(Freelance) The Real Side Part 1

The Real Side Part 1

Title : The Real Side (Other Side Sequel)
Author : Qey.yeonSone/kikiy
Cast : Still full of SNSD Girls’ Generation member
-and other cast-
Genre : Mystery, fantasy, thriller
Rating : PG-15
Length : Double shot 1/2
Disclaimer : all is mine except the cast!
***

~kupikir cerita ini sudah berakhir. Namun ternyata, semuanya hanya tahap sebelum klimaks yang sesungguhnya~

***

 

Normal PoV

Seorang yeoja tinggi dan muda nampak tengah mendorong sebuah troli kecil berisi beberapa alat medis di sepanjang lorong rumah sakit. Apabila ditilik sepintas dari penampilan yeoja itu, tentu orang akan langsung mengetahui apa profesinya. Ya, seorang suster.
TAP, TAP, TAP. Suara high heels tingginya menggema mantap di penjuru lorong yang nampak lengang itu. Namun suara gema itu tak berlangsung lama, saat suster itu akhirnya menghentikan langkahnya di depan kamar yang berdaun pintu warna putih terang. Suster itu masuk ke dalam kamar itu dengan masih mendorong trolinya dengan setia.

Ia tersenyum manis saat mendapati yeoja mungil tengah tergolek lemah di ranjang kamar itu. Luka-luka berat jelas terpampang di sana-sini. Hanya suara elektrokardiograf yang terus berbunyi menandakan ia masih hidup.

“Annyeong haseyo, agasshi. Achime… Bagaimana kabarmu pagi ini?” sapa suster itu ramah. Namun tak ayal jawaban itu hanya perkataan sepihak yang tidak memperoleh jawaban.

Suster itu lantas mengganti selang infus pasien itu dengan infus yang masih penuh. Ia juga mengambil waslap, menyeka beberapa luka yeoja itu dengan hati-hati. Selesai itu, suster itu kembali tersenyum.

“Josumnida agasshi. Semoga kau lekas sembuh. Annyeong. Sampai bertemu besok…”

Sang suster melirik sekilas papan nama di ujung ranjang pasiennya itu. Ia lantas sedikit tersentak dengan nama yang terlihat tidak asing itu. Kim Taeyeon…

***

Sementara Yeoja yang ada di ranjang itu, terus menutup matanya. Tanpa tahu bagaimana keadaan diluar. Matanya tertutup dengan tenang, tidak menggambarkan kejadian besar yang baru saja ia alami sebelumnya. Luka menganga ada di sekujur tubuhnya. Bahkan kepalanya dililit kain berwarna putih akibat pendarahan di kepalanya.

Tidak ada yang menungguinya disana, selayaknya pasien pada umumnya. Karena orang-orang tidak di kenalnya-lah yang membawanya ke rumah sakit. Namun, kendati demikian, semua orang akan tahu dia adalah Kim Taeyeon. Leader Girls’ Generation. Atau lebih tepatnya ‘mantan’.

Detik demi detik tanpa terasa merubah waktu menjadi hitungan hari. Sudah 10 hari yeoja itu tidak sadar dari komanya. Namun, tepat di hari ke 11-nya, ujung jarinya terlihat sedikit bergerak. Suster yang biasa merawatnya kembali datang untuk mengecek keadaan yeoja itu. Saat suster itu hendak mengganti perban di kepala Taeyeon dengan perban baru, perlahan mata yeoja itu terbuka. Perlahan, perlahan, dan akhirnya terbuka sepenuhnya. Suster itu tersenyum.

“Kau sudah sadar agasshi?” sapanya hangat, seperti hari-hari sebelumnya.
Yeoja yang di sapa hanya diam, menampakkan ekspresi bingungnya. Ia menggerak-gerakan bola dan kelopak matanya. Nampak belum sadar sepenuhnya. Hanya berusaha merekam hal yang menghujam otaknya saat ia terjaga.

“Kau di rumah sakit agasshi-ya.” lanjut suster itu sebelum yeoja itu sempat mengutarakan kebingungannya dengan kata-kata. Sejatinya tidaklah perlu mengutarakannya, karena yeoja itu dengan kentara menggambarkan kebingungan di mata beningnya.

Perlahan, memori yang ada di benak Taeyeon kembali berputar cepat. Mem-flashback memori sebelum pada akhirnya ia ada di rumah sakit. Taeyeon meringis, memegang kepalanya yang terasa berputar hebat seiring dengan berputarnya memorinya. Seolah semua rol film memori gelapnya kembali tersingkap dan langsung memaksakan diri untuk masuk ke dalam otak Taeyeon. Taeyeon berusaha mengabaikan semua itu untuk memfokuskan diri, tapi itu cukup sukar untuk ia lakukan.

“A… Agasshi, kau tidak apa-apa?” ucap sang suster panik, diraihnya bahu Taeyeon yang sedikit terguncang menahan sakit. “Jangan dipaksakan agasshi, beristirahatlah…”

Taeyeon meremas rambut coklatnya. Merasa kepalanya semakin berat. Bibir mungilnya meringis sembari mengeluarkan suara mendesis untuk menahan nyeri yang dideranya. Ingin sekali Taeyeon menangis. Atau mengungkapkan perasaan sakitnya dengan menjerit sekeras-kerasnya. Tapi ia terlalu lemah untuk itu. Taeyeon hanya bisa meringis kecil sembari menggigit bibirnya.

