Jealousy Marriage – Part 3

Title : Jealousy Marriage

Main cast :
• Park Jiyeon
• Park Sanghyun

Other cast : Find at the story

Genre : Romance

Rating : PG 15+

Length : Chaptered

Disc : The plot is MINE!

Credit Poster : YeonNiaARTwork

A/N : Mian kalo lama. Sebenarnya ini bakalan dipost pas bulan Januari. Tapi karena ada beberapa kendala, jadi diundurin dulu ^^V. Untuk FF PINKFINITE bakalan mulai dipost minggu depan ya readers ^^. Author yakin pasti bakalan banyak yang lupa. Jadi author saranin buka dulu part yang sebelumnya😀 Part 2

Maaf kalo ceritanya agak ngawur atau kurang jelas. Karena sesungguhnya, Author pun kurang jelas orangnya (?)

PREVIEW

Sanghyun terkekeh kecil melihat tingkah Jiyeon. Namun hatinya tak bisa menyembunyikan perasaanya yang amat bahagia. Ia sudah bisa menangkap kalau Jiyeon juga menyukainya. Yang ada di pikirannya sekarang, adalah bagaimana agar membuat yeoja itu mau mengakuinya.

END OF PREVIEW

 Author POV

Sanghyun menyengir kecil memergoki Jiyeon yang sedang senyam senyum sendiri di depan meja rias. Kadang yeoja itu menunjukkan ekspresi cemberut, manyun, tertawa, dan beberapa ekspresi konyol lainnya.

“Ya… Apa yang sedang kau lakukan?”

“Omo! Park Sanghyun-sshi! Kau mengagetkanku saja!”

Sanghyun tak bisa lagi menahan tawanya ketika melihat ekspresi kaget Jiyeon.“Hahahaha…. Tingkahmu konyol! Seperti anak kecil saja! Hahahahaha!”

“Ya! Apa katamu? Wajahmu tuh yang seperti anak kecil!” Jiyeon mengambil  bantal di ranjang dan melemparnya ke arah Sanghyun.

Namun meleset. Sanghyun berhasil menghindar dan malah balik melempari Jiyeon. Alhasil terjadilah perang bantal diantara mereka berdua.

“Ya! Park Sanghyun! Rasakan ini….!!” Jiyeon berlari ke arah Sanghyun, dan, Bug!

Bantal itu sukses mengenai wajah Sanghyun dan membuat namja itu terhempas ke lantai.

“Haha, rasakan!”

Namun Sanghyun tak menunjukkan reaksi apapun. Matanya terpejam. Apakah ia pingsan? Entahlah. Yang pasti saat itu Jiyeon mulai panik.

“Sanghyun-sshi, Gwaenchanayo?” ia menepuk-nepuk pipi Sanghyun pelan.

“Park Sanghyun, jangan bercanda. Ayo bangun…. Hah, omo… Apakah dia mati?” ujar Jiyeon cemas nan polos (?).

Jiyeon menurunkan wajahnya sampai ke dada Sanghyun. Sekedar mengecek apakah jantung namja itu masih berdetak.

Namun pada saat itu juga, Sanghyun membuka matanya. Ia langsung memeluk dan membalikkan tubuh Jiyeon, hingga sekarang yeoja itu berada di bawahnya.

“Kau tertipu… Haha! Sekarang balasanku,” Sanghyun menggelitik pelan perut Jiyeon.

“Ya! Park Sanghyun! Hentikan! Geli…” Jiyeon memukul-mukul dada Sanghyun, namun namja itu tetap tak mau menghentikannya.

“Ya! Hentikan atau aku akan melemparmu ke lantai bawah!” ancam Jiyeon.

Sanghyun melepaskan tangannya dari perut Jiyeon. Namun tubuhnya tetap berada di atas tubuh yeoja itu.

“Galak sekali… Arraseo,”

Hening. Jiyeon berusaha mengatur nafasnya yang memburu karena marah. Sementara Sanghyun fokus menatap lekat mata Jiyeon di bawah sana.

“Kau cantik,” ucap Sanghyun tulus.

“Mwo? Dasar gombal. Cepat berdiri, aku mau bangun.” Jiyeon berusaha untuk bangun, namun pundaknya dengan cepat ditahan oleh Sanghyun.

