(Freelance) On a Rainy Day

Title : On a Rainy Day

Author : uriAngelica

Cast : Son Dongwoon (B2ST), Park Yongri (OC)

Genre : sad ending

Rating : all ages

                “ It ends with tears, and hurts “

                “ It’s more hurt, than death “

                “ Walk on your way. Your own way, that you’ve chose “

Yong Ri’s POV

Aku membuka satu-persatu halaman photo book itu. Senyuman terukir jelas di bibirku dan bibirnya. Raut kebahagiaan terpancar dengan jelas dari wajah kami, seakan-akan kebahagiaan itu takkan pernah hilang ataupun jauh dari kami. Nyatanya tidak. Semua hanyalah kebohongan.

Aku kembali membuka halaman lain dari buku itu. Kuperhatikan tiap jengkal dari foto itu yang menghancurkan hatiku, menjadi kepingan-kepingan kecil, lama kelamaan hanya akan menjadi debu tak berguna.

Mataku menangkap satu foto. Hanya tertuju pada foto itu. Guncangan sakit hati itu kembali mengguncang hatiku yang hancur ini, membuatnya semakin bertambah hancur. Tanganku tergerak untuk menyentuh foto itu. Fotoku, saat dia menyentuh bibir kecilku…

Flashback~

                “ Yongri-ya! Kemari! Aku ingin mengambil foto kita! “ Dongwoon berteriak dari jauh. Tangannya melambai-lambai ke arahku. Aku berlari ke arahnya dan berdiri disampingnya.

                “ Apa kau tidak bosan terus-terusan mengambil foto kita? Lihatlah, hyungdeul-mu juga ingin berfoto dengan kita “ ucapku sambil menatap matanya.

                “ Lain kali kita bisa berfoto dengan hyungdeul. Sekarang aku ingin berfoto denganmu, yeobo~ “ godanya dengan suara imutnya. Aku hanya tertawa kecil mendengarnya. “ Saat berfoto, kau harus melihat ke arahku, arra?”

                “ Arraseo, Dongwoon-ah…” jawabku. Dongwoon mengeluarkan camera-nya dan mengarahkannya pada kami. Aku menatap dia yang sedang melihat ke arah camera.

                “ Han… dul… set! “

CUP~

CKREK!

                “ Mwoya?!! “ teriakku. Dia hanya menunjukkan cengiran khas-nya. Aku mencubit perutnya, membuatnya meringis sebentar. “ Itu memalukan, Dongwoon-ah! “ tegurku.

                “ Biarpun memalukan, kau menyukai ciumanku, bukan? ‘ Ciuman hangatmu, membuatku merasa melayang diudara, Dongwoon sayang~ ‘ “ dia menirukan kata-kata yang ada dalam diary-ku. Tunggu… diary?

                “ Hya! Dongwoon baboo! “ aku berteriak dan mengejarnya. Dia hanya tertawa keras menanggapinya.

Flashback end~

Setetes air mata terjatuh dan membasahi pipi serta white shirt ku. Tidakkah kau berpikir bahwa semuanya sangat indah? Tidakkah kau berpikir, bahwa semuanya sangat berharga? Jika mengingat hal yang kau lakukan padaku beberapa minggu yang lalu, hatiku rasanya mati. Seperti hidup tanpa seseorangpun di dunia ini. Kosong.

Aku hendak menutup photo book itu, namun mataku menangkap satu music cassette yang terbungkus rapi dalam tempatnya. Aku meraihnya, kemudian menyetelnya dengan CD Player ku.

When I saw you smiling, my heart feel shaking…

When I feels your kiss, I feel, that I’m the happiest girl in this world !

It’s all, because I love you~

I love, love you so much! More than anything in this world

Please be my girl, be my queen of my heart

I do. I do, my prince ! and please, be my king of my world and my heart.

