(FF Request – SunSun Couple) Whenever You Play That Song

Whenever You Play That Song

Author : Chenhye (@Isna_jung)

Title: Whenever You Play That Song

Rating: PG 13

Genre: Romance, Sad

Cast: Lee Sungmin Super Junior, Sunny SNSD

Suport cast: Leeteuk Super Junior, Kyuhyun Super Junior, YoonA SNSD

Inspiration: MV+Lagu dari Huh Gak – Whenever You Play That Song.

Tin Tin Tin! SunSun Couple mau lewat😀 Annyeong, author Chenhye datang dengan 1 FF request dari Diandra Putri.. J Ya, author tahu FF ini emang super gaje. Author aja bingung ama cerita ni FF. Oh iya, ini keinspirasi dari Author minta maaf buat Diandra Putri karena FF nya gak terlalu bagus bahkan mungkin gaje. Ya begitulah author bukan mahluk sempurna. Semoga kamu suka sama ini FF, maaf jelek yah.. Happy reading dan jangan lupa comment! ^^

Oh iya, author juga minta maaf karena publish FF nya gak sesuai sama nomor urut comment (?) bukannya author pilih-pilih, author mengerjakan FF nya sesuai kok sama nomor urut comment hanya saja, FF ini yang keburu selesai author bikin, maklum author itu bikin FF pasti gak cuma 1, misalnya FF A author bikin, belum selesai, author nyambung ke FF B dst.. jadi mohon maaf yah buat yang lebih dulu comment, belum selesai. Jinjja jinjja jinjja jinjja jinjja mianhae.

Oke, mian author dari tadi kebanyakan nyerocos, langsung baca aja lah.

Happy reading, readers. Comment are love.

Sunny POV

Aku mengetuk-ngetuk bangku yang ku duduki dengan jari jemari ku sembari mengikuti alunan lagu yang terputar di Ipod ku.

“ You`re my everything to me.. you`re my everuthing to me.. (Taeyeon and The One – Like A Star) “ aku bergumam sembari memejamkan mata ku menikmati alunan lagu dari suara Taeyeon, penyayi favorit ku yang begitu indah.

Setelah lagu yang ku dengar berhenti, aku membuka mata ku lalu memandang jam biru di tangan kanan ku. Jam sudah menunjukan pukul 05.00 sore.

“ Mana anak satu itu? “ gumam ku sembari mengedarkan pandangan ku pada seluruh taman. Hari ini aku janjian dengan YoonA, sahabat ku untuk menemani ku membeli novel terbaru di toko buku langganan ku. Kami berjanji ketemu jam 04.00,tapi dia belum datang-datang juga sampai sekrang. Tiba-tiba aku merasa ponsel di saku ku bergetar. Aku segera merogoh ponsel di saku ku, lalu terlihat di layar 1 pesan masuk.

From: YoonA

Sunny.. mianhae sepertinya aku tidak bisa menemani mu ke toko buku sore ini. Kyuhyun tiba-tiba mengajak ku kencan sore ini. Dia juga ingin mengajak ku dinner romantic di café Shinchon.

Dan aku… tentu saja tidak bisa menolaknya. Mianhae..

Bagaimana kalau besok pulang sekolah saja?

Aku mencibir setelah membaca pesan masuk dari YoonA. “ Aish! Sudah ku duga. Anak ini pasti kencan dengan evil menyebalkan itu. “ gumam ku sembari memasukan kembali ponsel ku ke saku.

Hah, aku tidak berselara membalas pesan darinya. Ya, aku sudah biasa mengalami ini. Ini bukan pertama kalinya YoonA membatalkan janjiannya dengan ku gara-gara si evil menyebalkan itu, ini sudah sering terjadi dan membuat ku hampir terbiasa dengan ini.

“ Hiah! Sia-sia saja aku hari ini menunggunya selama 2 jam, lama-lama tu anak sama nyebelinnya kaya namjachingunya. “ gumam ku lagi.

“ Huh~ baiklah. Lebih baik aku pergi sendiri saja. “  Aku segera beranjak dari bangku ku, lalu meraih ransel ku dan berjalan keluar dari taman ini.

Keadaan taman ini memang agak sepi, mungkin karena letaknya agak jauh dari keramaian dan letaknya di ujung kota. Tapi aku suka sekali bersantai disini, karena disini sangat membuat hati ku tenang dan damai.

Aku segera berjalan menelusuri trotoar menuju toko buku yang memang tidak terlalu jauh dari taman ini, letaknya memang agak terpencil namun buku-buku disitu cukup lengkap. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya aku tiba di depan toko buku itu, namun didepan pintu kaca ada tag bertuliskan Closed.

“ Tutup? “ kata ku heran. Seingat ku toko ini buka sampai malam hari.

“ Hiah.. menyebalkan sekali. “ kata ku sembari berdecak kesal lalu menyandarkan tubuh ku di kaca toko. “ Omo.. ottokhae? “ ucap ku lagi.

