(Freelance) Very Important You Part 1

: V.I.U (Very Important You)

Cast     : Super Junior, Jang Youn Sun, Park Min Yeon

Rating : AU [Alternate Universe]

By        : kudohito_13

 

V.I.U (Very Important You) Part 1

Young Sun’s POV

“Yaaa,, Young Sun~ah. Apa kau tahu kemeja biru yang aku cuci tadi”. Teriak Ji Hyun unnie dan tiba – tiba saja membuka pintu kamarku. Aku dan Min Yeon yang sibuk membaca komik langsung menoleh ke arahnya.

“Aku tidak tahu unnie,, coba kau cari di tumpukan baju kering yang ada dikeranjang. Eomma tadi yang mengambil dari jemuran dan melipat baju – baju itu”. Jelasku pada unnie, tanpa beralih dari komik yang aku baca.

“Yaaa,,, aku sudah mengacak – acak tumpukkan baju yang kering itu, tapi tidak aku temukan”. Celoteh unnie lagi.

“Coba saja unnie cari di jemuran belakang,,, siapa tahu Eomma masih meninggalkannya disana”. Jawab sekenaku.

“Aisshh,, apa belum kering juga tuh baju dengan cuaca sepanas ini,, apalagi tadi sempat dikeringkan di mesin cuci”. Gerutu Unnie sambil meninggalkan kamarku.

“Aaaah,, sampai mana tadi aku. Dasar Unnie pengganggu” Keluhku yang disusul senyuman Min Yeon. Namun beberapa menit kemudian kudengar lagi Omelan Unnie.

“Yaaaaa,, Young Sun~ah. Sudah aku cari kemana – mana tapi belum juga ku temukan. Kau tahu kemeja itu baru saja aku beli dan akan kupakai untuk acara rapat besok”. Ucapnya lagi  tanpa mengedipkan bola matanya sama sekali,, malah terkesan akan keluar menghantamku.

“Aisshh Unnie,,, mana aku tahu”. Jawabku

“Kau kan yang aku mintai tolong untuk mengeringkan cucian tadi. Berapa kali kau mengeringkannya” Tanyanya

“Mana aku ingat Unnie,, cucian sebanyak itu. Chankkaman,,, apakah aku masih meninggalkan sisa cucian dimesin cuci?” Pertanyaan yang mungkin lebih tepatnya kuarahkan pada diriku sendiri. Tanpa dikomando aku langsung meletakkan komikku dan berlari menuju ruangan disebelah dapur.

“Aissshh,, kau ini!!!”. Desah unnieku dan Min Yeon secara bersamaan. Aku heran mengapa mereka begitu kompak. Min Yeon dan Unnieku pun mengikutiku dan berjalan dibelakangku.

Sesampai disana, aku langsung membuka penutup dibagian pengering dan kutemukan beberapa pasang baju yang aku keringkan tadi. Setelah kuambil dan kuteliti satu persatu, akhirnya kutemukan baju yang dimaksud unnie. OMMOOOO……!!!!

“Yaaaa,, Young Sun paboya. Aisssh,,, kenapa penyakit teledor dan cerobohmu itu tidak pernah hilang. Kau membiarkan pakaian – pakaian itu berada dimesin pengering seharian.” Tangan unnie dengan entengnya memukul kepalaku.

“Aisshh unnie, appo. Mianhae,, aku lupa”. Aku hanya bisa menunjukkan seyuman termanisku. Dan itu salah satu jurus ampuhku supaya dia memaafkanku.

“KAU INI,,,!!!!!” Kemudian dia mengambil kemeja yang tadi aku pegang dan entah mau diapakan kemeja itu. Tapi kurasa diangin-anginkan untuk beberapa Jam, aku yakin kemeja itu akan kering.

“PLLAAAKK,,,!!!” Tiba – tiba saja kurasakan gulungan kertas mengenai kepalaku.

“Yaaaa,,, Min Yeon ~ ah apa yang kau lakukan, sakit tahu”. Aku mengusap – usap kepalaku yang sakit. Pukulan dari gulungan komik itu sukses membuat kepalaku sedikit berdenyut.

“Itu merupakan perwakilan Unnie untuk menghukummu”. Jawabnya santai sambil berjalan menuju kamarku.

