(Freelance) My Guardian Angel

Title: My Guardian Angel

Author: @momonica407

Cast:

–      Choi Jinhwa

–      Cho Kyuhyun

–      Choi Siwon

–      Jung Hyorim

–      Lee Sungmin

–      Lee Hyuk Jae a.k.a Eunhyuk

–      Yesung

–      Lee Donghae

Genre: Mystery, Family, School, Romance, Comedy (?)

Length: Chapter

Rated: PG 15

Author’s Note:

Annyeong yeorobeun! Monica imnida😀

Ini first ff ku, jadi jeongmal mianhae kalo banyak typo, aneh, dan alurnya gaje banget -_-

Tapi sejelek2nya ff saya, tolong komen yah. Terserah mau ngebash atau apa, yang penting komen. Soalnya saya msh penulis baru, jd sangat sangat perlu saran dan kritik dari readers J

Happy reading ^^

 

My Guardian Angel [prologue]

Aku menengok ke arah bawah. Wuuuzz. Angin malam yang kencang berhembus, membuat rambutku yang tergerai jadi berantakan. Segera kusampingkan anak rambutku ke belakang telinga agar tak menghalangi pandangan mataku.

Aku memejamkan mata, berusaha untuk meyakinkanku akan keputusan ini. Apakah semua ini tepat?

Kulangkahkan kaki kananku ke depan dan menaiki pagar pegangan di gedung tinggi itu. Angin semakin berhembus kencang, seolah-olah ingin berkata “Jangan lakukan hal itu, bodoh.”

Aku menelan ludah menatap pemandangan di bawahku. Mobil truk saja terlihat seperti semut dari sini.

Aku menarik nafas. Jika aku melompat dari gedung ini sekarang… Kurasa besok akan ada deadline besar-besaran di semua koran: Seorang gadis yang malang tewas menggenaskan karena melompat dari gedung tinggi di bulan kasih sayang. Uhm, apa judulnya kepanjangan? Aish biarlah. Dan satu hal yang kuyakini isi berita itu juga berisi pendapat para saksi mata yang berkata: Gadis itu bodoh sekali. Hidup kan sangat berharga, kenapa ia malah membuang hidup itu sendiri?

Aku tertawa miris membayangkan semua itu.

Aku kasihan sekali ya? Di bulan — yang kata orang bulan kasih sayang itu — seharusnya semua orang bahagia, sedangkan aku tidak sama sekali.

Baiklah, aku tak mau berlama-lama lagi.

Aku menaikkan kaki kiri dan kananku sehingga kedua kakiku sukses berdiri di atas pagar pegangan. Aku menelan ludah, memejamkan mata, dan kemudian bersiap untuk melompat. Kaki kananku sudah hampir melangkah ke udara, sampai suatu suara mengagetkanku dan mengurungkan niatku.

“Untuk apa kau ingin mati konyol seperti ini?”

Aku tersentak. Kuinjakkan kakiku kembali ke tanah. Kutoleh sosok yang agak samar itu. Sosok yang menjauh itu perlahan melangkah mendekatiku.

Ternyata ia seorang namja. Namja yang, eerr….kuakui tampan itu makin mendekat ke arahku, atau lebih tepatnya ke arah wajahku dengan kedua tangannya yang ditaruh di saku jasnya. Kuperhatikan penampilan namja itu. Ia memakai jas hitam dengan dalaman putih yang terlihat dipadu dengan celana panjang yang juga hitam. Orang itu seperti orang yang habis mengikuti resepsi pernikahan saja.

Ia memasang tampang yang menyeramkan. “Kenapa kau ingin mati konyol seperti ini, huh?”

Aku balas menatapnya dengan geram. “Apa urusanmu? Aku mati pun takkan ada yang peduli.”

“Waaaw.” Ia menganga kecil sambil menggeleng-geleng kepalanya. Ia pun berdecak. “Ckck, kata-katamu tadi benar-benar menyentuh hatiku.”

“Siapa kau?” tanyaku ketus.

“Cho Kyuhyun.” Ia menjawab dengan datar.

Aku mendecak. “Aku bukan ingin menanyakan namamu, tapi aku tanya siapa kau ini hah? Apa urusanmu melarang aku melompat dari gedung ini?”

