Don’t Say Good Bye, My Princess – part 1

Don’t Say Good Bye, My Princess – part 1
Untuk fanfictku kali ini aku pengen male main castnya adalah Lee Donghae Super Junior. *perasaan mulai dari fanfict pertama sampai yang teranyarku ini, male main castnya selalu Choi Minho atau gak Lee Donghae. Ahh.. gak apalah… inikan hak aku sebagai pengatur alur cerita.
 
Dan untuk female main castnya aku masih tetep ngasih peran ini untuk eonnieku yang cantik dan cute. She is maknae of T-ara ‘Park Ji Yeon’
 
Disini aku bakalan ngasih peran untuk Donghae oppa memiliki karakter soorang pria dewasa, berkharisma, perfectsionis, namun sikapnya agak dingin pada setiap yeoja.
Untuk Park Ji Yeon eonnie, aku kasih peran jadi seorang yeoja yang baru saja masuk universitas terbaik dan ternama di Korea, yaitu Seoul University. Dia adalah yeoja yang sangat baik hati, ramah, ceria, dan juga pintar.
 
Ya sudahlah, langsung to the point aja…..
 
One
Two
Three
For
Five
Six
Seven
Eight
Nine
Ten
Eleven
Twelve
Three teen
Four teen
Five teen
 
*wahhh…  sampai 15. Karena 15 adalah 13+2 adalah SUPER JUNIOR…
*ahahhaha.. abaikan… ^^
 
Main Casts:
Lee Donghae Super Junior
Park Ji Yeon T-ara
Choi Minho SHINee
 
Other Casts:
Lee Jieun
Luna
Lee Family
Park Family
SHINee’s Member, etc
 
Genre:
Friendship, Family, Romance
 
Author:
Leni Nur Anggraeni
 
*****
 
*note: This fanfiction is my imaginations! Not plagiat!!!
 
I hope you like J))))
 
 
”Don’t Say Good Bye, My Princess”
Part – 1
 
            Author’s pov.
 
            Seorang namja dewasa memiliki paras yang tampan dan juga berkharisma sedang menata penampilannya untuk hari ini. Dia adalah namja berusia 25 tahun yang kini telah menjadi seorang presdir muda di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan. Banyak sekali yeoja yang ingin menjadi kekasihnya, namun tak satupun digubris oel namja tampan ini.
 
         Di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda, seorang yeoja cantik juga sedang menata penampilannya untuk berangkat ke kampusnya hari ini. tak henti- hentinya yeoja cantik ini menyunggingkan sebuah senyuman. Sepertinya hari ini adalah hari yang sangat ditunggu- tunggunya, yaitu hari pertamanya menjadi mahasiswi di sebuah universitas terbaik dan ternama di Korea, Seoul University.
 
         Lee Donghae’s pov.
 
         “Donghae-ahh, apa hari ini kau sibuk?” tanya Appa saat aku baru saja duduk bergabung bersama appa, eomma, dan Donghwan hyung di meja makan untuk sarapan.
         “Anniya, appa. Wae?” tanyaku sambil menyantap sepotong roti dengan selai coklat yang telah dibuatkan oleh eomma.
         “Nanti malam, akan ada tamu special yang akan berkunjung ke rumah kita.” Jawab appa.
         “Nugu?” tanyaku penasaran.
         “Sahabat Appa dan Eomma sejak masih duduk di sekolah menengah. Jadi, Appa harap hari ini kau jangan lembur kerja. Arraseo!” jawab appa.
         “Baiklah.” Jawabku singkat, padat, dan jelas.
         “Donghae-ahh, eomma sarankan jangan terlalu banyak menghabiskan waktumu hanya untuk bekerja. Ingatlah kesehatanmu, Donghae-ahh. Eomma tidak mau putera eomma yang tampan ini tiba- tiba jatuh sakit.” Ucap Eomma dengan nada cemas. Karena akhir- akhir ini semenjak aku diangkat menjadi seorang presdir lebih banyak menghabiskan waktuku untuk bekerja di kantorku dan selalu pulang larut malam.
         “Jangan berlebihan seperti itu padaku, eomma. Aku ini adalah namja dan aku sudah dewasa. Aku tahu mana yang terbaik untukku. Jadi, eomma tidak usah terlalu mengkhawatirkan aku seperti itu. Aku akan baik- baik saja, eomma.” Jawabku dan menyunggingkan senyuman pada eomma.
         “Aisshhh….. putera kalian itu bukan hanya Donghae saja. Apa kalian sudah tidak menganggapku sebagai putera kalian??” Donghwan hyung angkat bicara.
         “Bukan begitu, kau kan sudah dewasa. Eomma dan Appa percaya padamu, Donghwan-ahh. Kau tahu yang terbaik untukmu sendiri. Lagipula, sebentar lagi kau kan sudah ada yang memiliki.” Jawab eomma. Appa mengangguk pertanda setuju dengan perkataan eomma.
         “Benar juga apa yang dikatakan eomma. Dua minggu lagikan resepsi pernikahan kau bersama Hyomin akan segera berlangsung. Apa persiapannya sudah selesai semua?” tanya appa mengalihkan pembicaraan.
         “Sudah 90%. Aku dan Hyomin tinggal memilih gaun pengantin.” Jawab Donghwan hyung.
         “Nah, tinggal giliran kau Donghae-ahh. Kapan kau akan menyusul hyungmu?” tanya eomma.
         “Aisshh.. Aku masih senang dengan kesendirianku eomma. Saat itu pasti akan hadir juga di hidupku, tapi tidak untuk sekarang. Saat ini aku hanya ingin fokus dengan karierku dulu.” Jawabku.
         “Kyaa… Donghae-ahh, ingatlah usiamu sudah tidak muda lagi. Sudah saatnya kau mencari pendamping hidup.” Ucap Donghwan hyung.
         “Aisshh.. Hyung, kau urus saja pernikahanmu dulu dengan Hyomin noona.” Jawabku kesal.
         “Sudah sudah hentikan debat kalian! Sebaiknya sekarang kalian habiskan dulu sarapan kalian.” Appa menengahi perang mulut antara aku dan Donghwan hyung.
         “Sarapanku sudah selesai. Appa, Eomma, Hyung, aku berangkat ke kantor duluan.”
         “Nae, hati- hati Donghae-ahh.” Jawab Eomma.
         “Ya sudah, sana berangkat. Aku do’akan agar hati ini kau beruntung, bisa menemukan jodohmu. Hahha..” sindir Donghwan hyung. Aku hanya menatap sinis Donghwan hyung.
         “Satu lagi, Donghae-ahh. Hari ini kau harus pulang lebih awal!” perintah appa.
         “Arraseo, Appa. Annyeong….”
 