I’ll accept your feeling, and do it for me

I do, my queen. I love you, more than anything

And I’ll always accepting your feeling…

It’s our world now

It’s our kingdom now, all things will be ours

Ours…

And just ours …

Alunan piano itu memenuhi pikiranku. Air mataku menetes semakin banyak, bertanda bahwa hatiku sudah benar-benar hancur. Aku benar-benar ingat, senyuman dan kebahagiaan sangat terasa di music studio itu.

Kata-kata itu, kata-kata yang kau keluarkan dari bibirmu, sangat menyakitkan hatiku. Tidak. Bahkan lebih dari sakit. Tak bisa dibayangkan, hanya bisa kurasakan dalam kesendirianku, tanpa dirimu disampingku…

Flashback~

                Aku berlari kecil menuju tengah-tengah padang rumput yang indah ini. kulihat Dongwoon berdiri disana dengan tegap.

                “ Dongwoon-ah! ” teriakku. Dia menoleh, tersenyum getir. Kesedihan terpancar jelas dari wajahnya. Aku menghampirinya, menatap wajah sedihnya itu.

                “ Waeyo Woon-ah? “ aku menggenggam tangan besarnya. Dia menatapku dengan mata sedihnya itu. Dia mencengkram bahuku dan menatapku dalam-dalam.

                “ Mianhae… Mianhaeyo… “ katanya. Air matanya menetes. Hatiku rasanya bergetar. Apa yang terjadi?

                “ Apa yang terjadi? Kau terlihat aneh akhir-akhir ini “ komentarku. Dia hanya menatapku. Perlahan-lahan, langit cerah berubah menjadi gelap.

                “ Aku… Sohyun… dijodohkan, Yong-ah “ ucapnya hampir seperti bisikan angin. “ Dan, appa bilang… kita… putus” lanjutnya.

                Hati ini terasa seperti hancur, mendengar ucapan itu. Kesedihan yang kurasakan itu dilatar belakangi dengan suara petir yang menyambar-nyambar. Sungguh menyakitkan. Apa ini artinya, akhir dari semua?

                “ Tapi sungguh! Bukan aku yang menginginkan ini, Yong-ah! Kumohon, aku akan berusaha… “

                “ Kapan pernikahan itu dilaksanakan? Aku ingin melihatmu…” aku memotong ucapannya. Matanya yang teduh menatapkud dengan tatapan kaget.

                “ Yong… “ dia mengelukan namaku.

                “ Undang aku ke pernikahanmu. Aku ingin melihatmu, Woon… ani. Dongwoon-ssi “ jawabku. Mati-matian aku menahan air mata ini.

                “ Jangan ucapkan kata-kata itu! Aku membencinya! Yongri-ya! Katakan kalau kau tidak ingin aku dijodohkan dengan Sohyun! “ teriaknya. Suara petir kembali menggelegar.

                “ Aku tidak mau mengatakannya. Aku tidak ingin menghentikannya. Aku ingin… kau menjalankan semua sesuai dengan keinginanmu. Sesuai jalan yang kau pilih. “ jawabku.

Dia mencengkram pergelangan tanganku. Mendekatkan wajahnya, membuat hidung kami bersentuhan. Dan detik berikutnya, bibirnya menempel di bibirku. Dia menghisap bibir bawah dan atasku secara bergantian, dan secara… agresif, seperti menginginkan lebih. Dia memasukan lidahnya ke dalam mulutku, mengitari dalamnya, tak melewatkan apapun. Aku membalasnya. Apakan ini hari terakhirku untuk merasakan bibir hangatnya? Kuharap tidak, namun takdir berkata lain.

Aku membuka mataku yang sedari tadi tertutup menikmati sentuhan Dongwoon. Aku mendorong bahunya, menghentikan semua yang seharusnya tidak terjadi sekarang. Setetes air hujan terjatuh, tepat mengenai kepalaku. Detik berikutnya, tetesan itu semakin banyak dan hujan telah turun, membasahi bumi.

                “ Pergilah, Woon “ ucapku. Tanpa sepatah katapun, dia meninggalkanku di tengah-tengah hujan. Perlahan, punggung besarnya makin tidak terlihat, menghilang dibalik pohon-pohon besar. Aku terjatuh, dengan bertumpu pada lutut dan tanganku di tanah. Aku menangis sekerasnya disitu. Air hujan, seakan menemaniku, ikut menangis dalam keadaan ini.

