Tell Me Your Secret Part 1 [Nana Side]

 

Tell Me Your Secret Part 1 [Nana Side]

Park Jung Soo

Nana [After School]

Super Junior Members, After School Members

Rating : G

~          ~          ~

Disclaim : FF ini adalah milik saya seorang >< dan terbukti keasliannya dan ke originalannya dari pemikiran saya langsung, FF ini juga ada di blog saya sendiri http://elfplaygirlz.wordpress.com. Jadi mohon semohon mohonnya (?) jangan plagiat FF ku ini ya >< Super Junior KRY milik saya seorang.  #abaikan.

 

[Nana Side]

            Aku mengambil sebuah figura foto yang terpampang dengan manis di atas meja rias ku, sambil tersenyum, ku pandangi gambar seorang namja yang sangat berarti dalam hidupku. Di foto itu, namja ku tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya yang dalam. Aku mengusap foto itu dengan pelan dan penuh kasih.

            Namja di foto itu adalah Park Jung Soo, namja chingu ku yang umurnya terpaut jauh dariku. Dia dulunya adalah sunbae ku di kampusku. Aku selalu tersenyum saat mengingat saat pertama kali aku bertemu dengannya…

#Flashback Start#

-5 tahun yang lalu-

            “jongkok!!! Semuanya jongkok!!! Ya!! Kau anak baru!! Tidak mendengar perintahku???” seorang sunbae menunjuk ke arah ku. “aigoo..masih anak baru saja lagak mu udah ngecat rambut begini.” Cibirnya.

            Sahabatku, Yoo Jin yang jongkok tepat di sampingku hanya tertawa terkekeh pelan mendengar cibiran sunbae itu. Sedangkan aku hanya tersenyum pahit. Bagi orang yang tidak tau latar belakangku, pasti akan menganggapku seperti itu. Sebenarnya aku lahir di korea, namun aku bukanlah murni orang korea. Appa ku orang korea murni sedangkan eomma ku blasteran antara amerika dengan korea. Jadilah hasil ku setengah barat dan setengah korea, rambut blonde ini pun murni karna warna rambut asli eomma ku memang seperti itu, hanya saja beliau mengecatnya menjadi hitam.

            Aku lahir di korea dan sempat tinggal di daerah incheon sampai berumur 10 tahun, dan memiliki sahabat karib Kim Yoo Jin ini, pada umur 11 tahun keluarga kami pindah ke amerika karna appa dan eomma memiliki tugas. Setelah lulus dari senior high school, aku menginginkan untuk kembali ke korea dan meminta untuk kuliah di sana, mereka mengizinkanku dengan syarat aku harus tinggal dengan Yoo Jin sampai aku mendapat pekerjaan untuk membiayai kuliahku sendiri. Karna aku telah berjanji pada mereka untuk hdup mandiri setelah lulus senior high school.

            “selalu dapat cibiran seperti itu huh Nana?” bisik Yoo Jin pelan, mengejekku. Barisan di depanku mulai berjalan mengitari lapangan sambil jongkok. Hari ini adalah hari pertama kami di ospek, beruntung aku dapat masuk ke universitas yang sama dengan jurusan dan kelas yang sama dengan Yoo Jin.

            Aku mulai mengikuti barisan berjalan jongkok “they so stupid.” Balasku tak kalah pelan, Yoo Jin kembali terkekeh.

            “just let them Barbie, don’t hear them..they don’t know you.” Dari dulu, Yoo Jin selalu memanggilku dengan Barbie, dia bilang wajahku cantik dan sempurna seperti Barbie. Oh ya, harusnya aku memanggil Yoo Jin dengan eonni, tapi dia tidak pernah mau di panggil seperti itu. Menurutku, Yoo Jin lah yang kecantikannya di atas rata – rata, yeoja itu memiliki bentuk tubuh yang sempurna, mata yang bulat dan indah, serta pipi yang chubby dengan expresi wajah yang polos nan lugu. Sejak awal ospek hari ini, kami berdua selalu jadi bulan – bulanan sunbae – sunbae kami yang yeoja.

            “mana sih Jung Soo sunbae-nim? Dia ketua ospek tapi nggak pernah ada di lapangan.” Gerutu seorang sunbae mengutuki ketua mereka.

            Sambil berjalan jongkok, aku ikut mengutuki ketua ospek itu. Ketua ospek yang sangat buruk, meninggalkan anggotanya yang menjalani semua ini tanpa di awasi olehnya, bagaimana kalau terjadi suatu hal yang buruk? Atau mereka terlalu berlebihan dalam mengospek kami semua?