         Park Ji Yeon’s pov.
 
         “Drrrttttttt…” ponselku bergetar tanda ada panggilan masuk. Setelah aku melihat nama panggilan masuk yang terpampang di layar ponselku adalah “Minho pabo”, akupun segera menganggkatnya. Dan aku yakin dia akan mendapatkan sarapan bentakkan dari Minho oppa.
         “Yeoboseyeo, Minho oppa.” jawabku dengan nada lembut.
         “Aisshh… Ji Yeon-ahh, aku sudah 10 menit berada di depan rumahmu. Kau lama sekali. Cepatlah aku sudah bosan menunggumu disini.” Jawab Minho oppa dengan nada yang cukup tinggi.
         “Kyaaa….. Kenapa kau membentakku seperti itu? Aku kan tidak menyuruhmu untuk menungguku, Minho-ssi. Kau sendiri yang mau.” Jawabku dengan nada yang cukup tinggi juga.
         “Kenapa kau jadi ikut- ikutan membentakku. Ya sudahlah, cepat keluar!”
         “Tuuuuutttttttt..” sambungan telepon terputus sebelum aku melanjutkan perkataanku pada Minho oppa.
         “Aissshhhh…. Minho oppa pabo! Menyebalkan sekali, setiap pagi dia selalu membentakku. Namja yang sangat aneh. Inikah kemauannya sendiri untuk mengantar jemputku ke kampus, kenapa jadi dia yang marah- marah padaku?” gerutuku. Akupun segera keluar dari kamarku, tak lupa membawa tas selendangku.
         “Ji Yeon-ahh, kemari sarapan dulu.” Bujuk Eomma.
         “Anni eomma, Minho oppa sudah menungguku di depan rumah.”
         “Kenapa dia tidak kau suruh untuk masuk dulu?” tanya appa.
         “Dia bilang, dia takut terlambat masuk kelas.” Jawabku bohong.
         “Ya sudahlah, eomma sudah tahu sikap anak itu. Ini eomma sudah siapkan sarapan untukmu.” Ucap eomma dan menyerahkan kotak makanan untukku.
         “Nae, gomawo Eomma. Eomma memang paling memahamiku. Hehhe..^^ Ya sudah, aku berangkat dulu. Annyeong…” ucapku, mencium pipi appa dan eomma. Setelah itu aku segera menghampiri Minho oppa.
         “Tok tok tok..” aku mengetuk jendela mobil Minho oppa.
         “Masuklah!” perintah Minho oppa. Akupun masuk ke dalam mobil milik Minho oppa dan duduk di depan di samping Minho oppa.
         “Kau ini lama sekali.” Minho oppa memulai pembicaraan.
         “Mianhae oppa. Tapi, sepertinya kau yang menjemputku terlalu pagi.” Jawabku tulus. Aku membuka kotak makanan yang sengaja dibuatkan eomma untukku.
         “Minho oppa, apa kau sudah sarapan?” tanyaku pada Minho oppa yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.
         “Aku tidak sempat sarapan. Apa eommamu membuatkanmu sarapan lagi pagi ini? ehmmm.. karena kau telah membuatku menunggumu terlalu lama, kau harus berbagi sarapanmu denganku.”
         “Tidak masalah. Lagipula Eomma membuatkan makanannya cukup banyak. Jadi, cukup untuk kita berdua oppa.”
         “Ya sudah sekarang kau suapi aku.” Minho oppa menoleh ke arahku dan mengeluarkan aegyeonya.
         “Kau ini kalau ada maunya baik padaku.” Jawabku kesal.
         “Jangan banyak protes! Ayo suapi aku!”
         “Minho oppa sangat manja…”
         “Aku kan sedang menyetir Ji Yeon-ahh, my princess… Cepat, suapi aku. Kau tahu, perutku sudah sangat lapar.”
         “Nae nae nae…” jawabku malas. Akupun menghabiskan sarapan yang sengaja dibuatkan eomma untukku bersama Minho oppa. Aku menyuapi Minho oppa. Minho oppa benar- benar seperti anak kecil. Hehhe.
         “Minho oppa…”
         “Nae?” jawabnya tanpa menoleh ke arahku.
         “Hubunganmu dengan Seohyun eonnie, bagaimana?”
         “Kenapa kau tiba- tiba ingin tahu tentangku dan Seohyun?”
         “Annniya, aku hanya bertanya saja. Jika Minho oppa tidak ingin menjawabnya juga tidak apa.”
         “Kami hanya berteman Ji Yeon-ahh.”
         “Ku rasa Seohyun eonnie menyukaimu, oppa. Apa kau menyukai Seohyun eonnie?”
         “Aku tidak memiliki perasaan lebih padanya. Aku hanya menganggapnya sebagai temanku saja, Ji Yeon-ahh.”
