[FREELANCE] New Dimension

Author: My ShineEra 최 민 연 (ZuKey)
Title: New Dimension
Length: Drable
Gendre: Romance, Fantasi
Rating: PG- 14
Casts: Jung Jessica, Choi Sulli, Lee Taemin, Kim Jaejoong
Note: Just Fiction
Back Sound: Time Machine SNSD
Summary: Cinta. Sebuah hukum abadi yang tercipta melampaui segala dimensi yang ada
 
Dan kurasakan permainan ini melampaui batas nalar
Bukan nada yang menagis dalam birama
Kepingan hilang ditelan pelangi
Aku berduka
Dan kutemukan nyawaku dalam sujud
 
Bawa aku bersama waktu
Cintaiku dengan syairmu
Wujudkan senyum dengan bintang
 
Hanya kamu
Sampai jumpa
BRAK~~~…
“OPPAAAAAAAAA….” Pekik gadis itu nyaring.
Tik…. Air matanya jatuh. Badannya lemas dan tersungkur lemah.
Matanya menatap nanar tubuh pria tak bernyawa yang terbujur kaku penuh dengan darah di tengah jalan raya itu.
Kau pergi…
“My Hero, The Ice Princess still needs you to melt her every morning. Why you have to leave her??? WHY??? WHY…. Hixx…” ujar suara lirih itu.
Air mata itu mengalir lagi. Jauh lebih deras.
 
###
Ting…
“New guest is coming” seru seseorang di meja kasir dengan suara nyaring.
Restoran yang terletak di pusat kota Seoul. Dengan design homey dan di penuhi dengan ornamen kayu khas desa-desa di Texas sana.
”Annyeonghaseo… Bisa saya bantu???” tanya pelayan itu pada gadis manis yang baru masuk tadi.
“Hot Chocholate dan dua slices Opera cake.” Jawab gadis itu bahkan sebelum sang pelayan menyerahkan menunya.
“Baik nona, kalau butuh yang lain lagi tinggal panggil saya saja. Lee Tae Min imnida. Permisi Nona.” Ujar si pelayan sebelum berlalu.
Hari itu adalah hari selasa pertama di musim gugur. Pakaian hangat coklat terlihat sedikit kontras dengan kulit putih mulus gadis itu.
‘Aku masih punya dua hari lagi.
Aku harus menemukan jawaban dari semua ini.
Tapi bagaimana????’
Batin gadis itu.
Jari mungil dengan sapuan warna soft pink di setiap jarinya. Satu persatu membuka halaman demi halaman buku putih usang.
My Secret Magical Diary…’ tertulis di sampul buku itu.
 
Aku tak secantik Cinderella. Aku juga bukan putri raja seperti Jasmine. Aku tak punya istana megah seperti Sleeping Beauty.
Aku hanya gadis biasa yang beruntung bisa mengenal bahkan dicintai Oppa.
 
Portland, USA, 11th May 1979
Satu hari lagi berlalu. Aku tak sabar menunggu hari pernikahanku datang. Bahkan gaun pink itu telah tergantung di kamarku. Aku sangat menyukainya.
Tak terbayang di benakku kalau dua minggu lagi aku sudah menjadi istrinya. Oh… Dua minggu terasa lamaaa sekali.
Kau tau?
Dia  baru memberiku sebuah lukisan. Dia melukisku. Sangat indah. Dia selalu bisa membuatku tersenyum.
Oppa… Besok kau mau memberiku apa lagi???
 
Portland, USA, 15th May 1979
Hallo diary… Hari ini aku dan Oppa pergi ke Vegas. Dia membelikan aku banyak barang. Bahkan detik ini aku sedang mengenakan sweater biru pemberiannya.
Hari- hari berlalu begitu lambat.
Jantungku tak bisa berhenti berdebar kencang. Ini sangat menegangkan.
 
San Fransisco, USA, 20th May 1979
Hari ini aku dan Oppa pergi ke rumah Omma. Dia ingin menjalankan tradisi keluargaku dan keluarganya. Kami akan meminta doa dari para tetua keluarga. Hehehe…
Bisa kau bayangkan. Oppa berlutut di depan Appa yang memasang tampang super galaknya itu.
“Ajushi, aku ingin meminta anak gadismu menjadi istriku.” Katanya terbata dengan bahasa Korea. Hahaaha…. Bahkan dia mempelajari kalimat itu selama seminggu penuh.
Dan kau tau setelah itu?
Appa menggeram. Wajah Oppa memerah.
Dan kejadian selanjutnya tak pernah akan aku lupa.
“Ambil saja. Jaga dia. Kalau dia lecet, Ku pastikan kau habis di tanganku.” Kata Appa sambil tersenyum genit. DASAR APPA NAPPUN-YO.
 
Portland, USA, 22nd May 1979
Y?
 
I HATE U
 
I REALY LOVE U? DO U KNOW….
 
