My Better Version 1 of 2

My Better Version

Tittle: My Better Version
Author: Nana Cho
Genre: Family, Romance, AU (Alternative Universe)
Rate: T
Cast:
•    Kim Myungsoo [Infinite’s L]
•    Woo Sangsoo (as Kim Sangsoo) [AA’s Woosang]
•    Jeon Jirae [OC]
•    And other cast
Disc: This plot is originally mine!

A/n: Disini, ceritanya AA’s Woosang sama Infinite’s L kembar yakk… kekeke~

[My Better Version]

“Sangsoo oppa!” Teriakan yeojadeul langsung menyambut kami berdua ketika baru saja kami melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah.
Annyeong.” Ujar namja disampingku seraya mengumbar senyumnya. Membuat seluruh yeojadeul itu berteriak lebih dan lebih nyaring lagi. Berisik.

Selalu seperti ini, kami berjalan berdua, berdampingan. Tapi, hanya Sangsoo hyung yang selalu dielu-elukan. Hanya dia satu-satunya namja yang bisa membuat begitu besar kehebohan di sekolah ini. Apa para yeojadeul itu tak melihatku? Kami kembar, seharusnya pesonaku tak kalah darinya.

“Myungsoo-ya, aku ke kelas dulu.”

“Oh! Nde hyung.” Kuanggukkan kepalaku menjawabnya, kemudian melanjutkan langkahku menuju kelas. Sekarang, aku sudah bebas dari morning crowd yang telah dibuat kakak kembarku sendiri. Sepi begini memang lebih baik. Aku tak tahu mengapa Sangsoo hyung bisa sangat betah dengan keributan yang selalu mengikutinya. Bukankah itu memusingkan?

“Myungie…” Seru seorang yeoja membuyarkan semua pikiranku tentang Sangsoo hyung.

Kutolehkan kepalaku kearahnya, dan ternyata… Jirae, yeoja ceria itu yang memanggilku. Kutunjukkan sebuah senyum kecil kearahnya, kemudian menghentikan langkahku. Menunggunya yang tengah berjalan kearahku.

“Haah… Untung aku tak telat.” Ujarnya seraya tersenyum lega. Senyum yang hangat, senyum yang kusuka.

“Berapa kali lagi kau harus ada di ruang konseling gara-gara hobi jelekmu itu?” Kakiku mulai melangkah menuju kelas, seirama dengan langkah kecil yeoja di sampingku. Nada bicaraku memang datar dan terkesan dingin. Tapi, sebenarnya ini tak sesuai dengan apa yang diperintahkan hatiku. Sungguh, hati dan otakku tak pernah kompak jika di dekat yeoja ini. Aku takut terlihat ‘konyol’ dimatanya.

“Hehehe… kali ini tidak lagi.”

“Kau yakin?”

“Ehm, mungkin sebesar ini.” Dirangkainya ibu jari dan telunjuk tangan kananya merangkai sebuah bentuk ‘c’ di depan mataku.

“Dasar kau.”

Kulangkahkan kakiku begitu saja memasuki sebuah ruangan dengan papan ‘III-A’ yang tergantung di atas pintu, meninggalkan Jirae berjalan sendiri di belakangku.

Ya, Myungie…”

“Jangan panggil aku dengan nama itu.” Kuletakkan tasku begitu saja dimeja, kemudian duduk di kursiku.

“Kau selalu meninggalkanku. Menyebalkan.”

SRAK.

Jirae sudah duduk di depanku sekarang. Bisa kurasakan seluruh siswa di kelas ini tengah memandang ke arah kami. Apakah tingkah kami seperti sepasang kekasih yang tengah bertengkar? Ash, kenapa aku sedikit berharap?

“Kau menyebalkan, Kim Myungsoo, menyebalkan.” Kicauan yeoja itu terus mengudara. Bahkan, kali ini dia menghadap kebelakang, menjulurkan lidahnya ke arahku. Aigoo, yeoja ini benar-benar seperti anak kecil.

Neon aegyoji anha. Jadi berhentilah bertingkah seperti anak kecil.” Kim Myungsoo! Tak bisakah otakmu itu bekerja sesuai dengan hatimu yang menganggapnya bahkan lebih dari sekedar ‘aegyo’?

“Ish… Kau benar-benar menyebalkan. Benar juga kalimat yang kulihat di koran kemarin, ‘sepasang orang kembar saling melengkapi.’”

