Oh My Family~!


Cast:
– Oh SeHun (Exo K) as Oh SeHun
– Oh HaNi as Oh HaNi (OC)/readers
Genre:
Family, Romance
Ratting:
PG-13

author lagi bingung cari cast… bingung banget akhirnya author putus asa dan akhirnya milih OC. ehemmm… jadi bisa dibilang ini FF OC pertama author… mian klo jelek n aneh ^^~

“appa… ayo kita nanti terlambat!” teriak hani pada ayahnya yang masih menyiapkan koper untuk pergi ke Jepang.
“iya… anak appa~” appa datang membawa koper yang sepertinya berat. Hani sedikit curiga dan bertanya, “appa… kita hanya liburan saja kan?”.
“sebenarnya kita akan pindah ke jepang,” raut wajah hani otomatis berubah menjadi shock.
“mwoya??? Pindah? Kenapa mendadak begini?”

“sudahlah nanti appa jelaskan…” appa menarik tangan Hani dan segera masuk ke mobil. Semanjak ibu Hani meninggal 10 tahun yang lalu mereka sering berpindah tempat untuk menghindari penagih hutang. Hutang keluarga mereka memang banyak, appa terpaksa berhutang untuk membayar biaya rumah sakit eomma sebelum meninggal. Berpindah – pindah memang menjadi sebuah hal yang biasa bagi Oh family. Dan kali ini mereka berdua akan bersembunyi ke jepang.

“kenapa tidak bilang kalau ingin kabur ke jepang? Tau gitu aku membawa baju lebih banyak, appa payah!”

“mianne hannie~ nanti kita membelinya di jepang,” kata appa sambil tersenyum ke arah Hani.

“baiklah… belikan yang banyak, oke!” hani mengacungkan kedua jempolnya appa hanya mengusap rambut hitam panjang hani lembut.

“anak appa memang manis…”
Setibanya di jepang mereka mereka menuju sebuah rumah yang masih tradisional dengan beberapa bonsai menghiasi halaman rumah itu.

“appa… kita sekarang di mana?”

“ini rumah appa di jepang… ayo masuklah~”

“rumah ini ada yang menjaga? Terlihat sangat rapi…”

“kau suka rumah ini?”

“iya… aku sangat menyukainya,” tiba – tiba ada seorang namja berseragam SMA bertubuh tinggi agak kurus memasuki rumah itu. Namja membungkuk member salam pada appa dan Hani.

“siapa dia?” tanya Hani penasaran. “dia… dia itu…” kalimat appa sukses di potong oleh namja tinggi itu.

“annyeonghaseyo… Oh SeHun imnida, appa lama tidak bertemu,” namja itu tersenyum simpul dan memeluk appa. Hani jadi kaget setengah mati karena namja itu memanggil appa kandungnya ‘appa’. “MWOYA~‼! Kenapa kau memanggilnya appa, shiro!” teriak Hani sambil menarik appa paksa. “hani… tenanglah, dia memang anak appa…” jelas appa membuat hani semakin terkejut. “annyong Oh Hani noona…” Sehun memberi salam dengan wajah sumringah. Hani hanya terdiam dan tidak membalas salam dari dongsaeng barunya itu.

“sebenarnya saat itu appa diam – diam memiliki istri lain selain eomma mu, appa sangat mencintainya seperti appa mencintai eomma mu itu. 4 tahun setelah menikah dengan eomma mu aku menikah dengan ibu Sehun. Sebulan yang lalu ibu sehun meninggal dan sekarang dia sendiri, appa ingin menemaninya di sini,” jelas appa panjang lebar sambil memegang tangan Hani.

“cukup‼! Aku muak mendengarnya……!” hani berlari menuju halaman belakang dan menangis.
“hani… noona~!”
“hani, maafkan appa… telah membohongimu selama ini!”