“Aku minta maaf, karena telah mengerjaimu. Tapi tak bisakah aku, suamimu, memperhatikan istrinya dalam jarak sedekat ini? Aku hanya minta waktu 5 menit, Jiyeon-ah…”

Pipi Jiyeon memerah.“Memperhatikanku? Hhh… Sa-Sanghyun-sshi, sikapmu benar-benar berubah. Kau bahkan tak mau menatapku dulu,” Jiyeon mulai canggung, namun ia masih sempat membalas perkataan Sanghyun.

Sanghyun menghela nafasnya.“Apa kau tidak tahu? Aku seperti itu karena aku menyukaimu, Park Jiyeon. Aku bahkan tak bisa menatapmu karena terlalu gugup. Aku terlalu canggung, gugup, dan pemalu, sampai-sampai aku tidak bisa berdekatan denganmu, karena aku bisa-bisa langsung berkeringat dingin. Dan sekarang saat semua hal itu sudah hilang, aku harus bisa memanfaatkan semua keadaan dengan baik,” jelas Sanghyun panjang lebar.

Jiyeon sedikit menganga. Ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya.“Mwo-mwoya?”

“Ne, Park Jiyeon. Joahaeyo,”

Sanghyun mulai menurunkan tubuhnya makin ke bawah. Tujuannya tidak lain adalah bibir Jiyeon. Namun ketika jarak mereka sudah sangat dekat, tiba-tiba saja pintu kamar berbunyi.

“Jiyeon-ah, ibu ingin bicara denganmu.”

Jiyeon langsung mendorong Sanghyun dan membuka pintunya.

“O. Kalian sedang apa?” Ibu Jiyeon nampak kaget dengan kamar Jiyeon yang berantakan karena perang bantal tadi.

“Bukan apa-apa, Eomma. Tadi kebetulan ada kecoak lewat. Kita bicara di bawah saja, Eomma.” Jiyeon mengajak Eomma-nya menjauh dari kamar tersebut.

***

Handphone Jieun berbunyi ketika ia dan Jiyeon sedang berbelanja di Toko Buku langganan mereka.

“Yobosseo?…. Mwo?…. Ne, Eomma. Aku akan segera menjemputnya,”

Klik.

“Dari siapa, Jieun?” tanya Jiyeon sambil menelusuri rak-rak khusus komik. Siapa tahu saja ada komik baru.

“Dari Eomma. Aku disuruh menjemput adikku sekarang. Kau masih mau disini? Tidak apa-apa kan kalau kutinggal?”

“Ne. Gwaenchana,” sahut Jiyeon sambil tersenyum manis.

“Ok. Aku pergi dulu ya. Bye,”

“Bye,”

Jieun keluar dari Toko tersebut, dan langsung memberhentikan taxi. Sementara Jiyeon, melanjutkan memilah-milih komik yang akan dibelinya. Setelah itu, ia langsung ke kasir untuk membayarnya.

“Permisi. Aku mau membeli ini,” Jiyeon meletakkan kumpulan komik itu di atas meja kasir.

“Semuanya, agasshi?” tanya penjaga kasir tersebut.

“Ne.”

Jiyeon memperhatikan pegawai tersebut. Ia baru sadar ternyata yang berdiri di belakang kasir itu bukan Ahjussi, pemilik Toko ini, melainkan seorang namja manis dengan senyum yang cukup menawan.

“Permisi. Apa kau pegawai baru disini? Aku baru pertama kali melihatmu.” tanya Jiyeon.

“Ne… Ah, sebenarnya tidak juga. Aku hanya menggantikan ayahku untuk beberapa hari. Ia sedang keluar kota,” ujar namja tersebut dengan senyum yang mengembang.

“Oh… Jadi kau anak Lee Ahjussi?”

“Ne, Agasshi. Ini komikmu agasshi. Semuanya 50.00

won,” namja itu menyodorkan komik-komik Jiyeon yang sudah terbungkus rapi.

“Ah, Ne.”Jiyeon membuka tas-nya. Untuk beberapa saat, ia mencari sesuatu di dalamnya. Namun tiba-tiba saja wajahnya menjadi panik. Ia tak bisa menemukan apa yang dicarinya.