“Dasar Yeoja aneh,, kalau bukan sahabatku sejak lama sudah kucincang kau.” Ancamku,, seperti biasa dia tidak memperdulikan omonganku dan berlalu sambil menjulurkan lidahnya.

******

Eunhyuk’s POV

Sudah satu jam aku menunggu bus dengan tujuan Seoul, namun masih belum terlihat akan tanda – tanda kedatangan bus itu. Berapa banyak lagu yang sudah aku putar – putar ulang hingga bosan. Aku memang bukan tipe orang yang dapat bertahan duduk manis dan tenang. Dari tadi aku mondar – mandir melihat ke kanan dan ke kiri berharap bus jurusan Seoul itu segera datang.

“Yaaaa Lee Hyuk Jae,,coba berhentilah mondar – mandir seperti itu. Kau seperti setrikaan baju saja”. Aku masih tetap dengan aktifitasku. Aaahh aku bosan dia masih tetap mengomeli kebiasaanku.

“Kau kan tahu aku bukan tipe orang yang sabar untuk duduk diam dan menunggu”. Kali ini aku melihat Donghae yang juga terlihat lelah.

“Mungkin sebentar lagi bus itu akan datang,,cobalah untuk tenang kau sangat menggangguku”. Ikan mokpow itu menyandarkan badannya sambil memasangkan headset di telinganya. Entah sejak kapan aku memanggilnya dengan sebutan konyol itu.

Aku tersenyum kecil melihatnya. Aku yakin dia sama bosannya sepertiku, hanya saja dia selalu bisa bersikap setenang itu. Aku bersama Donghae saat ini berada di Busan. Kami sedang mengadakan studi untuk tugas kuliah kami. Busan adalah sebuah kota pelabuhan dan metropolitan di sebelah tenggara Korea Selatan. Dengan populasi kurang lebih sekitar 4.000.000 jiwa. Busan adalah kota kedua terbesar di Korea Selatan setelah Seoul dan salah satu dari 3 pelabuhan tersibuk di dunia. Namun tidak dengan kendaraan antar kota, buktinya sudah hampir dua jam kami menunggu tapi belum juga mendapatkan bus yang kami cari.

Sudah sebulan ini kami berada disini, dan hari ini merupakan jadwal kepulanganku kembali ke Seoul. Sebenarnya aku bukan tidak sabar menunggu bus yang akan datang, namun aku lebih tidak sabar lagi untuk segera kembali ke Seoul dan bertemu dengannya. Yahhh,,, sebulan ini tanpa melihat dan mengganggunya terasa seperti orang pesakitan yang menunggu ajalnya tiba.

Entah mulai kapan aku menyadari bahwa dia begitu berarti untukku, bahkan aku yakin aku tidak akan sanggup berada di tempat yang jauh dengannya. Gadis itu,, selalu saja mampu membuatku tersenyum, mampu memalingkan perhatianku dari apapun dan hanya berpusat kepadanya. Gadis yang akan selalu memenuhi seluruh isi otak dan pikiranku.

“Yaaa Lee hyuk Jae,,, bus yang akan ke Seoul sudah tiba. Cepatlah sedikit”. Aku tersadar dari lamunanku oleh tepukkan tangan Donghae di bahuku. Kulihat bus berwarna biru itu sudah berada di depan kami dengan sebagian penumpang didalamnya.

“Oh Ne,,,,!!!!!” Aku mengambil tas punggungku beserta barangku yang lainnya dan segera mengikutinya menaiki bus yang akan kami tumpangi. Kulihat sekeliling dan mencoba mencari tampat duduk yang kosong. Akhirnya kami menemukan dua tempat duduk kosong tepat dua baris sebelum pintu keluar. Kulihat ikan mokpow itu langsung merebahkan punggungnya dan memejamkan matanya.

Aisssshh,, Apa dia begitu lelah hingga tidak mampu membuka matanya hingga sampai di Seoul nanti.

Aku mengambil ponsel dari dalam ranselku kemudian mengetikkan beberapa huruf.

