Please, Be My Baby Part 1

Title: Please, Be My Baby 1 [Twoshoot]

Author: Wulanchynngsh.

Cast:

• Park Jiyeon T-ARA

• Yoo Seunghoo

Other Cast: Find it in this story =))

Rating: PG-15

Genre: Romance, Drama

Length: Twoshoot

***

 

-Jiyeon POV-

 

Drrtt.. Drrrtt..

 

Aku mengerjap perlahan merasakan ada sesuatu yang bergetar di bawah tubuhku. Sepertinya ada pesan masuk di ponselku. Aku mengambil ponselku dengan malas lalu membacanya.

 

From: Seungho

 

“Ayo bangun nona malas, sudah siang!! Nanti kau terlambat kesekolah!!”

 

Huh memangnya dia pikir jam berapa sekarang? Membangunkan orang seenaknya. Aku melempar hp ku asal ke tempat tidur lalu hendak memejamkan mata kembali. Aku tertegun saat tak sengaja melihat jam dinding di kamarku. Omona! Aku refleks langsung terbangun. 07.42 KST. Jam segini aku baru bangun? Sementara mata kuliah pertama dimulai jam delapan?? Pabo ya Jiyeon!!

 

Aku pun segera loncat dari tempat tidurku, menyabet handukku lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Mata kuliah pertama adalah manajemen statistik, dan kau tahu, songsaenim yg mengajarku itu sungguh kejam. Pabo ya!! Kenapa harus kesiangan begini?

 

***

 

Aku terus berlari secepat yang aku mampu menuju kelasku. Aku sudah terlambat 15 menit! Ya, biarpun pada akhirnya aku pasti diusir dari kelas, setidaknya Kim songsaenim tahu kalau aku datang ke kampus. Kelasku sudah tertutup rapat, itu artinya Kim songsaenim sudah masuk. Aku mendekati pintu dengan ragu ragu dan akhirnya ku beranikan mengetuk pintunya.

 

Tok.. Tok.. Tok

 

Aku menunggu, tak sahutan apapun dari dalam. Aku berpikir untuk langsung masuk saja, tapi pasti itu tidak sopan. Aku mencoba mengetuk sekali lagi

 

Tok.. Tok.. Tok.. Tok

 

“TAK USAH MASUK JIYEON-SSI!!! KAU SUDAH TERLAMBAT JAUH!! LEBIH BAIK TAK USAH DATANG SAJA SEKALIAN!!” Semburnya dari dalam. Beberapa anak terlihat mentertawaiku. Ini benar benar memalukan! Aku menggembungkan pipiku lalu meniup poniku kesal. Menyebalkan sekali sih orang itu!

 

Aku berjalan meninggalkan kelasku, menjauhi gedung kampus. Entahlah, aku tak tahu mau kemana sekarang. Kantin? Disana pasti penuh karena hari ini tidak banyak yang memiliki jadwal kuliah sepagi ini! Aku terus berjalan dan akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Jika aku sedang banyak tugas, banyak pikiran, bahkan banyak masalah sekalipun, aku biasanya selalu ke sini. Karena tak banyak orang yg mengunjungi perpustakaan ini, sehingga aku dapat menenangkan pikiranku disini.

 

Aku memasuki perpustakaan yang terlihat lengang. Benar saja, tak banyak orang di dalam sana. Mungkin hanya sekitar sepuluh orang saja Suasananya sangat tenang. Aku berjalan ke sudut perpustakaan, mencari cari buku yang sekiranya bagus untuk dibacanya, ya biarpun unjung ujungnya buku itu hanya ku jadikan pajangan. Aku mengambil sebuah novel romance yang tidak terlalu tebal, lalu duduk di salah satu mejanya yang kosong.

 

“Ya! Kenapa kau ada disini? Kau tak ada mata kuliah?” Aku mendengar suara seseorang yang sudah amat ku kenal. Ia menghampiriku lalu duduk di sampingku. Yoo Seungho.

 

“Huh! Sebenarnya ada, tapi aku diusir dari kelas oleh Kim songsaenim” aku menghela nafas lalu kembali menggembungkan pipiku, kesal mengingat kejadian tadi.

 

“Jinjjayo? Wae?”

 

“Aku kesiangan”

 

“Ya! Bukannya aku sudah mengirimkan pesan padamu tadi pagi? Mengapa masih kesiangan juga? Yeoja pemalas!!”

