Love Or Not?! – Onew Tiffany [ONESHOOT]

Annyeong! aku balik nih bawa ff pairing SHINee-Generation lagi kayak sebelumnyaa😀

Dibaca yaww

 

Author : Kim Hyora
Tittle : Love or Not?
Cast : Tiffany Hwang (SNSD), Lee Jinki/Onew (SHINee)
Cameo : Park Bom (2NE1)
Rating : PG 17+
Genre : Romance, Comedy
Summary : Jadi sebenarnya kau tertarik padaku tidak?!
Disclaimer : Onew-Tiffany punya author, jalan cerita punya author dan komik(?) xD
Length : Oneshoot

***

Love or Not?
SHINeeGeneration
-Onew&Tiffany-

Aku membolak-balikkan handphone milik Onew dengan perasaan bingung. Dimana dia menyimpannya? Kenapa tidak ada sama sekali? Atau jangan-jangan dia tidak memasangnya?

” Apa yang kau cari di handphone-ku?” tanya Onew dingin. Aku menoleh.

” Dimana kau memasanganya?” tanyaku kembali. Onew mengangkat satu alisnya.

” Pasang apa?”

” Foto stiker yang kita buat waktu itu!” jawabku setengah kesal, ” Aku saja memasangnya di handphone-ku kok!” aku menyodorkan handphone-ku yang ada tempelan stiker foto kamu berdua. Terlihat Onew yang menghadap ke samping dan aku yang tersenyum menunjukkan eye-smile ku.

” Memang biasanya orang-orang tidak memasangnya kan? Lagipula aku bukan anak SMA yang suka menempel-nempel foto seperti itu.” kata Onew dingin.

JLEB! Aku terdiam sebentar. Lalu…

” PASANG KOK!” teriakku refleks. ” SMA atau bukan SMA itu tidak ada hubungannya!” kataku dengan kesal, ” Lagipula kan kalau begini aku jadi bisa melihat wajah oppa kapan saja.”

” Cih,” Onew berdecak sambil memegangi lehernya. Aku menatapnya. ” Kau bisa ya bilang begitu.”

” Eh?”

Tiba-tiba Onew membalikkan tubuhnya jadi membelakangiku. Dia tetap memegangi lehernya. Aku tersenyum licik.

” Jangan-jangan kau malu ya?” godaku.

” Tidak.”

” Ah, kau malu kaan?” aku mendekatinya.

” Tidak!”

” Bohong! Kalau memang tidak malu lihat sini dong!” aku membalikkan kepala Onew dan segera melihat wajahnya yang memerah. Aku tersenyum senang.

” SUDAH KUBILANG AKU TIDAK MALU!” bentaknya padaku. Aku tercengang. Meski bukan yang pertama kalinya aku dibentak begini, tapi aku masih suka kaget. Bisa-bisanya namja ini tidak sopan terhadap yeoja. ” Sudahlah, ayo kita pulang saja.”

Aku mengangguk. Sudah hampir satu bulan aku dan Onew berpacaran. Aku murid kelas 2 SMA dan dia adalah mahasiswa semester 3. Sebenarnya banyak hal yang tidak dimengerti olehku yang masih SMA ini.

Karena Onew dingin dan sangat dewasa, aku ingin dia menceritakan padaku apa yang ia rasakan dan apa yang ia pikirkan. Walaupun aku masih SMA, tapi kan aku bisa berusaha untuk memahami apa yang namjachinguku alami.

Tak terasa, aku dan Onew berjalan sudah hampir dekat dengan rumahku. Aku menatapnya sebentar, dan baru sadar kalau selama perjalanan kami hanya diam tanpa mengeluarkan suara apapun. Biasanya memang aku yang paling cerewet.

” Gomawo sudah mengantarku pulang. Maaf, oppa jadi harus pulang malam gara-gara aku.” kataku lesu.

