SMILE AGAIN

Title : Smile again

Author : Qey.yeonSone a.k.a Kikiy

Cast :

-Kim Taeyeon (SNSD)

-Park Jungsoo a.k.a Leeteuk (SuJu)

-Kim Youngwon a.k.a Kangin (SuJu)

Other Cast :

Lee Eunhyuk (SuJu), Kim Hyoyeon (SNSD) <as Kangin’s umma>, Sandara Park (2NE1), and other

Genre : Romance, AU

Rating : PG-14

Pair : KangTaeTeuk

Disclaime : plot is mine. Don’t be a plagiator, okay? Cast punya Tuhan YME.

PS : ini ceritanya diluar kehidupan nyata Taeyeon. Tapi, ceritanya tae ma kangin kerja jdi DJ di Radio Chin Chin. Ok?

DON’T BE A PLAGIATOR!

leave a comment…

 

~tatkala keputusasaan melanda hatiku. Tak ada yang kupikirkan selain mati~

 

 

~~

 

 

Seorang yeoja manis tengah mengutak-atik sebuah gadget yang tak lain dan tak bukan adalah ponselnya itu dengan bingung. Perasaan galau tengah menyelimuti dadanya. Sesekali tangannya menggaruk kepala kesal, kendati sejatinya kulit kepalanya tidak gatal sama sekali.

 

“Taenggo~ belum pulang?” seorang namja berambut pirang menyapanya.

 

Yeoja yang tadinya mencurahkan seluruh kensentrasinya pada ponsel itu kini menoleh. Mendapati namja yang menyapanya.

 

“Ah, Eunhyuk Sunbae. Aku masih ada sedikit pekerjaan. Hehe…” jawab yeoja yang dipanggil Taenggo itu.

 

“Aah~ begitu rupanya. Kalau begitu aku duluan, ne?”

 

Baru saja Eunhyuk hendak melangkah pergi. Taenggo atau Taeyeon, nama aslinya. Menannyakan sesuatu, membuat Eunhyuk mengurungkan niatnya.

 

“Ah, chankamman Oppa. Kau tahu, kenapa Kangin Oppa tidak berangkat?” tanya Taeyeon.

 

Eunhyuk mengangkat sebelah alisnya. Ia memainkan bola matanya seolah sedang menggali ingatannya berusaha mengingat sesuatu. Tapi ujung-ujungnya, ia mengendikkan bahu.

 

“Mollayo… Ah, kau tidak perlu risaukan namjamu itu. Aku yakin dia sehat-sehat saja.”

 

Taeyeon mendengus. Sedikit kesal karena ia tidak berhasil mendapatkan info tentang namja chingunya itu.

Sekali lagi dia menekan angka 1 pada ponsel touchscreennya. Lantas menekan tombol hijau.

 

~maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silahkan coba beberapa saat lagi~

 

Taeyeon menekan tombol berwarna merah dengan gemas.

 

“Kemana dia? Kenapa tidak masuk? Setidaknya ia harus hubungi aku dulu jika memang tidak masuk. Aaaaaah~~ menyebalkan!” Taeyeon menelungkupkan wajahnya dimeja.

 

~~

 

Taeyeon membuka pintu apartemennya dengan asal-asalan. Ia menutupnya lagi dengan cara menendangnya. BRAK! Bahkan Taeyeon pun terlonjak kaget. Ia melanjutkan langkahnya ke arah kamarnya. Dengan malas ia menghempaskan badan kecil mungil nan imutnya *?* ke kasur. Menimbulkan suara ‘BLESSS…’ pada kasur busanya.

 

Dengan posisi telungkup, ia mengerutu. Lagi-lagi tentang namja chingunya.

 

~~

 

Esoknya…

 

 

Taeyeon memandangi ponsel hitamnya dengan tatapan berharap. Berharap ada sebuah telepon atau sedikitnya sebuah pesan singkat dari Kangin, namja chingunya. Seharian kemarin ia tidak menghubungi Taeyeon sama sekali. Kangin juga tidak berangkat kerja. Membuat Taeyeon selalu bergumam ‘Kemana perginya?’

 

DRRTT…DRRTT… Taeyeon membelalakkan matanya. Sebuah sms masuk ke ponselnya. Nyaris saja Taeyeon berteriak histeris, andai saja ia tidak ingat mungkin saja tetangganya akan mengomel mendengar teriakan Taeyeon.

 

Dengan semangat membara *?* ia buka sms itu tanpa melihat sendernya. Ia merasa yakin itu pasti dari Kangin.

 

~dimana kau? masuk tidak hari ini? kenapa belum berangkat?~

 

Taeyeon menatap layar ponsel dengan bingung.

 

‘Pesan macam apa itu? Kenapa dia yang tanya?’ batin Taeyeon bingung.

 

Taeyeon kemudian melirik sendernya. ‘EUNHYUK SUNBAE’

 

Taeyeon mengumpat kesal. Ingin sekali ia makan bulat-bulat ponsel satu-satunya itu. Hampir saja gadget itu membuatnya lega setengah mati, tapi kemudian membuatnya mati kesal.

 

“Chankamman,” gumamnya.

 

Taeyeon kembali menatap layar ponsel. Mencermati isinya. Sedetik kemudian ia tersadar.

 

“KYAAA… Aku terlambaaat…..” pekiknya nyaring.

 

~~

 

“Dasar! Terlambat lagi!” omel Manager kepada Taeyeon. “Jangan ulangi lagi, arra?”

 

“Arraseo!” balas Taeyeon sok semangat. Seolah berusaha membuat Manager luluh akan semangatnya.

 

“Sudah sana, pergilah bekerja!”

 

“Ne!”

 

“Huft, terimakasih Tuhan. Kau masih menyisihkan sebagian kasih sayangmu untukku pagi ini.” bisik Taeyeon senang.

 

~~

 

~Nareur deo saranghage mandeuljimothan, nae jalmosijyo…

Naega deo saranghaeso, mandeureobeorin, nae jalmosijyo~

 

Lagu Mistake yang dibawakan Girls Generation mengalir lembut ke telinga Taeyeon. Melalui kabel putih yang disambungkan dari iPod berwarna senada, mengalir hingga kedua telinga Taeyeon. Lagu itu membuat Taeyeon lupa sesaat akan kekesalannya pada Kangin. Taeyeon menganggukkan kepalanya menikmati setiap alunan lagu favoritnya itu. Sesekali mulut Taeyeon ikut bersenandung ria.

 

Tiba-tiba… Gelap. Buku-buku jari menutup mata Taeyeon secara tiba-tiba.

 

“Jari ini…” batin Taeyeon

 

Jari-jari yang gemuk ini… Jari yang besar tapi lembut ini. Bisa Taeyeon rasakan kini menutup lembut matanya. Taeyeon sangat mengenal  jari tangan ini… Taeyeon kenal pemiliknya… Bibir mungil Taeyeon menyunggingkan senyum bahagia.

 

“Kemana saja kau Oppa?” sahutnya pura-pura ketus.

 

Orang itu terkekeh.

 

“Aku ketahuan rupanya.” balas namja itu masih menyisakan sebagian tawanya.

 

“Tentu saja, siapa lagi yang punya hobi membuat orang buta sesaat?”

 

Namja itu kembali tertawa. Kali ini lebih lepas.

 

“Ya, berhenti tertawa dan lepaskan aku. Kangin Oppa.”

 

“Adwae.”

 

“Ya! Aku bisa benar-benar buta.”

 

“Haha. Mana mungkin. Aigoo~ pacarku ini bodoh sekali. Ngomong-ngomong, tebak apa yang aku bawa Tae.”

 

“Eungg~~” Taeyeon mengeluarkan suara seolah-olah ia sedang berfikir.

 

“Ddukbokki?” cetus Taeyeon kemudian.

 

“Bodoh~” desis Kangin.

 

Giliran Taeyeon tertawa. “Kau mau lepas tidak, Oppa?”

 

“Gurae, hajiman. Tetap tutup matamu, arra?”

 

“Hmmm… Ne.” Taeyeon merasakan perlahan tangan Kangin terlepas dari kelopak matanya.

 

Jantung Taeyeon berdenyut berkali-kali lebih kencang dari biasanya. Membuat aliran darahnya lebih cepat mengaliri tubuhku.

 

Cup, Kangin mengecup kelopak mataku.

 

“Aish, apa dia berniat membunuhku perlahan karena membuat jantungku berhenti seketika?” batin Taeyeon.

 

“Buka matamu, chagi.”

 

Perlahan, Taeyeon membuka kedua kelopak matanya yang tertutup cukup lama itu. Awalnya mata Taeyeon sedikit berkabut karena terlalu lama tertutup. Setelah matanya mulai terbiasa, ia menangkap sosok yang sangat ia damba itu di depanku. Tengah tersenyum membawa sesuatu.

 

Raut Taeyeon berubah. Senyum Taeyeon mendadak hilang digantikan wajah terkejut menatap apa yang Kangin bawa. Sebuah kotak berludu *?* berwarna merah dengan dua cincin berbeda ukuran didalamnya.

 

Masih dalam keadaan terkejut, Kangin memasangkan cincin kecil di jari manis Taeyeon.

 

“Pas sekali.” gumam Kangin entah pada siapa.

 

Kangin kembali menatap Taeyeon. Kali ini tersirat dengan sangat jelas keseriusan di wajah Kangin.

