The Journey of Memories

The Journey of Memories

Minhye harmonic

Aku menatap pantulan diriku di kaca jendela bus yang berembun. Jemariku jahil menggurat di atasnya, menulis namanya tanpa sadar.

Saat aku hendak mengusap guratan itu, mataku menangkap reklame raksasa. Dia, nampak lebih tampan dari pada keempat kawannya―baiklah ini hanya pendapatku saja, kalau kalian setuju, itu lebih baik.

Ni hao..”

Perhatianku sukses teralihkan oleh gadis Cina yang kini duduk di sebelahku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk kikuk. Merutuk dalam hati, kenapa juga gadis asing ini duduk di sebelahku?

Oh, aku baru tersadar, namanya belum kuhapus. Buru-buru aku menyeka guratan di atas kaca berembun itu.

“Eonni menyukai Minho SHINee ya?”

Kegiatan menghapusku terhenti di tengah jalan, “Eh?” Kepalaku sontak menoleh, si Cina tadi berbahasa korea?

“Eonni suka Minho SHINee ya?” Dia mengulangi pertanyaannya, maklum melihat keterkejutanku.

“Animida.” Senyumku padanya, tanganku masih menempel di kaca, belum melanjutkan menghapus lagi.

“Lalu? Itu apa?” Dia menunjuk tulisanku yang tersisa.

Aku tetap tersenyum, menggeleng pendek.

***

Kawasan N Seoul Tower penuh dengan payung-payung terkembang setibanya aku di sana. Meski cuaca tak mendukung, tempat ini selalu ramai. Di pagar Tower saja aku menemukan beberapa pasangan sedang melakukan tradisi ‘Lock Love’. Konon bagi yang memasang gembok dan melempar kuncinya jauh-jauh, cinta mereka akan abadi. Menjadi pasangan tak terpisahkan. Tanpa sadar senyumku ikut terkembang, seperti payung-payung mereka.

“Bukankah saling percaya yang terpenting?”

Senyumku pudar seketika. Kenangan kami terputar ulang. Aku bisa melihat dengan jelas, sosok dia dan aku dalam usia 17 tahun. Tengah berdiri di dekat pagar ‘Lock Love’.

“Tapi ini akan mengasyikkan.”

“Gembok bukanlah penentu keabadian cinta.”

Gesture wajahnya begitu tenang.

Kenangan itu pergi secepat datangnya. Aku tersentak, menyeka ujung mata cepat.

Di dalam Tower lebih ramai lagi. Aku berjalan menuju tembok penuh tulisan. Menempelkan jemari di atas kertas-kertas tertempel itu. Dulu, aku suka ke tempat ini, membaca tulisan-tulisan. Tapi sekarang tidak, aku lebih tertarik mencari tulisanku sendiri. Maksudku, tulisan kami.

Aku menemukannya. Ternyata tepat di hadapanku.

Minho jelek

Minhye pendek

Tertawa pelan. Sesak. Tiba-tiba. Memenuhi setiap jengkal dadaku. Membuatku kesulitan bernafas. Aku melepas ranselku, membuka restletingnya perlahan, mencari-cari spidol.

Apakah kau bahagia?

Kutatap sejenak tulisan yang kutorehkan sembari memasukkan spidol ke dalam ransel. Aku kembali mengenakan ransel, menghela nafas pendek, balik kanan.

“Apa yang kau tulis?”

“Minho jelek.”

“Aku akan menulis Minhye pendek.”

“Ya! Aku tidak pendek! Berikan spidol itu!”

Percakapan-percakapan itu jelas sekali. Seperti ada yang jahil memutarnya keras-keras. Menggema di dinding-dinding ruangan. Aku menoleh, lagi-lagi kenangan itu.

Aku yang tengah melompat-lompat, hendak merebut spidol dari tangan Minho yang terangkat ke atas. Minho tertawa pelan.

Dadaku sesak lagi.

Aku paling suka makan di restoran N Seoul Tower. Bisa melihat pemandangan Seoul. Apalagi restoran akan berputar 102 menit sekali. Bisa duduk di sisi mana saja. Pemandangan Seoul 360 derajat tetap dapat bisa dinikmati.

Sudah lama aku tidak kemari, interior restoran makin mewah saja. Aku memangku wajahku dengan tangan. Menatap pemandangan sekitar yang basah. Tanganku yang bebas terangkat. Tanpa sadar menggurat kaca berembun.