 

Hani POV
Appa ternyata kau berengsek!
Jadi selama ini dia berselingkuh diam – diam bahkan sampai punya anak. Tiga bulan sekali ia selalu pergi ke luar nergri untuk urusan bisnis ternyata mengunjuni anak dan istri keduanya di sini. Jika eomma tau semua ini pasti di surga ia menangis ia pasti sangat sedih dan kecewa. Dasar pria bajingan‼!
“hani ah~ maafkan appa…” appa duduk di sebelahku sambil menepuk bahuku, segera ku tepis tangannya yang kotor itu. Kemudian dia menyentuh rambutku seperti yang ia biasa lakukan jika aku marah.
“jangan menyentuhku!”
“appa tahu ini adalah sebuah dosa yang tak termaafkan, lalu apa yang bisa aku lakukan agar kau memaafkanku…” appa terus memohon, sebenarnya aku sendiri juga tidak tega tapi aku sangat kesal karena semua kenyataan yang aku dengar barusan. Aku berdiri tanpa mengucapkan sepatah katapun dan memasuki kamar dan menguncinya.
………
Entah apa yang aku lakukan di dalam kamar seharian ini. Pandanganku kosong rasanya airmataku sudah kering, untuk menangisi perbuatan ayahku.
Cklekk~
Ada seseorang yang membuka pintu kamar. “kenapa kau di sini! Kenapa bisa masuk kamarku… pergilah aku muak melihat wajahmu‼!” teriakku pada orang yang membuka kamarku dia adalah Sehun, anak ayah yang lain.

“seharusnya aku yang tanya kenapa kau di sini, ini kamarku! Kau tau aku tidur di sofa semalam dan tidak bisa berangkat ke sekolah!”

“hah kamarmu?” aku melihat se sekitar, banyak atribut khas namja di sini seperti bola basket, sepatu sepak bola, dan banyak video game. Kenapa aku baru menyadarinya…? Aku tampak bodoh di hadapannya. Aku menggaruk rambutku dan menatapnya malu.

“totemo baka!” dia tertawa

“gomen~ gomen~” aku menggunakan bahasa jepangku yang asal – asalan sambil membungkuk malu. Dia tersenyum dan berkata, “tidak apa – apa… kau boleh tidur di sini,” “tidak usah aku akan pergi dari sini,” aku segera meninggalkan kamarnya. Aku memegangi perutku karena sangat kelaparan terakhir kali aku makan waktu di bandara. Ah… itu dua hari yang lalu. Aku harus mencari sesuatu untuk di makan. Aku berjalan menuju dapur dan membuka kulkas dan lemari tapi aku tidak menemukan apa – apa kecuali susu dan ramen. Aku sebenarnya sangat membenci susu, tapi karena aku sangat lapar aku minum semua susu di kotak itu.

“ahhhhh…… habis‼”

“wow… mengerikan sekali, apa noona selapar itu hingga menghabiskan 1 liter susu sekaligus?” ternyata sedari tadi sehun memperhatikanku. Aku kaget melihatnya dan batuk karena tersedak.

“ohokk… ohookk…”

“noona gwaencana?” sehun menepuk – nepuk bahuku pelan. Perlahan batukku menghilang dia menatapku dengan tatapan aneh. Seperti ingin tertawa.

“yya‼ apa yang lucu!”

“noona lapar kan? Ayo ikut aku, kita makan sushi… aku yang akan traktir,” sehun menawariku makan sushi, aku sangat suka sushi apa lagi sekarang aku hampir mati kelaparan. sebenarnya aku gengsi menerima ajakannya, tapi perutku terus berbunyi aku tidak bisa menutupinya.

…………
Sehun mengajakku ke sebuah kedai tempat makan sushi, banyak sekali suhi yang berlalu di meja berputar. Tanpa memilih – milih aku langsung mengambil dan langsung melahapnya.

“Hani noona…?” tanya Sehun.