 

“My girl, would you marry with me?”

 

Mata Taeyeon bergerak-gerak bingung. Ia menatap dalam mata Kangin, berusaha mencari kebohongan disana. Namun nihil, yang ada hanya keseriusan yang mendalam disana.

 

Otak Taeyeon masih berusaha mencerna apa yang dikatakan Kangin. Tiba-tiba, mata Taeyeon  berlapiskan air bening, yang kemudian jatuh melewati pipinya dengan mulus.

 

Dengan mantap ia menjawab, “I do…”

 

~~

 

Beberapa minggu kemudian…

 

Pernikahan Taeyeon sudah didepan mata. Semua persiapan telah di rancang dengan sedemikian rupa. Gedung, katering, undangan, cincin pernikahan, dan bahkan tanggal pernikahan pun usai dipersiapkan dengan matang.

 

Gadis itu kini tengah duduk bersila menghadap ke TV yang sesungguhnya tidak ia tonton sama sekali. Pikirannya melayang-layang. Tengah mengingat-ingat apa yang agaknya belum ia pesan untuk persiapan pernikahannya. Jari telunjuknya mengetuk-etuk dagu runcingnya. Ia menggaruk kepala.

 

“Aish… Apa lagi ya? Aku seperti kelupaan sesuatu.”

 

DRRT… DRRTT… Ponsel Taeyeon bergetar, membuatnya sedikit berubah posisi. Diraihnya ponsel itu, ~Omma~

Taeyeon menyerit. Untuk apa ommanya menelpon?

 

CLICK.

“Yeoboseyo?”

 

“Taeyeon-a. Apa kau sudah memesan gaun pernikahan, eh?” tanya ommanya to the point.

 

“Ahhh… Benar! Gaun pernikahan. Kenapa aku bisa lupa? Aish!” Taeyeon memukul kepalanya sendiri.

 

“Kalau begitu, cepatlah pesan bersama Kangin. Tanggal pernikahan kalian sudah dekat.”

 

“Ne~ josumnida. Akan kubicarakan dengan Oppa nanti. Annyeong.”

 

-CLICK- Taeyeon mematikan sambungan telepon.

 

“Gaun pengantin…” gumamnya.

 

~~

 

Esoknya…

 

“Yeosobeyo, Oppa?” Taeyeon tampak sedang berbicara dengan ponselnya pagi ini. Menelpon siapa lagi jika bukan namja chingunya?

 

“Mwo?” Taeyeon nampak kaget.

 

“…”

 

“Aish, kalau sekarang tidak bisa. Lantas kapaan?” desis Taeyeon.

 

“…”

 

“Aku tidak mau tahu! Oppa harus menjemputku pagi ini! Kita pesan gaun pengantin bersama!” bentak Taeyeon tak mau kalah.

 

“…”

 

“OPPA!!”

 

Hening sejenak. Sayup-sayup terdengar helaan nafas dari seberang.

 

“…”

 

Wajah marah Taeyeon berubah menjadi cerah.

 

“Palli. Aku tunggu di apartemen. Benar ya?” suara manja Taeyeon lah yang kini yang terdengar.

 

“…”

 

“Annyeong. Nado saranghae.”

 

~~

 

Sekali lagi Taeyeon mengalihkan kepalanya ke arah jam berwarna pink yang ada di dinding apartemennya. Jarum panjang jam itu kini sudah menunjuk ke angka 3. Menandakan bahwa namja chingunya terlambat 15 menit dari waktu yang sudah mereka sepakati.

 

Taeyeon menggembungkan pipi kesal. Ia menarik nafas panjang. Berusaha merelakskan sistem kerja otaknya yang sedikit terganggu karena emosi.

“Gwenchana, Taeyeon! Baru 15 menit. Mungkin Oppa hanya terjebak macet. Gwenchana. Tenang~ tenang~ huuuf~” ucapnya yang tak lain hanya pada dirinya sendiri.

 

~~

 

Untuk keberapa ratus kalinya, Taeyeon kembali menatap jam dinding pinknya itu. Seolah jam pink itu adalah tontonan favorit terbarunya. Jarum panjang yang tadinya menunjuk ke angka 3, kini sudah meninggalkannya dan kini terus bergerak hingga angka 9. Dengan gusar, Taeyeon mengetuk-ketukkan jarinya di meja.

 

“Terlambat 45 menit. Apa dia memang tidak berniat untuk datang, huh? Sial!”

 

DRRTT… DRRTTT… Taeyeon mendesis kesal.

 

“Mau bilang jika tidak bisa datang, eh?” bentak Taeyeon pada ponselnya.

 

Tak ayal bentakkannya tidak terjawab sama sekali. Dengan enggan ia raih ponselnya.

 

-CLICK-

 

“Yeosobeyo? OPPA! Neo eoddiga?” pekik Taeyeon kesal.

 

“Jwesonghamnida, nuguya? Ini ponsel Kim Youngwon dan apakah anda kaluarga dari Kim Youngwon?” sebuah suara namja asing terdengar di seberang telepon.

 

Taeyeon tertegun sejenak. Pikirannya membayangkan yang tidak-tidak, termasuk bahwa kemungkinan namjanya diculik *?*. Ia menggigit bibirnya. Dengan bibir bergetar ia menyahut.

 

“Ani, ini Kim Taeyeon. Yeoja chingunya. A… Anda siapa?”

 

“Maaf mengganggu, kami hanya menghubungi nomor 1 di ponselnya. Saya dari pihak kepolisian, mengabarkan bahwa Kim Youngwon telah mengalami kecelakaan, dan korban meninggal di TKP. Saat ini jenazah sudah dibawa ke rumah sakit. Mobilnya menghantam sebuah truk besar. Jika anda yeoja chingunya, bisakah anda menghubungi keluarga Tuan Youngwon?”

 

“Nde?” hanya satu patah kata yang mampu meluncur dari bibir Taeyeon yang semakin bergetar hebat.

 

Matanya membelalak lebar, sedikit bergerak-gerak. Mulutnya sedikit menganga, menampilkan dua gigi terdepannya. Ia menelan ludah. Belum percaya sepenuhnya, Taeyeon memaksakan seulas senyum.

 

“A… Anda… Bercanda bukan?”

 

Hening… Keheningan yang semakin membuat kegusaran Taeyeon menjadi.

“Tidak, agasshi. Jwesonghamnida, kami turut prihatin.”

 

“Tidak, tidak. Pak, anda pasti salah. Kim Youngwon itu ada banyak. Dia pasti bukan Kim Youngwon kekasihku. Dia akan menjemputku hari ini untuk membeli gaun pengantin. Ia pasti hanya terjebak macet saja.”

 

Hening… Lagi-lagi heninglah yang tercipta.

 

“Jwesonghamnida agasshi. Tapi Kim Youngwon ini adalah Kim Youngwon atau yang biasa dipanggil Kangin.”

 

Bruk…

Badan Taeyeon lemas seketika, dan akhirnya terduduk lemas di lantai. Ponselnya ia biarkan jatuh menghantam lantai apartemen dengan keras. Ponselnya pecah. Seolah menggambarkan hatinya yang sudah remuk redam menghantam kejamnya takdir.

 

Kali ini… Ia merasa tidak punya lagi tumpuan untuk dirinya. Merasa sebagian besar dari hidupnya telah direnggut. Merasa kunci gerbang kebahagiaannya telah lenyap sama sekali. Semua perasaan yang terbesit secara bersamaan itu membuat benteng pertahanannya ambruk dan akhirnya runtuh sama sekali. Tangisnya pecah, sangat pilu bagi siapapun yang mendengarkannya…

 

~~

 

Pemakaman Kangin berlangsung sangat memilukan. Tangisan mengiringi kepergiannya yang sama sekali tidak ada yang menyangka itu. Kematian, sebuah kematian nyatanya adalah sebuah hal yang sangat mudah. Tidak ada yang menyangka, seorang Kim Youngwon Kangin, yang tengah menunggu hari bahagia atau pernikahannya. Tiba-tiba meninggalkan dunia ini dengan tragis…

 

Lee Eunhyuk, dan semua staff radio Chin Chin datang ke upacara pemakaman itu.

 

Eunhyuk menyalami Kim Hyoyeon, ibu Kangin yang tengah menangis tersedu-sedu. Merasa belum menemukan seseorang, Eunhyuk pun menannyakannya.

 

“Ahjumma, saya dan segenap staff Chin Chin turut berbela sungkawa.” ucap Eunhyuk dengan nada sedih. Berusaha mengalirkan rasa empati dan simpatinya pada Hyoyeon ajhumma.

 

“Ne, Eunhyuk-ssi. Kamsahamnida.”

 

Eunhyuk mengedarkan pandangannya ke gerombolan sekitar para keluarga. Baik keluarga Kangin maupun Taeyeon. Tapi yang ia cari belum juga nampak batang hidungnya.

 

“Eung, Hyoyeon ahjumma. Kalau boleh saya tahu, dimanakah Taeyeon? Pasti dia sangat terpukul sekali.”

 

Hyoyeon ahjumma nampak mengedarkan pandangannya.

“Seingatku dia tadi bersamaku. Dia tadi terus menangis di sebelahku. Kemana dia?” kini raut wajah Hyoyeon ahjumma nampak panik.

