My Promise (Part 2 – END)

Part 1 : https://adhiyaputriff.wordpress.com/2012/03/06/my-promise-chapter-1/

Annyeong readers^^ *tebar bunga*

Saya kembalii membawa lanjutan FF sayaa… Mian nih, aku sibuk, jadi update FF nya lama deh L Semoga kalian masih pada mau baca FF KyuYoung ini yaaa^^

 

Happy Reading!

 

Author : Kim Terra ( @swastiliciouss )

Tittle : My Promise (Part 2)

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung
  • Cho Duk Ki (OC)
  • Kim Ha Neul (OC)
  • Others

Genre : Romance, Family, Kekerasan

Rating : PG-13

Disclaimer : Semua cast nya milik Tuhan, tapi alur dan plotnya milik saya^^

Cat: Tulisan bertanda miring itu artinya flashback yaa😀

 

No matter what happens…

I Will Always remember my promise…

Take care of you…

Protect you…

And be the best for you…

-Author POV-

 

“Kyuhyun…”panggil Eomma Sooyoung, Choi Min Ri.

 

“Ne, ajhumma? Mworago?”Tanya Kyuhyun ketika mereka sedang duduk berdua di taman rumah sakit. Hanya berdua.

 

“Jika suatu saat ajhumma pergi, kau harus menjaga Sooyoung ya…”pinta Min Ri ajhumma.

 

“Naega wae..? (kenapa aku)”Tanya Kyuhyun, sedikit bingung.

 

“Ajhumma tak akan hidup lebih lama lagi. Jika itu benar-benar terjadi, ajhumma menitipkan Sooyoung padamu. Karena ajhumma tau, kaulah yang paling tepat untuknya,”jawab Min Ri ajhumma. Sungguh, ucapan itu sangat mengena untuk anak berumur 9 tahun.

 

“Ajhumma, jangan bicara seperti itu. Aku yakin kau akan lekas sembuh dan Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untukmu. Kumohon jangan katakan hal seperti itu lagi. Aku akan benar-benar sedih jika itu terjadi, karena aku pun menganggapmu sebagai Eomma-ku…”jelas Kyuhyun panjang lebar dengan mata berkaca-kaca. Choi Min Ri merasa tersentuh medengarnya.

 

“Baiklah, aku tak akan mengatakan itu lagi. Tapi, berjanjilah pada ajhumma untuk selalu menjaga Sooyoung dan tak akan menyakitinya. Ya?”pinta Choi Min Ri.

 

“Ne, ajhumma!”balas Kyuhyun setuju yang kemudian jatuh dalam dekapan hangat Choi Min Ri.

“Mimpi itu lagi…”gumam Kyuhyun pelan, ia masih setengah sadar.

Spontan, Kyuhyun membuka matanya. Kemudian ia menguap. Dan seperti biasa, ia meraba-raba kasurnya, tepat disampingnya. Namun kosong. Yeoja yang selama 7 tahun ini ia peluk saat bangun tidur, tidak ada. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya. Diam sebentar, sambil memandang gorden dan jendela kamarnya yang sudah terbuka.

“Oya, aku lupa. Aku kan pindah kamar. Dan Sooyoung, ia… Pergi dari rumah…”batin Kyuhyun.

Kyuhyun menengok ke atas pintu kamarnya, tepatnya ke jam dinding. Waktu telah menunjukkan pukul 09.00. Ia beranjak dari kasurnya. Bukan untuk mandi dan mempersiapkan diri menjalani aktivitas, tapi untuk bermain games di laptopnya. Tentunya karena ini adalah hari libur.

Diambilnya laptop yang ada di atas meja. Kemudian ia meletakkan barang itu di kasur. Ia langsung menyalakan laptopnya dan mulai memainkan Starcraft, game yang sudah ia mainkan sejak kelas 3 SD. Tapi, baru beberapa menit ia main, seseorang membanting pintu kamarnya.

“Kyuhyun! Apa-apaan kau?! Pagi-pagi sudah bermain game! Apa kau tak ingat kalau Sooyoung hilang? Cepat mandi, setelah itu kita akan mencari Sooyoung!”perintah Kim Ha Neul, Eomma nya, yang tadi membanting pintu.