” Gwenchana, aku kan tidak mungkin membiarkan gadis sepertimu pulang sendirian malam-malam begini.” katanya. Sesungguhnya dia itu baik sekali. Dia masih ingin menemani aku membuat foto stiker, padahal aku tahu dia tidak mau. ” Lagipula aku suka jalan kaki.” katanya lagi. Aku terdiam, dia tidak pernah mengatakan bahwa ‘Ini demi Fany’.

Aku menatap ke matanya, tapi dia malah menghindar dariku mataku. Aku menghela napas, juga saat dia pamit pulang padaku. Dia tak mau melihatku sama sekali. Dan saat dia mengatakan ‘sampai jumpa’, hatiku terasa nyeri. Aku menurunkan tanganku yang tadi melambai padanya, lalu memegang bibirku. Dia sama sekali tidak menciumku.

” Aaahh!!!” teriakku ketika aku masuk kamar dan menelungkup di kasurku. Memeluk bantal dan kemudian berbaring telentang, menatap langit-langit kamarku dan mulai bergumam, ” Onew oppa sebenarnya suka atau tidak sih padaku?”

Selama ini aku selalu berpikir bahwa dia tidak membenciku. Karena dia mau berpacaran denganku, mau mengantarku pulang dan selalu mengucapkan sampai jumpa. Tapi, aku ingin dicium olehnya, aku ingen dipeluk dengan erat, aku ingin disentuh olehnya dan aku ingin menyentuhnya.

Apa Onew juga berpikir hal yang sama denganku? Kok aku merasa kalau hanya aku ya, yang memikirkan dia? Padahal dulu, dia mau melihatku saja sudah senang. Tapi sekarang aku jadi menginginkan lebih dan lebih. Wajarkah perasaanku?

***

~Flashback

” Oke, kerjakan halaman ini dalam waktu 15 menit. Tidak boleh lebih dari 15 menit atau akan kutambah soalnya.” Onew oppa berkata dengan kejam. Aku membelalakkan mataku.

” Yang benar saja! Soal sebanyak ini?” protesku melihat buku tebal yang ada di depan mataku ini. Satu soal 3 menit? Ini susah.

” Sudahlah, cepat kerjakan, waktumu berkurang satu menit!” Mwo?! Jahat dasar! Kejam, monster! Ujarku dalam hati.

Onew oppa datang sebagai guru les privat untukku. Dia sangat dingin dan kejam. Aku membencinya. Meski begitu…

” Oppa, kau itu tampan ya.” komentarku suatu saat. Namun dia diam saja. ” Oppa, pasti di kampus, banyak sekali yang suka padamu. Iya kan?” dia masih diam. Tapi kemudian..

” Kalau kau punya waktu untuk bermain-main, sini kutambah saja soalnya!”

” Aish, aku suka sama oppa! Makanya baik-baik dong sama aku!”

PLAK! PLAK!

Onew oppa malah memukul kepalaku dengan penggaris lunak yang elastis. Tidak sakit sih, tapi aku jadi sebal. Kenapa sih dia sangat kejam seperti ini?

” Sudahlah, jangan bicara yang tidak perlu! Cepat kerjakan!” begitu katanya, ” Nanti waktu istirahatmu terbuang percuma.”

Akupun langsung mengambil alat tulisku dan segera menulis jawaban.

” Fany, dasar kau ini.” ucapnya sambil menopang dagu. Aku menatapnya. Sepertinya wajahnya memerah, atau hanya perasaanku saja? ” Mudah sekali bilang begitu.”

DEG! Benarkah dia malu? Wajahnya memerah? M..mwo?! Kenapa imut sekali? Gyaaa!! Dia malu padahal dia lebih tua beberapa tahun dari aku!

Sejak saat itu, aku jadi ingin selalu melihat wajahnya ketika ia malu. Hanya itu yang aku pikirkan tanpa memikirkan bahwa aku bisa saja benar-benar jatuh cinta padanya. Sampai saat pekerjaannya sebagai guru private berakhir…

” Semuanya benar, kau sudah berusaha dengan keras Fany-ah.”

