Be with you [6/6]

Author : Kin♥ (@Rekindria)

Main cast : Choi Sooyoung, Shim Changmin, Im Yoon Ah

Rating : PG-15

Genre : Romance, Friendship,

Length : Part 1 ׀ Part 2 ׀ Part 3 ׀ Part 4 ׀ Part 5 ׀ [Ending]

Disclaimer : Plot is MINE. All the Main casts are belong to god and themselves.

Poster by @dwikusumaa

Warning : Don’t be a Plagiator and Siders.

♥ Be With You ♥

Happy reading guys ♥

And don’t forget to leave comment dan like ^^

Previous part :

“Apa harus kukatakan aku mencintaimu? Kau bisa merasakannya. Coba perhatikan dengan baik,”

“Bukannya aku sudah bilang kalau aku takkan melepaskanmu? Jadi, takkan kubiarkan kau luput dari pandanganku,”

“Apa aku terlalu egois?”

“Maafkan aku oppa.. Maafkan aku yang tak jujur pada perasaanku padamu,”

“Kalau begitu.. Jika, aku merindukanmu.. Bolehkah aku menghubungimu?”

~Part 6 [Ending]~

Sooyoung terdiam lalu tersenyum membentuk sudut di pipinya. “Semudah itukah?” pukas Sooyoung menatap Changmin dengan raut menantang.

Changmin mengerutkan wajahnya. Ia tak mengerti apa yang diucapkan Sooyoung. “Maksudnya?” rengut Changmin seraya melipat tangannya.

Sooyoung tediam lagi. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kertas. Terlihat seperti surat. Entahlah surat apa. “Aku akan pergi ke Los Angeles. Hanya sekitar dua tahun.” Jelas Sooyoung saat melihat raut wajah Changmin yang meminta penjelasan.

“Kau akan meninggalkanku?” tanya Changmin dengan nada meraung. Ia menghentikan makanannya sejenak lalu melanjutkan, “Lalu kapan kau akan pergi?”

“Mungkin besok pagi.” Balas Sooyoung datar.  Sooyoung bangkit dari dudukannya. “Hari ini hari terakhir aku melihatmu. Tunggulah aku jika kau mencintaiku. Aku akan kembali jika kau setia padaku.”

Changmin bangkit dari dudukannya lalu mengalungkan tangannya pada leher Sooyoung. “As  your wish.

—–

YoonA menatap Sooyoung seksama. Semenjak hal-hal yang mereka lalui bersama membuat mereka menjadi akrab. Sudah tak ada lagi suasana pertempuran yang terasa. Hanya sebuah kehangatan dari mata mereka.

YoonA ikut membereskan semua barang-barang Sooyoung. Ia masukkan buku-buku Sooyoung ke koper. “Apa kau benar-benar akan meninggalkan Korea?” pukas YoonA yang masih tak rela sahabat barunya meninggalkannya.

Sooyoung menyibakkan tirai kamarnya lalu menatap langit dari daun jendela tersebut. “Hanya sebentar saja,” jawabnya. Sooyoung berjalan kearah YoonA dan ikut membantu gadis itu, “Lagipula aku tak harus mengkhawatirkan apapun kan? Changmin sudah ditanganku sekarang,” guraunya.

YoonA terkekeh kecil lalu memasang wajah meledeknya. “Benarkah? Bagaimana jika dia kembali padaku lagi?” ledek YoonA.

Sooyoung tersenyum tipis lalu berkata, “Tidak akan.. aku tau. Dia takkan seperti itu,” balas Sooyoung. Sooyoung terdiam lalu melanjutkan, “Lagipula apa kau bisa melepaskan namja  bodoh bernama Donghae itu? Haha.” Pekik Sooyoung dengan tawa menggelegar. Membuat YoonA hanya memanyunkan bibirya. Sooyoung meraih tangan YoonA, “Tolong jaga Changmin oppa. Kalau dia macam-macam pukul saja,” pintanya.

——

Hyoyeon terus menatap Sooyoung dengan berbinar. Tangannya terus bergelayutan pada Sooyoung. Sementara Sooyoung hanya meringis melihat temannya seperti itu. Berkali-kali Eunhyuk mencoba melepaskan Hyoyeon yang terus menguntit Sooyoung kemanapun. Tapi, itu hanya sia-sia.

