It started with a kiss

Author : Kin (@Rekindria)

Main cast : Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun

Rating : PG-15

Genre : Romance

Length : Oneshoot

Disclaimer : Plot is MINE. All the Main casts are belong to god and themselves. This is just a pure fiction story.

Warning : Don’t be Plagiator and Siders.

Summary : Kata-kata itu terus terngiang di kepala Sooyoung. Saat bayangan kau akan pergi.. aku bisa menahanmu kan? Apa yang harus dia lakukan saat Kyuhyun memintanya begitu saja untuk berpisah? Menghempaskan hatinya dari langit dan membuang sesuka hatinya? Namun, dia meyakini Kyuhyun mencintainya. Dan ada sesuatu yang ia sembunyikan. Cepat atau lambat Sooyoung harus mengetahuinya kan? Karena, dia tak mampu kehilangan sosok Kyuhyun dihadapannya. Akankah dia berhasil? Lalu, kenapa dengan mudah Kyuhyun melepaskan genggamannya?

♥It started with a kiss♥

Sooyoung menghentakan kakinya ragu. Dia terhenyak saat menyadari raganya ditempat yang sangat asing baginya. Ia mengerjapkan matanya dan membiaskan pupilnya menangkap objek yang memantul di lensanya. Aneh. Tidak seperti biasanya.

Sekali lagi, dia mencoba membuka lalu menutup matanya bahkan sesekali mengusap pelan kelopak matanya. Dia yakin sekali. Dia melihat semua yang ia yakin ditangkap manik matanya.

Hanya memerlukan beberapa detik saat ia menyadari tempat ini aneh. Mungkin sangat aneh. Bagaimana bisa dia berada ditempat seperti ini? Jika, ini surga itu adalah jawaban dari pertanyaan yang ia yakin benar. Surga? Apa raganya telah hilang?

Musim semi? Pertanyaannya bertambah satu saat ia menyadari sepucuk daun sakura jatuh tepat dihidungnya. Seingatnya, hari ini musim panas. Kenapa, berubah cepat menjadi musim semi?

Dan lagi-lagi tempat ini membuat Sooyoung bergedik. Otaknya mensugesti dirinya untuk tetap diam dan tak melangkah setapak pun. Tapi, hatinya berkata lain. Ia harus menuju tempat yang ada dihadapannya. Membuka tabir rahasia yang mungkin mengubah semuanya. Mungkin.

Tidak bisa. Dia tidak bisa melangkah. Tapi, lagi-lagi kakinya tak berkoordinasi dengan baik. Ada yang salah? Okay, sepertinya dia akan menuruti panggilan itu. Dia harus menuju tempat yang ada ditempat ini. Seperti taman yang tersembunyi. Apa benar?

Satu langkah dengan perasaan resah. Dua langkah dengan perasaan gundah. Dan, saat langkah ketiga dia berhenti. Bukan karena ragu. Tapi, ia menyadari tepukan halus di bahu menghentikan tubuhnya.

“Choi Sooyoung , kenapa kau hanya diam?” sebuah suara terdengar, membuat Sooyoung terdiam. Bukan karena perasaan kalut tapi damai. Entah kenapa dia merasakan itu. Yang pasti sentuhan ini sangat membuat dia nyaman. Tanpa ragu dia menoleh dan mendapatkan sosok dihadapannya, Cho Kyuhyun.

Sooyoung menghembuskan nafas lega lalu tersenyum kecil saat bayangan indah itu dihadapannya. “Kyuhyun oppa, kenapa kau ada disini?” tanya Sooyoung dengan merengkuh ringan tubuh pria dihadapannya.

Kyuhyun tersenyum kearah Sooyoung lalu berkata, “Kenapa kita tidak jalan-jalan? Ini tempat yang indah,” Kyuhyun membelai pipi Sooyoung lembut dan ini membuat wajah Sooyoung bersemu merah.

Sooyoung terdiam lalu melirik tempat ini dengan aneh. Sekali lagi, dia masih penasaran dengan tempat ini. Ditambah dengan Kyuhyun yang memakai baju putih sedangkan dia memakai baju biasa. Ini aneh.

“Tempat apa ini?” akhirnya Sooyoung bertanya pada Kyuhyun setelah semua pikiran itu berkutat di otaknya.

Kyuhyun masih menampilkan senyum manisnya. Dia menggengam tangan Sooyoung dan menjawabnya, “Ini tempat yang indah. Kau harus ikut denganku.”

Kyuhyun menarik tangan Sooyoung untuk ikut bersamanya. Sooyoung ingin menolak. Tapi, lagi-lagi dia tidak kuasa menolak permintaan pria ini. Dia hanya bisa pasrah. Lagipula, dia percaya Kyuhyun pasti akan menunjukan hal yang indah padanya.

Kyuhyun memimpin Sooyoung untuk terus mengikuti derapan kakinya. Sooyoung memerhatikan sekelilingnya. Apa yang harus ia takutkan? Tempat ini tidak menyeramkan tapi sangat indah. Bahkan keindahannya melebihi taman yang selama ini ia lihat, Seoul grand park . Jadi, tak perlu ada yang ia takutkan.