 

Ia memanggil keluarga lainnya. Ia juga memanggil orang tua Taeyeon. Menannyakan keberadaan Taeyeon. Namun semuanya menjawab ‘molla’. Suasana yang tadinya berkabung, kini menjadi suasana panik. Semua orang yang ada di situ panik dengan hilangnya Taeyeon.

 

“Ahjumma, Taeyeon oddiga?” tanya Eunhyuk yang juga panik.

 

“Entahlah, dia menghilang…”

 

~~

 

Sebuah gedung dengan papan reklame ‘Chin Chin Radio’, terlihat lengang. Tidak seperti biasanya yang ramai orang hilir-mudik bekerja di sana.

 

Seorang yeoja mungil, mengenakan setelan jas dan rok selutut berwarna hitam tengah meringkuk di lantai. Mendekap kedua kakinya. Matanya menatap lurus kedepan. Entah apa yang ditatapnya, namun pandangannya terlihat tidak memiliki arti. Kosong sama sekali.

 

Bibirnya bergetar kecil. Wajahnya pucat pasi, menandakan kondisinya yang tidak sepenuhnya sehat.

 

“Oppa, aku sendirian. Aku takut. Dimana kau? Kenapa tidak menemaniku…” ucap gadis itu lirih.

Tembok, meja, lantai seolah menjadi saksi bisunya saat ini. Keheningan menjadi teman dekatnya. Saat ini, gadis itu merasa sendiri…

 

~~

 

“Teman kami, Kim Youngwon atau yang lebih akrab disapa Kangin. Kemarin, telah berpulang. Saya, Sandara Park dan segenap staff Radio Chin Chin turut berbela sungkawa. Kamsahamnida, annyeong.” yeoja bernama Sandara Park yang juga DJ di radio Chin Chin melepas headsetnya.

 

Ia keluar dari ruang ON AIR yang baru saja ia masuki. Kepada rekan kerjanya ia mengajak mereka untuk ke rumah Kangin.

 

“Huft, sepi sekali tempat ini.” ucap Sandara.

 

“Ne. Aku masih tidak percaya seorang Kangin meninggal.” sahut namja rekan Sandara.

 

Sandara mengangguk, “Kkaja kita harus lekas ganti baju, lantas pergi kerumah Kangin menyusul yang lainnya.”

 

“Josumnida, aku sangat kasihan dengan Taeng. Dia pasti sangat terpukul karena mereka kan sebenarnya akan menikah.”

 

Untuk kedua kalinya Sandara mengangguk. Tiba-tiba ia berhenti. Badannya mengejang. Seolah melihat sesuatu.

 

“Waeyo?” tanya si namja.

 

“Lihat itu.” tunjuk Dara ke salah satu sudut ruangan.

 

“Apa? Aku tidak lihat apa-apa. Jangan menakutiku.”

 

“Ada orang. Lihat itu, dilantai.” tunjuk Dara lagi.

 

Teman Dara mengamati sudut yang ditunjuk Dara.

“Kau benar. Tapi kenapa tidur dilantai, jangan-jangan…”

 

Mereka berpandangan. Lalu berlari ke arah orang itu.

 

“Seorang yeoja.” pekik Dara.

 

Perlahan Dara duduk disamping yeoja itu. Ia letakkan kepala yeoja itu kepangkuannya.

 

“Ini Taeyeon.” teriak teman Dara.

 

“Dan dia pingsan. Aigoo~ badannya dingin sekali. Sudah berapa lama dia pingsan disini. Cepat bawa ke rumah sakit. Dan telepon keluarganya.” perintah Dara dengan panik.

 

~~

 

 

Taeyeon membuka matanya perlahan. Terasa berat, seolah itu bukanlah hal yang sangat biasa ia lakukan. Sedikit celah yang terbuka, membuat cahaya matahari langsung menyusup masuk ke dalamnya. Membuat Taeyeon harus menutup kembali matanya.

 

“Ah, kau sudah bangun rupanya.” suara namja yang sama sekali asing berdengung di kepala Taeyeon.

 

Taeyeon kembali mencoba untuk membuka matanya. Ia mengerahkan seluruh konsentrasinya pada satu titik, yakni kelopak matanya. Sebisa mungkin ia melebarkan kelopak matanya, dan itu berhasil. Taeyeon menarik nafas, mencoba meraba aroma dari tempat dimana ia berada sekarang. Namun sulit, aroma asing terkuak dimana-mana.

 

Putih, semuanya putih. Tembok, meja, kursi, ranjang, selimut dan bahkan pakaian yang Taeyeon kenakan pun putih.

 

“Apa aku sudah mati?” batin Taeyeon.

 

Taeyeon mengerang.

 

“Gwenchanayo?” sahut suara namja yang sama dengan tadi.

 

Taeyeon hampir saja melupakan namja itu. Ia menoleh. Mendapati seorang namja yang tidak ia kenal sama sekali tengah berdiri di samping ranjangnya. Namja yang Taeyeon perkirakan umurnya tidak jauh dari Taeyeon. Namja itu memakai jubah putih, menutupi kemeja berwarna biru telur di dalamnya. Siapa dia? Apa dia malaikat?

 

“Dimana aku?” erang Taeyeon serak.

 

“Kau di rumah sakit agasshi.” sahut namja itu, terlihat sekali aura yang hangat terpancar dari namja itu.

 

Taeyeon tertegun, ia baru menyadari jikalau namja itu mengalungi stetoskop hitam. Taeyeon mendengus. Hampir saja ia kira namja itu adalah malaikat, mana ada malaikat mengalungi stetoskop?

 

“Perkenalkan, aku Park Jungsoo atau biasa di sapa dengan Leeteuk. Dokter disini. Teman anda yang mengantar membawa anda kemari.” jelas dokter itu ramah.

 

Taeyeon sama sekali tidak mencerna perkataan dokter itu. Jangankan mencerna, memasukkannya ke dalam otaknya saja agaknya tidak. Ia memperhatikan garis wajah dokter itu. Cukup tampan, hidung mancung, tatapan mata tajam, dan rambut dengan poni yang panjang sedikit menutupi mata.

 

“Cih, dokter macam apa yang membiarkan poninya menutupi mata seperti itu? Aku agak sangsi jika dia benar-benar dokter.” sungut Taeyeon di dalam hati.

 

Dokter yang mengaku bernama Leeteuk itu masih saja berkoar menceritakan hal yang dianggap Taeyeon hanyalah sampah. Taeyeon mendesis. Ia bangkit, duduk di ranjangnya. Membuat keadaan sekitar Taeyeon sedikit berputar. Taeyeon mencengkram sprei.

 

“Ya, gwenchana? Kenapa bangun? Ada yang perlu kubantu? Katakan saja.” tanya Leeteuk dengan panik.

 

Taeyeon sama sekali tidak menjawab. Ia menatap Leeteuk dengan tajam seolah berkata -berisik!-. Setelah mengumpulkan tenaganya yang sempat hilang, Taeyeon mencoba menjulurkan kakinya ke lantai. Taeyeon berhasil berdiri, ia lalu mencabut selang infus yang menempel di nadi kanannya.

 

“HEY!” tegur Dokter itu lagi.

 

Seperti menutup telinganya rapat-rapat, Taeyeon tidak menganggap teguran Leeteuk. Tertatih-tatih, ia berjalan ke arah pintu.

 

“YA! Kau bodoh atau-” tiba-tiba Leeteuk sudah ada di samping Taeyeon, menarik lengan Taeyeon dengan kasar, membuat badan Taeyeon membalik ke belakang lagi.

 

Taeyeon memutar bola matanya kesal.

“NE! Aku memang bodoh! Kau puas??” balas Taeyeon.

 

Taeyeon kembali berusaha menyeret kakinya untuk keluar dari kamar rawat itu.

Dengan sigap, Leeteuk mencengkram lengan Taeyeon.

Taeyeon memutar kepalanya, memandang Leeteuk dengan gusar.

 

“Bisakah kau melepaskan tanganku? Apa hakmu mengatur hidupku?”

 

“YA! Kau belum sehat! Apa dengan begini kau yakin Kangin akan bahagia diatas sana, hah?” bentak Leeteuk.

 

Bentakan Leeteuk sukses membuat Taeyeon terperangah. Kenapa Leeteuk bisa tahu tentang Kangin? Sebulir air mata turun ke pipi Taeyeon tanpa dikomando.

 

“Hey, kau menangis? Jwesonghamnida…” kini raut Leeteuk nampak merasa bersalah.

 

Cklek…

Belum sempat Taeyeon menjawab, pintu kamar Taeyeon terbuka lebar. Membuat kedua orang yang ada di situ menoleh.

 

“Taeyeon, kau sudah sadar?” tanya wanita paruh baya yang baru saja masuk itu.

 

Dengan kasar, Taeyeon menarik tangannya dari cengkraman Leeteuk. Dan dengan mudah terlepas.

 

“N…ne Hyoyeon ahjumma.” sahut Taeyeon sambil menunduk. Mukanya datar sama sekali.

 

Wanita yang tak lain adalah ibu Kangin itu mendekat. Setelah ia ada di depan Taeyeon, diusapnya rambut panjang yeoja yang gagal menjadi menantunya itu.

 

“Syukurlah. Sebaiknya kau istirahat dulu. Orang tuamu tadi berangkat ke Amerika karena urusan mendadak, mereka bilang mereka akan segera datang. Kau tenang saja.” ucap Hyoyeon ahjumma pada Taeyeon seolah Taeyeon adalah anak kandungnya.

