel remaja yang kubaca itu. Hahaha…

“Haah…” Kuhempaskan tubuhku di tempat tidur setelah berhasil menata apartment kecil ini. Cukup melelahkan juga ternyata.

Kulayangkan pandanganku keseluruh penjuru kamar. Almari, sudah rapi! Lantai; bersih mengkilap! Meja belajar; rapi jali! Apalagi yang kurang?

“Aiisshh…” Umpatku reflek dengan bolamata yang juga membola dengan reflek mendapati sebuah bungkusan plastik yang cukup besar. Aku tahu isinya, itu sampah.

Artinya? Aku harus bangkit lagi dari posisi terbaikku ini, mengambil bungkusan itu, dan membuangnya keluar, ke alamnya yang semestinya. Hhh…

“Hanya satu Saera!” Kukepalkan tanganku ke udara, menyemangati diriku sendiri.

Kuangkat tubuhku dari tempat tidur dengan enggan. Sangat enggan. Kemudian, berjalan menuju bungkusan laknat itu, dan mulai melangkahkan kaki keluar kamar untuk membuangnya.

“Aigoo…” Keluhanku bertambah lagi ketika kudapati satu bungkusan yang sama di ruang tamu. Okay, dua.

Sekarang, aku dengan dua plastik sampah di tangan kanan dan kiriku, berjalan terseok-seok keluar apartment. Ditambah dengan rambutku yang berantakan, lengkap dengan kaus yang kelonggaran dan celana belel. Aku benar-benar tampak meyakinkan untuk disebut sebagai orang gila. Tapi, kurasa orang gila tak ada yang secantik diriku.

BRUK.

Kulemparkan begitu saja sampah-sampah itu ke dalam bak sampah. Energiku benar-benar hampir mencapai limit sekarang. Ya, gara-gara acara pindahan tadi. Fuuhh…

“Kau pasti tetangga baru yang dibicarakan Kim Ajjuma kemarin.” Terdengar suara seorang namja di belakangku. Membuatku langsung menengokkan kepalaku kearah sumber suara. Namja. Kyeopta. Neomu kyeopta.

“Yaa?” Suara dan lambaian tangan namja itu yang tepat di depan mataku mengembalikanku ke dunia nyata.

“Eh, er, n – nde?”

“Kau tetangga baru yang tinggal disana?” Tanyanya seraya menunjuk kearah pintu apartmentku.

“Ne, Yoon Saera imnida. Bangapseumnida…” Kubungkukkan badanku menyapanya.

“Oh! Lee Jinki imnida, bangapseumnida…” Balasnya seraya tersenyum menunjukkan sederet gigi rapi terawatnya. Senyumnya manis sekali!

“Eh, ng… aku aku masuk dulu, ada yang harus kukerjakan lagi.”

“Ne, kau pasti lelah. Kalau butuh bantuan, kau bisa memanggilku, itu apartmentku.” Jinki menunjuk pintu yang tepat berada di samping pintu apartmentku. Jadi, dia tinggal disana? Benarkah ini? Seorang tetangga tampan nan baik hati telah datang!

“Ne. Tentu.” Kutunjukkan senyumku yang tak kalah manis darinya – menurutku – kemudian berjalan menuju apartment-ku sendiri.

“Annyeong Jinki-ssi.”

“Ne, annyeong Saera-ssi.” Senyumnya mengembang, pipinya naik, mata kecilnya menyipit, aegyo! Neomu aegyo!

Kututup pintu apartmentku setengah hati, karena sebenarnya aku masih ingin melihat senyum Jinki yang menawan. Tapi, apa daya, tubuhku tidak mendukung, energiku benar-benar sudah mencapai limit. Nan jallae…

Kupatut tubuhku di depan cermin. Cantik sekali yeoja di depanku ini. Mantel coklat selutut, kaus putih, celana denim, dan sepatu uggs coklat. Tak lupa slingbag cream yang sudah menggantung manis di pundakku. Inilah gaya gadis musim gugur tahun ini. Aku siap menjalani hari pertamaku di Universitas!

