(FF Chapter) Harfie

Title : Harfie

Author : Nindy & Nadya ^&^

Cast : Kwan Nara, Nam Ah Ran, Kwon Nara, others

Rating : G

Genre : Fantasy, Friendship, dsb.

Length / Type / Word Count / Page Number : Chapter / 2,107 words / 9 Page (Ms. Word) (Pendek banget xD)

NB & PS : FF duet (?) pertama yang kami bikin ^^. Ini idenya dari film Momentum, tapi secara keseluruhan beda kok ^^. Hehe… Oh iya, curcol dikit, ya. Kok aku ngerasa semakin kebawah, ni ff semakin kayak sinetron, sih ? kkk~. Kehabisan ide, soalnya. Lagian di ff ini gaada romance-nya, jadinya bingung mau digimanain ^^v. Yah, kami harap readers tetep RCL, deh, yah ? Like juga gapapa, deh. Asalkan jangan di-read aja… Enjoy, this ! Oh iya, buat pecinta FF Romance, miaann kayaknya di FF ini, romance-nya nyaris gaada #plak. Yah, nanti kami usahain buat bikin romance scene, deh. Hehe… Paii (ps : mian, untuk part 1, artisnya gaada -_-. part 2 ada, kok ;)).

***

Siapa sangka, di bumi ini, ada manusia yang memiliki kekuatan supranatural –dapat mematikan orang lain hanya dengan menggerakkan 1 jari dan menatap korbannya-. Kekuatan itu disebut “Dieyfinger” (re : Daifinje:) dan orang yang memiliki kekuatan Dieyfinger disebut “Harfie” (re : Herfi). Konon, Harfie memiliki kelebihan lain, yaitu hidup abadi hingga 1000 tahun. Mereka tidak akan mati terbunuh ataupun dibunuh –kecuali- jika Harfie yang membunuh Harfie, maka Harfie bisa terbunuh. Harfie juga tidak akan terluka. Namun, Harfie memiliki satu kelemahan, tidak bisa melihat darah. Setelah di tes, mata Harfie ternyata sensitive terhadap warna merah yang berbau amis, karena itu (darah) adalah symbol kematian Harfie. Menurut ilmuwan dari Amerika, Harfie hanya ada 20 orang di muka bumi ini. Berikut adalah ciri-ciri Harfie berdasarkan Dr. Jung dari Korea Selatan :

  • Memiliki fisik yang menawan dan nyaris sempurna
  • Hanya berjenis kelamin perempuan
    • Matanya berwarna tidak lazim –kuning- dan sekilas, terlihat seperti mata kucing

Normal PoV

PLAKK !

Sebuah tamparan hangat mendarat di pipi mulus Ah Ran. Gadis itu tetap diam sambil memegang pipinya.

“Apa maumu ?” Tanya Ah Ran dingin.

“Kau mencuri kalung mutiara-ku !” Pekik gadis itu.

“Tidak,” sergah Ah Ran, tanpa ekspresi.

“Lalu ? Siapa yang mencurinya ?! Hanya kau yang berada di kelas waktu itu !” Elak gadis itu lagi.

“Pergi,” perintah Ah Ran.

“Tidak akan, sebelum kau mengembalikan kalungku !”

“Kalau begitu, jangan salahkan aku.”

Ah Ra menatap gadis itu tajam. Gadis itu balas menatap Ah Ran. Ah Ran tersenyum sinis. Lalu, dengan sekali gerakan cepat, gadis itu sudah tergeletak di tanah –tidak bernyawa-. Ah Ran memandang korbannya dengan perasaan tidak bersalah, lalu pergi meninggalkan gadis itu sendirian.

“Kau…” Langkah Ah Ran terhenti ketika mendengar namanya dipanggil. “Aku… melihatnya. Gerakan jarimu. Itu memang hanya sekilas dan terjadi begitu cepat, namun aku melihatnya. Kau yang menyebabkan dia mati. Betul, ‘kan ?” Tanya yeoja itu To The Point.

