[1shoot/Kyuna] Beautiful Goodbye

Author : Ratiho (@Ratih_cm)

Main cast : Im Yoon Ah, Cho Kyuhyun, Lee Donghae

Rating : PG-15

Genre : Romance, Friendship, Sad, AU

Type : Oneshoot

Disclaimer : Plot is MINE. All the Main casts are belong to god and themselves.

Warning : Don’t be a Plagiator and Siders.

Beautiful Goodbye

Credit Pic by @Ardhi91

      YoonA hanya bisa memandangi gedung-gedung pencakar langit dari balik jendela. Ia tidak menikmati kegiatannya sama sekali. Memang baru 3 hari ia berada di tempat ini, tapi tetap saja ia merasa jenuh hanya melihat gedung-gedung yang sama. Dan ruangan ini juga masih ruangan yang sama. Dengan bau obat-obatan dan bunyi mesin yang sama. Inilah ruangan tempat ia menetap selama di rumah sakit. Dan ia akui, ini adalah tempat yang paling membosankan seumur hidupnya.

Ia melirik pintu dihadapannya. Dokter melarangnya untuk keluar kamar, tapi ia rasa ia tidak selemah itu. Lagipula hanya jalan-jalan sebentar saja tidak akan membuatnya mati. Ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar, mengendap-endap tentu saja. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, menyelinap keluar, lalu berjalan santai layaknya pasien lain.

Ia pergi ke taman belakang rumah sakit. Dan baru kali ini ia bisa menghirup udara luar. Tak bisa ia pungkiri, ternyata udara bebas lebih menyegarkan ketimbang asupan oksigen dari tabung. Ia mengasihani dirinya sendiri karena harus bernafas melalui alat itu.

Ia mendongakkan kepala, mengamati warna langit yang ternyata lebih cerah. Kalau dilihat dari balik jendela kamarnya, warna langit selalu gelap. Ternyata memang lebih nyaman menghabiskan waktu di luar kamar. Seharusnya ia membantah saja sejak dulu. Kenapa juga dokter melarangnya untuk keluar kamar.

Mata YoonA membulat begitu mendapati seorang pria berdiri di atap rumah sakit. Pria itu memakai baju yang sama dengannya, itu berarti dia pasien rumah sakit ini juga. Dan dilihat dari bawah sini, tingkah laki-laki itu seperti orang yang sedang berniat untuk terjun. Bunuh diri.

“YA! JANGAN LOMPAT! JANGAN BUNUH DIRI!” YoonA berteriak sekeras mungkin, hingga menarik perhatian banyak orang. Tak butuh waktu lama untuk membuat puluhan orang mendatanginya dan menanyakan apa yang terjadi. Tapi setelah orang-orang melihat ke atas atap, mereka hanya tersenyum simpul, bahkan ada yang menggerutu. Kerumunan itu segera membubarkan diri dan meninggalkan YoonA yang tidak mengerti apa-apa. Ia menatap semua orang heran. “Mwo?! Ada apa dengan semua orang itu?! Aish tidak punya hati!!”

YoonA bergegas menuju lift, berharap bisa mencegah laki-laki itu agar tidak bunuh diri. Ia langsung menuju lantai teratas gedung. Saat pintu lift terbuka, ia mendapati laki-laki yang ingin bunuh diri tadi telah berdiri di hadapannya dan masuk ke dalam lift dengan langkai santai.

“Kau?!” YoonA menuding laki-laki itu dengan telunjuknya. Sementara laki-laki itu hanya menatapnya heran.

“Kau yang tadi mau bunuh diri itu kan?!”

Laki-laki itu mengerjapkan matanya. Ia memperhatikan raut wajah YoonA yang begitu serius, kemudian ia teringat kejadian tadi. Refleks ia tertawa. “Kau yeoja yang tadi membuat keributan itu ya?” ujar laki-laki itu disela tawanya.

YoonA tidak merasa ada yang lucu, bahkan ia pikir ini adalah situasi yang sangat serius. Bisa-bisanya laki-laki itu tertawa disaat ia khawatir setengah mati. Kalau tahu akan ditertawai seperti ini, seharusnya ia biarkan saja laki-laki itu terjun. Tak perlu ia berlari dan berteriak seperti tadi.

Menyadari raut wajah YoonA yang sedang tidak ingin bercanda membuat laki-laki itu menghentikan tawanya. “Aku sudah biasa menghabiskan waktuku di sana. Semua orang sudah hafal dengan kebiasaanku itu. Sepertinya kau orang baru ya?”

YoonA merutuki dirinya sendiri. Pantas saja hanya dia yang heboh tadi. Lagipula, siapa juga yang tidak takut melihat seseorang berdiri di atas atap, sendirian pula. Wajar kan kalau YoonA berpikir itu adalah adegan percobaan bunuh diri? Dasar laki-laki aneh.

