Autumn In October

Annyeong readers, Nan Kim Terra imnida^^ Ini adalah FF oneshoot saya yang pertama, karena biasanya saya bikin FF chapter! Ini juga FF pertama saya yang dipublish disini, yeey! Jadi mianhahe ya, kalo FF ini terkesan buru-buru, hehe… Oya, jangan lupa COMMENT and LIKE ya!

Nb: Lebih bagus kalo kalian baca FF ini sambil ngedengerin lagu “Jung Yong Hwa – Because I Miss You”

 

Now, Happy reading guys^^

 

Author : Kim Terra ( @swastiliciouss ) >>> Mention for followback *yang nge follow saya doain cepet2 ketemu biasnya* :3
Tittle : Auntumn In October

Cast :

  • Stephanie Hwang a.k.a. Tiffany
  • Lee Donghae
  • Choi Siwon

Genre : Romance, Sad

Rating : PG – 13

Support Cast : Find it by yourself!

Disclaimer : Semua cast nya milik Tuhan, tapi alur dan plotnya milik saya^^

 

Menunggu itu… Melelahkan dan menyakitkan…

 

 

— Author POV —

 

15 Oktober 2012. Tiffany kembali ke taman ini untuk yang ke-10 kalinya. Ia mengenakan jaket berwarna coklat dengan syal berwarna soft orange yang melingkar manis di lehernya. Hanya duduk di bangku taman, menghabiskan harinya untuk menunggu seseorang yang tak pasti kapan akan kembali.

 

Lalu ia membuka sebuah buku coklat berbahan kulit asli, yang sudah ia bawa daritadi. Membuka satu persatu lembarannya dan mengamati foto-foto yang terdapat di dalamnya. Sambil mengenang kisah-kisah bersama namja yang sudah 10 tahun ini ia tunggu. Sesekali ia tersenyum, namun kemudian wajahnya kembali murung saat ia sedang mengingat masa lalunya.

 

————————————————————————————————————

 

13 years ago. October 14th 1999 in Auntumn

 
Tiffany masih berdiri mematung dan menatap daun-daun maple yang telah jatuh ke tanah. Ia tak berani menatap mata sang kekasih yang kini ada di hadapannya Ia masih belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

 

“Mianhae. Kita harus mengakhiri hubungan ini,”kata Choi Siwon untuk yang kedua kalinya.

 

“Waeyo, oppa? Seminggu yang lalu kau baru bilang, bahwa kau akan menikahiku di awal musim semi. Iya kan, oppa?”Tanya Tiffany yang akhirnya mau membuka mulut.

 

“Aku… Mencintai yeoja lain…”jawab Siwon pelan.

 

“Nuguya?”Tanya Tiffany, sedikit emosi.

 

“Choi Sooyoung,”jawab Siwon.

 

Choi Sooyoung. Mendengar nama itu, Tiffany serasa disambar petir. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Ternyata hubungan yang mereka jalin selama dua tahun, harus berakhir seperti ini. Namja yang ia cinta ternyata kini telah mencintai yeoja lain, yaitu sahabatnya sendiri.

 

“Kenapa harus dia?”Tanya Tiffany pelan, sambil berusaha membendung air matanya.

 

“Mianhae… Seharusnya kukatakan ini padamu sejak setahun yang lalu…”jawab Siwon.

 

“Kenapa kau tak bilang dari dulu kalau kau mencintainya? Kenapa? Kalau kau katakan ini sejak awal, aku takkan berharap banyak padamu! Tak tahukah oppa, kalau aku selalu setia menjaga hubungan ini?! Tapi ini balasan oppa? Oppa harus tahu, dua tahun itu adalah waktu yang cukup lama!”seru Tiffany bertubi-tubi. Kini, ia tak bisa menahannya lagi. Bulir-bulir air mata mulai keluar dari pelupuk matanya.

 

Siwon menatap Tiffany dengan iba. Baru kali ini ia membuat seorang yeoja menangis. Ia merasa sangat bersalah dan menyesal. Harusnya ia mengatakan ini sejak awal. Tapi tak seharusnya juga ia mencintai yeoja lain. Padahal ia masih punya Tiffany yang selama ini selalu berusaha untuk menjaga hubungan mereka.