To : Young Sun

Jemput aku pukul empat tepat di halte. Jangan sampai trlambat, kalau kau tidak mau aku bakar komik-komik kesayanganmu. *Evil smirk*

 

Kupasangkan lagi headset ke dalam telingaku. Mencoba kembali mengusir kebosanan disepanjang perjalanan kami ke Seoul,namun kemudian ponselku bergetar.

From : Young Sun

Shirrroooo,,,,!!!! Aku tidak takut dengan ancaman konyolmu monkey. :-p

 

Kututup kembali flip hpku. Tanpa menghiraukan balasan pesan darinya aku tersenyum.  Perjalan yang cukup membosankan ini tidak akan terasa bagiku jika membayangkan akan segera bertemu dengannya.

Young Sun’s POV

From : Monkey’s Oppa

Jemput aku pukul empat tepat di halte. Jangan sampai trlambat, kalau kau tidak mau aku bakar komik-komik kesayanganmu. *Evil smirk*

 

Ciiiihhh,, dasar monyet. Seenaknya saja menyuruhku menjemputnya. Rasa kesalku belum juga hilang akibat tidak ada kabar darinya selama sebulan ini, oppa macam apa dia. Sesibuk apapun dia disana, setidaknya dia memberitahuku bahwa dia baik-baik saja.

To : Monkey’s Oppa

Shirrroooo,,,,!!!! Aku tidak takut dengan ancaman konyolmu monkey. :-p

Aku tidak akan bermanis-manis denganmu Lee Hyuk Jae.

“Dasar Monyet,,,,hahahah” Masih dengan tawaku yang lebar kutatap gadis didepanku. Namun seketika itu juga tawaku berhenti.

“Mwooooo,,, Yaaa Min Yeon~ah kenapa kau menatapku seperti itu. Menakutkan sekali.” Kualihkan pandanganku darinya dan kembali menyalin catatan dari buku catatannya.

Kebiasaan burukku adalah tidak pernah mengikuti kuliah sampai selesai. Aku selalu tertidur disetiap pertengahan jam kuliah kami. Entahlah mungkin itu tepatnya menjadi sebuah hobby.

“Kau seperti orang tidak waras,,tiba-tiba tertawa sendiri. Aku takut karena ulahmu banyak orang yang memandang aneh kepadaku.” Aku berhenti dari aktifitas menulisku dan langsung menatap tajam ke arahnya.

“Apaaa kau bilang hah,, siapa yang aneh aku atau dirimu. Kau lebih parah dariku dasar nyonya mesum” Teriakku tak kalah garang. Dasar gadis ini…….!!!!!

“Ciiihh,, diam kau. Kalau dalam satu jam kau belum selesai menyalin catatan itu, akan kupastikan kau tidak akan memiliki bahan materi untuk ujian bulan depan”. Hah,,kau kira itu kartu matiku. Aku memegang kartu As mu Yeunnie~ah kau tidak tahu itu. Kataku dalam hati.

“Oh yhhh,, baiklah. Aku rasa sore ini aku harus menjemput Donghae oppa seorang diri”. Jawabku enteng tanpa mengalihkan kegiatanku menyalin catatan miliknya.

“Mwooooo,,, Donghae Oppa sudah kembali dari Busan. Jinjjaaaa,,!!! Yaaa,,Young Sun~ah jam berapa kau harus menjemputnya….??”

“Entahlah,,,mungkin aku tidak akan jadi menjemputnya. Kau tahu sendiri aku harus segera menyalin catatanmu.” Masih dengan santai, tulisanku sudah memnuhi separuh buku catatanku.

“Ahh,,Aniyooo. Kau boleh membawanya pulang, atau aku tidak keberatan menuliskannya untukmu asal kau mengajakku menjemput Donghae Oppa”. Ucap Min Yeon sambil menunjukkan Puppy eyesnya.

“Jinjjaa,,aku sangat tidak keberatan kalau kau menyelesaikan catatan ini”. Kubereskan buku catatanku dan segera kusodorkan kepadanya.

“Dasar kau kembaran monyet gila…..!!!! Kalau ini bukan demi Donghae Oppa aku tidak akan mau jadi pembantumu.”

“Aku tidak mendengarmu Min Yeonnie”. Aku berlalu meninggalkan Min Yeon yang masih sibuk dengan buku catatannya dan tentu saja dengan buku catatanku.