“Cho Kyuhyun imnida. Gomawo, karena kau sudah mengkhawatirkanku tadi.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah.

Awalnya YoonA ragu untuk meraih tangan itu, tapi tidak sopan juga kalau ia hanya diam saja. Ia pun menjabat tangan Kyuhyun dan tersenyum singkat. “Im YoonA.”

Pintu lift terbuka. YoonA menyadari bahwa ini adalah lantai 3, kamarnya berada di lantai ini. Ia pun melangkah keluar dan tidak diduga Kyuhyun juga melangkah keluar dari lift. Laki-laki itu menatap YoonA terkejut. “Kamarmu juga di lantai 3?”

YoonA hanya mengangguk. Tanpa basa-basi, ia pun pergi menuju kamarnya. Ia bersikap acuh, karena ia tahu ada yang tidak beres dengan jantungnya. Saat melihat Kyuhyun tersenyum, ia tahu jantungnya mulai berdetak tidak karuan. Dan bukannya ia tidak mau bicara, hanya saja bibirnya seakan terkunci rapat. Ia terlalu gugup untuk mengucapkan sepatah katapun.

YoonA menoleh ke belakang, hanya ingin melihat apakah Kyuhyun masih di sana. Dan wajahnya memerah saat menyadari Kyuhyun masih belum beranjak dari tempatnya. Laki-laki itu memandangi kepergian YoonA. Dan saat YoonA menoleh ke arahnya, Kyuhyun tersenyum ramah seraya melambaikan tangan. YoonA tidak bisa melakukan apapun selain tersenyum kikuk dan mempercepat langkahnya.

***

      Hari yang berbeda tapi dengan suasana yang sama membosankannya. Kenapa juga ia harus dirawat selama dua minggu di rumah sakit? Imya gara-gara kecelakaan kecil saja. Cuma kecelakaan mobil, lukanya juga tidak terlalu parah. Menyebalkan sekali para dokter itu harus melebih-lebihkan hasil diagnosa. Patah tulang, memar, luka bagian dalam? Omong kosong.

YoonA kembali menyelinap keluar dari ruangan. Toh dia juga bukan tahanan, jadi tidak salah kan kalau jalan-jalan sebentar saja. Kali ini ia teringat laki-laki bernama Kyuhyun itu. Apa iya menghabiskan waktu di atap rumah sakit itu menyenangkan? Sepertinya laki-laki itu sangat menikmatinya.

YoonA memutuskan untuk mencobanya, menghabiskan waktu seharian di atas atap. Tak ada salahnya mencoba suasana baru daripada ia harus mendekam seharian di kamarnya. Tapi, setelah sampai di tempat tujuan, gadis itu tidak terlalu terkesan. Imya begini saja atap rumah sakit. Hening dan kosong adalah suasana yang paling mendominasi.

YoonA memutuskan untuk mengamati pemandangan, mungkin saja dari atas sini terlihat lebih baik. Dan ia juga sudah mulai membiasakan diri menghadapi hembusan angin kencang yang membuat rambutnya sedikit berantakan. Ia berpegangan pada pagar pembatas dan mengamati pemandangan. Ia baru sadar ternyata pemandangan dari atas sini tidak buruk juga.

“YoonA-sshi?” tegur seseorang. Suaranya begitu familiar di telinga YoonA. Suara itu berhasil membuat jantungnya tidak karuan lagi.

Kyuhyun berdiri di samping YoonA dan pandangannya menerawang bebas. Ia memejamkan matanya dan menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Inilah saat dimana ia merasa semua beban dalam dirinya lenyap. Inilah saat dimana ia merasa hidup.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Kyuhyun seraya menatap YoonA.

YoonA tidak balas menatap. Ia bahkan menyibukkan pandangannya ke arah lain, menghindari kontak mata. “Aku bosan,” jawabnya singkat.

Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya.

Tak ada lagi yang memulai percakapan. Mereka berdua sama-sama menikmati momen. Tak ada yang spesial, hanya saja situasi seperti ini terasa berbeda. Walau tak ada yang bersuara, tapi suasana seperti ini tidak canggung. Tidak ada yang merasakan keanehan satu sama lain. Justru rasa nyaman yang saling mereka rasakan. Imya dengan berdiri berdampingan seperti ini, perasaan itu hadir.

YoonA menolehkan kepalanya, menatap Kyuhyun. Apa yang dimiliki laki-laki itu? Kenapa ia merasa begitu nyaman berada didekatnya? Bahkan saat ini, ketika ia menatap laki-laki itu, ia merasa damai. Melihat laki-laki itu tersenyum saja sudah berhasil membuatnya ikut tersenyum.

Merasa sedang diperhatikan, Kyuhyun pun menoleh. Inilah saat dimana mereka berdua saling terjebak dalam waktu yang berhenti. Kedua mata itu kini saling bertatapan dalam diam, saling terjebak dalam pemikiran masing-masing. Ketika waktu kembali berlalu, mereka berdua juga kembali dalam kesadaran. YoonA segera memalingkan wajahnya.

