You never know how much I love you Part 8

Author : Kin♥ (@Rekindria)

Main cast : Im Yoona, Choi Siwon, Hwang Mi-Young, Kim Jongwoon

Rating : PG-15

Genre : Romance, Friendship

Previous part : You never know how much i love you [Yoona’s Side]

♥Part 1♥

♥Part 2♥

♥Part 3♥

♥Part 4♥

♥Part 5♥

♥Part 6♥

♥Part 7♥

The way I love [Siwon’s Side]

♥Part 1♥

♥Part 2♥

Disclaimer : Plot is MINE. All the Main casts are belong to god and themselves.

Warning : Don’t be a Plagiator and Siders.

♥ You never know how much i love ♥

~Part 8~

 “Apa kau ingat kejadian beberapa tahun silam? Tentang kecelakaan itu?”

Aku menautkan alis, bingung. “Apa?”

Dia terdiam sebentar lalu menghela nafas. “Ani, Tifanny lebih membutuhkanku dibanding dirimu.”

Aku terdiam sejenak. Apa dia mempermainkan diriku? Ingin menjelaskan semua kesalahpahaman diantara kami. Tapi, dia memberi tahu dia mencintai Tifanny? Tidak.. dia hanya mengatakan Tifanny lebih membutuhkannya dibanding diriku. Tapi, tetap saja makna kata itu sebanding dengan ‘aku mencintai Tifanny dibanding dirimu.’

“Lebih membutuhkan atau kau memang mencintai Tifanny?” tanyaku dengan menundukkan wajahku. Aku tau aku berusaha tegar namun terlihat lemah. Aku lemah karenanya. Aku sangat rapuh karena luka ini. Aku mencintai dirinya seperti ini. Perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku terlalu egois ? Apa aku terlalu mementingkan diriku agar dia menjadi milikku?

“Kata itu memiliki makna yang berbeda.” Pukasnya.

“Bukankah kita ingin membahas tentang kecelakaan itu? Kenapa kau membahas Hwang Mi young?” rutukku kesal.

“Karena aku memang ingin membahasnya. Masalah kecelakaan itu tidak penting.”

Aku tersentak. “Apa?”

“Jika aku memberi tahu atau tidak itu sama saja. Kita tidak akan kembali seperti dulu. Kita berbeda.” Ucapnya seraya pergi meninggalkanku.

Aku menarik tangannya dan berkata. “Benarkah? Kalau begitu aku salah mencintaimu seperti ini. Aku salah, kan?”

Siwon menolehkan wajahnya. Dia bisa melihat dengan jelas krystal bening yang menggenang dikedua mataku, kurasa. “Benar. Ini adalah kesalahan.”

Aku mendongakkan wajahku sebentar mencoba meredam agar air mata ini tidak jatuh. Tidak saat ini. “Kalau begitu aku akan meninggalkanmu-agar kau bisa lebih bahagia. Aku akan selalu mencintaimu walau kamu terus menyakitiku.”

Siwon terdiam saat mendengarnya. Aku tersenyum kearahnya lalu tanpa disadari air mataku ini jatuh.

“Bolehkah aku minta satu permintaan saja? Untuk terakhir kalinya.” Pintaku seraya mengenggam tangannya kuat.

Dia mengangguk, setuju. “Baiklah.”

“Jangan pernah sakiti Tifanny. Aku tidak mau dia seperti ini.”

“Tidak akan pernah… itu tidak akan pernah terjadi-aku mencintainya.”

——

                Bodoh. Untuk apa memberi kesempatan pada sosok seperti dia? Untuk apa jika akhirnya aku disakiti untuk yang kedua kalinya? Apa ada manfaatnya jika aku semakin terjatuh? Tidak. Semua tidak ada manfaatnya.

“Terkadang ada alasan penting kenapa orang tersebut tidak jujur padamu Yoona ah.” Donghae tersenyum seraya membelai rambutku mesra.

                Aku menghela nafas sejenak. “Tetap saja berbohong itu bukan alasan yang baik.”

                Donghae mengangguk. “Benar, tapi, jika orang itu memberi tahukan yang sebenarnya mungkin takut kau lebih terluka. Walau kau benar berbohong tidak akan menyelesaikan segalanya.”