Aku memandang ke atas, langit sudah agak gelap. Entah karena memang sudah hampir malam atau mendung karena ingin hujan. Aku memandang jam di tangan ku lagi. 05.45 sore. Aku akhirnya memutuskan untuk segera pulang saja. Tak ada tujuan lagi setelah ini.

Aku berjalan menelusuri toko-toko dan beberapa café. Ya, disekitar sini memang banyak toko dan café yang berjejer dipinggir jalan. Aku memutuskan untuk mencari taksi saja, karena dari sini ke halte bus cukup jauh.

Setelah ku lihat sebuah taksi yang hanya berjarak beberapa meter dari ku, aku segera mengangkat tangan ku ke samping meminta berhenti. Dan tepat saja, taksi itu berhenti didepan ku. Ketika tangan ku sudah menyentuh knob taksi siap membuka pintu taksi, tiba-tiba aku mendengar alunan lagu yang sepertinya tidak asing bagi ku.

Entah kenapa aku jadi terdiam, mencoba menangkap alunan lagu itu dengan sempurna yang hanya terdengar sayup-sayup ditelinga ku. Seketika itu juga tiba-tiba tangan ku terlepas dari knob mobil langkah ku yang awalnya ke depan kini menyamping, menuju arah suara dari lagu itu. Lagu yang entah mengapa sangat familiar ditelinga ku.

“ Agasshi.. tidak jadi masuk? “ aku hanya mendengar sayup-sayup suara supir taksi itu. Entah kenapa, kaki ku terus berjalan menjauh dari taksi itu dan lebih tertarik mencari asal suara itu. Dan langkah ku terhenti didepan sebuah café, firasat ku lagu itu tepat berasal dari dalam café ini. Aku memandang ke dalam café melalui kaca yang tembus pandang, aku hanya melihat seorang waiters yang membersihkan gelas dengan kain lap ditangannya.

“ Nan geu nareul ttaraso gireul gorosso, odison ga deullyo oneun nore, nunneul gamgo geu jarie monghanil soso gwireul giuryosso, uriga hamkke deutdon noreyotdon goya.. “

Aku tersentak ketika sebuah letupan meledak di hati ku, aku baru menyadari.. Lagu ini.. bukankah ini lagu..

lagu.. yang diciptakan oleh dia.

Lagu ini.. lagu yang ku dengar bersama-sama dengan dia.

Lagu… lagu yang diciptakan.. Lee Sungmin untuk ku.

Tubuh ku seketika membeku, otak ku tiba-tiba tak dapat berpikir apa-apa lagi, seluruh anggota badan ku seperti tak dapat berfungsi lagi, mata ku.. kenapa terasa sangat panas, seperti ingin mengeluarkan sebuah cairan. Aku segera membalikan tubuh ku ke belakang, membelakangi café itu. Mata ku terasa panas, kepala ku terasa berat. Tidak.. aku kembali teringat masa-masa itu, kejadian yang seharusnya tak ada lagi dalam memori hidup ku. Kejadian yang selalu membuat hati ku rasanya ditusuk oleh paku picik.

I followed that song onto the street and walked
That familiar song that is playing from somewhere
I closed my eyes and blankly stood there and opened my ears
It was that song that we used to listen to together

Flashback

 Author POV

Seorang lelaki sedang bersembunyi dibalik rumah-rumah kosong yang tidak layak lagi ditempati. Diantara debu-debu yang bergelantung disetiap sisi atap rumah, tumpukan kardus dan kayu-kayu bekas, dan gang sempit yang terlihat kotor dan kumuh.

Tes!

Setetes air dari sisi atap rumah mengejutkan lelaki itu yang terus bersikap waspada sembari memandang jalan diujung sana. Berjaga-jaga, kalau orang-orang itu berhasil menemukannya. Mata elangnya yang sibuk berjaga-jaga, tiba-tiba menemukan sebuah selebaran yang tertempel didinding sandarannya.

Lelaki itu segera menarik selebaran yang berisi fotonya serta tulisan yang menyertakan ciri-ciri spesifiknya, menandakan lelaki itu sedang dalam pencarian. Lelaki itu kemudian menarik selebaran lainnya yang juga banyak tertempel disana, lalu menggumpalnya dan membuangnya begitu saja.

Ya, lelaki dalam foto itu dan yang sedang bersembunyi itu adalah orang yang sama. Dialah Lee Sungmin, seorang buronan polisi.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara gemuruh kaki dari ujung gang. Sungmin segera menatap ke ujung gang, dilihatnya beberapa polisi sedang berlari kearahnya. Sungmin segera berlari ke jalan tembus dibelakangnya. Menerobos jelah jalan yang sangat sempit. Sungmin berlari sembari melihat ke belakang, lelaki itu terus berlari kencang agar para polisi itu tidak menemukannya.

Hingga Sungmin merasa sudah berlari cukup jauh dan para polisi itu juga tidak terlihat lagi, ia memelankan lari dan berjalan cepat sembari terus melihat ke belakang, kalau-kalau para polisi itu tiba-tiba ada didekatnya. Namun, beberapa saat kemudian, suara kaki yang gemuruh itu mulai terdengar samar, Sungmin kembali berlari.