“Aku suka menatap matamu,” ujar Kyuhyun. Ia tersenyum simpul. “Kau memiliki mata yang indah.”

YoonA tak menggubris, tapi jantungnya kembali merespon hebat. Ia sangat membenci laki-laki yang suka merayu wanita. Tapi Kyuhyun bukan laki-laki seperti itu. Ia bisa merasakan bahwa Kyuhyun hanya mengatakan pendapatnya. Dan itu tulus.

“Jadi, apa saja yang biasa kau lakukan di sini?” YoonA mengalihkan pembicaraan.

“Imya melihat pemandangan dan menghirup udara segar. Pasti kau pikir itu membosankan.”

YoonA tertawa kecil. “Kurasa aku mulai merasakannya.”

“Apa?”

“Perasaan nyaman.”

“Nyaman berada didekatku?” Kyuhyun tersenyum jahil.

“Oh iya, sepertinya kau salah memilih waktu.” Kyuhyun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kemudian beranjak pergi. YoonA mengikutinya dari belakang, menunggu laki-laki itu melanjutkan kata-katanya.

“Seharusnya kau datang ke tempat ini malam hari.”

YoonA merasa tertarik mengenai perbincangan ini. “Aku bisa melihat bintang dari atas sini?”

Kyuhyun mengangguk. “Tempat ini yang terbaik.”

“Hmm mungkin aku akan ke sini malam ini.”

Kyuhyun menatap YoonA sekilas, kemudian ia tersenyum. “Aku akan menunggumu.”

***

      YoonA terkejut begitu mendapati Donghae sudah duduk di sofa kamarnya. Ia masuk dan menghampiri Donghae dengan perasaan bersalah.

“Dari mana?” tanya Donghae dingin.

“Mianhae…”

“Itu bukan jawaban bagiku.”

YoonA menundukkan kepalanya. “Aku hanya jalan-jalan ke taman. Aku bosan.”

Donghae menghela nafas lalu meraih tangan YoonA. “Mian, aku tidak bermaksud kasar. Aku hanya mengkhawatirkanmu.”

“Gwaenchana.”

Donghae menyuruh YoonA untuk duduk di sampingnya. Kemudian ia dengan cekatan mengeluarkan beberapa catatan dari dalam tas. Catatan kimia, matematika, dan fisika yang langsung membuat YoonA ingin kabur dari kamarnya detik ini juga.

Donghae tertawa mendapati raut wajah YoonA yang seakan-akan sedang dihadapkan oleh Malaikat Maut. “Ya! Wajahmu kenapa begitu?” Donghae masih tertawa.

“Aish, oppa, kau mau membunuhku?!” YoonA mengerucutkan bibirnya. Ia tidak habis pikir betapa jahatnya orang bernama Lee Donghae ini. Tidak pernah sekalipun membawa coklat atau cemilan. Setiap hari selalu saja membawa buku pelajaran.

“Ya! Kalau kau tidak belajar, memang kau bisa mengerti pelajaran di kelas?! Ayo semangat!” Donghae masih terus memaksa YoonA. Ia mencoba memasang tampang serius, walaupun sebenarnya ia sedang berjuang untuk menahan tawa.

“Shireo!” YoonA menggelengkan kepalanya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan menantang Donghae.

“Ya! Kau berani membantah sunbae mu?”

“Aish aku bosan oppa! Aku bosan belajar terus,” rengek YoonA.

Ya, Donghae paham. Semua orang juga pasti akan merasa bosan kalau disuruh membaca buku dengan segudang rumus di dalamnya. Ia pun merasakan itu. Akhirnya ia berbaik hati untuk memasukkan semua buku miliknya ke dalam tas dan mengeluarkan sebuah kotak makan. Ia membuka kotak itu dan memamerkannya pada YoonA. “Aku membawakanmu pancake. Tapi jangan sampai ketahuan pihak rumah sakit ya,” Donghae berbisik.

Mata YoonA berkilat saat melihat pancake dengan krim coklat yang kini seperti bersinar dihadapannya. Ia menatap Donghae antusias. “Gomawo oppa! Kau memang Malaikat Penyelamat!”

“Aish, bukankah biasanya kau menyebutku Malaikat Maut?” cibir Donghae.

YoonA hanya terkekeh. Ia pun melahap habis pancake yang dibawa Donghae.

“Ya! Kau tidak menyisakan satu untukku?? Dasar yeoja rakus!”

***

      Tidak terasa sudah hampir 3 bulan Kyuhyun menghabiskan waktunya di rumah sakit ini. Setelah 2 bulan lebih ia mengalami koma, sekarang inilah dirinya. Ia manusia paling beruntung yang berhasil bangun dari tidur yang panjang. Ia berhasil kembali.