 

“YA!! Kau pikir, jam berapa kau mengirimkan pesan? Jam delapan kurang, sementara mata kuliah pertamaku jam delapan! Jelas saja aku terlambat!”

 

“Makanya, jangan mengandalkan orang lain! Bangunlah sendiri. Pakai alarm ke’ biar tidak kesiangan”

 

“Ah ye ye SEUNGHO-SSI. Ohiya, kau sendiri, mengapa kemari? Tumben sekali. Biasanya tidak pernah!”

 

“Memang tidak boleh aku kesini? Aku tidak ada mata kuliah. Dan aku sedang ingin kesini karena perasaanku mengatakan kalau kau ada disini. Ternyata benar kau ada disini kan?”

 

“Memangnya kenapa kalau aku ada disini? kau kesini karena ingin bertemu denganku?”

 

“Tentu saja! Bogoshippo Jiyeon-ah. Belakangan ini, aku dan kau sama sama sibuk. Jadi kita tak pernah mengobrol lagi. Bertemu pun jarang”

 

“Hahaha nado Seungho-ah. Bogoshippo. Sudah lama kita tak jalan jalan dan bermain basket bersama lagi”

 

“Benar katamu, kita juga sudah lama tak ke taman bersama. Huh, kuliah benar benar menyita waktu” ia mengerucutkan bibirnya. Neomu kyeopta!!

 

“Kalau begitu, bagaimana jika besok kita ke taman, otte?” Ajakku dengan mata berbinar.

 

“Sirheo!” Ia menggeleng cepat! Apa maksudnya ia tak mau??

 

“Waeyo?? Aah… arraseo arraseo! Kau ini sangat sibuk mengurusi fans fans mu itu nde? Fans yeoja mu kan banyak! benarkan?” Entah kenapa aku bertanya dengan nada sinis seperti ini.

 

“Ya! Kau ini. Maksudku bukan begitu. Aku tak mau ke taman! Aku ingin mengajakmu ke tempat lain. Tunggu tunggu, kaaau… cemburu ya??” DEG! Aniyo aniyo! Aku tak mungkin cemburu dan aku tak boleh cemburu! Jiyeon-ah, kau tak benar benar cemburu padanya kan? Iya kan?

 

“Mwoya?? Aniyo!! Mana mungkin aku cemburu! Kenapa berpikiran seperti itu?” Tuhan, semoga wajahku tidak memerah!

 

“Aku heran saja. Kita kan sudah lima tahun bersahabat, tapi baru sekarang kau tampak kesal saat banyak yeoja yg mengejarku”

 

“Tidak seperti itu. Aku sekarang sedang banyak masalah jadi maaf bila aku jadi lebih sensi”

 

“Masalah? Masalah apa? Mengapa tidak cerita padaku? Ayo bercerita” ia terlihat serius menanggapinya. Inilah yg aku sukai saat bersahabat dengannya. Dia benar benar care pada sahabatnya.

 

“Aku putus” aku menarik nafas dalam.

 

“Mwoya???”

 

***

 

-Normal POV-

 

-Flashback-

 

“Kita putus saja Jiyeon-ah. Maaf” Minho berbalik meninggalkan yeoja dihadapannya. Yeojachingu nya.

 

“Oppa, chakkam. Waeyo??” Jiyeon mencoba mengejar Minho. Minho berhenti lalu berbalik.

 

“Aku tak mau kau tersakiti. Aku bukan namja yang baik untukmu. Kau terlalu polos untukku. Mianhae” Minho kembali meneruskan langkahnya.

 

“Oppa..” Jiyeon memeluk namja tersebut dari belakang.

 

“Nan jeongmal saranghae oppa. Jangan berkata seperti itu. Kau namja yang sangat baik untukku oppa” Jiyeon mulai menangis.

 

“Nado saranghae Park Jiyeon. Mianhae!” Minho melepaskan pelukan Jiyeon lalu berlari meninggalkan Jiyeon.

 

Jiyeon terduduk lemah begitu saja. Ia masih menangis. Entahlah. Namja yang sudah hampir dua tahun ini selalu ada disisinya, menyayanginya, mendukungnya, memberikan kenyamanan baginya, sekarang tiba tiba memutuskannya begitu saja. Ada apa sebenarnya?

 

-End of Flashback-

 

***

 

-Jiyeon POV-

 

“YAA!!!” Seungho menggebrak meja tempat kami duduk.

 

“Suutt!!” Aku membekap mulutnya.