Namun, beberapa detik berlalu, akhirnya perlahan ringisannya berkurang. Cengkraman rambutnyapun mengendur. Keringat sudah mulai membasahi sekujur wajahnya. Nafasnya masih sedikit tersengal, dan ia pun membuka mulutnya sekedar untuk membantu hidungnya yang kewalahan bernapas.

“Kau tidak apa-apa?” bisik suster itu khawatir.
“Aku tidak apa-apa.” balas Taeyeon datar. Kalimat pertama yang bisa terlontar lancar dari bibir Taeyeon.
Hening. Mereka saling diam.
“Ahya agasshi, temanmu sudah siuman beberapa hari lalu…”

Mata Taeyeon membulat. Ia menelan ludah. ‘Jadi ‘dia’ masih hidup?’ bisik Taeyeon di dalam hati.
“T…teman?”
“Ne-yo. Eung~ kalau tidak salah namanya Stephanie Hwang. Dia ada di kamar sebelah. Dia masuk ke rumah sakit bersamamu…..”
Masih banyak penjelasan dari suster itu, namun tidak ditangkap sepenuhnya oleh Taeyeon yang masih membuka separuh mulutnya. Masih terlalu labil otaknya untuk menampung informasi dari suster yang ada di depan Taeyeon.

“Chaka!” tukas Taeyeon, membuat suster itu berhenti bercerita tentang ‘temannya’ itu. “Apa, tidak ada keluarga yang berusaha mencariku?” lanjut Taeyeon. Suster itu terdiam, nampak mengingat-ingat sesuatu.
“Aniya~ kalian berdua datang kemari dibawa oleh pemilik apartement kalian dan penduduk. Mereka bilang kalian berdua jatuh dari jendela apartement kalian.” jelas suster itu.

Taeyeon mendesis kecil sembari memijit pelipisnya.
“Apa… Kami hanya berdua?” tanya Taeyeon lagi.
“Nde, hanya kalian berdua.”

***

Taeyeon PoV

“Apa… Kami hanya berdua?” tanyaku lagi.
“Nde, hanya kalian bedua?”

Mwo? What the? Kemana yang lain bukankah mereka di bunuh di apartement. “Memangnya, tidak ada yang mengecek apartement kami?”

Suster menggeleng “Pemilik apartement bilang, ia sudah kesana, tapi di sana tidak ada siapapun. Jadi ia menduga, mungkin yang lain pergi keluar dan meninggalkan kalian berdua.”

BODOH! Semua orang rupanya sudah bodoh! Mana mungkin begitu. Mereka DIBUNUH! Oleh -entah-siapa- yang sudah merasuki tubuh Miyoung. Apa mereka hendak membiarkan mayat-mayat itu tergeletak di sana hingga membusuk dan menjadi fosil? Aku terlalu lelah menghadapi semuanya. Ingin segera aku mengakhiri semua ini dan hidup dengan tenang setelahnya. Semua orang terlihat bodoh serta semua hal yang ada disini berjalan dan semakin tidak kumengerti.

Aku bangkit, mencabut semua alat yang menempel di tubuhku. Juga selang infus yang ada di pergelangan tanganku dengan kasar, membuat darahku mengucur begitu saja. Aku tidak peduli! Terlalu bodoh mengkhawatirkan hal sesepele itu disaat genting seperti ini. Suster itu tampak kaget. Ia berusaha mencegahku.

“Agasshi, apa yang?”
“AKU MAU BERTEMU PASIEN ITU!”

Entah mengapa, amarahku terasa meledak hanya dalam satu hentakan.

***

Dia…
Miyoung…
Tiffany…
Terbaring lemah sepertiku, keadaannya pun tak jauh sepertiku yang mendapat luka menganga sana-sini. Suster mengehentikan kursi roda yang kududuki tepat di sebelah ranjang Miyoung.

“Dia sedang dibius. Jadi tidak bisa bangun untuk mengobrol denganmu…” bisiknya.

“Ne, arraseo. Kau boleh pergi.”

Setelah yakin pintu itu benar-benar tertutup, aku menarik nafas dalam-dalam. Lalu kembali menatap Tiffany yang tidur tak menyadari keberadaanku disini.

“Miyoungie? Is that you?” bisikku lemah.

Hening… Tentu saja…

“Aku tidak tahu itu kau atau ‘dia’. Tapi aku harap itu kau, dan kau mendengarku.”
kutarik nafasku dalam-dalam.

“Mianhae…”
“Ini semua salahku! Aku yang terlalu bodoh. Aku terlalu lemah. Aku kurang berusaha menjaga kalian semua.” aku berhenti saat kusadari tetes air mata pertama sukses jatuh dari pelupuk mataku. Untuk menghilangkan rasa ‘tercekat’ dalam leherku, aku menghela nafas panjang. Diiringi tangisanku yang tak kunjung usai justru bertambah deras.

“Mianhae Miyoung… maafkan aku…”

Taeyeon Pov end

***

Normal PoV

Pagi hari, seperti biasa. Suster yang nampak sudah tidak asing lagi kembali berkunjung ke kamar Taeyeon dan Tiffany. Di kamar Taeyeon, mereka sedikit bercengkrama. Usai berbenah di kamar Taeyeon, suster itu kembali mendorong trolinya menuju kamar di sebelahnya. Kamar Tiffany…

Di saat suster itu hendak menyapa pasiennya itu seperti yang ia biasa lakukan. Ia tidak menemukan sesuatu yang akan disapanya di kamar itu. Kamar itu kosong! Tidak ada tanda-tanda Tiffany berada di sana. Sang suster panik. Ia berlari ke arah tempat tidur kosong yang nampak bekas ditiduri itu.