                “Lalu aku harus apa?”

                “Tetap mempercayainya Yoona ah. Kau tidak ingin menyesal kan?”

                “Apa yang harus aku sesalkan?”

                “Semuanya.. kebenaran yang tidak kau ketahui akan membuatmu menyesal. Saat kau menyadari orang itu begitu menyayangimu.”

                Aku terbangun saat menyadari sekelebat bayangan itu muncul jelas dihadapanku. Bayangan Donghae oppa yang tersenyum tulus kearahku. Aku merindukannya. Dan tanpa disadari sosoknya yang selama ini menguatkanku.

Saat aku terpuruk dia selalu disisiku. Ada merangkul dan membantuku untuk bangkit.

Itu juga aku rasakan saat bersama Siwon. Tapi, ini lebih dominan. Perasaan lebih terlindung dan ingin selalu disisinya. Hingga membuat aku egois, kurasa.

Aku memandang cermin dan memandang pantulan bayangan disana. Lihatlah bayangan itu. Terlihat sangat rapuh.

Apa aku terlihat menyedihkan? Tidak, kan?

Apa lagi yang harus aku lakukan? Semua sudah jelas bukan? Siwon ingin meninggalkanku dan lebih memilih gadis itu. Lagipula, aku mempunyai orang lain yang masih memperdulikanku.

Kini aku mengusap air mata yang terlihat samar mengalir dipipiku. “Semua akan baik-baik saja. Ini adalah takdir. Takdir bahwa bukan dia orang yang tepat.”

Aku berjalan menuju jendela kamarku. Kusibakkan sedikit tirainya dan memandang awan putih yang bergerumul. Aku harus bersyukur setidaknya aku mengetahuinya sekarang bukan esok atau nanti. Karena rasanya akan lebih menyakitkan dari ini.

Aku hirup udara itu sekuat yang kubisa. Tersenyum memandang matahari yang bertengger di tahtanya. Terlihat hangat untuk hati yang telah membeku ini.

“Janganlah berhenti untuk menyinariku.” gumamku pada mentari yang cahayanya begitu kuat membias kearahku.

Tiba-tiba mataku menangkap objek itu. Mobil Tifanny terlihat berhenti didepan rumah Siwon. Oh god, apa yang aku lihat sekarang?

Tifanny mengumbar senyum manisnya saat ia menutup pintu mobilnya. Berkali-kali memencet bel rumah Siwon agar pintu itu terbuka. Berharap Siwon yang membukanya namun itu bukan kenyataannya. Sooyoung membuka pintu tersebut. Adik sepupu Siwon itu hanya memandang Tifanny dengan senyum memaksa.

Siwon ada dihadapanku sekarang. Tidak.. hanya saja aku melihanya disebrang sana. Melihat dari jendelanya keberadaan Tifanny. Bisa kulihat dia menghela nafas sejenak lalu akhirnya kembali menatap lurus, menatap tepat kearahku.

Kini giliran aku yang memandangnya dengan tatapan kosong bukan tatapan seperti dulu. Dia tersenyum samar kearahku lalu pergi meninggalkan kamarnya untuk berniat menemui Tifanny.

Bukankah seharusnya aku menyudahi melihat semua itu? Tapi, kenapa seakan mereka bagaikan magnet untukku?

Oppa…” Tifanny merajuk dengan eye smile khasnya. Memeluk Siwon dan mendekap pria itu erat.

Siwon tersenyum kecil lalu membalas dekapan itu. Ia membelai rambut Tifanny lembut. “Hwang  Mi young ah, apa yang kau lakukan disini? Kau seharusnya istirahat bukan?” tanya Siwon lembut.

Tifanny melepaskan pelukannya. “Aku lelah beristirahat ditempat seperti itu. Obat ku hanya kau oppa.”

Siwon mengacak pelan rambut gadis itu. “Jangan seperti ini. Bagaimana jadinya kalau aku tidak disisimu?” bisik Siwon.

Mata Tifanny membulat. “Apa yang kau katakan? Kau akan terus bersamaku, kan?”

Siwon terlihat menghentikan nafasnya beberapa detik. “Kau benar. Aku akan berusaha disisimu.”