            “ku dengar, orang tuamu mau ke sini Nana? Benarkah?” tanya Yoo Jin yang sedang berjalan jongkok di sampingku.

            “ya, mereka akan tiba siang ini eonni, mereka mau ngecek keadaanku.”

            “jadi setelah kau dapat pekerjaan, kau akan mencari apartement sendiri?”

            “eomma bilang aku sudah banyak merepotkanmu sedari kecil eonni..”

            “babo!! Don’t call me eonni again. I told you..” Yoo Jin mendengus kesal.

            “ja!! Sudah waktunya untuk istirahat, kalian semua bisa menggunakan waktu beristirahat ini dengan sebaik – baiknya.” Titah seorang sunbae sambil bertepuk tangan dan membuat gerombolan mahasiswa baru langsung bubar.

            Aku langsung berlari menuju kelasku, mengambil tas, dan mengecek HP ku, ada panggilan dari nomer amerika, sepertinya itu nomer pembantu rumah tanggaku yang di sana. Sambil berjalan keluar kelas dan tak menentu arah, aku mencoba menghubungi nomer itu kembali. Aku berhenti di sebuah lorong yang sepi, dan di hadapanku ada sebuah pintu yang sepertinya itu pintu menuju ke atap kampus. Panggilan itu terjawab ketika aku membuka pintu tersebut.

            “grandma, why you call me? I was a bit busy lately, sorry. What’s wrong?” tanyaku pada ahjumma pengasuh rumah ku sambil menaiki tangga menuju atap kampus pelan – pelan.

            “Nana..” panggilnya lirih, ku dengar suaranya sedikit bergetar.

            “grandma!!! What’s wrong???” tanyaku panik.

            Ku dengar ahjumma itu menangis, sambil terisak ia berkata “your mother and father in a plane crash… they died on the spot…”

            Tubuhku lemas hingga aku tak sanggup menempelkan HP ku lagi di telingaku, aku begitu terpukul mendengar berita tersebut, aku kembali melangkahkan kaki ku menaiki tangga dengan langkah yang lambat dan sampailah aku di atap kampus yang luas, terang, dan begitu banyak angin yang berhembus.

            Aku berlari menuju pagar pembatas tepi atap gedung, mencengkram pinggiran pagar dengan erat dan mulai meneteskan air mata. “APPAAA!!!! EOMMAAAA!!!” jeritku tak karuan, lalu aku mulai terisak, aku merasa tidak memiliki kekuatan sedikitpun hingga aku jatuh terduduk, aku terus menangis dan terisak sambil memeluk lututku.

            Tiba – tiba, seseorang memelukku dari belakang, aku sangat kaget tentu saja, aku hendak berteriak namun aku menemukan kenyamanan di pelukannya itu, aku tidak tahu yang memelukku namja atau yeoja, mungkin ia Yoo Jin eonni. Namun aku menarik kata – kata ku kembali setelah orang itu merengkuh seluruh tubuhku yang mungil ini ke dalam pelukannya, badannya sangat besar dan dadanya sangat bidang, ia seorang namja!! Oh tidak!! Aku membiarkan diriku di peluk oleh seseorang yang tidak ku kenal!!!

            “kenapa kamu menangis?” tanyanya dengan suara yang terdengar sangat lembut di telingaku. Aku hanya terus terisak tanpa sanggup untuk menjawab pertanyaannya. Ia membenamkan kepalaku di dadanya, dan aku makin merasakan kenyamanan dan kehangatan namja ini, spertinya dia bukan orang jahat, pikirku. “menangislah sepuasmu..keluarkan seluruh air matamu..aku berjanji aku tidak akan berbuat macam – macam padamu..” lanjutnya seraya mengusap rambutku dengan lembut.

            Entah apa yang ku lakukan, aku malah melingkarkan tanganku di pinggangnya, dan menangis dalam pelukan namja yang tak ku kenal itu. Namja itu hanya terdiam sambil mengusap rambutku tanpa mengucapkan sepatah katapun, hingga aku merasa bajunya telah basah oleh air mataku, lambat laun aku mulai bisa mengendalikan tangisku hingga aku pun berhenti menangis.

