Whenever You Play That Song..

Whenever You Play That Song

Author by Icha / Lee Hyeo Rin

Genre : Romantic, Sad

Rating : G

Kim Jong Woon [Super Junior]

Kim Yoo Jin [After School]

‘anggaplah aku sebagai matahari sore. Yang apabila aku terbenam, aku pasti muncul keesokan paginya dan menemukanmu kembali.’

            ~                      ~                      ~

Disclaim : FF ini adalah milik saya seorang >< dan terbukti keasliannya dan ke originalannya dari pemikiran saya langsung, FF ini juga ada di blog saya sendiri http://elfplaygirlz.wordpress.com. Jadi mohon semohon mohonnya (?) jangan plagiat FF ku ini ya >< Super Junior KRY milik saya seorang.  #abaikan.

FF ini di angkat dari MV Huh Gak dengan judul yang sama, -whenever you play that song- ini adalah songfict dengan beberapa tambahan ataupun perubahan di dalamnya . ^^ happy reading, don’t forget to comment ^^.

 

Author POV

Siang itu udara tampak cerah, berbeda dengan hari – hari biasanya yang selalu Nampak mendung. Seorang gadis terlihat  sedang berjalan dari sebuah gang kecil menuju ke jalan besar dan menyetop taxi yang lewat di hadapannya.

Gadis itu tampak cantik dalam balutan mantel coklat yang ia gunakan hari itu. Ketika tangan yang halus itu menggapai kenop pintu, ia tertegun sesaat. Gadis itu seperti mendengar sebuah alunan music yang sangat ia kenal, alunan music yang sangat ia rindukan. Bak tersihir oleh alunan music tersebut, gadis itu mulai memutar balikkan tubuhnya untuk mencari sumber suara music.

“anda mau naik tidak?” tanya si supir taxi.

Gadis itu tidak menghiraukan pertanyaan supir taxi tersebut, dengan ragu ia mulai melangkah. Satu persatu dengan tatapan mata yang kosong ia berjalan melangkahkan kakinya hingga sampailah ia ke sebuah kafe music. Ketika tiba di depan kafe itu, sang gadis hanya melihat seorang pelayan yang sedang membersihkan gelas – gelas.

Gadis itu terus memandangi kafe tersebut, berharap ia mendapati apa yang ia cari. Namun ia sia – sia, ia hanya mendengar alunan music yang sangat ia rindukan. Gadis itu menunduk kecewa, dadanya mulai terasa sesak oleh rasa rindu yang tak tertahankan. Air mata mulai menggenangi pelupuk matanya hingga akhirnya seorang pria menabrak tubuhnya sampai tas yang di bawa oleh gadis itu terjatuh. Gadis itu hanya memandang tasnya yang terjatuh di jalan dengan tatapan kosong tanpa mengambilnya dan butiran air mata mulai membasahi pipinya yang putih dan chubby.

~             ~             ~

Jong Woon POV

Aku bersembunyi di sebuah gang kecil yang sempit dan mengatur nafas ku yang tersengal – sengal. Sial! Bagaimana bisa polisi menemukan tempat persembunyian ku yang dulu? Sambil bersandar pada dinding yang kumuh aku terus mengatur nafasku hingga aku melihat sebuah kertas yang tertempel di dinding yang ada di hadapan ku.

‘Cih! Aku memang benar – benar buronan.’ Ucap ku dalam hati, dengan kesal aku merobek kertas yang tertempel itu. Ya! Kertas itu memang berisikan bahwa aku seseorang yang di cari – cari oleh polisi di daerah sini. Foto ku saat masih senior high school terpampang dengan sebuah komentar di bawahnya. Aku menyobek paksa dua kertas yang terpampang di gang ini.

Namun aku salah langkah, tepat saat aku mengeluarkan diri dari gang untuk menyobek kertas yang lainnya, gerombolan polisi yang sedang mengejar ku melihat ku.

“di sana!! Ia di sana!!” teriak seorang  polisi pada kawanannya.

Tanpa basa – basi lagi aku langsung mengambil langkah seribu untuk kabur dan meninggalkan gang tersebut. Aku terus berlari tanpa arah sementara gerombolan polisi itu beberapa meter di belakang ku. Aku terus berlari dari gang ke gang sambil terus berusaha mempercepat langkah ku. Aku sempat menoleh ke belakang dan ternyata polisi – polisi tersebut tertinggal karena aku tidak melihat mereka sedikitpun. Aku terus berlari tanpa tujuan, dan aku menarik sebuah jaket yang sedang tergantung di jemuran entah milik siapa.

‘aku pinjam jaket ini, aku minta maaf.’ Kata ku dalam hati dengan nafas yang mulai tersengal – sengal lagi. Seraya mengenakan jaket tersebut aku terus berlari menuju gang yang agak luas dan lapang. Aku mulai berjalan dengan langkah yang tenang seolah tidak terjadi apa – apa. Sementara itu di belakang ku aku mendengar suara – suara berat yang berbicara. Sepertinya polisi tersebut ada di belakang ku lagi.

“kita tanyakan saja pada pria itu, pak. Mungkin ia melihatnya.” Tukas seorang polisi kepada kawannya

Aku terus melangkahkan kaki ku dengan langkah yang tenang dan aku melihat seorang gadis dengan wajah yang polos berjalan menuju ke arah ku, sebuah ide terlintas di benak ku. Ide gila lebih tepatnya namun ku yakin ini berhasil mengelabui para polisi – polisi tersebut.

‘greb!’ aku memeluk tubuh gadis itu ketika kami berpapasan. Dapat ku rasakan tubuhnya yang menegang karena kaget oleh tindakan ku yang tiba – tiba tersebut. Namun ia tidak melakukan perlawanan sedikitpun. Gadis ini memang benar – benar polos, justru hal ini semakin mempermudah ku untuk mengelabui gerombolan polisi itu. Aku membalikkan tubuh gadis itu hingga wajahnya lah yang tertampang di hadapan polisi itu, aku mulai mendengar langkah mereka mendekati kami namun mereka melewati kami begitu saja.

