Are You Really Love Me? (end part)

 

 Title                           : Are You Really Love Me? (Second Part)

Author                         : Dara Daroen (@dara_daroen)

Main Cast                    : Lee Ji Eun (IU)

No Minwoo (Boyfriend)

Jang Wooyoung (2PM)

Na Min Ra

Genre                          : Romance, Sad

Rating                          : PG

Leght                           : Twoshoot

 

~ Author POV ~

Oh Tuhaan.. aku tak tau apa yang harus kulakukan.. Penjelasan Min Ra memang membuatku yakin. Tapi.. Aku tak bisa kembali dengan Wooyoung, tak bisa sampai kapanpun. Aku.. Aku tak mungkin menyakiti Minwoo. Oh tuhan… Bantu aku..”  ujar hati kecil Ji Eun.

Kini Ji Eun benar-benar dalam kebingungan. Ia pusing memikirkan semuanya. Minwoo, Wooyoung, Min Ra… Semuanya membuat dia bingung..

~ ~

Bel istirahat berbunyi.

Ji Eun masih terdiam ditempat duduknya. Nampaknya ia tidak akan kekantin kali ini. Di ujung pintu nampak Wooyoung memperhatikan Ji Eun yang sedang melamun, tertunduk lesu. Niatnya ia ingin menghampiri Ji Eun dan mengajaknya ke kantin. Namun, ia urungkan niatnya karena takut menambah kemarahan Ji Eun padanya. Akhirnya Wooyoung berlalu.

Sementara itu…

Minwoo berlari-lari menuju kelas XII-A, kelasnya Ji Eun. Telah sampai didepan pintu, dia melihat Ji Eun tertunduk lesu. Minwoo tau yeoja itu sedang pusing dan bingung. Minwoo mengurungkan niatnya untuk mengajaknya ke kantin karena takut ditolak dan takut menambah kepusingannya. Akhirnya Minwoo pun berlalu.

Ji Eun bergumam sendiri..

‘Oh Tuhan.. yang mana keputusan yang harus kupilih. Aku bingung dengan semua ini’

~ Ji Eun POV ~

Bel pulang sudah berbunyi saatnya pulang sekolah. Aku segera bergegas pulang. Aku ingin cepat-cepat sampai rumah. Hari ini benar-benar membosankan.

Sesampai dirumah, aku menghempaskan tubuhku kekasur dan tidur sejenak.

~ ~

Drrrrtttt…. Drrrrtttt…

Aku mengambil handphoneku yang bergetar. Oh tuhan, ini menganggu tidurku saja. Hah.

“Haaah Yobosseo? “

Ne Ji Eun~ah. Bisakah kita bertemu?”

“Ah tunggu. Siapa ini?”

Jang Wooyoung”

                “Mwo???!”

Aku terbelalak, kaget. Huaaah ada apa namja ini. Mengapa ingin bertemu denganku? Sudahku peringatkan berkali-kali aku muak bertemu dengannya.

Kumohon..”

                “haahh ingin apasih??! Aku tak mau bertemu denganmu!”

Aku ingin bicara sesuatu”

                “Disini saja sudah, cepat bicara!”

Ah tidak bisa Ji Eun~ah. Kumohon, sekali saja kita bertemu.”

                “Keras kepala! Baiklah, dimana?”

Di Seoul Park jam 4 sore”

                Aku langsung menutup teleponnya dan kembali tidur. Haahh sekarang masih jam 2, lebih baik aku tidur lagi dan berharap aku tak terbangun jam 4 nanti. Aku tidak mau bertemu dengannya.

Aku pejamkan mataku lagi. Tapi…

“Huaaaaa!!! Mengapa aku tak bisa tidur lagi??!” teriakku.

Kupikir aku tak bisa tidur lagi. Baiklah, aku bersiap-siap saja bertemu namja itu.

~ ~

Jam 4 tepat. Yahhh, aku malas ke Seoul Park. Tapi… sekali sajalah aku bertemu dia. Dan kuharap itu pertemuan terakhir.

Kusapu seisi taman, dan tak tampak sosok Wooyoung disana. Akhirnya aku duduk disalah satu bangku.

Handphoneku bergetar. Message masuk.

From     : Na Min Ra

                Ji Eun~ah, kau.. Cepatlah ke rumah sakit. Wooyoung sedang koma disini, tadi dia tertabrak mobil besar. Kondisinya amat parah..

Membaca pesan itu aku langsung lari kerumah sakit. Dadaku sesak. Nafasku tak teratur. Jantungku tak berdetak dengan normal. Oh tuhan.. Aku takut.

Entah mengapa, aku takut terjadi apa-apa dengan namja itu. Aku takut.