Dan saat ini ia hanya bisa mensyukuri keajaiban itu. Makanya ia selalu menikmati harinya, walaupun hanya dengan menyendiri dan ditemani oleh hembusan angin. Tapi saat ini ia tidak sendirian. YoonA datang dan langsung terduduk di sampingnya.

“Semalam kau tidak datang.” Nada bicara Kyuhyun terdengar kecewa.

“Mian. Aku ada urusan.”

YoonA menjulurkan sebuah lollipop pada Kyuhyun. “Untukmu. Tidak enak kalau hanya duduk diam tanpa cemilan.”

Kyuhyun tersenyum simpul kemudian mengambil lollipop itu. “Tumben kau baik padaku.”

“Kalau tidak mau, kembalikan sini lollipopku!” YoonA mencoba merebut kembali lollipop itu namun Kyuhyun menghalanginya.

“Haha mian, aku kan hanya bercanda saja.”

Keterdiaman itu kembali muncul. Mereka berdua sama-sama menikmati lollipop seraya mengamati pergerakan awan. Memang kegiatan bodoh dan tidak menyenangkan, tapi bagi mereka berdua hal itu cukup menenangkan. YoonA tiba-tiba saja tertawa.

“Sejak kenal denganmu, aku jadi aneh begini,” YoonA menatap Kyuhyun. Laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya.

“Tapi berkat kau juga, aku jadi tidak merasa bosan di rumah sakit bodoh ini. Gomapta,” lanjut YoonA. Dan untuk pertama kalinya ia tersenyum hangat pada Kyuhyun. Senyuman itu mengembang begitu saja, refleks.

Kyuhyun tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia sepertinya sudah terikat dengan gadis itu. Konyol memang, tapi ia tidak bisa membantah.

“Ah sepertinya analisaku benar!” Kyuhyun berseru.

“Analisa apa?”

“Kau suka padaku.”

“MWO?” YoonA menatap laki-laki di sampingnya tidak percaya. Ya Tuhan, ternyata masih ada makhluk macam Kyuhyun di dunia ini. YoonA tidak habis pikir kenapa Kyuhyun berpikir seperti itu. Dan patut ia akui analisa Kyuhyun tidak sepenuhnya salah.

“Tuh kan kau tidak membantah,” Kyuhyun tersenyum jahil.

“Aish molla! Terserah kau saja!”

***

      Donghae kembali mendapati kamar YoonA kosong. Gadis itu memang keras kepala. Padahal Donghae sudah melarangnya untuk pergi, tapi tetap saja ia tidak mau menurut. Seharusnya YoonA lebih banyak beristirahat, mengingat kondisi fisiknya masih belum pulih. Apakah gadis itu tidak tahu kalau Donghae sangat mengkhawatirkannya?

Saat berjalan menuju lift, Donghae menemukan YoonA. Tapi gadis itu tidak sendirian. Seorang laki-laki berdiri di samping YoonA dan mereka berdua terlihat akrab. Donghae tahu YoonA bukanlah tipe orang yang mudah berteman dengan laki-laki. Tapi dengan laki-laki itu sepertinya berbeda. YoonA bisa tertawa lepas bersama laki-laki itu dan wajahnya sangat bahagia. Donghae tahu ia cemburu. Mengingat YoonA butuh waktu yang cukup lama untuk bisa akrab dengannya.

YoonA melambaikan tangan pada laki-laki itu dan berjalan ke arah Donghae. Pandangan mereka saling bertemu. Donghae menghampiri YoonA dan seketika suasana di sekitar mereka sangat canggung.

“Aku hanya jalan-jalan sebentar,” kilah gadis itu.

Donghae tersenyum sinis. “Dengan seorang laki-laki? Jalan-jalan atau pacaran?”

“Dia temanku! Lagipula, apa salahnya kalau aku jalan-jalan? Aku benci di kamar terus, oppa!”

Donghae menatap mata YoonA, memastikan apakah gadis itu berkata jujur padanya. Dan ia tahu gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu.

“Mau jalan-jalan bersamaku?” Donghae menggenggam tangan YoonA dan mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit.

YoonA merasa tidak nyaman berpegangan tangan dengan Donghae. Ia memutuskan untuk melepaskan genggaman laki-laki itu. Untuk beberapa saat, Donghae merasakan jarak yang sangat jauh antara dirinya dengan gadis yang berdiri tepat di sampingnya itu. Ia tahu ia tidak bisa mengharapkan apapun. Mereka berdua terlalu jauh.

“Oppa, kau datang ke sini untuk mengajariku matematika, kan? Ppali kita kembali ke kamar saja ya,” cetus YoonA. Ia berusaha mengenyahkan situasi aneh ini.

“Ani, aku hanya ingin bertemu denganmu. Tapi sepertinya kau butuh istirahat sekarang. Sebaiknya aku pulang,” Donghae tersenyum sekilas lalu melambaikan tangannya.