“Apa hubungannya denganku?” Kuangkat sebelah alisku seraya mengambil alat tulis dari tasku. Mata kecil dengan manik hitam pekat itu masih menatapku. Aku tahu, kurasa aku hanya telalu gugup untuk membalas tatapannya.

“Tentu saja ada hubungannya. Lihat saja Sangsoo oppa, dia hangat, ramah, baik, dan yang pasti kyaaa… Sangsoo oppa memesona. Tak seperti kau, menyebalkan dan dingin. Kau ini warga negara Korea atau rakyat jelata kerajaan es?” Ini yang paling kubenci darinya. Tak bisakah dia – atau semua orang – berhenti membandingkanku dengan Sangsoo hyung? Terlebih, tak bisakah pipi tembam itu tak memerah ketika sebuah frase ‘Sangsoo oppa’ meluncur dari bibirnya? Ini lebih dari sekedar menyebalkan.

“Pergi saja ke kelas Sangsoo hyung. Jangan disini, karena yang disini Kim Myungsoo, bukan Kim Sangsoo.” Kupakai kacamata frameless milikku, kemudian mulai menekuri buku dihadapanku.

Yaa, kau marah Myungie?”

Bisa kurasakan sedikit kekhawatiran dari nada bicaranya. Biarlah, dia sendiri yang memulai masalahnya. Sekali-sekali yeoja ini harus belajar berpikir dua kali dengan apa yang diucapkannya.

“Myungie… Ehm, Kim Myungsoo…”

Yeoreobeun, kembali ke tempat duduk kalian.” Suara tegas Jung Seonsaengnim menggelegar mengisi ruangan. Membuat keadaan kelas yang semula agak ribut, menjadi sangat tenang dan rapi karena perintah guru Kimia kami itu. Ini sedikit menyelamatkanku.

Kim Sangsoo, dia adalah kakak kembarku. Meskipun bukan kembar identik. Tapi, status kami tetaplah anak kembar. Seperti yang dikatakan Jirae tadi, Sangsoo hyung mempunyai begitu banyak kelebihan dibanding diriku. Dia memunyai tubuh tinggi tegap, wajahnya juga tampan, meskipun kemampuan akademiknya setara dengan rata-rata.

Ada satu hal yang paling membuatku iri padanya. Sangsoo hyung memunyai kemampuan bersosialisasi yang sangat sangat baik. Atau, dia bisa dibilang genius untuk hal itu. Dia tak pernah malu terlihat ‘konyol’ ataupun melakukan hal yang menurutku memalukan. Senyum yang selalu ditunjukkannya pada setiap orang, atau sapaan hangatnya, bahkan sampai kejahilannya. Semua itu adalah sesuatu yang tak bisa kulakukan dengan baik. Mungkin itulah yang membuatnya sangat terkenal di kalangan yeoja.

Tak sepertiku, aku hanya terkenal di kalangan pengunjung perpustakaan dan anggota klub sains. Selebihnya? Para yeoja hanya mengenalku sebagai ‘saudara-kembar-Sangsoo-oppa-mereka’. Ya, aku memang seorang namja antisosial yang hanya bisa berteman dengan buku. Tapi, kurasa sekarang temanku bukan hanya buku.

Jirae, yeoja yang tahun lalu tiba-tiba memasuki kelas ‘A’ karena prestasi loncat kelasnya, berhasil membuatku ber-‘selingkuh’ dari buku eksak. Dia tak terlihat istimewa. Tapi, kurasa hanya dia yang bisa masuk kedalam kehidupanku selain keluargaku. Meskipun aku benar-benar membenci panggilan yang diberikannya padaku, ‘Myungie’. Benar-benar tak ilmiah.

“Myungie, lihat aku bawa banyak makanan hari ini. Kau pasti mau membantuku menghabiskannya, ‘kan?”
Sebuah kotak makan merah muda dengan corak permen dan es krim tergeletak begitu saja di mejaku. Mendahului kotak makanku yang bahkan belum keluar dari tasnya.

Kutatap yeoja yang bertanggung jawab atas keberadaan kotak makan itu tajam. Tapi, apa yang dilakukannya? Dia hanya tersenyum lebar dan hangat.

“Myungsoo-ya, apa tugasku ada di dalam tasmu?” Suara seorang namja merusak suasana tiba-tiba. Ash, mengapa dia harus datang di saat seperti ini?