“Sudahlah Hyo ah,” rengek Eunhyuk untuk kesekian kalinya. Namun sayangnya Hyoyeon tak menggubris  namjachingunya  itu.

Sooyoung tersenyum kecil. Mengerti perasaan sahabatnya. “Aku hanya sebentar Hyo ah. Lagipula ada Eunhyuk oppa kan disisimu.” Jelas Sooyoung yang mencoba membantu Eunhyuk.

Hyoyeon mengerutkan wajahnya lalu berkata, “Aku harus cerita pada siapa kalau pria ini selalu mengganggu hidupku? Ah-jebal Sooyoung ah- jangan pergi.”

“Aku tidak pergi Hyo,” jelas Sooyoung pada Hyoyeon.

Hyoyeon berhenti sejenak lalu menatap mata Sooyoung lekat. “Maksudnya?”

“Aku hanya ingin mengujinya,”

——-

“Kau tidak datang ke airport ?” selidik YoonA dengan mengamati Changmin seksama. Tak mengerti kenapa pria dihadapannya masih diam termangu. Menatapi daun jendela seakan-akan melihat Sooyoung tersenyum melambaikan tangannya dibalik daun jendela itu namun kenyataannya tidak.

Changmin masih terdiam membisu. Lidahnya sangat kelu mengucapkan kata satu pun. Hatinya dihantam badai saat Sooyoung membicarakan kepergiannya yang mendadak. Dia terdiam membatu tak bisa mencerna apa yang dihadapannya. Kelam dan kelabu. Musim seminya telah hilang bersama Sooyoung yang membawanya. Dan tanpa ijinnya.

Dia rogoh sakunya dan melihat singkat foto Sooyoung yang tersembunyi. Ia sangat mencintai gadis itu dan tak ingin begitu saja dihempaskan. Dia tau rasanya begitu sakit saat ditinggal begitu saja. Apakah seperti ini perasaan Sooyoung terdahulu? Saat Changmin memaksa hatinya menerima YoonA? Apa seperti ini rasanya hidup tanpa oksigennya?

YoonA melihatnya, hatinya ikut terguncang saat melihat wajah Changmin yang pilu. Ia tahu rasanya ditinggal begitu saja. Walau ia sudah tak mempunyai perasaan istimewa untuk Changmin tetap saja melihat sepasang insan yang tak bisa bersatu membuatnya sesak.

Memilukan saat menahan dan menunggu cinta itu kembali. Sesak saat mengambil cara lain untuk melupakan sosok yang ia kagumkan. Merebut atau mencari cinta baru itu sangat terdengar menyedihkan.

YoonA bangkit dan memegang bahu pria dihadapannya. Berusaha menegarnya sebagai teman. Dia tahu, Changmin membutuhkan sosok yang mendukungnya. Dia tau rasanya saat dia terluka dan tidak ada yang membantunya bangkit.

YoonA tersenyum kecil. “Semua akan baik-baik saja oppa. Apa yang kau lakukan sekarang? Cegah dia oppa. Kau tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya kan?”

Changmin terhenyak. YoonA benar..dia tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama. Membiarkan cintanya pergi tanpa usaha yang nyata.

——-

Mata Sooyoung membulat saat Changmin menarik tangannya paksa. “Jangan seperti ini.. tetaplah disampingku.. aku mohon.”

Sooyoung terdiam. Tidak tau harus berkata apa yang ia lakukan hanyalah memeluk Changmin dengan erat. Bulir air matanya mengalir bebas saat ia sadar ini membuat goresan luka dihatinya.

“Maafkan atas kesalahanku. Aku takut untuk kehilanganmu. Jangan seperti ini.” Changmin terus memohon dengan suara pilu membuat Sooyoung semakin hanyut pada kesedihannya.

Sooyoung  mengusap pelan air matanya lalu kembali menatap Changmin dengan senyum yang memilukan. “Kembalilah padaku. Aku akan menunggumu.” Changmin bersua kecil ditelinga Sooyoung. Sooyoung tersenyum kecil mendengar kata-kata itu.

Sooyoung melepaskan tangan Changmin yang entah sejak kapan terus mengait di sela-sela jemarinya. Dia tersenyum tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Changmin diam dan termangu. Melihat Sooyoung tak menanggapi semua permintaannya. Ia sudah mengatakan untuk tetap tinggal tapi gadis ini tetap berjalan membelakanginya dan tak menghiraukannya.