Disepanjang perjalanan Sooyoung memerhatikan langit yang begitu biru, bunga yang bermekaran indah dan kupu-kupu yang terbang dihadapannya. Ini benar-benar surgakah?

“Kau suka?” tanya Kyuhyun yang memerhatikan senyuman Sooyoung yang berubah. Semula hambar lalu berubah sumringah. “Ini tempat yang indah bukan?” pukas Kyuhyun saat Sooyoung tak menampik perkataannya.

Sooyoung terhentak sedikit saat Kyuhyun berkata padanya. Namun, ia sama sekali tak mengetahuinya. “Apa oppa?” tanya Sooyoung.

Kyuhyun tersenyum lalu mengacak rambut Sooyoung. “Kau ini. Ini tempat yang indah bukan?” Kyuhyun menyingkirkan ranting pohon dihadapannya lalu berkata dengan kagum, “Lihatlah ini sekarang!” Kyuhyun merentangkan tangannya menunjuk objek yang harus dilihat oleh Sooyoung.

Sooyoung terhenyak saat menyadari matanya menangkap objek yang indah. Air matanya menggumpal di sudut matanya saat mengagumi objek dihadapannya. “Kenapa ada tempat seindah ini?” gumam Sooyoung dengan mata berbinar.

Kyuhyun terkekeh pelan lalu berdesis, “Ini tidak lebih indah dibanding dirimu,”

Sooyoung tersenyum kecil saat mendengar kata-kata itu. Membuat dia semakin hanyut akan suasana dihadapannya. Tak pernah terbesit dalam pikirannya Kyuhyun seperti ini. Biasanya, Kyuhyun yang ia kenal sangat jahil dan cuek. Baiklah, ini bisa dimasukkan ke daftar pertanyaan selanjutnya. ‘Kenapa Kyuhyun bisa bersikap manis?’

Tangan Kyuhyun menjabat Sooyoung hangat. Seakan jemari Kyuhyun tak ingin melepaskan Sooyoung dari gengamannya. Kyuhyun menuntun Sooyoung untuk mengagumi semua ini. Ia menarik tangan Sooyoung untuk menaiki sampan bersamanya.

“Tempat ini lebih indah dari Sungai Han,” ucap Sooyoung yang masih terus berdecak kagum.

Kyuhyun tersenyum melihat senyum indah yang terukir di wajah Sooyoung. “Apa kau tidak takut lagi?” selidik Kyuhyun yang masih dengan mendayung sampan yang mereka tumpangi.

Sooyoung mendelik kaget. Bagaimana pria ini bisa membaca pikirannya? Dia belum berbicara tentang betapa anehnya tempat ini. Tapi, kenapa pria ini bisa mengetahuinya? Come on, jangan buat pertanyaan di kepala Sooyoung terus bertambah.

“Hei, kenapa kau suka sekali diam?” pekik Kyuhyun melirik singkat Sooyoung dengan ekor matanya.

Sooyoung mengalihkan pandangannya menatap wajah Kyuhyun dengan gamang. “Ini aneh.” Jelas Sooyoung. Sudut bibir Kyuhyun terangkat saat mendengar statment Sooyoung. Membuat Sooyoung semakin bingung dengan pria dihadapannya. Sooyoung mengangkat kedua alisnya hingga bertaut. “Ada yang aneh?” selidik Sooyoung dengan menatap mata Kyuhyun yang membuat hatinya berdesir.

Pria dihadapannya hanya tersenyum sekilas lalu kembali mendayung sampannya. Sooyoung tersenyum untuk kesekian kalinya. Dia baru sadar Kyuhyun semakin tampan sekarang. Wajahnya yang baby face membuat Sooyoung tak henti dan takkan bosan menikmati wajah Kyuhyun.

“Aku tau aku tampan Sooyoung ah. Tapi, apa kau terlalu mengagumi wajah sempurna ku ini?” delik Kyuhyun dengan kekehan kecil di sudut bibirnya.

Sooyoung mengerutkan wajahnya lalu menatap Kyuhyun dengan wajah meledek. “Kau bercanda?”

“Kenapa bercanda? Aku tidak bercanda. Apa perlu bukti?” sunggut Kyuhyun dengan tatapan yang bisa Sooyoung baca. Pasti, dia akan melakukan hal yang aneh-aneh. “Lihatlah, sekarang kau hanya diam kan? Aku tau pesonaku memang bisa membuatmu tak berkutik,” ucapnya dengan membanggakan dirinya lagi. Saat ini Sooyoung ingin memukul puncak kepala Kyuhyun. Agar pria dihadapannya membungkam mulutnya.

Sooyoung sedikit menepis wajah Kyuhyun. Tapi, detik berikutnya Kyuhyun berbalik cepat dan mendekat kearah Sooyoung. Lebih dekat bahkan nafas Sooyoung terdengar tersengal-sengal mungkin ditelinganya.

Kyuhyun menyunggingkan senyum tipis lalu berbisik, “Bahkan seperti ini saja degupanmu begitu cepat. Aku tahu perasaanmu begitu dalam padaku.”

