[MARRIED BY ACCIDENT’S SEQUEL] YOU MUST MARRY ME CHAPTER 7

[Married By Accident’s Sequel] You Must Marry Me Chapter 7

Author      : @1004putrik

Length      : Series

Genre       : AU, R-O-M-A-N-C-E, Friendship

Rating      : PG

Cast      : Lee Sungmin (SUJU), Park Richan (OC), Kwon Yoora (OC), Cho Kyuhyun (SUJU), Park Jiho (Ulzzang) and other cast you can find it by yourself ;)

Disclaimer: Castnya punya Tuhan, FF ini juga punya Tuhan tapi disalurkan melalui saya :D

Previous Story : MBA Chapter 1 I MBA Chapter 2 I MBA Chapter 3 I MBA Kyuhyun’s Side I UM3 Before Story 1/2 I UM3 Before Story 2/2 I UM3 Chapter 1 IUM3 Chapter 2 I UM3 Chapter 3 I UM3 Chapter 4 I UM3 Chapter 5 I UM3 Chapter 6

N/A: U,u sorry baru skrg ngepostnya ^^V kmrn2 lupa o_o

 

“Oh… aku tidak bermaksud membuat gossip tentang Yoora. Aku hanya penasaran saja dengan hubungan mereka. Karena dua minggu lalu, saat pemotretan Sungmin-ssi mengirimi Yoora SMS. Dia khawatir sekali sepertinya mengetahui Yoora yang tetap bekerja dalam keadaan sakit. Ah! Dan beberapa hari yang lalu aku juga melihat mereka jalan bersama! Kalau aku tidak salah, waktu itu mereka masuk ke Café di dekat sungai Han!”

Ucapan Jiho beberapa minggu yang lalu masih terngiang di kepala Riri. Betapa penasarannya Riri akan ucapan Jiho. Sudah beberapa minggu ini ia terus memikirkan apakah yang diucapkan Jiho padanya benar atau tidak.

Ia berbalik dan melihat Sungmin yang sudah tertidur pulas. Ia memperhatikan wajah lelah Sungmin yang baru saja datang dari Jepang beberapa jam yang lalu.

‘Dia tidak akan bangun!’ pikir Riri.

Riri tahu ini tidak sopan. Tapi rasa penasarannya mengalahkan keinginannya untuk tidak menyentuh ponsel Sungmin.

Pelan-pelan, ia mengambil ponsel Sungmin yang berada di atas nakas.

Ia menelan ludahnya. Dilema. Antara ingin melihat SMS-SMS Sungmin atau tidak. Tapi sekali lagi, rasa penasarannya mengalahkan keinginannya untuk tidak melakukan itu.

Ibu jarinya menyentuh layar touchscreen ponsel Sungmin. Dan dibukanya folder SMS di ponsel Sungmin.

 

Matanya melebar saat melihat contact name Yoora.

‘Jadi benar dia meng-SMS Yoora??’

Sebenarnya ia malas membuka pesan tersebut, tapi ia ingin tahu apa yang Sungmin kirim ke Yoora.

 

To           : Yoora ^^

Aku dengar kau sakit… Bagaimana keadaanmu?

Jangan memaksa untuk bekerja kalau kau memang tidak sanggup.

Kau juga kuliah kan? Sebaiknya istirahat saja.

Jika kondisimu sudah baikan, baru bekerja lagi ^^

 

Riri merasa tertohok. Bagaimana Sungmin bisa tahu Yoora sakit? Dan… bagaimana Sungmin tahu Yoora kembali kuliah?

Riri meletakkan ponsel Sungmin ke tempatnya semula lalu kembali berbaring.

‘Dia tahu Yoora sakit, dia juga tahu Yoora kembali melanjutkan kuliahnya. Tapi kenapa dia tidak tahu apapun tentangku? Dia tidak tahu aku hamil. Dia tidak tahu aku mengajar les. Dia tidak tahu aku ingin apa. Dia tidak tahu aku… butuh dia…’

 

~-~

 

Sungmin keluar dari kamarnya dan mendapati Riri yang sudah bersiap dengan seragam lengkap.

“Kau mau kemana pagi-pagi begini?” tanya Sungmin.

“Mengajar.” Jawab Riri ketus.

“Apa? Mengajar? Kau bekerja?” tanya Sungmin kaget.

“Ya.”

“Ya! Kenapa tidak memberitahuku?!” kesal Sungmin.

“Kau sibuk. Aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu.” Sahut Riri.

“Aish… sesibuk apapun aku, kau harus tetap memberitahuku! Aku ini suamimu Riri-ya!” protes Sungmin.

Riri hanya mendengus kesal lalu pergi tanpa membalas ucapan Sungmin.

 

“Riri-ya.” Panggil Sungmin.

“Apalagi?!” tanya Riri kesal.

“Kau gemukan ya?” tanya Sungmin sembari mendudukkan dirinya di sofa.

Riri tidak tahu kenapa, yang pasti ia merasa marah ketika mendengar pertanyaan Sungmin.

“Kau pikir aku gemuk karena apa huh?!” tanyanya sinis.

“Ya! Kenapa pagi – pagi begini sudah marah – marah?! Memang aku punya salah apa padamu?!” tanya Sungmin kesal.

“Pikir sendiri!” ucap Riri sebelum ia keluar dari rumah.

“Aissshh… dia kenapa sebenarnya??” heran Sungmin.

 

Sudah sejam Sungmin terduduk tanpa melakukan apapun. Pikirannya melayang kemana – mana.

“Apa aku melakukan kesalahan??”

“Atau dia sedang PMS??”

“Aiiissshh… dasar wanita! Memang sulit dimengerti!” keluh Sungmin sembari mengacak – acak rambutnya.

 

~-~

 

Riri mengunci pintu gedung tempat ia mengajar. Sudah jam 6 sore. Seharusnya hari sabtu ia mengajar sampai jam 5, tapi karena ada satu muridnya yang mengalami kesulitan dalam pelajaran Matematika, ia memberi jam tambahan untuk murid tersebut.