Kulirik jam putih di pergelangan tanganku. 08.30. Kelasku, dimulai jam sembilan, dan dari sini, aku hanya perlu menaiki buss selama sepuluh menit sampai kampus. Aku masih punya waktu untuk membeli makanan di kedai depan apartment. Go go go!

“Oseo oseyo…” Sapa Ajjuma pemilik kedai ketika kumasuki kedai mungilnya yang terasa lebih hangat dari udara luar yang mulai dingin.

“Annyeong ajjuma, aku ingin roti isi dan susu hangat.” Pesanku di depan meja kasir.

“Kau ingin roti isi apa gadis manis?” Aigoo… jangan terlalu diperjelas kalau aku ini manis ajjuma.

“Aku mau isi sayur.”

“Ne, tunggu sebentar ya…”

“Ajjuma…” Suara seorang namja yang tiba-tiba berdiri di sampingku, ketika wanita paruh baya itu mengambil roti dan susu pesananku di etalase.

“Jinki-ah… ayam goreng lagi?” Eh?

“Ne ajjuma.” Kutengokkan kepalaku kearah suara namja itu, dan kudapati Jinki oppa tengah mengangguk-anggukkan kepalanya bersemangat, seraya tersenyum lebar. Lucu sekali tingkahnya ini! Aigoo…

“Gadis manis, ini pesananmu.” Suara Ajjuma pemilik kedai membuyarkan lamunanku.

“Eh, ne ajjuma. Gomawo.” Ujarku seraya memberikan beberapa lembar uang padanya.
“Ne, ini kembaliannya. Datang lagi ya.”

“Ne…” Kubungkukkan badanku, kemudian berniat untuk segera meninggalkan kedai. Tapi, kuurungkan niatku ketika kudengar seseorang memanggilku.

“Saera?” Itu suara Jinki!

“Annyeong Jinki-ssi.” Kubalikkan badanku seraya membungkuk menyapanya.

“Annyeong. Kau akan berangkat kuliah?”

“Ne, kau sendiri?”

“Aku juga akan berangkat. Dimana kampusmu?”

“Aku, aku di Hanguk.” Aaasshh aura namja ini membuatku gugup saja.

“Kau juga berkuliah disana? Bagaimana kalau kita berangkat bersama?” Berangkat bersama Jinki yang kyeopta?!

“Ne, kenapa tidak.” Deretan gigi putih nan rapiku terpampang secara otomatis. Mengungkapkan betapa senangnya aku dapat berangkat bersama namja ini.

“Kkaja.” Ujarnya setelah mengabil dan membayar pesanannya.

Aku hanya bisa menunjukkan senyum yang belum mau pergi dari bibirku seraya mengikutinya berjalan keluar kedai. Sepertinya, angin musim gugur mulai menghangat, atau memang hatiku yang menjadi hangat karena ada di dekat Jinki-ssi? Hehehe…

“Kau ambil jurusan apa?” Tanya Jinki membuka pembicaraan kami di perjalanan menuju halte.

“Musik, aku baru tingkat satu.”

“Jinjja? Aku juga jurusan Musik. Tapi, aku sudah tingkat empat. Kalau begitu, kau Hoobae-ku.” Ujarnya seraya tersenyum bangga. Jadi, dia adalah seorang Sunbae? Tetangga kyeopta-ku ini juga sunbae-ku? Apakah kami berjodoh? Hahaha…

“Ah, ne Sunbae…” Kubungkukkan badanku sebagai formalitas. Mengakuinya sebagai seorang Sunbae.

“Hahaha… ada-ada saja kau ini Saera. Eh, itu buss kita sudah datang.”

GREP.

Omona! Tiba-tiba Jinki-ssi – atau sekarang aku bisa memanggilnya ‘Sunbae’ – menggenggam tanganku erat, kemudian menarikku memasuki sebuah buss yang berhenti di depan kami. Buss yang terlihat penuh.

“Waah penuh sekali. Sini kau berdiri disini saja.” Ujar Jinki-ssi seraya memberiku tempat berdiri di depannya.