Ia segera menerobos celah sempit itu sembari mencari jalan keluar agar bisa menembus jalan umum. Sungmin terus berlari dengan nafas yang sudah tak bisa dikendalikan lagi.

Beberapa menit kemudian, Sungmin akhirnya menemukan jalan keluar itu, Sungmin segera berlari menuju jalan umum. Namun ketika dilihatnya sebuah jaket besar warna coklat yang tergantung di sebuah tiang, Sungmin berhenti sebentar, terlintas sebuah ide di otaknya. Sungmin segera menarik jaket besar itu kemudian mengenakannya dan berjalan keluar menelusuri jalan umum.

Sungmin berjalan dengan tingkah yang santai namun telinganya yang tajam, mampu mendengar dengan baik bahwa suara gemuruh itu hanya berjarak beberapa meter dibelakangnya.

Hap!

Sungmin begitu saja memeluk seorang gadis yang sedang berjalan didekatnya. Sungmin memeluk gadis itu dengan posisi membelakangi jalan umum, dan tepat saat itu juga para polisi itu lewat dibelakangnya. Polisi itu berjalan sembari mencari sosok Sungmin, namun para polisi itu tidak menyadari bahwa Sungmin menyamar dengan mengenakan jaket besar warna coklat yang sedang memeluk seoang gadis.

Sungmin terus memeluk gadis yang hanya bisa terdiam terkejut karena tiba-tiba ada orang asing yang tiba-tiba memeluknya. Hingga para polisi itu tidak terlihat lagi, Sungmin akhirnya melepaskan pelukannya.

“ Mianhae mengejutkan mu. “ ucap Sungmin sembari memandangi gadis itu yang masih diam menatapnya dengan bingung karena terkejut. Setelah Sungmin membungkukan badannya, ia pergi dan berlari kearah berlawanan.

Gadis itu terhenyak ketika Sungmin begitu saja pergi. “ Eum… aa.. “ gadis itu ingin bicara, namun Sungmin sudah berlari lumayan jauh darinya. Gadis yang bernama Sunny itu kembali terdiam sembari memikirkan kejadian yang baru saja terjadi padanya. Baru pertama kali ia merasakan sebuah pelukan dari seorang lelaki, secara tiba-tiba pula.

Sunny keluar dari sebuah toko buku yang terletak diujung kota Seoul. Ia berjalan menelusuri beberapa toko dan café yang berjejer disepanjang jalan. Ditangannya tergantung sebuah plastic yang berisi buku yang baru saja tadi dibelinya. Sunny terus berjalan dengan santai, menikmati udara sore yang bersahabat.

Namun, ketika melewati sebuah café yang tidak terusrus lagi atau bisa dibilang lantas seperti gudang ,Sunny menghentikan langkahnya. Ia mendengar suara melodi gitar yang begitu merdu dari dalam café itu. Sunnya kemudian memandang ke dalam café itu.

Ia terkejut ketika dilihatnya ada seorang lelaki sedang bermain gitar, lelaki itu adalah orang yang kemaren begitu saja memeluknya. Sunny mendekati pintu café itu dengan wajah senang.

Entah kenapa ada rasa yang bahagia yang mengalir disekujur tubuhnya ketika melihat lelaki itu lagi. Sunny terus memandangi lelaki yang bernama Sungmin itu dari kaca café. Seulas senyum mulai mengembang dibibirnya. Sunny kemudian duduk didepan kaca café dan menyandarkan kepalanya ke dinding. Ia sangat menikmati alunan gitar itu.

Sungmin yang sedang memainkan gitar didalam markas –café yang tidak terurus lagi-  itu tak sengaja menangkap seorang gadis yang duduk didepan markasnya. Poster-poster yang menempel disisi bawah kaca menutupi tubuh gadis itu –Sunny-, sehingga Sungmin hanya melihat kepala dan rambut Sunny.

Sungmin kemudian meletakan gitarnya lalu berjalan mendekati pintu markas. Ia menggeser pintu, dan melihat seorang gadis yang duduk diujung pintunya. Sunny yang terkejut karena tiba-tiba kaca yang disandarinya bergeser terpeleset ke bawah melihat sosok lelaki itu tepat berdiri disisi pintu dan memandang lurus kerahnya. “ Mi.. mian.. mianhae. “ ucap Sunny terbata-bata. Sungmin terdiam, memandangi wajah gadis itu. Ia merasa tak asing dengan wajah gadis yang dilihatnya.

“ Mmm.. gadis ini.. “ Sungmin bergumam sembari mengingat wajah gadis itu. “ Ah. “ Sungmin berseru pelan ketika dia teringat gadis ini adalah gadis yang kemaren dipeluknya. “ Annyeong haseyo, “ sapa Sungmin canggung sembari tersenyum.

Sunny terkejut, namun sesaat kemudian senyuman juga terukir dibibirnya.

“ Apa yang kau lakukan.. disini? “ tanya Sungmin. Sunny gelabakan, sembari mencoba beranjak dari dudukannya. Ia baru sadar, tadi ia terpeleset ke tanah.