YoonA tidak bisa melakukan apapun selain memandangi punggung Donghae yang semakin lama semakin menjauh. Dan perasaan bersalah itu kembali muncul.

Kau laki-laki yang baik oppa, tapi aku hanya menganggapmu sebagai kakakku. Mianhae…

***

      Kyuhyun tersenyum melihat YoonA yang sedang tertidur lelap. Padahal ini baru jam 9 malam, tapi kenapa gadis itu sudah tidur? Padahal dia bilang mau melihat bintang. Mana ada bintang yang keluar siang hari.

Tadi Kyuhyun bertanya kepada perawat di mana kamar YoonA, makanya sekarang ia bisa berada di sini. Tapi karena orang yang ia ingin temui sedang tidur pulas, ia terpaksa membatalkan rencananya. Biarkan sajalah gadis itu tidur. Mungkin masih ada hari esok. Yah, kalau masih mungkin.

Mata YoonA perlahan terbuka dan ia langsung terkejut medapati Kyuhyun berdiri di samping ranjangnya. Sedangkan Kyuhyun hanya tersenyum seraya melambaikan tangan.

“Sedang apa kau di sini?” YoonA bangun dari tempat tidurnya. Ia mengucek mata berkali-kali, masih berusaha untuk menghilangkan rasa kantuk.

“Menjemputmu. Mau lihat bintang kan?”

YoonA menepuk dahinya. “Aigo! Kenapa aku bisa lupa! Ppali kaja!”  Ia turun dari tempat tidurnya dan refleks menarik lengan Kyuhyun.

Kyuhyun hanya bisa memandang YoonA kaku. Tubuhnya juga seakan sulit untuk mengikuti langkahnya. Saat YoonA menoleh, Kyuhyun berusaha untuk bersikap biasa. Meskipun segalanya terasa dipaksakan.

“Neo wae geurae? Gwaenchanayo?” YoonA menatap Kyuhyun cemas. Wajah Kyuhyun lebih pucat dari biasanya. Dan sikap laki-laki itu juga aneh, lebih pendiam.

Kyuhyun menjawabnya hanya dengan anggukan dan senyuman. Dan itu semakin membuat segalanya terasa janggal. YoonA akhirnya menyadari bahwa tangannya sedari tadi masih menggenggam lengan Kyuhyun. Wajahnya memerah dan ia segera melepaskan genggaman itu.

“Mian,” ujarnya kikuk.

Kyuhyun mengulurkan tangannya, mengusap lembut puncak kepala YoonA. Gadis itu hanya terdiam, menatap wajah Kyuhyun dengan penuh tanda tanya. Raut wajah laki-laki itu sangat misterius. Tatapan matanya sulit ia pahami. Dan senyumannya menyiratkan sesuatu yang rumit. YoonA tidak mengerti, tapi ia merasakan dadanya sakit. Perasaannya buruk.

“Kau benar tidak apa-apa Kyuhyun-ah?”

Kyuhyun kembali mengangguk. Genggaman yang tadi terlepas kembali terjalin. Kali ini Kyuhyun yang mengambil inisiatif. Ia meraih tangan YoonA dan menggenggamnya erat. Gadis itu juga tidak menolak untuk digenggam. Dan tidak seperti saat dengan Donghae, sekarang ini ia merasa nyaman. Sangat nyaman. Meskipun pikirannya masih terusik oleh satu pertanyaan, tentang Kyuhyun.

Kini mereka telah sampai di bagian teratas rumah sakit ini. Tempat yang bagi mereka berdua bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan. Tidak seperti kebanyakan orang yang lebih memilih untuk menghabiskan waktu mereka di kamar.

Pandangan mereka langsung beralih ke langit. Mata mereka sibuk meneliti setiap sisi langit. Tapi yang mereka lihat hanyalah kegelapan. Tidak ada satupun bintang yang bersinar di atas sana. Bahkan bulan pun hanya terlihat samar, tertutupi oleh awan.

“Tidak ada bintang,” YoonA merengut. Kyuhyun menatap gadis di sampingnya hangat. “Sebentar lagi pasti ada. Kau mau tunggu?”

YoonA mengangguk.

Mereka berdua duduk sambil terus menatap langit. YoonA berharap dalam hatinya. Ia ingin melihat bintang bermunculan di atas sana. Ia memang biasa melihat bintang, tapi ia tidak pernah melihat bintang bersama seseorang yang ia cintai. Kali ini, ia harap permohonannya itu bisa terwujud. Melihat bintang bersama orang yang ia cintai…

Tubuh YoonA menggigil dan ia mulai menggosok kedua tangannya. Udara di atas sini sangat dingin. Dan pakaian rumah sakit tidak cukup hangat untuk melindungi tubuhnya yang terasa membeku. Angin malam yang berhembus seakan berhasil menembus kulitnya dan membuat tubuhnya gemetar.

