Melted Chocolate [Sequel Blind]

Tittle: Melted Chocolate

Author: Nana Cho

Genre: Romance (default)

Rate: T

Cast:

  • Park Yongsoo
  • Cafe Girl
  • Lee Joyeon
  • Park Sajangnim

Disc: This plot is originally mine! Terus, karena Kangho juga uda keluar dari co-ed, dia juga eke hak milik! #plakk

A/n: ada yang masih inget ff Nna yang pernah di post disini, yang judulnya BLIND? Lhah ini dia sequel-nya. FF lama sebenernya, settingnya aja Natal (_ _’) Tapi, apalah arti sebuah setting? #halah

satu lagi, sequel ini bener-bener beda banget sama ff yang sebelumnya, makanya jangan pada kaget yakk kalo di ‘BLIND’ Nna agak nyeleneh pake bahasa yang lumayan bagus(?), di ff ini back to Nana style! Ya, bahasa ff yang ringan, dan gampang banget dicerna *emang makanan*

Well, happy reading!

[…]

The snow was fallen,

The chocolate was melted,

Is your heart melt and fall for me too?

Yeah, I know that the answer is not!

[…]

“Aku salut padamu. Bagaimana bisa seseorang menyukai orang yang bahkan tak pernah melihatnya?” Suara Joyeon membuyarkan lamunanku. Yeoja itu, menatapku intens. Bisa kulihat sorot matanya seperti mengasihaniku. Apakah aku terlihat seperti kucing di pinggir jalan?

“Kau tak bisa mengerti, kalau kau tak merasakannya sendiri Joyeon-ah. Sangat susah lepas darinya.”

“Aku tak mau merasakannya. Itu pasti sangat sakit. Iya ‘kan eonnie?”

“Jangan memanggilku ‘eonnie’!” Kusampirkan tasku di bahu, kemudian mulai berjalan keluar café.

Tidak. Aku tidak marah pada Joyeon. Hanya saja, kurasa apa yang dikatakan Joyeon itu benar, rasanya memang sakit ketika orang yang kita suka bahkan tak pernah melihat kita. Bahkan, sekarang kurasa aku akan mati karena rasa sakit ini. Tapi, beginilah kenyataannya. Aku tak bisa jika itu bukan Yongsoo-ssi.

“Annyeong uijangnim, latte lagi?” Lagi. Seperti biasa. Aku menyapanya, dan dia hanya menganggukkan kepalanya kecil menjawabku. Ya, ini sudah biasa. Ini lebih baik daripada tidak dijawab sama sekali.

Kumasuki pantry, bermaksud untuk membuatkan secangkir latte untuk pelangganku itu, ketika kudapati Park Sajangnim, pemilik café ini ada di dalam pantry. Mworago?

“Annyeong haseyo Sajangnim…” Sapa semua pelayan yang ada di dalam pantry serempak, seraya membungkukkan badan.

“Annyeong… bagaimana pekerjaan kalian? Lancar?” Tanya Park Sajangnim yang kami jawab dengan anggukan mantap.

“Baguslah, aku hanya ingin memberitahu kalian, bahwa kita akan mengeluarkan sebuah menu baru untuk café. Tapi, menu itu bukanlah kreasi dariku. Kalian yang akan membuat menu itu sendiri.” Eh, apa maksudnya?

“Irohke, masing-masing dari kalian akan menciptakan sebuah menu, dan menu itu akan dibagikan secara gratis pada para pengunjung selama satu minggu ini. Kemudian, masing-masing pengunjung akan memberikan pendapat dan nilai terhadap menu yang dimakannya. Bagi pelayan yang menunya paling banyak dipesan dan paling banyak memperoleh nilai, maka menu tersebut akan dihidangkan di café ini mulai Natal tahun ini. Selain itu, dia juga akan diangkat sebagai asistan koki. Eottohkhae? Ada yang berminat mengikuti kompetisi ini?”

Ini kompetisi yang menarik. Aku harus mengikutinya. Ya, kue coklatku pasti bisa menang.

Kuangkat tangan kananku, bersamaan dengan beberapa pelayan lain. Ternyata, banyak juga yang berminat mengikuti ini.

“Baiklah, kalian yang merasa mengikuti kompetisi ini, siapkan menu terbaik kalian. Menu itu akan mulai dihidangkan lusa. Jadi, bersiaplah.”

“Ne Sajangnim.” Jawab kami serempak. Aku pasti bisa.