Ia tersenyum menyeringai. “Lho, siapa bilang? Aku tak melarangmu melompat dari gedung ini. Huh, percaya diri sekali kau ini.” Aku menatapnya kesal.

“Silahkan saja kalau kau mau melompat sekarang. Aku tak peduli. Aku hanya menanyakan apa alasanmu ingin bunuh diri. Itu saja. Dan soal siapa aku ini, kurasa aku bilang sekarang pun tak ada gunanya. Kau mau mati sekarang, kan? Untuk apa aku capek-capek bercerita panjang lebar padamu sementara kau akan lenyap di dunia ini tak lama lagi, hmm?”

Aku menggertakkan gigiku dengan geram. Baru bertemu selama beberapa menit saja namja ini sudah mampu membuatku kesal, gerutuku sambil menatap namja di hadapanku ini lekat-lekat.

Masa bodoh dengan namja aneh yang tak kukenal itu. Segera aku menaiki pagar dan mulai melompat terjun bebas ke bawah. Aku memejamkan mata. Dapat kurasakan tubuhku melayang dan angin kencang yang menghempas tubuhku membelah udara.

Tiba-tiba saja angin kencang itu mendadak tak berhembus lagi.

Apakah aku sudah mati sekarang?

Aku membuka mata takut-takut. Begitu mataku dengan pasti terbuka, aku melongo melihat apa yang terjadi.

Cho Kyuhyun si namja yang menyebalkan itu menggendongku!

Dan yang lebih mencengangkan lagi, ia menggendongku di udara. Oke, kuulangi sekali lagi. di UDARA. Tanpa memijakkan kaki sebagai tumpuan di tanah alias terbang. Ya, dia TERBANG!

Aku tercengang. Kulihat mata yang hampir meloncat keluar itu menatapku dengan tatapan seolah-olah ingin menelanku hidup-hidup. Dapat kulihat juga kedua sayap lebar putihnya itu mengepak-ngepak dengan indah.

Aku melongo. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Segera ia menurunkanku di atap gedung kosong yang tak jauh dari atap gedung yang kunaiki tadi.

“Baboya!! Kenapa kau sebodoh itu, hah? Apa kau tak sadar diluar sana masih banyak orang yang mempertaruhkan hidupnya? Sedangkan kau malah dengan seenaknya membuang nyawa itu! Aku tak habis pikir dengan yeoja bodoh sepertimu!”

Pertahananku pun luluh lantak. Air mataku keluar begitu saja mendengar namja asing membentakku seperti itu. Aku menangis sejadi-jadinya, tanpa peduli apa komentar namja ini selanjutnya.

Aku memukul-mukul pelan dadanya sambil berkata lirih dengan bibir yang bergetar. “Kenapa……kenapa kau menyelamatkanku?”

Kyuhyun diam. Ia menatapku dingin.

“Bukannya kau bilang bahwa kau tak peduli aku ingin melompat atau tidak? Kenapa…kenapa kau menyelamatkanku? Aku sudah muak hidup di dunia ini! Tak ada satupun yang mengharapkanku di dunia ini. Aku muak!!” Aku menjerit. Air mataku makin mengalir deras.

Kyuhyun hanya menatapku dengan pandangan……entahlah, aku sendiri tak bisa menafsirkannya. Pandangannya itu antara dingin dan iba melihat kondisiku yang menyedihkan ini.

“Aku memang tak peduli kau ingin melompat atau tidak.” Ia berjalan mendekatiku, kemudian berkata tepat di depan wajahku, “Tapi aku tak bisa membiarkan kau mati begitu saja.”

Aku tercekat. Kuhapus air mataku dengan punggung tangan, lalu bertanya, “Sebenarnya siapa kau ini? Malaikat maut?”

Ia tertawa kecil. “Bukan. Mana ada malaikat maut setampan aku?”

Aish, pede sekali dia! w(°A°w)

“Lalu…kau ini siapa? Titisan iblis?” Aku menatapnya bingung. “Atau…..” Aku terdiam dalam keraguan. “Kau ini…….dewa kematian?”

Ia tertawa lebar. Aish, memang ada yang lucu ya?

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. “Kau ini lucu sekali. Tidakkah kau lihat wajah malaikatku ini tidak memungkinkanku untuk menjadi titisan iblis, apalagi dewa kematian? Kau ini benar-benar gadis bodoh, Choi Jinhwa.”