“kau saja yang bertanya pada mereka.” Aku mendengar salah satu dari mereka berbicara.

“ya! Aku tidak enak, kau tidak lihat mereka sedang melepas rindu? Mana mungkin aku mengganggu mereka?” balas yang lainnya seraya lewat di belakangku.

“ ya sudah, kita telusuri terus saja gang ini mungkin kita akan menemukan dia.”

Aku terus memeluk tubuh gadis itu hingga dapat ku lihat gerombolan polisi itu menghilang. Aku mulai melepaskan pelukan itu dan menatap gadis lugu yang ada di hadapan ku ini. Sorot matanya yang polos namun tersirat pertanyaan dalam tatapan matanya.

“mianhaeyo.” Kata ku dengan penuh penyesalan. Aku makin menyesal ketika aku melihat betapa cantik nya gadis yang telah ku gunakan sebagai alat pelarian diri. Gadis itu hanya terdiam masih dengan wajah nya yang sedikit kaget.

Setelah memastikan keadaan benar – benar aman, aku mulai berlari  lagi meninggalkan gadis tersebut menuju ke tempat persembunyian ku yang lainnya.

Yoo Jin POV

Hari ini aku hendak mengunjungi teman ku yang sedang sakit, setelah mandi dan mengenakan baju yang sepantas nya, aku mulai menyisir rambut ku dan bergegas meninggalkan kamar.

“eomma, aku berangkat.” Pamit ku pada eomma ku yang sedang memasak di dapur.

“ne, hati – hati di jalan.” Pesan eomma ku.

Aku menutup pintu rumah dengan pelan dan mulai berjalan dengan langkah yang lambat menuju keluar gang. Rumah ku memang tidak besar, aku hanya tinggal berdua dengan eomma ku di sebuah rumah sederhana di sebuah gang yang cukup sempit. Ayahku telah lama meninggal jadi eomma ku bekerja untuk menghidupi keluarga kami, sedangkan aku, aku masih kuliah semester 3 di seoul university.

Tanpa terasa langkah ku membawa ku ke gang yang cukup luas, dari sini, hanya tinggal lurus ke depan dan aku akan menemukan jalan raya. Dari situ aku akan naik bus yang mengantar ku ke rumah sakit tempat di mana teman ku di rawat.

Aku melihat seorang pria berjalan ke arah ku dengan langkah yang ragu, pria itu Nampak seumuran dengan ku atau mungkin beberapa tahun lebih tua di atas ku. Sejujurnya kami memang berlawanan arah, namun entah hanya perasaan ku saja atau memang benar, pria itu berjalan menghampiri ku. Sedangkan di belakang pria itu ada segerombolan orang yang mengenakan seragam kepolisian.

‘greb!’ pria itu memeluk ku tiba – tiba. Kaget? Tentu saja. Namun hati nurani ku berkata pria ini bukan orang jahat dan memerlukan pertolongan ku. Detik berikutnya yang ku lakukan adalah meletakkan kedua tangan ku di pinggangnya seolah aku membalas pelukannya.

Masih dengan wajah ku yang kaget, ia memutar tubuhku hingga aku dapat melihat dengan jelas gerombolan polisi itu lewat di hadapan ku dan berbicara.

“kau saja yang bertanya pada mereka.” Kata salah seorang dari polisi tersebut.

“ya! Aku tidak enak, kau tidak lihat mereka sedang melepas rindu? Mana mungkin aku mengganggu mereka?” balas yang lainnya, mereka pun berjalan melewati kami berdua. Melepas rindu? Benarkah kami terlihat seperti itu? Sementara pria itu masih memeluk ku walau pelukannya tidak erat. Aku mulai merasa jantung ku berdegup kencang, ini baru pertama kalinya ada seorang pria yang memeluk ku.

“ ya sudah, kita telusuri terus saja gang ini mungkin kita akan menemukan dia.” Kata polisi tersebut sambil terus berjalan entah kemana dan tidak lama kemudian mereka menghilang.

Setelah polisi – polisi itu menghilang, pria itu melepaskan pelukannya, kami kini berhadap – hadapan.

“mianhaeyo.”  Ucapnya singkat, setelah itu pria itu berlari entah kemana.

“a…” aku hendak memanggilnya namun aku mengurungkan niat ku karena sepertinya ia sangat terburu – buru. Ya sudah, bukan urusan ku juga. Mungkin aku dapat bertemu dengannya di lain waktu. Aku kembali melanjutkan langkah ku menuju jalan raya dan kembali ke tujuan ku sebelumnya, menjenguk teman ku.

==Whenever You Play That Song==

Yoo Jin POV

Kegiatan di kampus hari ini cukup melelahkan, begitu banyak tugas yang menumpuk dan siap untuk ku kerjakan. Rasanya aku butuh sedikit udara segar. Begitu mata kuliah telah berakhir, aku langsung menghambur keluar kampus. Aku sengaja berjalan kaki agar aku dapat menikmati udara segar sore ini. Angin berhembus dengan lembut dan dedaunan berguguran, sungguh sore yang sangat cerah dan nyaman.

Aku mendengar suara alunan gitar yang di mainkan seseorang. Nada yang indah terdengar di telinga ku. Aku penasaran hingga aku berjalan  mencari sumber suara gitar tersebut. Langkah ku terhenti tepat di depan sebuah kafe music, dan aku melihat seorang pria tengah memetik gitarnya seraya menutup matanya. Sepertinya ia sangat menghayati nada yang sedang di mainkan olehnya.

Aku mengamati pria itu dengan seksama dari jendela luar kafe tersebut, spertinya aku pernah bertemu dengan pria itu, tapi di mana?