End flashback~

                Aku memeluk lututku dan membenamkan kepalaku diantaranya. Membiarkan air mataku membasahi cela aerobic milikku. Aku melihat ke arah jendela apartemenku. Air hujan turun dengan derasnya, diiringi dengan suara petir yang menggelegar, kembali menemaniku dalam kesedihan ini.

Mokpo, 18th April 2010, South Korea :::

Aku melangkahkan kakiku, mencari ruang tunggu pengantin pria. Kurapihkan mini black dress ku sebelum masuk ke dalam ruang tunggu itu. Kudorong pintu coklat tua itu dan menemukan Dongwoon di dalamnya, bersama kelima hyungdeulnya. Mereka menatapku dengan kaget.

“ Aku mau bicara dengan Dongwoon, hanya berdua “ kataku. Mereka hanya mengangguk, kemudian melangkah keluar meninggalkan kami. Aku melangkah masuk mendekati Dongwoon yang masih berdiri di depan kaca.

“ Kau tampak tampan dengan tuxedo mu itu “ aku mengacungi jempolku dan menunjukan senyumanku. Dongwoon tetap diam. Tubuhnya berbalik, menghadapku. Dia berjalan mendekatiku dan menatapku dalam-dalam.

“ Kalau kau mencintaiku, hentikan aku! Hentikan diriku saat aku berjalan ke altar nanti ! “ ucapnya hampir berteriak. Aku menggeleng.

“ Aku mencintaimu. Tapi aku ingin kau menghentikan dirimu sendiri. Ikuti kata hatimu, bukan meminta orang lain untuk menghentikanmu “ jawabku. Kedua matanya menatapku. Bibirnya menyentuh bibirku dengan cepat dan kasar. Aku mendorong pelan dadanya.

“ Ini tidak seharusnya terjadi, Woon-ah “ ucapku.

Kepalaku memutar, melihat kea rah pintu ketika ku mendengar suara lonceng berdenting dengan keras, menandakan bahwa pernikahan akan segera dimulai. Aku berbalik, berjalan menuju gereja.

“ Himnaeyo, Dongwoon-ssi “ ucapku sebelum meninggalkan ruangan itu. Dengan langkah berat, aku melangkah menaiki tangga gereja satu-persatu. Di depan pintu, kulihat Son eomeoni berdiri disana. Matanya tertuju ke arahku, menyiratkan kesedihan. Aku berlari kecil ke arahnya dan memeluknya.

“ Eomeoni… “ lirihku, “ Wae! Kenapa ini harus terjadi? “ liriku. Son eomeoni memelukku lebih erat lagi.

“ Ikuti takdir Yongri sayang. Jika kalian berjodoh, eomeoni percaya, pasti sesuatu akan terjadi di pernikahan nanti “ jawabnya, berusaha untuk menguatkanku. Aku melepas pelukan itu.

“ Aku percaya eomeoni “ jawabku. Aku merapikan black dress ku, membenarkan letak pita putihnya. Aku melangkah masuk ke gereja mengambil tempat duduk di barisan ke tiga, bersama Beast oppadeul.

“ Kenapa kau datang? “ Gikwang oppa membuka pembicaraan. Aku menolehkan kepalaku ke arahnya.

“ Aku hanya ingin melihat Dongwoon. Apa tidak boleh ? “ tanyaku. Dia hanya menggeleng. Acara pernikahanpun dimulai. Dengan anggunnya, Sohyun masuk dan berjalan seperti princess, dibalut dengan gaun putih menjuntai ke lantai menambah kecantikannya.

Tidak lama kemudian, Dongwoon masuk. Langkahnya terhenti. Dia melihat ke arahku. Melemparkan pertanyaan melalui sorotan matanya.