Suara merdu yang mengalir melalui bisikan itu membuat Sooyoung semakin bersemu merah. Dia mengakui bahwa suara Kyuhyun bisa membuatnya terhempas begitu saja. Seperti sekarang, dia merasa raganya sudah tidak bersatu dengan tubuhnya.

Sooyoung mengerjapkan matanya saat menyadari bibir Kyuhyun menempel diatas bibirnya. Matanya membulat saat merasakan bibir basah Kyuhyun yang menyapu bersih setiap inci bibir tipisnya.

Awalnya ingin menolak tapi sentuhan Kyuhyun membuatnya tak berdaya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menurut. Saat ini Sooyoung menyadari ia membalas lumatan bibir Kyuhyun, semakin membuatnya mengeratkan jarak tubuh diantara mereka.

Sooyoung sedikit memiringkan wajahnya agar mudah bagi Kyuhyun mengakses bibirnya lebih dalam. Mata Sooyoung membulat lagi saat menyadari sesuatu. Bayangan yang aneh.

Sebuah pantulan yang membias dari danau membuatnya tak bisa berfikir jernih lagi. Hanya dia dibayangan itu sedangkan Kyuhyun tidak ada. Dia kembali menatap wajah Kyuhyun untuk memastikan Kyuhyun memang ada dihadapannya. Namun, itulah kenyataannya. Kyuhyun berada tepat diwajahnya namun proyeksi bayangan dirinya nihil.

Ada sesuatu yang aneh dan sayangnya Sooyoung tak mengerti itu. Apa maksudnya semua ini? Hatinya mengatakan semuanya. Mungkin jawaban dari ini semua. Tapi, dia tak menghiraukannya. Takut, akan kenyataan di depan hadapannya. Air mata siap jatuh sekarang. Dia tidak siap akan semua yang mungkin terjadi. Tidak sekarang… Jangan sekarang.

Kyuhyun tertegun saat menyadari bulir air mata menetes di pipi Sooyoung dan menyentuh bibirnya. Kyuhyun melepas kontak bibir mereka dan mencoba menatap Sooyoung. Namun, gadis ini malah mengalihkan pandangan matanya.

Kyuhyun menggengam tangan Sooyoung lalu menyentuh pipi Sooyoung. Menuntun wajah Sooyoung agar menatap ke satu titik yaitu matanya. “Kenapa harus sekarang?” Sooyoung mengucapkan kata-kata itu dengan beberapa isakkan, membuat hati Kyuhyun berkecamuk.

Sekarang Kyuhyun tidak tau lagi harus apa. Air mata yang terus meluncur perlahan dari mata Sooyoung membuat hatinya sakit. Dia telah gagal. Gagal untuk menjaga tak ada satu tetes pun yang akan menggenang di sudut mata Sooyoung. Namun, saat ini air mata itu sudah menganak sungai bukan menggenang lagi.

Uljima… Sooyoung ah. Aku mohon berhenti menangis,” pinta Kyuhyun dengan nada yang mulai melemah. Ia rengkuh gadis dihadapannya dan ia dekap dengan erat. “Aku pernah berjanji untuk menjagamu dan menahan bulir air mata yang bergulir di wajahmu. Tapi, sekarang aku gagal. Maafkan aku… Aku mencintaimu Choi Sooyoung.”

Kyuhyun merasakan Sooyoung membalas rengkuhannya. Bahkan Sooyoung mempererat pelukannya semakin mempertegas ia tak mau kehilangan Kyuhyun. Kyuhyun mengusap pelan rambut coklat Sooyoung. “Berhentilah menangis. Aku tau kau bisa tanpaku,” Kyuhyun mencoba memberi sugesti pada Sooyoung. Walau sugesti dalam dirinya sendiri pun tak ia tanggapi.

“Kau tau aku bisa tanpamu? Kau bercanda? Apa mataku mengatakan aku bisa tanpamu?” Sooyoung sedikit mendorong tubuh Kyuhyun. Kyuhyun tau di wajah Sooyoung sudah terbit rasa kecewanya. “Jawab aku Cho Kyuhyun!” Sooyoung memekik dengan suara parau.

Mianhae…” desis Kyuhyun untuk kesekian kalinya. Hanya kata maaf yang bisa ia ucapkan saat ini. Jika dia bisa mengatakan hal lain seperti aku takkan meninggalkanmu, dia akan melakukan detik ini dan dihadapan gadis ini. Namun ini bukan takdirnya. Bukan waktu untuknya.

Gadis dihadapannya mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Kyuhyun dengan sigap membantu menyeka air mata yang menurutnya tak pantas ada di wajah yeoja-nya. “Berjanjilah untuk bahagia tanpaku,” pinta Kyuhyun dengan mengecup kelopak mata Sooyoung.

Saat Sooyoung menyadari kecupan manis di salah satu kelopak matanya, ia hanya bisa diam membisu. Risau akan perlakuan Kyuhyun padanya. Kecupan di kelopak mata menandakan perpisahan. Apa benar ia akan meninggalkan dirinya sendiri? Memandang semburat jingga yang akan menghilang di ufuk barat seorang diri. Menganggumi indahnya spektrum warna di langit tanpa jemari Kyuhyun yang menaut jemarinya.