“Agasshi? Agasshi?” panggilnya sembari mengedarkan kepalanya ke penjuru kamar.

Tentu saja hasilnya hanya nihil. Tidak ada yang menyahut panggilan itu. Dengan berusaha meredam kepanikannya, suster itu berjalan ke sisi ranjang. Disitu terdapat alat semacam walkie talkie yang memang tersedia di setiap kamar. Perlahan, jemarinya yang bergetar menekan tombol alat itu…

“Ehm. Dokter… P… Pasien ruang 48 menghilang.”

***

Taeyeon meneguk air ludahnya untuk kesekian kalinya saat menyimak apa yang dikatakan susternya.
Tiffany…
Menghilang…

Terlalu sukar untuk mencerna kata-kata yang dilontarkan oleh suster itu. Seolah impuls-impuls saraf Taeyeon sedang enggan berjalan cepat sebagaimana mestinya. Taeyeon hanya menatap kosong pada sang suster. Tanpa makna.

“Eung~ agasshi? Kau mendengarku?” ujar suster tatkala menyadari perkataannya tidak berguna sama sekali.

Taeyeon terlihat kaget. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Ah, ne? Jwesonghamnida. Kepalaku sedikit pening…”

Suster itu tersenyum maklum. Ia menarik mangkuk bubur yang semula digunakannya untuk menyuapi Taeyeon.
“Ah, aku rasa kau perlu istirahat agasshi… Jwesonghamnida bila mengganggumu. Tidurlah… Annyeonghi gyeseyo~” lirih suster itu sembari masih mempertahankan lengkungan manis di bibirnya.

Taeyeon mengangguk kecil. Ditariknya selimut krem yang membalut hanya sebatas pinggangnya. Kini ia tarik hingga sebatas leher. Ia memejamkan matanya. Menikmati keheningan yang menyelimutinya saat itu. Sejenak melupakan kejadian yang menimbulkan traumatis mendalam baginya. Dalam hitungan detik, terasa matanya perih. Di sudut matanya yang masih tetap terpejam, mengalir air bening yang menimbulkan matanya lebih perih.

“Jwesonghamnida… Nan jeongmal baboneun yeoja.” bisiknya sedikit terisak.

Ditemani detak jantungnya… Ditemani bunyi irama jam dinding… Ditemani pula oleh suara hembusan nafasnya… Isakan itu terdengar lebih keras. Ia merasakan dadanya menyusut. Nyeri. Ditekannya dada itu dengan keras.

“Jigeum… Nan manhi appayo…”

***

Taeyeon tidak bisa terlelap. Ia terus saja membuka matanya walaupun terlihat jelas bulan sudah mulai tergelincir. Di balik tirai warna putih yang sedikit melambai karena angin, bulan sedikit mengintip ke kamar Taeyeon. Seolah mengejek Taeyeon karena nasib sialnya. Perasaan Taeyeon campur aduk. Antara sedih, marah, bingung, galau, dan berjuta perasaan lain yang menyertainya. Berkali-kali Taeyeon menghela nafas. Menetralkan detak jantungnya yang seolah hendak kabur *?* dari rongganya.

Taeyeon memicingkan matanya sebentar saat terlintas sebuah ide di benaknya. Taeyeon duduk. Ia menyingkap selimut hangatnya. Membuatnya sedikit menggigil. Dicabutnya selang infus yang ada di tangannya dengan kasar. Membuat darahnya sedikit terciprat mengenai kemeja seragam pasiennya. Dan beberapa tetes lagi jatuh ke lantai membentuk kubangan kecil.

Dengan bergetar menahan sakit. Taeyeon mencoba membuka lemari yang ada di kamarnya. Mencari sesuatu yang bisa menyamarkan tubuhnya. Ya, dia menemukannya. Hoodie abu-abu yang sebelumnya di pakai Taeyeon sebelum akhirnya masuk ke rumah sakit ini. Hoodie itu nampak sudah bersih, meski masih meninggalkan bau anyir dan koyakan kecil disana-sini. Diraihnya hoodie itu dan segera memakainya.

“Tiffany, wait for me…”

***

Stasiun Gangnam nampak lengang, seorang gadis yang tak lain adalah Taeyeon tengah duduk di bangku tunggu menahan rasa nyeri disekujur tubuhnya. Ia tengah menunggu kereta api yang akan membawanya ke Seoul. Taeyeon mendesis kecil, berusaha menahan rasa nyeri juga menahan dingin yang menusuk. Ia menerawang ke atas, memandangi papan besi bertuliskan platform 6 yang sedikit melambai tertimpa angin malam. Tiba-tiba setetes air matanya merembes lancar melalui pipinya.

“Aish…” desisnya sembari mengusap air matanya dengan kasar.

Dimasukannya kedua tangan mungilnya ke dalam saku hoodie. Namun, Taeyeon merasa ada sesuatu benda yang tak sengaja ia sentuh di saku hoodienya. Benda kotak dan sedikit licin permukaannya. Taeyeon mengambilnya dari sakunya. Sedikit terperangah dengan apa yang ia temukan itu. Ponselnya… Itu ponselnya, dalam keadaan mati.

