You never know how much i love you Part 9

Author : Kin♥ (@Rekindria)

Main cast : Im Yoona, Choi Siwon, Hwang Mi-Young, Kim Jongwoon

Rating : PG-15

Genre : Romance, Friendship

Previous part : You never know how much i love you [Yoona’s Side]

♥Part 1♥

♥Part 2♥

♥Part 3♥

♥Part 4♥

♥Part 5♥

♥Part 6♥

♥Part 7♥

♥Part 8♥

The way I love [Siwon’s Side]

♥Part 1♥

♥Part 2♥

Disclaimer : Plot is MINE. All the Main casts are belong to god and themselves.

Warning : Don’t be a Plagiator and Siders.

♥ You never know how much i love ♥

 “Semua akan baik-baik saja Yoong. Aku disisimu.” Desis sebuah suara yang saat ini mendekap tubuhku.

Aku tahu dia disisiku. Kim Jongwoon, kenapa kau seperti ini? Kenapa saat aku membutuhkanmu kau selalu hadir saat itu juga? Dan kenapa kau bisa mengetahui kapan aku membutuhkanmu? Apa kau mempunyai alarm khusus untuk mengetahuiku?

“Terima kasih.” Aku berucap pelan dengan semakin mengeratkan  tanganku ke punggungnya. Hanya dengan bersandar padanya aku bisa sedikit tenang. Sosok yang bisa menenangkan diriku.

Dia mengusap rambutku pelan dan bersua kecil, “Sudah kukatakan berapa kali? Aku akan terus melindungimu selama aku bisa melakukannya.”

Aku tersenyum. Tuhan, disisiku ini apa benar manusia? Kenapa hatinya seperti ini? Aku sudah mencampakannya dan lebih memilih pria itu. Tapi, saat pria itu menyakitiku dia berada disisiku dan berusaha membangunkanku. Apa aku terlalu jahat saat itu?

Dia berusaha menenangkan diriku. Wajahku mendongak sedikit kearahnya. Aku dapat melihat ia menatap kearah Siwon dengan tajam. Aku tak peduli dengan apa yang mereka katakan atau perdebatkan. Aku lelah. Sangat lelah.

Dia mencengkram tanganku kuat dan menuntutku berjalan sejajar dengannya. Yesung berhenti tepat disamping Siwon dan berkata,“Kesempatanmu sudah habis. Aku takkan membiarkannya lagi.”

Mataku membulat saat menyadari kata yang baru saja aku cerna dengan cepat. Yesung memberikan kesempatan pada Siwon untuk merebutku darinya? Tapi, kenapa Siwon begitu bodoh menyakitiku? Jadi, intinya aku memang bukan ditakdirkan untuknya, kan?

Yesung kini merengkuh tubuhku agar aku tidak terjatuh. Ia menuntunku untuk berjalan saat duri di setiap jalan itu bertaburan. Dengan genggaman tangan yang hangat membuat ku cukup yakin untuk melewati semua ini. Aku bisa tanpa pria itu.

Kansahamida oppa.”

Dia tersenyum. “Berapa kali kau harus mengucapkan terima kasih?”

Aku terhenyak saat mendengarnya. Apa sebanyak itukah aku mengucapkan kata terima kasih?

“Aku boleh bertanya?”

“Apa?”

“Kenapa kau bisa selalu ada saat aku membutuhkanmu?” Aku tersenyum kecil dengan senyum jahil yang menghiasi bibirku.

Dia terkekeh pelan. “Aku tidak tau.”

“Kau bohong.” Sahutku cepat.

Dia semakin menampilkan senyumannya yang meledek. “Kau mau tau apa rahasianya?”

“Katakan!”

“Karena memang aku tidak bisa melihatmu seperti itu. Jadi, saat kau membutuhkanku aku bisa merasakannya. Kamu mengerti?”

Aku menganggukan kepalaku. “Iya..aku mengerti bahwa kau memang takdir yang dikirimkan Tuhan untukku.”

Yesung tersenyum dan semakin mengeratkan rengkuhannya. Ia juga sematkan beberapa helai rambutku yang sedikit tersibak oleh angin.

——

“Ini.” Yesung memberikan ice cream­-nya padaku. Aku tersenyum dan mengulurkan tangan untuk menyambutnya.

Dia duduk disebelahku. Aku rasa memang menenangkan diri dengan cara ini lebih baik.