 

Drrrtt~~~Drrttt~~~Drrrttt~~~

Riri mengembil ponselnya yang bergetar dari dalam tasnya.

1 message

 

From: Min

Riri-ya, jangan pulang ke rumah.

Malam ini menginap di dorm saja :D

Aku & member yang lain ingin merayakan kesuksesan konser kami ^^

Oh ya, aku sudah membawakan baju untukmu.

 

Baru saja Riri akan memasukkan ponselnya ke dalam tas, ponselnya kembali bergetar.

 

From: Min

Riri-ya, titip soju 8 botol ya ^^

Nanti uangmu kami ganti :)

 

“Haaahh…” Riri menghela nafas lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas.

“Menyusahkan saja!” keluhnya lalu berjalan meninggalkan gedung tempat ia mengajar.

Jarak dari tempat ia mengajar ke dorm tidak terlalu jauh. Jika berjalan kaki, mungkin hanya menghabiskan waktu 20 menit.

Sebelum ke dorm, Riri berhenti di supermarket untuk membeli soju.

 

Petugas kasir menatap Riri heran ketika Riri meletakkan keranjang belanja yang berisi 8 botol soju.

“Ada apa ahjussi?? Apa ada yang aneh dengan penampilanku?” tanya Riri bingung.

“Ah! Ani! Hanya… eerrr… wanita hamil sepertimu tidak baik minum soju sebanyak ini.” Ucap ahjussi itu.

Riri terkekeh. “Ini bukan untukku.” Ucap Riri sembari tersenyum kecil.

“Oh… mian… aku kira kau yang akan meminumnya.”

 

~-~

 

Riri mengganti pakaiannya menjadi baju santai lalu keluar dari kamar Sungmin dan bergabung dengan member yang lain.

“Wookie oppa mana?” tanya Riri pada Kyuhyun yang duduk agak menjauh dari member yang lain.

“Wookie hyung sedang menyiapkan makanan di belakang.” Jawab Kyuhyun.

“Errr… kenapa kau agak menjauh dari yang lain??” tanya Riri.

“Aku tidak menjauh. Hanya ingin sendiri saja saat ini…” sahut Kyuhyun.

“Ah! Kau pasti merindukan Yoora!” goda Riri.

Kyuhyun hanya terdiam, tidak membalas ucapan Riri. Ya, benar sekali kalau ia merindukan Yoora.

 

“Cho Kyuhyun, sebenarnya ada cara mudah untuk kembali bersama Yoora.” Ucap Riri membuat Kyuhyun menoleh dan menatapnya.

“Kau hanya perlu menemuinya. Minta maaf dan katakan kau masih mencintainya.”

“Bicara itu mudah, tapi tidak dengan prakteknya!” sahut Kyuhyun.

“Kalau belum mencoba, bagaimana bisa tahu hasilnya??” balas Riri.

“Tanpa dicoba pun aku sudah tahu hasilnya…” Kyuhyun tersenyum  pahit mendengar ucapannya sendiri. Bahkan ia menertawai dirinya sendiri dalam hati. Bagaimana bisa Yoora memaafkannya dengan mudah setelah apa yang ia lakukan pada Yoora.

“Ya! Kau agak gemukan ya?? Kau… hamil??” ucap Kyuhyun mengalihkan topik pembicaraan.

“Eung… Ne. Hehe…” jawab Riri.

“Berapa bulan?” tanya Kyuhyun.

“3 bulan kurang seminggu.”

“Kau sudah beritahu Sungmin hyung??” Riri menggelengkan kepalanya.

“Dia sepertinya tidak peduli padaku.” Keluh Riri.

“Saat ia sibuk dengan konser dan kegiatan kalian pun tak sekalipun ia menghubungiku. Pasti selalu aku yang menghubunginya lebih dulu. Haaaahhh… aku kan jadi kesal! Makanya aku tidak bilang padanya! Biar dia tahu sendiri!”

Kyuhyun hanya terkekeh mendengar curhatan Riri.

“Bagaimana bisa kau bilang dia tidak peduli padamu hanya karena dia tidak pernah menghubungimu duluan??” tanya Kyuhyun.

Riri membuka mulutnya ingin menjawab pertanyaan Kyuhyun, tapi Kyuhyun langsung memotongnya.

“Setiap perform kami berakhir, latihan usai, dan konser kami selesai, ia selalu bingung mencari ponselnya sendiri. Kau tahu? Ia ingin menghubungimu. Tapi tiap kali ia ingin menghubungimu, kau menghubunginya duluan. Entah itu lewat telepon atau SMS.”

Riri hanya bisa terdiam mendengar cerita Kyuhyun.

“Dan kau tahu?? Setelah ia menerima telepon ataupun SMS darimu, ia tersenyum senang seolah – olah semua lelah dan penatnya menghilang.”

“Aku dengar saat ia bicara dengan Donghae hyung. Ia bilang ia senang bisa mendengar suaramu. Ia juga senang kau perhatian dan mencemaskannya.”

See?? Dia bukannya tidak peduli. Hanya saja ia tidak tahu bagaimana caranya menunjukkan padamu bahwa ia peduli.”

“Tapi, beberapa minggu yang lalu ia sempat jalan bersama Yoora. Sedangkan saat sempat pulang pun ia tidak mengajak ataupun menawariku jalan – jalan keluar!” ucap Riri berusaha menyangkal fakta bahwa sebenarnya Sungmin peduli padanya.

“Kalau masalah itu aku tidak tahu. Lebih baik kau tanya langsung padanya. Daripada kau kepikiran terus?” saran Kyuhyun.

“Lagipula… sepertinya Sungmin hyung dan Yoora tidak dalam hubungan special apapun.” Ujar Kyuhyun.

“Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?? Jelas – jelas kau tahu Sungmin oppa mencintai Yoora!” balas Riri.

“Cinta itu sifatnya tidak konstan.” sahut Kyuhyun.

“Ya! Kau ini pakar cinta ya? Hahahaha…” tawa Riri.