 

“Maafkan aku. Tapi aku tak ingin melanjutkan hubungan, tanpa rasa cinta. Aku takut jika akhirnya kau yang terluka… Kumohon kau mengerti. Walaupun kita pututs, kau akan tetap ku anggap sebagai teman,”Siwon mencoba memberi pengertian. Tapi cukup sulit bagi Tiffany untuk mengerti.

 

Tiffany menunduk. Ia memegang dadanya yang kini terasa sakit karena perkataan Siwon. Baginya, namja itu memang kini sudah berubah. Biasanya, jika Tiffany menangis, Siwon akan mengusap air matanya dan memeluknya erat. Tapi sekarang? Siwon hanya berdiri diam dan terus meminta maaf. Biasanya, Siwon akan memanggilnya dengan sebutan ‘chagiya’. Tapi kini? Hanya dengan kata Tiffany. Tentu semua alasannya adalah karena Siwon telah mencintai yeoja lain.

 

“Ne, aku akan mencoba mengerti. Mian, jika selama ini aku tidak bisa menjadi yeoja yang kau inginkan…”ujar Tiffany sambil menghapus air mata di pipinya.

 

“Gomawo, Tiff…”

 

Be happy with her. Please, protect her and don’t ever try to hurt her… Because she is my best friend,”ucap Tiffany tulus walaupun sebenarnya berat.

 

“Yes, I will…”balas Siwon mantap.

 

“Don’t forget me.”

 

“Sure. Mian, aku harus pergi…”kata Siwon yang kemudian pergi meninggalkan Tiffany. Tiffany hanya bisa menatap punggung Siwon yang semakin menjauh.

 

Tiffany terduduk lemas di bangku taman. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia mulai menangis lagi. Sejujurnya, ia belum bisa menerima kenyataan yang ada. Karena memang sungguh sakit rasanya.

 

“Auntumn itu identik dengan romantisme dua insan manusia. Bukan air mata…”Terdengar suara namja yang baru pernah ia dengar.

 

Tiffany membuka wajahnya, terlihat matanya kini sembab. Lalu ia membalikkan badan dan mencoba mencari sumber suara. Disamping bangku taman. Dilihatnya seorang namja berbalut jaket hitam. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Namja itu tampak asing baginya.

 

“Siapa kau?”Tanya Tiffany.

 

“Aku? Aku hanya setetes air jernih yang mungkin diutus Tuhan untuk menyegarkan setangkai bungan yang sedang layu…”jawab namja itu dengan bahasa yang sok puitis. Membuat Tiffany bingung dan sedikit takut dengannya.

 

“Tak lucu.”komentar Tiffany singkat.

 

“Aku memang tidak sedang melucu,”balas namja itu datar.

 

Tiffany tak menghiraukannya lagi. Ia mengencangkan ikatan baju hangatnya. Lalu berjalan pelan meninggalkan namja asing yang sok kenal dan kata-katanya yang aneh itu itu. Ia butuh tempat untuk sendiri.

 

“Chankamnan!”panggil namja itu sebelum Tiffany semakin menjauh. Mendengar itu, Tiffany menghentikan langkahnya. Tapi ia tak membalikkan badannya.

 

“Aku hanya ingin memberi tahu. Yeoja sepertimu tak perlu menangis hanya karena ditinggal oleh namja seperti dia. Di dunia ini masih banyak namja yang ingin bersamamu dan selalu berusaha untuk membahagiakanmu. Ketahuilah itu!”seru namja yang sampai sekarang belum diketahui namanya itu, dari jauh.

 

Walaupun kata-kata itu terdengar positif, tapi ternyata tak bisa diterima dengan baik oleh Tiffany. Terlebih dengan keadaan hatinya yang sedang kacau. Ia membalikkan badannya. Lalu menatap namja itu tajam.

 

“Kau tak perlu menceramahiku. Tak perlu juga ikut campur urusanku. Urusi saja urusanmu sendiri!”seru Tiffany.

 

Lalu Tiffany segera pergi meninggalkan namja itu. Ia mempercepat langkah kakinya. Sesekali ia menoleh ke belakang. Terlihat, namja itu masih berdiri dan terus menatapnya sambil menunjukkan senyumannya dari jauh.