Portland, USA, 25th May 1979
 
 
JINRI…… CHOI JINRI….
Itu adalah lima tulisan terakhir di buku itu.
Di halaman terakhir tersemat sebuah lukisan wajah dan sebuah foto buram yang usang menggambarkan sepasang kekasih berpose dengan senyum manis mereka.
Tulisan- tulisan juga memenuhi sudut- sudut halaman terakhir buku itu.
MY HERO JEJE OPPA SARANGHAE…❤
The Ice Princess melts me…😄
‘When The Flowers need Bees for them. The Ice Princess needs a Hero for her. The Hero is Jaejoong.’
Dan banyak lagi.
 
‘Kenapa harus CHOI JINRI?
Kenapa semua tulisan di buku ini selalu sama dengan mimpiku?
Apa artinya ini?
Kenapa wanita itu mengatakan kalau aku harus menemukan diriku?
Aku di sini. Aku hidup dan tidak hilang.
ADA APA DENGAN DUA HARI LAGI??? ITU HANYA HARI KAMIS… TIDAK LEBIH…’
Batin gadis itu lagi.
“Ini pesanannya nona.” Kata Taemin pada gadis itu.
“Gomawo.”
Choi Jinri. Atau banyak orang memanggilnya Sulli.
Gadis cantik yang saat ini sedang menatap hambar ke luar jendela sambil sesekali menyesap minuman di hadapannya.
Sedikit demi sedikit dia memakan kue yang telah tersedia di hadapannya.
Sudah satu tahun. Potongan- potongan kejadian bak permainan puzzle yang sangat acak. Selalu muncul pada saat yang tak pernah diduga. Menghilangkan kesadaran.
Masih terukir jelas bayangan yang muncul di pikiran Sulli belakangan ini. Kejadian abstrak yang sulit dimengerti apa lagi di jelaskan.
Tapi diary usang itu seakan menjelaskan dan menceritakan kembali bayangan aneh itu.
 
“Burung merpati putih terbang di angkasa dan mentari bersinar. Bunga berkembang biak. Kau tetap yang terindah…”
 
“Berjanjilah kau akan selalu mencairkanku setiap pagi seumur hidupmu.”
 
“Aku punya bermilyar alasan untuk mencintaimu. Setiap pagi aku mengambilnya satu. Entahlah tapi alasan itu tak pernah sedikitpun berkurang. Kurasa malah semakin bertambah. Apa kau tau itu???”
 
“Jika mencintai itu seasik ini. Aku memilih mencintaimu seumur hidupku… SELAMANYAA…”
Dan banyak lagi ‘mimpi – mimpi’nya ternyata tertulis jelas di buku itu.
‘I’m in da..da…da…danger pinnochio… remember me’>>>bunyi ring tone
 
“Annyeong Yobuseyo???” jawab Sulli itu.
“Sulli. Palli! Omma mencarimu. Eodigaseo???” seru suara di sebrang telepon.
“Aku di café biasa. Waegeurae?”
“Cepatlah pulang. Ada hal penting yang harus dibahas di rumah. Arraso???”
“Ne.”
Tututuuuut….
Gadis itu bangkit berdiri dan berjalan ke kasir.
Kreek… Pintu restoran itu terbuka dan gadis itu pun berlalu.
“Nona… Buku anda…” teriak pelayang tadi.
Sulli tak mendengar. Pelayan bernama Lee Taemin itu pun memutuskan untuk menyusulnya.
BUK…~~~ buku itu terjatuh berserakan.
Tampaklah sebuah lukisan wajah seorang gadis. Dengan goresan pensil halus.
“Soo Yeon???” desis Taemin terkejut.
“Nugu? Soo Yeon? Kau mengenal gadis dalam lukisan itu?” tanya Sulli yang ternyata kembali.
“Di setiap hari dalam hidupku aku menunggu seseorang. Dengan dinginnya dapat membuat lidahku beku. Namun senyumannya jauh lebih cerah dari sinar mentari. Selalu hangat. Tak pernah sedetikpun aku bisa melupakannya. Portland February 14th 1970. Remember me?” ucap Taemin menatap Sulli penuh harap.
Gadis itu terdiam. Bingung. Sampai…
—GELAP—
Entah apa yang membuat Sulli tiba- tiba kehilangan kesadarannya. Semua terasa gelap.
Dalam sebuah ruang gelap. Dia dikelilingi tembok- tembok yang menyesakkan.
###—
“Buka matamu!” ujar sebuah suara asing.
“Ssiappa kau???” desis Sulli ketakutan.
“Buka matamu dan temukan dirimu!” ujar suara itu sekali lagi.
Sulli membuka matanya.
Tepat di bawah pohon Ek.
Musim Gugur.
“Jessica!!! Be Mine???” seru seorang namja yang berdiri tepat di pinggir air mancur.
“With all of my heart Hero Oppa…” jawab gadis yang berdiri tak jauh darinya.
Tak dihiraukan tatapan sengit orang- orang di sekitar mereka. Mereka tetap berciuman di tengah taman itu.
Sulli melihatnya. Entah seperti Déjà vu baginya. Tapi kepingan ingatan mulai hadir dalam benaknya.
Perbedaannya, ia merasa bahwa gadis itu adalah dirinya sendiri.
“Promise me! Since now you will wake me up every morning in your life with your greatest smile.”
“As long as you will give all your love for me. FOREVER.”
 “I have billions reasons to love you. Every morning I take one of them. I don’t know, but it’s never going less. I think it becomes more and much more. Do you know that?”
Begitu banyak peristiwa yang seakan mengubah semua pandangan Sulli.
Seakan dia punya satu lagi kepribadian yang lama ditinggalkannya.
BRAK~~~…
“OPPAAAAAAAAA….” Pekik Sulli nyaring.
Tik…. Air matanya jatuh. Badannya lemas dan tersungkur lemah.
Matanya menatap nanar tubuh pria tak bernyawa yang terbujur kaku penuh dengan darah di tengah jalan raya itu.
Kau pergi…
“My Hero, The Ice Princess still needs you to melt her every morning. Why you have to leave her??? WHY??? WHY…. Hixx…” ujar suara Sulli lirih.
Air mata itu mengalir lagi. Jauh lebih deras.
Bukan. Gadis itu bukan Sulli. Dia adalah Jung Soo Yeon. Jessica.
 