‘astaga!!’ sontak aku terperangah dan menutup mulut ku dengan kedua tangan ku. Pria itu, pria yang waktu itu memeluk ku di jalanan. Aku menarik sudut bibir ku hingga membentuk sebuah senyuman. Akhirnya aku menemukannya. Aku masih terus mengamati pria itu dari luar, dan aku baru menyadari bahwa ia sangat tampan. Apalagi saat ia sedang bermain gitar seperti itu, sepertinya ia begitu mahir dan sangat menyukai music.

Aku masih terus memperhatikannya hingga aku tanpa sadar terduduk sambil tersenyum. Aku merasakan jantung ku kembali berdegup dengan kencang, sama seperti saat ia memeluk ku waktu itu.

‘greeek’ pintu kafe itu tiba – tiba terbuka.

Masih dengan posisi ku semula, aku melihat pria itu berdiri di depan pintu kafe, memandang ku dengan tatapan yang lembut namun agak dingin. Dalam tatapannya seolah mengandung pertanyaan ‘apa yang sedang kau lakukan di sini?’

Aku jadi salah tingkah, apalagi aku ketahuan sedang mengintipnya dengan posisi yang menurut ku sangat aneh dan sangat tidak enak untuk di lihat. Aku sudah mempersiapkan diri apabila ia mengusir ku untuk pergi dari situ.

Dugaan ku salah, pria itu mengulurkan tangannya, aku memandangnya dengan tatapan tak percaya. Ia hanya mengangguk kecil sambil tetap mengulurkan tangannya, sambil berusaha untuk menyembunyikan wajah ku yang memerah karena malu, akhirnya aku menyambut uluran tangannya dan aku di bantu berdiri. Tidak hanya itu, pria itu juga membersihkan kotoran yang menempel di sweater berwarna abu – abu yang sedang ku gunakan.

Aku tersenyum malu – malu sebagai ucapan terima kasih ku padanya, karena jujur saja aku terlalu grogi hingga tak mampu untuk mengucapkan sebuah kata, bahkan hanya sekedar ucapan terima kasih.

Jong Woon POV

Di sinilah aku sekarang, di tempat persembunyian ku yang baru setelah kejadian melarikan diri tersebut. Sebuah kafe yang memiliki basis music. Dimana setiap tamu yang berkunjung dapat merequest lagu ke DJ yang berada dalam music box. Kebetulan sekali kafe ini milik teman ku dan ia mengizinkan ku untuk tinggal di sana dengan syarat aku harus mau menjadi pemain music di kafe tersebut. Itu semua tidak masalah bagi ku, karena aku memiliki keahlian bermain gitar.

Hari ini aku kembali menghibur tamu dengan petikan gitar ku yang rupanya sangat di sukai oleh pengunjung yang berada di sini. Letak kafe ini begitu unik, dimana pemain gitar seperti ku menghibur para tamu dengan bermain gitar di area depan kafe sementara meja – meja tamu terdapat di dalam kafe beserta music box.

Aku begitu menghayati menit demi menit permainan gitar ku sendiri sampai lagu yang ku mainkan akan berakhir. Ketika aku kembali membuka mataku, aku melihat sosok seorang gadis berada di luar kafe, aku hanya melihat dari rambutnya saja karena sepertinya ia sedang duduk di sana. Aku mengehentikan petikan gitar ku dan meletakkan gitar itu di sebuah bangku.

Begitu aku membuka pintu kafe, gadis itu terhentak kaget, membuat posisi duduknya semakin mirip seperti orang yang terjatuh. Sesaat aku memandang gadis ini, ya tuhan! Ini gadis yang ku peluk waktu aku melarikan diri dari kejaran polisi.

Gadis itu terlihat salah tingkah, aku mengulurkan tangan ku untuk  membantunya berdiri. Awalnya ia Nampak ragu, namun uluran tangan ku pun di sambut olehnya. Tangan yang halus itu kini telah berada dalam genggaman ku, aku menarik tubuhnya pelan hingga ia berdiri sekarang, lalu aku juga menepis kotoran yang menempel pada sweater abu – abu yang ia kenakan.

Aku mengamati gadis ini dengan tatapan yang lekat, gadis ini memang benar – benar cantik. Aniya, gadis ini sangat manis dan juga cantik. Semburat rona merah menghiasi pipinya yang putih dan chubby, walau ia berusaha menyembunyikannya, tapi tetap saja terlihat  jelas oleh ku. Aku melihat senyuman yang terukir di wajahnya, senyuman yang paling indah yang baru pertama kali ku lihat.

Selama beberapa saat, keheningan terjadi di antara kami. Aku benar – benar tidak tahu apa yang harus ku katakan.

“siapa nama mu?” tanya ku pada akhirnya untuk memecah keheningan.

“emhh.. Yoo Jin, Kim Yoo Jin” jawabnya dengan terbata – bata.

Aku tersenyum, “nama yang bagus.” Puji ku. Aku mengajaknya untuk masuk ke dalam kafe, genggaman ku tak pernah lepas darinya. Rasanya sungguh sangat menyenangkan.

Yoo Jin mengedarkan pandangannya mengamati keadaan kafe sambil berjalan di belakang ku.

“nama oppa siapa?”

“Kim Jong Woon.” Jawab ku sambil mengetuk kaca music box, saat ini teman ku yang lain sedang bertugas menjaga music box tersebut. Teman ku telah mengetahui music apa yang ku suka, “duduk lah di situ.” Tukas ku, ia menurut dan duduk di kursi kosong yang telah ku tunjuk sebelumnya sementara aku memesan dua buah minuman untuk ku dan Yoo Jin.

“oppa kerja di sini?” tanya nya setelah aku meletakkan secangkir coklat hangat di meja, aku memilih untuk duduk di hadapannya ketimbang di sampingnya. Dengan begini, aku bisa lebih leluasa memandangi wajahnya yang seperti malaikat itu.