 

Taeyeon hanya menunduk. Memandang lurus lantai keramik berwarna putih yang tidak menarik untuk dilihat sama sekali.

 

Pandangan Hyoyeon ahjumma beralih ke namja di samping Taeyeon. Bibir tipisnya melemparkan seulas senyum pada namja itu.

 

“Yeon-a, ini Jungsoo. Keponakanku. Apa kau sudah mengenalnya?”

 

Penjelasan Hyoyeon ahjumma membuat Taeyeon mendongkak dengan cepat. Matanya melebar, belum menerima penjelasan itu sepenuhnya.

 

“Mwo? K… Keponakan?” lirih Taeyeon tidak percaya.

 

Hyoyeon ahjumma tersenyum teduh, lantas mengangguk.

“Kakak perempuanku adalah ibunya.”

 

Taeyeon hanya mengangguk tidak perduli.

 

Hyoyeon melemparkan pandangannya ke arah Leeteuk lagi.

“Jungsoo-ya, aku titip Taeyeon. Jaga dia baik-baik, arraseo?” perintahnya pada Jungsoo.

 

“Ne, arraseo.” mantap Leeteuk.

 

“Ya sudah Tae, ahjumma pulang dulu ne? Kau boleh keluar dari sini hanya setelah benar-benar sehat. Arra?”

 

Taeyeon mengangguk seadanya. Merasa tidak terlalu bernafsu *?* untuk mengeluarkan kata barang sepatah katapun.

 

 

~~

 

Taeyeon. Seorang gadis manis yang hari-harinya selalu diselimuti dengan kebahagiaan. Bahkan kebahagiaannya semakin sempurna tatkala ia akan melangsungkan ikatan suci dengan pacarnya. Namun harapan itu hanyalah tinggal harapan yang pupus dimakan takdir.

 

Taeyeon yang semula adalah seorang yang ceria, seorang yang selalu menganggap bahwa kesedihan itu tiada. Kini telah menjadi orang yang pendiam, tertutup dan dingin.

 

Dan disinilah dia, terbaring. Menatap langit-langit kamar rawatnya di rumah sakit dengan pandangan kosong, tak berarti. Di mejanya, semangkuk bubur, segelas air dan satu keranjang buah-buahan hanya dianggap Taeyeon sebagai pajangan belaka. Dianggapnya sebagai hiasan porselen yang tidak pernah ia sentuh sama sekali. Sudah berkali-kali suster yang ada di situ mengganti bubur Taeyeon dengan yang baru dan hangat. Tapi oleh Taeyeon ia biarkan hingga bubur itu menjadi dingin kembali.

 

Taeyeon seakan tidak merasa lapar. Atau mungkin tidak lagi mengenal kata lapar. Ia hanya terbaring, diam, dengan sorot mata menerawang. Mungkin orang bisa menyangka ia adalah salah satu pasien Rumah Sakit Jiwa yang salah masuk ke Rumah Sakit Umum.

 

-Cklek-

Pintu kamar Taeyeon terbuka. Taeyeon tidak menoleh. Ia merasa tidak perlu repot-repot melihat siapa yang datang. Ia rasa hanyalah suster yang datang lagi-lagi membawa bubur.

 

Namun rupanya, dugaan Taeyeon meleset. Yang membuka pintu kamarnya bukanlah suster, namun Leeteuk. Dokter yang memiliki wewenang untuk menjaga Taeyeon.

 

Leeteuk berjalan menuju meja yang teronggok manis di samping ranjang Taeyeon. Di perhatikannya mangkuk berwarna biru tua berisi bubur yang sudah mendingin. Leeteuk menghela nafas.

 

“Kenapa kau tidak makan? Lihatlah, ini sudah dingin lagi. Suster bilang ia sudah mengganti buburnya beberapa kali.” desah Leeteuk kesal.

 

Taeyeon hanya melirik Leeteuk sebentar sebelum kemudian kembali menatap langit-langit kamar.

 

Leeteuk mendengus.

“Apa dengan begini, kau pikir Kangin akan senang? Apa gunanya terus meratapi nasib seperti ini?” dengus Leeteuk kesal.

 

Taeyeon sontak menatap Leeteuk garang. Ia menarik badannya menjadi terduduk. Matanya masih saja menatap tajam mata Leeteuk. Jauh, seolah berusaha memasuki mata Leeteuk.

 

“TAHU APA KAU!” bentak Taeyeon.

 

“Aku memang tidak tahu apa-apa! Tapi setidaknya aku tahu jika kau sekarang kehilangan Kangin! Lalu apa yang bisa kau perbuat? Kau fikir dengan seperti ini kau bisa mengembalikan Kangin ke dunia, begitu?” timpal Leeteuk, hanya berusaha menyadarkan sesuatu pada Taeyeon.

 

“TAHU APA KAU TENTANG KANGIN OPPA! TAHU APA KAU TENTANG PERASAANKU!” Taeyeon terhenti, menarik nafas berat. Melayangkan pandangan nanar pada Leeteuk.

 

“Park Jungsoo-ssi. Pernahkah kau merasakan hatimu hancur seperti menghantam bumi dengan keras. Bahkan begitu hancurnya, hingga kau tak yakin bisa kembali menyatukan serpihan hatimu yang sangat kecil. Pernahkah, kau merasakan perasaan seperti itu? Itulah yang kurasakan saat ini.”

 

Entah mengapa, mata Taeyeon terasa memanas. Terasa perih. Dadanya menjadi sesak. Taeyeon menarik nafas sambil menengadahkan wajahnya mencoba menahan air matanya untuk tidak jatuh.

 

Namun Taeyeon tidak bisa, ia tidak sanggup. Taeyeon menjatuhkan pandangannya ke bawah. Membuat air matanya mengalir begitu saja. Dadanya semakin sesak saat Leeteuk mengatakan ‘mianhae’. Ditariknya oksigen yang sedang sangat ia butuhkan beberapa kali. Tapi justru setiap tarikan nafasnya berubah menjadi isakan keras.

 

“Mianhae.” ucap Leeteuk memelas.

 

Diraihnya badan Taeyeon. Menariknya ke dekapannya. Entah mengapa, tubuh Taeyeon hanya menurut saja saat Leeteuk menariknya ke dalam pelukannya.

 

Hangat dan nyaman. Karena itulah perasaan yang sangat Taeyeon butuhkan saat ini.

 

~~

 

Leeteuk melangkahkan kedua kakinya menuju kamar Taeyeon. Kemarin ia bisa melihat betapa frustasinya, betapa hancur hati Taeyeon. Tentu saja, siapa orang yang tidak hancur apabila hendak melangsungkan pernikahan namun gagal dengan tragis. Hanya orang gila yang mungkin akan mengatakan bahwa ia baik-baik saja.

 

Dibukanya pintu kamar berwarna coklat muda itu dengan perlahan. Membayangkan kemungkinan bahwa Taeyeon sedang tidur. Leeteuk menyembulkan kepalanya di celah daun pintu. Di carinya sosok Taeyeon yang mungkin sedang terbaring di ranjangnya dengan tenang. Namun nihil, dia tidak ada di sana. Hanya ada suster Choi yang nampak tengah merapikan tempat tidur Taeyeon.

 

Leeteuk menggaruk kepalanya yang ditumbuhi rambut berwarna coklat itu. Didatanginya suster Choi yang tengah asyik berjibaku dengan pekerjaannya itu.

 

“Suster Choi?” panggil Leeteuk.

 

Suster tinggi itu menoleh, lantas melemparkan seulas senyum tulus pada Leeteuk.

 

“Ada yang bisa saya bantu, Park Euisa?” tanya Suster Choi ramah.

 

“Dimana pasien disini, Kim Taeyeon?”

 

“Ah, Taeyeon-ssi. Dia bilang hendak jalan-jalan mencari udara segar.”

 

Leeteuk memiringkan kepalanya. “Mencari, udara segar?”

 

Suster Choi mengangguk kecil, telunjuk kanannya lalu menunjuk ke atas. Membuat Leeteuk mendongkak bingung.

 

“Dia ke atap.” ucap suster Choi yang menjadi penjelas pertanyaan yang berkecamuk di pikiran Leeteuk.

 

Leeteuk hanya membentuk mulutnya menjadi huruf ‘o’.

 

~~

 

Leeteuk mendaki tangga. Hendak menuju atap mengikuti Taeyeon. Yah, tidak ada salahnya mengikuti kemana yeoja itu pergi. Leeteuk hanya berniat baik, memastikan bahwa Taeyeon baik-baik saja. Dan tentu saja, karena Hyoyeon ahjumma sudah menitipkan Taeyeon pada Leeteuk.

 

Krieet~ dibukanya pintu atap. Diedarkan pandangannya mencari sosok yeoja mungil berambut panjang itu. Namun mata Leeteuk sontak terbuka lebar, menyaksikan apa yang ia cari. Yeoja yang ia cari tengah berdiri di sisi pembatas atap gedung. Merentangkan tangannya. Apa yang hendak ia lakukan?

 

Reflek, Leeteuk berlari ke arah yeoja itu. Diraihnya pinggang Taeyeon yang hampir saja condong ke depan. Leeteuk menariknya hingga mereka berdua jatuh bersama. Taeyeon jatuh diatas Leeteuk.

 

“Erngh…” Leeteuk mengaduh tertahan, merasa sedikit kesakitan karena menahan berat badan Taeyeon.