Sungmin hanya tersenyum kemudian mengulurkan tangannya membantu Sunny berdiri. Sunny dengan wajah merah karena malu menerima uluran tangan Sungmin. “ Gwaenchanayo? “ Tanya Sungmin.

Sunny tersenyum, kemudian mengagukan kepalanya. “ Ingin minum cappuccino? “ Tanya Sungmin lagi. Namun belum Sunny berhasil menganggukan kepalanya, Sungmin sudah membawanya pergi.

Sungmin dan Sunny memasuki sebuah café yang tidak terlalu jauh dari markas Sungmin. Sebelum mereka memilih meja, Sungmin terlebih dahulu menghampiri Musix Box yang tersedia disana. Sungmin membisikan sebuah lagu ditelinga DJ itu kemudian membawa Sunny ke meja.

“ Ini café langganan ku. “ ucap Sungmin setelah duduk di kursi. Sunny hanya tersenyum.

“ Oh iya, Sungmin imnida. “ lanjut Sungmin lagi sembari membungkukan kepalanya.

“ Sunny imnida. “ balas Sunny.

“ Eum.. untuk yang waktu itu, aku minta maaf. “ kata Sungmin pelan. “ Sebagai tanda maaf ku, aku traktir minum cappuccino saja tidak apa-apakan? “

“ Eum? Ne, gwaenchana. “ ucap Sunny lagi. Sunny terdiam sebentar. Dibenaknya terlintas pertanyaan yang kemaren membuatnya penasaran. Namun, Sunny akhirnya kembali mengurungkan niatnya.

Sunny kemudian memandangi keadaan café yang dikunjunginya, tidak terlalu ramai. Namun cukup nyaman. Belum lagi suara music yang menggelilingi ruangan di café ini.

Sunny kemudian menatap Sungmin. Ia tersenyum ketika melihat Sungmin sedang menikmati music sembari memejamkan matanya. Entah kenapa, jantungnya jadi berdetak tak karuan. Sunny kemudian ikut memejamkan matanya, ikut menikmati alunan music.

Sungmin kemudian membuka matanya, ia tersenyum saat melihat Sunny yang ikut menikmati music. Entah kenapa ada rasa nyaman dan tenang ketika berada didekat gadis itu.

Semenjak pertemuan mereka di markas Sungmin. Sungmin mulai menghabiskan waktunya yang santai bersama Sunny. Mereka mulai senang jalan-jalan sore disekitar ujung kota Seoul itu. Menikmati udara, jalan-jalan di taman, minum cappuccino, atau sekedar jalan-jalan tanpa tujuan. Hingga keduanya mulai saling merasakan jatuh cinta. Semua itu berlangsung begitu saja seperti air mengalir.

Dan sore itu ditengah musim gugur, Sungmin mengajak Sunny bersepeda di sekitar taman. Musim gugur yang begitu indah, membuat mood mereka berdua juga terasa bahagia. Sungmin terus mengendarai sepedanya menggonceng Sunny yang ada dibelakngnya.

Hingga matahari beberapa menit lagi tenggelam, Sungmin mengentikan sepedanya. Dan istirahat bersama Sunny di kursi taman.

“ Lelah? “ Tanya Sungmin pada Sunny.

“ Ani.. harusnya aku yang Tanya itu pada kau, Sungmin ah. “ kata Sunny.

“ Aku tidak lelah sama sekali. “ kata Sungmin kemudian. Sunny hanya tersenyum kemudian menatap matahari yang siap tenggelam diarah barat. “ Matahari tampak sangat indah. “ ucap Sunny senang.

“ Ne, sama indahnya seperti senyuman mu. “ kata Sungmin. Sunny terkejut, namun seulas senyum terselubung dibibirnya hingga membuat pipinya memerah.

“ Sunny sshi.. “ ucap Sungmin. Sunny masih tertunduk menyembunyikan pipinya yang memerah.

Sungmin mendekati Sunny. “ Saranghaeyo, Sunny sshi. “ ucap Sungmin pelan.

Sunny terkejut ketika ucapan itu terdengar jelas ditelinganya. Sunny reflek mengangkat wajahnya memandang Sungmin. Rasa bahagia melompat-lompat riang dihatinya.

“ Aku menyukaimu sejak kita bertemu di café itu, aku menyukai semua tentang mu. Apapun itu. Aku mencintaimu. Benar-benar sangat mencintaimu. “ ucap Sungmin lagi.

Sunny menghening sejenak, mengatur nafasnya untuk menjawab pertanyaan Sungmin yang benar-benar sudah sejak lama ditunggunya.

“ Nado.. nado saranghaeyo, Sungmin sshi. “ kata Sunny pelan, lantas seprti bisiskan. Suny terlalu senang hingga rasa senang, haru, gugup berbaur menjadi satu. Apalagi jarak mereka yang begitu dekat membuat jantungnya semakin melompat-lompat.

Sungmin tersenyum senang, ia kemudian mendekatkan lagi kepalanya ke arah Sunny. Sungmin berniat ingin mencium bibir gadis itu. Namun, dilihatnya Sunny masih menunduk dan terus menggenggam tangannya kuat-kuat karena terlalu gugup.