Kyuhyun menarik YoonA dalam pelukannya. Gadis itu hanya diam, awalnya karena ia terkejut, tapi lama-kelamaan karena ia merasa nyaman dalam pelukan ini. Ia tidak ingin melepasnya. Dan ia harap Kyuhyun tidak akan melepaskannya juga.

“Masih dingin?” Suara Kyuhyun memecah keheningan.

YoonA menggelengkan kepalanya. Ia memejamkan mata, menikmati momen ini. Tuhan ternyata begitu baik. Permohonannya tadi ternyata dikabulkan.

Kyuhyun tersenyum getir. Hatinya kembali terasa sakit. Seharusnya ia tidak terlalu egois pada gadis ini. Sekarang apa yang harus ia lakukan kalau situasinya sudah begini?

“YoonA, kau tidur?”

Tidak ada jawaban. Gadis itu mungkin memang sudah tertidur pulas dalam pelukan Kyuhyun.

Kyuhyun menghela nafas panjang. Ia membelai rambut YoonA lembut. Ia menengadahkan wajahnya, kembali berharap waktu bisa berhenti sekarang juga. Momen ini harus abadi, tidak memiliki akhir. Tuhan, Kau harus menghentikan waktu sekarang juga. Atau Kau harus memutar ulang waktu dan mencegah gadis ini agar tidak bertemu denganku.

“Saranghae YoonA-ya. Aku mencintaimu.” Kyuhyun mempererat pelukannya. Dan YoonA tersenyum dalam pelukan itu. Kata-kata itu adalah kata-kata terindah yang pernah ia dengar. Dan sekali lagi, Tuhan telah mengabulkan permohonannya. Memang tidak ada bintang di atas sana, tapi bintang itu muncul dihatinya. Dan di sampingnya.

Kyuhyun bangkit dan menggendong YoonA. Ini sudah terlalu larut, sebaiknya YoonA istirahat di kamarnya. Ia juga perlu istirahat untuk besok. Kata dokter begitu. Walaupun ia yakin malam ini ia tidak akan bisa tidur.

Sesampainya di kamar YoonA, Kyuhyun membaringkan tubuh gadis itu hati-hati. Sekali lagi ia perhatikan wajah gadis itu. Mungkinkah ia bisa melihatnya seperti ini lagi? Mungkinkah kedua mata ini masih mengizinkan dirinya untuk melihat?

Kyuhyun mengecup kening YoonA. Air matanya jatuh, menelusuri pipi YoonA. Hati YoonA hancur merasakan air mata itu. Ia tidak pernah tidur sejak tadi. Saat ia berada dalam pelukan itu, ia terus menikmati detak jantung Kyuhyun. Saat Kyuhyun menggendongnya, ia terus saja menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Dan saat Kyuhyun mengecup keningnya, ia bisa merasakan pipinya berubah kemerahan. Tapi air mata itu… air mata itu membuat hatinya tersayat. Ia ingin sekali membuka mata dan bertanya. Namun yang ia lakukan hanya diam.

YoonA membuka mata perlahan begitu mendengar suara pintu tertutup. Kyuhyun sudah pergi. YoonA terus memandangi pintu itu, berharap Kyuhyun akan masuk melewatinya dengan wajah jahil. Bukan dengan wajah penuh rahasia seperti tadi. Wajah itu menyembunyikan sesuatu.

***

      Kamar 707. Jantung YoonA berdegup kencang saat ia berdiri di depan kamar milik Kyuhyun. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan laki-laki itu dan mengatakan semuanya. Mengutarakan perasaannya. Mungkin seharusnya ia mengatakan hal itu semalam. Tapi tidak ada kata terlambat, bukan?

YoonA membuka pintu dan menyembulkan kepalanya. Tapi yang ia lihat hanyalah kamar kosong. Papan nama yang tertera di pintu memang bertuliskan ‘Cho Kyuhyun’, tapi laki-laki itu tidak ada di dalam.

YoonA menutup kembali pintu itu dan tatapan matanya kosong. Ia segera berlari ke arah suster yang sedang berdiri tak jauh darinya.

“Permisi suster, pasien bernama Cho Kyuhyun dirawat di kamar 707, kan?”

Raut wajah suster itu berubah. “Ne. Tapi, maaf, ada hubungan apa Anda dengan Tuan Cho?”

“Aku temannya. Apa sekarang dia sudah pindah kamar? Kulihat kamarnya seperti sudah dikosongkan.”

Suster itu hanya bisa menatap YoonA dengan perasaan bersalah. “Apakah Anda bernama Im YoonA?”

YoonA mengangguk. Dan kali ini hati kecilnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Hati kecil yang dari kemarin bersikeras bahwa Kyuhyun sedang menyembunyikan sesuatu.

“Mari ikut saya.”