 

Dengan cepat Leeteuk kembali bangkit. Di dudukannya Taeyeon di sampingnya.

 

“NEO! JEONGMAL BABONEUN YEOJA! APA YANG KAU PERBUAT TADI, BODOH??” bentak Leeteuk pada Taeyeon.

 

Taeyeon yang tadinya menunduk. Kini mendongkak, menatap Leeteuk tajam. Bola matanya yang tengah menatap tajam Leeteuk, tiba-tiba tertutup oleh lapisan air mata yang akhirnya bergulir turun.

 

“Apa pedulimu, Park Jungsoo. Kenapa kau menghalangiku?” bisik Taeyeon dengan nada tercekat.

 

“TENTU SAJA KUHALANGI, HAL BODOH YANG TADI HENDAK KAU LAKUKAN! APA YANG ADA DI PIKIRANMU! APA KAU TIDAK MEMIKIRKAN ORANG TUAMU? TIDAK MEMIKIRKAN HYOYEON AHJUMMA?” Leeteuk kembali membentak Taeyeon.

 

Taeyeon tertunduk. Seakan berusaha menyembunyikan tangisannya yang semakin jelas terdengar.

 

~~

 

 

 

Leeteuk memandang yeoja yang ada di sebelahnya dengan seksama. Yeoja itu kini tengah terlelap jauh menuju alam mimpinya. Entah apa yang dimimpikannya, Leeteuk berharap bukan mimpi buruk.

 

“Park euisa, bagaimana kondisinya sekarang?” tanya suster Choi yang tiba-tiba saja sudah ada disampingnya.

 

“Tidak baik. Kesehatannya semakin menurun, itu karena dia tidak mau makan.” Leeteuk menghela nafas.

 

“Kalau begitu, bujuklah dia untuk makan.”

 

“Aku bahkan sampai bosan membujuknya.”

 

Mereka berdua menarik nafas, lantas membuangnya pada saat yang bersamaan.

 

“Aku sangat iba padanya.” lirih Suster Choi.

 

Leeteuk mengangguk setuju. “Dia sangat terpukul.”

 

~~

 

Taeyeon mengeliat. Berusaha mengumpulkan ruhnya yang hilang. Dikerjapkannya matanya beberapa kali. Setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya, Taeyeon langsung mendapati Leeteuk sudah duduk di kursi disamping ranjangnya. Wajahnya langsung cerah saat melihat sadarnya Taeyeon.

 

“Gwenchanayo?” tanya Leeteuk.

 

Taeyeon hanya mengangguk kecil. Leeteuk memasang wajah sedikit kecewa melihat respon Taeyeon yang terkesan cuek.

 

“Kenapa kau lakukan itu? Kau fikir dengan begitu, kau akan membuat keadaan lebih baik?” cetus Leeteuk tiba-tiba.

 

Taeyeon menatap Leeteuk datar.

 

“Kau bukan siapa-siapaku Park euisa. Jangan bertindak seolah kau sangat mengenalku.” sahut Taeyeon pedas.

 

“Hey, aku punya wewenang terhadapmu Nona Kim. Selama kau masih di Rumah Sakit ini, kau adalah tanggung jawabku.” timpal Leeteuk tak kalah sinis.

 

Taeyeon hanya tersenyum sinis. Ia memalingkan wajahnya dari tatapan Leeteuk.

 

“Pernahkah, kau mendengar orang yang memiliki penyakit leukimia, kanker, atau sebagainya?” tanya Leeteuk. “Mereka berjuang untuk hidup mereka. Mempertaruhkan semua yang mereka punya di dunia agar mereka bisa tetap hidup. Sedangkan kau? Seorang yang sehat, sempurna dan tidak memiliki penyakit apapun. Malah justru mengharapkan kematian? Kau bodoh, Nona Kim.” lanjut Leeteuk.

 

Taeyeon hanya menghela nafas. Mengumpulkan oksigen sebanyak mungkin. Karena ia merasa dadanya menyempit seketika.

 

~~

 

“Kau masih tidak mau makan, Kim Taeyeon?” tanya Leeteuk kesal.

 

Taeyeon hanya mengendikkan bahu cuek sebagai jawaban.

 

“Kau tidak memikirkan perkataanku tadi, huh?”

 

Taeyeon memandang datar Leeteuk. Dengan satu alis terangkat.

 

“Untuk apa?” tanya Taeyeon datar.

 

“Dasar!” kesal Leeteuk. Ia meraih semangkuk bubur hangat yang baru saja disiapkan suster Choi.

 

“Buka mulutmu!” perintah Leeteuk.

 

Taeyeon mengerutkan kening. Matanya mengedip-edip tidak jelas.

 

“Adwae!” balas Taeyeon lalu memalingkan wajahnya.

 

“YA! Kau ini…” Leeteuk menggantung ucapannya. “Dasar!” untuk kedua kalinya Leeteuk mengucapkan kata ‘dasar’.

 

Ditariknya sendok yang mengarah ke wajah Taeyeon. Dimasukkannya bubur yang ada di sendok itu dengan emosi.

 

Taeyeon membelalak kaget. Rahang bawahnya turun ke bawah sebagai wujud ekspresi herannya.

 

“Aku juga lapar, alo!” celetuk Leeteuk.

 

Taeyeon berdeham. Sekilas, ia nampak seperti berusaha menyembunyikan senyumnya.

 

 

~~

 

 

 

Malam menjelang. Taeyeon menarik selimutnya hingga batas leher. Ia memiringkan badannya. Saat matanya hampir terpejam, sayup-sayup terdengar suara pintu kamarnya terbuka. Taeyeon mengurungkan niatnya untuk menutup matanya.

 

“Kau masih belum mau makan?” tanya seseorang yang Taeyeon yakini adalah Leeteuk.

 

Taeyeon bangkit. Duduk di ranjangnya. Menatap Leeteuk sebentar lalu mengangkat bahu.

 

“Hey, bisakah kau menjawabnya dengan ikhlas? Sambil tersenyum mungkin.”

 

Taeyeon mengangkat sebelah alisnya. Merasa aneh dengan ucapan Leeteuk.

 

“Untuk apa aku tersenyum? Bahkan aku berniat untuk tidak lagi tersenyum selama aku hidup.” sinis Taeyeon.

 

Leeteuk melotot.

“Baiklah, akan kubuat kau tersenyum. Tapi, jika aku berhasil membuatmu tersenyum, kau harus makan! Bagaimana?” cetus Leeteuk tiba-tiba.

 

Taeyeon memandang Leeteuk dengan tatapan meremehkan.

“Coba saja, Park Jungsoo-sshi.” tantang Taeyeon.

 

Leeteuk merogoh saku celananya, mencari sesuatu. Ia menemukan yang dicarinya yakni ponselnya. Ia mengutak-atik sebentar ponsel berwarna biru metalik itu.

 

Tak perlu menunggu lama, tiba-tiba terdengar alunan musik dari ponsel Leeteuk. Taeyeon terperangah, merasa mengenali musik itu.

 

~aha! listen girl…

my first love story…

my angel, and a boy,

my sunshine~

 

Taeyeon nampak tergagap melihat Leeteuk mulai bernyanyi sekaligus mengganti lyric lagu Girls Generation – Gee. Ia juga menari mencoba meniru gaya Girls Generation.

 

~neomu neomu meotjyeo, nuni nuni busheo,

sumeul mot swigesseo tteolineun girl,

gee gee gee gee baby baby baby,

gee gee gee gee baby baby baby~

 

Taeyeon memalingkan wajahnya dari Leeteuk. Bibir mungilnya membentuk lengkungan dan mengeluarkan suara seperti terkekeh. Sontak Leeteuk berhenti menari. Dengan bibir mengembang, ia meraih dagu Taeyeon dengan wajah penuh kemenangan.

 

Saat wajah Taeyeon tepat bertatapan langsung dengan Leeteuk. Betapa terkejutnya ternyata wajah Taeyeon sudah dipenuhi air mata. Leeteuk panik.

 

“Taeyeon-ssi. Kau tidak tertawa? Kau menangis? Wae? Apa ada yang sakit. Katakan padaku.”

 

Taeyeon tersenyum getir. Ia menepiskan tangan Leeteuk dari dagunya.

 

“Ani yaa~ aku memang tertawa tadi. Hanya saja~ Kangin pernah melakukan hal sama terhadapku. Itulah yang membuatku menangis.”

 

Leeteuk nampak sedikit tercengang. Matanya sedikit membesar. Namun, sedetik berikutnya matanya meredup. Seolah merasakan suatu perasaan kecewa yang mendalam.

 

“Taeyeon-ssi. Apa Kangin begitu berarti bagimu?” sahut Leeteuk tiba-tiba.

 

Taeyeon terperangah. Ia memandang Leeteuk bingung. Menyangka, bahwa mungkin Leeteuk sedang bercanda. Namun, sadar akan keseriusan Leeteuk. Taeyeon menunduk, menarik nafas sejenak. Tatapannya kembali mengosong.

 

“Jika Tuhan mengijinkan aku untuk bertukar tempat dengannya, aku akan melakukan dengan lapang dada dan memilih untuk mati untuknya.” bisik Taeyeon cepat. Merasa lehernya tercekat. Dan sulit untuk bernafas.

 

Leeteuk menghela nafas.