Kyuhyun hanya diam sampai Eomma nya itu benar-benar keluar dari kamarnya. Ia menghela nafas. “Aissh… Yeoja yang menyusahkan, sudah bagus kalau ia pergi dan tak kembali,”umpatnya dalam hati. Jelas sekali, umpatan itu tertuju pada Sooyoung. Setelah cukup puas mengumpat, ia menyambar handuk putihnya dan segera berlari ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri.

 

————————————————- In Other Side

 

Di sebuah rumah kecil yang mungkin lebih tepat untuk disebut gubuk, di pinggiran kota Seoul, seorang gadis remaja duduk di kursi dengan posisi tangan terikat. Matanya terpejam dan nafasnya pelan, tersengal-sengal dan tak teratur. Lebam di tubuh dan luka serius di kepala membuatnya sakit hingga tak sadarkan diri.

 

Sedangkan, di pojok ruangan, seorang lelaki bertubuh besar yang dibalut jaket kulit hitam, sedang mengobrol dengan 3 orang lainnya. Seperti sedang merencanakan sesuatu, entah apa. Dan salah satu dari mereka angkat bicara.

 

“Setelah ini kita apakan anak ini, hyung?”Tanya seorang dari mereka.

 

“Hmm… Entahlah, kita tunggu saja anak ini sampai siuman,”jawab yang lain.

 

“Baru kita telepon keluarganya dan kita minta uang tebusan. Bagaimana?”tawar lelaki yang lain lagi.

 

“Hahaha! Itu bagus, Eunhyuk hyung!”orang-orang yang lain sepertinya setuju.

 

Kim Heechul, Lee Hyuk Jae, Lee Donghae dan Choi Minho. Sekelompok penculik yang biasa menculik gadis-gadis remaja yang terlantar. Mereka termasuk kelompok penculik yang kejam. Mereka tak segan-segan untuk bertindak kasar jika korban melawan. Sama seperti yang dialami Sooyoung. Luka ada di beberapa bagian tubuhnya, karena ia sempat memberontak. Dan inilah akibatnya, ia tak berdaya dan tak sadarkan diri.

 

Namun suara berisik dan tawa keras dari keempat penculik itu, lama kelamaan membuat Sooyoung terbangun dari alam bawah sadarnya. Perlahan ia membuka matanya yang kini terasa berat. Ia mencoba menggerakkan tangannya. Namun percuma, kedua tangannya terikat di kursi. Begitupula dengan kakinya yang diikat menjadi satu.

 

“Dimana aku?”tanyanya dalam hati.

 

Sooyoung memandang ke sekeliling. Tercium bau minuman keras dimana-mana. Tembok yang seharusnya putih pun dipebuhi dengan banyak noda. Ia benar-benar tak mengenal tempat ini.

 

Kemudian, ia melihat ke pojok ruangan. Empat lelaki itu. Perlahan ingatannya kembali, tentang kejadian tadi malam, ketika ia pergi dari rumah…

 

 

Sooyoung berjalan sendiri melewati pinggiran kota Seoul yang sudah agak sepi. Entah kemana ia akan pergi. Kakinya sudah lelah dan ia butuh tempat untuk bermalam. Tapi, Ia sudah tak punya keluarga lagi di kota ini. Uang yang ia bawa pun tak banyak. Mungkin tak cukup pula untuk menyewa losmen selama satu malam.

 

Sesekali ia berhenti dan duduk sebentar di teras sebuah toko yan ada di pinggir jalan, guna mengembalikkan tenaganya dan beristirahat sebentar. Namun kadang beberapa pejaga toko langsung mengusirnya. “Pergi kau, gelandangan! Kalau para langgananku melihatmu, bisa-bisa mereka tak jadi kesini!”pekik sang penjaga toko.

 

Kemudian ia berjalan lagi dan merangkul tasnya. Wajahnya sangat murung. Tenggorokkannya mulai kering dan perutnya sangat lapar. Dilihatnnya warung kecil di seberang jalan. Ia segera menuju kesana. Setidaknya ia harus mengisi kembali cairan tubuh yang sudah hilang.

 

“Ajhussi, air mineralnya satu,”kata Sooyoung. Penjual itu memberikan sebotol air mineral kepada Sooyoung. Sooyoung memberikan uangnya.

 

“Nak, kau kesini sendirian?”Tanya Ajhussi itu.