Aku mulai menghabiskan ice cream ku dan menikmati semilir angin yang menerpa wajahku.

“Semua akan baik-baik saja.” Ucapnya seraya menepuk bahuku pelan.

Aku tersenyum kecil. “Tentu asal kau disisiku aku yakin itu.”

“Kau percaya padaku?”

“Tentu. Hanya oppa yang bisa membuatku semangat lagi.”

Sudut bibir Yesung melengkung, membentuk sudut yang sempurna saat ia tersenyum. Aku fikir aku tidak salah jika mencintai pria ini. Justru aku bodoh jika membiarkannya pergi dan lebih mengharapkan namja itu. Dan kenyataannya adalah aku memang bodoh. Bodoh tidak mencintai sosok sempurna dihadapanku ini.

Oppa.. apa kau tidak lelah ?” tanyaku dengan alis yang saling bertaut. Sepertinya semua kebaikannya membuatku tak habis pikir. Dia terlalu baik dan biasanya setiap orang yang baik mengharapkan sesuatu. Tapi dia? Dia hanya ingin aku bahagia. Hatinya terbuat dari apa? Kenapa sangat tulus menyayangiku?

Dia terdiam lalu aku mendengar ia menghela nafas pelan. “Aku tidak akan pernah lelah untuk terus menyayangimu,” dia tersenyum kecil lalu melanjutkan, “Aku akan selalu menunggumu. Karena aku yakin bahwa kamu adalah orang yang selama ini aku cari.”

“Jika bukan aku orangnya apa kau akan tetap seperti ini oppa?”

“Tidak. Asal sosok itu adalah dirimu aku akan seperti ini. Aku tidak pernah memintamu untuk membalasnya. Cukup bahagia dan itu cukup bagiku.”

Aku menolehkan wajahku dan berusaha menatap kedua manik matanya.“Oppa…kau semakin membuatku takut kehilangan sosok dirimu. Jangan seperti ini lagi.”

Dia membelai puncak rambutku lembut.“ Kau justru yang membuatku takut untuk membiarkanmu berdiri sendiri,” Dia sedikit menghela nafas lalu beranjak dari dudukannya, “Ayo kita pulang. Hari ini sudah sore. Aku tidak mau kau sakit kalau terlalu lelah.”

“Ne oppa.” Sahutku cepat dan mulai berjalan sejajar dengannya.

——

Pagi ini aku terbangun saat cahaya matahari berhasil menerpa wajahku. Jujur aku sangat malas jika bangun pagi saat hari libur seperti ini. Makannya aku menarik selimutku kembali dan mulai meringkuk pada kasurku.

“Yah! YoonA ah cepat bangun!” pekik seseorang dengan berusaha menarik selimutku. Tentu saja aku tak mau kalah untuk itu aku lebih kuat menarik selimutku.“Sampai kapan kau tidur? Temani aku Yoong!” lagi-lagi suara melengking itu mengangguku. Aku memang tau pemilik suara itu. Siapa lagi kalau bukan Kwon Yuri? Apa harus membangunkan ku sepagi ini?

Aku menyembulkan kepalaku sedikit dan berkata, “Ini masih pagi dan jangan ganggu aku! Aku masih ingin bermimpi!”

Yuri mendesah kesal. “Sampai kapan kau mau bermimpi? Ini sudah jam 09.00AM KST!”

Aku membulatkan mata dan memekik,“MWOYA??”

Yuri menarik seluruh selimutku dan mulai mencoba membangunkan tubuhku. “Jangan memekik seperti itu! Cepat aku akan menunggumu dibawah. Eomma-mu menyiapkan makanan jadi aku mau makan duluan ya.” Yuri tersenyum penuh arti lalu pergi meninggalkanku. Dasar! Sesudah membuat penderitaan padaku dengan seenaknya ia mau menghabisi masakan eomma-ku. Tidak akan kubiarkan kau Yuri!

“Yah! Kwon Yuri jangan kau habiskan semuanya.” Dengusku sebelum ia pergi melewati daun pintu kamarku.

“Tidak asal kau cepat!” sahutnya dengan diiringi larian kecil oleh kakinya.

Tak mau hal yang buruk terjadi –jatah makanku berkurang- aku pun menyeret kakiku malas dan mulai bersiap-siap untuk mengantar Yuri.

——

“Apa kabarmu Sooyoung ah?” tanyaku dengan senyum yang menghiasi bibirku pada sosok gadis tinggi dihadapanku ini.