Taeyeon berusaha menghidupkan lagi ponselnya yang nampak sedikit tergores itu. Namun ia merasa sedikit heran, bukankah saat itu ponselnya ada di kamar? Atau tanpa sadar ia membawanya? Ponselnya menyala. Ternyata baterainya masih full. Kembali Taeyeon heran.

Saat ponselnya menampilkan wallpapernya, Taeyeon sedikit tersenyum. Di wallpapernya, ia sengaja memasang foto SNSD saat bersama. Memasang wajah aegyo masing-masing. Tes… Tes… Tes… Air bening jatuh membasahi layar ponsel dari matanya. Dengan cepat, Taeyeon mengelap air yang mengotori layarnya itu.

DRRT… DRRTTT… 1 pesan diterima.
Taeyeon memiringkan kepalanya. Nomor tidak dikenal. Dengan perasaan bingung, ia buka pesan itu.

~kau sudah sadar Taeyeon?
Semoga saja…
Aku tunggu kau di Seoul.
selamatkan orang-orang
terdekatmu di sana, Good Luck😉
from : Your Miyoung~

“Shit!” desis Taeyeon. “Ne! Tunggu aku disana Miyoung!”

***

Taeyeon PoV

“Akh…” aku kembali mengerang kecil saat merasakan rasa nyeri yang menjalar di punggungku. Aku masih ingat perkataan susterku bahwa tulang belakangku mengalami retak salah satunya.

Aku menyandarkan kepalaku ke jendela kereta. Gerbong ini sangat sunyi. Bahkan yang terisi oleh penumpang hanya sekitar 5 bangku saja. Aku memejamkan mataku. Menikmati kesunyian itu. Namun rasa sunyi yang kunikmati terasa sangat menyiksa dengan tubuhku yang tengah terdapat luka sana-sini.

Namun aku tidak peduli. Semua luka di tubuhku tidak sebanding dengan luka disini. Dihatiku… Rasanya sakit sekali. Digores oleh pisau mengerikan bernama ‘dendam’. Dendam? Ya, aku memang dendam. Aku dendam pada siapapun yang menghancurkan So Nyeo Shi Dae. Aku dendam pada Sooyoung yang membunuh Seohyun! Aku dendam pada Hyoyeon yang membunuh Yuri! Aku dendam pada Jessica, Sunny dan Tiffany yang melengkapinya dengan membunuh sisanya! Bahkan aku dendam pada diriku sendiri yang membunuh Sooyoung dan tidak bisa melindungi mereka semua.

Aku menarik nafas. Saat perasaan amarah itu meletup-letup seketika. Kuitari bangku-bangku di sekeliling gerbong ini dengan ekor mataku. Ada beberapa orang yang terlihat memasang wajah ‘biasa’. Ya, kita tidak pernah tau apa yang terjadi pada mereka sebelumnya. Atau yang mereka alami sesungguhnya. Namun saat ini, mereka hanya menampilkan raut ‘biasa’. Sama sepertiku, yang hanya menyikapinya dengan biasa diluar. Meski sebuah kejadian besar sudah terjadi sebelumnya.

“Erngh…” aku kembali mengerang tertahan. Kurasakan kepalaku berdenyut keras. Aku mendesis lalu mengerjapkan kedua mataku. Namun, tidak semakin hilang, justru rasa sakit itu makin terasa menusuk-nusuk kepalaku. Dan kini mulai menjalar ke sekujur tubuhku.

“Uhuk! Uhuk!” aku terbatuk keras.
Kututup mulutku dengan kedua telapak tanganku. Saat kubuka telapak tanganku, kurasakan sesuatu cairan ada di tanganku. Aku membulatkan mataku. Omo~ ini, darah?

Sebelum aku sempat berfikir lebih lanjut, aku kembali terbatuk dan mengeluarkan banyak darah dari mulutku.
Begitupun kepalaku masih tetap terasa berdebum kencang. Keadaan sekitarku mulai berputar dan memburam. Lalu perlahan meninggalkan cahaya dan masuk ke dunia yang sangat gelap.

***

Aku…
Aku bisa bernafas…
Hey? Apa yang terjadi padaku? Aku kembali menarik nafas. Ya, aku bisa bernafas lagi. Setelah sebelumnya merasa sesak. Tapi kenapa rasanya aroma disini familiar sekali? Aku mencoba membuka mataku yang terasa sangat berat. Badanku yang tadinya terasa sakit, bertambah sakit. Semua badanku seakan baru saja mengerjakan pekerjaan berat yang dipaksakan.

Aku mengeliat. Mengangkat tanganku untuk meraba badanku. Eung, aku masih utuh *?*. Aku kembali mengumpulkan kekuatanku untuk membuka kelopak mataku. Aku membuka lebar-lebar mataku. Omo~ kenapa masih tetap gelap? Apa aku benar-benar sudah mati? Aku menarik kakiku untuk menapak ke lantai yang dingin.

Aku bangkit terduduk. Rupanya aku tertidur di kursi? Tapi seingatku kursi kereta tidak seempuk ini? Hey, ini sofa! Dimana aku sebenarnya?

Aku meregangkan tubuhku yang terasa remuk redam. Aku mulai memperhatikan tubuhku. Badanku lengket karena keringat, dan…berbau… amis? Aku bangkit, mengelilingi ruangan yang sangat familiar di mataku. Saat tirai tersingkap, dan membuat keadaan lebih terang, aku terbelalak menatap sekelilingku.