 

“Ne, ajhussi,”jawab Sooyoung.

 

“Sebaiknya kau segera pulang. Ini sudah pukul 11 malam lebih. Keadaan disini tidak aman. Jam segini biasanya penculik dan orang-orang jahat sudah berkeliaran,”nasihat Ajhussi.

 

“Ooh baiklah. Tapi apa di sekitar sini ada tempat penginapan atau losmen yang murah?”Tanya Sooyoung.

 

“Ada. Tapi masih 1-2km lagi untuk kesana…”jawab Ajhussi sambil membereskan barang-barang dagangannya. Sepertinya penjual itu sebentar lagi akan pulang.

 

“Wah jauh sekali…”

 

“Memangnya kau tak punya rumah? Mau menginap di rumah Ajhussi dulu? Besok pagi, biar Ajhussi antarkan ke rumahmu,”tawar Ajhussi itu.

 

Sooyoung berpikir sebentar. Ini sudah larut malam dan sesuai dengan kata Ajhussi, pasti banyak orang jahat berkeliaran. Tapi tak mungkin kalau ia kembali lagi ke rumah. Ingin sekali ia ikut Ajhussi malam ini. Lagipula sepertinya orang yang dihadapannya adalah orang baik. Namun, ia takut merepokan orang ini dan keluarganya.

 

“Ahniyo, Ajhussi. Aku akan mencari penginapan saja,”tolak Sooyoung dengan sopan.

 

“Kau yakin? Tapi ini sudah malam…”kata Ajhussi, ia terlihat iba.

 

“Ne, Ajhussi. Gwaenchanayo…”ucap Sooyoung.

 

“Kalau begitu, sebaiknya kau pergi sekarang. Ajhussi akan melihatmu, sampai kau berjalan agak jauh. Lewatilah jalan itu, lurus saja terus sampai 1-2 km. Nanti di sebelah kiri jalan ada losmen kecil,”ujar Ajhussi sambil menunjuk sebuah jalan yang agak lebar.

 

“Oh, ne.. Kamsahamnida,”pamit Sooyoung sambil melambaikan tangan.

 

Sooyoung mulai berjalan lagi. Melewati jalan yan sudah ditunjukkan sang Ajhussi. Sesekali ia menengok ke belakang. Ternyata benar, Ajhussi itu mengamatinya hingga ia berjalan agak jauh.

 

Semakin jauh ia berjalan, Ajhussi itu semakin tidak terlihat lagi. Jalanan sangat sepi dan lumayan gelap. Padahal ada beberapa lampu jalanan yang bertengger dengan manis. Udara pun semakin dingin. Ia mengencangkan lagi ikatan jaketnya.

 

“Harusnya aku ikut Ajhussi yang tadi saja. So spooky in here…”sesal Sooyoung dalam hati.

 

Ia menengok ke kiri dan ke kanan. Semua toko telah tutup. Dan ia menyadari, bahwa hanya ada dia di jalan itu. Sesekali ia berpikir. Apakah Eomma dan Appa mencarinya? Apakah Oppa ikut sedih karena ia pergi dari rumah? Atau malah sebaliknya? Ribuan pertanyaan memenuhi kepalanya.

 

Hingga sebuah suara bising dari beberapa orang terdengar, menyadarkan ia dari lamunannya. Empat orang dengan jaket kulit hitam berjalan sempoyongan di depannya. Semuanya menggenggam sebotol soju, sejenis minuman keras. Sudah pasti mereka sedang mabuk.

 

Perasaan Sooyoung mulai tak enak. Rasa takut dan cemas mulai merasukinya. Ia tak mengenal siapa mereka. Sooyoung takut kalau-kalau keempat orang tersebut berlaku jahat padanya. Terlebih karena ia masih kecil dan ia adalah perempuan.

 

Dan yang ditakuti Sooyoung mulai terjadi. Ketika mereka berjalan berdekatan, keempat orang itu langsung mengerumuni Sooyoung. Entah apa yang ingin mereka lakukan. Sooyoung hanya bisa diam sambil mennuduk.

 

“Hey, cantik…”sapa seorang dari mereka sambil mencolek dagu Sooyoung.

 

“Apa mau kalian?! Cepat pergi?!”bentak Sooyoung, mencoba melawan.