Kuanggukkan kepalaku menjawabnya, kemudian berdiri di depannya. Membuatnya berdiri di sisi yang lebih dekat dengan pintu.

Berdiri di jarak sedekat ini dengan Jinki-ssi, benar-benar membuat jantungku berdegup semakin cepat. Rasanya, jantungku ini pasti akan meledak jika aku bisa berada di jarak yang lebih dekat lagi dengan namja yang baru kukenal satu hari yang lalu ini. Aku memang belum terlalu mengenalnya. Tapi, kurasa aku tertarik padanya.

CKIIIT…

“Kyaaa” Teriakan spontan beberapa yeoja di dalam buss ini ketika sang supir tiba-tiba mengerem mendadak buss penuh ini.

Aku tak berteriak. Hanya diam, menatap seseorang yang kini tengah memelukku. Menjagaku agar tak jatuh. Dia, Jinki-ssi. Dia makin tampan dilihat dari jarak sedekat ini. Apalagi, mata kecilnya itu juga tengah menatap kedalam mataku. Eomma! Kurasa jantungku sudah meledak!

Angin musim dingin menyapaku sadis ketika kulangkahkan kakiku di taman kampus. Kueratkan lilitan syal merah di leherku. Musim dingin sudah mulai datang sejak beberapa minggu yang lalu. Salju juga sudah mulai turun. Wajar saja, sekarang sudah memasuki tengah bulan Desember. Cuaca benar-benar sudah berbeda dari ketika pertama kuinjakkan kakiku di universitas ini.

Hubunganku dengan Jinki oppa juga sudah ada kemajuan. Jika beberapa bulan yang lalu aku hanya mengenalnya sebagai tetangga juga seniorku yang kyeopta, kini aku sudah lebih mengenal banyak tentangnya. Bahkan, aku sudah diperbolehkan memanggilnya ‘Oppa’, dan entah sejak kapan, kurasakan aku mulai sangat berdebar-debar ketika di dekatnya. Dia mampu membuatku merasakan berjuta perasaan yang tak pernah kutahu sebelumnya. Dia mampu membuatku menyukainya.

“Yaa apa kau yang bernama Yoon Saera?” Seorang Sunbae – yang kuketahui bernama Jonghyun – teman Jinki oppa tiba-tiba mendekatiku dan berjalan begitu saja di sampingku.

“Nde, wae geurae Sunbae?” Ya, aku tahu dia playboy. Aku tahu aku cantik. Tapi aku bukan yeoja cantik yang tertarik dengan playboy seperti dirinya.

“Kudengar apartmentmu bersebelahan dengan apartment Jinki?” Dipamerkannya senyumnya yang – menurut beberapa yeoja – memesona itu. Tapi, bagiku senyum Jinki oppalah yang paling memesona.

“Ne.”

“Kalau begitu, kau bisa membantuku?”

“Membantu apa?” Alisku bertaut. Menatap Sunbae di depanku itu dengan heran.

“Irohke, besok adalah ulang tahun Jinki. Jadi, maukah kau membantu kami bla bla bla…” Jonghyun Sunbae menerangkan rencananya dan teman-temannya dengan panjang lebar. Intinya, aku harus memastikan Jinki oppa ada di apartment sampai jam 12 malam nanti. Itu hal yang mudah. Tapi, yang menjadi masalah adalah, itu artinya aku harus terus bersamanya sampai malam, dan aku tak punya kesempatan untuk menyiapkan kado untuknya! Kenapa aku tak tahu tanggal ulang tahunnya sejak lama?!

“Ne.” Langsung kuiyakan saja rencana itu. Mungkin tak masalah jika aku agak terlambat memberikan kado untuk Jinki Sunbae.

“Okay. Mohon bantuanmu ya cantik.” Jonghyun mengedipkan sebelah matanya padaku. Cih. Dia kira aku akan tergoda?

“Aku tahu aku cantik. Tak perlu kau perjelas Sunbae.”

“Hahaha… Ne, kau memang cantik.”