         “Padahal aku sangat berharap kau akan menjadikan Seohyun eonnie sebagai yeojacingumu, oppa. Ku rasa dia adalah yeoja yang sangat baik.”
         “Apa kau tidak takut???”
         “Takut apa?”
         “Jika aku memiliki seorang yeojacingu, waktuku untuk menemanimu akan berkurang. Apa kau tidak takut kehilanganku, huuhh??”
         “Aisshh, Minho oppa. Kau ini berhak mencari yeojacingu. Siapa tahu dengan Minho oppa memiliki yeojacingu, Minho oppa tidak akan pernah membentakku lagi. Hhehhe^^”
         “Aku masih mencarinya, Ji Yeon-ahh.”
         “Jika kau tidak menemukannya, bagaimana?”
         “Kan masih ada kau. Kau akan ku jadikan sebagai anaeku. Hahhaha^^” Minho oppa menunjukkan evil smilenya.
         “Minho oppa, pabo!” aku memukul pelan lengan Minho oppa dan tangan Minho oppa mengacak- acak lembut rambutku.
         “Kyaa… Minho oppa. hentikan! Kau membuat rambutku menjadi berantakkan!” ucapku kesal.
         Tidak terasa aku dan Minho oppa pun tiba di Seoul University. Setelah turun dari mobil Minho oppa, aku segera masuk ke dalam kelasku, begitupun dengan Minho oppa.
         “Ji Yeon-ahh…” Jieun sahabatku memanggilku saat aku baru saja duduk di tempat dudukku.
         “Wae?” aku menoleh ke arahnya.
         “Pulang kuliah, kau maukan untuk menemaniku??”
         “Menemanimu kemana, Jieun-ahh??”
         “Ke mall. Aku ingin memberikan sesuatu untuk Wooyoung oppa. Kau maukan? Tadi aku sudah mengajak Luna, tapi dia harus latihan vokal bersama Yesung songsaenim. Jadi, aku mohon, kau mau menemaniku. Jebal!!” ucap Jieun memelas. Sungguh tidak tega dengan ekspresi wajahnya saat ini.
         “Kau tidak latihan vokal juga??”
         “Anni, aku sudah izin pada Yesung songsaenim untuk tidak mengikuti latihan vokal hari ini.”
         “Baiklah, aku akan menemanimu. Tapi, tunggu dulu aku harus memberitahu Minho oppa dulu, agar pulang kulian nanti Minho oppa tidak usah menungguku.”
         Aku segera merogoh ponselku, langsung ku hubungi Minho oppa.
         “Yeobeyeo, ada apa Ji Yeon-ahh? Kau merindukanku??” tanya Minho oppa di seberang sana.
         “Aisshhh… Minho oppa kau ini sangat geer. Anni, aku hanya ingin memberitahu kalau pulang kuliah nanti, kau tidak usah menungguku. Aku mau menemani Jieun membelikan sesuatu untuk Wooyoung oppa ke mall. Tidak apa kan, Minho oppa?”
         “Nae, jaga dirimu…”
         “Annyeong, Minho oppa..”
         “Tuuttt…….” sambungan teleponku dengan Minho oppa terputus.
         “Ji Yeon-ahh.” Panggil Jieun.
         “Wae?”
         “Hubunganmu dengan Minho oppa, apa? Sepertinya hal apapun kau ceritakan pada Minho oppa dan setiap kau akan melakukan sesuatu, kau selalu meminta izin pada Minho oppa. Apa kau berpacaran dengan Minho oppa? Ayolah mengaku saja, jangan menutupinya dariku. Apa kau sudah tidak menganggapku sebagai sahabatmu lagi, huhh?? Aku tahu, kau dan Minho oppa memang sudah berteman sejak kalian masih kecil, tapi setidaknya kau juga harus selalu terbuka padaku.”
         “Aku dan Minho oppa tidak ada hubungan apa- apa Jieun-ahh. Aku hanya menganggap Minho oppa sebagaik oppaku saja, tidak lebih. Minho oppa juga hanya menganggapku sebagai dongsaengnya saja. Mungkin aku dan Minho oppa sejak kecil memang terbiasa bersama, sehingga aku selalu nyaman jika berasa bersama Minho oppa. Minho oppa selalu menjaga dan melindungiku sejak kecil.”
         “Aku kira, kalian saling mencintai.”
         “Kenapa kau kira begitu, Jieun-ahh??”
         “Karena terlihat dari kedekatan kalian. Dan aku lihat setiap Minho oppa memandangmu, Ji Yeon-ahh. Sangat berbeda dengan saat dia memandang yeoja lain selainmu.”
         “Aku memang sangat special di mata Minho oppa. hhehe^^”
         “Heii… Ji Yeon-ahh, Jieun-ahh, berhenti bergosip! Leeteuk songsaenim sudah datang.” Ucap Luna tiba- tiba.
 