“JAEJOONG OPPA… I REMEMBER YOU… I REMEMBER YOU… I REMEMBER YOU…” pekik Sulli seperti orang kesetanan.
Sulli membuka matanya.
Sebuah dekapan hangat yang sangat ia rindukan.
“Aku tau kau mengingatku…”
Restoran.
Dikelilingi tatapan aneh dari setiap orang di sana.
Namja itu menggotong Sulli. Lee Taemin.
“Oppa kau? … Aku??? … Kita??? W…”
“Sstt… Akan ada penjelasan atas semua ini.”
“Tapi…”
Di hadapan Sulli berdiri seorang yeoja cantik. Bersinar dan bertahtakan tiara terindah.
“Kau hadir dalam dimensi lain. Itu berkat permohonanmu hari itu…”
“Bagaimana bisa? Permohonan itu??? Aku…”
“Cinta. Sebuah hukum abadi yang tercipta melampaui segala dimensi yang ada.”
“Tapi…”
“Takdir. Adalah sebuah karunia yang dimiliki setiap makhluk. Kau beruntung Soo Yeon.”
“Lalu hidupku? Aku ini siapa?”
“Lanjutkan hidupmu menjadi seorang Choi Jinri. Itu sebuah takdir.”
“Lalu Soo Yeon?”
“Dia ada di masa lalu. Dan kau beruntung bisa bertemu lagi dengan cintamu. Itu kan permohonanmu?”
“Kau ini siapa???”
“Tak perlu tau. Satu yang pasti. Kau telah mendapat satu lagi kesempatan. Ingatanmu tentang masa lalu itu adalah anugrah. Besyukur dan jalani harimu. Yang ada sekarang adalah Lee Taemin.”
“Gomawo…” ujar Sulli.
Wanita bersayap itu pun hilang bersama cahaya.
“Jadi?” tanya Taemin.
“I love You Oppa…” ujar Sulli mendekap Taemin.
“Nado… My Ice Princess. Soo Yeon… Ups… Maksudku Jinri… Choi Jinri…” kata Taemin membalas dekapan Sulli erat.
“Kau tetap menjadi Hero Oppa. Namun yang ada di hadapanku sekarang adalah Lee Taemin, seorang namja Korea yang menjadi pelayan Café.” Ujar Sulli.
“Kita masih punya banyak waktu untuk kembali mengenal Sulli. Banyak yang tak kau tau tentangku, begitupun sebaliknya.” Kata Taemin sambil tersenyum hangat. Sama hangatnya dengan senyuman Jaejoong yang  dulu.
“Berjanjilah padaku Oppa…” Sulli menatap mata Taemin sungguh- sungguh.
“Jangan pernah meninggalkanku lagi! Aku tak akan bisa hidup tanpamu.”
“Semua itu takdir. Tuhan yang mengaturnya…” jawab Taemin bijak.
 
Terima kasih ibu peri… Kau yang terbaik… bisik Sulli dalam lubuk hatinya.
Dan jika kau benar mencintai
Hidupmu sempurna
Karena kasih adalah nyata
Terus berubah
Tak berbatas
Dan tak mengenal nalar
 
Ini hidup
-END-
Sekali lagi membawa ff tapi jadinya macam begini. Nggak tau kenapa lagi demen JaeSica. Love it Love it…

One response

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s