Mulai hari ini, aku akan menghidangkan menu percobaanku untuk kompetisi itu. Tapi, tidak seperti peserta lain yang sudah sibuk mempersiapkan menu mereka dari pagi tadi. Aku terlihat sangat santai. Bahkan, aku baru saja mempersiapkan satu porsi kue coklat andalanku untuk kuhidangkan sore nanti. Ya, kalian benar. Aku ingin Yongsoo-ssi menjadi orang pertama yang memakan menuku ini.

“Kau belum mengeluarkan kuemu juga?” Kaget Joyeon ketika baru saja kuhidangkan sepotong kue spone coklat dengan lelehan coklat beku yang menutupnya ‘Sachertorte’.

“Ne, ini sudah jam empat. Pemesan latte sudah datang.” Kusinggingkan senyumku mantap. Entah bagaimana caranya nanti, yang pasti akan kupastikan Yongsoo-ssi akan memakan kue ini.

“Eh? Kau benar-benar menyukainya ya?”

“Ya, dengan segenap hatiku.” Lagi, senyumku mengembang begitu saja tanpa aba-aba.

Kubawa baki berisi latte, torte, serta lembaran kuisioner untuk menilai kue buatanku. Aku siap. Siap menerima penilaian, ataupun penolakan seperti biasanya.

“Annyeong Uijangnim, ini latte anda, dan ini torte buatanku sendiri. Kuharap Uijangnim menyuakinya, dan memilih ini sebagai menu spesial Natal nanti.” Kuletakkan latte dan torte itu di mejanya, tak lupa dengan lembar kuisioner yang kuletakkan di samping piring kue. Lengkap dengan senyum yang belum mau pergi dari bibirku. Senyum yang tak pernah dilihatnya.

Ditatapnya torte di mejanya sekilas, kemudian beralih menatapku. Heran. Itu yang kutangkap dari tatapan matanya.

“Tenang saja Uijangnim, aku tak mencampurkan apapun ke kue itu. Aku tak akan mencelakai orang yang kusuka.” Kurasakan pipiku memanas ketika mengatakan kalimat itu. Entah mendapat keberanian darimana sampai bibirku ini begitu lancar mengeluarkan kata-kata ‘Orang yang kusuka’.

Aku beruntung Yongsoo-ssi tak begitu banyak bereaksi. Dia hanya mengalihkan kembali pandangannya ke luar jendela, seraya menyesap latte-nya. Ya, sepertinya yang kudapat kali ini penolakan (lagi) seperti biasa.

TING.

Suara benturan garpu stainless steel dan piring keramik terdengar ketika baru saja aku bermaksud untuk melangkahkan kakiku kembali kedalam pantry. Meskipun sangat pelan, aku bisa mendengarnya dengan baik, dan aku yakin, itu berasal dari meja Yongsoo-ssi.

Segera kulemparkan pandanganku kearahnya, dan dapat kulihat namja itu tengah menyuapkan sesendok torte-ku ke dalam mulutnya. Dia memakan torte buatanku?! Jeongmal?! Kenapa ini, rasanya ada yang tengah meletup-letup di dalam dadaku!

“Gomawo Uijangnim. Jika kue ini terpilih aku akan memastikan anda adalah orang pertama yang memakannya.” Kubungkukkan badanku dalam. Senyumku makin lebar. Aku benar-benar senang.

Seperti biasa, dia hanya diam tanpa kata-kata. Ekspresinya juga tak berubah. Aku tak tahu, apakah kueku enak atau tidak. Yang kutahu, Yongsoo-ssi tengah mengisi lembar kuisioner itu sekarang. Ya, kuharap dia memilih kueku.

Kupandangi Standing Calendar di meja pantry dengan seksama. 24 Desember. Tak terasa, besok sudah Natal, dan besok akan diumumkan pemenang menu spesial Natal. Aigoo… aku tak sabar menunggunya!

“Kau yakin akan terpilih?” Tanya Joyeon yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingku. Café lumayan sepi hari ini. Mungkin semua orang tengah menyiapkan pesta Natal mereka. Setidaknya, ini membuat kami cukup santai.

“Limapuluh Persen.”

“Kurasa delapan puluh persen kau terpilih.” Joyeon yakin.

“Mwo?! Tak sehebat itu.” Kutepuk pelan pundak yeoja ceria itu. Terkadang, dia memang agak berlebihan.

“Atau, kurasa sembilan puluh persen. Lihat saja, dari 500 pengunjung satu minggu ini, dua ratus di antaranya memesan torte buatanmu. Padahal, masih ada empat menu spesial lain.” Ujarnya seraya menunjuk-nunjuk daftar pemesan menu spesial yang ditempel di tembok.

“Tapi, kita tak tahu berapa nilaiku.”