 

“Ini perpustakaan, kecilkan volume suaramu Yoo Seungho!”

 

“Tapi dia sungguh keterlaluan! Apa maksudnya dia memutuskanmu? Dengan alasan yg tidak jelas pula!!” Ucapnya emosi. Dia selalu seperti ini. Dulu saat aku putus dengan Joon oppa, dia memukuli habis Joon oppa hingga babak belur.

 

“Sudahlah. Tak masalah. Yang penting aku baik baik saja kan?”

 

“Jangan membohongi dirimu sendiri. Aku tahu kau sedih dan kau sedang merasa tidak baik” ia memegang bahuku. Ada sebuah rasa nyaman yg berbeda, entah apa itu.

 

“Aku benar baik baik saja Seungho-ah” aku mencoba mengulas sebuah senyum.

 

“Jinjja? Bahkan senyumanmu meyakinkan aku bahwa kau sedang berbohong”

 

“Percayalah! Aku benar benar baik saja. Sudahlah”

 

“Baiklah aku percaya-untuk saat ini. Kalau kau butuh aku, kapanpun dan dimanapun, aku siap. Hubungi saja aku, ne?” Ia membelai rambutku. DEG!

 

“N.. Ne”

 

***

 

[20.30 KST]

 

Drrrrrrrtt… Drrrrrrtt…. Drrrrrrrtt…. Drrrrrrtt… Drrrrtt

 

Aku mengangkat wajahku yg tengah ku telungkupkan di bantal. Siapa yg menelepon? Aku meraih ponselku diatas meja lalu melihat nama penelepon yg tertera di layayarnya. Seungho.

 

“Hum?” Ucapku malas mengangkat telepon.

 

“Aku hanya ingin memastikan kau baik baik saja” ucapnya dengan nada khawatir.

 

“Aku baik baik saja”

 

“Ya!! Kau sedang menangis??” Apa aku harus berbohong? Dia selalu tahu bagaimana keadaanku.

 

“Aniyo!! Aku tidak menangis”

 

“Jangan bohong!! Kau pikir, sudah berapa tahun kita bersahabat?? Aku tahu sekarang kau sedang menangisi namja bodoh itu!! Suaramu terdengar berbeda” Baiklah! Aku memang tak pandai berbohong dan aku tak akan pernah bisa berbohong darinya.

 

“Aniyo!! Aku tidak menangis! Sudah ah aku ngantuk! Anyyeong”

 

“Eh eh eh eh eh, jangan ditutup dulu. Aku masih mau bicara..”

 

“Apa lagi??”

 

“Aku tidak akan membicarakannya disini. Ku jemput besok jam lima sore! Arra?”

 

“Hum? Ne ne”

 

“Baiklah. Selamat tidur Park Jiyeon. Semoga memimpikan aku. Anyyeong” Klik. Ia menutup telponnya. Cih apa katanya? Memimpikannya? Ahaha ada ada saja.

 

***

 

“Sebenarnya kita mau kemana sih?” Tanyaku sedikit kesal. Sudah hampir satu jam Seungho membawaku mutar mutar dengan motornya. Bahkan hari sudah mulai gelap. Entah tempat mana yang sebenarnya akan dia tuju.

 

“Entahlah. Aku pun sedang mencari tempat yang cocok” ucapnya.

 

“Mwo? Entahlah?? Kau sendiri juga belum tahu mau kemana??? Memangnya kau mau apa sih, sampai sampai harus mencari tempat yg cocok segala?” Apa jangan jangan ia ingin mencari tempat yang romantis? Sebenarnya apa yg akan ia lakukan? Aniyo! Jangan berpikiran seperti itu. Dia itu kan hanya sahabatmu!

 

“Nanti juga kau akan tahu. Sudahlah jangan banyak tanya. Pegangan saja yg erat. Aku akan menaikkan kecepatan motorku” ucapnya menarik tanganku di pinggangnya agar peganganku di pinggangnya semakin kuat.

 

“N.. Ne”

 

***

 

“Sampai” ucapnya lalu membuka helm-nya.

 

“Waaah..” Aku memandang tak percaya pemandangan di hadapanku. Ini benar benar menakjubkan! Sebenarnya bisa dibilang, ini adalah taman. Tapi jika dilihat dari bentuknya, mungkin lebih cocok disebut bukit.