“Biar kulihat sebentar.” Kuacak isi tasku dengan agak malas. Kebiasaan buruknya tak pernah bisa hilang; meninggalkan tugasnya di tasku.

“Sangsoo oppa,” Kudengar suara renyah itu agak tercekat ketika aku masih belum juga menemukan tugas Sangsoo hyung di tasku. Sial.

Nde? Ah, kau pasti Jirae, bukan?”
“Bagaimana bisa kau tahu? Apa aku begitu terkenal?” Sebahagia itukah?

“Selain terkenal, aku juga sering mendengar namamu dari adik kembarku ini. Iya, ‘kan Myungsoo-ya?” Eh, apa katanya tadi?

“Ini tugasmu. Pergilah.” Kuserahkan beberapa lembar kertas penuh coretan itu kedepan Sangsoo hyung. Mengusirnya secara halus.

“Ish… Bahkan kau dingin sekali pada hyung-mu sendiri. Yasudahlah, selamat makan Myungie~” Tangannya mengacak rambutku kasar, seraya memberikan penekanan pada kata ‘Myungie’ lengkap dengan logat centil akutnya.

Yaa hyung!” Percuma saja aku berteriak, kaki jenjangnya sudah mengambil langkah seribu keluar dari kelasku. Memalukan.

“Hei, apa benar yang dikatakan Sangsoo oppa tadi? Kau menceritakan tentangku padanya? Lalu, bagaimana reaksinya?” Berondong pertanyaan Jirae menyerangku ketika Sangsoo hyung sudah berhasil keluar dari kelas ini.

“Bisakah kau bicarakan hal lain selain Sangsoo oppa atau apalah itu? Lagipula, kami ini kembar. Kenapa kau selalu memanggil Sangsoo hyung dengan akhiran ‘oppa’ sementara aku selalu kau panggil dengan nama aneh itu?” Kalian tahu aku cukup iri dengan ini.

Mollaseo…” Kedua belah tangannya terangkat disamping badannya, lengkap dengan bahunya yang sudah naik dan kepalanya yang bergoyang kekiri kanan. Neon jeongmal aegyo Jirae-ya.

“Myungie, aku pulang dulu ya. Abeojie sudah menunggu diluar.” Ujar Jirae seraya membenarkan letak ransel di punggungnya.
Aku hanya bisa memandangnya sekilas, lalu menganggukkan kepalaku menjawabnya. Masih ada banyak bukuku yang berserakan di meja. “Annyeong Myungie…”

Annyeong.” Sebentar kemudian, bisa kudengar derap kaki kecilnya menjauh dari tempat dudukku.

Aku tak tahu, akhir-akhir ini kurasa ada yang semakin aneh dengan diriku. Jantungku sering berdetak tak terkendali ketika di dekat Jirae, semua yang kuceritakan pada Sangsoo hyung juga tentangnya. Seolah hidupku hanya berputar di sekitarnya. Apa aku benar-benar menyukainya?

“Myungsoo-ya, kkaja pulang.” Suara Sangsoo hyung mengagetkanku. Sejak kapan dia berdiri disampingku?

“Ah, ne kkaja.” Kupakai tas punggungku, kemudian beranjak mengikuti Sangsoo hyung yang sudah berjalan keluar kelas.

“Kau punya hobi baru akhir-akhir ini. Ne, annyeong…” Ujar Sangsoo hyung seraya menjawab sapaan beberapa yeoja yang kami temui di jalan.

Mwo?”
“Melamun. Kau tahu ‘kan melamun itu bukan sesuatu yang baik Myungsoo-ya.” Eh, bagaimana dia bisa tahu aku sering melamun akhir-akhir ini?

Arata.”

“Lalu, kenapa kau melakukan kegiatan yang tak mendukung kerja otakmu? Aigoo… aku tak bisa bayangkan, siapa yang akan membantuku belajar kalau kau tak pintar lagi?”

Kutatap hyung-ku itu skeptis. Dia benar-benar berlebihan. Sejak kapan melamun bisa membuat seseorang bodoh? Konsentrasiku masih baik. “Ya, kau berkata seolah otakmu itu bodoh tingkat dewa.”

“Kurang ajar kau Myungie…”

BUK.

Tasnya mendarat indah dikepalaku. Kemudian, sudah kulihat Sangsoo hyung sudah berlari menjauhiku, menuju gerbang sekolah. Sial!