Dia tersenyum dan saat itu aku sadar bahwa aku benar-benar jatuh cinta padanya. Jadi aku berpikir untuk melakukannya. Tak peduli apakah aku akan ditolak atau tidak. Kalaupun ditolak, setidaknya aku sudah berusaha. Toh, setelah dia tidak mengajar lagi, kami takkan bertemu lagi kan?

” A, aku suka oppa. Maukah oppa menjadi pacarku?” kataku sambil menunduk. Aku malu.

” Sudah tak ada gunanya lagi kau merayu Fany-ah. Meskipun dari awal juga tak ada gunanya.”

” Aku sedang tidak bercanda oppa.”

Entah kenapa, saat menyatakan rasa suka dengan benar dan dari hati yang paling dalam, rasanya aku ingin menangis. Atau bahkan aku sudah menangis?

” Sudah, hapus air matamu. Aku mau menjadi namjachingumu.”

~Flashback end

***

” Mwo?! Sudah hampir satu bulan pacaran, kau belum pernah berciuman dengannya?” tanya Bom sedikit kaget.

Aku mengangguk saja. ” Mungkin saat menerimaku, Onew oppa tidak begitu menyukaiku.”

Bom menggeleng. ” Aniyo! Tidak mungkin menerima kalau dia tidak suka padamu, Fany-ah! Kau harus berpikir positif dong!”

” Aku bukan kau yang bisa semudah itu berpikir positif, Bom. Padahal kau sudah berkali-kali kan disakiti oleh Jiyong? Diselingkuhi tapi masih saja menyukai Jiyong.” ejekku. Bom menghela napas kesal.

” Kalau begitu kau terus terang saja padanya kalau kau ingin dicium.” usul Bom.

” Aku tidak mau kalau aku terus yang bilang ingin begini ingin begitu, Bom!” jeritku pelan, lalu menelungkupkan kepalaku dimeja. ” Aku juga ingin dia merasakan hal yang sama denganku. Berpikir sama bahwa dia ingin menciumku. Atau setidaknya dia ingin menyentuhku. Memelukku.”

” Yasudah, buat dia jadi merasa ingin menciummu dong!”

Dan akhirnya, hari sabtu siang, aku mengajak Onew oppa untuk menonton bersama dan berjalan-jalan ditengah ramainya kota Seoul. Aku memakai hotpants yang pendeknya lumayan jauh di atas lutut, juga memakai dress ‘you can see’. Rambutku aku tata jadi sedemikian rupa agar Onew oppa melihatku.

” Mudah-mudahan Onew oppa menganggap aku manis.”

Tak lama aku menunggu, tiba-tiba ada suara yang memanggilku.

” Tiffany?”

Aku menoleh ke belakang dan mendapati wajahnya amat sangat dingin. Aku jadi seram dengan tingkahnya dia yang begitu dingin terhadap yeoja seperti aku yang sudah berusaha untuk menjadi manis di depannya. Kadang-kadang aku berpikir, jangan-jangan dia adalah homoseksual?

” Kenapa bengong begitu? Ayo cepat masuk. Sebentar lagi filmnya mau mulai.” ajak Onew tanpa melihat menggandeng-ku untuk masuk. Ada yang salah denganku? Sehingga melihatku saja sepertinya dia enggan.

Di dalam, saat film tengah berjalan, aku mencoba untuk mendekatkan tanganku ke tangannya. Aku ingin tahu bagaimana dia bereaksi, apakah dia akan menyentuh tanganku atau dia malah menghindar?

SRAK!

Dia menghindari tanganku dan memasukkan tangannya ke kantung popcorn dan memakan popcorn itu dengan cepat. Bencikah dia padaku sampai tidak ingin menyentuhku sama sekali?

Saat film sudah berakhir dan kami sudah keluar dari bioskop, aku segera menyadari betapa panasnya hari ini. Aku memandang Onew yang berjalan mendahului aku. Padahal aku sudah berdandan semanis ini.

” Oppa, tunggu aku!” teriakku sedikit berlari. Aku berhasil mengejarnya, tapi kakiku terantuk batu dan hampir saja aku terjatuh kalau Onew tidak menahanku.