            “sudah lebih baik?” tanya nya. Aku hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaannya. Ia mulai melepaskan pelukannya, aku memutar kepalaku dan melihat wajah dari namja tersebut. Aku melihat wajah yang teduh, dan luar biasa tampan, wajahnya memancarkan aura yang tidak di miliki oleh namja – namja lainnya. Ia tersenyum hangat padaku dan menunjukkan lesung pipinya yang dalam. Ia mengulurkan tangannya dan menghapus sisa air mata di pipiku dan mataku dengan ibu jarinya, ia melakukannya dengan sangat lembut. Ia terlihat seperti malaikat.

            Ku rasakan wajahku memanas, “gomawo..” ucapku lirih.

            “cheonmaneyo..mianhae aku memelukmu..”

            Kami berdua terdiam, aku menyandarkan badanku di tepi pagar pembatas gedung dan mengadahkan kepalaku dan menatap langit dengan pandangan kosong, ku rasakan jaring – jaring penutup pagar sedikit bergerak, sepertinya ia melakukan hal yang sama denganku. Kami masih terdiam ketika angin dengan lembut menyapu pipiku dan membuat wajahku tertutup oleh rambutku. Aku tidak memperdulikan hal itu, aku masih tetap memandang langit dan pandanganku mulai buram, air mataku tumpah lagi, kali ini aku menangis tanpa suara. Ia merapatkan tubuhnya di sampingku, dan meletakkan kepalaku di bahunya.

            “eomma dan appa ku mengalami kecelakaan pesawat…” ceritaku lirih. “mereka hendak menuju ke sini…”

            “aku turut berduka cita..” katanya.

            “gomawo…”

            “sekarang berkemaslah, rapikan barang bawaanmu dan pulanglah.” Katanya.

            “tapi aku masih ada ospek nghh..sunbae nim..” jawabku setelah aku melihat namja itu memakai baju bebas, ia tidak mengenakan seragam sekolah.

            “oh, kau anak baru?” ia baru menyadarinya. “baiklah, ikut aku, kajja.” Ia menggenggam tanganku lembut lalu membantuku berdiri, namja itu merapikan rambutku dan menarik tanganku pelan mengikuti langkahnya yang menuju entah kemana. Kami mulai keluar dari atap kampus dan menuruni tangga.

            “siapa namamu?”

            “Nana sunbae-nim..naneun Im Jin Ah imnida.”

            “nama yang bagus” pujinya.

            “sunbae-nim.. kamu semester berapa?” aku memberanikan diri untuk bertanya.

            “aku tingkat akhir, sedang menyusun skripsi ku. Waeyo?”

            “aniya sunbae-nim..just ask..”

            Ia hanya tersenyum sambil terus berjalan menuju ke sebuah kelas kemudian membuka pintu kelas tersebut. Aku sangat shock melihat pemandangan di dalam kelas ini, kelas ini isinya adalah semua sunbae yang mengospek kami semua tadi.

            “ya!! Sunbae-nim..dari mana saja kau??” tanya seorang yeoja.

            “sudah pasti di tempat favoritnya.” Sambung seorang namja yang sedang membaca buku sambil menaikkan kakiknya ke atas meja, aku melihat namja itu memiliki aura yang dingin, berbeda sekali dengan aura namja yang berada di sampingku ini. Eh, ngomong – ngomong, siapa nama namja ini?

            “haha..kau tau sekali tentang ku ya Yesung-ah..” celutuknya, oh..jadi si dingin itu namanya Yesung.

            “ngomong – ngomong, kenapa si blonde ini bersama mu hyung?” tanya  seorang temannya yang memiliki gummy smile, aku sangat ingat senyum gummy itu karna dia tidak bertingkah seperti sunbae yang lainnya pada saat ospek tadi, dan dia selalu berusaha untuk menggoda Yoo Jin.

            “oh ya, aku akan mengantar anak ini pulang, ia baru mendapat musibah orang tuanya meninggal.”

            “jinjja?? Astaga..kami semua turut berduka cita Nana, kemasilah barang – barangmu dan lekaslah pulang. Pasti hyung juga sudah menyuruhmu kan? Kami tidak bisa membantah titah ketua ospek kan?” kata namja yang memiliki wajah yang sangat aegyo.

            Aku ternganga mendengar ucapan namja aegyo itu. Apa dia bilang? Ketua ospek?

            “ya!! Kenapa bengong? Kau belum tau kalau yang di sampingmu itu adalah ketua ospek?” hardik namja yang ku ingat namanya adalah Lee Donghae, pujaan yeoja – yeoja mahasiswi baru.

            “aku lupa mengenalkan diriku padanya Donghae-ah..”