Sekarang tidak ada lagi sosok dan bayangan yang akan ia hina. Tidak ada wajah yang akan ia kagumi. Tidak ada hatinya yang menghangatkan hati Sooyoung. Apakah jika ia menutup mata semua scene indahnya terulang? Akankah?

Sooyoung tak bisa menangis sekarang. Air matanya kering menangisi Kyuhyun. Hilang. Cho Kyuhyun hilang dihadapannya saat ia membuka matanya. “Aku ingin menutup mataku jika kau kembali. Bisakah?”

-♥♥♥-

Sooyoung menghela nafas lalu kembali memerhatikan buku dihadapannya. “Mimpi yang aneh. Kenapa bisa seperti itu?” gumamnya berkali-kali. Entah, sudah berapa kali ia menanyakan kata ‘mimpi’ dan ‘aneh’ secara bersamaan. Tapi, bayangan proyeksi itu seakan nyata. Dan sebelumnya dia tak pernah mengalami ini.

“Aish.. eotteoke?” Sooyoung mendesah panjang lalu mencoba menenangkan dirinya dengan berkata, “Ini hanya mimpi. Mimpi itu bunga tidur. Tapi, kenapa mesti dia yang hadir di mimpiku?”

Sooyoung mengacak rambutnya frustasi. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju rak buku. Entah buku apa yang ingin ia baca. Yang pasti kakinya harus melangkah supaya dia tidak terlalu berfikir tentang hal-hal yang berputar di memorinya.

Sooyoung mengambil buku yang dihadapannya asal dan membawanya kemeja. Ini hanya alibi supaya ia terlihat serius membaca. Padahal ia serius berdebat dengan otaknya.

“Ya! Choi Sooyoung buku apa yang kau baca?” pekik Kwon Yuri, sahabat Sooyoung yang tiba-tiba menghampiri dirinya.

Sooyoung menurunkan buku yang menutup wajahnya lalu menatap sekilas sahabatnya itu. Setelah selesai ia kembali membaca buku yang sama sekali ia tak perhatikan isinya. “Kau baca buku tentang keputusasaan soal cinta? Haha. Sejak kapan Choi Sooyoung menjadi mudah tersentuh?” ledek Yuri seraya menarik kursi disamping Sooyoung.

Sooyoung mendecakkan lidah pelan. Tunggu! Buku keputusasaan? Dia membaca? Hei, sepertinya dia memang gila. Sooyoung terdiam lalu membaca beberapa penggal tulisan yang tercetak dibuku yang ia genggam. Ia balik buku itu dan detik kemudian melempar buku itu.

“Kau benar-benar gila?” ejek Yuri yang ternyata sudah kembali dengan beberapa buku yang ia bawa.

“Ahh… ini membuatku gila,” umpat Sooyoung dengan melipat tangan lalu menyenderkan wajahnya ke meja. Ia meniup poninya, kesal.

Yuri menatap Sooyoung heran. “Apa yang terjadi? Ada apa dengan Kyuhyun oppa? Dia terlalu cuek?” delik Yuri dengan melirik Sooyoung sekilas lalu kembali fokus pada bukunya.

Sooyoung menggelengkan kepala. “Tidak. Tapi, dia sangat sweet. Bahkan aku luluh saat itu.”

Yuri mengerutkan kening. Ia menyentuh dahi Sooyoung dengan punggung tangannya. “Pantas saja. Kau sakit rupanya.” Ledek Yuri yang berhasil mendapatkan sebuah jitakan dari tangan Sooyoung.

“Enak saja,” sahut Sooyoung cepat seraya menepis tangan Yuri. Yuri terkekeh geli melihat penderitaan Sooyoung. Sooyoung mengerucutkan bibirnya,kesal. “Sudahlah berhenti menatapku dengan meledek.”

Yuri mencibir. “Pasti ini masalah dengan Kyuhyun oppa. Kau kan selalu menceritakan semua tentang Kyuhyun oppa dengan topik yang sama. Iya kan?”

“Memang tentang dia. Tapi… bukan itu,” balas Sooyoung cepat. “Aku bermimpi dia akan meninggalkanku.” Sooyoung mengangkat wajahnya menatap lurus ke arah manik mata Yuri lalu kembali menghempaskan kepalanya. “Apa maksudnya semua ini? Hei, aku tidak berlebihan kan?” Sooyoung mendengus kesal saat sahabatnya tak memperhatikan setiap kata yang terlontar dari bibirnya.

Yuri menggeleng. “Tidak. Tapi, sangat berlebihan. Mimpi itu hanya bunga tidur Choi Sooyoung!” tegas Yuri.

“Tapi, ini terlihat nyata. Dan sebelumnya aku tak pernah memimpikan Cho Kyuhyun itu.” Sooyoung mencoba membantah ucapan Kwon Yuri.

Yuri menghembuskan nafas kesal. “Seterah kau sajalah. Tapi, menurutku wajar kau memimpikannya. Dia kan namjachingu-mu Sooyoung ah. Kau lupa?” pukas Yuri.

Sooyoung menggeleng. “Aku tau. Tapi, tetap saja aneh.” Gumamnya lagi.