 

“Namja aneh,”batin Tiffany.

 

 

——————- October 15th 1999 at 12:00

 

 

Siang ini, Tiffany kembali ke taman itu lagi. Ia duduk di bangku taman yang kemarin. Bukan untuk memikirkan kembali mantan kekasihnya, Choi Siwon. Tapi untuk membaca novel yang baru saja ia beli, yaitu ‘Auntumn in October’. Ia juga menikmati pemandangan gugurnya daun-daun maple disana. Sebenarnya sudah lama ia menikmati pemandangan di taman ini. Sejak ia masih kecil.

 

“Kau kembali lagi? Apakah untuk memikirkannya lagi?”Tanya seorang namja yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahnya.

 

Tiffany menoleh ke arah kanan. Begitu kaget dirinya, ketika melihat namja misterius dan ‘super freak’ kemarin kini telah duduk di sampingnya. Spontan, ia langsung menjauh dari namja itu, menjaga jarak.

 

“Kau lagi. Mau apa kau?!”Tanya Tiffany, sedikit marah.

 

“Hanya ingin menghiburmu,”jawab namja itu sambil tersenyum.

 

“Aku tak mengenalmu. Jadi sebaiknya kau pergi,”kata Tiffany.

 

“Tak mengenalku. Kalau begitu kenalkan, Lee Donghae imnida. Panggil saja aku Donghae. Mungkin lebih tepatnya Donghae oppa, karena sepertinya aku lebih tua darimu. Kau?”Tanya Donghae yang malah memperkenalkan dirinya.

 

Lee Donghae? Sepertinya aku pernah mendengar atau melihat nama itu. Tapi dimana ya? Pikir Tiffany.

 

“Tiffany. Stephanie Hwang,”jawab Tiffany.

 

“Tiffany? Nama yang indah…”puji namja itu yang ternyata namanya adalah Donghae.

 

“Kau sudah tahu namaku kan? Sekarang pergilah! Aku ingin sendiri,”usir Tiffany, sambil tetap menatap tulisan-tulisan di novelnya.

 

“Shireo,”tolak Donghae.

 

“Kalau begitu, biar aku yang pergi,”ujar Tiffany sambil memasukkan novelnya ke dalam tas. Ia beranjak berdiri dan hendak pergi, tapi namja itu memegang tangannya. Erat.

 

“Kajimarayo (jangan pergi).”pinta Donghae.

 

“Lepaskan! Kalau tidak, aku akan berteriak!”ancam Tiffany. Ia takut dengan namja itu. Ia takut jika nanti namja itu akan berbuat jahat padanya. Ia berusaha melepaskan tangannya dari namja itu.

 

“Jebal kajimara. Aku tak akan berbuat jahat. Yaksok…”ucap Donghae lembut.

 

Mendengar ucapan Donghae, Tiffany kembali duduk di bangku taman. Ia menatap mata Donghae. Innocent. Melihat itu, Tiffany mulai berpikir positif. Sepertinya Donghae berkata jujur dan mungkin dia memang orang baik.

 

“Baiklah…”kata Tiffany.

 

Entah apa yang merasuki Tiffany, sehingga ia mau menuruti Donghae, namja yang baru ia kenal beberapa menit lalu. Mungkin baginya Donghae dapat membuatnya nyaman.

 

“Kau sedang tidak sibuk kan? Mau menemaniku makan siang?”Tanya Donghae.

 

Tiffany berpikir sebentar. Ia sebenarnya ingin menemani namja ini pergi, lagipula namja ini cukup tampan. Tapi ia ingat, ia baru mengenal Donghae beberapa menit yang lalu. Tak lucu kan kalau makan siang bersama orang yang baru dikenal?

 

Terlalu lama menunggu jawaban Tiffany. Tanpa aba-aba, Donghae langsung menarik tangan Tiffany. Anehnya, Tiffany tak protes. Ia menggandeng Tiffany dan berjalan menuju rumah makan kecil yang berada di dekat taman tersebut. Tempatnya memang sederhana. Pintu dan dindingnya terbuat dari kayu asli. Namun, suasananya sungguh nyaman dan cukup romantis.