Sungmin tersenyum lagi, kemudian mengecup kening Sunny. “ Gomawo, chagi. “ bisik Sungmin. Matahari pun tenggelam, langit pun mulai menggelap. Hari ini lah, tepat Sungmin dan Sunny menjadi pasangan kekasih.

Hari-hari terus berlalu, Sungmin yang dihiasi rasa cinta yang luar biasa membuatkan sebuah lagu khusus untuk Sunny. Hari demi hari, Sungmin dengan tulus membuat lagu itu agar menjadi lagu yang sempurna. Ia sangat ingin menyanyikan lagu ini dengan gitarnya tepat didepan Sunny.

Tidak hanya Sungmin, Sunny yang merasa sangat bahagia kini dapat merasakan sebuah cinta pertamanya, membuatkan Sungmin sebuah sarung tangan dari benang wol yang dirajutnya sendiri. Sunny dengan ketulusan hati terus merajut benag wol itu sampai menjadi sarung tangan hangat untuk Sungmin.

Hingga suatu hari, berita buruk mengancam Sungmin dan teman-temannya. Beberapa teman Sungmin melihat, beberapa orang mencurigakan memata-matai markas Sungmin. Jelas itu mengancam mereka untuk segera pindah mencari markas baru. Dapat ditebak orang-orang itu adalah suruhan polisi untuk melacak keberadaan Sungmin dan teman-temannya. Sungmin dan teman-temannya pun khawatir dan berencana untuk pindah markas. Namun, yang kini melintas dipikiran Sungmin adalah Sunny, kekasihnya. Sungmin khawatir akan terjadi sesuatu yang membahayakan diri Sunny. Sungmin tahu, suatu saat polisi mungkin saja berhasil menangkapnya. Dan Sungmin belum siap dan tidak akan pernah siap untuk meninggalkan Sunny sendirian.

Sunny yang sedang menyelesaikan merajut sarung tangan untuk Sungmin yang hampir selesai di taman menemukan selembar kertas yang terbawa angin dan tepat terjatuh dikakinya. Sunny mengambil kertas itu dan terkejut ketika melihat foto Sungmin ada dikertas itu. Sunny semakin terkejut ketika dibacanya Sungmin adalah buronan polisi yang sudah lama dicari. Setetes air mata kemudian membasahi pipi Sunny, ia sangat sedih ketika tahu kekasihnya adalah buronan polisi. Sunny jadi teringat saat Sungmin memeluknya waktu itu, dan polisi lewat disekitar mereka.

“ Jadi benar dugaan ku waktu itu, “ batin Sunny sembari memandangi foto Sungmin dikertas itu dengan tatapan sedih.

Suati sore, Sungmin mengajak Sunny ke markasnya. Sungmin telah menyelesaikan lagu ciptaanya untuk Sunny. Dan sore ini dia ingin memainkannya langsung didepan Sunny.

“ Sunny sshi, aku menyiptakan lagu ini khusus untuk mu. Lagu ini memang tak mampu menunjukan rasa cinta ku yang besar untuk mu, tapi ku mohon, dengarkanlah lagu ini. Saranghaeyo, chagi. “ ucap Sungmin sembari tersnyum.

Sungmin kemudian memetik gitarnya. Alunan gitar yang merdu mulai terdengar, diiringi suara Sungmin yang tak kalah merdu.

Sunny terharu. Ia tak berhenti tersenyum sembari memandangi Sungmin. Sungmin pun tak henti-hentinya menunjukan kebahagiannya pada Sunny.

Ketika lagu telah berhenti. Sunny memberikan tepuk tangannya pada Sungmin. “ Gomawo, oppa. Aku sangat menyukainya. Nado sarangaheyo. “ ucap Sunny dengan wajah memerah. Sungmin kemudian membalasnya dengan senyuman. Sunny pun teringat sarung tangan warna merah yang telah selesai dirajutnya. “ Oh, iya. Chamkanam. “ ucap Sunny sembari membuka isi tasnya.

Sunny kemudian mengeluarkan sarung tangan itu, baru Sunny ingin bicara. Gedoran pintu keras membuat Sungmin dan Sunny terkejut dan memandang kea rah pintu markas. Sungmin semakin terkejut ketika dilihatnya para polisi sedang berdiri di depan pintunya siap menangkapnya.

Sungmin yang gelabakan segera menarik tangan Sunny untuk segera pergi. Sarung tangan yang digenggam Sunny pun terlepas dari tanganya dan terjatuh ke lantai. Namun, Sungmin sudah erat menggenggam tangannya.

Sunny pun segera berlari menyamai langkah Sungmin yang begitu cepat berlari melalui pintu belakang markas. Mereka pun berlari menyusuri gang kecil. Sunny kewalahan berlari mengikuti langkah Sungmin, hingga tangannya lepas dari tangan Sungmin.