Hey!
Ya!
Omo!
Ini kan!
Ruangan Soo Man Ahjusshi!
Sedang apa aku disini? Dan dengan apa aku sampai ke sini? Bukankah sebelumnya aku pingsan di kereta?

Aku berjalan mengitari ruangan ini. Namun tak berlangsung lama, kepalaku terasa berdenyut dengan keras. Meremas-remas kepalaku. Membuatku sangat pening. Aku mengerang perlahan. Kuremas kepalaku dengan keras. Berharap bisa meredam nyeri di kepalaku. Dan agaknya itu berhasil. Kepalaku sedikit lebih ringan dan rasa nyeri itu berangsur menguap entah kemana.

Aku berusaha menajamkan indra penglihatanku. Menangkap setiap sudut ruangan dengan mataku. Karena mungkin aku bisa menemukan sesuatu disini. Ruangan Soo Man ahjussi cukup luas. Bahkan mencakup kolam kecil di tengah-tengahnya. Juga ruang meeting yang ada di sebelah ruang kerja pribadinya. Ruang meeting itu dibatasi oleh penyekat kaca. Aku sendiri sekarang sudah ada di ruang meeting itu.

Kenapa bisa segelap ini? Padahal biasanya SMent building selalu terang benderang meskipun malam. Dan oh, jam berapa sekarang? Aku menengadahkan kepalaku ke atas dinding. Mencari-cari jam yang biasanya tertempel manis di sudut tembok. Pukul 04.00?? Berapa lama aku disini? Dan siapa yang membawaku kemari? Bukankah beberapa waktu lalu aku berangkat dari Gangnam sekitar tengah malam. Dan seingatku jarak antara Seoul dan Gangnam tidak terlalu memakan waktu lama.

Aku berjalan ke ruang kerja Soo Man ahjussi. Ya, mungkin saja dia ada disana. Sedang duduk tenang menikmati kegelapan sembari menyesap American Coffee kegemarannya. Ah, sejak kapan aku pandai berandai-andai seperti ini?

Tanpa ragu, aku melewati sekat kaca dan kini sudah mulai masuk ke wilayah ruang kerja Soo Man ahjussi. Aku mencoba menajamkan pandanganku ke arah kursi dan meja direktur yang ada di ujung ruangan besar itu. Mmm… Memang sepertinya ada seseorang yang duduk disana. Tirai kembali tersingkap, cahaya yang berasal dari lampu-lampu gedung di luar sedikit masuk menimpa ruangan itu. Memang ada orang duduk menelungkup disitu. Mungkin Soo Man ahjussi ketiduran karena terlalu lelah dengan pekerjaannya. Sedikit perasaan lega menyelimutiku. Menyadari bahwa ada ‘teman’ yang membuatku tidak merasa sendiri lagi.

“Soo Man ahjussi? Kau kah itu?” lirihku memastikan.

Sing…
Hening. Ia tidak menjawab. Jadi kemungkinan besar dugaanku tidak meleset. Ia memang tertidur. Aku mendekat ke mejanya. Berjalan mengitari meja lalu berdiri di sebelah kursi Soo Man ahjussi. Dengan sedikit rasa ragu yang membubuhi hatiku, aku mencoba untuk mengguncang bahu Soo Man ahjussi.

“Soo Man ahjusshi?” Lirihku. Ah, bahkan kerongkonganku rasanya tercekat karena efek kepercayaan diriku yang mulai memudar.

“Ahjusshi?” bisikku lagi. Masih bisikan, tapi setidaknya lebih keras dari yang pertama.

Aku menarik kembali tanganku dari bahu Soo Man ahjusshi. Ini aneh. Ahjusshi tidak bangun. Kejadian ini kembali mengingatkanku pada kejadian Tiffany. Saat masih di apartement itu. Tiffany tidak bangun kendati sudah kubangunkan. Haah~ lupakan masa lalu itu dan kembali fokus dengan apa yang ada di sini Taeyeon!

Aku kembali menundukkan kepalaku setelah sebelumnya mendongkak seolah menerawang memoriku. Menatap Soo Man ahjusshi yang terkulai lemah di mejanya. Sebaiknya aku mengguncang badannya lebih keras lagi. Aku kembali menjulurkan kedua tanganku ke bahu Soo Man ahjusshi. Lalu mengguncangnya keras. Bentuk pelampiasanku terhadap pikiranku yang terasa frustasi.

“Ahjusshi?” ujarku tertegun saat kepala ahjusshi nampak bergerak cepat menjadi mendongkak. Tapi ditilik sekilas, gerakannya terlihat tidak begitu alamiah. Kepalanya tersingkap begitu saja. Aku masih tidak bisa melihat ahjusshi dengan jelas karena keadaan yang gelap gulita.

Entah sejak kapan, hujan deras mengguyur diluar sana. Sejenak aku memalingkan wajahku dari Soo Man ahjusshi. Menunda aktifitasku. Menoleh pada hujan di balik kaca yang berbingkai besar. Air hujan merembes diantara kaca. Membentuk pola garis meliuk-liuk.

CTAR!! Petir keras menyambar mengiringi hujan yang semakin deras. Aku menutup mata, juga telingaku dengan kedua tangan. Ya Tuhan, keadaan sekarang jauh lebih menegangkan dari adegan di film-film action yang pernah kutonton. Aku menggigit bibir. Lebih baik aku segera membangunkan Soo Man ahjusshi lalu cepat pergi dari sini.