Sooyoung menghentikan langkahnya saat menyadari ini salah. Dia seharusnya mengucapkan selamat tinggal atau salam perpisahan. Bukan pergi begitu saja tanpa masalah. Sooyoung berbalik dan berlari kecil menghampiri Changmin. Ia menatap manik mata Changmin yang indah lalu mengecup pelan dahi pria itu.

Changmin membulatkan matanya saat Sooyoung mengecup pelan dahinya. Sooyoung lalu tersenyum malu selesai mengecup pelan dahi Changmin. Dia berbalik namun ditahan oleh tangan kekar Changmin. “Hanya inikah salam perpisahan darimu?” Changmin menarik singkat kepala Sooyoung untuk bertemu bibirnya.

——-

Sooyoung terus menatap kearah luar saat pesawat yang ia tumpangi ingin take off. Ia menatap awan biru yang menggumpal dengan miris. Sangat menyakitkan berpisah dengan Shim Changmin seperti ini.

Dia kembali menatap langit itu dan berusaha tersenyum namun nihil. Kembali terngiang bayangan semua memori saat bersama Changmin.

“Yah, apa kau tak punya mata hah?” omel namja tersebut. Ia menatap Sooyoung dengan penuh amarah.

“Mianhae,” jawab Sooyoung singkat. Ia terus menundukkan wajahnya. Berusaha meminta maaf. Berharap namja dihadapannya luluh.

Namja tersebut hanya tersenyum sinis dan berkata, “Kau punya mata kan? Lain kali gunakan mata tersebut,”

Memori saat pertemuan yang tak diduga. Saat ia berniat mencari suasana baru dengan menyendiri di taman. Tapi, karena Shim Changmin semua menjadi berantakan. Saat Changmin menatapnya dengan aura kepercayaan dirinya yang tinggi. Membuat Sooyoung tertawa mengingat betapa menyebalkannya pria itu.

“Kau merasa terhina karena aku tak mengenalmu Shim Changmin?” ejek Sooyoung dengan senyum khasnya. Membuat Changmin ingin sekali memukul yeoja dihadapannya.

“Yang benar saja? Kau tak berpengaruh pada popularitasku. Tak bisa dipungkiri semua yeoja menggilaiku. Hanya yeoja bodoh sepertimu lah yang tak kenal namja tampan dan penuh karisma sepertiku,” ucap Changmin yang berusaha menghibur dirinya. Menyombongkan dirinya pada Sooyoung.

Apa Changmin berfikir ia terlalu tampan hingga mengucapkan kata-kata itu berkali-kali? Sooyoung muak mendengarnya. Tapi ia juga tidak bisa menyangkal pesona Changmin memang kuat dan itu bisa membuatnya luluh seperti sekarang. Terjatuh pada perasaan yang ia coba bendung walau akhirnya ia tersungkur semakin dalam pada hati Changmin.

“Dia pacarku,” ujar Changmin dengan tersenyum lebar.

“MWO?? MWORAGO??” Sooyoung tersontak kaget saat mendengar Changmin berkata bahwa ia pacarnya.

Memperkenalkan Sooyoung dengan paksa sebagai kekasihnya? Hanya karena ada mantan tunangannya? Bukankah itu kekanak-kanakan? Apa seperti inikah Changmin yang pencemburu?

“Hyung, jangan! Dia ini tak pantas menjadi model. Lihatlah apa yang menarik darinya?” ejek Changmin yang melepaskan pelukannya dan menatap Sooyoung dengan tatapan sinis.

“Aku setuju,” jawab Sooyoung. Changmin menatap Sooyoung dengan melotot. Ia tak terima Sooyoung menjadi modelnya.

Lagi-lagi Sooyoung tersenyum konyol mengingat Changmin mengatakan dia tak menarik? Tapi, kenapa pria itu bisa bertekuk lutut di bawahnya? Changmin yang mengatakan dia pria tertampan sekarang tunduk pada Sooyoung yang ia katakan tidak menarik? Apakah ada yang salah denganmu Changmin oppa?, batin Sooyoung.

“Eh? Kenapa mesti adegam ciuman dulu? Kenapa bukan adegan yang lain?”

“Karena aku tau kau pasti tidak berpengalaman berciuman,”

“Bohong. Kau pasti ingin mencium bibirku kan?” ledek Sooyoung yang membuat pipi Changmin bersemurat merah.