Sunny pun terjatuh. Sungmin pun segera berbalik menghampiri Sunny. Namun terlambat, para polisi itu lebih dahulu menghampiri Sunny dan mengancam tubuh Sunny. Sungmin yang ketakutan dan bingung hanya bisa memandang Sunny dengan tatapan khawatir. Ia ingin sekali menarik Sunny ke pelukannya untuk menyelamatkan gadis itu.

BUK!

Tiba-tiba sebuah pukulan yang  berasal dari sebatang kayu menghampiri punggung Sungmin. Sungmin pun segera terseungkur ke tanah. Para polis pun menginjak punggung Sungmin agar Sungmin tidak melarikan diri.

Sunny yang melihat itu tak kuasa lagi menahan air matanya. “ Oppa.. oppa.. “ ucap Sunny lirih sembari berusaha melepaskan cengkraman polisi yang memegangi lengan tangannya.

Sungmin yang kesakitan berusaha mengulurkan tangannya agar dapat meraih tangan Sunny yang terus berontak. “ Oppa.. “ Sunny terus berteriak. “ Lepaskan aku! “ ucap Sunny lagi pada para polisi.

Sungmin yang hanya bisa menatap Sunny dengan tatapan sedih. Sungmin pun segera diborgol oleh polisi kemudian dibawa pergi.

“ Oppa!!! oppa andwae! “ Sunny hanya bisa melihat Sungmin yang ditarik polisi. Ia benar-benar tak rela membiarkan polisi itu membawa Sungmin.

Sungmin pun tak bisa berbuat apa-apa lagi, air mata yang sejak tadi ditahannya mulai mengalir perlahan dipipinya. “ Mianhae, Sunny sshi.. “ batin Sungmin lirih

“ Oppa.. “ Sunny berteriak kembali terus memberontak agar para polisi itu melepaskan cengkramannya. Namun semua terlambat, Sungmin sudah tidak terlihat lagi.

Flashback End

Every time you played that song
I didn’t want to listen so I complained
You joked around with me and when I scrunched up my face
You looked at me and laughed
I really hated that song but
Now it binds me tightly to this place
I continue to stand here blankly
And I keep drawing up the image of you laughing in my heart

Sunny POV

Aku terdiam ketika ingatan itu terputar rapi dan jelas seperti film sempurna di otak ku, tanpa jeda. Aku segera menghapus air mata ku yang ku sadari mengalir deras di pipi ku sejak tadi. Namun, ketika aku menghapusnya air mata ku,  air mata itu terus mengalir kembali di pipi ku. Hati ku rasanya tercabik-cabik kembali.

Sakit… ini sangat menyakitkan. Mengingat perpisahan yang begitu naas terjadi pada cinta pertama ku.

Tiba-tiba lagu itu yang kini terngiang-ngiang kembali di otak ku. Lagu itu.. lagu yang selalu mengingatkan ku pada sosok lelaki itu. Aku benci lagu ini. Aku mohon tolong matikan lagu ini. “ AAAAAAAAAA…. “ Aku berteriak sekancang-kencangnya, aku ingin beban ini tak ada lagi di tubuh ku. Aku lelah menangis terus. Aku ingin aku hidup dengan ketenangan. Aku ingin melupakan semuanya.

Aku terdiam, nafas ku terengah-engah setelah berteriak. Aku merasa aku seperti berdiri tanpa rangka dan tulang. Tanpa ku sadari, aku sudah tergeletak di tanah.Aku kemudian memandang langit yang gelap dan tetesan hujan mulai membasahi tubuh ku.  Dresssssssss…. Hujan turun dengan deras. Aku kembali menangis, hujan deras ini tepat menggambarkan hati ku yang sedang bersedih. Aku terdiam menatap derasnya air hujan.

“ Sungmin ah.. “ gumam ku lirih. Kepala ku mulai terasa pusing. “ Sungmin ah.. “ aku bergumam lagi.

Aku akui aku memang merindukannya, aku memang masih sangat mencintainya, aku sangat merindukannya.. Aku merindukan mu, Sungmin oppa.

Aku terus membiarkan air mata ku sepuas-puasnya keluar. Aku berjanji setelah ini aku tak akan menangis lagi, aku akan melupakan semuanya. Aku membuka mata ku, ketika ku sadari tak terasa lagi tetesan air hujan membasahi tubuh ku, tetapi aku masih dapat mendengar jelas suara derasnya hujan. Aku segera menengadahkan kepala ku memandang ke atas. “ Payung? “ gumam ku ketika sadar sebuah payung warna biru tepat melindungi ku.

Aku kemudian mengalihkan pandangan ku pada sosok seorang lelaki yang tepat berdiri disebelah kanan ku memayungi ku.

DEG!

Aku tercengang ketika pandangan ku tepat menenukan sososk wajah lelaki itu. “ Sungmin ah? “ batin ku terkejut.

Sungmin POV

Aku membuka mata ku ketika lagu itu tak terdengar lagi ditelinga ku. Aku memandang kea rah luar café, ternyata diluar sedang hujan deras. Aku segera mematikan pemutar lagu disamping ku. Lalu menghela nafas panjang.