 

“Kalau Tuhan tidak mengijinkan? Kau akan terus hidup seperti ini? Hidup dalam keterasingan, kesendirian. Menutup hidupmu dari dunia luar?”

 

Taeyeon mengangkat arah pandangannya. Tidak lagi memandang selimut dibawahnya, melainkan memandang jauh lurus ke depan. Ke arah jendela. Berusaha menemukan titik terjauh yang bisa ia capai.

 

“Molla.” hanya itu yang keluar dari mulut Taeyeon.

 

“Apa kau begitu mencintai Kangin dan tidak memberikan ruang lagi untuk orang lain yang mencintaimu?” lirih Leeteuk, namun cukup membuat Taeyeon tercengang kaget.

 

“Mwo? Apa maksudmu?” tanya Taeyeon bingung.

 

Kini Leeteuk menjadi terlihat salah tingkah. Ia menggigit bibir gelisah.

 

“Ah, lupakan saja.” ia lalu berbalik, menuju pintu lantas keluar. Meninggalkan Taeyeon yang nampak bingung dengan ucapan Leeteuk.

 

~~

 

 

 

Taeyeon duduk di atas ranjangnya dengan menekuk kedua lututnya. Mendekapnya seakan itu adalah gulingnya. Taeyeon tidak bisa memejamkan matanya. Setiap kali memejamkan kedua matanya, maka saat itulah bayangan Kangin selalu muncul menari-nari di benaknya.

 

Taeyeon ingin menjerit sekeras yang ia bisa, mengeluarkan semua gundah yang berkecamuk di pikirannya. Tapi tidak bisa, terlalu sulit baginya bahkan untuk mengeluarkan suara barang  sekecil apapun.

 

Pundak Taeyeon bergetar. Ia menangis sembari memeluk kedua kakinya. Perlahan, ia melemparkan pandangannya pada meja yang memang ada di samping ranjangnya. Matanya tertumbuk pada keranjang buah yang ada di sana. Ah, bukan, bukan keranjang buah yang ia tatap, melainkan pisau yang selalu ada di sana untuk mengupas buah.

 

 

 

~~

 

 

 

 

Sekali lagi Leeteuk mendesah gelisah. Ditiliknya jam tangan silver yang melekat di pergelangan tangan kirinya. Pukul 12 tepat. Hatinya miris. Sudah sekuat tenaga ia berusaha memejamkan matanya, tapi tidak bisa. Kendati rasa kantuk sudah menggelayut di pelupuk matanya.

 

Gelisah. Itulah yang Leeteuk rasakan kini. Sesuatu perasaan yang tiba-tiba menyerang Leeteuk dan membuat Leeteuk sukar untuk terlelap. Leeteuk terbangun. Diedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar kecil yang memang di sediakan untuk dokter yang kebagian jaga itu. Leeteuk mengerang.

 

 

“Kurasa jalan-jalan akan membuatku mengantuk lama-kelamaan.” bisik Leeteuk yang tak ayal hanya ia sendiri yang mendengarnya.

 

 

~~

 

 

Leeteuk terpaku menatap pintu putih di depannya. Pintu kamar siapa lagi kalau bukan pintu kamar pasiennya yang spesial itu, Kim Taeyeon. Leeteuk mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu putih itu. Namun, beberapa detik lagi ia urungkan. Entah apa yang membawanya ke kamar Taeyeon, gadis dingin yang istimewa itu. Kakinya terasa melangkah dengan sendirinya ke kamar yang paling sering ia kunjungi itu.

 

“Bagaimana kalau aku disangka macam-macam? Aish…” Leeteuk mengacak rambutnya sendiri. “Tapi… aku kan hanya memastikan dia baik-baik saja.”

 

Leeteuk menganggukkan kepalanya meyakinkan diri sendiri. Dikuatkan genggamannya pada engsel pintu yang terasa dingin itu.

 

-Cklek- Leeteuk mencoba membuka pintu itu sepelan mungkin. Leeteuk kembali memantabkan hatinya untuk terus mendekati tempat tidur Taeyeon.

 

Seonggok *?* tubuh mulai terlihat tidur terlentang di atas kasur rawat itu. Walau nampak hanya siluet, karena Taeyeon mematikan lampunya. Leeteuk mengucek matanya.

 

“Kenapa dia mematikan lampunya? Padahal dia selalu menghidupkan lampu sepanjang hari.” gumam Leeteuk.

 

Dicarinya saklar yang ada di samping pintu.

 

Setelah lampu menyala, betapa terkejutnya Leeteuk mendapati selimut yang dikenakan Taeyeon nampak bercak merah. Yang diyakini Leeteuk adalah bercak darah.

 

“Taeyeon-a!” pekik Leeteuk.

 

Dihampirinya tubuh Taeyeon yang nampak sudah pucat pasi kehilangan banyak darah itu.

 

Diangkatnya pergelangan kiri Taeyeon yang masih mengeluarkan darah segar tak henti-hentinya, membuat tangan Leeteuk ternoda darah Taeyeon. Tapi Leeteuk tidak peduli, Leeteuk kini panik setengah mati. Dengan cepat, Leeteuk merobek selimut yang dikenakan Taeyeon. Dibebatkannya pada luka menganga yang nampaknya Taeyeon buat sendiri itu.

 

“Hal bodoh apa lagi yang kau perbuat Kim Taeyeon?” desis Leeteuk sambil terus mencoba mengikat pergelangan Taeyeon dengan sobekan selimut.

 

Titik-titik keringat di dahi dan pelipis Leeteuk cukup menjadi bukti saat ini bahwa Leeteuk sangat panik. Entah karena Leeteuk terlalu kencang mengikatkan sobekan, atau karena apa, mulut kecil Taeyeon mengeluarkan suara erangan lirih. Sebuah erangan lirih yang mampu membuat Leeteuk semakin gugup.

 

“TAEYEON-A, KUMOHON BERTAHANLAH!” teriak Leeteuk frustasi.

 

Setelah itu Leeteuk memanggil-manggil suster untuk datang.

 

Perlahan, namun pasti. Dibantu suster yang datang, Leeteuk mengangkat Taeyeon ke gendongannya.

 

Leeteuk berlari kencang keluar dari kamar rawat Taeyeon dan selanjutnya berlari menyusuri lorong rumah sakit. Membawa Taeyeon yang sekarat menuju ke ICU.

 

“Kumohon, bertahanlah Kim Taeyeon. Jika kau tidak sanggup untuk bertahan untuk dirimu, maka bertahanlah untukku…”

 

Sedetik kemudian, mata namja itu nampak berair…

 

 

 

~~

 

~Taeyeon PoV~

 

Ingin sekali aku membuka matanya. Memastikan dimana aku sekarang. Namun mataku terasa berat, apa benar aku mati? Benarkah usahaku membuahkan hasil? Harusnya aku senang… Harusnya aku bahagia…

 

Namun ini menjadi terasa sulit bagiku. Pepatah memang selalu benar adanya ‘penyesalan selalu datang belakangan’. Dan ITU PASTI! Ingin sekali tadi kulepaskan semuanya. Ingin sekali kudorong Leeteuk menjauh agar usahaku berhasil, dan yang keluar justru hanya erangan di bibirku. Tapi itu sebelum perkataannya.

 

“Kumohon, bertahanlah Kim Taeyeon. Jika kau tidak sanggup bertahan untuk dirimu, maka bertahanlah untukku…”

 

Beberapa detik setelah ia ucapkan kalimat itu… Kurasakan setetes air membasahi wajahku. Air yang kuyakini adalah air matanya.

 

Saat itulah… Aku ingin kembali. Saat itulah, aku ingin memutar waktu sebelum aku memutuskan untuk membunuh diriku sendiri. Benar apa katanya, aku bodoh! Yang kulakukan adalah tindakan bodoh! Kim Taeyeon adalah orang yang bodoh!

 

 

~Taeyeon PoV END~

 

 

 

 

~~

 

 

Leeteuk bergegas bangkit dari kursinya melihat bulu mata Taeyeon nampak bergerak. Dengan cepat, Leeteuk menggenggam tangan Taeyeon. Sedangkan tangan satunya lagi mengelus rambut coklat Taeyeon dengan lembut.

 

“Taeyeon-a?” panggil Leeteuk, berharap itu bisa membangkitkan semangat Taeyeon untuk semakin membuka matanya.

 

Miracle…

Taeyeon mengerjap. Ia semakin kuat mengerjapkan kedua sisi matanya. Membuat kedua sisi bibir Leeteuk terangkat keatas. Membentuk sebuah senyum bahagia.

 

“Taeyeon-a?”

 

Taeyeon semakin berhasil mengumpulkan kembali kesadarannya. Bahkan Taeyeon sedikit mengeliat. Mata Taeyeon sudah sepenuhnya terbuka. Beberapa detik ia dan Leeteuk saling bertatap mata. Menyadari jarak kedua wajah mereka yang tak lebih dari satu jengkal, Taeyeon buru-buru memalingkan wajahnya. Kembali memasang wajah dingin. Membuat Leeteuk memandang Taeyeon kecewa.

 

“Gwenchana?” tanya Leeteuk.

 

Taeyeon hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Leeteuk semakin merasa tidak nyaman. Ia berdiri dari kursi yang tadi ia duduki di samping ranjang Taeyeon.

 

“Aku rasa kau butuh istirahat. Aku pergi dulu.” lirih Leeteuk.