——————–****————–

Kupandangi jam tanganku masih pukul empat kurang lima belas menit. Aku menghisap coklat dingin yang tadi kami beli. Cuaca memang cukup terik di sore seperti ini.

“Apa mereka akan pulang pukul empat sore?”. Tanya Min Yeon yang juga meneguk coklat dinginnya.

“Itu yang dikatakan Hyuk Oppa.”

“Kau tahu Young Sun~ah. Aku begitu merindukan Donghae oppa. Aku takut aku tidak bisa menahan rasa rinduku dihadapannya nanti.”

“Hah, kau menggelikan sekali. Kau hanya sebulan tidak bertemu dengannya. Aku heran,, kau memendam perasaanmu terhadap Donghae oppa namun tidak pernah mengungkapkan perasaan itu kepadanya.” Aku menghisap kembali coklat dinginku yang terakhir dan kemudian membuangnya ke tempat sampah yang ada dihadapanku.

“Dasar bodoh,,aku seorang wanita. Aku tidak ingin mengungkapkan perasaanku terlebih dahulu.”

“Lalu siapa yang bodoh, menderita sendiri dengan perasaan yang dirasakannya.” Jawabku tak mau kalah.

“Hah,, siapa bilang aku menderita. Aku menikmati perasaan ini. Meskipun perasaanku ini tidak sampai kepeda Donghae Oppa. Kau akan mengerti apa yang aku rasakan saat kau jatuh cinta nanti Young Sun~ah.” Jawabnya sambil terus menerawang ke depan.

“Apa,,,!! Jatuh cinta? Aku rasa hal seperti itu berada dalam urutan keseribu dalam pikiranku.”

“Kita lihat saja nanti apa kau bisa mengelak dengan yang namanya CINTA….!!!”

“Iuuuuuuuuuhhhh,,Kau menggelikan sekali.” Jawabku sambil bergidik.

Beberapa saat kemudian, bus berwarna biru berhenti dihadapan kami. Dan kemudian turun Hyuk oppa dan Donghae oppa dengan membawa barang-barangnya. Kulihat Donghae oppa hanya membawa beberapa barang tapi berbeda dengan Lee Hyuk oppa.

Apa dia membawa semua barang yang ada di rumahnya. Donghae segera menghampiri kami, disusul oleh Hyuk oppa yang kesulitan membawa semua barang-barangnya. Siapa suruh membawa barang sebanyak itu. Setelah meletakkan beberapa barangnya, segera dia berhambur memelukku.

“Aigoooooo,,, Youngie~ah. Aku merindukanmu….!!!!”

“Yaaaaa,, Oppa. Lepaskan,,!!!”

——-*******————–

Eunhyuk’s POV

Dari kejauhan aku melihat dua orang gadis sedang duduk di pemberhentian bus. Kuperhatikan gadis itu dengan seksama,, gadis yang berbicara dengan temannya. Entah kapan, baru kurasakan udara di Seoul begitu sejuk. Seperti aku menemukan kembali udara yang mampu mengisi rongga di dalam paru-paruku.

Gadis itu selalu terlihat cantik disetiap waktu. Dia begitu menawan meskipun hanya dengan memakai kemeja biru selututnya dengan celana jeans berwarna sama. Rambutnya yang dibiarkannya tergerai tertiup angin sore membuat gadis itu semakin terlihat manis.

Setelah menurunkan beberapa barang-barangku aku langsung berlari memeluknya.

“Aigoooooo,,, Youngie~ah. Aku merindukanmu….!!!!”

“Yaaaaa,, Oppa. Lepaskan,,!!!” Teriaknya,, namun aku masih memeluknya dengan erat. Kubenamkan kepalaku di rambutnya dan kuhirup wangi tubuhnya. Aku merindukkan wangi ini dan aku begitu merindukkanmu Youngie~ah.

“Yaaaa,,kalian berdua seperti sepasang kekasih yang terpisah lama dan baru bertemu kembali”. Aisssshhhh,,, anak ini mengganggu saja. Segera kulepaskan pelukkanku dan segera mencari sumber suara. Kurasakan pula Young Sun mendorongku, seketika itu tubuhku terhuyung kebelakang.