 

“Apa mau kami? Kami ingin dirimu, bodoh!”jawab orang yang satu lagi, kemudian mendekap Sooyoung. Sedangkan ketiga orang lainnya hanya tertawa.

 

Sooyoung tersentak. Ia segera melepaskan dekapan pemabuk itu. Ia mencoba untuk lari, secepat mungkin. Namun sia-sia, kecepatan lari, keempat pemabuk itu jauh lebih cepat. Sehingga Sooyoung pun dapat mereka susul.

 

Saking panik dan takutnya, batu besar pun tak sengaja ia sandung. Sooyoung jatuh tertelungkup. Tertindih ransel besarnya itu. Belum sempat ia berdiri, para pemabuk itu sudah mengerumuninya dan menariknya dengan kasar. Sooyoung semakin takut.

 

PLAKK! Satu tamparan mendarat di pipi chubby Sooyoung. Membuat gadis remaja itu merintih kesakitan.

 

“Ya! Sakit?!”pekik salah satu dari pemabuk itu.

 

“Lepaskan aku! Biarkan aku pergi!”mohon Sooyoung sambil mulai menangis.

 

“Akan kulepaskan kau. Tapi nanti! Sekarang kami ingin ‘bermain denganmu! Hahaha!”kata orang yang lainnya.

 

Sooyoung mencoba menendang titik vital dari tubuh salah satu pemabuk tersebut, tapi….

 

PRAANGG! Pemabuk yang lainnya memukul kepala Sooyoung dengan botol Soju. Sooyoung terjatuh, namun masih setengah sadar. Dan dalam hitungan detik, darah segar mengalir dari kepalanya. Bau anyir darah yang melewati mata, hidung dan mulut, membuat kepalanya semakin pening.

 

“Rasakan kau! Itu akibat dari perbuatanmu yang melawan kami!”teriak salah satu dari pemabuk itu.

 

Sooyoung memejamkan matanya. Bukan untuk mati, tapi untuk menahan rasa sakit yang kini ia rasakan. Namun ia merasa, kalau dirinya sudah tak kuat. Darahnya terus mengalir, dan lama-kelamaan nafasnya mulai tersendat.

 

Ia membuka matanya lagi. Samar-samar terlihat, keempat pemabuk itu mulai gila. Mereka menendangi Sooyoung. Kemudian menyiramnya dengan air Soju yang masih tersisa. Terdengar pula tawa jahat dari keempat pemabuk itu.

 

Keempat pemabuk itu dipengaruhi oleh efek minuman keras yang luar biasa. Tubuh Sooyoung terasa semakin nyeri. Jantugnya bergetar hebat. Nafasnya terputus-putus. Sooyoung pun sudah mulai memasrahkan dirinya, jika memang ini saatnya ia untuk menyusul Eommanya. Dan beberapa detik kemudian, pandangannya mulai kabur… Dan hanya menyisakan gelap.

 

Mengingat kejadian-kejadian itu, kepalanya terasa sakit kembali. Dan badannya terasa remuk. Namun beruntung, sampai sekarang, ia masih hidup. Padahal seharusnya tubuhnya sudah hancur karena deraan para pemabuk itu. Para pemabuk yang kini sedang duduk di pojok ruangan.

 

Dengan pelan dan hati-hati, ia mencoba melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya. Namun gagal, keempat orang jahanam itu sudah lebih dulu melihat gerak-gerik Sooyoung. Tanpa aba-aba, mereka langsung menghampiri Sooyoung yang masih mencoba untuk lari…

 

 

TIIN! TIIN! Cho Duk Ki membunyikan klakson mobilnya lagi. Menandakan bahwa Kyuhyun harus segera keluar. Karena mereka akan berangkat untuk mencari Sooyoung. Namun sudah lebih dari 20 menit menuggu, Kyuhyun tak datang juga.

 

“Kyuhyun! Cepat keluaaaaar!”pekik Cho Duk Ki, Appa-nya Kyuhyun.

 

Kyuhyun segera keluar rumah sambil membawa PSP kesayangannya. Kemudian membuka pintu belakang mobil dan segera duduk di dalam nya. Tanpa bicara lagi, Cho Duk Ki langsung tancap gas.