 

Taeyeon yang tadinya sedang memandang takjub pergelangan tangannya, kini langsung menatap Leeteuk yang mulai berbalik.

 

“Chankamman!” cegah Taeyeon.

 

Leeteuk mengurungkan langkah berikutnya. Ia berbalik, menatap Taeyeon bingung.

 

“Wae?”

 

“Eung…” Taeyeon menggaruk kepalanya. “Ada… yang ingin kutanyakan, Jungsoo-sshi.”

 

Leeteuk melangkah, kembali mendekati ranjang Taeyeon.

 

“Apa… maksudmu… dengan perkataanmu tadi ‘bertahanlah untukku’, huh?”

 

Leeteuk terperangah. Berbalik. Tadinya Taeyeon yang terlihat bingung, kini Leeteuklah yang nampak memasang wajah bingung di wajahnya. Mimik wajah Leeteuk menjadi gugup

 

“Eung~ naega~” bingung Leeteuk.

 

“Nde?” pertanyaan sepele Taeyeon yang membuat Leeteuk semakin terdesak.

 

“Aku rasa~~”

 

“Nde?”

 

“Cinta lah yang membimbingku berkata demikian.” ucap Leeteuk kemudian.

 

Cepat-cepat Leeteuk pergi meninggalkan Taeyeon yang tidak mampu menahan rahangnya turun ke bawah.

 

 

~~

 

 

 

Taeyeon mengalihkan pandangannya dari suster Choi yang tengah sibuk mengganti selang infusnya. Pandangannya tertumbuk pada siapa yang datang. Mata bulatnya semakin membulat.

 

Suster Choi terlihat sudah selesai memasangkan infus baru pada Taeyeon. Dilemparkannya senyum tipis pada Taeyeon.

 

“Selesai, kutinggal dengan Dokter Park, ne? Jika kau butuh sesuatu panggil saja aku.”

 

Taeyeon mengangguk patuh. Namun perasaannya gelisah. Ia menunduk, tidak mampu menatap namja yang ada di samping ranjangnya kini.

 

“Gwenchanayo?” tanya Dokter yang sudah bisa dipastikan adalah Leeteuk.

 

Taeyeon mengangguk kecil, sambil terus menunduk.

 

“Hey, dengar. Soal tadi malam, kumohon lupakan saja. Itu hanya perkataan bodoh yang meluncur tiba-tiba saja.”

 

Taeyeon mendongkak. Menatap datar wajah Leeteuk. Lalu Taeyeon mengangguk lagi.

 

“Siang yang cerah, kau mau jalan-jalan?”

 

Taeyeon membelalak.

“M… mwo?”

 

“Jalan-jalan. Ke sungai Han mungkin. Hey, ini pasti asik. Ayo tukar bajumu dan pergi denganku.”

 

Sebelum Taeyeon menjawab, Leeteuk sudah menarik tangannya terlebih dahulu.

 

 

~~

 

 

 

Taeyeon menyerit aneh saat menatap Leeteuk yang sedang menuntun sepeda thundem ke arahnya.

 

*g tw tlsannya, pkkoknya sepeda yg ada 2 dijadiin satu itu, namanya tandem, tp g tw tlsannya*

 

 

“Apa-apaan ini?” tanya Taeyeon.

 

“Aku menyewanya. Kau pasti capek kalau terus-terusan berjalan. Jadi kita akan menyusuri Sungai Han dengan menggunakan ini.” jelas Leeteuk ceria.

 

Taeyeon menyilangkan kedua tangannya di dada. Diputarnya kedua bola matanya dengan kesal.

 

‘Kekanakkan sekali.’ batinnya.

 

“Kkaja! Ppali!” desak Leeteuk terdengar seperti anak kecil yang sedang merengek.

 

Dengan enggan Taeyeon menghampiri Leeteuk dan naik ke sepeda bagian belakang.

 

 

~~

 

 

“Hey! Kayuh dengan benar! Ternyata dari tadi kau tidak mengayuhnya? Pantas saja berat sekali!” omel Leeteuk pada Taeyeon.

 

Taeyeon menatap punggung Leeteuk kesal.

“Memangnya siapa yang mengajakku naik sepeda? Kau sendiri kan? Kenapa aku harus repot-repot mengayuhnya juga?”

 

“Dasar!”

 

Taeyeon tidak lagi memperhatikan Leeteuk yang masih bersungut-sungut tidak jelas. Ia sibuk menikmati angin sepoi-sepoi yang membelai halus wajahnya. Menerbangkan anak-anak rambutnya.

 

“Ayo, berhenti sebentar. Aku capek.” ujar Leeteuk sambil menghentikan kayuhannya. Otomatis membuat kayuhan Taeyeon juga berhenti.

 

Setelah menepikan sepeda mereka, Leeteuk mengajak Taeyeon duduk di pinggir sungai Han. Taeyeon hanya menuruti apa kata Leeteuk.

 

“Tunggu disini sebentar. Aku akan kembali.” pinta Leeteuk.

 

Taeyeon lagi-lagi hanya menurut dan mengangguk patuh. Leeteuk berlari entah kemana.

 

Taeyeon menarik nafas. Mencium aroma khas sungai Han. Selalu seperti ini aromanya. Entah saat ia datang dengan Kangin maupun Leeteuk. Bibir Taeyeon bergetar. Didongkakkan kepalanya ke atas. Menikmati setiap awan putih yang bergerak lambat.

 

Css… Tiba-tiba pipi Taeyeon terasa dingin. Taeyeon menoleh, mendapati sekaleng minuman sukses menempel di pipinya. Perbuatan siapa lagi kalau bukan Leeteuk?

 

“Aku tahu kau tidak capek. Tapi aku membelikanmu ini, siapa tahu kau haus.” ujar Leeteuk sambil tersenyum, memamerkan kedua lesung pipinya.

 

Taeyeon menerima minuman kaleng itu. Membukanya, lantas meminumnya beberapa tenggak.

 

Sadar, sedari tadi Leeteuk memperhatikannya. Taeyeon menoleh, memiringkan kepalanya.

 

“Wae?” tanya Taeyeon.

 

“Anioo~ hanya sedang membayangkan bagaimana wajahmu jika tertawa atau tersenyum.”

 

“Jangan berfikiran aneh-aneh. Aku tidak seperti apa yang kau bayangkan sekarang.”

 

“Aku heran, apa kehidupanmu sebelumnya juga sepi seperti sekarang? Atau dulu kau juga tertawa dan ceria seperti orang pada umumnya?”

 

“Dulu aku orang yang suka tertawa.”

 

“Aku jadi ingin melihatmu tertawa atau tersenyum. Selama ini kau hanya tertawa sambil menangis atau tersenyum sinis. Ayolah, aku ingin melihatmu tersenyum. Sekalii~ saja.”

 

“Jangan bodoh, aku tidak akan mau melakukan itu.”

 

Leeteuk menghela nafas kecewa.

“Apa aku harus menari Gee lagi?” gumam Leeteuk,

 

Taeyeon hanya mengendikkan bahu. Ia memalingkan wajah. Sayang sekali Leeteuk tidak melihatnya, Taeyeon tersenyum…

 

 

~~

 

 

 

“Jadi, kau akan pulang besok?” tanya Leeteuk yang melihat Taeyeon sedang mengepak baju-bajunya.

 

Taeyeon hanya mengangguk.

“Suster Choi dan Lee Euisa berkata demikian. Lagipula untuk apa berlama-lama disini?”

 

Pancaran mata Leeteuk nampak meredup.

“Kau… tidak akan kemari lagi?”

 

Taeyeon berhenti sejenak. Dipandangnya Leeteuk dengan heran.

 

“Jadi, kau berharap aku tidak sakit lagi, begitu?”

 

“Aniyaa~ bukan begitu.” potong Leeteuk cepat-cepat. “Tapi, jadi benar kau akan pulang besok?”

 

Taeyeon menarik nafas kesal.

 

“Kau sudah menanyakannya dua kali…”

 

 

~~

 

 

 

Leeteuk menatap punggung yeoja yang tengah berjalan menenteng tasnya menuju pintu masuk Rumah Sakit dengan tatapan sayu. Ya, pagi ini Taeyeon sudah keluar dari Rumah Sakit dan Leeteuk sedang mengantarkan kepergiannya. Saat sudah sampai di ambang pintu kaca. Taeyeon berbalik. Membuat Leeteuk menghentikan langkahnya.

 

“Aku pergi dulu Leeteuk-sshi.” ucap Taeyeon sambil mengangguk kecil.

 

Leeteuk berusaha tersenyum.

 

“Ne, jika kau butuh seseorang untuk menari Gee untukmu. Maka hubungilah aku Taeyeon-a.”

 

Taeyeon mengangguk malas. Ia menatap Leeteuk ragu. Tiba-tiba, dengan gerakan yang sangat cepat, Taeyeon mengecup pipi Leeteuk.

 

Leeteuk terbelalak kaget, mulutnya menganga lebar. Matanya berbinar senang.

 

“I… itu hanya sebgai ungkapan terimakasih Leeteuk-sshi. J… jadi jangan salah sangka.”

 

Leeteuk yang tadinya berbinar bahagia, langsung mengerucutkan bibirnya lucu.

 

“Jangan memasang wajah seperti itu! Kau terlihat jelek.” cibir Taeyeon terang-terangan. “Ya sudah, aku pergi dulu. Annyeong~~” Taeyeon berbalik pergi.