“Min Yeon~ah,,apa kau juga ingin aku peluk”. Segera aku bentangkan kedua tanganku dan hendak memeluk Min Yeon. Tapi dia segera berlindung di belakang Donghae.

“Mwooooo,,, Shirroooo. Oppa sudah gila. Tampang mesummu terlihat sekali.” Seketika itu juga terdengar tawa membahana diantara mereka.

“Apaaaa,, wajah tampan seperti ini kau bilang mesum?? Kau perlu memeriksakan matamu Min Yeunnie.” Balasku dengan menoyor kepalanya. Dia hanya menjulurkan lidahnya dengan kedua tangannya memegang erat lengan Donghae. Dasar anak ini, mengambil kesempatan dalam kesempitan.

“Yaaaa Sudahlah. Young Sun~ah, Min Yeon~ah terima kasih telah menjemput kami.” Kulihat Donghae membetulkan tas ranselnya.

“Oppa aku rasa kau pasti lelah, segeralah pulang. Ah, rumah kalian kan searah kalian bisa pulang bersama. Donghae oppa tolong jaga Min Yeon yah oppa.” Pinta Young Sun kepada Donghae.

“Ne, baiklah. Ayo Min Yeon~ah kita naik taxi saja. Kami pulang dulu Young Sun~ah. Hyuk,,aku pulang dulu.” Pamit Donghae sambil membereskan barang-barangnya.

“Ne, hati-hati di Jalan.”

“Hati-hati oppa. Park Min Yeon Fighthing….!!!”

Ciih,, kau ingin melancarkan hubungan temanmu hah. Aku membetulkan kembali tas ranselku. Kutinggalkan satu tas lagi dan meminta Young Sun membawakannya.

“Youngie~ah,,cepat bantu aku membawa tas itu”.

“Kenapah aku harus membawakan tasmu. Kau hanya memintaku menjemputmu oppa, bukan membawakan barang-barangmu”.

“Ayolah,, aku tidak ingin berdebat denganmu saat ini. Aku hanya ingin cepat sampai di rumah. Aku lelah sekali.” Jawabku, kemudian berjalan meninggalkannya. Kami pulang dengan berjalan kaki karena memang rumah kami tidak begitu jauh.

Lelah,,??? Mana mungkin aku merasa lelah jika aku menemukan kembali udaraku, menemukan kembali sumber energiku dan menemukan kembali alat pemicu jantungku yang mampu membuatnya selalu berdetak.

———*******———-

Author’s POV

Langit begitu cerah hari ini. Angin perlahan menggoyangkan daun-daun dan mambuat beberapa daun jatuh gugur. Saat ini musim panas di korea, liburan musim panas pun telah usai. Dimusim yang lumyan terik ini, Seoul Universitas selau sibuk dengan beberapa program yang diadakan, mulai dari acara pentas-pentas seni atau pertandingan-pertandingan olahraga.

Selain itu, beberapa fakultas juga mengadakan ujian. Seperti biasa Young Sun selalu menyalin catatan milik Min Yeon. Gadis itu duduk di taman dan berlindung di bawah pohon besar yang cukup rindang.

Setelah keluar dari kelas Hyuk Jae hendak mencari Donghae namun ketika melihat Young Sun di taman sendirian dia membatalkan niatnya dan berjalan menuju taman. Dia membetulkan tas ranselnya dan tangan kirinya membawa beberapa buku yang cukup tebal.

“Kau tidak bersama Min Yeon?” Tanya Hyuk Jae pada Young Sun.

“Kau tidak bersama Donghae oppa?”. Pria itu tertawa kecil dengan memperlihatkan seluruh giginya.

“Yaaa,, tidak bisakah kau menjawab pertanyaanku bukan malah bertanya padaku”.

“Min Yeon ada kelas basket sekarang. Dia menjadi menajer disana.” Jawab gadis itu tanpa menghentikan aktifitas menulisnya.

“Aku ingin menyusul Donghae ke lapangan basket, Tapi aku menemukanmu duduk sendiri disini. Apa kau masih saja menyalin catatan Min Yeon. Sampai kapan kau akan berhenti tidur di kelas hah??” tanya Hyuk Jae yang masih memperhatikan gadis di depannya itu dengan aktifitasnya.