Yuri bangkit lalu berjalan menjauh dari Sooyoung. “Ya! Kwon Yuri tunggu aku!” pekik Sooyoung yang berusaha mensejajarkan jarak mereka.

Yuri berbalik cepat. “Apa?” sunggutnya kesal.

“Ayo kita ke kantin.” Ajak Sooyoung dengan wajah sumringah. Dia tau, Yuri marah saat ia membatah semua sarannya. Dan satu-satunya cara agar ia kembali seperti semula adalah meneraktirnya.

Wajah Yuri berubah saat mendengar kata ‘kantin’. Dia pun tersenyum dan mengalungkan tangannya pada Sooyoung. “Ayo, aku lapar sekali.” Balas Yuri cepat.

Sooyoung terkekeh pelan saat menyadari Yuri dengan mudah ia bujuk. “Dasar! Kalau soal makanan saja..mulai baikkan.” delik Sooyoung dengan menjulurkan lidahnya, meledek.

Yuri menatap Sooyoung dengan tertawa kecil. “Biarin.” Balasnya yang disertai mengacak rambut sahabatnya itu.

Sooyoung mengulurkan tangan mendorong pintu kaca perpustakaan. Namun sebelah tangan terulur dari belakang, mendahului dirinya. Ia berbalik dan mengucapkan terima kasih namun itu tertahan dibibirnya. Bagaimana tidak? Ia fikir Kwon Yuri yang membukakan pintu tapi ternyata itu adalah Cho Kyuhyun.

Sooyoung memiringkan wajahnya mencoba mencari dimana Kwon Yuri berdiri. Dan lihatlah sekarang gadis itu malah menatap dirinya meledek. Sooyoung mendengus kesal saat tau Yuri memang berkomplotan bersama Kyuhyun, mungkin.

“Boleh aku bicara denganmu sebentar Sooyoung ah?” tanya Kyuhyun seraya mempersilahkan Sooyoung untuk lebih dulu melewati pintu. Sooyoung terdiam untuk berfikir. Hei, apa yang ia fikirkan? Bukankah harusnya menjawab ‘iya’?

“Bagaimana?” tanya Kyuhyun lagi.

“Baiklah.” Balas Sooyoung cepat. Kyuhyun tersenyum tipis lalu mengaitkan jemarinya pada puncak kepala Sooyoung. Degupan jantungnya tak pernah berubah dan tak akan. Ia selalu merasa melayang saat di sisi Sooyoung.

Kyuhyun menatap langit sebentar. Hari yang indah. Apakah ia rela mengakhiri semua di hari yang indah ini? Memang. Dia harus mengatakannya. Kesadarannya perlahan menggerogoti keyakinan itu. Tak ingin menyakiti Sooyoung lebih lama. Lebih baik sakit sekarang daripada gadis dihadapannya kecewa nanti.

Sooyoung langsung menyambar daftar menu makanan saat mereka sampai pada sebuah cafè yang tak jauh dari kampus mereka. Kyuhyun memaklumi seorang shikshin sepertinya. Kyuhyun bisa melihat mata Sooyoung begitu bersinar melihat daftar makanan. Setidaknya ini senyum terakhir yang ia buat terukir di sudut pipi Sooyoung.

Sooyoung menutup menu tersebut. “Ada apa oppa?” tanya Sooyoung setelah cukup puas melihat menu tersebut. “Kenapa wajahmu seperti itu?” ledek Sooyoung yang sepertinya menyadari perubahan raut wajah Kyuhyun.

Kyuhyun menundukkan wajahnya lalu memandang lurus tepat ke bola mata Sooyoung. Saat ia melihat manik mata yang ada dihadapannya itu membuat hatinya luluh. Ia tak sanggup. Kyuhyun memukul pelan hatinya, berusaha tegar.

Mereka terdiam sebentar lalu Kyuhyun berkata, “Sooyoung ah, aku merasa kita harus berpisah,” ucap Kyuhyun.

Dia hancur berkeping-keping sekarang. Seperti berjalan di tengah kegelapan tanpa cahaya dari gadis dihadapannya. Mengucapkan kata berpisah membuat lidahnya tercekat. Apa dia terlalu jahat?

Sooyoung terdiam. Seakan nafasnya tersedak sekarang. Oksigen dalam dirinya tidak memenuhi asupan? Atau memang dadanya tertusuk? Kini ia sadar matanya menatap Kyuhyun pilu. Seperti inikah Cho Kyuhyun yang asli?

Mimpi itu kembali terngiang. Jadi, ini semua jawabannya? Ia akan ditinggal oleh Kyuhyun seorang diri. Terdampar di sebuah bibir pantai tanpa cahaya matahari? Terhempas dari langit begitu saja? Terbuang secara sengaja?

“Apa?” Sooyoung memastikan kata berpisah yang Kyuhyun ucapkan mungkin salah ditelinganya. Kata-kata itu memang jelas bergema di telinga Sooyoung. “Apa yang kau katakan?”

“Aku tidak mencintaimu lagi.” Balas Kyuhyun cepat.