“A… Mianhamnida. Aku tidak jadi membeli ini,” ujar Jiyeon sambil mendorong kembali bungkusan itu.

“Waeyo, Agasshi?”

“Dompetku tidak ada,” sahut Jiyeon kusut (?)

Namja itu tersenyum tipis.“Kalau begitu pakai saja uangku dulu. Kau bisa membayarnya kapan-kapan,”

Mata Jiyeon berbinar. Ia merasa seperti sedang ada di hadapan seorang malaikat.

“Jinjjayo!?”

“Ne,” sahut namja itu, lagi-lagi disertai dengan senyumnya.

“Omona~ Jeongmal Gamsahamnida,…..”

“Chunji. Lee Chunji”

“Ah, Ne. Jeongmal Gomawo-yo, Chunji-sshi.” Jiyeon mengeluarkan senyum terlebarnya, seraya membungkuk dalam ke arah namja itu.

“Gwaenchanayo,”

“Sekali lagi terima kasih, Chunji-sshi. Aku akan kembali besok untuk membayarnya. Err, kalau begitu, aku pergi dulu ya? Annyeong.” sekali lagi Jiyeon membungkuk dan setelah itu berjalan ke pintu keluar.

“A-agasshi, tunggu!” Chunji berusaha memanggil Jiyeon. Namun terlambat. Jiyeon sudah terlebih dahulu naik taksi.

“Haah.. Padahal aku hanya ingin tahu, siapa namanya.” keluh Chunji.

“Minwoo-ya! Tolong kau jaga kasir sebentar ya? Aku mau ke toilet,” ia berteriak ke salah satu pegawai Toko yang sedang mengelap kaca.

“Ne, Tuan.”

Chunji pergi ke arah Toilet. Namun saat ia melewati tempat dimana diletakkan komik-komik, namja itu melihat dompet berwarna biru muda yang tergeletak begitu saja di lantai. Ia lekas memungutnya.

“Omo! Ini kan milik…” Chunji terkejut melihat foto pemilik dompet tersebut.

“Oh, Park Jiyeon. Namanya indah, seperti orangnya..”

***

Jiyeon mengendap-ngendap mdmbuka kamarnya. Ia sudah mencari Sanghyun di seluruh penjuru rumah, dan ia tak menemukan namja itu. Dan sudah dipastikan, kalau namja itu sedang berada di kamar mereka. Dimana lagi? Oleh karena itu, Jiyeon mengambil langkah sembunyi-sembunyi. Karena jujur saja, ia masih malu dengan keadaan kemarin. Apalagi kondisi dimana mereka cuma berdua saja di rumah. Karena orangtua Jiyeon, baru saja pergi dinas keluar kota

Jiyeon berhasil membuka pintu. Namun sekecil apapun suara, tak dapat mengalahkan ketajaman (?) telinga Sanghyun. Namja itu tersenyum dari meja belajar, ketika melihat Jiyeon.

“Kau sudah pulang?”

“Ne.”

“Orangtuamu…”

“Ne. Aku sudah tahu,” Jiyeon memotong perkataan Sanghyun, dan berlalu ke kamar mandi.

Sanghyun menghela nafasnya.“Apa aku berbuat salah padanya?” Sanghyun hanya menggeleng kemudian kembali fokus pada bukunya.

Tak berapa lama, Jiyeon sudah keluar dari mandi. Dengan badan yang segar dan bergantikan pakaian rumah.

Jiyeon melirik ke arah Sanghyun. Ia menarik dan membuang nafasnya berkali-berkali secara cepat. Ia menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang bergetar begitu cepat. Entah kenapa, ia seperti menjadi Sanghyun yang dulu. Tapi Jiyeon langsung saja membuang hal itu. Dengan sekuat hati, berjalan mendekati Sanghyun dan duduk di sebelahnya.

“Sedang apa?” tanya Jiyeon.

Sanghyun sedikit kaget ketika mendengar suara Jiyeon yang sangat dekat. Namun sedetik kemudian, wajahnya kembali normal.

“Sedang belajar. Ujian kelulusan sekolah, kan, sebentar lagi. Kau tidak mau ikut belajar denganku.” ujar Sanghyun sambil menatap Jiyeon dengan senyum lembutnya.