DEG!

Dia menyentuhku. Rasanya, rasanya. Ya Tuhan! Dia menyentuhku!!

” Hati-hati di tempat seramai ini, Fany-ah.” katanya tetap dingin dan melepas rangkulannya. Ternyata memang benar. Hanya aku yang merasakan perasaan itu. Hanya aku.

Karena ingin tahu apa yang ada dipikiran Onew. Karena aku ingin Onew melihatku meski sekali. Karena ingin Onew merasakan hal yang sama. Aku jadi berputar-putar sendiri tanpa hasil. Seperti orang bodoh saja dan kini aku sudah tidak tahan lagi.

” YA! Apa oppa tidak merasakan hal yang sama denganku?! Apa oppa tidak merasa ingin menyentuhku?! Apa oppa tau, aku berusaha tampil feminin hanya agar oppa menganggapku manis. Tapi kenapa oppa sama sekali tidak merasakannya?!” jeritku. Tak peduli semua orang disekitar kami mulai memperhatikan.

Onew menoleh dan aku melanjutkan ucapanku saat itu juga, ” Padahal saat oppa menyentuhku seperti tadi, aku sudah sangat berdebar-debar. Aku pikir oppa akan menjagaku, memelukku.”

Onew membekap mulutku, aku jadi susah untuk berbicara.

” YA! Kau bicara apa Fany-ah?!”

Aku melepaskan tangannya dari mulutku.

” Habis aku selalu ingin disentuh olehmu. Aku selalu memikirkan kapan kau akan menciumku? Sekarang aku sudah tidak bisa berhenti, GYAAA!!!”

Onew menggendongku dan segera berlari cepat meninggalkan tempat yang sudah mulai ramai karena tertarik ingin melihat pertunjukkan yang seharusnya memalukan. Yeah, memang memalukan sih, tapi demi Onew mengetahui perasaanku yang sesungguhnya? Apa boleh buat. Ya kan?

Sesampainya di tempat yang sepi, aku segera berontak.

” YA! Lepaskan aku! Lepaskan!”

” Jangan berontak! Bahaya!” larangnya.

” Biar saja! Memang apa pedulimu?! Kau memang tidak tertarik padaku kan?!” teriakku makin menggila.

” Kau ini daritadi bicara apa sih!”

Aku tak peduli pada ucapannya, aku menendang-nendang udara dan menggerak-gerakkan tubuhku dengan kasar. Walhasil, Onew kehilangan keseimbangan dan menjatuhkan aku yang juga tanpa sengaja menjatuhkan Handphone-nya sehingga tutup baterainya terbuka. Aku terdiam, melihat pemandangan di dalam tutup baterai itu. Sebuah hal yang ingin aku lihat sejak awal cerita ini dimulai.

” Ke, kenapa? Kenapa oppa memasangnya di belakang tutup baterai ini?” tanyaku sambil memegang tutup baterai itu.

” Kau kan tanya, kenapa aku tidak memasangnya. Jadi kupasang saja disana.” jawabnya sambil memegang tengkuk lehernya.

” Wae? Bukankah kau tidak tertarik padaku?!” ketusku.

” Siapa yang bilang aku tidak tertarik?” dia membelakangi aku. ” Aku juga ingin menyentuhmu tahu! Aku juga ingin menciummu! Tapi karena Fany langsung…”

” Langsung apa?!” tanyaku tak sabar. Onew melirikku.

” Makanya, jangan lihat aku seperti itu.” aku lihat semburat merah pada pipinya. Aku tersenyum jahil.

” Jangan-jangan kau memang malu oppa?”

Onew langsung mendekatiku dan menudingku dengan tatapan kesal, ” Karena kau langsung melihatku seperti itu! Makanya aku malu. Lalu pakaianmu itu apa-apaan sih? Saking manisnya aku juga jadi tidak tahan!” omelnya panjang lebar. Aku terdiam.

Jadi dia selalu marah dan mengalihkan pandangan karena dia malu? Bukan karena tak menyukaiku?