Aku terkejut. Hey, darimana ia tau namaku?

“Wajar aku tau, aku ini malaikat pelindungmu.” Ia pun berkata seolah-olah tau isi hatiku.

Begitu mulutku siap melontarkan pertanyaan, Kyuhyun-si-namja-menyebalkan- sok-tampan-yang-mengaku-sebagai-malaikat-pelindungku langsung menyambar. “Setiap manusia punya malaikat pelindung. Fungsi malaikat pelindung adalah menjaga agar manusia yang dilindunginya tidak mati di luar jadwal yang ditetapkan. Misalnya seperti kau ini. Kau tidak dijadwalkan untuk mati hari ini. Dan jika ternyata kau mati sekarang, maka malaikat pelindung orang tersebut akan mendapatkan hukuman. Malaikat mana yang mau dapat hukuman, huh?”

Aku mendelik. “Huh, memang apa urusanku? Kan kau yang dihukum, bukan aku. Biarkan aku mati sekarang!”

Ia mendengus kesal. “Apa kau tak mau tau apa hukumannya?”

Aku menggeleng. “Aniya.”

“Aish.” Kyuhyun menggerutu dengan tangan terkepal yang siap melayang ke arahku. Ia menurunkan tangannya. “Jika aku gagal, maka aku tidak boleh jadi malaikat lagi dan sayapku pun disegel. Kau mungkin tak tau, tapi malaikat yang sayapnya disegel adalah malaikat yang kujamin takkan punya semangat hidup.”

Aku mencibir. “Semangat hidup katamu? Kau kan sudah mati.”

Ia menghela nafas. “Jika malaikat gagal, maka orang yang mati tidak sesuai jadwal itu pun akan dihukum juga.”

Aku membelalakkan mataku. Aku yakin mataku hampir saja copot keluar.

“Roh orang itu akan gentayangan di dunia ini dan selamanya akan jadi pengacau manusia. Tentu saja hal ini sangat meresahkan manusia dan para malaikat, terutama para elf.”

Hah? Apa yang dia bilang? Elf? Elf itu kan nama fandom buat Super Junior? *plak* *digampar author* *itu sih e.l.f = ever lasting friend* #abaikan

“Apa itu elf?”tanyaku bingung setelah digampar author yang ternyata merupakan istri sah Kyuhyun (?)

“Elf itu peri yang bertugas untuk mengumpulkan para roh gentayangan yang menganggu manusia. Kau  tau, jika ada manusia yang mengetahui dunia mereka, maka tentu saja itu akan merepotkan.

“Jadi……” Aku merenung. “Itukah sebabnya ada hantu yang menganggu manusia ada juga yang tidak menganggu, begitu?”

“Bisa dikatakan seperti itu….. jika manusia merasa ada roh atau makhluk halus disekitarnya, maka tugas elf sangat berperan saat itu. Para elf mulai mengusir makhlus halus dari tempat manusia itu. Manusia tidak boleh tau keberadaan mereka.”

Satu hal yang kuketahui hari ini: Ternyata hantu itu seperti gelandangan yang dikejar-kejar satpol pp -_-

Aku manggut-manggut menganggukkan kepala.

Kyuhyun-si-malaikat-pelindung-yang-hobi-memberi-tatapan-dingin itu menatap wajahku sambil menunjukkan evil smirk. Aigoo……..seram sekali. Aku bingung kenapa malaikat punya evil smirk.

“Jadi…bisakah kau menjelaskan tiga alasan yang membuatmu ingin bunuh diri itu?”

“Untuk apa aku menjelaskannya? Kau kan malaikatku, kau pasti sudah tau.”

Ia memasukkan tangan di saku jas sambil menaikkan sedikit dagunya.  “Jelaskan padaku tiga alasan yang membuatmu ingin mati itu .”

“Kau tau darimana kalau alasanku ada tiga?”

“Aish, apa kau mau kusihir mulutmu supaya berhenti bicara, huh?”

“Baiklah, aku akan cerita… Alasan pertama aku ingin mati adalah, aku dikhianati oleh sahabatku sendiri.”

[flasback 3 weeks ago]

Aku bengong di bangku belajarku. Aku menatap namja yang baru saja masuk ke dalam kelas itu.