Sooyoung merasakan semua emosinya meluap. Aku tidak mencintaimu lagi. Kata-kata itu berputar dan menyakitkan. Bagaimana bisa dia dengan mudah mengatakan itu? Apa memang cintanya telah pudar semuanya? Apa tidak tersisa satu ruang pun untuknya? Hanya sedikit saja. Tidak adakah?

“Aku berfikir kita akhiri saja sampai sini.” Kyuhyun bangkit dan berjalan keluar meninggalkan Sooyoung.

Seharusnya Sooyoung menangis. Tapi, ia tidak bisa. Apa yang harus ia lakukan? Aku harus mengejarnya….

Kyuhyun menyeka air matanya sebentar lalu mendorong pintu cafè. Dia menghela nafas panjang. Semua telah selesai begitu juga cintanya. Tidak.. dia mengakui ia masih menyayangi gadis itu bahkan ia yakin selamanya akan mencintai gadis itu.

Dia ingin membahagiakan gadis itu. Tapi, apa itu akan ada artinya kalau dengan cepat ia meninggalkan Sooyoung begitu saja? Keadaan memaksanya untuk kali ini.

Kyuhyun menyadari ia tak mau Sooyoung ikut menderita merasakan apa yang ia rasa. Ia tak mau gadis itu menangisi kelemahannya. Baginya, lebih baik ia menangis karena kejahatannya bukan kelemahannya.

“Cho Kyuhyun!” Kyuhyun mendengar pekikan itu. Suara yang ia yakini betul pemiliknya, Choi Sooyoung. Kyuhyun berbalik cepat dan dapat melihat gadis itu. Gadis itu terlihat mengatur nafas karena terlalu lelah mengejar dirinya.

Choi Sooyoung tersenyum sebentar lalu berlari kearah Kyuhyun. Gadis itu benar-benar ceroboh. Apa dia tidak melihat ada mobil yang akan melintas dihadapannya dan bisa saja menghempaskan tubuhnya?

Kenapa hanya diam? Selamatkan dia Cho Kyuhyun, pikir Kyuhyun. Tapi, apa pantas ia perhatian pada gadis yang akan dilupakannya? Kyuhyun sadarlah, ini masalah nyawa. Kenapa kau masih mementingkan egomu?

Perlahan Sooyoung mendekat. Waktu seakan diperlambat. Kyuhyun berlari kearah Sooyoung sebelum mobil itu menyentuh tubuh Sooyoung. Ia mendekap tubuh Sooyoung dengan erat. “Berhenti bersikap ceroboh saat aku tak lagi disisimu.” Ucap Kyuhyun dengan membelai rambut Sooyoung.

Ia kembali menatap wajah Sooyoung dan mengecup bibir gadis itu untuk terakhir kalinya, mungkin.

Sooyoung membuka matanya saat menyadari Kyuhyun mendorong tubuhnya pelan. Apa yang terjadi kenapa terdengar benturan yang keras? “Kau tak apa-apa Choi Sooyoung?” tanya Kyuhyun dengan nada khawatir. Sooyoung meringis pelan saat menyadari kakinya mendapat goresan. “Hanya luka kecil.. tidak apa-apa.” Kyuhyun mencoba menenangkan Sooyoung.

“Apa yang terjadi?” tanya Sooyoung.

Kyuhyun menggeleng. “Bukan apa-apa.. yang penting kau selamat.” Balas Kyuhyun dengan tersenyum. Namun detik kemudian matanya menutup. “Kyuhyun… gwenchanayo?” Sooyoung mengusap pelan kepala Kyuhyun yang berada tepat dihadapannya. Dia sama sekali tidak terluka. Tapi, kenapa dia tak sadarkan dirinya?

“Kyuhyun oppa.. jangan bercanda.” Sooyoung mengguncang-guncangkan tubuh Kyuhyun, mencoba menyadarkannya. Namun, hasilnya nihil.

-♥♥♥-

Sooyoung menggengam tangan Kyuhyun dengan hangat. Ia mencium punggung tangan Kyuhyun lalu berkata, “Kenapa mesti seperti ini?”

Ia tidak mengerti kenapa Kyuhyun menyembunyikan penyakitnya, Guillain Barre Sindrom. Dokter memang mengatakan kalau akibat kecelakaan itu ia baik-baik saja. Namun, akibat penyakit ini Kyuhyun terbaring dihadapannya.

Kata berpisah yang Kyuhyun lontarkan saat itu seperti terhapus perlahan. Melihatnya begitu lemah menyadari Sooyoung suatu hal. Dia ingin Sooyoung membenci dirinya karena perlakuan yang membuat Sooyoung menangis bukan kelemahannya.

“Jika kau mengatakannya aku akan disisimu, menguatkanmu. Bukan meninggalkan dirimu menanggung semua. Apa kau fikir aku bersamamu hanya untuk bahagia? Aku ingin merasakan penderitaanmu. Tolong jangan seperti ini…” Sooyoung menatap Kyuhyun dengan air mata yang perlahan bergulir. “…. Apa kau bodoh Cho Kyuhyun? Bukankah kau bilang padaku kalau kau pintar? Tapi, kenapa sekarang kau bodoh?”