~ ~

Sesampai dirumah sakit dan dikamar rawat Wooyoung. Kubisa melihat namja itu terbaring lemas. Dikepalanya dibungkusi perban, ditangannya dan dikakinya juga. Aigo.. Separah itu kah.

“Woo.. Wooyoung?” ujarku kaget melihat namja itu terbaring kaku

Na Min Ra dan Minwoo ada disana. Minwoo langsung menghampiriku dan menenangkanku.

“A..Apa.. Apa ini benar Wooyoung? Jang Wooyoung??” tanyaku masih tak percaya.

“Ne Ji Eu~ah.. Aku tau kau sesak melihatnya.” Ujar Minwoo padaku.

“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia terbaring disini?”

“Tadi dijalan dekat Seoul Park berkumpul banyak orang ditengah jalan dan aku menemukan Wooyoung yang dikerubungi orang-orang itu. Saksi mengatakan dia tertabrak mobil besar. Setelah itu aku segera membawanya kesini” jelas Minwoo.

“Ya Ji Eun~ah. Setelah itu pula, Minwoo menelponku akhirnya aku kesini dan aku langsung menghubungimu” seru Min Ra.

“Tapi.. Tapi.. Bukankah dia memintaku bertemu di Seoul Park itu? Mengapa kini dia terbaring disini??! Oh tuhaaaaan??! Tidak mungkin ini” teriakku histeris. Minwoo dan Min Ra menenangkanku. Tapi aku, terkulai tak berdaya.

~ ~

“Ji Eun.. Ji Eun~ah!” kudengar seseorang memanggilku. Tapi aku terbangun dan disekelilingku putih. Cahaya begitu terang disini. Aku dimana?

“Lee Ji Eun..”

Ku ikuti suara panggilan itu. Dimana? Dimana suara itu?

“Aku disini..” tiba-tiba tampak seorang namja dihadapanku.

“Wo.. Wooyoung?” seruku tak percaya.

Dia memelukku. Erat.

“Ji Eun. Aku masih sangat mencintaimu. Aku harap kau mengerti.. ”

~ ~

“Ji Eun.. Ji Eun~ah!”

Aku terbangun lagi. Aigo. Apa itu mimpi? Wooyoung, Wooyoung tadi di mimpiku?

“Ah ne. Ya! Dimana aku ini?”

“Kau sudah dirumah. Tadi kau pingsan dirumah sakit, ini Minwoo yang mengantarmu.” Seru seseorang yang kukenal, bibiku.

“Oh bi. Mana? Dimana Minwoo?” tanyaku.

“Ya, aku disini Ji Eun~ah” kudengar suara lembut menghampiriku. Dan Bibi keluar dari kamarku.

Aku mencoba bangun tapi aku tak berdaya.

“Sudahlah Ji Eun. Kau istirahat dulu, jangan coba bangun. Fisikmu masih lemah” ujar Minwoo

“Minwoo… Terimakasih. Terimakasih atas semuanya.” Seruku pelan.

“Ne. kau tak perlu berterimakasih Ji Eun~ah” jawabnya.

Kini, kami terdiam.

~ ~

~  Minwoo POV ~

Pagi ini aku lemas. Untung saja hari ini hari libur. Aku bisa malas-malasan dikasur hari ini. Tapi…

Drrrttttt…. Drrtttt…

Lee Ji Eun is calling…

“Ne. Yobosseo?”

Yobosseo. Minwoo~ah.. Bisa kau menemuiku sekarang? Aku di café biasa.”

                “Hmmm. Oke, tunggu aku”

~ tuuuuuuttt~

Sebenarnya aku malas kemana-mana hari ini. Ya tapi, Ji Eun memintaku datang ke café. Mungkin ada yang perlu dikatakannya. Mmmm.

~ ~

“Hey Lee Ji Eun!” seruku pada yeoja manis itu

“Ah Ne Minwoo..” sahutnya.

“Kau tak pesan makan ataupun minum kah?” tanyaku.

“Ani.”

“Oh baiklah. Ada apa ingin bertemu denganku?”

“Aku ingin.. Bicara sesuatu”

“Ne. katakan saja..”

“Kurasa… Hmmm. Kurasa aku, aku tak bisa mencintaimu Minwoo~ah” ucapnya to the point.

Tak tau mengapa, mendengar perkataan yeoja itu, aku sesak. Jantungku berhenti berdetak sebentar, ku atur lagi nafasku meskipun sulit. Aku menarik nafas panjang.

“Hmmmm Ne. arasseo.” Aku tertunduk lesu. Tak bisa kukatakan apa-apa lagi.