“Hahaha… bagaimana bisa aku jadi pakar cinta kalau masalah percintaanku sendiri rumit begini!” tawa Kyuhyun sembari mengacak – acak rambut Riri. Sudah lama sekali ia tidak tertawa seperti ini. Tapi, semenjak berteman dengan Riri, ia bisa tersenyum kembali. Dan sekarang? Ia tertawa lepas bersama Riri.

Poor you!” ejek Riri.

 

~-~

 

Sungmin tersenyum kecut melihat keakraban Riri dan Kyuhyun dari dapur. Ia tahu akhir – akhir ini Riri dan Kyuhyun jadi dekat. Sering sekali ia melihat Riri bersama Kyuhyun saat mereka sedang berkumpul seperti ini.

Awalnya ia biasa saja. Malah ia senang Riri dekat dan dapat menghibur Kyuhyun –yang masih menjadi dongsaeng kesayangannya, meskipun hubungan mereka sekarang tidak sedekat dulu-. Tapi sekarang berbeda. Ia merasa agak tidak suka saat melihat Kyuhyun mengacak – acak rambut Riri.

Dan lagi, ia iri melihat Riri bisa tertawa lepas seperti itu saat bersama Kyuhyun. Ingin sekali ia berada di posisi Kyuhyun dan melihat Riri tertawa karenanya.

 

“Hyung! Ya! Sungmin hyung!” seru Ryeowook menyadarkan Sungmin dari lamunannya.

“Ah! Ne? Wae?” tanya Sungmin.

“Ini, masakannya sudah siap semua!” sahut Ryeowook.

Sungmin menganggukkan kepalanya lalu membawa semua masakan ke ruang depan, tempat semua member berkumpul.

 

“Akhirnya kita makan!!” seru Shindong senang.

“Ya! Kyuhyun-ah! Riri-ya! Kemari!” panggil Leeteuk.

“Ne oppa!” sahut Riri lalu menghampiri mereka bersama Kyuhyun.

Ada dua tempat yang tersisa. Satu di samping Eunhyuk, dan satu lagi di samping Sungmin.

Riri memilih untuk duduk di sebelah Sungmin meskipun ia agak canggung berada di dekat Sungmin setelah kejadian tadi pagi. Ia tidak ingin egois dengan duduk di sebelah Eunhyuk dan membiarkan Kyuhyun duduk di sebelah Sungmin saat dia tahu Kyuhyun tidak akan nyaman berada di dekat Sungmin.

“Ini.” Sungmin menyerahkan semangkuk nasi pada Riri.

“Te… terima kasih.” Ucap Riri kaku setelah menerima nasi tersebut dari Sungmin.

 

Riri melihat semua hidangan yang tertata di atas meja. Senyum kecil terulas di bibirnya ketika matanya menangkap makanan favoritnya ada diantara hidangan yang lain.

Riri mengulurkan sumpitnya dan mencicipi Udang Asam Manis, makanan favoritnya.

“Wookie oppa, ini enak sekali. Kau benar – benar Master Chef ya!” puji Riri.

“Ah! Dan ini makanan favoritku!” lanjutnya sembari tersenyum.

“Mian Riri-ya. Itu bukan masakanku!” ucap Ryeowook.

“Ne?” tanya Riri bingung.

“Itu masakan Sungmin hyung.” Jawab Ryeowook.

“Mi… mian… aku tidak tahu.” Ucap Riri merasa tak enak pada Sungmin.

“Gwaenchana.” Ucap Sungmin. Jelas sekali ada nada kecewa saat dia mengatakan tak apa.

“Eerr… Ini enak sekali, Sungmin oppa.” Ucap Riri kaku.

“Ne, gomawo.” Balas Sungmin singkat.

Suasana diantara Sungmin dan Riri menjadi semakin canggung. Untungnya, obrolan para member membuat kecanggungan diantara mereka tidak begitu terasa.

 

“Oh iya, dessert-nya!” seru Ryeowook tiba – tiba.

Ryeowook bangkit dari duduknya lalu mengambil semua dessert yang telah ia siapkan bersama Sungmin. Tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk mencuci mulut 14 orang.

“Ini spesial untuk Riri!” ucap Ryeowook sembari menghidangkan sepotong Tiramisu di hadapan Riri.

“Woah… oppa go-”

“Itu buatan Sungmin hyung juga.” Potong Ryeowook sebelum Riri mengucapkan terima kasih.

“Aish Wookie!!” gerutu Sungmin pelan, namun masih biasa terdengar oleh Riri.

‘Okay, jika ada makanan lain lagi, sebaiknya aku bertanya dulu siapa yang buat!’batin Riri.

Riri tersenyum kaku pada Sungmin, merasa tak enak. “Sungmin oppa, errr… gomawo. Ini makanan favoritku juga!” ucap Riri lalu mencicipi tiramisu buatan Sungmin. Semua member menatap Riri, harap – harap cemas. Setahu mereka, tadi siang Sungmin membuat Tiramisu itu berkali – kali karena gagal.

Riri hanya diam dan terus menyantap tiramisu itu pelan – pelan.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sungmin takut jika Riri tidak menyukainya tapi tetap memaksa untuk memakannya karena merasa tak enak pada Sungmin.

“Tidak buruk.” Jawab Riri.

“Jinja??” tanya Sungmin lagi dan Riri menganggukkan kepalanya.

“Ya! Kau tahu Riri-ya? Sungmin hyung membuat itu berkali-kali tadi siang! Ah! Kalau tadi kau ada di sini dan mencicipi Tiramisu pertamanya, mungkin kau akan memuntahkan semua isi perutmu!” ucap Ryeowook membuat Riri terkekeh.

“Aish Wookie! Jangan membuka aibku!!” kesal Sungmin.

“Oh ya! Dia juga sangat berusaha membuat Udang Asam Manis itu! Lihat saja, jarinya sampai terluka!” sambung Ryeowook. Riri melihat kedua tangan Sungmin lalu meraih tangan kirinya dan melihat jari telunjuknya yang terbalut.