Aish, kenapa hari demi hari dia makin keren, huh?

Aku membaca papan nama yang tertampang di seragam sekolah.

Lee Sungmin.

Ya, itulah nama yang bisa membuatku gila. Nama yang membuat jantungku berdebar-debar. Aku menyukai, ah tidak, aku sangat sangat mencintai namja itu. Entah sejak kapan cinta ini mulai tumbuh. Hmm aku pikir-pikir dulu. Oh, kurasa aku mulai mencintai namja imut itu sejak festival sekolah.

Aku tersenyum mengingat kejadian itu. Waktu itu aku kebagian tugas jadi pelayan cafe. Tentu saja ide pembuatan cafe itu dalam rangka memeriahkan festival cafe. Sialnya, aku yang memberi ide cafe itu ditunjuk sebagai pelayan. Tentu saja aku mencoba menolak mentah-mentah. Aku paling tak  tahan melayani orang sambil terus mengumbar senyum. Oke, jujur saja. Sebenarnya aku ini minder.

Bagaimana tidak? Dengan kacamata tebal sialan — ditambah lagi dengan ketidakberdayaanku tak bisa memakai contact lens yang hanya boleh dipakai selama empat jam itu — aku langsung saja tidak percaya diri. Oh, tentu saja itu belum cukup untuk melengkapi keminderanku. Aku ini kuper. Aku orang yang langsung tak percaya diri begitu melihat yeoja cantik.

Kembali ke masalah. Sungmin juga jadi pelayan cafe dengan cara pemaksaan, tentunya. Jadilah aku dan Sungmin melayani pengunjung yang sebagian besar perempuan centil yang datang hanya ingin melihat Sungmin saja.

Aku didandan menjadi karakter dalam manga Chardcaptor Sakura. Bisakah kau membayangkan aku memakai pakaian ketat dan rok yang 10 senti di atas lutut itu? ditambah lagi dengan sepatu hak tinggi 7 senti —yang kurasa bisa membuat kepala siapa saja bocor— berwarna pink . Oh, kurasa kau lupa dengan tongkat ajaibnya. Aku rasa jika ada binatang yang mirip kucing seperti di dalam manga itu hinggap di pundakku, orang pasti mengira di cafe ini ada anime cosplay festival.

Kau penasaran apa yang dipakai Sungmin? Entah kenapa di antara tokoh anime yang tampan dan keren, Sungmin disuruh memakai kostum penguin seperti film Madagascar. Sangat sulit menahan tawa setiap memandang wajah Sungmin yang sepertinya tak rela memakai kostum itu. Tapi dia imut sekali. Aish, aku gemas sekali dengannya.

“Jinhwa, bisakah kau melayani meja disana?” perintah ketua kelas yang merangkap sebagai penanggung jawab cafe.

“Ne.”

Aku yang tak terbiasa  memakai sepatu hak tinggi pun kehilangan keseimbangan dan syuut……

Sungmin yang berada di sebelah reflek menangkapku. Wajahku dan wajahnya berdekatan, bahkan nafas Sungmin saja bisa kurasakan.

“Kau cantik, Jinhwa.” Aku bisa mendengar lirihan Sungmin yang spontan membuat semburat merah di pipiku.

Pokoknya, hari itu aku adalah gadis paling bahagia di dunia ini.

“BAAAA!!!”

“Huaaaaa! Aah, ternyata kau….” aku mengelus-elus dadaku kaget begitu sahabatku, Jung Hyorim datang dan mengagetkanku yang sedang melamun.

“Hey, kau melamun?” tanyanya heran. Senyum geli menghiasi bibirnya yang mungil. Ia menunduk berusaha melihat wajahku.

“Oh, kau melamun tentang Sungmin lagi ya?” ia tertawa pelan. “Kenapa kau tidak coba mendekatinya saja? Atau kalau perlu kau nyatakan saja cintamu yang terpendam selama dua tahun itu.” ia makin tertawa begitu melihat reaksiku yang langsung menahan malu itu.

“Kau tau kan, dia dan aku itu berbeda. Ia tampan sedangkan aku tidak.”aku menjawab lirih.