 

Aku benar benar memandang takjub bukit tersebut. Dari atas sini, aku dapat melihat seluruh sudut kota Seoul. Di atas sini juga aku dapat melihat banyak sekali bintang di langit malam yang tidak dapat kulihat di tempat lain. Bahkan di loteng rumahku pun, tak akan ada bintang sebanyak ini. Benar benar menakjubkan.

 

“Kau suka?” Tanyanya tersenyum. Senyumannya membuatku otomatis ikut tersenyum. Namja ini benar benar manis.

 

“Tentu saja! Aku sangat suka” DEG!! Aku terpaku. Wajahnya mendekat ke wajahku. Semakin dekat dan semakin dekat. Aku refleks menutup mataku. Mau apa namja ini?

 

“Buka dulu helm mu” ucapnya lalu melepaskan pengaman di helm ku lalu melepas helmnya dari kepalaku.

 

“A.. Ah iya aku.. lupa” ucapku gugup.

 

“Ya! Kenapa wajahmu memerah begitu? Apa yang kau pikirkan?”

 

“A.. Aniyo!!!” Aku refleks menutup wajahku dengan telapak tanganku.

 

“Ah aku tahu apa yang kau pikirkan! Kau pasti berfikir, kalau aku akan menciummu kan? Iya kan? Ahahaha” PLETAK! Aku memukul lengannya.

 

“Aww sakit” ia mengelus lengannya.

 

“Jangan bicara sembarangan! Aku tak berfikir seperti itu!”

 

“Geojitmal! Wajahmu merah! Bicaramu gugup! Ahahaha kau salah tingkah”

 

“Seungho-ya!! Berhenti mentertawakanku!! Aku mau pulang saja!!” Aku pun berbalik meninggalkannya.

 

“Eh eh eh, jangan pulang. Kita kan baru sampai” ia menahan lenganku.

 

“Kajja, kita lihat bintang” ia menarik tanganku untuk berbalik dan semakin menaiki bukit. Aku hanya pasrah mengikutinya. Aku tak tahu saat ini sedang berada dimana? Jadi tak mungkin aku berani pulang sendiri.

 

Aku terdiam menghirup udara malam yang terasa sejuk, bukan, lebih tepatnya dingin. Aku pun memandang bintang bintang di langit yang semakin lama semakin banyak. Benar benar indah.

 

“Aku menyebutnya bukit bintang” ucapnya saat suasana sedang hening. Aku menoleh padanya, ia tengah memandang langit sama sepertiku tadi.

 

“Bukit bintang?”

 

“Nde! karena di bukit ini, kita dapat melihat puluhan bahkan ratusan bintang yang belum tentu bisa kita lihat di tempat lain” ia masih tetap memandang langit.

 

“Tempat ini sangat indah. Darimana kau mengetahui ada tempat seindah ini?”

 

“Tentu saja, makanya aku suka kesini dan aku ingin mengajakmu kesini. Aku sudah lama sering kesini. Waktu itu noona ku yang mengajakku kesini saat appa ku meninggal. Eh, kau dingin tidak? Ini pakai jaketku” ia melepas jaketnya lalu memakaikannya ke tubuhku. Memang, aku tak memakai jaket.

 

“Kau saja yang memakainya. Tidak apa apa”

 

“Kau kan yeoja. Aku tak mungkin membiarkan yeoja yang kusayangi kedinginan! Sudahlah pakai saja” DEG! Lagi lagi ia berhasil membuat jantungku bekerja tak normal. Aku? Yeoja yang ia sayangi?

 

“Aku yeoja yang kau sayangi?” Tanyaku ragu ragu.

 

“Ahahaha tentu saja!! Aku sayang padamu. Bagaimana denganmu? Kau sayang padaku tidak?”

 

“Ehm.. Nde Seungho-ah. Aku juga menyayangimu”

 

“Jiyeon-ah?”

 

“Hum?” Aku menoleh, mendapatkan sebuah senyuman manis darinya.

 

“Aku mau mengatakan sesuatu”

 

“Ohiya, aku baru ingat. Kemarin kau sudah bilang begitu kan di telepon, kalau kau ingin mengatakan sesuatu? Apa itu?”

 

“Aku.. Ehm… Aku…” Tiba tiba ia menggenggam tanganku erat. Jantungku berdetak tak karuan, lagi! Kali ini benar benar kencang. Mungkin wajahku juga sudah semerah tomat sekarang. Ia mendekat ke arahku lalu membisikan sesuatu di telingaku lembut.

“Jiyeon-ah, Please, be my baby..”

“M.. Mwo??”

***

-TBC-

18 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s