Mata Tifanny berbinar. “I love you oppa.” Desis Tifanny dengan mengenggam tangan Siwon lemah. Terlihat dari sematan jarinya dengan Siwon yang terlihat longgar.

Tifanny terdiam lalu memandang Siwon dengan tatapan selidik. Menilik mata itu dengan seksama. “Oppa tidak mengatakan juga mencintaiku?”

Siwon terhenyak. Merasa kalut saat gadis itu bertanya seperti itu. Kata seperti itu sangat sulit diungkapkan jika bukan dari hati yang tulus. “Aku mencintaimu.”

Tes.

Tepat saat mendengar kata itu air mataku menetes. Padahal aku yakin benar tidak ada air mata yang menggenang di pelupuk mataku. Lalu dari mana asal cairan bening ini?

Siwon kembali merengkuh gadis itu dalam dekapannya. Ia seperti memberikan kekuatan pada Tifanny.

Guratan wajah Siwon berubah panik saat gadis yang dipeluknya hanya diam. Ia melepaskan pelukannya dan menatap gadis itu. Gadis itu tersenyum namun terkulai lemas. Untungnya tubuh Siwon mampu menyangga tubuhnya.

Siwon berkali-kali menyoba menyadarkan Tifanny dari tidurnya. Tapi, itu tidak berhasil.

Aku yang melihat dengan jelas kejadian itu seperti membatu. Aku merasakan ada sesuatu hal penting yang terjadi pada Tifanny. Dan tanpa diperintahpun kakiku berlari menujunya.

Walau apapun yang terjadi Tifanny adalah temanku. Aku berhak khawatir akan  kondisinya.

“Apa yang terjadi?” tanyaku dengan menatap Siwon menyelidik.

Siwon tidak meresponnya. Ia hanya mengatakan,“Cepat bawa dia ke dokter.”

——

Aku terduduk lemas menunggu dokter keluar. Berkali-kali mencoba menenangkan diriku bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, itu tidak berhasil.

Kenapa aku mengkhawatirkannya? Bodoh. Gadis itu jelas-jelas ingin merebut Siwon dariku. Tapi, aku masih sempat mencemaskannya?

Hei, Im Yoon Ah! Hatimu ini terbuat dari apa? Kenapa kau mudah sekali menangis? Kenapa kau mudah sekali tersentuh? Bahkan kau perhatian pada Tifanny?

Kau tidak sadar Im Yoon Ah? Berapa banyak air mata yang kau keluarkan untuk hal seperti ini?

“Kau tidak apa-apa?” desis Siwon pelan saat menyadari sedari tadi aku terus berkutat dengan pikiran yang aneh.

Aku menggeleng. “Tidak.”

“Kau terlihat pucat.”

Aku menolehkan wajahku kearahnya. “Apa kau peduli?”

“Tentu saja.” Balasnya yang berhasil menatap lurus ke pandangan mataku.

Aku menggeleng cepat. “Tidak perlu mengkhawatirkanku.” Aku bangkit dari dudukanku namun tangannya menahannya.

“Tanpa sadar aku memang selalu mengkhawatirkanmu.”

Aku terdiam sesaat. Tanpa dibawah sadar pun aku juga selalu mengkhawatirkanmu. Kau mempunyai perasaan yang sama? Kenapa kau membuat ini menjadi sulit?

Seketika aku tersadar saat dokter keluar dari ruangan Tifanny dirawat. “Apa ada yang bernama Siwon?” tanyanya.

Siwon tersenyum kearah dokter tersebut. Dokter tersebut meminta Siwon untuk tetap disisi Tifanny.

Baiklah.. sampai disini aku rasa. Aku harus pergi karena tidak ada yang membutuhkanku lagi.

“Jangan pergi.. tetaplah disini.” Pintanya dengan menahan tanganku.

“Jangan lakukan ini lagi. Mempermainku seperti boneka. Jika kau melepaskan aku biarkanlah aku pergi. Jangan seperti ini…”

Dia semakin mencengkram tanganku kuat. “Setidaknya demi Tifanny. Aku mohon.”

Aku menghela nafas sejenak. “Baiklah.”

Siwon mengukir senyum simpulnya lalu menarik tanganku untuk masuk kekamar Tifanny.