“Lho, tentu saja. Dia kan namja, makanya dia dibilang tampan. Sedangkan kau ini yeoja, makanya kau tidak tampan.” Ia tertawa lagi. “Kau ini cantik, Jinhwa. Hanya saja kau tidak menyadari kecantikanmu itu. Sungmin saja sampai terpesona denganmu waktu kau memakai kostum itu.” Ia tersenyum geli menahan tawa.

“Aku ini tidak cantik, Hyorim. Jika aku cantik pasti banyak namja yang lebih tampan dari Sungmin menyatakan cinta padaku. Berbanding terbalik denganku, kau itu cantik. Banyak namja tampan yang ingin menjadi namjachingu mu tapi tak ada satupun yang kau terima. Aku sungguh heran denganmu.”

Hyorim memang cantik. Aku tak bohong. Selama mata dan jiwamu masih normal, kata yang kau ucapkan ketika melihatnya pasti “cantik”. Dengan wajah manis dengan senyum yang menawan, kurasa tak satupun kaum adam di dunia ini yang berani bilang Hyorim itu jelek.

“Aku menunggu namja yang kusukai menyatakan cinta padaku.”

Oh, lihat betapa entengnya ia mengatakan kata itu. Ia sih enak, cantik.

Keesokan harinya.

Hari ini hari libur. Aku ingin mengembalikan komik Hyorim yang kupinjam kemarin. Jadilah aku berjalan ke rumahnya yang memang hanya beda beberapa blok saja.

Dengan riang aku melangkah dan akhirnya sampai di rumahnya. Begitu aku ingin menekan bel, aku mendengar suara.

“Saranghae, Hyorim-ah.”

“Na do.”

Aku tercekat. Hening sejenak. Tak lama kemudian aku mendengar suara desahan. Karena penasaran aku membuka pintu yang ternyata tidak dikunci itu.

Pemandangan yang membuatku menahan nafas muncul di hadapanku.

Hyorim berciuman dengan Sungmin! Kalau saja itu hanya ciuman biasa, mungkin aku tidak sekaget ini. Tapi mereka berciuman intens! Bisa kulihat Hyorim susah payah bernafas. Ia menjambak rambut Sungmin dengan kasar, tapi tetap saja ia terlihat menikmatinya. Sungmin juga begitu. Mereka berdua memejamkan mata. Tampaknya mereka tidak menyadari kehadiranku karena sofa yang mereka duduki membelakangiku.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?” aku berteriak histeris, syok melihat apa yang telah terjadi tepat di kedua mataku.

“Jinhwa…” Hyorim langsung melepaskan ciuman mereka dan berdiri menghampiriku.

“Kau pengkhianat!” aku berteriak sambil menahan tangis.

“Hah? Pengkhianat kau bilang? Memang apa yang ku khianati darimu?” ia melirik Sungmin yang sedang memegangi bibir dengan punggung tangannya. “Oh, maksudmu Sungmin? Kenapa kau bilang aku pengkhianat, huh? Eunhyuk kan bukan pacarmu!”

Aku terdiam sambil terisak. Segera kuhapus air mataku sebelum turun lebih deras.

“Kenapa kau….melakukannya?”tanyaku lirih.

“Sesuai yang pernah kukatakan…. aku menunggu namja yang kusukai menyatakan cinta. Dan dia baru saja melakukannya beberapa menit yang lalu. Benar begitu kan, chagi?”

“Ne, chagiya ~ Aku tak menyangka yeoja berkacamata ini menyukaiku karena di festival sekolah aku memujinya cantik.” Sungmin mencibir dengan nada yang menurutku sangat menyakitkan.

“Jujur kau memang cantik, Jinhwa. Tapi sayang, kepribadianmu itu sungguh tidak menarik.” Hyorim ikut menimpali perkataan Sungmin. “Dadamu rata. Kelakukanmu kaku. Kau sama sekali tak ada sisiyang bisa membuat namja tertarik, kau tau?”

Aku menggigit bibir bawahku seraya menahan tangis. Kalimat yang meluncur dari bibir Hyorim tadi seketika saja meremukkan sisi hatiku.

Jadi, sebenarnya apa tujuannya bersahabat denganku?

“Oh ya, satu lagi” Hyorim menyela seolah mengetahui isi hatiku. Ia melipat kedua tangan di dada. “Aku berteman denganmu hanya karena kasihan. Jika aku tak kasihan padamu, kurasa sampai detik ini kau tak punya teman. Aku benar, kan?”

