Jeonbu Geojitmal (All Lie) [Secret Love Sequel]

Tittle: Jeonbu Geojitmal (All Lie)

Author: Nana Cho

Genre: ROmance, Hurt/Comfort

Rate: T

Length: 1 Shoot

Cast:

  • You [OC]
  • Choi Junhong [B.A.P’s Zelo]
  • B.A.P all member & Manager
  • Hyosung [Secret’s Hyosung]
  • Jieun [Secret’s Jieun]

Disc: This Plot is originally mine!

PRAK.

“MWOHANEUN GOYA?!” Seruan itu memenuhi seluruh ruang pendengaranku. Menyusul suara benturan surat kabar dengan meja kaca yang sebelumnya terdengar. Seruan yang terdengar dari pemilik suara berat yang selama ini menjaga rahasia ini dengan baik.

“Sudahlah Yongguk, sebaiknya kita bicarakan ini dengan kepala dingin.” Sebuah suara lain milik manajer Kang terdengar. Sementara, aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Tak berani menatap beberapa pasang mata yang tengah menatapku sekarang.

Berita ini, sudah kuduga ini akan menjadi headline yang bagus untuk surat kabar Seoul. Seharusnya, aku sudah siap jika suatu hari Yongguk Hyung akan menelanku hidup-hidup karena ini semua. Rahasia yang selama ini dijaganya dengan sungguh-sungguh, kini menjadi berantakan karena ulahku.

Hhhh… Apa kau pikir ini akan membantu promo lagu ‘Secret Love’ Junhong-ah? Oh ayolah, bahkan kita sudah melakukan goodbye stage.” Itu, suara Himchan Hyung yang duduk tepat di depanku. aku masih saja menundukkan kepalaku yang seolah ditekan oleh timbunan rasa bersalah, hingga aku tak kuasa mengangkatnya.

CKLEK.

Suara pintu yang terbuka membuatku mengangkat kepalaku ke arah pintu. Bersama Hyungdeul yang lain, pandangan kami beralih pada seorang pria yang kini memasuki ruangan ini. CEO-nim.

Annyeong Sajangnim.” Sapa kami bersamaan, seraya membungkukkan badan menyambut pria paruh baya yang telah melatih dan melejitkan nama kami itu.

Annyeong, B.A.P.”

Nde, Sajangnim?” Sahut kami serempak. Ini mengingatkanku pada chant kami. Tapi, dalam versi Korea.

“Kalian tak perlu khawatirkan masalah berita itu. Hanya berita kecil itu, berlakulah seolah tak terjadi apapun. Sekarang, kalian harus bersiap untuk pergi ke Singapura untuk melakukan showcase dan memulai syuting ‘B.A.P Diary’, dan Kau. Choi Junhong, mulai sekarang gadis itu adalah Noona-mu. Tak peduli apapun hubungan kalian yang sebenarnya, sekarang kalian tak lebih dari sekedar Noona dan Dongsaeng. Sebaiknya, kau kabarkan status baru kalian padanya.”

Yes, Sir!” Semua member menjawab dengan yakin. Hanya akulah yang masih terasa mengambang ketika menjawabnya.

Jadi, kini aku tak lebih dari seorang Dongsaeng bagi seorang gadis yang kucintai? Aku tahu aku memang lebih muda darinya. Tapi, bukan berarti aku akan menjadi adiknya hanya karena hal ini. Ini benar-benar tak terasa adil untukku.

Yaa! Apa setan mengajakmu bermain?”

BUK.

Benturan sebuah benda empuk mendarat di kepalaku, menyusul suara Jongup Hyung yang sebelumnya membuyarkan lamunanku. ‘Setan mengajakku bermain’? Dia pikir aku sedang melakukan sebuah gag untuk menghiburnya?

Mwo?”

Kau tahu, kau benar-benar seperti kehilangan nyawamu. Menakutkan.” Dia duduk di atas tempat tidurnya, seraya memeluk boneka biru pemberian fans kami. Kepalanya bergoyang-goyang di depanku.

“Aku memang kehilangan nyawaku, Hyung.” Kubanting tubuhku keatas kasur putih yang sedari tadi hanya kududuki.

Kutatap langit-langit coklat di atas tubuhku. Entah apa yang ada di pikiranku. Begitu banyak hal yang ada di sana. Hampir-hampir kepalaku meledak karena terlalu banyaknya hal yang menyumpal otakku.

Noona-mu itu?”

Hmmm…” Hanya itu yang berhasil diloloskan pita suaraku. Sementara mataku terpejam mencoba menenangkan pikiranku.

“Jika tak ada berita ini, kupikir kalian hanya teman bermain biasa. Bahkan, jika waktu itu Yongguk Hyung tak mengenalkannya sebagai temanmu, mungkin aku sudah mengira dia adalah Noona-mu. Kau memang selalu memanggilnya begitu? Atau hanya untuk menutupinya di depan kami?”

“Tidak. Tak ada yang ingin kututupi. Aku terbiasa memanggilnya begitu, dan tiba-tiba hari itu Yongguk Hyung memperkenalkannya sebagai teman kecilku. Dialah yang ingin aku menjaga rahasia ini.” Kuhembuskan nafas berat. Melepaskan seluruh beban yang sedari tadi kurasa bergelayut di pundakku. Tapi, ketika kutarik nafas lagi, beban itu kembali.