Sooyoung semakin mempererat jemarinya. “Aku disini untuk mendukungmu. Jadi, biarkanlah aku disini.” Sooyoung pun menyandarkan kepalanya ke dada Kyuhyun. “Dengarlah.. bahkan degupan jantungmu semakin cepat saat aku disisimu. Aku tau kau mencintaiku. Dan jangan mengatakan kau tidak mencintaiku lagi.” Gumamnya pelan dan ia pun mulai terlelap. Merasa hangat saat bersandar di dada Kyuhyun. Biarkanlah seperti ini.

-♥♥♥-

Musim gugur telah tiba. Namun Kyuhyun masih terbaring lemah dan tetap Sooyoung disisinya. Sooyoung mengambil buah apel yang tergeletak di meja. Ia kupas dan mulai memakannya perlahan. “Hari ini musim gugur. Tapi, hatiku masih bersamamu dan tak akan gugur. Kyuhyun oppa, kau harus bangun. Tadi, ada seniorku yang menyatakan cinta padaku. Tenanglah ..tentu saja aku menolaknya. Bukankah aku sudah memilikimu? Ya kan oppa?”

Sooyoung menundukkan kepalanya. Seperti ini kegiatannya setiap saat. Selalu mengajak Kyuhyun agar bicara dengannya. Namun, itu sama sekali tak berhasil. Karena, Kyuhyun masih terbaring lemah.

Oppa kau tidak cemburu?” tanya Sooyoung seraya menaruh apel yang tersisa. “Kalau kau tidak menjawab aku nyatakan kau tidak cemburu.” Pukas Sooyoung.

“Tidak ada jawaban? Oppa kenapa hanya diam?”

Sooyoung terdiam lalu menghela nafas. Dia lelah seperti ini. Sangat lelah. Namun, sekali lagi hatinya mengatakan Kyuhyun akan kembali padanya. Dan ia yakin itu.

Oppa nan jeongmal saranghae…” desis Sooyoung dengan mengecup bibir Kyuhyun pelan.

-♥♥♥-

Sooyoung memandang keluar jendela. Salju putih itu terus menerus jatuh. Sooyoung menoleh kearah Kyuhyun. Dia masih terdiam. Ini sudah musim salju. Dan Kyuhyun selalu mengajakknya bermain dengan salju. Tapi, sekarang ia tidak bisa bermain.

Sooyoung bangkit dari dudukannya dan memandang ke luar. Salju yang indah. Namun, tetap kurang. “Lihatlah salju turun oppa. Kau tidak ingin bermain diluar?” rengut Sooyoung dengan melirik Kyuhyun sekilas.

Sooyoung berjalan kembali menuju Kyuhyun. Menatap wajah pria yang selama ini tak pernah berubah. Selalu pucat. Dia merasakan angin yang begitu dingin menerpa wajahnya. “Oppa.. udaranya dingin.” Ucapnya manja.

Sooyoung pun membenarkan baju Kyuhyun. Berusaha agar pria dihadapannya tidak kedinginan seperti dirinya.

Dan seperti biasa suatu kebiasaan Sooyoung yang takkan terlupa, mencium lembut bibir Kyuhyun.

-♥♥♥-

Sooyoung berlari menuju kamar rawat Kyuhyun seraya membawa pot bunga. Hari ini musim semi jadi ia bisa membawa bunga ke kamar Kyuhyun. Pasti suasana akan menjadi lebih indah dengan bibit bunga yang akan mekar.

Sooyoung menggenggam knop pintu dan memutarnya pelan. Ia menyembulkan kepalanya sedikit untuk melihat keadaan Kyuhyun.

Tidak ada yang berubah. Masih sama. Mungkin dia terdengar gila saat mengharapkan sesorang yang masih tertidur untuk disisinya. Ini sudah melewati dua musim. Dan itu bukan waktu yang singkat.

Tapi Sooyoung kembali meyakini dirinya. Dia dan Kyuhyun ditakdirkan bersama. Dan pasti akan berakhir bahagia. Permintaan sederhana namun bisakah terwujud.

“Aku lelah seperti ini oppa.” Ucap Sooyoung seraya menaruh pot bunga di meja terdekat. Dia menarik kursi dan duduk dengan kembali menggengam tangan Kyuhyun. “Oppa…jika, aku menyerah apa kau akan bangun?”

Sooyoung menghela nafas panjang. Seakan memori waktu yang ia habiskan bersama Kyuhyun terulang. Saat dia dengan sabar selalu mendampingi Kyuhyun.

Sooyoung menyeka air matanya saat ia sadari ia menangis. Ia sadar ini takkan berhasil. “Oppa.. apa yang harus kulakukan agar kau bangun dan merengkuhku kembali? Katakanlah oppa..” pintanya dengan air mata yang terus menganak sungai.

Sooyoung menyeka kembali air matanya lalu tersenyum tipis. “Aku mencintaimu oppa..” Sooyoung membelai wajah Kyuhyun lembut. Dia bangkit dan mulai mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun.

Ciuman Sooyoung saat ini berbeda. Karena, ini diselingi dengan air mata keputusasaan. “Oppa.. jika aku kembali ke masa lalu. Aku akan mengenggammu kuat.”