 

Pelayan mencatat pesanan mereka. 2 gelas green tea dan 2 mangkuk Seolleongtang. Seolleongtang adalah sup yang berisi potongan daging sapi dan lobak yang dicampurkan di dalamnya. Sangat cocok untuk dimakan pada saat udara dingin seperti ini.

 

“Donghae oppa, kenapa kau mengajakku makan siang?”Tanya Tiffany, memulai pembicaraan mereka.

 

“Karena aku ingin makan siang dan aku bingung harus mengajak siapa. Makanya aku mengajakmu,”jawab Donghae.

 

“Maksudku, kenapa aku yang kau ajak? Kau kan baru kenal denganku. Kenapa tidak mengajak keluarga atau kekasihmu saja?”Tanya Tiffany lagi.

 

“Keluargaku tinggal di Paris, tak tahu kapan mereka akan kembali. Kalau kekasih…”Donghae tidak melanjutkan perkataannya.

 

“Hm?”

 

“Aku sudah tak bisa makan siang lagi dengannya. Dia… Dia pasti sudah bahagia di Kerajaan terakhir di alam sana…”jawab Donghae. Matanya menunjukkan tatapan yang sedih.

 

Tiffany menelan ludahnya. Ia menjadi tak enak hati. Ia begitu menyesal karena menanyakan hal seperti tadi. Ia tak tahu kalau pertanyaan tadi dapat membuat Donghae sedih. Ternyata kekasih Donghae telah tiada.

 

“Mianhae, aku tak tahu…”ucap Tiffany.

 

“Gwaenchana.”

 

“Awalnya, aku memandangmu aneh. Habisnya kau suka berkata aneh, terlebih saat pertama kali aku bertemu denganmu. Tapi ternyata kau memang baik. Baru kenal, sudah mengajakku makan siang. Gomawo, oppa…”

 

“Ne, cheonmaneyo. Aku juga senang bisa makan siang denganmu. Jadi di hari ulang tahunku, aku tidak sendirian…”

 

“Mwo? Hari ini kau ulang tahun? Waah… Saengil chukkae hamnida oppa!”seru Tiffany girang.

 

“Ah, ne ne ne… Gomawo, Tiff…”balas Donghae sambil tersenyum manis.

 

Tiffany terpesona melihat senyuman namja itu. Senyum nya lebih manis dari senyum siapapun, termasuk senyum Siwon. Dan senyum namja itu pun dapat membuatnya tersenyum juga. Ternyata di tengah kesedihannya karena ditinggal kekasih, masih ada orang yang bisa membuatnya tersenyum.

 

“Mau jalan-jalan bersamaku?”ajak Donghae setelah mereka keluar dari rumah makan tersebut.

 

“Aku mau, tapi mian, tak bisa…”tolak Tiffany.

 

“Waeyo, Tiff?”Tanya Donghae

 

“Sudah jam satu siang. Aku harus mengajar di tempat kursusku.”jawab Tiffany.

 

“Kau seorang guru?”

 

“Yup, betul!”

 

“Kajja, biar kuantar…”kata Donghae.

 

“Tak usah… Aku takut merepotkan. Kau sudah terlalu baik padaku hari ini,”tolak Tiffany dengan halus sambil menunjukkan Eye Smilenya.

 

“Baiklah, aku tak memaksa… Oh iya, ini kartu namaku. Hubungi aku jika perlu, mungkin lain waktu kita bisa makan siang bersama lagi,”kata Donghae sambil memberikan kartu namanya.

 

“Baiklah. Thanks a lot for today, sekarang aku pergi dulu ya…”pamit Tiffany yang kemudian melambaikan tangan. Donghae membalas lambaian tangan Tiffany.

 

Tiffany berjalan meninggalkan Donghae. Ia akan menuju tempat kursusnya untuk mengajar. Sambil berjalan, ia mengeluarkan kartu nama Donghae yang tadi diberikan kepadanya. Disana tertulis ‘Lee Donghae. Author. +828738884421’ *nomor teleponnya fiksi ya, haha. Untuk mencegah keisengan😛 *

 

Ternyata Donghae adalah seorang author. Setelah membaca tulisan di kartu nama itu, ia segera membuka tasnya, lalu mengeluarkan novel barunya itu. Ia langsung terperanjat ketika melihat tulisan paling atas pada cover. Disana tertera nama Lee Donghae.