Changmin mengatakan dirinya tidak pantai dalam hal berciuman? Benarkah? Bukankah dia bertekuk lutut sekarang ini padanya? Mengatakan bahwa dirinya tidak berpengalaman hanya sebuah modus agar dia merebut ciuman darinya? Benar kan?

“Dia… mantan tunanganmu ‘kan?” kini Sooyoung mengucapkannya. Kenyataan yang ia tutupi.

“Benar dan aku masih mencintainya,” balas Changmin dengan melirik Sooyoung. “Aku merasa ia takdirku yang sebenarnya,”

Sooyoung menghela nafas sangat mengingat kata yang membuatnya saat itu terjatuh. Saat ia menyadari ia memiliki perasaan lebih yang seharusnya tidak boleh ia rasakan. Perasaan mencintai seseorang yang hatinya tak dapat ia jangkau.

“Jangan ditutupi. Aku mendengarnya,” ucap Changmin yang menyingkirkan tangan Sooyoung dari dadanya. “Aku juga merasakan detakan itu. Apa arti perasaan ini?”

“Bukan apa-apa.. Mungkin, memang jantungku yang bermasalah,” kilah Sooyoung.

“Kalau begitu jantungku juga bermasalah,” cibir Changmin.

Begitu menyenangkan saat tau Changmin juga memiliki perasaan yang sama sepertinya. Mencintai dirinya seperti apa yang ia rasakan pada Changmin. Walau ia sadar saat itu sangat sulit menembus dinding penghalang mereka. Changmin lebih memilih YoonA dibanding dirinya. Cinta lama yang lebih memiliki memori dibanding cinta baru yang masih bersih dari memori itu.

“Kau menyukainya?” tanya Changmin.

Sooyoung tersenyum tipis lalu berkata, “Tentu saja. Karena lagu itu mengisyaratkan hatiku.”

Changmin menautkan alisnya bingung. “Maksudnya?”

“Aku tak bisa hidup tanpamu walau kamu bukan untukku… sampai maut memisahkan,”

Begitu menyedihkan saat mengetahui Sooyoung terlalu menginginkan Changmin disampingnya. Memang dia mengatakan juga mencintainya. Namun, hari demi hari hanya terlihat Sooyoung yang terobsesi pada Changmin. Terlihat begitu rapuh tanpa Changmin disisinya.

“Kenapa hanya diam saja? Kau tak mencintaiku kan?”

“Apa harus kukatakan aku mencintaimu? Kau bisa merasakannya. Coba perhatikan dengan baik,”

Apa yang ia lakukan sekarang? Kenapa hanya diam mengingat bayangan itu berputar dihadapannya? Kenapa dia tidak mencegah semua memori indah itu hilang dari matanya?

“Aku tau aku salah. Aku harus kembali padanya.” Sooyoung bergumam pelan lalu bangkit meninggalkan pesawat.

——-

Changmin memukul dadanya kesal. Melihat Sooyoung terbaling lemah membuatnya merutuki dirinya. Seharusnya dia mencegah Sooyoung pergi dari Korea kan? Memang seharusnya seperti itu.

Tapi, gadis itu tetap teguh pada pendiriannya. Memutuskan untuk tetap meninggalkan Changmin. Namun, kenapa sekarang ia terbaring disini?

Changmin menggengam tangan Sooyoung erat dan menciumnya lembut. “Jangan pergi lagi. Aku tidak mampu hidup seperti ini.”

——-

Sooyoung membuka matanya yang terasa berat. Kepalanya sakit saat ia menangkap cahaya dan dibiaskan oleh pupilnya.

Dia mencoba mengirup udara di sekitarnya. Namun, matanya terhenti saat melihat Changmin tertidur disisinya. Ia baru tahu saat Changmin tertidur wajahnya bagaikan malaikat.

Sooyoung terhenyak sedikit saat menyadari ia berada dirumah sakit dan point utama-nya adalah dia yang terbaring di kasur itu.

Sooyoung meraih ponsel dan menekan nomor Changmin semampunya. “Oppa !” Sooyoung memekik kencang saat pria disebrang sana mengangkat ponselnya.

“Kau? Sooyoung ah.. kau kembali ke korea?” suara Changmin yang parau membuat Sooyoung sedikit mengeluarkan air matanya. “Akhirnya kau memutuskan untuk tidak meninggalkanku. Aku mencintaimu Sooyoung ah.. jangan tinggalkan aku.”