“jangan panggil aku noona! Aku bukan kakakmu,” kata ku sambil menatap sehun serius kemudian aku makan dan tidak tidak memperdulikan sehun lagi.

“hmmm… apa selapar itu noona?”

“kan sudah ku bilang aku benci kau memanggilku noona! kau bicara apa? aku sudah 2 hari belum makan, tentu saja lapar!” kata Hani sedikit tidak jelas karena mulutnya penuh berisi makanan.

“tapi aku tidak sopan jika memanggil seseorang yang lebih tua tidak memakai noona, itu sedikit aneh… oh iya dulu aku pernah tidak makan selama seminggu karena sibuk ujian,”

“lalu?”

“aku pingsan saat ujian dan tidak sadar selama 3 hari… hahaha😀, aku menyedihkan sekali saat itu,” aku melihat dia tertawa lebar, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri… dia sangat manis saat tertawa.

“kapan itu terjadi? Makanya jangan perhan melupakan makan,”

“3 tahun yang lalu saat ujian saat SMP,” tiga tahun yang lalu, aku jadi ingat saat itu appa mendadak pergi ke luar negri padahal aku sedang ujian kelulusan saat SMA. Dia bahkan tidak hadir saat pengambilan ijasah, ternyata dia mengunjungi Sehun yang sakit di jepang. Seketika suasana hatiku jadi buruk.

“sudahlah kau tidak usah membahas tentang appa… tiba – tiba aku tidak berselera,” hani meletakkan sumpitnya di meja dengan kasar.

“pasti kau senangkan setiap hari ada appa di sampingmu dan menjagamu… aku sering di kucilan karena aku tidak punya ayah, sepertinya ayah lebih mencintaimu di banding aku…” kata – kata Sehun membuatku terdiam dan berpikir sejenak. Ternyata hidupku jauh lebih beruntung di banding sehun.

“………” hani masih terdiam, sehun segera mengagetinya. “dorr… noona pasti bingungkan aku fasih berbahasa korea? Iyaaa kan…”

“ah… iya aku penasaran! Dialek mu bagus sekali dari mana kau mempelajarinya?” tanya Hani mencoba mengalihkan pembicaraan.

“eomma dulu mengjarkan 2 bahsa antara jepang dan korea, makanya aku fasih…”

“oh.. begitu, kau bisa mengjakku ke suatu tempat yang asik untuk menghilangkan bosan?”

“tentu saja, kau belum pernah jalan jalan ke Tokyo kan?” sehun tersenyum kemudian menarik tanganku.

“hey~! Kau mau mengajakku ke mana?”

“kita akan bersenang senang…” dia tersenyum dengan wajah yang polos.
Dia mengjakku ke harajuku, disana banyak orang berpakaian aneh dan sangat nyentrik. Aku melihat sekitar dengan tatapan bingung. “kenapa? Apa terlihat aneh?” tanya sehun padaku. “iya aneh sekali!” “noona… mauu memakai pakaian seperti mereka…?” “apa kau gila?” sehun menarik tanganku kemudian menarik tanganku ke sebuah toko costume. Di sana semua costume yang biasa di pakai oleh anime terpajang lengkap di estalase. Aku dan sehun menyewa costum dan mememakainya untuk jalan – jalan di harajuku street. Kami memakai baju pasangan.

“apa di sini tidak ada tempat karoke?” tanyaku padanya.

“sepertinya ada… ayo ke sana~” di tempat karoke aku menyanyi dan melampiaskan rasa emosiku dengan bernyanyi dan menari dengan gila.
OH OH OH OH~ Oppareul Saranghae
AH AH AH~~ mani manihae ~~
Aku menyanyi lagu girls generation OH! dengan gaya yang gila. Kemudian Sehun juga ikut bernyanyi dengan gila sambil sesekali tersenyum ke arahku. Dia mengambil mic dan mulai menyanyi, suaranya tidak jelek. Tapi dia mengganti semua lirik lagu.
OH OH OH OH SEHUN SARANGHAE~~‼!
AH AH AH mani manihae~~‼
OH OH OH OH HANI saranghae~
AH AH AH AH mani manihae….
Kami berdua bernyanyi sampai larut malam, 3 jam di dalam ruang karoke membuat perutku lapar. Kemudian dia mengajakku ke tempat penjual crepes di harajuku yang sangat terkenal…

“ini enak sekali!”