Jiyeon menunduk. Ia tak kuat untuk menatap mata Sanghyun.“Ahniyo. Aku sedang malas,”

“Hemm… Begitu,”

Jiyeon melirik sebentar. Ternyata Sanghyun sudah membaca buku-nya kembali. Ia sudah bernafas sedikit.

“Sanghyun-sshi… Maafkan sikapku tadi,” ucap Jiyeon sambil menyelipkan poni panjangnya ke telinga.

“Ne. Gwaenchana.”

“Err… Aku ingin tanya. Umm… Sejak kapan kau menyukaiku?”

Deg! Jantung Sanghyun berdebar mendengarnya. Serasa dihantam oleh batu yang sangat besar. Pertanyaan Jiyeon terlalu tiba-tiba. Ia bingung harus menjawab apa.“Engg… A-aku lupa.” jawabnya refleks. Entah  kenapa rasa gugup itu kembali menghampirinya.

Jiyeon menatap Sanghyun tak percaya. Ia menautkan kedua alisnya kesal.“Lupa? Bagaimana kau bisa lupa? Jadi kau berbohong?”

Yeoja itu bangkit dari kursi dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur.

“Park Jiyeon-sshi,” panggil Sanghyun. Namun yeoja itu mengacuhkannya. Ia menutup dirinya dengan selimut dan memeluk gulingnya erat.

***

 Jiyeon POV

Apa-apaan dia? Bagaimana bisa ia melupakannya? Berarti, ia berbohong padaku? Tch. Semestinya aku tahu hal ini. Ia mengatakan ‘Saranghaeyo’, ‘aku menyukaimu,’ mungkin karena ia ingin mendapatkan bibirku. Dasar namja!

“Jiyeon-sshi,” panggilnya lagi.

Aku tetap menghiraukannya. Biarkan saja. Namja itu memang sangat ahli membuatku melayang di atas awan, dan membuatku terjatuh ke jurang yang paling dalam.

“Aku tidak bermasuk seperti itu, Jiyeon-sshi.”

Omo! Kenapa suaranya semakin mendekat? Kenapa juga ranjang ini terasa berat? Jangan-jangan…

‘Gya!’

Leherku tercekat saat sepasang tangan yang berat memeluk pinggangku. Itu pasti, Sanghyun. Apa yang dia lakukan, huh?

“Mianhae, tapi bukan itu maksudku,”

Suaranya yang lembut terasa begitu halus ditelingaku.

“Aku tidak berbohong. Aku bukannya lupa. Pertanyaanmu terlalu mendadak, jadi aku bingung menjawabnya.”

Dari dalam selimut, aku mendengarkannya dengan baik.

“Aku menyukaimu, Park Jiyeon. Aku tak ingin kau menganggapku berbohong, atau kau tak mempercayaiku. Karena mulai sekarang aku sudah mengubah rasa sukaku itu. Aku tidak lagi menyukaimu,”

Dapat kurasakan Sanghyun menarik nafasnya dalam.

“Aku tidak lagi menyukaimu. Tapi, aku benar-benar mencintaimu, Jiyeon. Saranghaeyo. Aku ingin kau tahu itu.”

Hatiku bergetar mendengarnya. Senang. Sangat senang. Aku menggigit bibir bawahku menahan mulutku yang ingin berteriak kalau aku juga punya perasaan yang sama.

“Kau mendengarnya kan?”

Diam. Aku tak berani bicara apapun. Lidah dan tubuhku rasanya kelu ketika mendengar suaranya.

“Hanya itu yang ingin aku sampaikan,” itu kata terakhir Sanghyun sebelum ia beranjak dari tempat tidur.

Aku mendesah lega. Meskipun ia sudah tak berada di dekatku lagi, namun dadaku berdebar kencang. Dia benar benar punya perasaan padaku kan? Kalau ia bisa mengutarakannya, kenapa aku tak bisa? Ya Tuhan, kenapa mulutku ini tak mau bekerja sama dengan pikiranku?

***

TRIIIING! Bel pulang berbunyi. Para siswa bersorak ria, menyambut weekend yang baru saja mulai. Hal itu tambah meriah dengan pesta ulang tahun salah satu siswa terkaya di sekolah tersebut. Sebagian murid akan berpesta malam ini.