            “pabo hyung!!” celutuk namja yang memiliki senyuman evil.

            “cepat kembali ke kelasmu dan bereskan barangmu, aku tunggu di parkiran. Oh iya, aku Park Jung Soo.” Katanya sambil mengulurkan tangannya padaku dan memamerkan senyumnya yang memiliki lesung pipi yang dalam. Kalau saja aku batu es, pasti aku sudah meleleh. Aku menjabat tangannya masih dengan tatapan shock. Ia menatapku dalam, baru ku sadari dia memiliki bola mata yang indah berwarna kecoklatan. Oke, aku mencabut kembali kutukan yang sempat ku berikan pada ketua ospek ini.

            Dan aku merasakan ada debaran aneh yang merayapi hatiku.

~          ~          ~

“Nana-ssi..” panggil seseorang dari belakangku saat aku sedang berusaha merapikan buku – buku tebal yang berada di tanganku sekarang. Aku menoleh ke belakang dan mencari orang yang memanggilku, dengan mudah aku menemukannya, beberapa minggu dekat dengannya membuatku sangat mengenali suara itu. Ia melambaikan tangannya.

“sunbae-nim..” aku tersenyum menantikan kedatangannya ke arahku.

“aish..udah ku bilang berapa kali jangan panggil aku kaya gitu.” Ia menggerutu, “ya! Buku – buku itu terlalu berat Nana, sini biar aku bantu.” Katanya sambil mengambil tumpukan buku dari tanganku.

“gomawo oppa..gimana bimbingan skripsi mu?”

Ia mengalungkan sebelah tangannya yang kosong ke leherku dan mengajakku berjalan. “sukses, aku nggak kena koreksi sama sekali untuk bab 1 ku. Kamu ada acara? Gimana kalau aku traktir makan siang?”

“hmmm…” aku memasang wajah berfikir membuatnya penasaran, aku sangat suka melihat wajahnya yang cemas. “ok, let’s go oppa!!” jawabku yang membuatnya menyunggingkan senyuman favoritku, senyuman yang selalu di hiasi oleh lesung pipinya yang dalam. Kami pun berjalan menuju parkiran dan bertemu dengan Eunhyuk sunbae yang sepertinya sedang menunggu seseorang.

“Eunhyuk-ah..menunggu seseorang?”  tanya Jung Soo oppa pada temannya itu.

“ne hyung, aku menunggu Yoo Jin..” jawabnya dengan wajah yang memerah.

“hyaa..pantas saja Yoo Jin terlihat buru – buru sekali tadi.. rupanya ada janji denganmu?” ledekku, “Yoo Jin ke kamar mandi sebentar.” Kataku menjawab segala kegundahan yang terpancar di wajah namja pemilik gummy smile itu.

“kami duluan Hyukkie-ah” pamit Jung Soo oppa sambil menstarter motor balapnya. “Nana-ah, kajja..” panggilnya.

Aku naik ke kursi belakang dan melambaikan tangan pada Eunhyuk oppa saat motor Jung Soo oppa mulai melaju. Kurang lebih 30 menit, kami pun sampai di sebuah restaurant. Jung Soo oppa membukakan pintu restaurant untukku dan memilih bangku dekat jendela dengan pemandangan taman restaurant yang sangat indah.

“Yesung-ah..”

“ya!! Hyung, cepat sekali datangnya..” kata Yesung oppa sambil menghampiri meja kami, ia membawa sebuah nampan yang ternyata berisi teh hijau setelah ia meletakkannya di atas meja.

“Yesung adalah pemilik restaurant ini Nana-ah..” jelas Jung Soo oppa.

“hyung bilang kau mencari pekerjaan?” tanya Yesung oppa padaku, aku hanya menjawab dengan anggukan. “kalau begitu, bekerjalah disini. Kebetulan kami kekurangan karyawan karna kami baru saja memperluas area restaurant ini.”

Aku membulatkan mataku tak percaya, “jinjjayo oppa? Aku bisa kerja di sini?”

“ne, tapi kerjalah dengan baik dan benar. Aku tidak pilih kasih pada karyawanku walaupun kau adalah teman hyungku.” Kata Yesung oppa dengan nada datar dan dingin. “hyung, aku akan melihat pesananmu sebentar ke belakang.” Pamit Yesung oppa lalu meninggalkan kami berdua.

“Jung Soo oppa.. jeongmal gomawoyo..huaahh..akhirnya aku bisa dapat kerjaan dan nggak ngerepotin Yoo Jin lagi.”