         Choi Minho pov.
 
         “Minho-ahh..” panggil seorang namja yang sangat aku kenal.
         “Wae, Jinki-ahh??”
         “Siwon songsaenim mengadakan latihan basket mendadak hari ini. Kajja, kita segera ke lapangan.”
         “Ohh..nae. Aku juga mendapatkan pesan singkat perihal hal itu dari Siwon songsaenim.”
         “Ya, sudah kajja. Jika kita terlambat, Siwon songsaenim pasti akan memberikan kira sangsi.”
         “Apa Jonghyun, Key, dan Taemin sudah ada di lapangan?”
         “Mereka bertiga setelah mata kuliah terakhir selesai langsung ke lapangan.”
         “Baiklah, kajja.”
         Aku dan Jinki pun segera berjalan menuju lapangan basket Seoul University.
         “Choi Minho-ssi, Lee Jinki-ssi, kalian berdua terlambat 15 menit. Tapi, untuk hari ini kalian ku ma’afkan. Baiklah kalian berlima duduklah, ada yang ingin saya sampaikan pada kalian.” Ucap Siwon songsaenim.
         “Tentang apa, songsaenim?” tanya Key penasaran.
         “Jadi begini, selama 4 bulan ke depan saya akan pergi ke Indonesia. Saya akan menjadi pelatih untuk timnas basket Indonesia. Saya rasa, kemampuan kalian dalam bermain basket sudah bagus dan jangan diragukan lagi. Kalian sudah hampir menguasai seluruh tekhnik dalam bermain basket. Dan kalian katakan ini pada hunbae kalian. Saya percayakan club basket Seoul University ini pada kalian berlima sebagai murid- murid kebanggaan saya. Terutama kau Choi Minho-ssi.” Ucap Siwon songsaenim panjang lebar.
         “Kami tidak akan mengecewakan Siwon songsaenim.” Ucapku dan ke empat sahabatmu yang lain mengangguk pertanda setuju.
         “Baiklah, hanya itu saja yang ingin saya sampaikan. Saya harap kalian bisa menjaga amanah saya. Saya harus mempersiapkan diri untuk keberangkatan saya ke Indonesia besok. Annyeong.” Siwon songsaenim pun meninggalkan kami berlima setelah berpamitan pada kami berlima.
         Aku merogoh ponselku yang ada di tasku, lalu ku hubungi Ji Yeon.
         “Yeoboseyeo.” Jawab Ji Yeon dengan nada lembut di seberang sana.
         “Kau masih dimana, Ji Yeon-ahh? Apa aku perlu menjemputmu?”
         “Aku masih di mall, Minho oppa. Tapi, sekarang aku akan pulang.”
         “Tunggulah di depan mall. Aku akan menjemputmu. Arraseo!!”
         “Tuuttttttt..” aku menutup ponselku sebelum Ji Yeon menjawabnya.
 
         “Minho-ahh,  sepertinya kau semakin dekat dengan Ji Yeon.” ucap Jinki.
         “Kami berteman sejak kecil, Jinki-ahh.”
         “Apa kalian berpacaran? Sepertinya setiap detik kau selalu mengingatnya. Kau mencintainya kan Minho-ahh??” Key mencoba menggodaku.
         “Apa yang kau katakan? Sudahlah, aku harus menjemput Ji Yeon. Annyeong.”
 