“ Pantas saja lagunya tak kedengaran lagi. “ gumam ku sembari menyandarkan tubuh ku ke penyanggang kursi.

Aku terdiam, mengingat sosok gadis yang selama ini selalu menggelayuti otak ku. Gadis yang selalu membuat ku frustasi dan gila karea merindukannya. “ Hah~ dimana kau saat ini? “ ucap ku lirih sembari memadangi sarung tangan warna merah yang ku kenakan, salah satu barang yang dapat mengatasi kerinduan ku padanya selain lagu tadi.

Aku mulai teringat kenangan indah ku dengan gadis itu –Sunny- wajah lugu dan senyumannya yang selalu membuat ku terpesona. Aku rindu akan itu. Seandainya saat itu aku bukan seorang buronan polisi, aku pasti masih bersamanya sekarang.

Ya, saat itu aku memang seorang buronan polisi, karena aku hobi membuat graffiti di tembok disekitar ujung kota Seoul. Itu memang hobi ku. Aku melakukannya karena disekitar ujung kota Seoul itu banyak tembok yang berwarna putih dan terlihat polos. Aku pun memiliki inisiatif untuk menghiasinya dengan kreasi graffiti.

Graffiti ku pun bukan tulisan kasar atau gambar yang tidak pantas, aku menghiasinya dengan gambar abstrak dan pemandangan. Setelah itu teman-teman ku pun ikut membantu ku. Bahkan banyak para pemilik café disekitar tempat itu yang meminta kami menghiasi dinding dalam café mereka dengan graffiti kami.

Namun rupanya kelakukan kami itu dianggap melanggar peraturan. Kami dianggap merusak lingkungan dan pemandangan. Dan sejak itu lah polisi mulai mencari kami, bermaksud untuk menangkap dan memberi hukuman pada kami, karena melanggar peraturan.

Beberapa teman ku sudah banyak yang tertangkap. Dan aku terus menghindar setiap kali polisi berhasil menemukan ku, jelas mereka mengutamakan mencari ku, karena aku lah yang memulainya.

Aku pun bersembunyi disebuah markas bersama teman-teman ku yang belum tertangkap agar mereka tidak menemukan kami. Ya, markas itu lah tempat aku terakhir kali bertemu dengan Sunny.

Sebenarnya aku masih bingung, kenapa orang yang mencoret tembok bermaksud memperindah pemandangan disebut melanggar peraturan. Mungkin karena orang yang salah menilai kreativitas kami. Tapi itu sudah terjadi dan kini aku pun sudah melaksanakan hukuman itu.

Aku kemudian beranjak dari kursi ku lalu keluar dari Music Box. Aku kemudian berjalan ke arah kaca café memandang derasnya hujan.

Aku terkejut, ketika mata ku menangkap sosok seorang wanita yang terduduk ditengah derasnya hujan.

“ Apa yang dilakukan wanita itu? “ gumam ku heran. Entah kenapa aku merasa kasihan melihat wanita itu terduduk ditengah hujan deras begini. Ku tebak, wanita itu pasti sedang menangis karena diputusi pacar atau sedang mengalami masalah dengan kekasihnya. Aku segera mengambil payung warna biru didekat pintu café, kemudian membuka pintu café, namun baru aku aku menyentuh knob pintu,“ Ya Sungmin ah! Untuk apa hujan deras begini keluar? Kau ingin konser besok gagal? “ kata lelaki yang sedang duduk sembari menyeruput cappuccino. Dia Leeteuk, manager ku.

“ Gwaenchana, hanya sebentar. Aku tidak akan sakit hanya karena kena hujan, hyung. “ jawab ku kemudian membuka pintu café dan berjalan menghampiri wanita itu.

Aku berhenti tepat disebelahnya sembari memayunginya tepat di atas kepalanya.Aku hanya terdiam menunggu wanita itu berhenti dari tangisanya.

Aku kemudian memandang langit yang gelap, tetesan air tepat membasahi wajah ku. “ Kenapa hujan deras sekali malam ini? “ batin ku iseng.

“ Sungmin ah? “ aku terkejut ketika suara seseorang sedang memanggil ku.

Aku mengedarkan pandanganku mencari sosok suara yang memanggil ku. Tak ada orang sama sekali. Aku kemudian memandang wanita yang tadi ku payungi.

DEG!

“ Sunny sshi? “ gumam ku terkejut. Aku tercengang ketika mata ku dan mata wanita itu tepat bertemu tepat dalam bola mata. Apa aku bermimpi? Apa dia benar-benar Sunny? Aku tercengang, ku pandangi benar-benar sosok wanita di depan ku. Aku tidak bermimpi, dia benar-benar Sunny. Aigo.. mimpi apa aku semalam, akhirnya aku bisa bertemu dengannya.

Sunny perlahan beranjak berdiri. Ada rasa bahagia yang luar biasa membuncah kuat di hati ku ketika melihat wajahnya.

“ Sunny sshi? “ gumam ku lagi. Aku melepaskan payung yang ku genggam dan berusaha menyentuh pipi Sunny. Namun Sunny justru mundur selangkah menghindari ku.