“Mianhae Minwoo~ah. Aku.. Aku katakan sejujurnya, sebenarnya benar apa katamu. Aku tak bisa sepenuhnya membenci Wooyoung. Aku masih mencintainya”

Sesak. Aku tambah sesak. Aku hanya bisa diam.

~ Ji Eun POV ~

Aku mengatakannya. Aku mengatakan itu pada Minwoo. Oh tuhaaan, maafkan aku jika ini salah. Dan kuharap Minwoo juga bisa memaafkanku.

“Mianhae Minwoo~ah. Aku.. Aku katakan sejujurnya, sebenarnya benar apa katamu. Aku tak bisa sepenuhnya membenci Wooyoung. Aku masih mencintainya”

Entah mengapa. Aku teringat mimpiku dan ketika Wooyoung berkata,

                ‘Ji Eun. Aku masih sangat mencintaimu. Aku harap kau mengerti.. ‘

                Aku sesak mengingat itu.

Kulihat, Minwoo terdiam, tertunduk. Oh tuhaaaan, aku sudah menyakitinya.

“Minwoo~ah… Apa kau marah padaku?” seruku padanya setelah beberapa lama didiamkan olehnya.

“Ah ani. Aku.. Aku tidak marah sama sekali.” Akhirnya dia mengangkat wajahnya lagi.

“Kau memaafkanku kan?”

“Ne. tentu saja”

“Jeongmal?”

“Ne”

Kurasa Minwoo begitu dingin padaku. Kuharap dia tidak benci padaku.

“Ah baiklah Ji Eun~ah.. Kupikir semua sudah jelas. Bagaimana jika sekarang aku pulang duluan? Aku sedikit malas hari ini.” Ser u Minwoo dan segera berdiri.

“Tapi… Minwoo”

“Sebaiknya kau jenguk Wooyoung hyung. Kau takut dia kenapa-kenapa kan? Kurasa dia memerlukanmu disampingnya.” Ujarnya lagi dan meninggalkanku.

Airmataku tumpah.

Oh tuhaaaan. Ampuni aku. Aku telah bersalah membuat hati namja itu sakit. Aku mohon maafkan aku. Kuharap penuh namja itu tidak benci padaku’

                ~ ~

                Aku menelusuri koridor rumah sakit. Kukunjungi kekamar rawat Wooyoung.

Kulihat perawat baru saja keluar dari kamarnya.

Aku segera masuk dan kutemui Wooyoung telah sadar, tapi tetap saja dia masih terbujur kaku.

“Ji.. Ji Eun?”

Aku menghampirinya dan tersenyum.

“Ji Eun? Benarkah kau ini? Ji Eun~ah?” serunya tak percaya.

“Ne”

Dia mendekapku. Memelukku erat. Sangat erat.

“Aku tak percaya kau kesini. Kupikir kau takkan pernah menjengukku Ji Eun~ah”

Aku melepaskan pelukannya.

“Aku pasti datang. Akukan temanmu, masa iya aku tidak datang menjengukmu”

Babo! Aku mengatakan ‘Aku kan temanmu’ . Padahal aku berharap tak sekadar teman. Huaaah mengapa aku jadi begini. Apa benar aku hanya menganggapnya teman? Aigo..

“Oh Ne.. Gomawo sudah menjengukku” seru Wooyoung dan bersender lagi dibantalnya, aku membantunya.

“Bagaimana dirimu? Sudah merasa pulih kah?” tanyaku sedikit ragu.

“Ne”

“Mianhae. Gara-gara aku kau jadi kecelakaan Wooyoung~ah”

“Mwo? Gara-gara kau? Kau bercanda? Ini sudah jelas salahku. Lagi pula kan aku yang mengajakmu ke taman kemarin. Mengapa kau yang meminta maaf Ji Eun~ah…”

“Hmmmm tapi aku merasa bersalah padamu”

“Na do. Maafkan aku juga Ji Eun~ah..”

“Ne, kau sudah kumaafkan”

Diam. Kami terdiam amat lama. Entah mengapa kami sama-sama canggung.

“Baiklah, aku.. pulang dulu ya. Kuharap kondisimu membaik. Annyeong!” seruku dan bergegas meninggalkannya. Kulihat dia hanya tersenyum.

Entah mengapa aku merasa senyum itu yang paling indah dan…

Ah tuhaaaan…

Hari ini aku benar-benar linglung. Aku bingung harus bagaimana. Hari ini aku sudah membuat Minwoo kecewa dan hari ini pula aku mungkin membuat Wooyoung kecewa. Ah ani. Mengapa aku merasa seperti ini? Aigo..

~ ~

Baru saja aku keluar rumah sakit dan handphoneku berdering. Segera aku angkat telefon itu.

“Yobosseo Min Ra~ah? Waeyo?”