Kyuhyun merasakan sesuatu mendarat di bibirnya. Sebuah air mata ketulusan yang bisa ia rasakan. Gadis dihadapannya kembali menangis karenanya. Apa yang harus ia lakukan? Apa dia harus kembali ke masa lalu? “Aku akan mengabulkannya Sooyoung ah. Kita harus kembali ke masa lalu.” Bisik Kyuhyun pelan tepat di daun telinga Sooyoung.

-♥♥♥-

Sooyoung menutup menu tersebut. “Ada apa oppa?” tanya Sooyoung setelah cukup puas melihat menu tersebut. “Kenapa wajahmu seperti itu?” ledek Sooyoung yang sepertinya menyadari perubahan raut wajah Kyuhyun.

Sooyoung mengedarkan pandangannya menatap setiap detail ruangan yang ada dihadapannya. Kenapa sepertinya ia pernah merasakan ketempat ini sebelumnya? Dan… dia juga ingat pakaian yang ia gunakan sama persis. Apa dia bermimpi kembali?

Sooyoung menepuk pipinya pelan, berusaha menyadarkan dirinya. Namun, ini memang bukan mimpi. Dan pria dihadapannya.. apa dia akan memutuskannya begitu saja? Tidak.. dia takkan membiarkan hal itu terjadi.

“Kyuhyun oppa.. Aku tau ini berat tapi, aku mau bersamamu untuk menghadapi ini.” Pukas Sooyoung cepat saat Kyuhyun mulai membungkam mulutnya.

Kyuhyun menautkan alisnya, bingung. Apa yang dikatakan Choi Sooyoung? Dia menerima lamarannya? Padahal, ia belum mengatakan akan menikahi gadis ini. Apa dia bisa membaca pikiran?

“Kau tau semuanya?” tanya Kyuhyun secara seduktif.

“Iya. Jadi, aku katakan aku akan selalu bersamamu. Tolong, jangan katakan kau tidak mencintaiku lagi hanya karena penyakit itu. Aku akan mendampingimu Cho Kyuhyun. Janji.”

Kyuhyun mengangakat bahunya bingung. “Tidak cinta? Penyakit? Kau ini bicara apa Sooyoung ah?” pukas Kyuhyun dengan menatap Sooyoung heran.

Raut wajah Sooyoung menjadi berubah. Sepertinya memang dia juga tidak mengerti. “Bukannya.. kau ingin meninggalkanku sendiri?” tanya Sooyoung.

Kyuhyun menggeleng pelan. “Tentu saja tidak. Aku ingin melamarmu… maaf kalau tidak..e-hem romantis.” Sahutnya cepat. Kyuhyun pun mengeluarkan kotak perhiasaan yang memang ia persiapkan untuk gadis dihadapannya.

Would you marry me?” tanya Kyuhyun seraya membuka kotak perhiasan yang sedari tadi ia gengam dan menautkan cincin indah itu pada jemari Sooyoung.

Kyuhyun melihat Sooyoung sedikit menyeka air matanya. Apa semua gadis akan luluh seperti itu? “Kenapa menangis Choi Sooyoung?” tanya Kyuhyun dengan membantu Sooyoung untuk menyeka air matanya.

Sooyoung sedikit menyunggingkan senyum manisnya. “Aku bahagia bisa kembali ke masa lalu dan bersamamu. Jika itu benar mimpi aku sangat bersyukur. Jika itu nyata aku sangat bahagia karena aku mendapatkan pelajaran..”

“Apa?” pukas Kyuhyun.

Sooyoung tersenyum.“Mencintaimu setulus hatiku dan aku tak boleh menyembunyikan perasaanku lagi.”

Kyuhyun membalas senyum Sooyoung. “Dan sekarang apakah kau ingin menikah denganku Choi Sooyoung?”

Sooyoung mengangguk pelan. “Aku tidak mempunyai alasan untuk menolakmu.”

Terlihat jelas senyum simpul mengukir di wajah Kyuhyun sekarang. Ia bangkit dari dudukannya dan berlutut di hadapan Sooyoung. Ia menatap lurus bola mata Sooyoung. “Permintaan kita terkabul.. kita bisa memperbaiki masa lalu.” Desis Kyuhyun dengan memeluk gadis dihadapannya.

Tanpa mereka sadari. Seseorang memperhatikan kebahagian mereka. Ia ikut tersenyum saat bisa melihat Kyuhyun dan Sooyoung kembali tersenyum dan mendapatkan kebahagian mereka. Mereka pantas mendapatkan satu kesempatan. Karena, sebuah kesetiaan yang Sooyoung lakukan membuat mereka bisa memperbaiki apa yang tak ingin mereka hadapi. Suatu keajaiban akan datang secara tak terduga saat perasaan tulus itu ada.

The End

Fanfiction ini buat lomba di blog Kyuyoung tapi gak menang haha

23 responses

  1. FF ny bikin saya pngen nangis (lg) T.T

    kok bsa sih ff ny keren bgnt chingu. Aku jd ngerasa ff ini nyata, bahasa ny jg keren bngt. Feeling ny sooyoung jd kerasa bngt pas d baca.

    Keep writing chingu. Hwaiting! 😉

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s