Bukan menjawab pertanyaan dari Hyuk Jae, Young Sun malah berhenti dengan aktifitasnya dan menutup buku catatan milik Min Yeon dan miliknya. Secara tiba – tiba dia menatap Hyuk Jae lekat-lekat.

Eunhyuk’s POV

Bukan menjawab pertanyaanku, Young Sun malah berhenti dengan aktifitasnya kemudian  menutup buku catatan milik Min Yeon dan miliknya. Secara tiba – tiba dia menatapku lekat-lekat.

“Oppa, kau tahu kan kalau Min Yeon menyukai Donghae oppa?” Aku alihkan pandangaku darinya pada buku tebal yang aku baca tadi.

“Iya,, aku tahu. Kau yang memberitahuku. Lalu kau mau aku menjodohkan mereka?” Tanyaku tanpa beralih dari buku yang aku baca.

“Anio,, hanya saja bisakah kau beritahu Donghae oppa kalau Min Yeon menykuainya.”

“Apa Min Yeon yang memintanya padamu?” Kulihat dia hanya menggelengkan kepalanya.

“Dengar Youngie~ah, meskipun aku dekat dengan Donghae. Tapi aku tidak ingin ikut campur masalah pribadinya. Aku dan kau, bahkan Min Yeon pun tahu siapa yang disukai Donghae”. Kulihat dia menatapku sambil mengerucutkan bibirnya.

Seketika itu juga seakan-akan aku butuh banyak udara, melihatnya seperti itu malah semakin membuatnya mempesona. Namun kemudia kucoba memfokuskan kembali pada buku bacaanku.

“Oppa,, apa kau pernah jatuh cinta?” Apa dia sedang tidak waras saat ini. Mengapa tiba-tiba dia bertanya hal seperti itu.

“Oppa,, jawab pertanyaanku.” Dia menutup buku yang sedang aku baca dan seketika itu aku menatapnya.

“Mwoo?” jawabku pura-pura tidak memperhatikan apa yang dia ucapkan.

“Oppa,, apa kau pernah jatuh cinta?” Tanyanya lagi. Aku menghela nafas panjang dan kembali menatapnya. Gadis bodoh, tentu saja aku pernah jatuh cinta. Gadis yang selalu membuatku gila adalah dirimu Young Sun~ah.

“Apa kau sedang sakit?”

“Oppa aku serius. Aku ingin meminta pendapatmu tentang Min Yeon. Aku tidak ingin dia menderita terus menerus dengan menyimpan perasaannya pada Donghae oppa tanpa mendapatkan hal yang sebaliknya”.

“Lalu apa hubungannya dengan aku pernah jatuh cinta atau tidak?” Tanyaku retoris.

“Ahh,,kau belum pernah jatuh cinta ternyata”. Cibirnya padaku.

“Mwooo,, tentu saja aku pernah jatuh cinta.” Balasku

“Benarkah?? Siapa gadis malang yang kau cintai itu.” Tanyanya penasaran.

“Yaaaa,, hanya gadis bodoh yang tidak menyadari perasaanku”. Jawabku sambil menerawang memandang langit yang sangat cerah siang itu.

“Ciih,,kasihan sekali kau. Nasibmu tidak jauh dengan Min Yeon. bertepuk sebelah tangan. Apakah benar cinta serumit itu??”. Aku kembali memfokuskan pandanganku kepadanya.

“Kau tidak bisa memaksakan cintamu pada orang yang kau cintai Youngie~ah. Seperti itulah yang Min Yeon pikirkan. Dia sangat menikmati perasaan yang dimilikinya terhadap Donghae saat ini. Kau tidak bisa memprediksikan kapan cinta itu datang padamu. Cinta bisa datang dengan tiba-tiba dan pergi dengan tiba-tiba pula.”

“Aku rasa aku akan berpikir beberapa kali untuk jatuh cinta.” Jawabnya sambil kembali meneruskan menyalin catatan Min Yeon.

Aku menatap wajahnya dengan hati-hati. Kuperhatikan setiap detail wajahnya. Entahlah, aku tidak bisa menemukan cacat pada wajah manisnya. Gadis yang dulu kuanggap sebagai dongsaengku sendiri, kini menjelma sebagai gadis yang mampu mengisi satu-satunya tempat teristimewah di dalam hatiku.