“Kenapa…..Kenapa kau lakukan ini semua?” aku bertanya lirih, masih menahan agar air mata bodoh ini tidak mengalir deras.

“Oh itu. tentu saja karena……aku muak mendengar ceritamu tentang Sungmin. Sungmin beginilah, begitulah. Setelah mendengar semua ceritamu, aku jadi tertarik dengan Sungmin dan kami pun berteman. Dan seperti yang kau lihat, Sungmin menyatakan cinta padaku dan aku pun menerimanya.” Ia menyunggingkan senyum, senyum sinis yang seolah berkata aku-menang-darimu-pecundang.

Aku menarik nafas, mencoba merileksasikan nafas dan pikiran. “Chukkae Hyorim, Sungmin. Semoga kalian berbahagia.” Kucoba tersenyum tipis seraya meninggalkan mereka.

[end of flashback]

“Hmmm…” Kyuhyun mengagguk-angguk kecil. “Jadi alasan pertama adalah, karena sahabatmu telah merebut namja yang kau sukai itu?”

Aku mengangguk lemah. Kyuhyun mendelik padaku.

“Alasanmu konyol sekali.” Ia mencibir, yang kubalas dengan tatapan geram.  “Lalu…… alasan kedua?”

 

[flashback 2 weeks ago]

“Appa? Eomma? Siwon oppa??” panggilku sepulang dari sekolah. Tak ada jawaban. Aku pergi ke ruang keluarga. Aneh. TV masih menyala. Bahkan tadi pintu tidak dikunci.

Aku pergi ke kamar appa dan eomma. Kugedor pintu tak sabar. Kubuka pintu, namun terkunci. Sunyi. Tak ada respon. Karena merasa ada apa-apa, aku langsung berlari ke belakang rumah untuk melihat kamar mereka yang bisa terlihat disitu.

Tubuhku kaku begitu melihat appa dan eomma yang sudah menjadi mayat. Tampak mayat eomma yang bersender di dinding, dan di sampingnya ada appa yang terbaring di kasur. Aku menutup mulutku dengan tangan, berusaha agar jeritan tak keluar. Akhirnya aku hanya menangis terduduk, sambil mengambil ponsel dan menghubungi polisi.

“Aku menemukan ini di sekitar TKP.” Seorang polisi menghampiriku yang sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit, menunggu hasil otopsi mayat orangtuaku.

Ia menyodorkan sebuah kartu nama yang dibungkus plastik bening. Aku menatap polisi itu heran. Dengan ragu-ragu kuterima benda itu. Tertulis nama Lee Joong Shin. “Apa maksudnya, ahjussi? Apa….apa dia pelakunya?”

Polisi itu mengangkat bahu. “Molla. Yang kutau nama orang yang ada di kertas tersebut sudah kami interogasi, kabar selanjutnya akan kuberitahu.”  Ia tersenyum padaku. Omo, senyumnya manis sekali! Ets, apa yang kau pikirkan, Choi Jinhwa? Di saat seperti ini kenapa kau malah terpesona pada seorang ahjussi, heh? =_=”

“Oh ya ahjussi, aku….”

“Panggil aku Yesung-ssi.” Ia tersenyum lagi. “Yaah, walau umurku 28 tahun, kurasa umur segitu belum bisa di panggil ahjussi, kan?”

“Ah, baiklah kalau begitu ahju…..errr, Yesung-ssi. Bangapseumnida. Choi Jinhwa imnida.” Aku membungkuk memperkenalkan diri.

“Na do.” Ia pun membungkuk. ”Oh ya, jika ada yang ingin kau ketahui, kau datangi saja kepolisian pusat kota Seoul dan kau cari polisi bernama Yesung, arra?”

Kim Jongwoon.

Yak, akan kuingat nama ahju…eerrr tidak, polisi baik hati yang punya senyum malaikat itu.

 

[end of flashback]

“Kau tau, ditinggal mati orangtua adalah hal yang tak pernah terbayang di benakku. Dan sungguh, itu sangat menyakitkan.” Aku melirik Kyuhyun, tapi dia diam saja dan masih menatapku datar.