 

Meninggalkan Leeteuk yang juga berbalik karena menyadari matanya mulai perih menahan air mata.

 

 

~~

 

 

Leeteuk menyandarkan dagunya ke meja ruang jaga yang ada di depannya. Dimainkannya pulpen hitam yang ada di depannya dengan tidak bersemangat. Di sampingnya, suster Choi tengah mendengarkan radio yang berisi entah tentang apa. Apa isi radio itu, Leeteuk tidak peduli.

 

Samar-samar, Leeteuk masih mendengar apa yang di tanyakan sang penelpon untuk DJ Radio.

 

“Bagaimana caranya mengatasi keputusasaan?”

 

Ya, itu karena Suster Choi menyetel Radio itu dengan volume melebihi normal. Itu sebabnya Leeteuk masih bisa mendengarnya.

 

Iseng-iseng, Leeteuk mendengarkan sang DJ menjawab.

 

“Keputusasaan. Semua orang pasti pernah merasakannya. Tak terkecuali aku sendiri. Sebuah keputusasaan adalah hal yang wajar bagi setiap kehisupan manusia. Aku disini, tidak akan menjawab pertanyaan penelpon tadi, tapi akan kuceritakan pengalaman hidupku yang juga diselimuti keputusasaan.”

 

Leeteuk menyerit. Hey, ini tidak buruk. Batinnya. Ia memasang telinga dan mulai mendengarkan.

 

“Aku pernah jatuh, jatuh ke dalam lubang keputusasaan yang dalam sedalam-dalamnya. Bahkan aku sendiri sampai tidak yakin untuk bisa kembali mendaki dan merangkak keluar dari lubang itu. Kau tahu, putus asa kali ini bukanlah sembarang putus asa. Sebuah perasaan putus asa yang amat sangat mendalam. Pacarku mati saat kami tengah merencanakan pernikahan. Menyedihkan bukan?”

 

Hening… Leeteuk dan suster Choi menunggu kata-kata selanjutnya dari cerita DJ radio itu. Terdengar tarikan nafas di seberang.

 

“Sangat menyedihkan. Bahkan aku sampai sakit, kesehatanku menurun drastis. Aku dibawa ke rumah sakit. Entah takdir atau apa, aku bertemu seseorang. Seseorang dokter. Memang tidak aneh apabila aku bertemu dokter di rumah sakit. Tapi dokter ini berbeda. Dia adalah seorang dokter yang awalnya tidak kusangka dokter karena gaya rambutnya yang hampir menutupi matanya. Tanpa disangka-sangka, dokter itu berhasil mengangkatku ke permukaan. Berhasil menjulurkan talinya untuk menolongku dari lubang putus asa itu. Dia yang menggagalkan dua kali percobaan bunuh diriku, dia yang menari gee untukku, dia yang memelukku dan berkata ‘Bertanlah untukku’, dia yang menuntunku menyusuri pinggiran sungai Han. Dia yang berhasil meraihku dari lubang itu.”

 

Berhenti. Leeteuk terdiam, suster Choi terdiam, DJ itu terdiam.

 

“Park Euisa, dia…” bisik suster Choi

 

Leeteuk tercekat. Ia tidak bisa mengatakan sesuatu.

 

“Dia tidak tahu, mengapa saat pertama kali ia memelukku aku hanya diam dan menurut. Karena, saat itulah aku merasakan kehangatan dan kenyamanan yang selama ini kudamba. Dia mengalirkan kasih sayangnya padaku dengan lembut. Dan yang paling membuatku tergetar dan saat dia berkata ‘Jika kau tidak bisa bertahan untuk dirimu, maka bertahanlah untukku.’ Dan saat itulah, saat yang mampu membuatku kembali memiliki semangat hidup. Saat itulah aku mulai muncul ke permukaan. Terimakasih, berkat kau, aku bisa bertahan sampai titik ini. Kumohon, tetaplah disampingku dan aku akan bertahan untukmu hingga akhir. Terimakasih, Park Jungsoo…” DJ itu mengakhiri pembicaraannya. Digantikan lagu Finnaly Now milik Sunny Girls Generation.

 

Suster Choi menatap Leeteuk dengan kaget. Menyadari pipi Leeteuk sudah dibanjiri air mata.

 

“Park euisa?”

 

“A… Apa itu Taeyeon?”

 

“Ne, aku rasa iya. DJnya bernama Kim Taeyeon.”

 

Leeteuk bangkit. Tanpa memperdulikan teriakkan Suster Choi, ia berlari keluar Rumah Sakit. Yang difikirkannya kini, hanya Kim Taeyeon.

 

 

 

~~

 

 

 

Leeteuk berlari masuk ke gedung Radio Chin Chin. Ia menatap setiap orang-orang yang lalu lalang di depannya. Dicarinya sosok Kim Taeyeon. Ia menyibakkan kerumunan orang-orang di depannya. Tanpa memperdulikan sedikitpun protes orang-orang itu.

 

Leeteuk memutuskan untuk bertanya pada resepsionis.

 

“Permisi, dimana ruang kerja Kim Taeyeon?”

 

“Ada di lantai 3 tuan.”

 

“Baiklah, kamsahamnida.”

 

 

~~

 

 

Leeteuk mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan di lantai 3 yang nampak lengang itu. Hanya ada satu cleaning service yang tengah merapikan berkas-berkas di sudut ruangan.

 

“Mencariku, eh?” tanya sebuah suara yang sangat familiar di telinga Leeteuk.

 

Leeteuk menoleh, mendapati yeoja yang dicarinya tengah tersenyum mengejek padanya. Taeyeon berjalan mendekat pada Leeteuk.

 

“Aku tak menyangka kau akan datang kesini.” Taeyeon tertawa renyah.

 

Leeteuk membuka lebar mulutnya. Heran melihat Taeyeon tertawa.

 

“Hey, tidak udah memasang tampang bodoh seperti itu. Kau pikir siapa yang membuatku bisa kembali tertawa seperti ini?”

 

Tanpa mengatakan apapun, tiba-tiba Leeteuk memeluk Taeyeon erat. Sangat erat malah, membuat Taeyeon kehabisan nafas.

 

“Hey, apa yang kau lakukan? Aku hampir mati kehabisan oksigen, bodoh!” pekik Taeyeon sambil memukul punggung Leeteuk.

 

Leeteuk membuka dekapannya. Ia tersenyum pada Taeyeon. Dibalas senyum tulus dan manis yang belum pernah Leeteuk lihat dari Taeyeon.

 

“Saranghae.” bisik Leeteuk di telinga Taeyeon.

 

Leeteuk menarik wajahnya dari telinga Taeyeon. Tiba-tiba, Leeteuk mendaratkan bibirnya ke bibir Taeyeon.

 

Mata Taeyeon terbelalak lebar. Namun, melihat Leeteuk yang memejamkan matanya dan mulai melumat bibir Taeyeon, membuat Taeyeon menutup matanya dan mulai membalas kecupan yang diberikan Leeteuk. Leeteuk mengalungkan tangannya dipinggang Taeyeon, menarik Taeyeon untuk lebih merapat ke arahnya. Sedangkan Taeyeon, memegang kerah baju Leeteuk dan sesekali meremasnya.

 

Leeteuk perlahan menarik bibirnya, meskipun hanya beberapa milimeter karena wajah mereka masih menempel. Taeyeon masih merasakan nafas hangat Leeteuk yang menghantam wajahnya.

 

“Nado saranghae.” bisik Taeyeon sambil memandang mata Leeteuk.

 

Leeteuk tersenyum, ditariknya wajahnya menjauh. Tangannya masih mendekap hangat pinggang Taeyeon.

 

“Menurutmu… apa Kangin tidak akan marah jika aku melamar calon istrinya?” tanya Leeteuk.

 

Taeyeon tersenyum.

“Ia selalu bahagia saat aku juga merasakan bahagia…”

 

 

 

 

~~

 

END of ‘Smile Again’

 

~~

 

 

^^

Annyeong~ saia kembali dengan oneshoot. Masalah sequel other side ntar dulu yak? *lagi pusing*

Mungkin saia akan hadir *?* dengan beberapa oneshoot-an dulu. Hehehe~

 

Dimohon keiklasannya untuk RCL yah? ^^

 

Ohya, maaf banget kemaren2 komenan other sidenya gak saia reply. Soalnya saia lupa pass WP *aib*

Tapi tetep saia baca kok ^^

 

keep RCL~~

 

 

15 responses

  1. waaaah qren bgt critany..

    awalny sedih tp brakhir dgn happy ending senangny..

    mank dh taeteuk tuuu bener” leader copel dh..

    ditunggu ff yg lainny chingu..

  2. Wah keren !!!😀
    bener yang diblg sama Taeyeon kalo semua orang pasti mengalami yg namanya Jurang keputusasaan . tapi dari keputusasaan itu paling gak ada seseorang yang mau memberikan kita semangat untuk keluar dari jurang itu🙂
    bener2 miris banget pas kangin kecelakaan , tapi gak nyangka kalo Leeteuk itu sepupu sama kangin🙂
    KEREN deh😀

  3. You are so interesting! I don’t think I’ve read through something like that before.
    So nice to find somebody with unique thoughts on this issue.

    Really.. thanks for starting this up. This site is one thing that is required on the
    internet, someone with a bit of originality!

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s