YoonA hanya bisa mengikuti langkah suster itu. Perasaannya masih tidak tenang. Kali ini jantungnya berdegup keras bukan karena ia bahagia. Walaupun disebabkan oleh orang yang sama, tapi kali ini dengan situasi yang berbeda.

Langkah mereka berdua terhenti di depan sebuah ruangan besar. Beberapa orang duduk di kursi dengan wajah sendu. Mata mereka sembap dan tatapan mereka sayu. Tidak ada yang tersenyum. Semuanya masih dengan ekspresi yang sama. Menyedihkan.

“Tuan Cho sedang menjalani operasi. Pernahkah ia menceritakan pada Anda kalau ia pernah mengalami koma selama 2 bulan?”

YoonA membekap mulutnya. Tidak, Kyuhyun tidak pernah memberitahu apapun. Dan wajahnya tidak pernah terlihat seperti orang yang pernah berjuang melawan kematian. Tapi, wajah malam itu sepertinya sudah menjelaskan. Wajah Kyuhyun yang begitu datar. Jadi inikah sebabnya?

YoonA hanya bisa menggeleng dan matanya mulai memanas.

“Hasil diagnosa dokter menyatakan bahwa jantung Tuan Cho tidak berfungsi dengan baik. Terjadi kebocoran akibat tertusuk benda tajam saat kecelakaan itu terjadi. Kami akan berusaha untuk menyelamatkannya kembali. Kami mohon doamu, Nona.”

Tangis YoonA pecah sejak pertama kali mendengar penjelasan itu. Ia tahu kedua kakinya tidak mampu lagi untuk menopang tubuhnya. Saat ini kedua kaki itu terlalu lemah untuk berpijak dan ia pun terjatuh. Ia tidak bisa melakukan apapun selain menahan tangisnya agar tidak terlalu histeris. Tapi itu bukan kehendaknya dan ia tidak bisa menghentikan itu.

Seseorang menghampirinya dan membantunya untuk berdiri. “Agasshi, neo gwaenchana?” tanya seorang wanita cantik dihadapannya. Wajah wanita itu mirip dengan Kyuhyun.

“Cho Ahra imnida, kakaknya Kyuhyun.”

YoonA mengusap air matanya. Berusaha untuk menenangkan diri dan bersikap tegar. “Im YoonA imnida.”

Ahra tersenyum hangat pada YoonA. Ia menyuruh YoonA untuk duduk di sampingnya dan menunggu Kyuhyun bersama. “Kau menyayangi Kyu?”

YoonA mengangguk.

“Kalau begitu berhentilah menangis. Kau tahu tidak apa yang Kyuhyun katakan padaku sebelum dia menjalani operasi?”

YoonA menatap Ahra penuh tanya. Ia masih berusaha untuk berhenti menangis. Usaha yang sia-sia.

“Dia bilang ‘noona, kalau nanti yeoja bernama Im YoonA muncul, bilang padanya jangan menangis. Yeoja itu sangat cengeng.’” Ahra tertawa geli begitu mengingat wajah adiknya yang begitu santai mengatakan hal itu.

YoonA tertawa kecil. Dasar Cho Kyuhyun, disaat seperti itu saja ia masih bisa bercanda.

“Ya! Cho Kyuhyun! Cepatlah sadar supaya aku tidak menangis!” ujar YoonA. Ia berusaha untuk ceria walaupun ia tahu nada bicaranya terdengar menyedihkan.

***

      Setelah melewati 24 jam penuh waktu operasi, Kyuhyun akhirnya boleh dijenguk. YoonA tidak tahu apa-apa mengenai keadaan Kyuhyun. Yang ia tahu, laki-laki itu berhasil. Dan kenyataan itu sudah cukup membuat dirinya tersenyum. Tapi kenapa dadanya masih terasa sesak?

Ahra menepuk pundak YoonA. “Kau mau masuk? Menurutku, orang pertama yang ingin ia lihat adalah kau.”

YoonA tersenyum dan ia mengikuti Ahra memasuki ruangan. Ia melihat Kyuhyun masih terbaring di atas ranjang, wajahnya masih pucat. Tapi mata laki-laki itu tidak terpejam dan senyuman di wajahnya sudah mengembang. Ia menyambut YoonA dengan wajah cerianya. Meskipun tatapan mata itu masih terasa misterius.

“Annyeong yeoja cengeng!” Kyuhyun tersenyum jahil.

“Ya! Kau yang membuatku cengeng tahu!” YoonA cemberut.

Kyuhyun tersenyum menatap YoonA. Ia bersyukur ternyata ia masih bisa membuka matanya dan melihat YoonA sekali lagi. Tuhan masih memberikannya waktu.

“YoonA-ya, mau melihat bintang lagi bersamaku?”

Perubahan ekspresi Kyuhyun membuat YoonA takjub. Laki-laki itu bisa berubah menjadi jahil lalu berubah menjadi serius hanya dalam waktu beberapa detik. Sebaiknya Kyuhyun bekerja menjadi aktor saja.