Ah Ran menatap yeoja itu datar. “Ya.”

Yeoja itu menutup mulutnya. “Kau… Harfie ?” Tanya yeoja itu. Ah Ran mengangguk.

“Aku… juga Harfie. Namaku Kwan Nara,” Nara mengulurkan tangannya.

Ah Ran hanya menatap Nara tanpa ada niat untuk menyambut uluran tangan gadis itu.

“Ah, aku mengerti. Kau tidak mudah berteman, ‘kan ^^ ?” Nara tersenyum lebar.

Ah Ran menatap Nara dengan dingin.

‘Gawat! Sepertinya dia marah padaku. Bisa mati aku! >.<,’ pikir Nara dalam hati.

“Ah, hehehe… maafkan aku. Aku hanya bercanda. Peace… ^^v,” seru Nara dengan cepat. Takut kalau-kalau Ah Ran akan membunuhnya.

Ah Ran tidak menjawab. Dia langsung pergi meninggalkan Nara dan korban yang telah dibunuhnya tadi. Nara hanya mendengus kesal karena tidak dihiraukan.

Kwan Nara’s PoV

-Di rumah-

Aku bersembunyi di balik selimut tebalku, asyik bermain dengan laptopku.

“Harfie terlahir hanya 20 orang di dunia ini. 3 di Korea Selatan, 2 di Jepang, 3 di China, 5 di Amerika, 2 di Indonesia, 3 di Arab, dan 2 di India.

Konon, Harfie terlahir karena sebuah “tugas” dari Dewata. Karena itu, hidup Harfie diberkahi. Para Harfie dominan bersikap dingin, tegas, keras kepala, sombong, dan manja.

Harfie dibagi menjadi 2 golongan. Golongan hitam dan golongan putih. Golongan hitam atau Black Harfie (sering disingkat Blacie) adalah Harfie yang menggunakan kekuatannya (Dieyfinger) sesuka hati atau bisa dibilang jahat. Golongan putih atau biasa disebut White Harfie (Whifie) adalah Harfie yang tidak suka menggunakan kekuatannya. Mereka cenderung lebih terlihat seperti manusia biasa karena sangat jarang menggunakan kekuatan mereka kecuali di hal-hal yang penting. Sifat Whifie biasanya ramah, baik, dan mudah bergaul dengan manusia biasa. Namun sebaliknya, Blacie bersifat dingin, jahat dan anti social.

Perbedaan Blacie dengan Whifie juga bisa dilihat dengan tanda di punggung mereka. Blacie memiliki tanda bergambar sepasang sayap kecil berwarna hitam. Sedangkan, Whifie memiliki tanda sepasang sayap kecil berwarna putih. Tanda-tanda itu akan bersinar dengan sendirinya saat mereka sedang menggunakan kekuatan mereka.

Selain itu, wanita yang melahirkan Harfie, tidak akan bisa hamil lagi. Harfie adalah anak tunggal.”

“Huft…” aku menghela nafas panjang.

Sedari tadi aku sedang mencari info tentang Harfie. Yup! Sebenarnya aku juga seorang Harfie, golongan putih. Aku sangat penasaran dengan Harfie yang baru kutemui tadi pagi. Sepertinya dia adalah Harfie golongan hitam. Terlihat dari sikapnya yang dingin.

Aku menuliskan “Profile Harfie-harfie di seluruh dunia” di Google. Berharap ada profile yeoja misterius itu. Yah… semoga saja.

-Beberapa saat kemudian-

“Yah! Kenapa tidak ada sih?! Payah! Google payah!!!” gerutuku sambil memukul-mukul bantal yang ada dihadapanku.

“Nara! Ada apa? Kenapa teriak-teriak?” Tanya eomma yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Aku reflex menutup layar laptopku.

“Ah, ani. Tidak apa-apa eomma. Nan gwenchana,” jawabku sambil semringah.