“ Kau ingat aku kan? Sungmin? “ kata ku sembari berjalan mendekatinya.

Sunny mundur lagi sembari menutupi mulutnya, aku dapat melihat ia begitu terkejut melihat sosok kehadiran ku.

“ Sunny sshi, aku Sungmin. Kau ingat ini kan? “ tanya ku sembari menunjukan sarung tangan warna merah yang ku kenakan.

Sunny tercengang sembari memandangi sarung tangan warna merah yang ku kenakan, sarung tangan rajutannya yang dibuatnya untuk ku.

Sunny terhenyak ia menangis ketika menyadari aku masih mengenakan sarung tangan buatannya. Aku berjalan mendekatinya, air mata yang sejak tadi ku tahan kini mengalir begitu saja. Aku benar-benar bahagia dapat melihat Sunny lagi.

Kini jarak ku dan Sunny hanya beberapa cm. Tangan ku tak tahan lagi ingin menarik Sunny dalam dekapan ku, membiarkan air matanya membasahi pundak ku. Sunny masih memangis sembari memandangi ku dengan tatapan yang ku sadari dia juga sangat merindukan ku.

Tanpa pikir lagi, aku segera menarik Sunny ke dalam pelukan ku.

“ Mianhaeyo. “ bisik ku lirih. Sunny menagis semakin keras, isakan tangisnya dapat ku dengar dengan jelas.

Aku mengelus punggungnya, membuatnya merasa aman dan nyaman dipelukan ku.

“ Mianhaeyo, Sunny sshi. “ lirih ku lagi. Aku benar-benar lega bisa menemukannya. Akhirnya aku bisa melepaskan kerinduan ku selama beberapa tahun ini.

Sunny masih menangis, tapi aku dapat merasakan kedua tangannya ikut memeluk tubuh ku.

“ Bogoshipo. “ ucap ku lagi.

“ Na.. nado, nado bogoshipo, op..pa. “ ucapnya lirih.

Aku tersenyum ketika mendengar suara Sunny yang selama ini sangat ku rindukan.

“ Mianhaeyo. Saranghaeyo, Sunny sshi. “.

Aku dapat mendengar suara isakan tangisan Sunny mulai tidak terdengar lagi, namun aku masih memeluknya.

“ Bodoh, pabo namja! “ ucap Sunny pelan. Aku hanya tersenyum kemudian memeluknya lebih erat lagi.

Epilog

Author POV

Seorang lelaki muncul dari bawah panggung dengan kemeja hitam dan dasi kupu-kupu putih yang dikenakannya. Lelaki itu tampak sangat tampan berdiri dipanggung yang besar itu. Lelaki itu kemudian berjalan menunjukan pesonanya sembari tersenyum memandangi ribuan fans yang berteriak histeris meliahtnya.

“ Sungmin oppa! Sungmin oppa!!!! ” Lelaki yang bernamaSungmin itu kembali berjalan menuju kursi yang telah diletakan ditengah panggung. Sungmin lalu duduk dan mengambil gitar yang tersandar di kursi.

“ Mohon diam sebentar saja, aku ingin bicara. “ ucap Sungmin dengan kalem dengan senyumannya. Para fans pun terdiam, penasaran apa yang akan diucapkan idolanya di menit terakhir konsernya ini. “ Sebagai menutup konser hari ini, aku akan menanyikan sebuah lagu yang sudah lama ku ciptakan untuk seseorang yang sangat berharga di hidup ku. “ ucap Sungmin. Fans pun kembali berteriak histeris.

“ Gadis itu ada disini. Untuk mu, my chagi, aku sungguh meminta maaf karena tidak mencari mu setelah aku keluar dari masalah ku. Aku debut agar menjadi serang penyanyi tekenal sesuai dengan ucapan mu. Terima kasih selama ini selalu menunggu ku, mencintai ku, merindukan ku, dan menyemangati ku.. Aku akan selalu melindungi mu, tak akan membuat mu menangis lagi. Lagu ini.. ku harap kau tak lagi merasa terbebani ketika mendengar lagu ini. Jeongmal mianhaeyo, but jeongmal sarangheyo, Sunny sshi.. “ kata Sungmin sembari tersenyum memandang Sunny yang tepat berada di antara fans.

Alunan gitar pun mulai terdengar, suara Sungmin yang merdu pun mulai terdengar mengiringi suara gitar. Sunny yang melihat itu menangis karena terharu. “ Terima kasih masih mencintai ku, aku akan selalu membuat mu tersenyum dan bahagia. Aku tidak akan merasa terbebani lagi dengan lagu ini. Aku hanya ingin kau selalu memainkan lagu ini hanya untuk ku dengan penuh rasa cinta. Nado sarangheyo. “ batin Sunny sembari menatap Sungmin yang sedang tersenyum kerahnya.

Whenever you play that song
I really hated that song
Because it always reminds me of you
But now
Whenever you play that song
I always feel the sincerity of your love

The End

 Kepanjangan yah? Kekeke, mian yah kalo capek bacanya.. Comment selalu diharapkan… ^^

37 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s