“ini crepes no. 1 di dunia… noona kita bersenang senang lagi ya…” selesai makan crepes yang paling enak yang pernah ku makan itu kami pergi ke sebuah club malam. Kami berdansa dan menari dengku an gila. Tak terasa waktu sudah menunkukan pukul 2 pagi. Rasanya ngantuk sekali dan rumah masih jauh. Akhirnya aku dan sehun memutuskan tidur di sebuah motel.

“konichiwa… ahjumma aku pesan 2 kamar…” kataku pada seorang bibi penjaga motel, tapi dia tidak mengerti bahasa korea. Kemudian sehun berbicara dengan bahasa jepang dan mengambil uang di dalam dompetnya.

“uangku habis… hanya bisa memesan 1 kamar,”

“hah… kau gila? Aku tidak mau sekamar denganmu!”

“tapi jam segini sudah tidak ada kereta bawah tanah yang beroprasi, ini sudah sangat larut,”

“aisshh… sudahlah, terserah saja,” kemudian sehun membayar sewa kamar dan bibi itu memberikan kunci kamar. Bibi itu mengatakan sesuatu dalam bahasa jepang tentu saja aku tidak mengerti.

“kalian wistawan dari korea? dia pacarmu atau istrimu…? Wah dia imut sekali,”

“bukan kami bukan pasangan wisatawan. Dia itu bodoh, rakus, gila dan aneh dia bukan tipe ku,”

“ah… tapi kalian sangat serasi…” sehun hanya tersenyum. Kami segera memasuki kamar, sebenarnya aku masih penasaran apa yang sehun bicarakan dengan bibi itu. Kami berdua tidur di ranjang yang sempit itu.

“apa yang kau katakan tadi…?”

“tidak ada…”

“kau membicarakanku kan?” aku menatap kedua matanya.

“kenapa noona menatapku seperti itu? Apa sekarang noona menyukaiku?”

“yya‼ kau tinggi kurus dan menyebalkan, kau bukan tipeku!”

“tapi aku kan tampan, semua gadis di sekolah mengantri untuk mendapatkan hatiku,”

“dasar narsis… sudah jujur saja kau bilang apa tadi!”

“sebenarnya tadi bilang kalau kau itu bodoh, gila, aneh, dan rakus… dan noona bukan tipeku. noona bukan noona marah?” aku hanya mendengus kesal dan menatapnya tajam. Dia sangat menyebalkan. Aku berbaik badan dan menghadap ke tembok menarik selimutku dengan kasar.

“hahaha… noona dingin,bagi selimutnya,” dia tertawa dan menarik selimutku. Aku terus menariknya hingga kami terus tarik menarik selimut.

“shiro‼”

“yya noona egois sekali!” sehun menarik selihtku dengan kasar sehingga ia terjatuh dari ranjang berserta selimutku. Dia tidak bergerak, apa kepalanya terbentur lantai. Dia benar – benar diam. Aku mulai panik.

“sehun ssi! Sehun ssi! Jangan mati, kau mau selimut ambilah‼” aku membuka selimut yang menutupi wajahnya. Aku menepuk pipinya perlahan, “sehun sadarlah…!” aku menghadap kan wajahku tepat di atas wajahnya. Tiba – tiba tangannya merarik pinggangku hingga wajahku dan wajahnya hanya berjarak 1 cm, kemudian ia membuka matanya.

“noona tertipu‼! Hahahahaha….‼!” dia membuka matanya dia tertawa dengan puas, aku kaget dan menjauh darinya. Berani sekali anak kecil ini menipuku. Segera ku pasang wajah sedih dan hampir menangis.