 

Mereka berkeliling mencari Sooyoung. Singgah di tempat-tempat pinggiran hingga di perbatasan kota Seoul. Setiap kali bertanya, “Apakah anda pernah melihat orang yang ada di foto ini?” orang-orang selalu berkata, “Tidak pernah…” atau malah “Aku tak tahu.”. Mereka juga sudah lapor polisi, tapi polisi menolak kasusnya. Karena Sooyoung belum menghilang selama 24 jam.

 

Tak terasa, hari sudah sore. Kyuhyun menatap langit. Matahri hampir terbenam, menandakkan kalau sebentar lagi jam akan menunjukkan pukul 18.00. Kemudian, ia menoleh ke kanan. Dilihatnya Appa dan Eomma yang terlihat sangat lelah. Rasa iba muncul dari dalam dirinya.

 

“Eomma, Appa, kalian sebaiknya pulang duluan ya. Ini sudah hampir sore. Aku takut kalian kelalahan. Aku akan mencarinya sebentar lagi. Eotteh?”tawar Kyuhyun antusias.

 

“Kau mencari sendiri? Memangnya kau belum lelah Kyu?”Tanya Kim Ha Neul, eomma-nya.

 

“Aku belum lelah kok,”jawab Kyuhyun sedikit berbohong. Sebenarnya, tubuhnya juga sudah lelah. Tapi mau bagaimana lagi? Sooyoung belum ditemukan.

 

“Tapi wajahmu pucat, Kyu,”ujar Cho Dukki sedikit kahwatir.

 

“Nan gwaenchanayo… Appa dan Eomma pulang saja. Jika nanti Sooyoung belum kutemukan, besok kita harus lapor polisi…”kata Kyuhyun menyakinkan orang tuanya.

 

“Ne, kami pulang duluan ya. Hati-hati,”pamit Cho Du Ki sambil mengusap lembut kepala Kyuhyun. Kemudian, ia bersama istrinya naik ke mobil dan segera pulang.

 

Dengan sisa tenaga, Kyuhyun melanjutkan untuk mencari Sooyoung. Menyusuri lagi pinggiran kota Seoul. Sesekali ia mengintip ke dalam rumah-rumah kecil yg ada di pinggiran jalan. Berharap Sooyoung ada di sana. Tapi, nihil. Yeoja yang ia cari tak ada disana.

 

Perasaannya makin tak enak. Rasa bersalah menyelimuti hatinya. Ia menganggap bahwa Sooyoung pergi karena dia. Kini, ia benar-benar merindukan Sooyoung. Ia benar-benar khawatir. Takut kalau nanti ada sesuatu yang buruk menimpa Sooyoung. Bagaimana pun, Kyuhyun telah berjanji pada mendiang Eommanya Sooyoung, untuk menjaga Sooyoung.

 

“Sooyoung… Kau dimana sekarang? Aku disini mencarimu, Soo… Maaf jika aku selalu menyakiti hatimu. Maaf jika aku telah berubah mennjadi oppa yang angkuh dan cuek. Maaf… Tapi tolong kembalilah. Oppa sangat merindukanmu, Soo…”batin Kyuhyun sambil terus menundukkan kepala. Kemudian ia menyenderkan tubuhnya ke tembok sebuah rumah kecil.

 

Tiba-tiba…

 

“Aaaah! Shireo! Lepaskan aku!”suara yeoja terdengar tepat di belakangnya. Kyuhyun beranjak berdiri dan mengintip lewat jendela.

 

“Diam! Atau akan ku tancapkan benda ini di dadamu!”bentak seorang lelaki. Kyuhyun melihat, namja itu sedang menodong sebuah pisau lipat pada seorang yeoja. Matanya beralih pada seorang yeoja yang sedang diikat di kursi. Bentuk tubuhnya, raut wajahnya dan gaya rambutnya… Ia sangat mengenalnya. Itu… Choi Sooyoung! Dia dalam bahaya.

 

Tanpa pikir panjang, Kyuhyun langsung berlari menuju pintu depan rumah itu. Dibantingnya dengan keras. Kyuhyun langsung disambut oleh dua namja paruh baya yang bertubuh besar. Choi Minho dan Lee Donghae namanya. Dengan sigap, Kyuhyun langsung menghajar dua namja yang menghadangnya itu. Kedua namja itu pun tumbang.

 

“Lepaskan dia!”pekik Kyuhyun pada dua namja yang lainnya, yang sedang berdiri di dekat Sooyoung.