Sudah kubilang ‘kan. Aku ini memang cantik! Huh. Bilang saja terus terang kalau dia mulai menyukaiku. Sayangnya, sudah ada Jinki oppa di hatiku.

Kulangkahkan kakiku mendekati pintu apartment Jinki oppa. Aku tahu aku pasti bisa melakukan ini. Ya, ini adalah tugas yang dibebankan padaku. Aku pasti bisa!

Kutarik nafasku dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Kulirik jam tanganku, 08.30. itu berati, aku harus bersama Jinki oppa sekitar 3 jam? Apa aku sanggup? Apa jantungku tak meledak? Aasshh… apakah aku berlebihan?

Kutarik lagi nafasku dalam-dalam. Entah, rasanya gugup sekali. Padahal, aku hanya akan memastikan Jinki oppa ada di dalam apartment. Tapi, aaassshhh… ini menegangkan!

“Saera?” Suara tenang Jinki oppa mengagetkanku ketika baru saja kuangkat tanganku untuk mengetuk pintu apartment-nya.

“Eh, oppa! Aigoo… kau mengagetkanku.” Kutatap kyeopta namja itu seraya mengusap dadaku. Ini karena aku kaget, dan karena gugup berada di dekatnya.

“Mianhae… kenapa ada di depan apartment-ku?”

“Oh! Aniya, aku hanya ingin main. Aku bosan sendiri di dalam.” Fuuhh… alasanku tidak aneh ‘kan?

“Kkaja masuk. Kebetulan aku tadi beli makanan banyak, kita bisa memakannya bersama.” Eh? makan malam bersama Jinki oppa?

“N… ne oppa.”

CKLEK.

Dibukanya pintu kayu itu, kemudian berjalan mendahuluiku memasuki apartment-nya.

“Kkaja masuk Saera.” Suara Jinki oppa menyadarkanku yang tengah melamun di depan pintu apartment-nya.

“Oh! Ne Oppa.” Lagi, rasa gugup itu menyerang sekujur tubuhku ketika kumasuki apartment namja yang kusukai itu. Aigoo, semoga Jinki oppa tak menyadarinya.

“Kau tunggu sebentar ya, aku mandi dulu. Nyalakan saja televise-nya jika ada yang ingin kau tonton.” Senyumnya mengembang.

“Ne oppa.” Kuanggukkan kepalaku seraya membalas senyumnya.

Kemudian, kyeopta namja itu beranjak menuju kamarnya, setelah meletakkan sebuah bungkusan di meja makan. Mungkin itu makanan yang dimaksudnya tadi. Kurasa, tak ada salahnya jika kusiapkan makanan itu di meja. Jinki oppa pasti lelah.

Kubuka bungkusan itu, di dalamnya, ada sebuah kotak bertuliskan ‘Mexicana Chiken’. Well, aku sudah tau kalau isinya pasti ayam goreng. Ya, Jinki oppa memang tak bisa lepas dari makanan itu. Sekarang, yang penting aku harus menyiapkan ini untuknya.

Kulirik jam di pergelangan tangan kiriku. 09.45. Sudah sekitar limabelas menit Jinki oppa ada di dalam kamarnya. Makanan dan minum juga sudah kutata rapi di meja. Tapi, namja itu belum juga keluar dari kamarnya. Eomma, dia tak perlu berdandan ‘kan?

“Eh, kau sudah siapkan makanannya Saera? Aigoo… jadi merepotkanmu.” Itu dia namja yang kutunggu-tunggu sudah datang.

“Hehehe… gwaenchana oppa.” Kutunjukkan senyumku seraya berbalik menatap kearahnya. OH MY… Rambut coklatnya masih basah, wajahnya juga terlihat sangat segar. Bahkan, handuk masih menggantung di lehernya, dan… apa maksud kaus putih dan celana pendek itu?! Membuatnya terlihat, huaaaa kenapa tugas ini harus dibebankan padaku?! Bagaimana jika aku gagal jantung?!