“Kalau tidak apa-apa, kenapa teriak di siang bolong begini?” Tanya eomma lagi. Banyak Tanya sekali sih…. -_-“

“Eh, ta…tadi ada kecoak yang lewat. Jadi aku berteriak. Hehehe…” jawabku sambil berusaha menutupi kegugupanku.

“Oh… ya sudah. Daripada teriak-teriak, lebih baik kau bantu ibu belikan roti dan keju di mini mart!” Kata eomma. Aku mengangguk lemas dan segera bangkit dari tempat tidurku.

-Seoul Mini Market-

Setelah selesai membeli susu dan keju, aku berniat pulang ke rumah tapi ada seseorang yang menarik perhatianku. Dan itu bukan namja, melainkan… Harfie! Dia adalah Harfie yang tadi pagi kutemui!

Aku segera memanggilnya.

“Hey! Kau yang berbaju hitam! Tunggu!” seruku.

Dia menoleh!

“Aku?” tanyanya.

“Nae! Tunggu, jangan pergi dulu!” seruku lagi. Aku segera menghampirinya.

“Hhh… kau lagi -_-,” katanya dengan nada dingin lalu berjalan meninggalkanku.

“Hey! Tunggu! Siapa namamu?” tanyaku sedikit berteriak. Tapi dia tidak menghiraukanku. Cih, aku diacuhkan lagi!

“Hey! Aku Tanya siapa namamu?!” Seruku sambil menarik tanganya. Dia menoleh dan menatapku dingin.

“Hehehe…” aku tertawa garing. Salah-salah, aku bisa dibunuh -_-.

“Ah Ran. Nam Ah Ran. Puas?” Jawabnya sambil balik bertanya.

“Cih, aku, ‘kan hanya bertanya. Jadi, kau juga seorang Harfie? Golongan apa?” Tanyaku basa-basi.

“Hitam, jadi berhati-hatilah,” jawabnya sinis.

“Kau tau ya, kalau aku golongan putih?” Tanyaku heran.

“Kelihatan,” jawab Ah Ran sinis. “Dan apa urusanmu sudah selesai ? Aku mau pergi.” Ah Ran menepis tanganku yang sedari tadi masih memegang bajunya. Ia langsung pergi dari hadapanku.

“Ya ! Tapi, kau ingat namaku, ‘kan ? Nara, Kwan Nara ! KWAN-NARA ! ‘Kwan’ ditambah ‘Nara’ ! ‘Kwan’ to the ‘Nara’ ! KWAN NARA ! Namaku Kwan Nara. Nara Kwan itu aku ! Aku itu Kwan Nara ! Ingat-ingat, ya !” Pekikku. Ia tidak mengacuhkanku.

“Huufftt…” Aku menghela nafas sekali lagi. Blacie itu susah bergaul, ya -_-?

Ah Ran’s PoV

Anak –ralat- Harfie tadi benar-benar merepotkan. Apa Whifie memang selalu ingin tau ? Aku tidak mengerti jalan pikiran mereka !

“Ah Ran-ssi,” panggil seseorang. Aku menoleh. “Lagi-lagi, anak yang bermasalah denganmu mati secara misterius.”

“Hm…”

“Lalu, apa kau tau siapa pembunuhnya ?” Tanya yeoja itu takut-takut.

Aku mendekat ke arah yeoja itu. Yeoja itu mundur beberapa langkah. “Apa kau bermaksud menuduhku, setelah memfitnahku ?”

“A… Aku…” Dia gelagapan. Aku tersenyum sinis.

“Aku tau. Kalung mutiara itu ada di tanganmu.”

Gadis itu terhenyak. “Kau… ?”

“Well, wajahmu memang cantik, tapi tidak dengan hatimu ! Nappeun yeoja… baiknya, mati saja.”

Lalu, kejadian beberapa jam yang lalu terulang. Sekali lagi, dengan 1 gerakan cepat, gadis itu langsung terduduk dan mati seketika. Lagi-lagi, aku hanya menatap korbanku dengan datar, tanpa ada rasa bersalah. Karena menurutku, korbanku itu pantas untuk mati. Mereka duluan yang memulai masalah dan menyakitiku. Aku… tidak bersalah.