         Author’s pov.
 
         “Ahhaha… dasar namja aneh….” ucap Jonghyun.
         “Kalau menyukainya, kenapa tidak jujur saja..” ucap Taemin.
         “Dia terlalu pengecut.” Ucap Key.
         “Ternyata kelemahannya adalah dia tidak berani menungkapkan perasaannya sendiri pada yeoja yang ia sukai. Hahha^^” ucap Jinki.
 
         Park Ji Yeon’s pov.
 
         “Ji Yeon-ahh, apa kau yakin mau menunggu Minho oppa disini sendirian?” tanya Jieun cemas.
         “Nae, sebentar lagi Minho oppa pasti datang. Sebaiknya kau segera pulang. Jangan mengkhawatirkan aku, Jieun-ahh.”
         “Baiklah, kalau begitu aku pulang duluan. Annyeong, Ji Yeon-ahh.”
         “Annyeong, Jieun-ahh..”
         “Minho oppa lama sekali. Tidak tahukan kakiku ini sangat pegal menunggunya??” gerutuku.
         Beberapa menit kemudian sebuah mobil perari silver berhenti di hadapanku. Dan aku sangat yakin ini adalah mobil Minho oppa. Minho oppa membuka jendela mobilnya.
         “Ji Yeon-ahh, naiklah.” Akupun masuk ke dalam mobil Minho oppa dan seperti biasa aku duduk di kursi depan di samping Minho oppa..
         “Mianhae, membuatmu menungguku terlalu lama, my princess.”
         “Nan gwaenchana, Minho oppa.” aku memberikan senyuman pada Minho oppa.
         “Aku kira Minho oppa sudah pulang ke rumah.”
         “Aku ada sedikit urusan di kampus.”
         “Ehmmm…”
         “Ji Yeon-ahh….”
         “Nae, oppa?”
         “Perasaanmu padaku seperti apa?”
         “Maksud oppa??”
         “Anniya, lupakan saja. Ahh membosankan sekali. Aku akan menyalakan DVD.”
         Aku hanya menganggukkan kepalaku.
         Saat ini aku sedang menikmati lantunan lagu Life, salah satu lagu dari Boy Band papan atas Korea yaitu SHINee yang berasal dari DVD yang ada di mobil Minho oppa, sambil menikmati pemandangan Seoul di sore hari.
         “Sore ini sangat indah, benarkan oppa??”
         “Nae, sangat indah..” jawab Minho oppa.
         “Sudah sampai..” ucap Minho oppa.
         “Nae, gomawo Minho oppa.”
         Akupun turun dari mobil Minho oppa dan segera masuk ke dalam rumah.
         “Aku pulang…..”
         “Kau sudah pulang, Ji Yeon-ahh. Segeralah mandi dan bersiap- siap. Malam ini appa dan eomma ingin mengajakmu untuk makan malam bersama sahabat appa dan eomma semasa masih duduk di sekolah menengah sampai sekarang, sekaligus rekan bisnin appamu, Ji Yeon-ahh.” Ucap eomma dari dapur.
         “Apa appa sudah pulang juga, eomma?” aku menghampiri Eomma yang sedang membereskan dapur.
         “Beberapa menit yang lalu, appamu sudah pulang, Ji Yeon-ahh. Sekarang dia sedang mandi. Dan sekarang kau juga harus bersiap- siap. Eomma juga akan bersiap- siap.”
         “Nae.”
         Akupun segera masuk ke dalam kamarku dan segera mandi. Setelah mandi aku segera menata penampilanku untuk dinner malam ini. Akupun menjatuhkan pilihan untuk memakai sebuah white dress selutut dan memakai highheels dengan tinggi hak 3 cm dengan warna yang selaras dengan dress yang aku kenakan, serta mebiarkan rambut panjangku terurai. Setelah selesai, aku pun keluar dari kamar dan di ruang tengah Appa dan Eomma sudah siap untuk berangkat.
         “Wahhhh… puteri appa memang sangat cantik….” kalimat yang dikatakan appa membuat semburat merah muda di kedua pipiku, dan menundukkan kepalaku.
         “Puteriku juga, yeobo..” ucap eomma.
         “Ya sudah, sepertinya semuanya sudah siap. Kajja, kita berangkat…” ajak appa.
         Sekitar empat puluh lima menit kemudian, kami pun tiba di sebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang cukup luas, design rumah yang sangat indah, tidak kalah indah dengan rumahku.
         “Ting Tong Ting Tong” appa menekan bel rumah ini. Beberapa menit kemudian, munculah seorang ahjumma membukakan pintu untuk kami.
 
         Lee Donghae’s pov.
 