“Lain kali, kau harus berhati – hati saat memasak oppa!” ucap Riri masih memegang tangan Sungmin.

Sungmin tidak membalas ucapan Riri, ia masih terpaku.

‘Jantungku… rasanya… berhenti berdetak?’ batin Sungmin.

Baru kali ini ia merasa jantungnya –seperti- berhenti berdetak ketika seorang wanita menyentuhnya. Biasanya, saat wanita yang ia suka menyentuhnya, jantungnya akan berdebar cepat. Tapi kali ini berbeda. Saat Riri menyentuh tangannya, saat itulah ia merasa seolah – olah jantungnya berhenti berdetak.

Sungmin menarik pelan tangannya dari genggaman Riri, seolah – olah ia akan mati jika tetap membiarkan Riri menggenggam tangannya.

“Ya! Hyung! Wajahmu kenapa memerah begitu?” goda Eunhyuk.

“Uri Sungminnie malu ya??” ucap Kangin menggoda Sungmin.

“Ani!” sangkal Sungmin.

“Ah! Aku ambil sojunya ya! Kita minum sekarang saja!” ucap Sungmin lalu bergegas ke dapur, meninggalkan Kangin dan beberapa member yang lain menertawakannya.

 

Sungmin kembali dengan kantung belanja besar berisi 8 botol soju ditangannya. Ia meletakkan soju – soju itu di tengah meja yang piring – piringnya telah disingkirkan oleh Yesung dan Donghae.

Sungmin mengambil satu botol lalu membukanya.

Aroma soju yang begitu menyengat langsung tercium di hidung Riri ketika tutupnya terbuka. Refleks ia menutup mulutnya ketika merasa ada sesuatu yang ingin keluar. Buru – buru ia bangkit dari duduknya dan berlari ke kamar mandi.

Sungmin yang cemas langsung meletakkan botol soju itu di atas meja dan menyusul Riri ke kamar mandi.

“Riri kenapa hyung?” tanya Henry bingung.

“Jangan – jangan gara – gara memakan tiramisu itu!” tebak Donghae.

“Bukan!” ucap Kyuhyun tiba – tiba, membuat semua member menatapnya.

“Dia sedang hamil! Jadi wajar mual – mual begitu.” Ucap Kyuhyun lagi.

“MWO?!” seru semua member bersamaan.

“Aigo… kita jadi ahjussi!” seru Shindong.

 

~-~

 

Bau soju yang menyengat tadi membuat Riri mual dan ingin memuntahkan semua makanan yang masuk ke perutnya. Ini pertama kalinya ia merasa semual ini saat mencium aroma – aroma yang menyengat.

“Hoooeeeekkk… hoooeeekkkk…” tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya selain salivanya.

“Gwaenchana?” tanya Sungmin khawatir setelah Riri mencuci mulutnya.

Riri menganggukkan kepalanya pelan.

“Jinja??” tanya Sungmin lagi.

“Ne oppa. Aku tidak apa – apa. Hanya mual dan sedikit pusing saja.” Ucap Riri meyakinkan Sungmin.

“Gara – gara tiramisu buatanku ya?” tanya Sungmin lagi, merasa tak enak pada Riri.

“Ani oppa. Bukan karena itu. Tiramisu buatanmu enak kok!” jawab Riri sembari tersenyum kecil.

“Mau kubuatkan sesuatu? Teh hangat? Atau susu hangat mungkin?” tawar Sungmin.

“Tidak usah. Aku ingin tidur saja.” Tolak Riri dan Sungmin hanya mengangguk.

 

Mereka keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat semua member –kecuali Kyuhyun- berdiri di depan kamar mandi.

“Uwaaa… Riri-ya… chukhae!” seru Ryeowook sembari memeluk Riri.

“Sudah berapa bulan Riri-ya??” tanya Leeteuk.

“Laki – laki atau perempuan?” tanya Donghae.

Sungmin yang berdiri di belakang Riri masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Berapa bulan? Laki – laki? Perempuan? Sungguh, ia benar – benar tak mengerti dengan apa yang dibicarakan member lain.

“Uri Pumpkin sebentar lagi menjadi ayah!” ucap Kangin sembari menyenggol lengan Sungmin.

“Ayah? Apa yang kau bicarakan hyung? Aku tak mengerti!” ucap Sungmin bingung.

“Ya! Kau tidak tahu istrimu hamil?!” tanya Kangin.

“Hamil??” Sungmin menatap Riri meminta penjelasan, sementara yang ditatap malah mengalihkan wajahnya, menghindari tatapan Sungmin.

“Ah! Oppadeul, aku pusing sekali. Aku tidur duluan ya!” ucap Riri.

“Ne! Istirahatlah!” ucap Leeteuk.

“Calon keponakan, tidur yang nyenyak ya!” ucap Donghae sembari mengelus – elus perut Riri. Riri tersenyum tipis lalu meninggalkan semua member Super Junior dan masuk ke kamar Sungmin.

 

~-~

 

“Ya! Kau sudah mabuk! Berhenti minum!” seru Leeteuk sembari merebut botol soju terakhir di tangan Sungmin. Sungmin berusaha merebutnya kembali tapi tak bisa.

Sungmin meletakkan kepalanya di meja. Pusing, itulah yang ia rasakan.

Hanya dirinya dan Leeteuk yang masih tersisa di ruang tengah. Sementara member lain sudah tidur.

“Ahh… Hyung… aku suami yang buruk!” racau Sungmin.

Leeteuk menatap Sungmin, iba. Ya, dia mengerti sekali bagaimana perasaan dongsaengnya yang satu ini.

“Hahaha… bagaimana bisa aku yang suaminya tahu paling terakhir kalo ia hamil?!” racau Sungmin lagi.

“Aaaah… si Magnae itu orang yang paling pertama tahu ya? Hmm…”

Leeteuk hanya diam dan tidak merespon racauan Sungmin.

 

“Oppa…” panggil Riri dari depan pintu kamar Sungmin.