“Pasti tinggi! Apalagi, seseorang selalu memesan torte dan latte ketika jam empat sore.” Sontak kalimat Joyeon langsung mengubah pipiku menjadi kemerahan. Ya, Joyeon benar. Seseorang selalu memesan torte dan memberiku nilai setiap jam empat sore. Setidaknya, itu membuatku merasa lebih ‘terlihat’.

25 Desember. Hari ini, karena hari ini adalah Natal, maka café buka lebih siang, mulai jam sebelas siang. Tapi, kami yang mengikuti kompetisi menu spesial harus datang lebih awal, jam sepuluh tepat. Kami sudah harus berkumpul di café. Sedikit menyita waktu berkumpul kami memang. Tapi, bagaimana lagi, inilah resikonya.

“Selamat pagi semuanya.” Sapa Park Sajangnim ketika memasuki pantry – tempat kami berkumpul.

“Selamat pagi Sajangnim.” Balas kami kompak seraya membungkukkan badan kami.

“Kuharap acara ini tak begitu mengganggu acara Natal kalian ya.” Namja paruh baya itu tersenyum, seraya mengeluarkan secarik kertas dari dalam map yang sedari tadi dibawanya.

“Baiklah, sekarang akan kubacakan pemenang menu spesial Natal tahun ini. dengarkan baik-baik. Arata?”

Kami semua hanya bisa menganggukkan kepala seraya menahan nafas karena tegang. Semoga aku menang.

“Dengan jumlah pemesan duaratus tigapuluh lima orang, dengan nilai duaratus orang menyukai menu ini, termasuk tiga orang dari lima juri yang secara diam-diam datang kemari, dan tigapuluhlima orang tidak menyukai menu ini. Pemenangnya adalah… Sachertorte.” Mwo?! Torte milikku yang menang?! Omo…

“Chukhae.” Ujar Park Sajangnim seraya tersenyum dan menatap kearahku. Tuhan, seandainya saja yang tersenyum dan mengatakan itu adalah anaknya, bukan hanya Park Sajangnim.

“Ne Sajangnim, gomawo.”

Kurasakan satu persatu teman-temanku memelukku erat, lengkap dengan ucapan selamat mereka. Joyeon, tentu dialah orang pertama yang menubrukku dan berteriak riang tepat di samping telingaku. Tapi, entah mengapa, aku tak merasa begitu senang. Pikiranku terus melayang kepada satu orang. Apakah dia akan mengucapkan selamat padaku?

“Maaf  Uijangnim. Tapi, kami belum buka.” Kudengar Suara Joyeon dari arah pintu masuk ketika baru saja kuselesaikan pekerjaanku membersihkan meja yang selalu di tempati Yongsoo-ssi.

Kuarahkan pandanganku kearah pintu masuk, dan kudapati dia disana. Ya, ada Yongsoo-ssi disana! Bahkan ini belum genap jam sebelas. Ada angin apa yang membawanya datang kemari sepagi ini?

“Tapi, mejaku sudah selesai dibersihkan.” Ujarnya seraya melongok ke dalam café. Eh, ini pertama kali aku mendengarnya berbicara! Tapi, kenapa dia hanya berbicara pada Joyeon? Tidak padaku?

“Eh, baiklah silahkan masuk.” Akhirnya Joyeon membiarkan Yongsoo-ssi masuk ke dalam café. Membiarkan namja itu berjalan kearah tempat faforitnya, dimana masih ada aku yang tengah berdiri di samping tempat duduknya, terpaku memandang lurus kearahnya.

“Aku datang menagih janjimu.” Mwo?! Apakah ini nyata?! Yongsoo-ssi menghentikan langkahnya di depanku, dan berbicara padaku? Dia menatapku?!

“Eh, eung… janji?” Wajar ‘kan jika aku terbata?

“Menumu sudah terpilih ‘kan?”

Jadi? Jadi dia kemari sepagi ini untuk…

“Ne, akan segera kusiapkan Uijangnim!” Kuanggukkan kepalaku cepat, seraya berlari kecil menuju pantry.

Kau tahu? Ini benar-benar keajaiban Natal!

4 responses

    • gantung ya? mian (_ _’)
      ada sih sequel-nya yang trakhir abis ini,
      tapi pada mau baca ga? *tol2 lante*

      hehehe… gomawo, Nnajuga suka komen chingu, hehehe…
      ampi ke ff Nna yang lain ya ^^

  1. KYAAAK!!!! lumayan lah, paling nggak Kangho udah mau menyadari plus ngomong sama si Cafe Girl!!!!!🙂
    itu fotonya Kangho cakep banget sis!!!!! *maap yak Choi Sungmin dan Thunder, cuci mata dulu😛 *

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s