“Baik.” Sahut Sooyoung dengan senyum manisnya.

“Tumben kau sendiri dimana saudara sepupumu itu?” tanya Yuri yang tiba-tiba langsung diam saat aku melihatnya. “Maaf aku tidak bermaksud menyebut namanya.” Desis Yuri.

Aku mengangguk lemah. “Tidak apa-apa. Oh ya, memang dimana Siwon sshi ?”

“Dia sepertinya sedang sakit. Sejak kemarin aku selalu dicuekin.” Jawab Sooyoung dengan mengembungkan pipinya kesal. “Sepertinya ada yang salah padanya dan aku tak mengetahuinya.”

“Kira-kira kenapa dia seperti itu?” tanya Yuri dengan mata yang berbinar. Sepertinya gadis ini ingin sekali tau masalah yang terjadi. Ya, aku tau dia sangat khawatir padaku. Pasti dia berharap Siwon kembali padaku walau sepertinya itu mustahil.

Sooyoung memutar bola matanya, ragu. “Aku tidak tau. Apa kau mempunyai masalah yang berat dengannya Yoong?” tanya Sooyoung balik.

Yuri mendengus kesal. “Pertanyaan bodoh! Tentu saja mereka ada masalah… ehm-masalah besar!”

“Apa? Katakan padaku!” rengek Sooyoung.

“Mereka ehmm-” Aku berhasil membengkap mulut Yuri. Gadis ini benar-benar menyebalkan. Aku sangat tidak suka mengumbar masalah pribadi. Apalagi pada sepupu Siwon ini. Ada juga Siwon akan semakin tau aku lemah dan aku tak mau itu.

“Berhenti bicara yang aneh-aneh Yuri ah,” bisikku pada Yuri.

Yuri hanya terkekeh kecil dan berucap, “Mianhae,”

“Tapi Yoong, apapun yang terjadi aku sangat yakin Siwon oppa hanya mencintaimu bukan Tiffany,” jelas Sooyoung yang diselingi mimik serius diwajahnya. “Aku tak pernah melihat Siwon oppa seperti ini. Dia terlihat frustasi sejak berpisah denganmu.”

——

“Aku lelah Yoong lebih baik kau istirahat saja.”

“Kau tidak ingin mampir kerumahku dulu?” tanyaku yang berusaha mencegah Yuri untuk pulang.

“Tidak. Sudahlah aku lelah.” Ucapnya yang diselilingi lambaian tangan.

Huft. Baiklah, aku merasa kesepian lagi. Kubuka pintu rumahku dan melirik singkat isi rumah. Kosong. Bosan karena suasana rumah yang sepi aku pun memilih untuk duduk di teras rumahku. Menikmati suasana siang hari melalui sini.

Lagi-lagi sepi. Bahkan pemilik rumah di depanku terlihat tak berpenghuni. Kemana pemilik rumahnya? Hei, kenapa kau memikirkannya?

Kulirik kearah kamarnya. Hei, dia terlihat disana dan menyendiri. Ada apa dengannya?

Tanpa sadar aku memasuki rumahku dan mulai menaiki tangga. Sepertinya otakku benar-benar tak berfungsi. Kenapa aku masih mempedulikannya?

Kusibakkan tirai jendelaku dan mulai membuka daun jendela tersebut. Aku sedikit menyipitkan mataku melihat apa yang ia lakukan.

Dia terlihat sedang memandang lurus kerahku dengan tatapan kosongnya. Aku melambaikan tanganku berusaha menyadarkannya dari lamunannya.

Dia melihat kearahku dan membuka matanya dengan mengucapkan sebuah kata. Aku tidak mengerti! Jarak kami jauh jadi aku tidak bisa mendengar kata-katanya.

Kulihat dia mendesah kesal lalu bangkit dari kursinya. Apa yang dia lakukan?

Dia menunjukkan secarik kertas dan menulis beberapa kalimat,‘Kau bisa melihatnya?’

Aku mengambil secarik kertas dan menulis beberapa kata untuk membalasnya, ‘Apa?’

Dia menulis lagi dan berkata, ‘Maafkan aku.’

Maaf? Ah, dia mengingatnya? Bahkan aku lupa tentang kejadian itu. Aku melirik singkat kearahnya. Sepertinya dia sangat mengharapkan jawabanku.

Dia bangkit dan menulis lagi, ‘Aku akan menunggu.’