“Huh, kau mana tau perasaanku!!” bentakku kesal karena ucapanku tak digubris sama sekali.

“Aku mengerti” Akhirnya ia angkat bicara. “Jangan meremehkanku, aku ini malaikat level A. Aku hanya bosan dengan alasan klasik para manusia.”

Aku merengut. Kini giliran aku yang diam. Yaah, bukan maksud mencuekinnya sih, tapi aku bingung mau bicara apa lagi.

“Lalu, apa alasan ketiga?” tanyanya memecah keheningan.

“Aku tak mau cerita! Kau pasti hanya bisa mengejekku saja kan? Huh!” Aku membuang muka dan berjalan menjauhinya.

Dalam sekejap saja Kyuhyun sudah ada di depanku dan memegang daguku kasar lalu mendongakkannya sehingga pandanganku fokus menatap matanya.

Aku meringis. “Aish, lepaskan!”

“Ceritakan dulu baru kulepaskan.”

“Aish, arra arra.. Aku akan cerita.” Ia melepaskan cengkaramnnya. “Alasan ketiga adalah…..”

 

[flashback 1 week ago]

“Appa, nuguseyo? Siapa yeoja yang kau bawa itu?” tanya seorang namja kaget begitu melihat kedatanganku dan Lee ahjussi.

Lee ahjussi tersenyum. “Kenalkan, dia anak rekan bisnis appa. Namanya Choi Jinhwa, ah tidak, kurasa mulai sekarang namanya Lee Jinhwa.”

“Lee Jinhwa?” tanya namja yang agak mirip ikan itu bingung. Hey, sepertinya aku pernah melihatnya.

“Oh, aku tau.. dia anak pemilik Seoul Museum itu kan?” tanya seorang namja lain yang sedari tadi sibuk memainkan laptopnya. Begitu kuperhatikan, wajahnya agak sedikit mirip monyet, haha. Eh tunggu tunggu.. Sepertinya aku pernah melihatnya juga.

Lee ahjussi tersenyum lagi. “Mulai sekarang dia adalah bagian dari keluarga ini.”

“Mwo??” Kedua namja itu kompak terkejut dan melongo. Mereka pun secara bersamaan memandangku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Aish, mereka lihat apa sih?

“Jinhwa, sekarang sudah malam. Lebih baik kau tidur, besok kau harus sekolah kan? Jangan sampai kesiangan.” Aku hanya tersenyum.

“Memang dia sekolah dimana, appa?”tanya namja yang menyerupai ikan itu.

Ahjussi bingung. “Lho, bukannya kalian satu sekolah?”

Si monyet yang ternyata bernama Eunhyuk itu hanya melongo heran. Lalu ia mengangguk-angguk pelan. “Oh, kau Jinhwa yang pernah berteman dengan Hyorim itu ya?”

“Eeerr…iyaa.”

“Yang pernah menyatakan cinta pada Sungmin itu kan?”

Menyebalkan! Dia ini ingin memastikan atau mempermalukanku sih? “Ehm,, iyaaa….”

Eunhyuk melirik Donghae lalu tertawa terbahak-bahak. Astaga, memang ada yang lucu ya?

 

Aku langsung merebahkan diri di kasur begitu sampai di kamar. Kupandang seisi kamar. Yaah, lumayan besar untuk kapasitas satu orang.

Oh ya, kalian pasti bingung kan kenapa aku bisa disini? Ehm, aku harus jelaskan darimana ya? Oh baiklah, sepertinya akan kuceritakan dulu siapa Lee ahjussi itu. Seperti yang sudah dibilang, ia rekan bisnis ayahku. Sepeninggalan Yesung-ssi tiba-tiba saja aku dihampiri oleh pria berjas hitam yang tak lain adalah Lee ahjussi. Ia kolega bisnis ayah dan juga sering bertemu walau bukan membahas urusan bisnis. Kudengar mereka akrab karena sama-sama menyukai olahraga golf, dan mereka sering janjian main golf.

Lee ahjussi menawarkan sebuah ‘penginapan’ gratis dengan syarat aku menjadi anak angkatnya, dan tentu saja kuterima tawaran itu dengan senang hati. Asal kau tau, di dunia ini aku tak punya sanak saudara kecuali keluargaku yang sudah meninggal ini. Ibuku anak tunggal dan adik ayah alias pamanku meninggal sewaktu appa masih kecil. Otomatis aku tak punya sanak famili. Dan juga rumah yang kutempati dulu kini dijual dan ditabung ke rekeningku. Sedangkan soal museum, masih simpang siur soal siapa pemiliknya sekarang. Entah aku atau orang lain.