Youngie~ah, tidak bisakah kau melihatku dan jatuh cinta padaku, asal kau tahu aku begitu menginginkanmu menjadi wanita yang aku lihat pertama kali setiap kali aku terbangun dipagi hari. Menjadikanmu ibu dari anak-anakku kelak. Mejadikanmu pasangan hidupku sampai kita terpisahkan oleh kemtian. Menjadikanmu wanita yang paling berharga bagiku.

Apa kau hanya melihatku sebagai oppamu? Tidak bisakah kau sedikit peka terhadap perasaanku selama ini. Aku akan membuatmu mentapku Young Sun~ah. Sampai kau tak bisa berpaling dariku.

——-****——

Basket Ball’s Dorm

Suara dentingan bola basket yang memantul ke tanah dan suara decitan sepatu membuat suasana ramai di dalam dorm lapangan basket ini. Club basket memang rajin berlatih akhir-akhir ini mengingat akan diadakannya kompetisi basket tingakat nasional di Korea. Tidak hanya para pemain basket yang sibuk, begitu pula dengan Park Min Yeon. S

udah enam bulan ini dia menjadi manajer di klub basket. Dia bertahan menjadi manajer hanya karena ingin lebih dekat dengan Lee Donghae. Dia tertawa kegirangan dan berteriak-teriak setiap kali melihat Donghae berhasil memasukkan bola kedalam ring basket. Namun dari arah lain tanpa sepengetahuannya, seorang namja memperhatikannya dan namja itu kemudian  mendekatinya.

“Min Yeon~ah,, maukah kau makan siang denganku??” Tanya namja itu dengan nafas masih tersenggal-senggal.

“Maaf oppa, aku tidak bisa.” Jawab Min Yeon malas-malasan. Tanpa mengalihkan pandangannya pada Donghae yang berhasil lagi memasukkan bola kedalam ring basket.

Namja itu mengikuti apa yang menjadi pusat perhatian Min Yeon, seketika itu juga wajahnya berubah. Tangannya mengepal erat di samping tubuhnya.

“Pekerjaanmu sudah selesai? Aku bisa mengantarmu pulang.” Kata namja itu menawarkan diri.

“Ah, tidak perlu oppa. Nanti aku pulang bersama Young~Sun.” Jawab Min Yeon yang masih saja memperhatikan Donghae di tengah lapangan.

“Bisakah kau menatapku saat aku ajak bicara? Tidak bisakah kau alihkan sedikit pandanganmu dari lapangan itu??” Kata namja itu sambil memegang lengan Min Yeon.

“Nde,,?? Maafkan aku Sungmin oppa.” Kali ini Min Yeon berbicara sambil menatapnya. Namun namja itu hanya mendesah pelan.

“Sudahlah,, aku tidak bisa memaksamu. Hati-hati saat kau pulang.” Kata namja yang bernama Lee Sungmin itu. Dia melepaskan genggamannya pada lengan Min Yeon dan kemudian memakai tas ranselnya.

“Ne, oppa. Gomawo.” Jawab Min Yeon.

Perlahan Sungmin meninggalkan Min Yeon yang masih meneriaki Lee Donghae. Namun beberapa langkah kemudian dia berbalik, masih memperhatikan Min Yeon dari kejauhan.

“Sampai kapan kau akan menjadi orang bodoh seperti ini Lee Sungmin.” Katanya lirih kemudian pergi meninggalkan lapangan basket.

——-****——

Young Sun’s POV

Aku masih memikirkan apa yang tadi dikatakan oleh Hyuk oppa. Tanpa dia sadari aku sedikit terpaku dengan apa yang telah dia ucapkan. Mungkin selama ini aku salah menilainya.

Aku mengira hidupnya akan dihabiskan hanya dengan bermain-main saja tanpa memikirkan hal-hal serius seperti itu. Aku berjalan dengan tumpukkan buku catatan milik Min Yeon, menyebalkan sekali. Aku harus segera menyalin catatan setebal ini. Biasanya aku selalu meminta bantuan Hyuk oppa.