“Jieun-ah. Pesta malam nanti, kau akan pergi dengan siapa?” tanya Jiyeon.

Jieun mendongak.“ Aaa… Sepertinya dengan Wooyoung oppa. Kau?”

“Oh… Aku? Molla,” sahut Jiyeon lesu.

Jieun prihatin melihat Jiyeon. Ia tak punya namjachingu. Dan hal inilah yang selalu terjadi.“Kau bisa pergi dengan kami kok, kalau kau mau.” ujar Jieun sambil mengelus punggung sahabatnya itu.

“Gomawo. Tapi sudahlah, aku tidak mau mengganggu kalian.” ucap Jiyeon

tersenyum.

“Jinjja?” Jieun ragu dengan senyuman Jiyeon. Karena gurat matanya berkata lain.

“Ne. Gwaenchanayo. Aku duluan, ya. Annyeong,” Jiyeon melambaikan tangannya kepada Jieun seraya keluar dari kelas.

***

Jiyeon menendang kerikil apa saja yang dilewatinya. Wajahnya tertunduk menghadap tanah. Sesekali ia menarik dan menghela nafas berat.

Ada rasa iri di dalam hatinya. Ia iri pada Jieun yang selalu ada pasangan untuk pergi ke manapun. Sementara ia? Sudah 3 tahun di Sekolah Menengah, selama 3 tahun juga dia tidak punya namjachingu.

“Haaah…”

“Jiyeon-sshi,”

Jiyeon mendongak ke arah suara, namanya disebut. Ia kaget ketika melihat Sanghyun sudah ada disampingnya. Dan namja itu, menggenggam tangannya.

“Omo! Park Sanghyun-sshi. Ada apa ini?” Jiyeon mencoba melepaskan tangan Sanghyun, namun namja itu terlalu erat menggenggamnya. Sanghyun menuntunnya ke arah parkiran.

“Ya, Lepaskan. Jebal. Bagaimana kalau ada yang lihat,” pinta Jiyeon.

“Ahni. Tidak ada akan yang lihat. Orangtuamu sedang ke luar kota. Jadi sekarang aku yang bertanggung jawab menjagamu. Agar lebih aman, kau harus pulang bersamaku. Apa kau keberatan?” tegas Jiyeon.

Jiyeon menunduk, tak sanggup melihat mata Sanghyun yang menatapnya tajam.“Ti… Tidak,”

“Kalau begitu, Kkaja!”

Sanghyun menaiki motornya, dan memberikan sebuah helm.

Jiyeon menerimanya dan ikut duduk di atas motor tersebut.

“Sudah siap?”

“N-Ne,” sahut Jiyeon dan Sanghyun langsung menjalankan motornya keluar dari lingkungan sekolah.

***

“Sanghyun-sshi, Tolong berhenti di situ,” titah Jiyeon.

Sanghyun berhenti ke arah yang ditunjukkan Jiyeon. Namja itu membuka helmnya, dan melihat nama toko itu sekilas. NL’s Book Store.

“Kau mau membeli buku?” tanya Sanghyun.

“Tidak. Aku sedang ada urusan lain. Tunggu sebentar ya,” ucap Jiyeon dan berlalu masuk ke dalam toko.

Jiyeon POV

Aku masuk ke dalam toko, dan langsung pergi ke arah kasir, tempat dimana aku meminjam uang pada seorang pria tampan, kemarin. *Jiyeon genit xDD*

“Annyeong Haseyo,” sapaku.

Namja yang bernama Lee Chunji itu, sedikit kaget, namun sedetik kemudian ia langsung bersikap biasa.

“Oh, Annyeong.”

“Chunji-sshi. Aku mau membayar hutangku yang kemarin,” aku menyerahkan beberapa lembar uang kertas kepadanya.

“Ne. Gamsahamnida, Jiyeon-sshi.” ucapnya.

“Seharusnya aku yang berterima kasih. O, tapi… Darimana kau tahu namaku? Seingatku, aku belum memberi tahu namaku padamu.”

Namja itu hanya tersenyum misterius dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.“Punyamu?”

“Omo! Dompetku! Dimana kau mendapatkannya?”

“Kau menjatuhkannya. Maaf lancang, tapi aku mengetahui namamu dari situ.”