 

“Mwo? Ternyata namja itu adalah penulis novel ini? Cih, pantas saja kata-katanya sok puitis. Tapi… namja itu sungguh menarik!”batin Tiffany, ia menjadi senyum-senyum sendiri ketika mengingat Donghae.

 

—————————————- one year later

 

Setahun telah berlalu. Tiffany dan Donghae semakin dekat. Ternyata Donghae tidak se-aneh yang Tiffany kira. Kini mereka sudah terlihat sebagai sepasang sahabat. Donghae juga mulai terbuka pada Tiffany. Mereka sering berbagi cerita, pengalaman dan rasa. Karena mereka sudah mempercayai satu sama lain. Hingga suatu hari, hal itu terjadi. Perasaan cinta harus menembus batas persahabatan mereka…

 

Seperti biasanya, Tiffany dan Donghae menghabiskan sore mereka di taman itu, tempat pertama kali mereka bertemu. Duduk berdua di bangku taman. Tiffany teringat dengan kejadian beberapa bulan lalu, tentang pertemuan mereka berdua yang aneh.

 

“Hihi…”tiba-tiba Tiffany tertawa kecil.

 

“Kenapa kau? Sudah gila?”Tanya Donghae bingung.

 

“Ahniyo… Hanya saja aku teringat kejadian setahun yang lalu. Saat pertama kali kita bertemu…”jawab Tiffany sambil tersenyum.

 

“Yah… Saat itu memang lucu,”kata Donghae.

 

“Ne, dan ternyata kita kini menjadi dekat. Bahkan aku menganggapmu sebagai sahabatku,”ujar Tiffany.

 

“Hanya sahabat? Padahal aku mengharapkan lebih…”balas Donghae. Perkataan Donghae membuat Tiffany terkejut.

 

“Ma… Maksudmu?”tanya Tiffany terbata-bata.

 

“Aku tau, kau mengerti maksudmu,”jawab Donghae datar.

 

“Tapi kita kan…”

 

“Sahabat. Tapi aku menyukaimu. Aku mencintaimu dan aku tidak bisa menahan ini lagi,”ucap Donghae dengan tiba-tiba.

 

Tiffany hanya menundukkan kepalanya. Ia tak berani bicara. Ia hanya berpikir, apa status mereka yang awalanya hanya ‘sepasang sahabat’harus menjadi ‘sepasang kekasih’ ?

 

“Aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?”Tanya Donghae dengan wajah memerah, mungkin malu
Mendengar itu Tiffany menjadi kaget. Tak pernah terfikir di benaknya kalau Donghae akan berkata seperti itu, menyatakan cinta padanya, menembaknya. Apakah ini saatnya mengubah status ‘persahabatan’ menjadi ‘pacaran’ ?

 

“Kumohon jawab aku. Sekarang,”pinta Donghae.

 

“Aku tak mau merusak persahabatan kita, oppa…”jawab Tiffany. “Aku tak ingin bila keadaannya berubah nanti. Aku sudah terlanjur nyaman untuk menjadi sahabatmu… Aku tak siap jika harus mengubah status kita menjadi ‘pacaran’…”lanjut Tiffany pelan.

 

Kemudian Donghae menghadapkan tubuhnya pada Tiffany. Lalu memegang pundak Tiffany.

 

“Apapun status kita, kau akan tetap kuanggap sebagai sahabat… Sahabat selamanya, yang akan saling menemani hingga akhir waktu nanti,”ucap Donghae.

 

“Sejujurnya… Aku juga menyukai oppa, sudah lama…”kata Tiffany pelan, membuat Donghae sedikit tersenyum.

 

“Jinja? Jadi artinya…”

 

“Mungkin bisa kita coba,”kata Tiffany sambil tersenyum.

 

Jantung Donghae berdegup lebih kencang saat mendengar jawaban Tiffany. Ternyata cintanya terbalaskan. Dan… CUP! Satu kecupan manis mendarat mulus di bibir manis Tiffany. Membuat yeoja itu terperanjat dan sedikit malu.

 

“Ah Oppa! You stolen my first kiss! Nappeun namja!”seru Tiffany yang kemudian menjitak Donghae. Donghae hanya tersenyum nakal sambil mengusap-usap kepalanya. Walaupun begitu sebenarnya mereka berdua bahagia.