“ne, aku bekerja dan tinggal di sini.” Jawab ku sambil menyeruput minuman ku. Tepat saat aku meletakkan cangkir ku di meja, nada dari alunan music yang ku suka mengalun. Entah kenapa, setiap aku mendengar lagu ini, secara otomatis mata ku akan terpejam dan aku selalu mengetuk – ngetukkan jari ku mengikuti irama lagu. Aku benar – benar menghayati lagu ini, selama beberapa saat aku menikmati music ini dan mataku mulai terbuka kembali.

Dan apa yang ada di hadapan ku sekarang membuat  hati ku menghangat, bahkan lebih hangat di bandingkan saat aku meminum coklat hangat tadi. Yoo Jin, gadis berwajah malaikat itu tengah menikmati alunan nada yang menggema di seluruh penjuru ruangan kafe, ia melakukan hal yang sama seperti ku. Ia tersenyum sambil mengangguk – anggukan kepalanya mengikuti irama lagu.

Aku tersenyum lembut melihat gadis ini. Yoo Jin, hanya dia yang bisa membuat mata ku menatap dengan lembut pada seseorang. Ia masih terus mengikuti irama lagu, rasanya tak pernah puas aku memandang wajahnya. Aku mencoba menata debaran jantung ku yang tidak karuan.

Aku jatuh cinta padanya.

Gerakannya perlahan mulai terhenti, ia pun membuka matanya dan menangkap ku yang sedang memperhatikannya. Buru – buru aku mengalihkan pandangan ku ke arah lain, namun aku tak kuasa menyembunyikan senyuman ku. Aku terlalu bahagia hari ini.

~             ~             ~

==Whenever You Play That Song==

Yoo Jin POV

Hari ini Jong Woon oppa mengundang ku untuk datang ke tempat ia biasa bermain gitar dan menulis lagu. Sebenarnya tempat itu masih berada dalam kafe milik temannya tersebut, hanya saja terletak agak di belakang. Kalau di lihat dari depan, kafe itu memang hanya terlihat seperti layaknya kafe biasa, namun jika di telisik lebih ke dalam, akan banyak ruangan – ruangan dan jalan keluar dari berbagai macam sisi.

Tempat yang Jong Woon oppa maksud adalah sebuah studio band mini di dalam kafe tersebut. Begitu aku tiba di sana, Jong Woon oppa langsung menggenggam tangan ku dan mengajak ku menuju studio band tersebut. Jong Woon oppa membuka pintu ruangan yang kini berada di hadapan kami.

“ayo masuk.” Ajaknya. Setelah mengenal Jong Woon oppa selama beberapa minggu, sepertinya bukan hal yang baru bagiku mendengar ucapannya yang begitu singkat, padat, jelas, dan akurat tersebut.

Aku melihat suasana di dalam studio band mini tersebut setelah tubuh Jong Woon oppa pergi dari hadapan ku. Namja itu meninggalkan ku yang masih terpaku di depan pintu yang telah tertutup. Sebenarnya agak aneh juga kalau di bilang studio band, karena di dalam sini hanya terdapat beberapa buah gitar, gitar akustik maupun gitar listrik, sebuah sofa yang letaknya tepat di depan jendela. Jong Woon oppa sendiri sedang duduk di sofa tersebut sambil memangku gitarnya, sinar matahari yang cerah menerangi ruangan ini melalui jendela itu, posisi sofa yang berada di depan jendela menambah keindahan sosok yang sedang ku lihat sekarang. Jong Woon oppa nampak begitu bersinar di mata ku.

“kau mau terus berdiri di situ? Tidak pegal?” tanya nya sambil mulai memetik gitarnya, namun tatapan matanya tak pernah lepas dari ku. Ia melirik tempat kosong di sofa di sebelah tempat ia duduk, seakan mengatakan duduk lah di situ. Tatapan matanya yang lembut itu mengiringi langkah ku menuju sofa di sebelahnya, ketika aku duduk, ia mulai memainkan gitarnya lagi. Lagu yang sama, lagu yang selalu kami dengarkan berdua.

Jong Woon POV

Ya! Kim Jong Woon, tidak bisakah kau sedikit beramah tamah pada gadis ini? Gadis yang telah memiliki hatimu sejak pertama kali melihatnya? Ani..aku memang belum pernah mengatakan bahwa aku mencintainya, tapi ku harap ia telah menyadari semuanya.

Aku memang tidak bisa mengungkapkan sesuatu lewat kata – kata, tidak heran sedari dulu banyak yeoja yang menghindari ku hanya karena tatapan mata ku yang mereka bilang sangat dingin. Tapi, entah mengapa mata ku berubah menjadi sayu dan menatap gadis itu dengan lembut tiap kali ia berada di hadapan ku.

Gadis itu, Yoo Jin, ia tidak pernah protes sedikitpun saat aku tak banyak bicara padanya. Ia malah memberikan ku perhatian lebih, dan aku menerimanya. Aku rasa hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kami menjalani suatu hubungan yang lebih dari sekedar teman.  Namun, rasa takut selalu hinggap di diri ku manakala aku menyadari siapa aku sebenarnya. Sejujurnya aku tidak mau menyeret dia lebih jauh dalam permasalahan ku. Tapi, aku tidak bisa jauh darinya, aku membutuhkannya, menginginkannya, bahkan aku ingin bermimpi aku bisa menikahinya.

‘kau tidak boleh bermimpi terlalu jauh Jong Woon!!!’ rutuk ku dalam hati, ‘kau harus tau siapa dirimu.’ Hati ku mulai berkecamuk, perang di antara naluri dalam diri ku telah di mulai. Aku menatap Yoo Jin yang masih terpaku di depan pintu, sepertinya ia sedang menilai tempat ini.