“Aku mau,” jawab YoonA mantap.

“Tapi ada satu permintaanku.”

YoonA mengerutkan dahinya. “Apa?”

“Jangan tidur lagi. Kau berat tahu! Masa aku harus menggendongmu?” Kyuhyun menjulurkan lidahnya lalu tertawa mengejek. Sementara YoonA berdecak sebal dan memukul lengan Kyuhyun ringan.

Ternyata ini yang disebut akhir bahagia ya? Kyuhyun masih hidup, bukankah itu membahagiakan? Tapi tetap saja, kenapa dada YoonA masih terasa sesak? Kenapa hati kecilnya masih ragu?

***

      Kyuhyun dan YoonA seakan kembali pada malam itu, malam dimana mereka menghabiskan waktu bersama di atas sini. Bedanya, waktu itu tidak ada bintang satu pun. Tapi malam ini bintang-bintang itu seakan riang menampakkan diri.

“Wah daebak!” YoonA menatap kagum gugusan bintang yang berkelip terang di atas sana.

Kyuhyun dan YoonA berbaring memandangi langit. Keduanya memejamkan mata, menikmati hembusan angin. Wangi angin yang entah kenapa menusuk, namun terasa menyegarkan. Malam ini dingin, tapi kehangatan tercipta di antara mereka.

“Saranghae…” bibir Kyuhyun mengucapkan kata itu lagi. Ia menolehkan kepalanya ke arah gadis di sampingnya. Gadis yang saat ini tersenyum manis padanya.

“Aku tahu. Kau juga mengucapkannya malam itu.”

Mata Kyuhyun membulat. “Kau mendengarnya?? Aish kukira kau tidur.”

YoonA tertawa. “Aku kan hanya pura-pura saja.” Gadis itu diam sejenak, kemudian tangannya meraih tangan Kyuhyun dan menggenggamnya erat. “Nado saranghae.”

Kyuhyun tersenyum dalam diam. Ia kembali memejamkan matanya, menikmati momen malam ini bersama wanita yang ia cintai. Tidak sia-sia ia bertahan hidup. Andai saja ia menyerah waktu itu, mungkin ia tidak akan pernah merasakan perasaan ini. Ia tidak akan pernah bertemu dengan YoonA.

“Kyu, sebaiknya kita masuk. Tanganmu dingin sekali.”

Kyuhyun tidak menjawab. Ia masih terus menggenggam tangan YoonA erat. Bagaimana kalau ternyata Tuhan tidak memberikan waktu lagi untukku, YoonA?

YoonA kembali mengamati langit, sambil sesekali mengamati wajah Kyuhyun yang terlihat begitu tenang. Gadis itu mendadak terbangun saat ia melihat bintang jatuh.

“Kyu! Lihat itu ada bintang jatuh! Cepat buat permohonan!” YoonA berseru. Namun Kyuhyun tetap diam dalam tidurnya. Ia tampak pucat, tapi wajahnya terlihat begitu damai. Seakan laki-laki itu sedang tersenyum.

YoonA meyakinkan dirinya bahwa Kyuhyun memang tertidur. Atau mungkin Kyuhyun sedang mengerjainya. Kau sedang berpura-pura tidur kan, Cho Kyuhyun?

Namun, YoonA menyadari bahwa selama ini hanya dia yang menggenggam erat. Tangan Kyuhyun sudah tidak menggenggamnya lagi. Tangan itu terjatuh lunglai saat YoonA melepaskannya. Hati YoonA benar-benar sesak saat pikiran itu terngiang dalam otaknya. Ia tetap mengatakan ‘tidak’. Ia terus membantah pemikiran buruk yang menderu otaknya. Saat ini ia kalut, tapi ia berusaha tenang. Ia yakin Kyuhyun bercanda. Tapi…benarkah?

“Ya! Tidak lucu! Jangan bercanda seperti ini Kyuhyun-ah!”

Kyuhyun tetap diam.

YoonA menggoyangkan tubuh Kyuhyun, tapi laki-laki itu tetap tidak merespon. Ia merengkuh Kyuhyun dalam pelukannya. Benarkah ini terjadi, Tuhan? Secepat inikah kau mengambil kembali permohonanku?

Malam itu, ia begitu senang mendengarkan detak jantung Kyuhyun. Tapi malam ini, ia tidak  bisa mendengarkan jantung itu berdetak.

Malam itu, ia bisa merasakan tubuh Kyuhyun begitu hangat. Tapi malam ini, tubuh Kyuhyun terasa begitu dingin.

Jika pada malam itu tidak ada bintang, YoonA masih mampu melihat bintang di sampingnya. Tapi malam ini, saat bintang-bintang itu bertaburan di atas sana, bintang di sampingnya redup.

  ***

29 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s