“Saea? Kau hobi sekali melamun. Kkaja makan.” Kurasakan tangannya mengusap ujung kepalaku lembut. Membuyakan lamunanku, namun langsung membuatku kembali terpaku dengan seketika. Wajahku memanas, jantungku, jantungku berdegup dengan kecepatan super!

“Saera? Kkaja makan.”

“Er, n…ne oppa.” Kuanggukkan kepalaku, lalu duduk di sampingnya dengan agak terburu. Bukan kaena aku sudah lapar. Tapi, kakiku mulai tak kuat menahan berat badanku sendiri. Lee Jinki! Dia benar-benar berhasil melemahkan semua syaraf di tubuhku.

Lagi, kulirik lagi jam di pergelangan tangan kiriku, 11.30. Setengah jam lagi, pasukan Jonghyun Sunbae akan datang. Sementara, Jinki oppa masih serius menonton film yang terputar di televise di depan kami. Ya, kami memang memilih menonton film setelah menghabiskan ayam tadi. Kami? Tidak, lebih tepatnya Jinki oppa yang menghabiskannya. Dia membeli sekotak yang berisi 5 potong ayam goreng, dan dia memakan empat diantaranya. Rakus? Tidak. Dia hanya terlalu mencintai ayam.

“Hoahmb…” Tanpa sadar aku menguap begitu saja, seraya merenggangkan tubuhku.

“Kau mengantuk Saera?” Jinki oppa memalingkan kepalanya kearahku, menatapku hangat.

“Ehm? Aniya oppa, lanjutkan saja menontonnya.” Kusunggingkan senyumku kearahnya, dan beruntunglah aku dia hanya mengangguk kemudian melanjutkan acara menontonnya.

Fuuhh… sedikit lebih lama lagi dia menatapku, maka matilah aku ini. Ya, aku tahu aku mulai berlebihan lagi.

Kenapa waktu terasa berlalu begitu cepat ketika aku bersamanya? Kulirik lagi jam tanganku – untuk yang kesekian kalinya – 11.55. Lima menit lagi, lima menit lagi Jonghyun Sunbae dan kawanannya akan datang kemari, memenuhi ruangan ini, memberikan kejutan untuk Jinki oppa. Aku yakin, aku akan mulai tersingkirkan setelah itu.

TING TONG.

Kurasa itu mereka, kurasa keberadaanku juga sudah tak dibutuhkan lagi.

“Biar aku yang buka oppa.” Langsung aku berdiri dari dudukku, bersiap membuka pintu untuk Jonghyun Sunbae dan kawanannya.

“Oh! Ne.” Jinki Oppa kembali ke posisinya lagi, sementara kulangkahkan kakiku menuju pintu Apartment.

CKLEK.

Pintu terbuka, dan yang kudapati adalah serombongan orang dengan perlengkapan ‘perang’. Mereka benar-benar banyak. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku di depan mereka, di depan Jonghyun Sunbae – yang berdiri paling depan.

“Kalian masuk saja, dia sedang menonton film.” Bisikku mengomando mereka untuk masuk.

“Ne, gomawo Yeppeun.” Aaasshh mulai lagi genitnya.

Satu persatu dari mereka mulai memasuki apartment Jinki oppa. Lebih baik, aku pergi dari sini. Kurasa, Jinki oppa juga tidak akan mencariku lagi.

TEEETTT…

“SAENGIL CHUKHAHAMNIDA URI DUBU!!!” Teriakan itulah yang kudengar ketika baru saja kubuka pintu apartment-ku. Ya, Saengil Chukhahamnida naui dubu.

Kumasuki kedai ajjuma di depan apartment dengan langkah gontai. Hari ini, aku tak ada kelas, jadi aku datang kemari untuk membeli makan siang sekaligus sarapanku hari ini. Aku masih bingung harus memberi apa untuk Jinki Sunbae. Apakah boneka? Dia bukan yeoja berumur tiga tahun ‘kan? Robot? Mobil-mobilan? Atau pistol air?  Atau bebek karet? Omo! Seseorang, tolong yakinkan aku bahwa Jinki Sunbae bukanlah seorang batita!

“Hhh…” Aku menghela nafas berat seraya duduk dan menopang daguku di meja kasir.