Aku berbalik dan bersiap untuk membangunkan kerbau tua satu ini.*?*
CTAR! Tepat di saat aku menempelkan tanganku di bahu Soo Man ahjusshi, lantas petir kembali menyambar. Membuat keadaan sekitar sejenak terang. Aku tercekat, lalu berjalan mundur. A… Aku? Tidak salah lihat kan? Soo Man ahjusshi? Ada apa dengan wajahnya? Ah, tidak! Hal tak berbentuk itu tidak layak kusebut wajah lagi. Kurasakan hawa di sekitarku mulai dingin. Yang jelas bukan dingin dikarenakan hujan diluar. Melainkan karena Soo Man ahjusshi. Apa harus kutambahkan satu kata lagi di depannya? Mayat Soo Man ahjusshi?

Aku menggigit bibir keras. Menahan gemerutuk gigiku. Hingga aku merasakan rasa asin dari darahku sendiri merembes disela-sela gigi dan lidahku karena terlalu keras menggigit bibirku. Jangan! Jangan! Jangan hal semacam itu lagi!
Cukup! Cukup semua dongsaeng-ku terbunuh! Apa aku harus kembali menyaksikan hal-hal berdarah lain terjadi oleh orang-orang yang kusayangi yang lain?

Kau sendiri yang membunuhnya Taeyeon.

Aku merasakan tubuhku bergetar hebat. Mendengar suara mengerikan itu bergaung di kepalaku. Tidak! Bukan aku yang membunuhnya! Aku terjatuh lemas sembari menarik rambutku frustasi. Ini bukan perbuatanku! Aku tidak tahu apa-apa! Ini bukan salahku!

Tidak! Ini salahmu… Kau membunuhnya.

Aku mendongkak. Mencari orang yang menyuarakan kalimat itu. Demi apa, baru sekali ini aku sangat ingin menghajar orang. Dan orang itu adalah orang yang kini tengah berbicara entah dimana itu.

“YA! Siapa kau? Tahu apa kau tentang masalahku, huh?” pekikku keras. Menyeruakkan emosi dan rasa frustasiku.

Hahahahaha……
Suara itu justru tertawa seolah mengejekku. Sial! Aku bangkit. Lalu menyisiri setiap sudut ruangan dengan mataku.

“Aku disini, Taeyeon.” sahut orang itu dengan suara rendah. Suara itu? Sangat familiar di telingaku.

Aku menoleh ke arah suara rendah itu. Mendapati benda datar dan mengkilap disana. DEG!
Itu? Kurasakan kepalaku sedikit berputar. Membuat tubuhku oleng dan terhuyung ke belakang saat menyadari benda terkutuk yang kini amat sangat kubenci. Ya! Cermin. Benda manis yang menyimpan sejuta kenangan buruk bagiku.

Aku menggelengkan kepalaku keras. Menghilangkan rasa pening di kepalaku. Dan kembali memfokuskan dengan cermin di depanku. Apakah… Kejadian seperti waktu di apartement itu akan kembali terulang disini?

DRRSSS… Hujan bertambah deras di luar gedung. CTAR! Sekali lagi petir menyambar. Dan saat itu bayanganku bisa kutangkap dengan mata dicermin. Bahwa bayanganku tengah tersenyum licik. Itu bukan aku! Kini aku tidak tengah tersenyum seperti itu!

Entah apa yang mendorongku, aku melangkah mendekat ke cermin panjang yang tertempel di salah satu sisi tembok di ruangan Soo Man ahjussi.

Aku menatap bayanganku yang kini tinggal berjarak setengah meter di depanku itu. Ah tidak, tidak ada yang aneh. Bayangan itu adalah aku. Atau mungkin tadi hanya halusinasiku saja-kah? Efek dari kefrustasianku? Agaknya kepalaku sudah sedikit terganggu, menyebabkan mataku mengalami fatamorgana bahkan saat aku sedang tidak di gurun pasir.

“Kau tidak sedang berkhayal Taeyeon.” ujar bayanganku dibalik cermin. Sontak badanku tergetar hebat. Hingga menyebabkan tubuhku merosot ke lantai. Bahkan rasanya seluruh tubuhku lemas, juga tulang-tulangku terasa luruh dan tidak mampu menopang tubuhku.

Apa?
Apa?
Apa yang terjadi dengan bayanganku? Ini sama persis dengan kejadian Tiffany dan Jessica. Apa ini juga terjadi padaku sekarang? Bayanganku disana tersenyum. Padahal jelas-jelas AKU SEDANG TIDAK TERSENYUM! Senyum ringan yang terasa sangat mengerikan dan menusuk. Senyum termengerikan yang pernah kulihat. Senyum seorang pembunuh, ah tidak senyum seorang psikopat!

“Siapa kau?” bisikku lemah.

“Aku adalah kau…” jawab bayanganku.

“Aku tanya siapa kau?” kurasakan nada bicaraku mulai meninggi.

“Aku?? Kau…”

“SIAPA KAU SEBENARNYA!” teriakku di depan kaca. Jika keadaan normal, mungkin aku disangka orang gila karena berbicara dengan bayanganku sendiri.

“AKU ADALAH KIM TAEYEON! AKU ADALAH KAU!” bentak bayanganku lebih tajam. Ia tersenyum sinis menyadari ekspresi ketakutanku. “Aku adalah kau! Kim Taeyeon yang membunuh Soo Man ahjussi. Juga semua orang yang ada di gedung ini!” lanjutnya. Tiga kalimat yang membuat tubuhku semakin lemas.