Aku hanya mengekori tubuh Siwon. Menundukkan wajahku saat memasuki ruangan ini. Tentu saja aku harus melakukannya. Jika, gadis itu melihat aku dengan senyum sumringah menggandeng tangan oppa-nya dia akan menatapku dengan tatapan mautnya.

Siwon melepaskan tanganku pelan lalu mulai berjalan kecil kearah Tifanny. Ia pandangi gadis yang tengah terlelap dikasurnya. Terlihat seperti malaikat.

Aku  mengikuti langkah Siwon dan berdiri di ujung kasur tersebut. Memandangi gadis itu yang terlihat tak berdaya saat ini. Berbeda saat ia membuka matanya dan menatapku.

“Tifanny Hwang, apa kau sudah sadar? Lihatlah aku dan YoonA menjengukmu. Dari tadi YoonA sangat khawatir pada kondisimu.”

Mataku membulat. “Hei, jangan asal bicara!”

Siwon hanya melirikku sebentar lalu kembali bergumam pelan, “Jangan dengarkan dia.. dia memang seperti itu.”

Aku mendesah kesal.”Kau yang jangan sok tau.”

Siwon kembali menatapku tapi kali ini lebih terlihat intens. “Apa semua tidak jelas? Kau selalu bergumam aneh tentang kondisi Tifanny. Kau mengkhawatirkannya Yoong. Aku tahu itu… kau i-itu temannya.”

“Kau benar. Apapun yang terjadi Tifanny tetap temanku.” Sahutku cepat disertai anggukan kepala.

Kami terdiam sebentar. “Aku keluar dulu. Aku ingin membelikan makanan untuk Tifanny. Kau jaga dia disini.” Ucap Siwon tiba-tiba yang membuatku sukses membelalakan mata tak percaya. Apa dia gila? Membiarkan aku dan Tifanny dalam satu ruang? Baiklah, jika dia masih tertidur tapi, kalau dia terbangun?

“Kenapa mesti aku? Kau saja yang menjaganya biar aku yang membelikan makanan. Kalau Tifanny melihatku disini ada juga aku habis olehnya.” Jawabku. Kulirik dia dan oh my god, kenapa dia memberi tatapan membunuhnya? “Baiklah-baiklah. Kau puas?”

Siwon tersenyum lebar. “Tentu saja.” Siwon membuka pintu lalu bergumam pelan sebelum keluar dari kamar ini. “Jangan melakukan hal yang aneh-aneh.”

“Ish.. aku tau. Aku tidak akan menyakiti Tifannymu. Kau puas?” pekikku. “YA!” mataku semakin membesar saat kudapati Siwon sudah pergi. Sial.

“Apa yang kau lakukan disini? Kau mengangguku dengan suaramu yang menggelegar itu YoonA.” Tifanny membuka matanya lalu menghujaniku dengan kata-kata yang biasa ia lontarkan.

“Aku hanya diperintah untuk menjagamu saja.” Sahutku cepat.

“Baiklah.”

“Tiff, kau bahagia?” aku bersua kecil seraya duduk disampingnya.

“Kau peduli?” rengutnya dengan nada kesal yang aku bisa dengar dengan jelas.

Aku menghela nafas sejenak. Menatap langit lalu kembali berbicara, “Tentu saja. Kau temanku.”

“Apa kau bahagia?” kini giliran Tifanny yang bertanya padaku. Matanya terlihat sayu saat menatapku. Aku tahu.. dia masih lemah.

“Tentu saja.”

Tifanny mendesah frustasi. “Berarti semua usahaku sia-sia.”

“Apa maksudmu?” aku menaikkan alis bingung dengan kata-katanya. Kenapa ingin sekali membuatku menderita?

“Aku merebut Siwon hanya ingin melihat kau menderita YoonA ah… aku tidak mencintainya. Tapi, semakin hari aku salah. Aku mencintai Siwon oppa dan tak bisa hidup tanpanya sampai aku lupa tujuan utamaku yaitu membuatmu tidak mendapatkan semua yang kau inginkan.”

Aku terdiam saat ia mengucapkan kata-kata itu. Gadis ini adalah temanku. Tapi, kenapa dia melakukan ini?