“kau mau terus berdiri di situ? Tidak pegal?” pertanyaan ku membuyarkan lamunannya seketika. Bola matanya bergerak – gerak dengan riang ketika matanya yang indah dan bulat itu melihat ke arah ku. Lagi – lagi tanpa sepatah katapun, aku memintanya untuk duduk di sampingku, aku hanya memintanya melalui lirikan mata ku yang menunjuk ke tempat kosong di samping ku. Ia mengerti apa yang ku maksud, tanpa banyak tanya ia menempati sofa di samping ku.

Hari ini ia tampak manis dalam balutan baju dress berwarna hitam selutut yang ia padukan dengan celana tambahan berwarna senada serta sweater krem. Rambutnya yang halus dan panjang ia biarkan terurai, wajahnya hanya terpoles bedak tipis dan bibirnya sedikit mengilap dan basah karena memakai lipgloss. Ia duduk di samping ku seraya mendengarkan petikan gitar ku, matanya tak pernah lepas menatap ku, aku agak kikuk di buatnya hingga aku tak bisa berkonsentrasi memainkan gitar ku.

Aku menghela nafas panjang, dari tadi yang ada dalam benak ku hanyalah bibirnya yang mungil dan basah itu. Aku sudah mencoba menghapus bayangan itu tapi tetap saja muncul dalam otak ku. Aku rasa otak ku sudah mulai rusak. Tidak hanya otak ku, seluruh system saraf di tubuh ku pun di rusak pelan – pelan oleh gadis yang bernama Kim Yoo Jin ini.

Aku kembali menghela nafas dan menghentikan permainan gitar ku.

“wae oppa?” tanya nya dengan wajahnya yang lugu.

Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku malah kembali menatap matanya dalam – dalam. Aku yang tidak pandai berkata – kata ini, hanya mampu menyiratkan sesuatu dalam tatapan mata ku, termasuk kalimat cinta ini. Dapatkah kau melihat nya Yoo Jin?

Aku menggeser sedikit letak gitar yang ada di pangkuan ku, kemudian aku mendekatkan badan ku ke arahnya. Aku sudah tidak bisa lagi menahan godaan, bibirnya pasti sangat manis.

Aku melihat ia menutup matanya ketika wajah ku semakin dekat dengan wajahnya, hembusan nafasnya pun mulai dapat ku rasakan menyapu hidung ku. Tapi apa yang ku lihat detik berikutnya membuat ku mengurungkan niat ku untuk mencium bibirnya. Ia menutup matanya dengan wajah yang grogi seraya meremas – remas tangannya, kepalanya sedikit tertunduk, ia belum siap untuk hal ini.

‘kau mencintainya Jong Woon, maka jangan sakiti dia.’

Aku tersenyum lembut, ya, aku memang sangat mencintainya, bahkan aku menghargainya.

Aku menutup kedua mata ku, menikmati hawa yang berada di sekeliling kami. Sambil menutup kedua mata ku, aku mencium keningnya dengan pelan dan hati – hati serta penuh perasaan yang sangat mendalam, aku memberikan pesan dalam kecupan itu. ‘kamu milik ku, aku akan selalu menjaga mu tak perduli apapun yang terjadi pada diri ku.’

==Whenever You Play That Song==

Yoo Jin POV

“oppa..” seru ku padanya saat ia sedang membasuh wajahnya.

“hmm?”

“aku sebentar lagi ada ujian dan akan sibuk untuk belajar, rasanya tidak akan ada kesempatan untuk bertemu dengan oppa untuk 2 minggu kedepan.” Aku menghela nafas memikirkan kemungkinan selama 2 minggu tidak bertemu dengannya.

“kalau begitu, belajarlah dengan giat.”

Ya!!! Pabo oppa, bukan jawaban seperti itu yang aku inginkan.

“bagaimana kalau kita jalan – jalan hari ini oppa? Anggap saja sebagai refreshing sebelum aku menempuh ujian ku.” Aku menarik – narik ujung bajunya seperti anak kecil. Sejenak ia tampak berpikir, ia menarik sebelah alisnya ke atas, dengan sabar aku menantikan jawabannya.

“boleh saja.” Jawabnya sambil tersenyum, spontan aku melonjak kegirangan dan memeluknya.

“gomawo oppa..”

Ia mengusap rambut ku, “jadi kau akan sibuk hm? Sepertinya aku juga akan sibuk saat kau ujian nanti. Jika suatu saat kau memerlukan ku, kau bisa datang ke gudang belakang ne? aku dan teman – teman ku akan mengerjakan sesuatu di sana.” Pesannya. Aku mengangguk mengerti, ia pernah menunjukkan gudang itu sebelumnya, memang begitu banyak perkakas di sana, katanya ia dan temannya sedang mengerjakan sebuah proyek.

Jadilah hari itu hari pertama kami berkencan, benar – benar kencan yang sesungguhnya. Kami naik sepeda sewaan berdua mengitari sebuah taman yang banyak daun berguguran. Dan aku baru melihat untuk pertama kalinya Jong Woon oppa dapat tertawa dengan lepas.

Ia membelikan ku es krim dengan rasa vanilla kesukaan ku, tapi ia hanya membelikannya untuk ku. Dia bilang dia tidak suka makanan manis, kami duduk di bangku taman sambil aku menikmati eskrim yang ia belikan. Hari pun semakin sore, matahari di sore hari membuat perasaan ku menjadi nyaman.

“kau tau oppa? Aku sangat menyukai matahari saat sore, apalagi saat ia hampir terbenam. Cahayanya begitu indah.”

Aku melihatnya termenung, entah apa yang ia pikirkan. “kalau begitu,  anggaplah aku sebagai matahari sore. Yang apabila aku terbenam, aku pasti muncul keesokan paginya dan menemukanmu kembali.”

Aku sedikit tertegun mendengar ucapannya.