Namja itu hanya tersenyum sambil mengacak – acak rambutku, “seperti yang Yesung bilang, bekerjalah dengan baik.”

Yesung oppa kembali datang membawa sebuah nampan besar yang tertutup, “ini pesananmu hyung.. oh ya, Nana-ssi, besok kau sudah bisa mulai bekerja. Ini seragammu ku harap pas ukurannya, besok kau harus membawa jadwal kuliahmu agar aku bisa memasukkan mu di shift yang benar, arraseo?” ucapnya tegas.

“ne, arraseo sajangnim!!” aku tersenyum pada bos baru ku itu. Yesung oppa menyerahkan bungkusan plastik berisi baju seragamku lalu meninggalkan kami lagi. “oppa, apa yang kamu pesan?” tanyaku penasaran.

“buka aja Nana-ah..”

Aku pun mengangkat penutup nampan itu dengan pelan karna tutupnya memang agak berat, terlihatlah sebuah boneka teddy bear kecil yang sangat lucu dan setangkai bunga mawar putih. Aku terkekeh melihat isinya.

“apa kita akan makan boneka dan bunga ini oppa?” tanyaku sambil membelai boneka itu, ku dengar Jung Soo oppa menarik nafas panjang dan ia menggenggam tanganku.

“Nana-ya.. would you be my girlfriend?” ia menatapku lembut, dan tatapannya seolah menembus manik mataku, kilatan matanya menunjukkan keseriusan yang sangat dalam, ia tidak pernah bermain – main dengan ucapannya.

Aku menundukkan kepalaku, menyembunyikan rona merah yang terpancar dari wajahku. “I do oppa..i do..” jawabku sambil tersenyum.

-3 tahun yang lalu-

            Aku sedang menyisir rambutku setelah mandi sore ini, ketika ku dengar seseorang membuka pintu apartement ku, itu pasti Jung Soo oppa. Kami sudah saling memberi tau kode pintu kamar apartement kami masing – masing.

            “chagiya..” panggilnya dari ruang tengah.

            “ne oppa, aku di kamar.. tunggu sebentar” sahutku sambil buru – buru menyisir. Begitu aku keluar dari kamar ku lihat ia tengah berbaring di sofa dengan mata yang terpejam sambil sesekali memijat keningnya, tampaknya ia sangat lelah sekali. Namun ia masih mengenakan jas dan dasi kerjanya.

            Setelah Jung Soo oppa lulus kuliah dengan nilai di atas rata – rata, ia mendapatkan warisan untuk mengelola perusahaan milik appa nya karna beliau sudah tua dan sering sakit – sakitan. Sementara aku sendiri masih tetap bekerja di restaurant milik Yesung oppa, namun aku telah naik jabatan sebagai manager restaurant sekarang, aku masih tetap kuliah sampai saat ini dan tahun depan aku akan menyusun skripsiku.

            Aku duduk di samping Jung Soo oppa dan melepaskan jas kerjanya serta mengendurkan ikatan dasinya. Tanganku membelai wajahnya kemudian merapihkan poninya yang berantakan.

            “kepalaku sakit sekali chagiya..” erangnya sambil memijat dahinya.

            “aku akan membuatkan teh hangat, tunggu ya..” kataku sambil mengecup dahinya lembut. Aku pun membuatkan secangkir teh hijau hangat kesukaannya dan mengambil sebutir obat sakit kepala, kemudian aku kembali ke ruang tengah dan duduk bersimpuh di lantai, di samping sofa tempat dimana Jung Soo oppa berbaring.

            “aku mencium aroma teh hijau..”

            “duduklah dulu oppa, minum obat ini juga.” Perintahku, ia menurutinya, meminum obat itu dan meminum teh nya. “kau terlalu lelah chagi..” kataku pelan seraya menelusuri lekukan wajahnya.

            “entahlah chagi.. sudah beberapa bulan ini aku sering seperti ini, kadang aku sampai nggak bisa nahan rasa sakit kepalaku ini.”

            “oppa perlu periksa ke dokter..oppa nggak pernah minum vitamin ya?”

            Namja yang memiliki panggilan angel without wings ini meletakkan cangkirnya di meja. “aku selalu lupa akan hal itu, mianhae..”

            Aku menggembungkan pipiku karna kesal, ia tertawa melihat tingkahku lalu memeluk pinggangku. “jangan ngambek Nana-ya.. iya..mulai besok aku beli vitamin dan akan ku minum tiap hari.” janjinya.