PROK ! PROK ! PROK !

Suara tepuk-tangan terdengar. Aku menoleh ke asal suara itu.

“Kau pantas mendapatkan julukan “Pembunuh Berdarah Dingin”, Nam Ah Ran.”

Kwon Nara.

“Katakan, apa maumu ?” Tanyaku dingin.

“Dunia, Uang, dan Keabadian,” jawabnya sambil tersenyum misterius.

Cih, aku paling benci melihat wajah yeoja ini.

“Pergilah, sebelum aku berbuat sesuatu padamu,” sinisku.

“Aku akan terlebih dahulu membunuhmu, nona Nam,” jawabnya enteng.

“Aku malas berurusan denganmu, jadi sebaiknya, kau tidak usah mendekatiku lagi. Aku muak melihatmu,” kataku sadis.

“Bukan karena kau takut, nona Nam ?” Godanya.

“Apa yang perlu kutakuti dan berhentilah memanggilku seperti itu !” Kataku dingin.

“Ck. Kau ini yeoja atau namja ? Kenapa kau dingin sekali pada semua orang ?” Kesalnya.

Aku menatapnya datar. “2 hal. Kau gila dan menyebalkan.”

“Tsk. Yasudahlah. Sampaikan salamku pada Tuan dan Nyonya Nam,” katanya dan akhirnya berlalu dari hadapanku.

Kwon Nara (well, aku tidak mengatakan bahwa yeoja sinting ini adalah keluargaku). Yeoja ini Harfie, Whifie. Namun… Ia jahat. Aku terkadang heran, dia ini Whifie atau Blacie. Nara tidak menggunakan Dieyfinger sesukanya, tetapi ia jahat. Dia tidak membenci manusia dan ramah pada mereka, namun ia menginginkan nyawa mereka. Nara punya symbol putih, tapi hatinya sepertinya hitam. Kalau belum mengenal sifat aslinya, rasanya sulit untuk percaya bahwa dia adalah Whifie Aku sendiri tidak mengerti, golongan apa Harfie satu ini. Dan, ia berbeda dengan Kwan Nara yang kutemui di MM tadi. Sangat beda.

Kwan Nara’s PoV

Aku memasuki rumahku.

“Eomma, ini pesananmu,” aku menaruh kantung belanjaanku di meja Eomma.

“Ne. Gomawoyo, Dear,” kata Eomma. Aku langsung berlari ke kamarku.

“Ah, Nara-ya !” Panggil Eomma-ku.

“Ne, Eomma ?”

“Emh… Eomma ingin berbicara padamu,” kata Eomma.

“Oh, ne, Eomma,” aku duduk di samping Eomma. “Wae geurejji ?”

“Apa Nara… pernah bertemu Harfie ?”

DEG !

“Anisseo, Eomma. W… Wae ?” Tanyaku balik.

‘Eomma, aku Harfie… Andaikan Eomma tau itu.’

“Emh… Eomma melihat info tentang Harfie di laptopmu,” jawab eomma.

‘Hah?! Ba…bagaimana ini?! Jangan sampai eomma tau kalau aku adalah Harfie!’

“Ah, Jinjja ? Aku…”

“Nara-ya, jawab Eomma. Kau terobsesi dengan Harfie ?” Eomma menatap mataku dalam. Tolong eomma, jangan menatapku seperti itu. Aku bisa membunuhmu ! Aku memalingkan wajahku.

“Ah, ani, eomma. Kenapa eomma serius begini, sih ? Aku hanya penasaran, kok,” jawabku.

“…” Eomma terdiam. “Nara-ya, dengar, ya. Appa-mu mati karena Harfie. Eomma tidak mau kau mati karena Harfie, Nara-ya. Jadi, tolong, jangan lagi berurusan dengan Harfie.”

“… Eomma tidak pernah cerita kalau Appa mati karena Harfie ?” Tanyaku.