“kau sudah selesai dengan es krim mu? Ayo kita pulang.” Ajaknya seraya menarik tangan ku pelan. Ucapannya itu langsung menghilang ketika ia menggenggam tangan ku dan kami pun berjalan menuju arah pulang.

~             ~             ~

                Aku mulai tenggelam dalam kesibukan ku sebagai mahasiswi yang sedang menghadapi ujian. Aku harus belajar ekstra keras untuk mempertahankan nilai ku agar aku tetap mendapatkan beasiswa untuk semester depan. Namun di sela – sela kesibukan ku, aku masih tetap teringat oleh Jong Woon oppa, sedang apa ia sekarang?

“Yoo Jin-ah..” teman sebangku ku, Joo Yeon menepuk bahu ku pelan, aku menutup buku yang sedang ku baca.

“ne?”

“sebentar lagi kan musim dingin, apa yang akan kau berikan pada namjachingumu itu?” tanya Joo Yeon sambil memainkan rambutnya. Aku tersadar bahwa aku tidak memiliki apapun untuk Jong Woon oppa. “kau belum punya apapun? Kalau aku sih berencana membeli sweater untuk namjachingu ku. Kau mau menemani ku ke mall setelah pulang kuliah nanti?”

Sebuah ide terlintas di benak ku, aku memang tidak memiliki banyak uang untuk membeli sesuatu, tapi aku bisa membeli sesuatu untuk di jadikan sesuatu. Aku tersenyum, “boleh, sekalian aku juga mau membeli benang woll.”

“kau  akan merajut sendiri? Aigoo..beruntungnya namjachingu mu. Kau memang pada dasarnya memiliki bakat untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Aku tidak bisa merajut sih.” Terdengar nada penyesalan dalam ucapan Joo Yeon.

“apapun yang kita berikan padanya, selama ia mencintai kita, ia pasti akan menerima dan menghargainya.”

Jam kuliah pun berakhir, aku dan Joo Yeon menuju mall untuk membeli apa yang kami cari. Aku mendapatkan segulung benang woll berwarna merah, aku tidak perlu membeli jarum sulamnya karna eomma ku telah memilikinya di rumah. Setelah kami menyelesaikan semua urusan kami, kami pun kembali ke rumah masing – masing, dengan tidak sabar aku berlari – lari kecil menuju rumah ku. Aku yakin oppa akan senang dengan hadiah kecil ku ini.

Jong Woon POV

Rasanya sudah berhari – hari kami terpisah, tidak bertemu satu sama lain karena kesibukan kami masing – masing. Walaupun aku sibuk, namun aku masih menyempatkan waktu ku untuk menulis sebuah lagu, lagu yang ku ciptakan hanya untuk Yoo Jin. Lagu ini masih dalam proses nada, belum ada liriknya.

‘Sedang apa gadis ku sekarang?’ pikir ku sambil mencoba untuk mencari nada, kemudian menuangkannya dalam sebuah buku. ‘semoga ia dapat mengerjakan semua ujiannya dengan baik.’ Doa ku dalam hati.

Aku tersenyum ketika membayangkan gadis itu, rasanya sulit sekali menghilangkan bayangannya dalam pikiran ku. Ia selalu berlalu lalang dalam benak ku, mempermainkan system kerja otak ku, membuat aliran darah ku berdesir dengan cepat.

Aku kembali menekuni gitar ku, tapi, sampai kapan akan terus seperti ini? Aku tidak bisa membuatnya semakin jauh masuk ke dalam hidup ku. Kehidupan ku hanya akan membahayakan dirinya, membuat dirinya berurusan dengan dunia yang ia tidak kenal sama sekali.

~             ~             ~

Yoo Jin POV

Ujian untuk mata kuliah ke dua masih sekitar satu jam setengah lagi, lumayan sambil mengisi waktu luang, aku bisa melanjutkan rajutan ku yang sempat tertunda semalam karena aku  menggunakan waktu ku untuk belajar. Aku menuju ke taman belakang kampus dan duduk di sebuah bangku yang terletak di tengah hamparan rumput yang hijau.

Sambil tersenyum kecil aku mulai merajut dan membayangkan wajah Jong Woon oppa. ‘sedang apa ia sekarang? Apakah ia makan dengan baik? Istirahat cukup?’ berbagai macam pikiran muncul di benak ku. Aku memandangi sarung tangan yang sudah hampir jadi itu, sedangkan yang sebelahnya memang sudah selesai sepenuhnya.

Pekerjaan oppa pasti menyita waktunya, aku sangsi dia makan dengan baik, belum lagi bagaimana dengan kesehatannya?

Jong Woon POV

“astaga, bagaimana mungkin pekerjaan ini dapat selesai besok?” oceh ku pada teman – teman ku yang sibuk dengan tugasnya masing – masing, aku sendiri sedang mengukur lembaran kain yang bertuliskan sesuatu.

“molla, ini semua terjadi sangat mendadak.” Jawab teman ku yang sedang menggergaji sebuah balok kayu. Yang lain hanya dapat terdiam sambil focus dengan tugasnya.

Tiba – tiba pintu gudang tempat kami bekerja di ketuk oleh seseorang, mendadak kami semua terdiam, saling berpandangan satu sama lain. Pintu kembali terketuk seolah tidak sabar meminta untuk di buka, dan hal itu terus berlanjut.

“biar aku saja yang membukanya.” Kata ku dengan suara yang ku buat sepelan mungkin. Apakah itu polisi? Entahlah. Aku mulai melangkah menuju ke pintu gudang, kecemasan tergambar dari wajah teman – teman ku. Aku meraih pegangan pintu, dan membukanya pelan – pelan.

“oppa, annyeong!!!” wajah seseorang yang sangat ku rindukan muncul di hadapan ku. Ku dengar semua teman ku menghembuskan nafas lega.