“Riri – ya? Kau tidak tidur?” tanya Leeteuk.

“Aku sudah tidur sebentar tadi. Apa dia mabuk?”

“Ne. Malam ini biar dia tidur dengan Eunhyuk saja! Kau tidurlah lagi.” Suruh Leeteuk namun Riri menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa oppa. Biar dia tidur bersamaku saja.” Ucap Riri lalu menghampiri Sungmin yang masih menyandarkan kepalanya di meja.

“Baiklah kalau itu maumu. Sini! Biar aku yang membawanya ke kamar!” ucap Leeteuk lalu memapah Sungmin ke kamarnya.

 

“Gomawo oppa! Maaf merepotkanmu!” ucap Riri setelah Leeteuk meletakkan Sungmin di ranjangnya.

“Ya! Siapa yang direpotkan?! Ini kan memang tugasku sebagai leader.” Sahut Leeteuk dan Riri hanya tersenyum menanggapinya.

“Hoahm… Riri-ya, aku ke kamarku ya! Tidurlah! Jangan begadang!” pamit Leeteuk.

“Ne oppa.”

 

Setelah Leeteuk keluar, Riri memperhatikan Sungmin yang sepertinya masih setengah sadar. Ia berjalan mendekati Sungmin. Aroma soju tercium jelas dari tubuh Sungmin. Sebenarnya Riri mual tiap mencium aroma soju, tapi kali ini tidak semual tadi dan ia masih bisa menahannya.

Riri menjulurkan tangannya lalu melepas kancing kemeja Sungmin -yang bau soju- satu persatu. Dia tidak akan bisa tidur di sebelah Sungmin jika bau soju di tubuh Sungmin begitu menyengat.

“Enghh… aku suami yang buruk!” racau Sungmin.

“Ya. Kau suami yang sangat buruk! Istrimu sedang hamil kau malah mabuk seperti ini!” ucap Riri, tak yakin Sungmin akan mendengar ucapannya.

Setelah berhasil membuka kemeja Sungmin, Riri keluar dari kamar lalu kembali dengan handuk kecil di tangannya.

Ia membasuh wajah, leher, dan tubuh Sungmin dengan handuk kecil yang sudah dibasahi itu agar bau sojunya menghilang atau berkurang.

Riri mengusap lembut pipi Sungmin dengan tangannya. Dari nafasnya yang teratur, Riri tahu Sungmin telah terlelap. “Kau itu menyebalkan oppa!” ucap Riri pelan.

“Tapi aku mencintaimu…” sambungnya lagi sebelum ia menarik tangannya dari wajah Sungmin.

Riri membaringkan tubuhnya di sebelah Sungmin. Belum lama ia memejamkan mata, ia merasa ada sepasang lengan yang melingkari tubuhnya. Ia membuka matanya dan melihat Sungmin memeluknya. Dari ekspresi wajahnya, Riri tahu Sungmin kedinginan. Dan bodohnya, ia tidak memakaikan Sungmin pakaian setelah melepas kemejanya -_-“

Riri menarik selimut hingga menutupi tubuh Sungmin sampai leher dan tertidur dalam pelukan Sungmin.

 

~-~

 

Sungmin terbangun dari tidur lelapnya. Ia memegang kepalanya yang terasa berat.

“Arrgghh… sakit sekali!” erangnya.

‘Aish… ini pasti gara – gara aku kebanyakan minum kemarin malam!’ rutuknya dalam hati.

“Semoga aku tidak meracau yang aneh – aneh semalam…” gumamnya sambil mencoba mengingat – ingat apa saja yang kira – kira keluar dari mulutnya.

Namun, bukan ucapan – ucapannya semalam yang ia ingat, malah hal – hal yang membuatnya kecewa hingga minum terlalu banyak yang ia ingat.

Ia tersenyum miris saat mengingat dirinya adalah orang terakhir yang tahu Riri hamil diantara semua member Super Junior. Padahal ia adalah suami Riri yang seharusnya menjadi orang pertama yang tahu tentang hal penting ini. Yang membuat ia kecewa lagi –sekaligus cemburu- adalah kenapa harus Kyuhyun orang pertama yang tahu? –setelah dokter tentunya-.

Bukan hanya itu, tapi masalah Riri tidak memberi tahunya tentang pekerjaannya juga. Belum lagi akhir – akhir ini Riri sudah jarang menghubunginya, entah itu via telepon atau SMS.

Ah! Mengingat semua hal ini membuat Sungmin semakin uring – uringan ditambah kepalanya semakin sakit.

 

Kreeeetttt…

Suara decitan pintu itu berhasil mengalihkan perhatian Sungmin dari segala kemirisannya.

Dilihatnya Riri masuk membawa sarapan untuknya.

 

“Apa kepalamu sakit?” tanya Riri sembari meletakkan sarapan untuk Sungmin di atas nakas.

“Ya… Sedikit.” Jawab Sungmin.

Riri duduk agak menjauh dari Sungmin. Dia masih sedikit canggung jika berada di dekat Sungmin.

 

“Kau membuka kemejaku?” tanya Sungmin setelah mereka terdiam cukup lama.

“Eung… iya. Maaf, aku tidak kuat mencium baunya.” Sahut Riri.

“Tidak pa-pa. Er… kenapa kau duduk di situ? Sini…” ucap Sungmin menyuruh Riri mendekat.

Agak enggan sebenarnya. Tapi mau tidak mau akhirnya Riri mendekat. Dan siapa sangka tiba – tiba Sungmin memeluknya??

Sungmin sendiri heran kenapa tiba – tiba ia memeluk Riri.

“Biarkan seperti ini… Sebentar saja Riri-ya…” pinta Sungmin.

Perlahan tubuh Riri relax kembali. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sungmin dan menyandarkan kepalanya di bahu Sungmin.

Riri merasa ada yang ingin Sungmin katakan padanya. “Kalau ada yang ingin kau katakan, katakanlah!” ucap Riri membuat Sungmin tersentak.