         Karena malam ini appa bilang akan mengadakan makan malam bersama sahabat appa dan eomma semasa mereka masih sekolah menengah dan sampai sekarang. Maka aku putuskan untuk pulang dari kantot lebih awal.
         Setelah tiba di rumah, eomma terlihat sangat sibuk memasak berbagai macam menu untuk makan malam bersama hari ini.
 
         Menu makan malam ini sudah tersedia di atas meja makan. Aku, Appa, Eomma, dan Donghwan hyung menunggu tamu istimewa kami di meja makan.
         “Ting Tong Ting Tong” suara bel rumah kami berbunyi, sepertinya tamu istimewa kami sudah tiba. Eomma pun segera membukakan pintu untuk mereka.
         “Park Tae Sang-ahh….” panggil appa dan menghampiri ahjussi lalu memeluknya.
         “Lee Young Woon-ahh…” ahjussi Park membalas pelukan appa.
         Aku dan Donghwan hyung pun berdiri menyambut kedatangan mereka, sedangkan Appa dan Eomma sudah berada di antara keluarga Park.
         Deg
         Deg
         Deg
         “Ada apa dengan jantungku ini?” Detak jantungku berdetak lebih kencang saat melihat seorang yeoja diantara appa, eomma, ahjussi Park, dan ahjumma Park, yang aku yakini dia adalah puteri dari ahjussi dan ahjumma Park. Aku dan Donghwan hyung menghampiri mereka. Ku lihat yeoja itu memakan white dress selutut dengan rambut pangjangnya yang ia biarkan terurai membuatnya semakin cantik. Yeoja cantik ini tersenyum ke arahku.
         “Tae Sang-ahh, Tae Hee-ahh.. Kenalkan mereka adalah kedua puteraku.” Ucap Appa.
         “Choneun Lee Donghwan imnida.”
         “Choneun Lee Donghae imnida.”
         “Annyeong Donghwan-aah, Donghae-ahh. Aku adalah Park Tae Sang dan ini adalah Kim Tae Hee, isteriku, dan ini adalah puteriku. Ji Yeon-ah, ayo kenalkan dirimu pada keluarga Lee.” Ucap Park ahjussi.
         “Annyeong, choneun Park Ji Yeon imnida. Bangapseumnida.” Dia memperkenalkan dirinya sendiri dan tak lupa selalu ada sunggingan senyuman dari bibirnya. Dan entah mengapa setiap kali melihat senyumannya, membuat jantung ini berdetak tidak beraturan. Mungkin aku sangat terpesona karena kecantikannya. Dia terlihat sangat polos.
         “Annyeong, Ji Yeon-ahh. Kau sangat cantik dan terlihat sangat mirip dengan Tae Hee.” Puji eomma.
         “Gomawo, ahjumma.”
         “Ya sudah, kita mulai saja makan malamnya. Kasihan makanannya kita abaikan.”
         Kami pun makan malam bersama. Tanpa aku sadari, kedua mataku ini terkadang melirik ke arah Ji Yeon.
 