“apa yang kau lakukan di sini?” tanya ku dingin.

“apa oppa ada waktu sebentar? Aku ingin…”

“seharusnya kau tidak di sini, seharusnya kau di rumah dan belajar.” Aku menyela omongannya.

“tapi aku hanya…”

“ani!!!” hentak ku. “kau tau ini sudah larut? Dan kau bukannya belajar. Aku tidak pernah meminta untuk di kunjungi.” Kau bodoh Kim Jong Woon, kau mengingkari hatimu! Ia terlihat sedikit mengintip ke dalam gudang, buru – buru aku mendorong tubuhnya pelan dan menutup pintu gudang. Aku menarik tangannya untuk agak menjauh dari gudang.

“jamkkan man-yo.” Ia memutar tubuhnya, berhadapan dengan ku. Aku tertegun melihat wajahnya yang setengah kesal itu. “aku hanya ingin memberikan ini pada oppa.” Ia menyodorkan sebuah bungkusan yang sepertinya adalah tempat makan kepadaku, kemudian ia membuka tas nya dan mengeluarkan sesuatu. “aku hanya tidak ingin oppa sakit.” Ia meletakkan beberapa bungkus vitamin dan obat di atas bungkusan yang telah ku pegang. “aku harap oppa mau meminumnya.” Ia mengerucutkan bibirnya kesal, kemudian ia membalikkan badannya dan pergi meninggalkan ku.

“ya!!” aku ingin memanggilnya namun tidak jadi mengingat pekerjaan ku yang harus di selesaikan, tak mungkin berbicara banyak dalam waktu yang singkat ini. Aku menyesal telah bersikap dingin padanya, lihatlah, ternyata dia memperhatikanmu, mengingatmu, bahkan dalam waktunya yang sibuk itu. Aku hanya dapat menghela nafas, menyesali sikap ku yang kasar padanya tadi.

‘mianhaeyo Yoo Jin-ah..jeongmal mianhae..’

==Whenever You Play That Song==

Yoo Jin POV

Hari ini ujian berakhir, sebelumnya aku datang ke kafe dan menitipkan pesan pada teman Jong Woon oppa agar ia bisa menemui ku hari ini. Aku menunggunya di pesisir pantai. Kini aku sedang duduk menunggunya, aku membuka tas ku dan mengeluarkan selembar kertas. Kertas yang berisi foto Jong Woon oppa, kertas yang ku temui saat aku sedang dalam perjalanan pulang malam itu setelah aku mengantar makanan.

Kertas yang memberi tau pada ku siapa Jong Woon oppa, ia seorang mahasiswa aktivis pemberontak pemerintah yang sedang di buron oleh polisi. Aku menatap kertas itu dengan pandangan kosong, ingatan ku kembali saat aku pertama kali bertemu dengannya, saat ia memeluk ku tiba – tiba dengan gerombolan polisi di belakangnya. Saat itu aku tidak menaruh curiga sedikitpun, aku pun tidak berpikir bahwa polisi itu mencarinya.

“Yoo Jin-ah..” ku dengar suaranya memanggil ku. Aku langsung memasukkan kertas itu kembali kedalam tas. Ia duduk di samping ku. “merindukan ku?” tanya nya dengan nada menggoda.

“mwoya?” aku mendelik. Ia merapatkan tubuhnya dengan tubuh ku dan menggenggam tangan ku.

“eobseo..” jawabnya sambil tersenyum.

“iishh..” mengapa sangat sulit baginya untuk mengungkapkan kata cinta pada ku? Aku kembali teringat pada kertas itu. Apa aku jatuh cinta pada orang yang salah? Ani..aku tidak salah.. aku benar – benar mencintainya, kau harus yakin pada hati mu Yoo Jin.

Aku menyandarkan kepala ku di bahunya, menit berikutnya ia juga menyandarkan kepalanya di pucuk kepala ku, kami berdua terdiam, dan terus terdiam hingga matahari terbenam.

~             ~             ~

Jong Woon POV

Minggu ujiannya telah berakhir, pekerjaan ku pun telah selesai, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memulai ‘show’ nya.

Hari ini aku mengundangnya ke kafe untuk menunjukkan lagu yang telah ku buat untuknya, kebetulan hari ini kafe tutup, aku bisa leluasa menggunakan kesempatan ini untuk melepas rindu.

Kini, gadis ku telah duduk dengan manis di samping ku sedang melihat buku lagu yang berisikan lagu ku untuknya, aku mulai memainkan gitar ku dan bernyanyi untuknya. Ia tersenyum bahagia, sepertinya ia sangat menyukai lagu yang ku buat. Syukurlah, setidaknya lagu ini merupakan pernyataan cinta dari ku selama ini yang tak dapat terucap padanya.

“eotthae?” aku meminta pendapatnya setelah lagu itu selesai aku mainkan, ia bertepuk tangan dengan riang.

“joh-a..ah, oppa, aku ada sesuatu untuk mu.” Ia mengaduk – aduk isi tas nya, aku melirik dengan wajah penasaran. Dan sepasang sarung tangan merah muncul dari dalam tasnya. “ini….”

Ucapannya terputus oleh suara pintu kafe yang di gedor oleh seseorang, tidak mungkin teman ku menggedor pintu kafe miliknya sendiri. Aku mengintip dari balik jendela yang terdekat. Polisi!

Aku langsung menarik tangan Yoo Jin dan membawanya keluar lewat pintu belakang yang tersembunyi. Aku memastikan keadaan bahwa pintu keluar itu tidak di ketahui oleh polisi, setidaknya kami bisa lari lewat samping.

Aman, pintu belakang aman, tapi aku harus tetap berhati – hati. Aku mengeratkan genggaman ku pada tangan Yoo Jin yang ku rasakan mulai berkeringat, ia pasti ketakutan, aku sangat merasa bersalah dan tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini di saat aku sedang bersamanya. Pelan – pelan tanpa menimbulkan suara, kami mulai menelusuri jalan setapak yang kecil, satu – satunya jalan untuk melarikan diri.