“Maaf…”

“…” Riri diam, tak merespon ucapan Sungmin. Ia ingin mendengar semua yang akan Sungmin katakan.

“Ssshhhsss… Maaf kalau selama ini aku tidak menjadi suami yang baik.”

“Maaf kalau selama ini aku kurang peka.”

“Maaf juga kalau selama ini aku kurang memperhatikanmu.”

“Mulai sekarang, aku akan lebih memperhatikanmu lagi dan lebih peka terhadapmu.” Ucap Sungmin sambil membelai lembut rambut Riri.

 

“Jangan marah – marah padaku seperti kemarin lagi ya! Kalau aku melakukan kesalahan, tolong beritahu aku. Jangan diam. Okay?” Riri menganggukkan  kepalanya pelan.

“Dan… eerr… jangan terlalu dekat dengan pria lain. Terutama Kyuhyun!”

Riri mendongakkan kepalanya dan menatap Sungmin penuh tanya. “Kenapa?”

“Aku cemburu tahu!” aku Sungmin malu – malu.

Riri terkekeh geli melihat Sungmin.

 

~-~

 

Riri merapikan ranjang Sungmin setelah Sungmin selesai menyantap sarapannya.

 

Pluk!

Riri mengernyitkan dahinya ketika melihat sesuatu yang jatuh dari ranjang ketika ia merapikan spreinya.

Dipungutnya benda itu. Ternyata selembar kertas yang dilipat – lipat hingga menjadi persegi berukuran kecil.

Riri membuka lipatan kertas tersebut dan melihat isinya.

 

Mata Riri membulat ketika membaca isinya.

–          Alergi nanas

–          Tidak kuat dengan panas

–          Suka jus alpukat

–          Tiramisu adalah dessert favoritnya

–          Suka cappuccino

–          Suka seafood

–          Makanan favoritnya ada banyak, tapi yang paling ia suka Udang Asam Manis

–          Suka makan yang manis – manis

–          Bukan peminum alcohol

–          Suka bunga

–          Senang mendengar musik, apalagi lagu – lagu dengan lirik bahasa Inggris

–          Benci makanan atau minuman yang pahit dan asam

–          Tidak bisa makan makanan yang terlalu pedas

–          Suka dipeluk u,u

–          Benci menunggu lama

–          Tidak bisa renang dan punya trauma karena saat TK dulu pernah tenggelam

–          Takut dengan petir yang menggelegar

–          Suka nonton film Horor, Thriller, & Fantasy

–          Tidak terlalu tertarik dengan film bergenre romance

–          Mudah marah saat sedang PMS -_-

 

“Apa itu??” tanya Sungmin yang baru masuk ke kamar sambil mengeringkan rambutnya.

Riri menunjukkan catatan tentang dirinya yang ditulis dengan tinta merah pada Sungmin dan melemparkan tatapan penuh tanya padanya.

Wajah Sungmin memerah. “Itu… eung…” Sungmin menggaruk lehernya yang tak gatal.

“Aku… bertemu Yoora beberapa minggu yang lalu dan mengajaknya ke café. Di café, dia kuintrogasi dan kutanyai semua hal tentangmu. Hehe…” aku Sungmin lalu terkekeh ketika mengingat dirinya yang sedang mengintrogasi Yoora.

Sementara Riri malah merasa bersalah karena berburuk sangka pada Sungmin. Ia ingat ucapan Jiho beberapa minggu yang lalu.

“Oh… aku tidak bermaksud membuat gossip tentang Yoora. Aku hanya penasaran saja dengan hubungan mereka. Karena dua minggu lalu, saat pemotretan Sungmin-ssi mengirimi Yoora SMS. Dia khawatir sekali sepertinya mengetahui Yoora yang tetap bekerja dalam keadaan sakit. Ah! Dan beberapa hari yang lalu aku juga melihat mereka jalan bersama! Kalau aku tidak salah, waktu itu mereka masuk ke Café di dekat sungai Han!”

‘Ternyata aku salah paham.’ Batin Riri.

 

~-~

 

22 Desember 2012

Riri mengelus – elus perut buncitnya. Angin sore menerpa lembut wajahnya dan menerbangkan beberapa helai rambut panjangnya ke belakang.

Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa kandungannya telah memasuki bulan ke-7.

Beberapa bulan belakangan ini banyak hal yang membuatnya bahagia. Sungmin yang mulai memperhatikannya dan terkadang over protective terhadapnya, hubungannya dengan Yoora kembali seperti dulu, suksesnya karir Yoora di dunia Modeling, kesuksesannya mengajar murid – murid lesnya, dan terakhir adalah anaknya yang akan lahir ke dunia dua bulan lagi.

 

“Hey!” sapa seseorang dari belakang Riri. Riri menoleh dan mendapati Jiho sedang berdiri di belakangnya. Ya, Park Jiho teman SMPnya yang paling menyebalkan sekarang sedang berdiri dengan bunga di tangannya dan senyum di bibirnya.

Riri tersenyum membalas sapaan Jiho. Beberapa hari yang lalu Yoora memberitahunya jika Jiho ingin bertemu dengan Riri di pinggir sungai Han.

“Kau masih suka Aster dan Akasia kan??” tanya Jiho sembari memberikan sebuket bunga ditangannya pada Riri.

Riri mengangguk lalu menerima bunga tersebut, “Terima kasih.” Ucapnya.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Jiho memulai pembicaraan.

“Aku baik. Kau sendiri? Bagaimana kabarmu?” tanya Riri balik.

“Aku juga baik.” Jawab Jiho.

Hening sejenak. Suasana agak canggung mengingat mereka yang dulunya bagaikan anjing dan kucing kini duduk berdampingan tanpa ada keributan.

“Yoora bilang ada yang ingin kau bicarakan denganku?” ucap Riri setelah beberapa saat mereka terdiam.

Jiho mengangguk pelan. “Ini tentang kita.”

“Kita?” tanya Riri tak mengerti.

Jiho menarik nafas sebentar sebelum membuka mulutnya untuk bicara.