                “ Kenapa kau tidak menghentikanku? “

                “ Karena aku ingin kau menjalani hidupmu tanpa paksaan, melainkan jalan yang kau pilih “ aku memberi jawaban, ” Lanjutkanlah perjalananmu menuju altar “

                “ Arraseo. Saranghaeyo, Yong “

                “ Nado saranghae “ aku membalas kata-katanya melalui gerak bibir. Dongwoon kembali berjalan ke altar untuk mengucapkan janji.

Dengan berani, aku melihat ke arah altar, tempat dimana Dongwoon dan Sohyun berdiri untuk mengucapkan janji pernikahan. Pendeta itu melontarkan pertanyaannya pada Sohyun.

“ Kwon Sohyun, bersediakah kau menerima Son Dongwoon menjadi pendamping hidupmu selamanya, hingga maut memisahkan? “

“ Ya. Saya bersedia “ jawabnya mantap. Pendeta itu tersenyum dan menoleh pada Dongwoon, kemudian melontarkan pertanyaan yang sama.

“ Son Dongwoon, bersediakah kau menerima Kwon Sohyun menjadi pendamping hidupmu selamanya, sampai maut memisahkan ? “ tanya pendeta itu. Dongwoon mengalihkan tatapannya padaku. Matanya menyiratkan kesedihan dan kebimbangan. Aku menunduk, menghembuskan nafas beratku, kemudian menaikkan lagi kepalaku. Dia masih melihatku. Aku hanya mengedipkan mataku padanya, dan sedetik kemudian, dia menatap pendeta itu. Aku tak mau mendengarnya.

Aku berdiri, berjalan keluar dari gereja tanpa mendengar jawaban Dongwoon. Kuhiraukan semua tatapan aneh yang dituju padaku. Aku tetap berjalan tanpa berhenti.

Kurasakan air hujan yang menetes terus menerus, membuat kepalaku basah akibat air hujan. Tapi aku menghiraukannya dan terus berlari tanpa arah.

“ Yong! “ teriak seseorang yang kukenal. Son Dongwoon. Aku melihat ke arah belakangku dan mendapati Dongwoon yang sedang berlari ke arahku. Aku kembali berlari secepat mungkin, menjauhi Dongwoon.

BIIIIPPPPPPP BIIIIPPPPPP

                ” YONG !!! ANDWE !!! “ aku menutup mataku, berusaha untuk melindungi mataku dari sinar lampu truck yang sangat terang. Aku tau sebentar lagi aku akan mati. Kaki ini terasa berat, tak bisa bergerak lagi walau hanya 1 cm pun.

“ Andwe … “ dua tangan besar memeluk tubuh rampingku, melindungiku dari apapun. Suara itu lagi. Dongwoon …

“ Saranghaeyo “ bisikku.

BRUKKKK

                Punggungku rasanya seperti patah, sulit untuk mengambil nafas. Kubuka mataku sekuat tenagaku. Samar-samar tercium bau anyir darah dan suara orang berteriak minta tolong. Beberapa detik kemudian, suara ambulance terdengar sangat jelas di telingaku. Aku mengalihkan pandanganku kepada satu orang yang menindih tubuhku. Perlahan dia terbangun, dia menatapku dengan mata teduhnya.

“ Nado saranghaeyo “ balasnya, dengan suara yang kecil. Perlahan-lahan, matanya tertutup, kepalanya menunduk kembali, tak menunjukkan semua bagian wajahnya.

Kujatuhkan tanganku diatas aspal yang basah akibat air hujan. Aku menutup mataku, menikmati saat-saat terakhirku di dunia ini. Air hujan, bagaikan pengantar kami ke surga. Rela menemaniku, mengisi saat-saat terakhirku di bumi sampai aku benar-benar pergi. Dari dunia ini.

Eomeni benar. Inilah takdir kami. Kami adalah pasangan sehidup-semati. Tidak akan terpisahkan, walaupun maut menyerang kami. Apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu, Dongwoon.

END

Finished… Gimana ceritanya? Kerenkah? Jelekkah? Apapun itu, tolong di comment yaaa~ I love u! your bias love youu~

 

5 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s