            Wajahku kembali sumringah setelah mendengar janjinya, lalu aku mencubit hidungnya pelan, “Jung Soo oppa..saranghae..” ucapku.

            “naddo saranghae Nana-ya..” balasnya sambil tersenyum, ia mengusap rambutku dan mengecup pucuk kepalaku dengan penuh kasih. “aku sudah baikan..gomawo chagi, aku pulang sekarang ne?”

            “ya oppa.. kau hati – hati di jalan..”

~          ~          ~

            “astaga,,,kau sungguh sangat sabar Nana-ah.. hubungan kalian telah berjalan hampir 3 tahun, Jung Soo oppa juga mapan, tapi dia belum melamar mu?” kata Yoo Jin saat kami tengah makan siang bersama.

            “molla eonni-ah.. aku belum kepikiran untuk itu. Sekarang aku Cuma khawatir dengan keadaannya, dia sering sakit sekarang.. rasanya pekerjaannya terlalu memberatkannya.” Aku menghela nafas panjang.

            “tapi dia udah cukup umur untuk menikah..” gumam Yoo Jin.

            “aku tau eonni, tapi mau gimana lagi? Sekarang, kami pun jarang jalan bersama. Dulu kami selalu menyempatkan waktu untuk datang ke taman favorit kami untuk sekedar makan ice cream dan bercerita, sekarang hanya aku sendiri yang selalu ke sana.”

            Yoo Jin terdiam, entah mungkin ia kehabisan kata – kata, ia mengaduk juice nya dan aku melihat sebuah cincin melingkar di jari manis tangan kirinya.

            “eonni-ah..ige mwoya??” tunjukku pada cincinnya.

            Ia tersenyum simpul, pipi chubby nya mengembang, “Eunhyuk oppa melamarku seminggu yang lalu.”

            “aigoo..chukkhae eonni-ah.. why you didn’t tell to me about this?” aku pura – pura ngambek.

            “mianhae Nana-ah..” kali ini ia tersenyum malu – malu.

            “cepat menikah eonni, dan berikan aku keponakan yang lucu.” Candaku, Yoo Jin tertawa menanggapinya.

            “kau juga Barbie, ku harap ia cepat – cepat melamarmu. Ku tunggu kabar baiknya.”

            “kita harus merayakan hari bahagiamu eonni” kataku antusias. “jadi, kau yang harus membayar semua ini.”

            “ya!!!!!”

-2 tahun yang lalu-

            Aku menatapnya tak percaya, masih tidak bisa ku terima dengan akal sehatku kata – kata yang ia ucapkan barusan. Saat ini sedang musim dingin, Jung Soo oppa menelfon dan mengajakku untuk bertemu namun ia menolak ketika ku tawarkan untuk bertemu di apartementku. Ia mengajakku untuk bertemu di taman favorit kami, taman yang biasa kami datangi.

            “oppa..kau bisa mengulangi kata – kata mu barusan? Aku rasa aku salah dengar.” Pintaku.

            “kau tidak salah dengar Nana-ya.. dan aku yakin kau mendengarnya.” Ujarnya dengan nada yang dingin.

            “aku ingin mendengarnya lagi.”kataku tak mau kalah.

            Ia menghela nafas, membuat mulutnya mengeluarkan asap di tengah malam yang dingin ini. Entah kenapa tiba – tiba aku merasa suhu saat ini menjadi sangat dingin. “geumanhaja…” ia mengulang ucapannya tadi.

            Hatiku sangat tertohok mendengarnya. “wae? Wae oppa?? Wae???!!” aku mengguncang – guncangkan lengannya. “apa salahku oppa???” tanyaku lagi karna ia tidak menjawab semuanya.

            “kau terlalu kecil untukku Nana-ya, orang tuaku menuntutku untuk cepat menikah, aku tidak bisa memilihmu. Mianhae..jeongmal mianhae..”

            “oppa bisa menikahiku sekarang jika oppa mau. Aku siap oppa..aku siap..” kataku putus asa, air mata mulai menggenangi pelupuk mataku.

            “aku nggak bisa Nana-ya,” rahangnya mengeras, ia pun mengepalkan tangannya dan menghentakkan lengannya hingga genggamanku yang ada di lengannya terlepas. “kamu bahkan belum lulus kuliah Nana-ya.”