         “Donghae-ahh, ajaklah Ji Yeon ke taman yang ada di belakang rumah kita. Kami akan membicarakan soal bisnis kami dulu.” Ucap Appa.
         “Nae.”
         “Kajja..” ucapku pada Ji Yeon. Ji Yeon hanya mengangguk dan mengikutiku dari belakang.
         Aku dan Ji Yeon pun duduk di sebuah kursi panjang yang ada di taman belakang rumahku.
         “Wahh… Disini sangat indah, Donghae-ssi.” Ucapnya.
         “Usiamu berapa tahun, Ji Yeon-ssi??”
         “18 tahun, wae?”
         “Mulai sekarang kau harus memanggilku oppa, jangan memanggilku dengan sebutan formal.”
         “Nae. Mian sebelumnya, usiamu sendiri berapa?” tanyanya ragu.
         “25 tahun. Jadi, kau harus sopan padaku. Arraseo!”
         “Arra, Donghae oppa.” memberikan senyumannya padaku.
         “Donghae oppa, aku ingin buang air kecil.”
         “Kajja, aku antarkan kau ke toilet di rumahku.”
         Akupun mengantarkan Ji Yeon ke toilet yang ada di rumahku.
         “Jangan mengintip!” perintahnya.
         “Sudahlah sana masuk, aku tidak semesum seperti apa yang ada di pikiranmu.”
         Namun tiba- tiba….
         “Aahhh….. Oppa, disini sangat gelap.” Teriak Ji Yeon.
         “Neo gwaenchana, Ji Yeon-ahh??” tanyaku khawatir.
         “Oppa……. Aku takut..”
         “Aisshh… kenapa harus mati lampu. Ji Yeon-ahh tidak bisakah kau membuka kunci toiletnya.”
         “Donghae oppa…” dia sepertinya menangis. Aku pun mencoba untuk mendobrak pintu toilet.
         Di dalam toilet terlihat Ji Yeon hanya berjongkok dan tubuhnya bergetar. Akupun segera memeluknya.
         “Oppa… aku kesulitan bernafas…” ucapnya. Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada Ji Yeon. Aku semakin memeluk erat Ji Yeon.
         Beberapa lama kemudian, lampu kembali menyala dan mendapati appa, eomma, hyung, ahjussi dan ahjumma Park melihatku yang sedang memeluk erat Ji Yeon.
         “Ji Yeon-ahh, gwanchana?” ahjumma Park terlihat sangat khawatir.
         “Donghae-ahh, tolong angkat Ji Yeon ke kamar tamu.” Perintah appa.
         Akupun membopong Ji Yeon menuju kamar tamu. Terlihat jelas masih ada bekas air mata di pipinya.
         Setelah tiba di kamar tamu, aku segera membaringkan tubuh Ji Yeon.
         “Ji Yeon-ahh..” panggil ahjumma park khawatir.
         “Sebenarnya apa yang terjadi pada Ji Yeon, ahjussi??” tanyaku.
         “Sepertinya phobianya datang kembali. Ji Yeon akan merasakan kesulitan bernafas dan mendadat tubuhnya bergetas jika berada di sebuah ruangan yang sempit apalagi gelap.” Jawab park ahjussi.
         “Claustrophobia??” Donghwan hyung angkat bicara.
         “Nae, claustrophobia.” Jawab ahjussi Park.
         “Phobia terhadapa ruang yang sempit? Sejak kapan?” tanyaku khawatir.
         “Sejak Ji Yeon masih berusia 6 tahun. Saat itu kami sedang berada di apartement kerabat kami. Kemudian ada seekor kucing yang menarik perhatian Ji Yeon. Maka, Ji Yeon mencoba untuk menangkap kucing itu. Sampai kucing itu masuk ke dalam lift. Kami mencari- cari Ji Yeon kemana- mana dan kami menemukan Ji Yeon di lobby. Ji Yeon terlihat sangat ketakutan dengan tubuh bergetar, juga kesulitan bernafas. Maka kami segera membawa Ji Yeon ke rumah sakit dan dokter bilang Ji Yeon mengidap clausthrophobia. Phobianya ini sebenarnya 2 tahun terakhir ini sudah jarang kambuh dan baru kambuh lagi sekarang.” Jawab Park Ahjussi panjang lebar. Kami yang mendengar hanya mengangukkan kepala tanda mengerti dan merasa prihatin dengan keadaan Ji Yeon saat ini.
         Ternyata yeoja semanis, secantik, dan sepolos Ji Yeon mengidap sebuah phobia yang cukup membahayakan dirinya sendiri.
         “Oh Tuhan, ku harap Kau menyembukan Ji Yeon dari phobianya ini.” do’aku dalam hati.
         “Tae Sang-ahh, Tae Hee-ahh, bagaimana kalau malam ini kalian menginap di rumah kami? Aku takut terjadi sesuatu yang lebih parah terhadap Ji Yeon.” usul eomma.
         “Baiklah begini saja. Untuk malam ini kami menitipkan Ji Yeon untuk menginap disini. Besok aku harus rapat dan dokumen- dokumen yang ku butuhkan ada di rumahku. Besok isteriku akan kembali kemari untuk menjemput Ji Yeon.” jawab Park ahjussi.
         Ahjussi dan ahjumma Park pun pulang, sedangkan Ji Yeon untuk malam ini tinggal bersama kami.
         “Appa, Eomma. Izinkan aku menjaga Ji Yeon disini.”
         “Baiklah, jangan apa- apakan Ji Yeon.” jawab Appa, sekaligus memperingatiku.
         “Arraseo!”
         Dan saat ini hanya ada aku dan Ji Yeon. Ku pandangi setiap lekuk wajah Ji Yeon. Aku menutupi tubuh Ji Yeon dengan selimut.
         Deg
         Deg
         Deg
         “Ya Tuhan, perasaan ini lagi.” Batinku.
         Tiba- tiba ada sesuatu yang berbunyi berasal dari tas Ji Yeon. Ternyata ponsel Ji Yeon berbunyi dan terdapai satu pesan masuk. Tak sengaja aku membuka pesan masuk itu.
 
“Annyeong jumuseyeo, my princess..
Good night, my princess..
Have a nice and sweet dream.”
 
From: Minho pabo
 
         “Minho pabo? Namjacingu Ji Yeon kah? Aisshh.. bukan urusanku.” Aku cepat menggeleng- gelengkan kepalaku.
 
         Punggung tangan kananku menyentuh kening Ji Yeon. Ternyata Ji Yeon sedang demam. Akupun mengambil air hangat dan juga handuk untuk mengopres kening Ji Yeon, agar panasnya turun.
 
         Aku menggenggam tangan kanan Ji Yeon sampai aku tertidur di sampingnya.
 