Tifanny melanjutkan, “Kau selalu mendapatkan apa yang selalu kuinginkan YoonA. Aku tak mau kau mengambilnya juga. Saat ini aku hanya ingin Siwon oppa disisiku. Jadi, kau bisa kan menghilang dari kehidupannya?”

Air mataku menetes saat detik ini. Sadar akan obsesi gila gadis dihadapanku. “Kau menginginkannya? Kalau aku melepaskannya kau tidak akan menganggu hidupku kan?” pukasku.

Tifanny mengangguk, setuju. “Benar, saat ini aku hanya butuh dia dan semua rencanaku tidak akan kulanjutkan. Karena aku lihat kau sudah hancur sekarang.”

“Aku memang sudah hancur. Kau puas?”

Tifanny menggeleng. “Tidak, karena kulihat kau punya seseorang yang menghiburmu. Seseorang yang bahkan lebih tulus mencintaimu.”

“Maksudmu Yesung sunbae?”

Tifanny mengalihkan wajahnya dariku. “Kau boleh pulang sekarang. Kau bisa bilang pada oppa kalau kau sedang ada urusan yang lain.”

——

Berkali-kali aku menghela nafas berat. Semua berputar cepat dikepalaku. Aigo..aku bisa gila sekarang.

Aku mempercepat langkahku menuju kelas dan tak kusangka gadis ini dengan sengaja menabrak tubuhku.

Dia tersenyum licik saat tubuhku jatuh. Baiklah, aku hanya harus sabar pada gadis ini. Tak ingin mencari keributan lebih panjang lagi aku memilih membereskan buku-buku yang berserakan dan memungutinya.

“Kenapa kau hanya diam Im Yoon Ah?” pekik Tifanny saat aku bangkit dan melewatinya beberapa langkah.

Aku berbalik dan memandang gadis itu. “Tidak apa-apa. Aku hanya lelah.”

“Jangan merasa kasian padaku Im Yoon Ah! Perlihatkanlah sisimu yang sebenarnya. Jangan lari seperti ini.”

“Apa yang kau inginkan?” desisku pelan. Baiklah, sepertinya aku akan meledak jika gadis ini terus memancing emosiku.

“Membuat kau menderita tentu saja.”

“Kau berhasil.”

“Tidak.” Sahutnya cepat.

“Lalu apa yang kau inginkan ha?” aku memekik keras. Gadis ini terlihat terkejut saat aku berteriak di depan wajahnya.

Siwon berlari dan merangkul gadisnya. “Kenapa kau membentaknya?” kini giliran Siwon yang membentakku dengan keras.

“Aku tidak akan mulai jika ia tidak seperti ini.” Sahutku cepat.

“YoonA !” Siwon kembali memekik saat aku tak menghiraukannya.

Plak!

Sebuah tamparan berhasil mendarat dipipiku. Sakit dan hancur. Siwon tidak mempercayaiku lagi? Bahkan dia berani menamparku? Kau benar-benar sudah dicuci otaknya oleh wanita itu Siwon? Kau bisa menyakitiku?

“Terima kasih.” Ucapku yang berusaha tersenyum saat menyadari aku kembali menangis. Aku pegangi pipiku yang memerah karena tamparan darinya.

“Kau berbeda Yoong.” Dia berteriak kecil saat aku pergi meninggalkan dirinya dan Tifanny.

Aku menghentikan langkahku tanpa melihat kearahnya. “Kau benar. Jika, kita bersama kita pasti akan berpisah. Kita berbeda… aku tau kita memang berbeda”

Aku menangis lagi Tuhan.. Kenapa ini begitu menyakitkan?

“Semua akan baik-baik saja Yoong. Aku disisimu.” Desis sebuah suara yang saat ini mendekap tubuhku.

To be continued

Halo ^^ Gimana part ini? Gak lama kan update-nya? Hehe.

Oh ya, tolong dimengerti juga kenapa aku update lama ya hehe.

Oh ya mau ngasih tau aku bingung mau tamatin ini di part berapa-_- tapi, kalau aku bosen aku akan tamatin secepetnya hehe.

Bagaimana? Feel dapet ga? Engga ya? T,T

Active Readers akan dapet PW SIDERS TIDAK!!

Jadi, comment ya ^^

106 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s