” Oppa,” aku menarik ujung bajunya. ” Bilang dong terus terang. Kalau oppa tidak mengatakannya kan aku jadi tidak mengerti.” kataku polos. Dia mendekatiku dan menggendongku ala Bridal Style.

” Fany-ah, tutup matamu.” aku menurut, dan sedetik kemudian, aku merasakan sesuatu yang basah dan lembut menempel pada bibirku. Akhirnya..

Jadi sekarang, aku sudah tidak perlu mempertanyakan lagi soal perasaannya padaku. Soalnya perasaannya padaku pasti tidak akan kalah dari perasaanku.

ZRRSSSS!!!

” Kya!! Oppa hujaan!!”

***

” Pakai ini saja ya, nanti kau bisa kena flu.” Onew menyerahkan sebuah baju hangat padaku. Aku menerimanya dan segera berganti baju di kamar mandi. Eh? Kebesaran. Jadi baju sebesar ini yang dipakai Onew? Bahkan aku tidak perlu meminjam celana pendek.

Aku masuk ke kamarnya. Aku jadi berpikir, kamar Onew, baju Onew, aku, aku pacarnya. Aku benar-benar pacarnya. Baru kali ini aku merasa begitu. Aku bahagia!

” Kenapa berdiri saja? Duduklah.” aku terdiam ketika dia mengatakannya tepat ditelingaku. Jadi aku langsung duduk. ” Kau malu ya?” Aku langsung melonjak kaget saat dia melakukannya lagi. Aku mendengar Onew terkekeh geli. ” Aku tahu. Sekarang aku tahu perasaan Fany.” Onew membalik tubuhku agar berhadapan dengannya, lalu dia menarik daguku. ” Semakin kau menghindar, semakin aku ingin melihat wajahmu.”

” Gyaa!!” refleks aku berdiri dan terhuyung kebelakang. Salah posisi, akhirnya aku jatuh ke tempat tidurnya. Dan tanpa kuduga, dengan gerakan super cepat dia menindih tubuhku. Menopang tubuhnya agar kami tidak menempel.

” Kau terlalu manis deh.” katanya. Aku menutup wajahku yang kuyakin sudah merona. Kenapa Onew bisa setenang itu? Mengingat beberapa jam yang lalu dia masih malu untuk menyentuhku.

Aku merasakan tangan Onew menyentuh tanganku dan membuka tanganku agar ia bisa melihat wajahku.

” Kau tahu? Aku juga cukup malu lho. Tapi sekarang, melihat wajah manismu, aku jadi sedikit tergoda nih.”

Eh?!!

Onew kini mengubah posisi topangannya menjadi di siku. Kami menjadi lebih dekat, bahkan aku bisa merasakan napasnya diwajahku.

” Itu kalimat yang luar biasa ya?”

Aku tersenyum dan langsung menariknya ke dalam pelukanku. Sekali lagi, aku bahagia!

*End*

 

Gimana? yang baca tapi ga komen kualat pokoknya sama aku xD

Oiya, kalo suka sama ff-ff yang aku bikin, boleh hubungin aku di Annisa NisaVan Jung buat fb-nya. atau Chataemin96 buat twitter ^^ makasih ya🙂

Dan buat ff berikutnya mungkin aku bakalan ngeluarin pairing 9PM alias SNSD-2PM. pairingnya buat next ff?

Yoona-Taecyeon ^^ buat TaecYoon shipper tunggu yaaa😀

44 responses

  1. woahhhh haha bebeb nyuu lucu, sprti biasa pngen brlaga jd pelawak (?) -_- #plak
    Kereeennn thor ff nya😀 buat lg dong, Maincast Onew lg klo bsa,trserah pairnya siapa asal straight jgn Yaoi😄 ahahaha #maksa #ditendang
    tp nanggung bgt massaaa… haha gpp yg pnting ffnya daebak😉
    mian thor bru comment,atuh baru nemu ff nya. mnding telat dr pd jd silent reader yh thor😉 #kedipkedip
    hahahaha sip keep writing buat author,Semangat !😀

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s