Baiklah seterah dia saja. Aku diam dan mulai meneliti dirinya kembali. Apa yang dia lakukan disana? Kenapa hanya menatapku dengan kosong? Tunggu, kenapa wajahnya pucat Tuhan? YA! CHOI SIWON!

BUK.

Tubuhnya jatuh dan tak berdaya. Yah! Choi Siwon jangan menyiksa dirimu! Kenapa kau seperti ini?

——

Apa aku terlihat bodoh saat peduli padanya? Apa aku terlihat menyedihkan saat mengkhawatirkan keadaannya?

Tuhan, cepat sadarkan orang bodoh dihadapanku ini. Aku tak ingin dia menutup matanya seperti itu. Walau terlihat damai tetap saja aku takut melihatnya.

Hei, jika kau bangun aku akan melakukan apapun yang kau mau! Bahkan menjadi pengawal mu sekalipun. Ya, asal kau jangan menjadikan ku pengawal saat kau bersama kekasihmu itu. Karena, kau tau? Aku membencinya. Tidak, hanya saja benci melihat bayangan itu. Bayangan saat posisiku direbut olehnya. Aku egois? Maafkan aku kalau begitu.

Kini aku kembali menghela nafas frustasi. Apa yang harus aku lakukan? Mataku kembali meneliti wajahnya. Tampan. Sangat. Sepertinya aku memang mempunyai alasan untuk mencintainya dan tergila-gila pada sosoknya.

“Kau bisa mendengarku? Bukankah kau menginginkan jawaban dariku?” aku mengusap perlahan wajahnya. Menelusuri setiap inci ukiran wajahnya yang sempurna. “Cepatlah bangun atau aku akan meninggalkanmu!”

Aku lelah. Hmm, sepertinya aku harus mencari beberapa cemilan untuk menemaninya. “Aku pergi dulu ya oppa. Jaga dirimu baik-baik,” ucapku.

“Kau mau kemana? Temanilah aku disini,” ia merengek kecil saat aku beranjak dari kursiku. Baiklah, aku akan menemaninya untuk sementara setidaknya hingga ia sembuh. “Katakan! Kau mau kemana? Kau tega meninggalkanku?”

Aku menggigit bibir bawahku. “Hei, aku hanya ingin membeli makanan! Lagipula hanya sebentar.”

“Tidak! Tidak akan aku biarkan kau pergi sedetik pun!”

“Kau ingin aku mati kelaparan ha?”

“Kau masih sama saja. Apakah suaramu itu selalu melengking?” cibirnya dengan senyum yang terlihat meledek kearahku.

Melihat senyumnya yang menjengkelkan itu membuatku ingin memukulnya. Tapi, mana mungkin aku merusak wajahnya itu?

“Aku lapar…” aku merengek kecil dan memasang wajah memelasku. Aku benar-benar membutuhkan makanan. Menunggu dia siuman tanpa makanan itu sangat hampa.

“Tenang saja Yoong, aku bawa makanan,” pekik seseorang yang menyembulkan wajahnya melalu daun pintu tersebut. Dengan senyum yang mengembang ia memberikan beberapa makanan itu untukku.

“Gomawo Sooyoung ah…”

Gadis cantik itu membalas senyumanku lalu mengatakan, “Oppa, sepertinya kau terlihat bahagia ditemani YoonA. Ehm, apa aku mengganggu?”

“Tentu saja tidak.” Sahutku cepat seraya memakan roti yang Sooyoung berikan padaku.

——

Wajahnya sangat tentram saat ia tertidur. Hari yang menyenangkan tanpa para penganggu itu. Sepertinya saat kau jatuh sakit memberikan kita waktu bersama. Benar, kan?

Cahaya matahari yang membias melewati kaca-kaca tersebut semakin membuatku tau wajahmu tak pernah tergantikan. Bahkan saat cahaya itu menerpa wajahmu. Kau terlihat lebih bersinar dan aku tau penyebabnya.

Kau tampan. Memang. Tapi, sayangnya kau bodoh.

Aku baru sadar aku tertidur untuk menjagamu. Bahkan, tidurku terasa nyenyak walau ditempat seperti ini. Sepertinya penyebabnya adalah kamu. Ya, aku memang selalu ingin bersamamu. Bahkan menikmati mimpi buruk sekalipun.

Tetaplah seperti itu Siwon oppa.. aku lebih menyukaimu tertidur damai dengan senyum yang mengukir sudut pipimu itu. Kau terlihat damai dan aku sangat menikmati objek dihadapanku.