“Ji Eun!! Ji Eun~ah… heuheeuuhh”

                “Hey mengapa? Ada apa? Kau.. Kau menangis?”

Ji.. Ji Eun~ah…”

                “Ya! Min Ra! Jangan buat aku panik! Mengapaaaa? Ada apa?”

“Cepat kau kembali kesini. Kerumah sakit.”

                “Me… Mengapa?? Memangnya ada apa?”

Jang Wooyoung. Wooyoung sudah mengehembuskan nafas terakhirnya.”

                Deg.

Hatiku terasa tercambuk. Aku sesak.

Segera aku berlari masuk lagi kedalam rumah sakit. Berlari.. Sangat kencang. Aku takut. Aku khawatir. Dan aku… aku menyesal..

Sesampainya dikamar Wooyoung, kini kusudah merasakan kamar itu sudah menjadi kamar duka. Airmataku mengalir deras, sangat deras saat kulihat tubuh Wooyoung ditutupi kain putih hingga kekepala.

Aku berlari dan segera membuka perlahan kain itu. Aku tersenyum sambil menitikkan airmata.

“hahaha. Aku.. Aku tak percaya ini kau Wooyoung.. Aku tak percaya! Ya! Tadi aku masih bisa melihat senyummu! Aku yakin ini bukan kau!! Mana? Mana senyum indahmu tadi Wooyoung~ah??! Cepat bangun hey! Banguuuun!”

“Ji Eun.. Ji Eun.. Tenanglah tenang. Sudah tenang. Aku tau kau tak bisa menerima semua ini. Tenanglah..” seru Min Ra menenangkanku.

“Apa?! Terima apa Min Ra??! Terima kalau Wooyoung pergi? Ani! Dia tidak pergi. Dia tidak mungkin pergi..”

Aku berteriak sekencang mungkin. Airmata berderai deras dari mataku. Aku tak sanggup menahan semua ini.

“Wooyoung~ah! Kau bahkan belum berbicara padaku saat kau bilang ingin bertemu ditaman. Kau ingin berkata apa? Ayo katakan sekarang.. Aku akan dengarkan Wooyoung~ah” aku terus berteriak disamping mayat Wooyoung, meski aku ini sudah seperti orang gila.

“Kau.. Kau ingin bilang apa Wooyoung~ah!! Cepat katakaan. “ aku tak tahan dengan semua ini.

“Dimimpiku kau bilang kau masih mencintaiku. Ya! Aku mengerti, aku mengerti maksudmu Wooyoung! Aku tau kau masih mencintaiku. Tapi.. Tapi mengapa kau diam saja sekarang!”

Kini kamar duka ini mulai ramai, ada Minwoo, Min Ra, kedua orang tua Wooyoung dan teman dekatnya. Mereka semua menenangkanku.

Tapi tetap saja. Aku tak bisa tenang sama sekali.

“Wooyoung~ah! Kumohooonn.. Cepat bicara. Apa yang ingin kau katakan waktu itu??!”

Aku merasa aku benar-benar sudah gila.

“Hey! Aku disini berbicara padamu.. Mengapa kau diam saja dan tak menjawab!!”

Aku terus mengoceh, berteriak disampingnya. Tapi yang kudapat, Wooyoung hanya diam tak berkutik. Aku tau.. Aku tau dia sudah tiada . tapi.. Aigoo…

“Apa kau ingin mengatakan hal yang sama seperti yang ada dimimpiku? Bahwa kau masih mencintaiku? Ne? baiklah.. aku tau itu Wooyoung~ah. Tapi.. Tapi mengapa kau kini pergi??!”

“Kalau kau masih mencintaiku mengapa kau tega meninggalkanku?? Apa kau sungguh mencintaiku??!”

Airmataku makin menderas. Aku benar-benar sakit, sesak.

Wooyoung benar sudah pergi. Senyum indahnya tadi itu ternyata senyum terakhirnya untukku. Aku tersadar itu. Tapi.. Aku tak bisa menerima semua ini..

Wooyoung~ah.. Benarkah yang kau sampaikan dimimpiku itu? Benarkah kau masih mencintaiku? Tapi mengapa? Mengapa kau meninggalkanku? Apa kau sungguh mencintaiku?’

–  THE END  –

                Aigo.. Gimana? Gimana readers? FF ku ini lucu ya? Eh. Hhe.

Maksudku, FF ku ini sedih kah? Ada yang nangis ga hayooo T_T

Kuharap banyak yang tersentuh dengan FF ku ini. Dan kuharap ceritanya meresap didiri kalian.

Okay, Please leave a comment!

Don’t Be a Silent Readers!!

I need Your Comment!!

Gomawo~ ^^

4 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s