“Aku… aku mencintaimu.” Aku Jiho membuat Riri merasa seluruh organ tubuhnya berhenti bekerja sesaat.

“Sudah sejak lama. Jauh sebelum kau memberiku surat itu.”

Riri masih terdiam, tak tahu harus bicara apa.

“Maaf karena sudah berkata kasar dan mempermalukanmu saat itu. Kau tahu? Saat sekolah telah kosong, aku kembali dan mengambil surat yang kau berikan padaku dari tong sampah, lalu kusimpan hingga sekarang. Aku bahkan hafal diluar kepala isi surat itu.”

Jiho memutar badannya hingga kini ia menghadap ke Riri.

“Aku tahu kau tidak mungkin menerima perasaanku karena kau sudah punya Sungmin disisimu.” Ucap Jiho membuat Riri terperangah.

“Ba… bagaimana kau… bisa tahu??” tanya Riri.

Jiho hanya tersenyum tipis dan tak menghiraukan pertanyaan Riri.

“Sebelum semuanya terlambat, aku ingin minta maaf padamu, pada Sungmin – ssi, dan juga Kyuhyun – ssi.”

Riri menatap Jiho bingung. ‘Untuk apa ia minta maaf??’ Tanyanya dalam hati.

“Dan hari ini… sudah kuputuskan untuk… berhenti mencintaimu!” ucap Jiho dengan berat hati.

Jiho menatap Riri lama. “Boleh aku memelukmu? Sekali ini saja.” Pinta Jiho.

Riri menggaruk lehernya yang tak gatal. Bukannya ia tidak ingin Jiho memeluknya, masalahnya ada Sungmin yang menungguinya di dalam mobil tak jauh dari tempatnya duduk sekarang. Tapi, melihat wajah Jiho membuatnya luluh dan akhirnya mengangguk pelan.

Jiho tersenyum lalu meraih Riri ke dalam rengkuhannya. ‘Ini pertama kali aku memeluknya… dan mungkin juga yang terakhir kali.’ Batin Jiho.

“Saranghae Riri-ya.” Bisik Jiho di telinga Riri.

Riri mengerti. Ucapan cinta itu adalah tanda dari Jiho bahwa mulai sekarang Jiho akan melepaskan perasaannya. Ia pun membalas pelukan Jiho dan mengusap punggung Jiho, memberi semangat. “Kau bisa dapat wanita yang lebih baik dariku Jiho-ya.” Ucap Riri pada Jiho.

Jiho tersenyum senang mendengar ucapan Riri. Ditambah lagi, Riri memanggilnya Jiho-ya, bukan Jiho atau Park Jiho seperti biasanya.

Jiho melepas pelukan mereka lalu menggulurkan tangannya. “Teman??”

Riri tersenyum lalu menerima uluran tangan Jiho. “Ne. Teman!”

Masih dengan tangan yang berjabatan, mereka saling menatap penuh arti.

Tak lama kemudian, mereka berdua tertawa terpingkal – pingkal hingga muncul setitik air mata disudut mata mereka. “HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!”

“Hahaha… Aku tak percaya hari ini kita jadi teman mengingat kemarin kita masih seperti anjing dan kucing!” ucap Jiho sembari mengelap air matanya.

“Ne! Aku juga tak menyangka hari ini kita tertawa bersama padahal kemarin kita saling mengolok satu sama lain! Hahaha!!” balas Riri.

Jiho menatap Riri dan tersenyum tipis. Entah mengapa ia merasa lega setelah mengungkapkan semuanya pada Riri. Yah… tidak semuanya juga sih. Masih ada beberapa hal yang ia sembunyikan dari Riri. Setidaknya setelah hari ini, beban di hatinya terasa berkurang.

‘Biarlah  Yoora yang menjelaskan semua padanya. Aku tidak mau merusak hari ini dan seterusnya. Karena aku masih ingin melihat senyumnya sampai tiba waktu dimana aku tak akan melihat senyum itu lagi.’ batin Jiho.

 

“Ya! Jiho-ya! Hey!” panggil Riri sembari melambai – lambaikan tangannya di depan wajah Jiho.

“Ah! Ne? Wae?” tanya Jiho setelah tersadar dari lamunannya.

“Ani! Apa yang kau pikirkan hah?” tanya Riri.

“Eh? Bukan apa – apa! Serius!” ucap Jiho meyakinkan Riri.

“Ooohh… Aku pikir kau sedang memikirkanku! Hahahahaha…” goda Riri. Yang digoda hanya tersenyum tipis.

“Ehm. Jiho-ya, sepertinya Sungmin oppa sudah menungguku terlalu lama. Tidak pa-pa kan jika aku pulang duluan?” tanya Riri.

“Ya, tidak pa-pa. Pulanglah! Titip salam untuk Sungmin-ssi, ani! Sungmin hyung maksudku!” ucap Jiho dengan senyum lebarnya.

Riri mengangguk lalu bangkit dari duduknya.

“Aku duluan Jiho-ya! Annyeong!” pamit Riri.

“Riri-ya! Tunggu!” seru Jiho membuat Riri kembali menoleh.

“Ne? Masih ada yang ingin kau katakan?” tanya Riri.

“Masalah penggantimu… Kau jangan khawatir! Aku sudah punya!”

 

~-~

 

Sungmin mengetuk – ketukkan jarinya di stir mobilnya. Lama – lama kesal juga ia melihat kedekatan Riri dengan Jiho.

“Awas kau Park Jiho!! Berani – beraninya kau menyentuh istriku!!” gumamnya kesal.

Sungmin menoleh lagi ke arah Riri dan Jiho. Dilihatnya Riri sedang berjalan ke arah mobilnya.

“Aneh! Baru beberapa saat yang lalu aku melihatnya tertawa bersama Jiho, kenapa wajahnya menegang begitu?!” ucapnya bingung.

 

“Maaf oppa membuatmu menunggu lama!” ucap Riri setelah masuk ke dalam mobil.

“Apa saja yang kau bicarakan dengannya sampai – sampai kau tega membiarkanku lumutan begini??”