Tapi, saat kau membuka mata. Aku merasa dapat melihat semua hal yang kau lakukan padaku melalui matamu. Semuanya… termasuk semua perlakuanmu yang berlahan menyakiti diriku.

Tapi, jika melihatmu seperti ini terus bukankah aku egois?

Hei, ini sudah pagi. Kenapa kau masih tidur?

Kini aku kembali meneliti wajahnya. “Ya!” pekikku saat menyadari dia memperhatikanku yang sedang asik meneliti wajahnya. Tuhan, wajahku pasti memerah sekarang! Aku malu. Ah, bisakah aku membuang wajahku sekarang? Aniyo, bisakah aku menghilang sekarang?

Ah, tidak! Sekarang dia melihatku dengan senyumannya yang seperti itu. Baiklah, aku memang memperhatikanmu sedari tadi. Tapi, tunggu berarti kau juga memperhatikanku kan?

“Kau menyukainya?”

“Apa maksudmu?” aku bergedik ngeri saat ia tersenyum seperti itu. Entahlah, sepertinya nyawaku tidak.. harga diriku terancam.

Dia tersenyum kecil. “Menikmati wajahku saat cahaya matahari menerpaku. Menikmati setiap waktu yang kau habiskan hanya demi melihat wajahku… kau menyukainya?”

Tepat! Aku bisa bayangkan kata-kata narsis itu akan keluar dari mulutnya.

Aku bangkit dari dudukanku dan berkata, “Aku lapar.”

Dia menarik tanganku hingga tubuhku hampir menimpa tubuhnya. Apa dia gila? Aku bisa saja membuatnya tambah sakit jika ia melakukan hal yang sama seperti ini.

“Apa dipikiranmu hanya makanan?” Dia tersenyum kecil dengan masih merengkuh pingangku agar aku tidak berubah dari posisi.

“Untuk beberapa alasan mungkin.” Sahutku cepat.

Dia terdiam. Jujur, ini membuatku sangat takut. Apalagi matanya seakan menatapku dengan intens. Ya, aku bisa bayangkan apa yang akan terjadi saat posisi seperti ini dan matanya yang seperti itu.

“Bisakah kau memaafkanku?” desisnya pelan sebelum akhirnya ia mendaratkan sebuah ciuman tulus dibibirku.

Ya, aku bisa memperkirakannya. Saat ia menatapku seperti itu aku seperti tak bisa menolaknya.

Aku bisa melihat saat ia mencium bibirku lembut. Dia tersenyum dan itu manis sekali.

 

“Aku bosan jika terus dirumah sakit.”

“Aku tahu itu.”

“Bisakah kita keluar dari kamar ini?”

“Aku tidak tau.”

“Bisakah kau merubah jawaban tidak tau atau semacamnya itu?”

“Aku tidak tau.”

“Ya!” dia memekik dan membuatku membulatkan mata. Aish, aku sedang malas sekarang. Makannya aku hanya menanggapi pertanyaannya dengan sekedarnya atau sesingkatnya?

Arraseo aku akan mengantarmu. Kau puas?”

Dia tersenyum saat mendengar jawabanku. Sepertinya kau sangat ingin keluar dari sini kan? Kalau begitu cepatlah sembuh Siwon oppa.

 

Dia terus mengukir senyum saat aku menuntunnya.

“Yesung oppa!” aku memekik saat menyadari Yesung berlari dihadapanku. Tunggu! Yuri? Ada apa dengannya? Kenapa dia bisa terluka?

“Aku akan ceritakan nanti Yoong. Maaf, aku harus menemani Yuri dulu.” Jawabnya. Padahal aku tak berbicara apa-apa. Tapi, sepertinya dia bisa menangkap rasa khwatirku pada Yuri.

“Ada apa dengan Yuri?” tanya Siwon.

“Aku tidak tau.”

To be continued

Akhirnya part ini selesai. Maaf gak sesuai jadwal haha. Soalnya sore-nya aku aga sibuk jadi pagi-pagi aja di post. Tapi, tetep kan tanggalnya sama hehe

62 responses

  1. moment YoonWon nya so sweet sekali thor, tapi waktu part nya Yuri jujur aja bikin kaget banget, aku lanjut ke part 10 ya thooor, hihihi asik nih ceritanya bikin penasaran terus

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s