 

“YA!! Siapa kau? Beraninya masuk ke sini sembarangan!”balas salah satu namja itu, kemudian berjalan dengan sangar ke arah Kyuhyun.

 

“Lepaskan dia! Atau kau akan berurusa denganku!”tantang Kyuhyun penuh semangat.

 

“Kau menantangku ya, anak ingusan?! Baik jika ini maumu! Akan kutunjukkan sekejam apa Lee Hyuk Jae!”balas namja itu sambil meluncurkan kepalan tangannya pada wajah Kyuhyun. Namun sang gamers itu berhasil menangkisnya dan menendang namja itu. Namja itu jatuh, namun hanya sesaat, dan ia beranjak berdiri lagi.

 

Tiba-tiba, namja yang satunya lagi, Kim Heechul, ikut bergabung dalam perkelahian. Kini bukan 1 lawan 1 lagi. Tapi 2 lawan 1. Terlihat Kyuhyun cukup kewalahan. Tapi Kyuhyun terus melawan. Dihajarnya Kim Heechul hingga tumbang, namun ia tak sadar jika Lee Hyuk Jae telah ia abaikan. Tanpa sepengetahuannya, Lee Hyuk Jae mengeluarkan pisau lipatnya, siap menusuk Kyuhyun kapan saja.

 

“Oppaaa! Awaaas!”pekik Sooyoung mengingatkan.

 

Kyuhyun menoleh tapi… JLEB! JLEB! JLEB! Pisau lipat itu sudah terlanjur menembus perutnya tiga kali. Kyuhyun langsung jatuh ke lantai, sambil terus memegangi perutnya yang mengeluarkan banyak darah. Ia meringis dan merintih kesakitan. Sooyoung hanya bisa menatap Kyuhyun sambil menangis. Ia ingin sekali memeluk Kyuhyun, namun apa dayanya. Tubuhnya terikat kuat di kursi.

 

“Rasakan! Itu akibatnya kalau kau mencampuri urusanku!”bentak Lee Hyuk Jae.

 

 Tapi… BUKK! Seorang namja tak dikenal memukul kepala Lee Hyuk Jae dengan sebatang kayu besar. Sakit yang luar biasa membuat jatuh ke lantai. Namja tak dikenal tadi langsung menghampiri Sooyoung. Melepaskan tali yang mengikat Sooyoung pada kursi.

 

“Gomawo. Tolong kau telepon ambulans. Oppa-ku sedang kesakitan disana,”pinta Sooyoung sambil menunjuk Kyuhyun. Dengan segera, namja itu menelepon ambulans dan polisi.

 

Sooyoung langsung menghampiri Kyuhyun yang terbaring lemah di lantai. Di pangkunya kepala Oppa-nya itu. Kemudian mengusap lembut wajah Kyuhyun yang kini terlihat sangat pucat. Keringat mengucur dari kepala dan pelipisnya. Darah merah segar juga keluar melalui mulutnya.

 

“Oppa…”ujar Sooyoung dengan lirih.

 

“Sooyoungie… ahh… ehm… ini… sakiit…”balas Kyuhyun pelan sambil merintih.

 

“Oppa, mianhae… Karena aku, kau jadi…”ucap Sooyoung, ia tak bisa melanjutkan perkataannya. Air matanya, jatuh begitu saja.

 

“Gwaenchana, Soo… Ahh… Uljima…”kata Kyuhyun yang kemudian menghapus air mata Sooyoung sambil tetap merintih, namun namja itu masih tetap mencoba untuk tersenyum. Kyuhyun mengelus pipi Sooyoung dengan lembut.

 

“Bertahanlah, oppa. Jebal, bertahanlah. Jangan pernah kau coba… Untuk menutup matamu,”pinta Sooyoung di sela tangisnya.

 

“A… Aku… akan berusaha un.. untukmu,”kata Kyuyun terbata-bata. Nafasnya tak teratur dan tersengal-sengal.

 

Tak lama kemudian, ambulans datang. Tim paramedis langsung membawa Kyuhyun ke dalam ambulans. Sooyoung ikut masuk ke dalamnya, ditinggalkannya namja asing yang tadi telah membantunya. Jarum infus tertancap di tangan Kyuhyun. Mulut dan hidungnya dipasangi masker respirator. Darah-darah di sekitar mulut dan perutnya mulai dibersihkan. Sooyoung tetap menggengam tangan Kyuhyun dengan erat.