“kau pikir ini lucu?‼ aku pernah tidak sengaja mendorong temanku hingga jatuh dari tangga hingga meninggal! Dan kau pura – pura seperti itu, kau pikir itu lucu‼!” aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku melihat wajahnya mulai panik karena membuatku menangis.

“mi… miiaannee… noona jeongmal mianne… aku tidak akan mengulanginya lagi, noona kumohon jangan menangis,” dia terus memohon kulihat dari celah – celah tanganku wajanya terlihat sangat lucu.

“hahahahaaa… kau kena!” kau tertawa sangat keras, wajahnya berubah jadi kesal. Salah sendiri mengerjaiku, dia pikir hanya dia yang iseng. Dasar anak nakal.
Aku tidur di di atas dan dia tidur di bawah. Aku menatap langit – langit kamar, aku kembali merasakan sesuatu yang aneh saat melihat wajahnya sedekat itu tadi. Perasaan yang tidak dapat di jelaskan dengan kata – kata, dan selalu terlintas di pikiranku membuatku tidak bisa tidur hari malam ini.

“hani noona~” dia memanggilku pelan, ternyata dia juga belum tidur.

“hmm… kamu belum tidur ya?” aku menjawabnya dengan suara lirih. “kenapa ibu mu bisa meninggal?” “dia meninggal karena sakit, leukemia. Butuh banyak biaya untuk penyakit itu appa sudah meminjam uang dalam jumlah besar untuk melunasi biaya di rumah sakit. Tapi ibu ku malah pergi untuk selamanya…” aku menceritakan semuanya dengan ekspresi datar tapi tanpa terasa ait mataku mengalir.

“noona menangis sekarang?”

“ah… tidak, kalau ibu mu sendiri kenapa bisa meniggal?” aku segera menghapus air mataku, suasana menjadi hening dia tidak mengatakan sepatah katapun.

“…………” dia hanya diam tidak menjawab sepatah katapun, aku melihat ke bawah melihat dia tertidur dengan wajah yang polos. Dasar menyebalkan aku giliran dia yang cerita malah tertidur. Semalaman aku hanya memandangi wajahnya, ibu sehun pasti sangat cantik. Dia melahirkan anak semanis dan setampan sehun. Tapi kenapa sehun juga anak ayah kandungku sendiri? Jika dulu ayah tidak merahasiakan semuanya aku akan memamerkan ke teman – temanku kalau aku punya saudara saudara setampan sehun. Ah… kenapa aku berfikir dia saudaraku? Bukan… bukan… dia itu hanya orang lain. Anak appa hanya aku saja. lupakan Oh Hani‼

Pukul 5 pagi kami berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah. Kami harus segera pulang karena appa sudah mengunggu di rumah.
Hani POV end
Oh hani terlihat kelelahan dan mengantuk, ia menyandarkan kepalanya di sebuah penyangga di dalam kereta. Sehun terus memegangi badan hari agar tidak jatuh. Mereka berdua berdiri karena tidak ada kursi kosong. Di pemberintian selanjutnya ada dua kursi kosong. Mereka akhirnya mendapatkan tempat duduk, hani masih tertidur dan menyandarkan kepalanya di bahu sehun. Sehun menatap seduktif wajah noona nya itu… membuat jantung sehun berdetak tak beraturan. Semua seakan bergerak lambat, kecuali saat sehun metatap wajah Hani.

 

I lost my mind, the moment I saw you
Except you, everything get in slow motion
Tell me, if this is love
Sharing and learning countless emotions everyday with you
Fighting, crying and hugging
Tell me, if this is love
All the guys in the world are jealous of me
They must be jealous to death of me, for having you
Even after the sun goes down and moon goes down, it will never change
You will find out that I’m a guy whom you can trust

 

 

to be continue to

part 2 end

6 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s