Namun saat ini dia terlihat sibuk sekali dan aku tidak ingin mengganggunya. Kuperhatikan lorong ini cukup ramai, mungkin mahasiswa fakultas lain sedang sibuk mempersiapkan ujian. Balum lagi acara pentas seni dan pertandingan-pertandingan olahraga.

Aku berjalan menuju lapangan bola basket, aku berjanji pada Min Yeon akan menyusulnya dan pulang bersama. Aku juga yakin Hyuk oppa juga disana, dia dan Donghae oppa seperti kembar siam yang sulit dipisahkan. Namun setelah beberapa langkah, samar-samar aku mendengar alunan suara piano. Aku segera berhenti setelah mendengar alunan musiknya. Aku mencoba mencari dimana suara itu berasal.

Aku melangkahkan kakiku dengan pelan. Semakin aku berjalan, suaru piano itu semakin jelas. Kulihat papan kelas yang tergantung diatas tertuliskan “Fakultas Seni dan Budaya”. Kubuka pintu yang tidak tertutup rapat itu secara perlahan, berharap siapapun orang yang memainkan piano itu tidak menyadari kedatanganku dan menghentikan kagiatannya. Setelah aku memasuki ruangan itu, terdengar sangat jelas lagu yang dia mainkan.

Aku memejamkan mata menikmati setiap nada yang berasal dari grand piano itu. Lagu ini, lagu favoritku. Lagu yang membuatku jatuh cinta saat pertama kali aku mendengarnya. Bagaimana bisa seseorang memainkan lagu ini, dan baru pertama kali ini aku mendengarkan lagu ini dimainkan secara langsung di depanku. Aku memang menyukai musik klasik tapi jarang sekali melihat langsung konser musiknya.

Kulihat seorang namja memainkan balok-balok kecil hitam putih itu dengan khidmat. Namja itu memakai kemeja biru dengan lengan bajunya tergulung sampai batas sikunya. Kulihat setiap jari tangannya yang dengan lembut menekan tiap2 tuts piano. Setiap kali jari itu bergerak, terdengar melodi yang mampu menyihirku untuk berfokus hanya padanya. Nada-nada itu masih mengalun indah di telingaku.

Permainan namja ini begitu sempurna, seperti permainan seorang pianist profesional. Setelah beberapa saat, kemudian alunan suara merdu itu pun berakhir. Namja itu menutup kembali balok besar penutup piano. Kedua tangannya memegangi piano itu dengan lembut, seakan-akan piano itu adalah benda yang sangat berharga baginya. Kulihat seulas senyuman dibibirnya. Terlihat dari samping dia begitu mengagumkan.

“Pachelbel Canon???” Tanyaku tiba-tiba memecah keheningan di ruangan ini. Kulihat dia tersentak kaget, namun bisa menguasai dirinya dengan baik.

Dia berdiri dan berbalik kemudian memandangku dengan penuh tanda tanya. Namun berbeda dengan apa yan aku rasakan. Seolah-olah waktu berhenti dengan cepat. Jantungku berdetak tak terkontrol, kurasakan dengan jelas seakan-akan darahku mengalir deras memenuhi setiap pembuluh darahku. Kusadari jelas bahwa namja ini begitu mempesona.

Dia berdiri tegap dengan kedua tangan di dalam saku celananya bersandar pada grand piano yang mampu menopang tubuhnya.

Dia masih memperhatikanku dengan bingung. Ya Tuhan,, apa yang aku rasakan saat ini. Tenggorokkanku tercekat seakan-akan baru saja aku menelan bola pingpong dan sulit untuk mengeluarkannya. Aku mencari udara untuk memenehi alveolusku agar bekerja kembali secara normal, namun sia-sia.

Sejak kapan aku membutuhkan tabung oksigen disaat tubuhku sehat bugar seperti ini. Sesaat tidak ada suara yang mampu menhilangkan keheningan di ruangan ini. Ya tuhan,, mengapa suasana seperti ini membuatku sangat tidak nyaman. Dan bodohnya aku hanya terpaku mentapnya.

——–** TBC **——

Anyeoooong,,, heheheh ini  FF kedua setelah FF gaje ku dulu. Meskipun udh pernah buat sekali tapi neh FF juga kagak kalah gajenya. Mian bngt klo bikin karakter para castnya ancur bngt. Gomawooooo,,,, semoga suka.^^

2 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s