Aku menggeleng keras.
“Tidak! Bukan! Bukan aku! Kau PEMBOHONG! Ini bukan salahku dan aku tidak pernah terlibat dalam pembunuhan manapun!” sangkalku.

“Bodoh! Kau tidak lihat keadaanmu! Lihatlah tubuhmu yang penuh darah itu! Setiap orang yang melihatmu pasti mereka akan mengira kaulah yang bertanggung jawab atas kekacauan ini!”

Aku terkesiap. Melihat keadaanku -yang baru kusadari-. Bajuku sudah berlumuran darah segar. Begitupun wajah dan tanganku. Terkena cipratan darah segar yeng nampak sudah mengering. Kendati keadaan gelap aku masih bisa melihat kondisiku yang hancur ini, dan itu sukses membuatku bertambah frustasi. Bahwa aku sudah tidak lagi memiliki alibi untuk menyangkal. Tapi hatiku masih sepenuhnya ragu. Meski tidak memiliki bukti. Aku yakin aku tidak melakukan apapun disini.

“Tidak! Aku adalah korban disini! Aku bukan tersangka!” elakku lagi.

Bayanganku terkekeh pelan.
“Baiklah jika kau tidak mempercayainya.” bisiknya dengan nada mengancam. Seolah ucapannya adalah pedang yang mulai merobek keyakinan dan kepercayaan diriku.

Seperti rol film -lagi-lagi-. Seolah aku mengalami sebuah Deja Vu. Sebuah cahaya menyilaukan dengan cepat membuyarkan pandanganku. Dan keadaan sekitar seolah bukan lagi ruangan Soo Man ahjussi. Dan dihadapanku tidak ada lagi cermin + bayangan sialan itu. Seolah cahaya itu membawaku cepat ke dimensi lain untuk bersiap menonton film *?*.

Potongan-potongan rekaman hitam putih kini mulai berputar menayangkan sebuah film entah apa. Disana ada ruangan sangat luas menyerupai lobby dan front desk receptionist khas lantai dasar perusahaan. Hey! Ini lobby SMent! Ada seorang gadis berhoodie berjalan terhuyung seperti sedang mabuk ke arah front desk. Suasana terlihat lengang saat itu. Di front desk ada dua orang receptionist muda. Aku mengenal dua orang itu Park Yeon Ra eonnie dan Shin Rae Hwa eonnie. Dua receptionist ramah favoriteku.

Gadis itu membuka krudung topi hoodienya. Menyembulkan kepala dengan rambut coklat muda pendek. I… Itu? Seperti rambutku?

Dua receptionist nampak terkejut. Seolah itu benar-benar film, kamera seolah men-shoot wajah gadis itu. Aku memekik tertahan, karena buru-buru kututup dengan kedua tanganku. Tepat, gadis itu adalah aku. Terlihat kacau. Bibirku terlihat bekas noda darah. Ah benar, sebelum itu aku muntah darah di kereta.

Yeon Ra eonnie menghampiriku -yang di film-. Lalu mengguncang bahuku. Mulutnya seperti mengucapkan ‘kau tidak apa-apa?’. Aku rasa film ini tidak mengeluarkan suara. Sedangkan aku yang ada di film hanya menunduk menatap lantai dengan kosong.

Yeon Ra eonnie memanggil Rae Hwa eonnie untuk mendekat. Mungkin membantuku menyadarkanku dari lamunan. Rae Hwa eonnie mendekat, lalu memegang bahuku yang lain. Dilihat dari ekspresi mereka, mereka seperti sangat mencemaskan kondisi naas-ku.

Tiba-tiba, aku mendongkak. Dengan gerakan sangat cepat aku mengeluarkan sesuatu dari saku hoodie. Benda berwarna hitam. Pistol. Hey! Sejak kapan aku mengantongi benda itu? Seingatku aku tidak membawanya.

Kembali ke cerita. Aku menodongkan pistol ke arah Yeon Ra eonnie dan Rae Hwa eonnie. Aku cukup bisa menebak kejadian selanjutnya. Seolah aku adalah seorang penembak jitu, aku menembak kedua gadis itu tepat di dahinya, hingga dahinya berlubang. Kedua receptionist malang itu tumbang ke lantai. Sedangkan aku hanya menatapnya kosong seolah tidak pernah melakukan apapun.

Aku menggigit bibir bawahku. Demi Tuhan, aku tidak pernah dan tidak ingat pernah melakukan hal sekeji itu.

Kini, kamera men-shoot sudut lain. Dari arah pintu, kulihat seorang gadis berambut hitam panjang mendekat ke arahku dan dua mayat itu. Gadis itu memakai topi hitam. Ia membuka topinya saat ia ada di dekatku yang masih terpaku menatap mayat dengan hampa. Gadis bertopi itu… Ya Tuhan!? Tiffany! Dia ada disini! Sedekat itu denganku!

Tiffany tersenyum puas. Ia mengacak rambutku seolah berkata ‘Good job Taeng.’ Ia mengambil sesuatu dari tasnya. Benda pipih berkilat. Pisau besar. Lalu menyodorkan padaku. Ia mengambil pistol yang ada di tanganku.

Lalu menyuruhku pergi. Seolah aku adalah orang tolol, aku hanya mengangguk kecil lalu berlari menjauh.