         “Eegghhh…..” sepertinya Ji Yeon sudah bangung.
         “Kau sudah bangun, Ji Yeon-ahh?” tanyaku, aku segera melepaskan genggaman tanganku pada tangannya sebelum dia menyadarinya.
         “Dimana aku?”
         “Kau masih di rumahku, Ji Yeon-ahh.”
         “Appa dan Eomma ku kemana?”
         “Mereka sudah pulang duluan, Ji Yeon-ahh.”
         “Donghae oppa yang menjaga dan merawatku semalaman? Gomawo oppa. Kau sangat baik, padahal Donghae oppa baru mengenalku tadi malam.”
         “Bukan masalah untukku, Ji Yeon-ahh. Aku senang kondisimu mulai membaik.”
         “Gomawo, oppa.”
         “Oh iya, tadi malam ada pesan singkat dari seseorang untuk mu. Minho pabo? Dia namjacingumu?”
         “Ohhh.. Minho oppa. Anniya, dia hanya temanku sejak kecil. Kami sudah seperti kakak dan adik kandung. Minho oppa sunbaeku di Seoul University. Kenapa Donghae oppa bertanya tentang itu??”
         “Anniya, hanya bertanya saja.. hhhhe..” aku menggaruk- garuk tengkukku yang tidak gatal.
         “Sepertinya hari ini kau harus izin untuk tidak mengikuti mata kuliah hari ini, Ji Yeon-ahh.”
         “Sepertinya begitu. Tubuhku ini terasa sangat pegal dan lelah. Aku harus hubungi Minho oppa dulu.”
         Ji Yeon mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu di ponselnya.
         “Sepertinya kau sangat dekat dengan namja bernama Minho itu..” ucapku.
         “Begitulah.. Oh iya, Donghae oppa tidak berangkat ke kantor hari ini?Sebaiknya Donghae oppa segera mandi dan bersiap- siap untuk ke kantor.”
         “Nae.” Aku meninggalkan Ji Yeon sendiri di kamar tamu.
 
         Choi Minho’s pov.
 
         “Hmmm… Ji Yeon-ahh.. Semoga kau baik- baik saja.” Ucapku setelah aku membaca pesan singkat dari Ji Yeon.
         Akupun segera berangkat ke kampus. Namun, kali ini aku berangkat ke kampu sendiri tanpa Ji Yeon.
 
         Park Ji Yeon’s pov.
 
         Aku segera membenahi diriku sendiri. Setelah aku mandi dan mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh Lee ahjumma. Lee ahjumma bilang, pakaian ini adalah pakaian masa remaja milik Lee ahjumma yang masih ia simpan sebagai kenang- kenangan. Model bajunya lucu dan aku menyukainya. Ukurannya juga sangat pad di tubuhku. Setelah puas dengan penampilanku, akupun segera ke luar kamar.
 
         “Ji Yeon-ahh, bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah lebih baikkah?” tanya Lee ahjussi dengan raut wajah khawatir padaku.
         “Gomawo, kalian sudah mengkhawatirkan keadaanku. Keadaanku sekarang sudah jauh lebih baik. Donghae oppa, terimakasih karena telah merawat dan menjagaku semalaman.”
         “Ji Yeon-ahh, apa kau akan langsung pulang ke rumahmu?” tanya Donghwan oppa.
         “Sepertinya iya. Aku tidak ingin merepotkan kalian.”
         “Jangan pernah sungkan pada kami, Ji Yeon-ahh. Pintu rumah kami akan selaliu terbuka untukmu. Jadi, kau tidak usah merasa sungkan terhadap kami.” Ucap Lee ahjumma.
         “Gomawo.”
         “Donghae-ahh, sebaiknya kau saja yang antarkan Ji Yeon pulang, maukan??” tanya Lee ahjussi.
         “Nae, appa.” Jawab Donghae oppa.
         Donghae oppa pun mengantarkanku pulang sampai rumah dengan petunjuk arah yang aku berikan kepadanya.
         “Gomawo, Donghae oppa. sudah mau mengantarkanku pulang. Gomawo..”
         “Cheonmaneyo, Ji Yeon-ahh..”
         “Annyeong, Donghae oppa. Sampai jumpa lagi..”
         “Nae. Annyeong, Ji Yeon-ahh.”
         Aku melambaikan tanganku pada Donghae oppa setelah aku turun dari mobilnya dan menyunggingkan sebuah senyuman untuk Donghae oppa.”
 
To Be Continued
 
 
Jadi, bagaimana??? Apa kalian suka dengan ff yang mungkin sangat gaje ini??? tapi, sejujurnya bikin ff ini aku sungguh sangat kerja keras. Ahhh… entahlahh…. mudah- mudahan kalian semua suka…
^^
 
Oh iyaa, satu lagi… kunjungi blog aku => parkleni.wordpress.com => follow

8 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s