Yaa! Hyung! Kau ingin membuatku bodoh hah?!” Kupacu langkah kakiku menyusul Sangsoo hyung secepat mungkin. Aku harus bisa membalasnya!

Yaa, kau sudah dengar tentang ini?” Ujar Sangsoo hyung seraya meletakkan sebuah brosur diatas buku yang tengah kubaca. Menyebalkan.

Yaa Jinjja!” Kusingkirkan brosur itu, kemudian mulai melanjutkan membacaku. Aku benar-benar tak suka diganggu.

“Baca dulu sebentar, perhatikan hyung-mu ini.”

Mwo?!” Kuangkat kepalaku, menatapnya malas. Sangat malas.

“Lihat ini. ‘Angoojunghwa’ mini showcase!” Kucermati brosur di tangan Sangsoo hyung itu. Jinjja?! ‘Angoojunghwa’ akan show! Tapi, kami ini siswa kelas III.

“Lalu? Kau pikir masih ada waktu bersantai untuk menonton show ‘Angoojunghwa’? Kau lupa akan Ujian Akhir?”

Aniya. Tapi, tak ada salahnya ‘kan kita bersenang-senang sedikit. Lagipula, kita bisa datang ke show ini gratis. Tanpa membeli tiket. Eotte?”
“Gratis? Kau pikir Abeojie pemilik E.O?” Kuputar bola mataku, kemudian berlanjut menekuri buku yang ada di depanku. Meskipun sebenarnya, aku ingin sekali datang ke show itu, dan melihat penampilan mereka.

Yaa. Kau ini terlalu serius Myungsoo-ya! Bersenang-senanglah sekali-kali. Lagipula, ‘Angoojunghwa’ akan mengadakan show itu di cafe temanku. Jadi, kita bisa datang gratis.”

“Temanmu?” Kuangkat kepalaku reflek kali ini, kemudian menatap Sangsoo hyung heran. “Sejak kapan kau punya teman pemilik café?”

“Tak penting. Bagaimana? Kau mau ikut denganku?”

“Ya, kurasa tak ada salahnya mencoba.” Aku menyerah, lebih tepatnya pura-pura menyerah. Sudah kubilang aku juga ingin melihat penampilan mereka ‘kan, dan kali ini keinginanku yang mengalahkan otakku.

Eotte? Kau sudah siap?” Tanya Sangsoo hyung yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangku.

“Hmm sudah. Kkaja.”

“Semangat sekali kau.”

“Semangatmu itu lebih meledak-ledak hyung.”

“Hehehe…” Dirangkulnya pundakku, kemudian kami berjalan beriringan keluar kamarku. Malam ini, kukorbankan tiga jam waktu belajarku untuk ‘Angoojunghwa’. Semoga saja ini tak akan membuahkan penyesalan.

“Myungsoo-ya? Kau ikut hyung-mu?” Tanya Eommonim heran ketika kami berdua berjalan dengan riang melewati ruang tengah. Tempat Eommonim dan Abeojie menonton TV.

“Ehm, nde Eommonim.”

“Sudahlah, biarkan dia sekali-kali bersenang-senang seperti hyung-nya.” Gomawo sudah membelaku Abeojie

Geurhae, kalian jangan pulang terlalu malam. Sangsoo, jaga adikmu baik-baik.”

“Ayee!” Siku lengannya langsung membentuk sudut 45o dengan ujuk telapak tangan yang menyentuh alisnya.

“Boleh kami pinjam mobil Abeojie?” Eh, Sangsoo hyung mulai merajuk.

Ige.” Jawab Abeojie singkat seraya melempar kunci mobil yang langsung ditangkap dengan cekatan oleh Sangsoo hyung.

“Hup! Gamshahamnida Kim Sajangnim…”

Gamshahamnida Kim Sajangnim!” Kuikuti kalimat Sangsoo hyung, seraya membungkukkan badan bersamanya. Ini sudah menjadi kebiasaan kami ketika kami diberikan apa yang kami minta.

Ne, cheonmaneyeo.”

“Jangan pulang terlalu malam!” Masih bisa kudengar seruan Eommonim ketika kami berdua hampir mencapai pintu keluar.

Ne Eommonim!” Seru kami bersamaan, kemudian memasuki mobil setelah sempat melakukan sebuah high five. Ini pasti akan menyenangkan.