Dan adegan selanjutnya, bertubi-tubi adegan berdarah dipertontonkan padaku. Setiap staff, kru atau bahkan CEO dan artis yang ada di hadapanku tak luput dari seranganku. Berkali-kali aku menutup mata tidak sanggup melihat kekejian seorang Kim Taeyeon disana. Jika tadi aku merasa lemah sekarang aku merasa berjuta-juta kali lebih lemah menyadari bahwa aku adalah seorang pembunuh.

Aku menusuk, memotong, bahkan mencabik-cabik orang-orang yang ada dihadapanku. Lalu meninggalkannya seolah tidak terjadi apapun. Aku bahkan ingin muntah melihatnya. Tapi kenapa saat itu aku tidak menyadari perilaku itu?

Tidak! Aku yakin aku tengah dirasuki makhluk entah siapa yang juga merasuki Miyoung dan Jessica! Bukankah dia pernah bilang bisa merasuki beberapa orang sekaligus? Oh great! Itu memang bukan aku!

Kini aku merasa kesulitan bernafas. Sungguh, ini jauh lebih menyesakkan daripada saat menyaksikan Hyoyeon, Yoona dan Jessica yang di eksekusi di depan mataku. Yang kulihat saat ini jauh berkali lipat lebih sadis dan dilakukan pada banyak orang. Oh! Dan lihat itu sekarang aku tengah berusaha menarik usus Yesung Oppa *?*. CUKUP! HENTIKAN semua ini! Ini pembodohan yang sudah keterlaluan!

“Tidaaak! HENTIKAAAAN! HENTIKAAAAAAAAN….. KYAAAAAA…………” Aku berteriak panjang, lalu menampar-nampar ruang hampa di depanku. Menghentikan film konyol sialan itu.

“Kenapa? Apa kau tidak kuat melihatnya? Padahal kau sendiri yang melakukannya.” deru suara menjengkelkan itu dengan nada polos yang dibuat-buat.

Aku membuka mataku perlahan. Berharap mendapati aku tengah berada di ruangan Soo Man ahjusshi lagi. Dan itu terwujud. Aku memang ada di sana. Dan kembali mendapati bayangan sialan itu tengah melipat tangannya dan menatapku dengan simpati.

“Bahkan kau membunuh beberapa anggota Super Junior.” cibir bayangan itu.

Aku mengepalkan tanganku kuat. Untuk pertama kalinya aku marah pada diriku sendiri. Marah pada diriku yang membunuh tanpa belas kasihan seperti tadi dan marah pada bayangan diriku yang sepertinya sudah kehilangan kewarasannya. Tapi tunggu, apa yang ia katakan tadi? Aku membunuh member Super Junior? Lalu kemana Leeteuk Oppa? Apa… Dia juga kubunuh dengan sadis seperti tadi? Seingatku yang kulihat tadi baru Ryeowook Oppa, Eunhyuk Oppa dan Yesung Oppa. Setelah itu aku berteriak meminta untuk menyudahinya. Saat itu juga dadaku disergap oleh perasaan ketakutan yang luar biasa. Leeteuk Oppa? Tidak! Jangan dia… Lebih baik aku sendiri yang mati memutilasi diri sendiri daripada Leeteuk Oppa yang mati ditanganku.

Kuberanikan diriku untuk bertanya.
“D… Dimana Leeteuk Oppa?” sendatku.

Bayangan itu mengangkat bahu.
“Mungkin sudah kau makan dagingnya. Hahaha…” bayangan itu tertawa mengejekku. Aku semakin mengepalkan tanganku. Cukup sudah! Kubunuh kau bayangan keparat!

PRAKK!!
Tawa itu terhenti. Dan kurasakan kulit di buku-buku jariku terkoyak. Menampilkan darah segar dan tulang yang sedikit mencuat. Jariku terasa sangat nyeri dan juga berdenyut keras. Aku tidak perduli. Aku merasa puas!! Setidaknya perasaan ini terbayarkan karena aku berhasil mengenyahkannya. Aku berhasil meninju kaca itu… Dan membuatnya porak-poranda.

***
END of Part 1
***

hohoho~ saia tahu~ yang terakhir2 itu bahasa agak belibet. Ya emang gitu, soalnya saia ngerjainnya jam setengah 12 malem *lirikjam*. Jadi agak2 error. Sesuatu. =..=
oia, apa itu sudah agak panjang?? Soalnya biasanya pada komplain kependekan, hihi~ saia nyadar kok.

Haha~ yang masih hidup adalah Taeyeon dan Tiffany. My TaeNy :*
oia, kalo semisal ada yang kurang ngeh sama sesuatu yang ada di atas. Silahkan komen dan tanyakan saja. Mwohohoho~
oia, yang seumuran ma saia dan lebih tua dari saia panggil aja kikiy *15 y.o*. Yang lebih muda silahkan panggil eonnie, kakak ato apalah terserah. Mau manggil saia Taeyeon juga boleh *plak!*. Kalo dipanggil author kok kayak formal banget

dan~ jujur saia belum tau ntar mau happy end ato sad, tapi saia udah ada bayangan… nah~ silahkan komen dengan kasih pilihan mau happy ato sad,
Keep RCL~

16 responses

  1. daebak! keren banget sequelnya suka suka (: chinguu, kalo bisa happy anding ya, aku krang suka ff yg sad end #curhat :p trus endingnya sama leeteuk oppa ya :)) lanjuuut

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s