“oppa, sarung tangan untuk mu terjatuh di dalam.” Bisik Yoo Jin.

“biarlah, nanti aku akan mengambilnya, yang terpenting kita lolos dulu, arraseo?”

Tepat pada saat aku mengeluarkan diri dari gang, seorang polisi melihat ku. Sial!!

“ya!! Di sana!!!”

Tanpa aba – aba aku langsung menarik tangan Yoo Jin dan mengajaknya berlari, polisi yang mengejar kami berjumlah cukup banyak. Aku terus menarik tangan Yoo Jin untuk berlari sementara di belakang kami polisi tetap mengejar kami. Aku mendengar nafas Yoo Jin mulai tersengal – sengal. Kau benar – benar tidak berguna Kim Jong Woon, lihatlah, kau membawa gadis yang kau cintai menderita bersamamu.

Kami terus berlari dari gang ke gang sampai akhirnya langkah Yoo Jin mulai melambat dan ia terjatuh, genggamannya terlepas.

“aaahh..” rintihnya.

Aku baru bisa menghentikan langkah ku beberapa meter di depannya. Aku terlambat, polisi telah menahan Yoo Jin yang hendak bangkit dari jatuhnya untuk mengejar ku kembali. Aku terdiam, tak berkutik. Aku harus menyelamatkan Yoo Jin.

“lari oppa!!! Selamatkan dirimu!!!” ia berteriak sambil menangis.

“kau menyerah saja Jong Woon ssi.”

Aku menatap polisi yang ada di hadapan ku dengan tatapan marah, mata ku berkilat penuh dendam.  “lari oppa!!! Ppaliwa!!!!” Yoo Jin berteriak lagi, ia mulai terisak.

‘duagh!!!’ sesuatu yang keras menghantam punggung ku, aku merasa lemas dan tersungkur.

“oppaaaa!!!!! Andwaee!!!!! Andwaaee!!!!!!” jerit Yoo Jin.

Aku memaksakan diri untuk menatapnya walaupun rasa sakit menjalar di sekujur tubuh ku.

“andwaeeee!!!! Oppa..andwaeee!!!!” Yoo Jin terus meraung seraya memberontak, tapi polisi itu menahan tubuhnya.

“tetaplah di sini!!” hentak polisi yang menahan Yoo Jin.

Aku tak sanggup lagi melihatnya menangis, menangisi orang sepertiku. Jangan buang air mata mu untuk orang seperti ku Kim Yoo Jin, air mata mu terlalu berharga.

“pulanglah!!!!” aku membentaknya.

“andwaeee…hu..hu..hiks..andwae oppaaaa!!!”

“Kim Yoo Jin kau pulang lah!! Lupakan aku!!aahhh!!” aku mengerang ketika tangan ku di tekuk ke belakang oleh polisi. Pandangan ku mulai memburam, genangan air mata siap untuk tumpah dari pelupuk mata ku.

Yoo Jin masih terus berusaha memberontak sambil menangis dan meneriakkan nama ku. Yoo Jin, mianhaeyo…

~             ~             ~

==Whenever You Play That Song==

Author POV

Gadis itu mengusap air matanya perlahan, kejadian itu masih sangat membekas di hatinya walaupun telah beberapa tahun berlalu, di mana ia kehilangan seseorang yang amat di cintainya untuk pertama kali seumur hidupnya. Ia kembali menghapus air matanya dan mengambil tasnya yang sempat terjatuh.

Sekali lagi ia melirik ke arah kafe, sang pelayan masih membersihkan gelas – gelas yang ada di hadapannya. Dengan langkah lunglai, gadis itu mulai beranjak pergi meninggalkan kafe itu, meninggalkan berjuta kenangan yang ada di dalamnya.

‘anggaplah aku sebagai matahari sore. Yang apabila aku terbenam, aku pasti muncul keesokan paginya dan menemukanmu kembali.’

Sang pelayan telah selesai membersihkan semua gelas, kemudian ia pergi, memperlihatkan apa yang tersembunyi oleh tubuhnya yang cukup besar, sebuah music box, dengan seorang namja di dalamnya, seorang namja yang sedang meresapi lagu yang di putar olehnya sendiri, lagu yang merupakan lagu kenangan antara dirinya dengan gadisnya, Kim Yoo Jin.

END-

 

 

 

 

17 responses

  1. Eonni..
    Endingnya gantung banget..
    Buat sequelnya donk.. Plissss..!!
    Ceritanya bagus,daebak!
    Cuman,itu pelayan yang ngelap itu ganggu banget sih.. ==;a
    Buat sequelnyaa..!! HARUS #maksa
    Gomawo!! :3

    • gomawo udah baca dan comment chingu ^^
      wahh..seruan di bikin gantung kan?😄
      iya tuh pelayan ngeselin Dx kita gebukin aja yuk rame2 Dx
      gara2 dia, yoo jin ma jong woon gg ketemu Dx

  2. hwaaaaaaaaaaa aku udah liat nih mv nya, jadi yang ke bayang di imajinasi aku bukan yesung, tapi seungho ahahaha. daebaaaaaaak eonni, udah mirip ko sama mv nya, tapi ada bagian yang di tambah ya? soalnya perasaan yang di pantai terus yang yesung ngebeliin uee es krim itu ga ada. gapapa sih keren ko, manzeee =D

  3. Baca ini sambil bayangin muka yoo seung ho sm ceweknya yg ada di mv rasanya sesuatuu banget hahaha *piss abang yesung ._.v
    Keren thorrr, saya cukup kecewa dgn mv nya yg gantung, tapi semoga ff nya gak gantung. Ayo ditunggu sequelnyaaaaa😀 :DD

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s