Alunan sebuah piano menyambut kami ketika kami memasuki cafe. Belum terlalu ramai untungnya, jadi kami bisa memilih tempat duduk terbaik untuk menikmati penampilan band favorit kami itu.

“Sangsoo-ya,” Seru seorang namja seraya mendekati kami.

“Oh! Annyeong hyung.” Mereka melakukan high five, kemudian berpelukan sekilas. Apakah ini teman yang Sangsoo hyung bilang pemilik café?

“Hei, kukira dia yang bernama Sangsoo.” Namja itu menunjukku dengan ekspresi heran yang sudah tercetak di wajahnya. Sementara, aku hanya tersenyum menanggapinya. Ya, beberapa orang memang terkadang susah membedakan kami.
Yaa! Kau mengejekku? Sudah jelas wajahnya lebih pintar dariku hyung.”

“Ya, harus kuakui untuk yang satu itu. Hahaha…”

Tawa mereka berdua sudah menguar. Sementara, aku hanya bisa tersenyum datar melihat tingkah mereka. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan sebenarnya.

“Kalian duduk saja dulu, akan kusuruh pelayan ke meja kalian.”

Ne Hyung, gomapta. Kkaja Myungsoo-ya.”

Kuanggukkan kepalaku singkat kemudian mengikuti Sangsoo hyung yang sudah melangkah menuju salah satu meja di dekat panggung.

“Bersenang-senanglah!” Seru namja itu kemudian.

“Pasti!”

“Duduklah, jangan terlalu kaku.” Ujar Sangsoo hyung seraya duduk di salah satu kursi.

“Aku hanya tak tahu apa yang harus kulakukan. Kau tahu aku tak pernah datang ke acara semacam ini.”

“Yang perlu kau lakukan hanyalah menikmati acara ini. Arata?”

Kuanggukkan kepalaku mengiyakan nasehat hyung-ku itu. Mungkin dengan mengikuti apa yang dikatakannya, aku akan bisa sedikit bersosialisasi.

Yaa, sepertinya aku mengenal yeoja itu?” Tunjuk Sangsoo hyung dengan tatapan yang tak lepas dari satu titik. Kuikuti tatapan matanya, dan benar saja. Yang membuatnya tak mengalihkan tatapannya sedikitpun adalah seorang yeoja.

Yeoja itu tengah duduk sendiri di salah satu meja, memainkan orange juice di depannya, sambil sesekali menganggukkan kepalanya, mengikuti alunan piano yang masih terdengar. Cantik. Sangat cantik. Aku sepertinya mengenali wajah itu. Tapi, aku tak begitu yakin.

“Bukankah kau selalu mengaku mengenal semua yeoja?”

Aniya, kau tak mengenalinya? Bukankah dia Jirae? Yeoja yang memanggilmu ‘Myungie’.” Mata Sangsoo hyung belum bisa lepas dari yeoja itu. Entah, apakah karena rasa penasarannya, atau karena yeoja-yang-dia-sangka-Jirae itu benar-benar lebih dari sekedar menarik.

“Jangan mengada-ada. Jirae tak secantik itu, hyung.” Kualihkan pandanganku ke arah panggung. Sudah ada dua orang host disana. Sepertinya ‘Angoojunghwa’ akan segera tampil.

“Iish… Biar kubuktikan.”

GREK.

Sangsoo hyung bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menuju yeoja itu. Aku hanya bisa diam, memperhatikan Hyung-ku yang sekarang sudah ada di dekat yeoja itu.

Mereka membicarakan sesuatu, aku tak bisa mendengarnya. Tapi, dari apa yang kulihat, sepertinya mereka saling mengenal. Yeoja itu membulatkan mata kecilnya, kemudian mengalihkan pandangannya kearahku, melambaikan tangannya seraya tersenyum. Senyum itu, dia benar Jirae. Kubalas senyumnya, seraya melambaikan tanganku juga. Aku tak tertarik bergabung dengan mereka berdua. Maka, aku hanya duduk disini, dan mengalihkan pandanganku kembali ke panggung. Bukan karena aku cemburu, tidak. Aku tak peduli dengan hubungan mereka. Bukankah aku seorang penyendiri yang hebat?

Yaa, kenapa semalam kau tak ikut bergabung denganku dan Sangsoo oppa? Kau tahu? Kami bercerita banyaaakkk…” Celoteh Jirae seraya meletakkan tasnya di tempat duduk di sampingku.