“Ada masalah apa gadis manis?” Kalian tahu ajjuma pemilik kedai ini sungguh ramah ‘kan?

“Ajjuma, kira-kira kado apa yang cocok untuk ulang tahun seorang namja berumur 23 tahun?”

“Hmm… kau berikan apa yang sedang dibutuhkannya saja sayang.”

“Tapi, aku tak tahu apa yang sedang dibutuhkannya. Eotte?”

“Kalau begitu, kau berikan saja apa yang disukainya.”

“Ya, yang disukainya. Memang siapa yang berulang tahun? Aahh… pasti namja-mu. Ne?” Aku juga masih berharap menjadi yeojanya ajjuma.

“Jinki oppa. Dia berulang tahun hari ini.”

“Oh! Jinjja? Kenapa kau tak memberinya ayam goreng saja?” Ayam?

“Apa dia tak bosan? Dia makan ayam setiap hari Ajjuma.”

“Tapi dia tak pernah memakan ayam goreng buatanmu ‘kan?” What a brilliant idea!

“Ne, kau benar ajjuma! Gomawo ajjuma, aku siapkan kado untuknya dulu.”

“Ne.”

Kulangkahkan kakiku dengan terburu keluar kedai. Aku pasti bisa membuat ayam goreng yang enak. Pasti!

Kutatap seember ayam di depanku ini. Ada beberapa potong paha ayam yang kutata menggunung. Warna ayamnya memang keemasan. Tapi, jujur saja, aku tak menjamin rasanya. Setidaknya, penampilan itu nomor satu ‘kan? Apalagi ditambah dengan pita warna warni yang kuikat ditiap potongan ayam itu, lengkap dengan lilin berbentuk paha ayam diatasnya. Ini sempurna Saera! Aku siap memberikannya pada Jinki Oppa.

Kubawa ember ayam itu dengan hati-hati, menuju apartment Jinki oppa. Aku tak ingin merusak mahakaryaku ini.

TING TONG.

Terdengar suara itu ketika kutekan bell apartment-nya. Hhhh… aku semakin dugeun dugeun saja.

“Saera?!” Suara Jinki oppa tercekat mendapatiku dengan seember ayam di depan apartment-nya.

“Saengil Chukhae oppa… mianhae aku telat mengucapkannya.” Kuelungkan ember ayam itu kedepannya. Aasshh… kurasa mukaku mulai memerah.

“Aigoo… gomawo. Aku mencarimu semalam. Ternyata, kau malah memberiku seember ayam? Huaa…” Matanya membola, berbinar mengambil ember ayam yang ada di tanganku.

“Cheonmaneyo oppa. Ini tidak seberapa. Hehehe…”

“Kkaja masuk. Aku ingin makan ayam ini bersamamu.” Tangannya terulur, menggandengku memasuki apartment-nya. Membuat jantungku berdegup lebih kencang – lagi.

“Oh! Ne oppa.” Kuikuti langkahnya yang membawaku menuju ruang makan. Diletakkannya ember ayam yang dari tadi dibawanya, kemudian namja bermata kecil itu membalikkan badannya dan menatapku lengkap dengan senyum di bibirnya.

Let me hug you.” Tangannya terbuka lebar. Kupeluk namja di depanku itu dengan senang hati. Entah, tubuhku hanya reflek mengikuti apa yang ada di hatiku.

“Gomawo. Itu pasti akan menjadi ayam terenak yang penah kumakan.” Ujarnya seraya mempererat pelukannya. Eomma! Kurasa aku mulai gagal jantung!

[…]

Bener kan ending-nya gaje banget (_ _’) itu semua gara-gara nna kebut ni ff tadi malem, di tengah huru hara bikin tugas juga, mana gue remidi lagi! #curcol

udahlah, yang mau bashing, boleh aja, tapi jangan disini, mention aja langsung ke @nanacho9541 on twitter,

yang mau like page like page… *nawarin dagangan* ayo tunjukkan jempol kalian di Infinite’s Abernathy

6 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s