 

“Berjanjilah padaku, bahwa kau akan setia!”pinta Donghae.

 

“Aku berjanji akan selalu setia bersamamu, Oppa…”balas Tiffany. Kemudian mereka mnyatukan kelingking mereka.

 

——————————– 1 year later

 

October 15th 2001.

 

Hari ini adalah hari ulang tahun Donghae yang ke 23. Tepat pada saat musim gugur. Tiffany telah menyiapkan sebuah kado berisi syal berwarna hitam untuk Donghae, warna kesukaan Donghae. Tiffany juga menyiapkan dua buah cupcake coklat buatannya, yang nanti akan mereka nikmati. Kemudian ia segera berangkat ke taman tempat mereka pertama kali bertemu. Disanalah mereka akan merayakan ulang tahun Donghae. Ya, seperti tahun-tahun sebelumnya.

 

Tiffany duduk di bangku biasa. Tapi sudah dua jam Tiffany menunggu dan Donghae belum muncul juga. Padahal janjinya jam dua siang lebih. Tentu Tiffany menjadi kesal, namun ia tetap menunggu Donghae, kekasihnya. Walaupun sebenarnya ia lelah dan khawatir.

 

“Kemana dia? Dua jam kutunggu, tapi tak datang juga. Apa ia sedang sibuk mengerjakan novelnya? Kalau tidak salah ia kan sedang mengerjakan novel terbarunya…”batin Tiffany, mencoba berpikir positif.

 

“Lama menungguku?”suara seorang namja mengagetkan Tiffany, tepat dibelakang Tiffany.

 

Suara itu tidak asing baginya. Tiffany membalikan badannya. Dan sesuai dengan perkiraannya, itu pasti Donghae.

 

“Oppa, kemana saja kau? Aku sudah menunggu dua jam, oppa!”protes Tiffany.

 

“Mian, tadi aku ada urusan sebentar…”kata Donghae, membela diri.

 

“Yasudahlah, tak apa. Oya, Saengil Chukkaehamnida, oppa! Ini aku bawakan kau hadiah dan sebuah cupcake coklat…”ucap Tiffany sambil memberikan syal hitam dan cupcake coklat itu kepada Donghae. Kemudian ia mencium pipi Donghae.

 

“Wah… Jeongmal gomawo, chagiya…”kata Donghae. Tapi… kemudian ia menangis. Terharu?

 

“Oppa, kenapa kau menangis?”Tanya Tiffany sambil menghapus air mata di pipi Donghae.

 

“Ehm… Aku…”

 

“Terharu?”Tanya Tiffany, mencoba menebak.

 

“Ya, selain itu karena… karena mungkin ini adalah hari terakhir yang akan aku jalani bersamamu…”jawab Donghae pelan. Tiffany tidak mengerti maksudnya.

 

“Apa maksud, oppa?”Tanya Tiffany, perasaannya mulai tak enak.

 

“Hari ini, aku harus menyusul orangtuaku yang berada di Paris. Aku pasti akan kembali, tapi tak tahu kapan…Mianhae, Tif…”jawab Donghae. Tiffany kaget mendengarnya.

 

“Tapi kan ini hari ulangtahunmu, kenapa kau harus…”

 

“Mianhae. Aku tak bisa membantah orangtuaku lagi…”

 

Tiffany langsung memeluk Donghae. Sangat erat. Seakan ia tak mau ditinggal Donghae. Tentu Tiffany tak mau, ia baru setahun menjalani hubungan ini dengan Donghae, tapi kini Donghae harus pergi. Terlebih karena hari ini adalah hari ulangtahun Donghae. Ia berharap saat ini ia bermimpi.

 

“Berjanjilah bahwa kau akan selalu menungguku,”pinta Donghae.

 

“Ne, pasti…”ucap Donghae.

 

“Aku akan selalu berusaha untuk setia. Aku juga akan sering-sering menghubungimu. Dan aku pasti akan kembali, ke tempat ini, ke taman ini. Saat 15 Oktober…”kata Donghae, berjanji.

 

“Kupegang janjimu…”kata Tiffany.