Oh ya, satu lagi alasan kuat aku ingin tinggal disini. Tentu saja karena sewaktu Lee ahjussi memberi kartu namanya dan sontak membuatku kaget.

Lee Joong Shin.

Jadi, tak ada alasan untuk bilang tidak kan?

[end of flashback]

[flashback 2 days ago]

“Jeongmal mianhae, Lee ahjussi!! Jeongmal mianhae….” Entah sudah berapa kali aku membungkuk minta maaf seperti ini. Keringat dingin mulai mengucuri dahiku. Bagaimana kalau aku diusir? Dimana aku akan tinggal nantinya?

Lee ahjussi hanya tersenyum tipis, namun tersirat jelas kekecewaan disana. “Ne, tidak apa-apa. Lain kali kau harus hati-hati jika ingin membersihkan sesuatu, jangan sampai pecah lagi, arasseo?”

Aku bernafas lega. Syukurlah, aku tidak jadi tunawisma.

“Shireo!!” Namja mirip ikan yang bernama Donghae memarahi tepat di wajahku, membuat kepalaku makin tertunduk.  “Asal kau tau, guci yang kau pecahkan itu peninggalan almarhum ibuku, tau!”

Aku semakin gugup. “Jeongmal mianhaeyo, a..aku…… tidak sengaja.”

“Shireo! Guci itu jauh berharga lima kali lipat dibanding nyawamu, tau!” Sekarang giliran Eunhyuk memarahiku. Ia lalu berpaling menatap Lee ahjussi. “Appa, kenapa tidak kau usir saja anak ini? Ia sama sekali tak berguna dan hanya menyusahkan saja!!”

DEG.

“Apa ayah tak ingat sewaktu ia memecahkan piring kesayangan ibu dan hampir saja membuat rumah ini kebakaran karena ia lupa mematikan kompor? Aku benar-benar tak mau jadi tunawisma hanya gara-gara bocah tak berguna seperti dia!!”

DEEGG. Hatiku benar-benar sakit. Aku tak tahan lagi. Dan entah keberanian dari mana, aku pun berlari meninggalkan rumah dan akhirnya seperti ini. Untunglah di saku celanaku ada beberapa ribu won dan untunglah uang itu cukup untuk membeli makanan.

[end of flashback]

“Jadi begitu….” Aku melirik ke arahnya.

Kyuhyun masih saja menatapku datar. Apa wajahnya itu memang tercipta tanpa ekspresi, huh?

Tapi tiba-tiba saja ia menghela nafas sambil terpejam lalu tersenyum. Astaga, ia tampan sekali! Eh tidak tidak, aku tak boleh jatuh ke dalam pesona Kyuhyun-si-malaikat-sok-keren-yang-punya-senyuman-maut.

“Kajja, kita pulang.” Ia menarik tanganku.

“Kita? Kemana?”

“Tentu saja ke rumahmu, babo.”

“Eeng, anu….” Aku menatapnya takut-takut. “Sebenarnya, alasan aku tak pulang ke rumah adalah…..aku lupa alamat rumah Lee ahjussi dimana.”

Kyuhyun menyipitkan matanya. Aish, seram sekali! Bahkan bulu kudukku sampai berdiri ._.

Ia melepaskan tanganku. Ia mondar-mandir mengelilingku sambil mengacak rambutnya frustasi. “Ish, kenapa aku harus melindungi orang bodoh sepertimu sih?”

“Hah? Apa kau bilang? Bodoh?” Aku memasang tampang sangar. “Hey kau, jangan lari! Awas kau Cho Kyuhyun!!” Aku pun mengejarnya yang berlari kencang.

To Be Continued

Demikian ff gaje saya. Mau lanjutannya gak nih? Kalo iya komen yah, kalo gak komen males juga mau ngepost ff gaje saya ini kalo ga ada peminatnya, hehe ._.

Gomawo yg udh baca! Jgn lupa tinggalin jejak yah ^^

12 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s