 

“Nona, kepalamu juga berdarah… Luka-luka basah juga ada di tangan dan kakimu. Kau juga harus diobati,”ujar sang suster pada Sooyoung.

 

“Jangan pedulikan aku. Aku baik-baik saja. Yang penting selamatkan dulu oppaku!”balas Sooyoung dengan nada agak tinggi.

 

 

A few days later…

 

“Bagaimana keadaanmu, oppa?”tanya Sooyoung yang duduk di sebelah Oppa-nya sembari tersenyum.

 

“Sudah lebih baik. Tapi aku belum boleh bangun dari tempat tidur,”jawab Kyuhyun yang masih terbaring di ranjang. Namun, wajahnya sudah lebih cerah. “Kalau kau bagaimana? Kudengar, kepalamu terluka…”lanjut Kyuhyun.

 

“Aku juga sudah baikan. Oya… Gomawo dan mianhae, oppa…”ucap Sooyoung.

 

“Untuk apa, Soo?”tanya Kyuhyun pura-pura tak tahu. Menunjukka wajah isengnya.

 

“Karena kau telah menyelamatkanku sampai seperti ini, babo! Jangan pura-pura bodoh!”balas Sooyoung sambil memberikan satu jitakan di kepala Kyuhyun. Disambut tawa ceria oleh Kyuhyun.

 

“Hahaha… Ya, itu kan memang sudah tugasku, Soo. Kau adikku. Dan mendiang Eommamu itu memberikan amanat padaku. Bahwa aku harus terus menjagamu sampai kapanpun,”ujar Kyuhyun.

 

“Jadi… Kau hanya menganggapku sebagai adik?”pertanyaan Sooyoung, membuat Kyuhyun sedikit kaget.

 

“Hmm.. Maksudmu?”

 

“Maaf, tapi aku mengharapkan lebih…”bisik Sooyoung, namun masih bisa didengar dengan jelas oleh Kyuhyun.

 

Sooyoung menundukkan kepalanya. Memutuskan untuk memejamkan matanya. Wajah dan pipinya memerah. Pastinya karena malu. Ia merasa bodoh karena kenekatannya. Tapi apa mau dikata? Perasaannya sudah terpendam lama. Daripada nanti jadi basi, lebih baik segera diutarakan.

 

CUP! Ciuman lembut mendarat di bibir Sooyoung. Membuat wajah yeoja itu semakin memerah. Jantungnya deg-deg an dan tubuhnya sedikit bergetar.

 

“YA!!! Kau mencuri first kiss-ku!”pekik Sooyoung sambil mengarahkan telunjuknya yang lentik ke wajah Kyuhyun. Kyuhyun menepisnya. Ia menggengam tangan Sooyoung.

 

“Tapi kau suka kan? Wajahmu semerah udang rebus! Lagipula kita kan bukan saudara kandung. Jadi kita bisaa…..”Kyuhyun tak melanjutkan perkataannya.

 

“Jadi sekarang kita…”

 

“Mungkin!”jawab Kyuhyun tak pasti sambil mengedipkan sebelah matanya.

 

“Iih, oppa! Kauu…”belum Sooyoung selesai bicara, Kyuhyun langsung…. CUP! Mendaratkan ciuman lagi di bibir Sooyoung. Membuat yeoja itu tersipu malu.

 

“Kau tahu? Aku senang jika akhirnya bahagia seperti ini, chagi…”ujar Kyuhyun. Sooyoung hanya membalas Kyuhyun dengan senyum dan tatapan bahagia. Kemudian menyenderkan tubuhnya di bahu Kyuhyun.

 

Sedangkan, di balik pintu, Cho Duk Ki dan Kim Ha Neul hanya melongo melihat kelakuan kedua bocah 16 tahun itu.

 

 

—————————————- END ————————————————-

 

Bagaimana readers?? Aneh yaaaaa… Mian, kalo kepanjangan dan endingnya tidak seperti yang para readers harapkan…

 

Sekarang, yang udah baca ini wajib COMMENT + LIKE!! POKOKNYA WAJIIIB!

 

Btw, Gomawo udah baca😀

28 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s