Kutatap yeoja itu datar. Sejak kapan dia duduk di sampingku? Setahuku dia terbiasa duduk di depanku. “Haengbokhaji eoh?” Kualihkan lagi pandanganku kearah buku sejarah di depanku. Setidaknya, aku harus membaca materi yang akan kupelajari nanti.

Ne. Jeongmal haengbokhal goya.” Semangat sekali dia, sesenang itukah?

Tak kutanggapi ocehannya. Pandanganku terus mengarah ke buku sejarah yang tengah membuka halaman tentang Revolusi Industri. Tapi, entah mengapa pikiranku benar-benar tak fokus. Aasssh, kenapa bayangan mereka yang tengah bercanda semalam terus terbayang di kepalaku? Aku cemburu? Yang benar saja, jangan bercanda!

“Myungie, Sangsoo oppa benar-benar menyenangkan. Pantas saja temannya banyak sekali. Dia bisa menanggapi apapun yang kukatakan. Padahal, kami baru pertama kali mengobrol panjang lebar semalam. Tapi, rasanya seperti sudah lamaaa sekali aku mengenal hyung-mu itu. Dia benar-benar talk active. Dia juga –”

“Myungsoo-ssi.” Suara lembut seorang yeoja lain memotong kalimat Jirae. Membuat kami berdua mengalihkan pandangan kami kearah yeoja yang tengah berdiri di samping mejaku.
“Saera-ssi? Mworago?”

Igo, kumpulan makalah sains yang kau minta kemarin, dan ini,” Yeoja berkacamata itu mengelungkan file-case dan sebuah kotak kecil kearahku. Kotak kecil berwarna putih dengan pita merah yang manis.

“Ini, sedikit biskuit yang kubuat. Untukmu.” Lanjutnya dengan bibir mengembang. Senyumnya manis juga.
Gomapta.” Sebentar kemudian, benda yang tadi terulur di depan tubuhku itu sudah berpindah ke mejaku. Kubalas senyumnya, dan bisa kulihat semburat kemerahan tersirat di pipinya. Waeyo?

Cheonmaneyeo. Aku, aku pergi dulu ke kelasku. Annyeong,”

“Annyeong.” Banyak juga makalah yang harus kubaca, sepertinya aku harus lembur hari ini.

“Kenapa Saera bisa begitu menyukaimu? Apa kacamatanya itu sudah menutup pesona namja lain?” Suara renyah Jirae terdengar. Membuatku mengalihkan pandangan dari makalah di depanku kearahnya. Kenapa dia terlihat begitu sebal?
Waegeurae?”

Haengbokhaji eoh?” Sepertinya yeoja di sampingku ini benar-benar kesal. Bahkan mata kecilnya menatapku tajam. Aneh.

“Aku bertanya padamu. Bukannya menjawab, malah memberiku pertanyaan lagi.” Wajah sebalnya benar-benar tak enak dipandang. Lebih baik aku membaca makalah-makalah sains.

“Kau itu dingin, dingin sekali. Menyebalkan. Lihat, kau tak menatap mata Saera ketika menjawab salamnya. Tapi, malah sibuk dengan makalah-makalah itu. Aku yakin, ini bukan pertama kali kau memperlakukan Saera begini.” Hei hei hei… Kalimatnya terdengar menggebu-gebu. Kuputar bola mataku kesal, lalu menatapnya malas.

“Lalu, kenapa harus kau yang sebal? Bahkan Saera tak pernah mengajukan protes.”

“Tentu saja aku sebal. Dia memberimu kue, bertingkah manis, dengan ekspresi yang jelas-jelas menginginkan balasan senyum darimu. Iissh… Seharusnya dia tahu, yang bisa masuk ke dalam hidupmu selain buku hanya aku.”

Mwo?!”

Mata kecilnya membulat sempurna. Dua tangannya sudah tersilang, menutup mulutnya yang sepertinya sudah mengucakan sebuah kalimat tanpa seizin otaknya. Tapi, aku sudah mendengar semuanya. Terutama, kalimat terakhir, ‘Seharusnya dia tahu, yang bisa masuk ke dalam hidupmu selain buku hanya aku.’ Apa maksud kalimat itu?

-See Ya Next Chap (っ ̄³ ̄)っ ~♡ –

8 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s