            Mulutku hanya terbuka tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun, terlalu sakit rasanya, bagaikan petir di siang bolong. Semuanya terjadi tiba – tiba, aku seperti di hempaskan ke sebuah lubang yang amat gelap dan dalam tanpa bisa aku keluar dari lubang itu.

            Jung Soo oppa membalikkan badannya dan mulai berjalan meninggalkanku, namun kemudian ia berhenti sejenak tanpa menoleh ke arahku. Aku sangat berharap ini hanya lelucon belaka, aku benar – benar berharap ia akan membalikkan badannya dan berkata bahwa ia hanya mengerjaiku.

            “lupakan semuanya, anggap kita tidak saling kenal dan bahkan tidak pernah bertemu.”

~          ~          ~

            “sebaiknya kau pulang dan beristirahat Nana-ah.” Tegur Yesung oppa sambil menepuk pundakku, sejak Jung Soo oppa meninggalkanku, keadaanku jadi kacau seperti ini. Aku lebih banyak diam dan melamun, kadang aku mengutuki diriku sendiri yang tidak bisa professional antara pekerjaan dengan urusan pribadi.

            Aku tersentak mendengar teguran Yesung oppa, ia menyadarkanku dari lamunanku yang hampir membuatku menangis. “ani..gwenchana sajangnim. Jam kerjaku masih beberapa jam lagi.” Tolakku halus.

            “biar bagaimanapun juga, aku masih temanmu Nana-ah. Aku berikan kau dispensasi, kau bisa cuti selama seminggu. Pulanglah, atau kau perlu berlibur Nana-ah, mau ku pesankan tiket untuk ke suatu tempat?”

            “aniya oppa, gomawo…aku udah cukup banyak merepotkanmu.”

            “ya sudah, pulanglah, hati – hati.” Ia menepuk – nepuk kepalaku. Aku menunggu sampai Yesung oppa menghilang dari pandanganku, kemudian dengan gerakan yang lambat aku membereskan bawaanku dan pamit untuk pulang. Di perjalanan pulang, aku membeli sekaleng cola dan memutuskan untuk duduk di taman favoritku dan Jung Soo oppa, musim dingin telah lama berlalu sejak kejadian itu. Kini, di jalan setapak menuju taman, daun – daun mulai berguguran membuat bunyi gemerisik yang indah ketika aku menginjak potongan – potongan daun itu. Daun yang ringan terbang tak tentu arah, sama seperti hatiku.

            Aku mengambil tempat duduk di bawah pohon yang rindang, sambil menatap ke arah depan dengan tatapan kosong, aku mulai meneguk cola ku. Namun tiba – tiba aku tersedak dan hampir memuntahkan cola yang ada dalam mulutku, aku melihat seseorang yang sangat ku kenal, seorang yang masih sangat ku cintai hingga kini berada di sebrang jalan bersama…seorang wanita.

            Wanita itu menggandeng lengan Jung Soo oppa sambil sesekali menganggukkan kepalanya, sepertinya mereka sedang serius berbicara. Jadi karna wanita itukah ia meninggalkanku? Wanita itu memang lebih dewasa dariku, kelihatannya umur mereka sepadan, wanita itu begitu cantik dan elegan, walau ia hanya mengenakan kaos biasa dan celana jeans, namun wanita itu begitu menarik.

            Aku tersenyum miris menatap mereka “kau sangat menyedihkan Nana..” gumamku.

~          ~          ~

            “ya!!! Im JinAh, apa – apaan kau? Kenapa ruanganmu jadi berantakan seperti ini?” jerit Yoo Jin saat ia tiba di apartementku. Aku masih dalam masa cuti, dan semenjak kejadian itu, hidupku berubah, aku bukan lagi Nana yang rapih dan bersih, apartement ku pun tak kalah berantakannya dengan kapal pecah. Yoo Jin melempar sebuah bungkus bekas coklat dari sofa ke tempat sampah dan duduk di sofa tersebut. “aku mengerti kau sedang depresi, tapi jangan berubah seperti ini Nana-ah.”

            “kau seperti ibu – ibu sekarang eonni-ah..” aku tertawa hambar. Yoo Jin hanya terdiam, kemudian ia bangkit dari sofa dan mulai membereskan ruangan apartementku sedangkan aku hanya melihatnya tanpa membantunya.

            “sebaiknya kau mandi, aku akan mengajakmu ke mall.” Katanya.