“Kebiasaan.”

Aku mengalihkan pandangan.

Mataku sempurna membelalak lebar. Dia…dia tepat duduk di hadapanku. Menatapku dengan mata besarnya. Dia…tersenyum. Gegas kuinterupsi keberadaannya dengan menyibukkan diri melihat pemandangan di luar.

“Kapan datang?”

Bukan. Bukan suara Minho. Suara ini lebih ringan.

“Jangan melamun,”

Aku menoleh, sosok Minho berganti dengan wanita lebih tua 4 tahun dariku. Rambut panjangnya tergerai anggun. Kim Yoori.

“Eh?” Yoori-eonni menyodorkan handuk padaku. Aku menerimanya, lantas tersenyum tulus.

“Tahu dari mana?” Tanyaku seraya mengusapkan handuk ke rambut.

“Aku tadi melihatmu masuk restoran,” Yoori-eonni menatapku dengan tatapan tak terdefinisi.

“Sama siapa ke sini?” Aku mencoba membalas tatapan Yoori-eonni sesantai mungkin.

“Aku manager di sini, kau lupa?” Tatapan Yoori-eonni makin membuatku jengah.

Kami sama-sama diam. Suasana makin canggung dan ini adalah pertemuan pertama yang buruk setelah empat tahun. Aku menunduk, menatapi lemon tea yang belum kusentuh sama sekali. Uapnya sudah tidak keluar lagi. Sepertinya sudah dingin.

“Kenapa kau kembali?”

“Eh?” Mendongak.

“Seharusnya kau tak kembali.”

Yoori-eonni tahu setiap jengkal perasaan itu. Dia tahu masa-masa menyedihkan itu.

Menunduk kembali, tidak berani menjawab, tepatnya tak tahu jawabannya.

“Kenapa kau kembali? Bukankah akan lebih sakit?” Suara Yoori-eonni memelan, yaris berbisik.

Aku mengangkat kepala, mata bening Yoori-eonni kini menatapku simpati, “Aku baik, sungguh…” nyaris berbisik.

“Kau melukai diri sendiri…”

“Aku baik, sungguh.” Suaraku nyaris hilang diakhir kalimat.

***

“Pulanglah…”

Saran Yoori-eonni tanpa diminta terngiang-ngiang. Meski sudah full volume iPod, tetap saja kedengaran. Kesal. Kutarik kabel earphone hingga terlepas dari telinga. Kasar memasukkannya bersama iPod ke dalam ransel.

Kiranya sudah 5 jam aku di sini, duduk menunggu namun yang kutunggu-tunggu tak kunjung menampakkan batang hidung. Apalagi ditambah duduk di dekat remaja-remaja ribut itu. Sungguh, aku benar-benar tak nyaman.

Malam merangkak. Satu persatu kelompok remaja-remaja tanggung itu pulang, menyisakan aku sendirian, digerogoti angin malam.

Aku bangkit, berjalan perlahan. Menjauh.

BRUK!

“Jwingsonghamnida!” orang yang menabrak atau mungkin yang kutabrak membungkuk dalam lantas menyerukan maaf.

Aku reflek ikut membungkuk, kemudian terkejut melihat siapa yang kutabrak atau mungkin yang menabrakku. Taemin. SHINee Taemin.

Otakku berpikir cepat. Taemin. Taemin maknae SHINee. SHINee. Minho member SHINee. Ya Tuhan, tanpa babibu aku langsung melesat pergi. Tidak peduli badan yang hampir limbung karena kecepatan langkah yang mendadak.

“Wae gurae, Taemin-ah?”

“O? Gwenchana…”

Suara itu. Selepas lari dari hadapan Taemin, aku langsung bersembunyi di salah satu pohon terdekat.

Aku menyentuh dadaku yang mulai sesak.

“…aku tak akan menemuinya…”

Aku membeku. Aku melanggar janji sendiri. Aku yang muak dengan luka-luka itu malah berusaha membuat luka yang lebih lebar.

Balik kanan. Kupaksa kakiku melangkah. Menjauh. Menyesali betapa bodohnya aku mengambil keputusan untuk kembali. Sungguh bodoh.

***

Minho jelek

Minhye pendek

Apakah kau bahagia?

Dulu aku bahagia…

***

12 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s