“Eomma hanya menunggu waktu yang tepat. Sudahlah, Nara-ya. Itu sudah berlalu. Sekarang, kau pikirkan dirimu sendiri. Jika jawabanmu itu benar, kau tidak berhubungan dengan Harfie, kuharap kau berkata sejujurnya. Jangan mengecewakan Eomma, Nara-ya,” Eomma mengelus rambutku sekilas dan kembali menuju dapur.

“Ne… Eomma,” jawabku lemas dan bergegas ke kamarku. Mendadak, aku menjadi pusing -_-.

Author PoV

“Nara-ya, jangan nakal. Eomma sedang belanja sebentar,” seorang lelaki berpostur tegap sibuk menenangkan anak gadisnya yang baru berumur 3 tahun itu. Gadis kecil itu menangis meraung-raung.

“Hueee… Aku mau ikut Eomma, Appa !” Pekik gadis itu –Little Nara-.

“Nara-ya, eomma hanya sebentar. Kau jangan nangis, ya,” lelaki itu, Tuan Kwan, menepuk-nepuk lembut punggung Little Nara.

“Tapi, Eomma tadi mengajakku, Appa !” Little Nara tetap menangis histeris.

“Nara-ya. Appa sedang mengerjakan tugas dari kantor, jadi tolong diamlah,” Tuan Kwan mulai marah.

“Huweee !! Eommaa !” Bukannya diam karena dibentak, Little Nara malah semakin mengeraskan volume tangisannya.

PAK !

Karena sudah tidak sabar lagi, Tuan Kwan memukul Little Nara.

“…”
Hening. Tidak ada suara.

Dan tanpa Little Nara sadari, ia mulai menatap mata Tuan Kwan dan…

FLASH !

Tuan Kwan sudah tergeletak di lantai rumahnya –Tidak bernyawa-.

DEG !

Nara terbangun dari mimpinya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh Nara.

“Mimpi… Apa tadi itu ?” Nara mengatur nafasnya. Ia memejamkan matanya sejenak, mencoba me-relax-kan pikirannya.

Ia benar-benar tidak mengerti arti dari mimpi aneh-nya itu.

“Nara-ya !” Suara Nyonya Kwan membuyarkan lamunan Nara tentang mimpinya.

“Ah, ne, eomma !” Nara membuka pintu kamarnya dan mendapati sosok eomma-nya yang menatapnya khawatir.

“Astaga, lihatlah dirimu, Nara ! Kau ini kenapa ? Dari tadi kau memanggil-manggil nama Appa ?” Nyonya Kwan mengusap wajah Nara yang penuh peluh itu dengan  lembut.

“Hah ? Ah, benarkah ? Aku… bermimpi,” kata Nara ragu.

“Ayolah, kau bisa jujur pada Eomma. Ceritakan mimpimu, Gadis Manis,” Nyonya Kwan tersenyum lembut. Nara mengangguk lalu mengajak Nyonya Kwan duduk berdampingan dengannya. Ia menarik nafas panjang sebentar dan mulai menceritakan mimpi yang menurutnya aneh tadi.

“…” Nyonya Kwan tertegun setelah mendengar cerita putri semata wayangnya itu.

“Nara, mian, boleh Eomma lihat punggungmu ?” Pinta Nyonya Kwan.

DEG !

Nara terdiam.

“Aku…”

-TBC-

Nah, hayolooh… Diliatin gak, tuh ?? Hanya mereka yang tau #plakk. Hooohohooo… Keep Commenting, ya😉. Bubaii… ! :*

2 responses

  1. Ceritanya kerenn thorrr bagusss
    tpi aq mau nnya ada kisah cinta nya gg thorr??? Aku penasaran nich kekekekke
    ohh y perkenalkan saya reader baru d sini lok bleh tw ya author lahir tahun brpa sichh?? Biarr aq bsa pnggil eonni atau cinguu biar lebih sopan biar gg panggil thor thorr … Khan gg enakk tuhh mian sok sksd
    ok dechh salam knl ajah ya ff nya lanjuttt !

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s