            Aku menurutinya, setelah mandi dan berganti baju, ruangan apartementku telah bersih dan rapih. Yoo Jin dan aku menyetop sebuah taxi menuju ke mall. Di sana ia mentraktir ku habis – habisan dan ia juga membeli beberapa perlengkapan untuk pernikahannya, aku melihat raut kebahagiaan terpancar dari wajahnya, seperti itukah rasanya jika ingin menikah?

            Kami memasuki sebuah toko perhiasan karna Yoo Jin ingin membeli sebuah kalung, aku tidak memperhatikan langkahku hingga akhirnya aku menabrak seseorang, membuatku jatuh dan barang belanjaanku berserakan kemana – mana.

            “Nana-ah, are you okay?” tanya Yoo Jin sambil membantu membereskan barang belanjaanku, aku berdiri dan bermaksud untuk meminta maaf pada orang yang telah ku tabrak.

            “Ju-Jung Soo oppa?” kataku lirih, ia bersama wanita itu di sampingnya dan di hadapan mereka ada beberapa buah cincin.

            “oppa, kau kenal?” tanya wanita itu.

            Jung Soo menatapku dengan pandangan dingin, “ani.” Jawabnya singkat, ia lalu menggandeng tangan wanita itu dan menariknya keluar dari toko.

            “aish!!! Jinjja!!! Apa sih maksud dia itu!” kata Yoo Jin kesal.

#Flashback End#

            Aku menatap foto itu dengan mata berkaca – kaca, tanpa terasa air mataku mulai menetes dan membasahi foto namja yang paling ku cintai itu. Aku tersenyum dalam tangisanku, mengingat betapa besar rasa cintaku padanya, dan begitu juga sebaliknya. Aku melihat jam tanganku.

            “sudah waktunya..”

            Aku menghapus air mataku dan mencuci mukaku, sampai akhirnya aku mulai memakai bedak dan mendandani diriku dengan make up natural.

#Flashback Start#

-1 tahun yang lalu-

            “ya!!ya!! im coming!!!” seru ku dengan setengah berlari ke pintu. “kau?!”

            “annyeonghaseyo.” Sapanya sambil membungkukkan badannya. “aku Kahi.” Katanya memperkenalkan diri.

            “untuk apa kau datang kemari?” tanyaku dingin, aku menatap tajam ke arah wanita ini. Wanita yang ku anggap telah merebut Jung Soo oppa dariku.

            “aku ingin menyampaikan pesan dari Jung Soo-ssi, dia memintamu untuk datang ke gereja malam ini.”

            “for what? Kami nggak saling kenal. Itu yang dia pinta.”

            “dia yang memintamu untuk datang Nana-ssi.”

            “kenapa nggak dia yang datang ke sini dan memintaku untuk datang? Kau bilang apa? Gereja? Untuk apa? Untuk melihat kalian menikah? Fuh!!” emosiku mulai naik.

            “dia nggak bisa ke sini Nana-ssi. Aku harap kau bisa datang, ini permintaannya, malam ini, pukul 8, jebal..”

            Emosiku makin memuncak dan aku hendak menutup pintu namun di tahan oleh wanita itu. “jebal Nana-ssi, ini permintaannya atau kau mungkin akan menyesal.” Ucapnya sebelum aku mendorong tubuhnya dan menutup pintu.

            Aku menghempaskan tubuhku ke sofa. “you’re damn crazy!!!!” jeritku. “eerghh!!!!” aku mengacak – acak rambutku frustasi. “mengundangku ke gereja? Pffhh..untuk apa angel? Untuk melihatku menangis di atas kebahagiaanmu? Untuk mengejekku? Hmm? Ahahahaha..” aku mulai meracau tak karuan. Bahuku mulai bergetar dan pandanganku memburam “kau benar – benar akan meninggalkanku..” aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, “oke..kalau itu yang kamu mau oppa..setidaknya aku masih bisa melihatmu dari kejauhan.”

            Aku berjalan dengan gontai menuju kamarku dan mempersiapkan baju yang hendak aku pakai ke gereja itu, dress berwarna putih, warna favorit Jung Soo oppa. Aku mulai meneteskan air mata lagi, ‘goodbye my angel without wings…’

~          ~          ~

            Aku mulai memasuki gereja itu, tepat pukul 8 malam, aku berjalan pelan menyusuri karpet merah yang terbentang. Mataku terbelak melihat apa yang ada di depanku, Jung Soo oppa hanya terdiam, mengenakan jas hitam dan sarung tangan putih, ia terlihat sangat tampan dan gagah.

            ‘Jung Soo oppa…’ panggilku sambil meneteskan air mata.

 

TBC~

 

8 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s