“Aah… Ne. Gwaenchanayo, Chunji-sshi.” ujar Jiyeon tersenyum.

Chunji terdiam. Sesaat, ia terpukau dengan senyuman Jiyeon, sampai yeoja itu menyadarkannya.

“Chunji-sshi?”

“Ne? O, aah apa kau mau membeli buku?” tanya Chunji cepat.

Jiyeon menggeleng.“Tidak untuk hari ini, Chunji-sshi. Aku pergi dulu ya. Annyeong.”

“Ne. Annyeong,”

Jiyeon sedikit membungkuk kepada Chunji sebelum keluar dari toko tersebut.

***

Sanghyun POV

Kulihat Jiyeon masuk ke dalam toko tersebut, dan langsung menuju kasir. Ia tersenyum dan sepertinya sangat akrab dengan namja penjaga kasir tersebut? Hey! Apa mereka punya hubungan khusus? Jiyeon saja tak pernah seperti itu padaku.

Jiyeon keluar dari toko tersebut masih dengan senyum yang mengembang. Tiba-tiba saja aku jadi merasa kesal.

“Temanmu?” tanyaku sinis.

“Aah, kenalan-ku. Kami baru saja berkenalan kemarin,” jawabnya seraya duduk di belakangku.

Mwo? Berkenalan kemarin? Tapi, kenapa bisa se-akrab itu? Jinjja! Gadis ini benar-benar membuatku gemas. Aku yakin dia juga pasti menyukaiku. Tapi, kenapa… ?? Aish, sudahlah!

Aku langsung menarik gas motorku kencang. Jiyeon refleks memelukku erat.

“Ya! Park Sanghyun!” teriaknya kencang.

Aku tak menghiraukannya. Aku kesal. Yang kuinginkan sekarang adalah kembali ke rumah dan merendam kepalaku di bongkahan es.

***

 Author POV

06.30 PM KST

Sanghyun keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia sudah cukup tenang sekarang. Kepalanya sudah agak dingin setelah berendam.

Ia berjalan ke arah meja belajar dan menemukan sebuah undangan di atasnya. Di saat yang bersamaan, Jiyeon masuk ke dalam kamar.

“Kau juga mendapatkannya?”

“Iya. Setiap tahun aku mendapatkannya.” sahut Jiyeon sambil menidurkan tubuhnya di ranjang.

“Kau akan pergi?”

“Tidak. Aku ingin tidur,” Jiyeon menenggelamkan kepalanya di atas bantal.

Sanghyun tersenyum tipis. Ia ikut tiduran di samping Jiyeon, dan memeluk pinggulnya sebelum yeoja itu memberontak.“Kalau begitu aku juga tidak akan pergi,”

“Omo! Sanghyun-sshi, apa yang…”

“Aku capek, Jiyeon-ah. Aku boleh kan tidur denganmu, sekali saja. Aku tidak akan macam-macam kok. Jebal…” pinta Sanghyun memelas.

Jiyeon tak bisa berkata apa-apa. Seperti tersihir oleh mata Sanghyun, yeoja itu kembali tidur namun menghadapkan wajahnya ke arah lain.

“Gomawo,” ucap Sanghyun sambil memejamkan matanya.

Jiyeon memang diam. Namun hatinya tak bisa diam. Seakan ada yang meletakkan kembang api di hatinya dan kembang api tersebut meledak menjadi bunga-bunga yang indah. Ia tersenyum. Ia sangat yakin kalau ia benar-benar mencintai pria itu sekarang. Ia ingin membuang rasa malu dan gugupnya, dan berkata kalau dia juga mencintai Sanghyun. Namun, entah kenapa mulutnya tak mau bekerja sama untuk itu.

Tiba-tiba saja ada yang melintas di kepalanya. Kalau memang ia tak bisa menjawab cinta Sanghyun dengan kata-kata, kenapa ia tak melakukannya dengan perbuatan saja?

Ia melirik ke arah jam dinding. Ternyata itu masih terlalu sore untuk tidur. Jiyeon otomatis langsung bangun, dan hal itu membangunkan Sanghyun yang masih setengah sadar.

“Sanghyun-sshi. Jangan tidur dulu. Kita pergi jalan-jalan. Bagaimana?”

“Jalan-jalan?”

***

-To Be Continued –

 

58 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s