Riri tidak tertawa, terkekeh,ataupun tersenyum seperti biasanya ketika mendengar ucapan Sungmin yang berlebihan seperti tadi.

“Ya! Dia memberimu bunga?” tanya Sungmin.

“Ah! Ne!” jawab Riri sembari menunjukkan sebuket bunga ditangannya.

‘Aster dan Akasia??’ batin Sungmin membuatnya teringat pada ucapan ahjussi penjual bunga saat ia member bunga untuk Yoora (UM3 Before Story Part 1).

“Bunga akasia melambangkan cinta yang terpendam dan suci. Aster merupakan simbol cinta dan ketulusan. Dan Tulip, seolah melukiskan cintamu yang abadi kepada kekasih hatimu.”

“Apa saja yang kalian bicarakan tadi? Ayo ceritakan padaku!” rengek Sungmin.

“Tidak banyak. Dia bilang dia cinta padaku sejak kami…”

“MWO?!!” seru Sungmin memotong ucapan Riri.

“Ya! Kau membuatku kaget!” kesal Riri sembari memukul lengan Sungmin.

“Mana anak itu?! Akan kupukul dia! Berani – beraninya ia menyatakan cinta pada wanita yang sudah bersuami!” gerutu Sungmin.

“Dengar dulu ceritaku! Kau ini!” ucap Riri membuat Sungmin mendengus kesal.

“Dia bilang dia cinta padaku sejak kami SMP. Tapi sekarang dia akan berhenti mencintaiku dan kami menjadi teman. Lalu… dia bilang dia sudah punya pacar.” Cerita Riri.

“Baguslah!” ucap Sungmin begitu mendengar Riri mengatakan Jiho akan berhenti mencintai Riri dan telah memiliki kekasih.

“Dan kau tahu siapa pacarnya??”

Sungmin tidak terlalu tertarik untuk tahu siapa pacar Park Jiho. Baginya, tahu bahwa Jiho berhenti mencintai Riri dan sudah punya kekasih sudah cukup.

“Yoora.” Ucap Riri lalu menghela nafas berat.

“Ne?” tanya Sungmin, takut salah dengar.

“Yoora. Pacar Jiho adalah Kwon Yoora!”

“Mm… MWO?!” tanya Sungmin tak percaya.

Raut wajah Riri berubah lagi. “Ke… kenapa oppa? Kau… kau cemburu Yoora punya pacar baru?” tanya Riri sedih.

“Haaiiisshhh… kau ini! Buat apa aku cemburu?! Aku tidak mencintainya bodoh!” sahut Sungmin sembari mengacak rambut Riri.

“Lalu, kenapa wajahmu seperti itu??”

“Ya! Kau ini bagaimana sih?! Kalau Yoora pacaran dengan Jiho, lalu dongsaengku yang evil itu bagaimana?! Kau tidak memikirkannya hah?” tanya Sungmin kesal karena Riri masih saja menganggap dirinya mencintai Yoora. Padahal selama ini sudah terang – terangan ia menunjukkan pada Riri bahwa ia mencintainya.

“Sebenarnya itu juga yang aku pikirkan dari tadi…” ucap Riri.

“Hhhhh… aku tidak bisa bayangkan bagaimana hancurnya hati Kyuhyun oppa bila mengetahui hal ini.”

 

~UM3’s Status: TBC~

 

Uwaaaaaa…. Ini part terpanjang yang pernah tak buat :”D

Huhu… sorry kelamaan *sujud2*

Biasalah… males ngetik, gak ada mood, quota modem udh abis, plus sempat stuck -_-“

Chapter ini gak terlalu aneh kan ya??

Harap maklum kalo aneh -_-v buatnya ngebut sih abis terima rapor *mumpung lagi happy wkt itu* ^^V

Finally, bentar lagi tamat *udah tak potong soalnya beberapa part cerita #smirk* hahaha… januari utang yang ini lunas baru bisa nerusin ke last story and then, FF baru😄

Okay, gak pernah bosen trik ngucapin makasih buat yg masih setia nungguin, baca, & koment FF ini :”)

Makasih juga buat yang sering nagihin trik, jadi trik inget kalo pny FF ini -.-“

Pokoknya makasih deh buat semua reader mau itu active reader ataupun silent reader :*

Sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^

36 responses

  1. Sumpah aku kira ini ending! >,<
    Bagus banget deh trik… Aku ngga bosen baca UM3 series😉
    Commentnya… ngggg Aku lebih suka kalau POVnya dari trik sendiri. JAdi kamu lebih menggambarkan suasana mereka aja gitu. Lebih so sweet kalau aku bilang. Hehehe
    Ok bye putri🙂

  2. Kyaaaa!!
    Akhirnya part 7 nya muncul jga!!
    Aigooo…chinguya,knpa lma amat??
    Lumutan nech nunggunya-_-”
    ff ne adlh ff fav aq:)
    hiatus nya jgan lama2 y..next part nya cepet*dilempar author ke sungai han*

  3. ya trik, kenapa isinya cuman cerita sungmin dan riri aja?
    kenapa yoora ga ada sama sekali?
    please dunk trik, part selanjutnya full yoora ya?
    entah ga tau kenapa, aku jengkel sama riri, selalu nyemburuin yoora mulu,
    kasian yoora.nya
    T.T

  4. ya trik, kenapa isinya cuman cerita sungmin dan riri aja?
    kenapa yoora ga ada sama sekali?
    please dunk trik, part selanjutnya full yoora ya?
    entah ga tau kenapa, aku jengkel sama riri, selalu nyemburuin yoora mulu,
    kasian yoora.nya
    T.T
    #mianbanyakkata

  5. baru selesai baca smua critanya… (suka banget)
    bagus, tpi…yg d’sequelny, yoora dan kyuhyun sedikit banget..😦
    kan yg d”tunggu” smbngannya kyuhyun dan yoora…😦
    sedihhh… cepat bwt lanjutannya eon..😀 (Y)

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s