 

“Saranghaeyo, Hwang Stephanie…”ucap Donghae, kemudian ia mencium lembut bibir Tiffany. Berharap ini bukan ciuman terakhir. Ia berharap, tahun depan ia bisa melakukan in lagi pada Tiffany.

 

“Nado saranghae, Donghae oppa…”

 

“Aku harus pergi sekarang, selamat tinggal… Gomawo untuk 2 tahun yang indah ini…”pamit Donghae sambil melambaikan tangannya.

 

Tiffany hanya bisa berdiri sambil membalas lambaian tangan Donghae, yang semakin menjauh…

 

————————————————————————————————————

 

Itulah ucapan terakhir Donghae pada Tiffany. Ia berjanji pada Tiffany, bahwa ia akan kembali lagi kesini, ke taman ini. Tapi 10 tahun berlalu Tiffany selalu menunggunya dan Donghae tak pernah kembali lagi.

 Setelah beberapa bulan Donghae pindah ke Paris, Donghae masih memberi Tiffany kabar lewat e-mail, tapi setelah itu tidak ada kabar lagi darinya. Tiffany benar-benar kehilangan kontak dengannya, dan sampai sekarang Tiffany tidak tau lagi bagaimana keadaannya, di mana dia sebenarnya dan apa yang terjadi dengannya.

Tak terasa, hari mulai senja. Ternyata Tiffany telah menunggu cukup lama hari ini. Ia menghapus air mata di pipinya, berusaha untuk tetap tegar. Lalu ia menutup buku coklatnya. Beranjak berdiri dan segera kembali ke rumah. Berharap, jika ia kembali tahun depan, ia dapat bertemu dengan Donghae.

 

“Oppa, sebenarnya ada apa denganmu? Aku disini sangat merindukanmu. Aku berusaha tetap tegar untuk menunggumu, walau sebenarnya tersakiti. Aku sudah menepati janjiku untuk tetap setia dan menunggumu disini, tapi kenapa kau tak pernah kembali? Kumohon oppa, kembalilah… Aku rindu pelukanmu, cium manismu, aku… Aku merindukanmu…”

 

Always under exactly the same sky, always exactly the same day
Other than your not being here, there’s nothing different at all
I just want to smile, want to forget everything
Just like absolutely nothing has happened, smiling to live my days

Miss you, miss you so much, because I miss you so much
Everyday all by myself, calling and calling you
Want to see you, want to see you, because I want to see you so much
Now it’s like I have this habit, keep calling out your name
It’s the same today

I thought I’d let go, not leaving anything behind
No, no, now I still can’t let you go
Miss you, miss you so much, because I miss you so much
Everyday all by myself, calling and calling you

Want to see you, want to see you, because I want to see you so much
Now it’s like I have this habit, keep calling out your name
It’s the same today

Everyday, everyday, it feels like I’m gonna die, what should I do?

Love you, love you, I love you
I hadn’t even spoken the words, I just let you go
Sorry, sorry, do you hear my words
My late confession, can you hear it
I love you

— Jung Yong Hwa ~ Because I Miss You —

 

———————————————–

 

Gimana readers?? Gaje ya gaje! Mianhae, kalo FF ini terkesan ancur dan terburu-buru, maklumlah saya bikinnya tengah malem-_- Biar saya tambah semangat dalam membuat FF dengan pairing yang lebih beragam, saya minta COMMENT dan LIKE nya yaaa! Hayooo, jangan jadi SILENT READERS!😀

17 responses

  1. ah sequel dooonk, msih gantung ni chingu…

    pnasaran ma ap yg trjadi ma hae hyung, sbenerny dy knapa, hyung klo ga mw ma tiffany gw mw kok gantiin lu bwt mushroom hehheeee… #ngayal

    ditunggu sequelny..

  2. kok ceritanya gantung????

    jadi sebenarnya kapan donghae oppa kembali? terus gimana kelanjutan tiffany eonni & donghae oppa????

    bikinin sequelnya donk author.

    masih penasaran tingkat tinggi nih
    *lebay tingkat tinggi

  3. Akhirannya ngegantung banget.___.tapi alurnya kerenn
    Terus aku boleh benerin grammarnya gak? Maaf ya, tapi yang ‘you stolen my first kiss’ itu salah, harusnya ‘you stole my first kiss’🙂

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s