Sooyoung tersenyum simpul dengan lengkungan sudut yang sempurna. “Aku akan menghentikan study-ku. Aku ingin bersamamu oppa.”

“Kau tidak mengatakan kalau kau mencintaiku Sooyoung ah?”

“Apa? Tentu saja aku mencintai-“

BLAM.

Semua terlihat hitam. Hanya dentuman keras yang ia ketahui. Sooyoung sadar saat itu mobilnya mengalami kecelakaan. Ia tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi. Apakah ia akan menghembuskan nafas terakhir seperti ini?

Changmin sedikit merenggangkan tubuhnya. Ia menggeliat kecil lalu mengusap kelopak matanya pelan. Ia membelalakan mata saat Sooyoung tak lagi ada di kasurnya. “Kemana lagi anak itu?” tanya Changmin pada dirinya sendiri.

“Kau mencari siapa?” Sooyoung bertanya tanpa melirik Changmin yang masih mengedarkan matanya mencari bayangan Sooyoung.

Changmin menghembuskan nafas lega saat tau Sooyoung masih di ruangan ini. Dia duduk termenung dekat daun jendela dengan memperhatikan bulan dan bintang di luar sana. Cahaya rembulan yang memantul ke kaca dan menerangi wajah Sooyoung seakan memberi kilauan pada wajahnya.

“Aku tau aku cantik.” Sooyoung bergurau kecil disertai kekehan pelan di bibirnya.

Changmin ikut tertawa kecil. Dia menghampiri Sooyoung dan mengalungkan tangannya pada leher Sooyoung. Menghembuskan nafas di tengkuk milik Sooyoung dan berhasil membuat Sooyoung merasa geli. “Jangan seperti ini lagi.”

“Tidak akan.” Sahut Sooyoung cepat dengan anggukan mantap.

Changmin tersenyum lalu mencoba memutar tubuh Sooyoung. “Kita akan mulai dari awal kan? Memulai semuanya dari kita bertemu?” tanya Changmin dengan alis bertaut.

Sooyoung menatap Changmin, heran. “Apakah kita perlu bertengkar seperti dulu?” sunggut Sooyoung yang disahut gelak tawa Changmin.

“Ani. Seperti ini…” Changmin mencoba meraih tangan Sooyoung dan mengenggamnya. “Aku Shim Changmin. Maukah kau menikah denganku Choi Sooyoung?”

Sooyoung menggeleng. “Mana ada baru bertemu sudah mengajak menikah? Kau belajar darimana?”

Changmin terkekeh kecil lalu meraih sebuah kotak. Ia keluarkan cincin yang bertautan berlian itu untuk ia sematkan di jari manis Sooyoung. “Biarkanlah. Lagipula aku ingin menjalin hubungan dari awal saat kita menikah nanti. Kamu mau?”

“Seperti inikah cara Shim Changmin melamar wanita? Kenapa tidak romantis?” ejek Sooyoung. Dia cukup terhanyut saat ini. Jantungnya juga berdegup lebih cepat.

Changmin memutar bola matanya, bingung. “Jadi kau mau seperti apa?”

Sooyoung tersenyum jahil. “Seperti ini.” Sooyoung menarik kerah baju Changmin dan berhasil membuat bibirnya menyentuh bibir Sooyoung.

“YA ! Choi Sooyoung! Kalau kau mau cium aku bilang jangan menarikku asal.” Changmin memekik kesal dan berhasil membuat Sooyoung mengerucutkan bibirnya kesal. “Kau marah?”

“Tidak.” Sahut Sooyoung cepat.

“Benarkah?”

“Ya.” Balas Sooyoung mantap dan Changmin pun mengambil kesempatan ini. Ia menarik kepala Sooyoung dan mencium bibir Sooyoung lembut.

“Aku mencintaimu.”

The end

Oke maaf aku lama update errr #plak

Bagaimana endingnya? Mengecewakan? Maaf Y.Y Tadi mau di part 7 aja tapi, takut kepanjangan entar readers bete yaudah deh di ending disini hehe. Maaf kalau kesannya maksa.

Oke, akhirnya utang saya selesai HAHA. Comment ya *cium readers satu-satu*

@RekinDria ^^ 95 line

12 responses

  1. ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh….kenapa harus tamaattttt???? andwaeyooooo!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s