Araseo. Dia ingin yang terbaik untuk kita.”

Kuanggukkan kepalaku pelan menjawabnya. Mataku masih terpejam. Pikiran-pikiran itu, belum sedikitpun mencoba untuk pergi dari otakku.

“Lebih baik, sekarang kau lupakan saja dia. Kau harus menganggapnya tak lebih dari sekedar Noona. Ingat Junhong-ah, jika kau masih bersikeras untuk bertingkah nekat seperti kemarin, bukan tak mungkin jika gadismu itu akan mendapat teror. Meskipun nama mereka ‘Baby*)’, tapi mereka bukanlah bayi biasa.”

Araseo Hyung. Aku mengantuk.”

Kutarik selimut merahku sampai menutup kepalaku, kemudian berbaring memunggunginya. Aku tak benar-benar mengantuk memang. Tapi, ini lebih baik daripada aku terus mendengarkan suaranya yang terus menerus berbicara tentang ulahku. Itu semakin memusingkanku.

Geurhae, Jaljjayo.” Bisa kudengar Jongup Hyung juga mulai menarik selimutnya. Kemudian, semua hening. Mungkin, mata kecilnya itu sudah terpejam.

Kuambil ponselku, menekan nekan beberapa simbol yang muncul di layar. Beberapa detik kemudian, halaman utama twitter sudah terpampang di hadapanku, lengkap dengan puluhan mention yang ditujukan untukku. Reaksi mereka atas berita tadi.

‘Tak kusangka, ternyata magnae B.A.P sudah besar.’ Itu yang kubaca dari salah satu mention. Yang lain, mulai dari mencerca, memaki, ada pula yang mengucapkan ikut berbahagia, bahkan tak jarang dari mereka juga me-mention twitter Noona. Mulai dari pujian sampai ancaman, semua ada di sana. Aku benar-benar bodoh! Kini, Noona pasti menderita karenaku. Ya, mungkin sudah saatnya aku memberikan pernyataan sesuai apa yang dikatakan CEOnim. Aku tak bisa terus membiarkan ini begitu saja.

‘Maaf telah membuat kalian semua khawatir. Aku hanya ingin berjalan-jalan dengan Noona-ku setelah lama tak bertemu dengannya. BABY, You know that You’re the one!’ Kubaca sekali lagi serentetan tulisan yang baru saja kuketik. Ini sudah cukup baik. Aku bisa mem-post tulisan ini, kemudian tidur. Kami harus berangkat ke Singapura besok.

“Daehyun-ie, kau harus melepas sepatumu ketika masuk pesawat.” Suara Youngjae Hyung di depanku terdengar ketika kami semua tengah berjalan menuju pesawat.

Jeongmal?” Pertanyaan yang diajukan dengan mimik heran itu muncul di wajah Daehyun Hyung. ‘Busan Wonbin’ terlalu polos untuk bermain dengan ‘Brain Youngjae’ sepertinya.

“Hahaha… Tentu tidak Daehyun-ah! Kau polos sekali.” Kini suara nyaring Hyosung Noona yang terdengar. Disusul tawa beberapa crew dan member lain yang terdengar. Aku juga tertawa pastinya. Ini sebuah hiburan yang tak begitu buruk.

Yaa! Yu Youngjae!” Pekikan hightone ala Hyosung Noona itu bukan terdengar dari Governor kami. Tapi, dari Daehyun Hyung yang (lagi-lagi) menirukannya.

“Daehyun-ah, kau bisa menjadi Governor baru planet ‘Mato**)’.” Ujar Jieun Noona yang sedari tadi berjalan di samping Yongguk Hyung. Dan candaannya itu, berhasil membuat kami semua tertawa sambil memasuki sebuah pesawat yang memang sudah disewa oleh CEOnim untuk perjalanan kami kali ini. Kami sekeluarga pergi ke Singapura. Tentu kami membutuhkan transportasi yang lebih nyaman.

Karena semua yang ada di sini adalah satu keluarga ‘TS Entertainment’, kami semua bisa bebas duduk dimana saja, bersama siapa saja. Termasuk Yongguk Hyung yang bertukar tempat dengan Hyosung Noona demi bisa duduk di samping Jieun Noona.

Ya, hubungan mereka lebih mudah. Mereka ada di dalam satu manajemen, mudah bertemu, dan lingkungan mereka mendukung. Tak susah bagi mereka untuk sekedar menyembunyikan hubungan spesial mereka. Tapi, aku? Aku dan Noona terlalu berbeda dengan mereka. Mungkin benar apa yang dikatakan Himchan Hyung tadi pagi.

“Dunia yang kau pijak sekarang ini, berbeda dengan dunianya. Kau hanya akan menyiksanya jika kau terus berada di sampingnya.” Kalimat itulah yang keluar darinya, sejenis dengan apa yang pernah dikatakan Jongup Hyung dan Yongguk Hyung padaku.

Singapore~” Teriak kami semua bersamaan ketika kami menginjakkan kaki kami di bandara. Terlihat sudah ada begitu banyak BABY yang menunggu kedatangan kami.

Setelah beberapa hiburan yang dilakukan oleh para crew dan member di dalam pesawat tadi. Kini, giliran BABYdeul yang berteriak untuk kami, memberikan suntikan energi untukku. Setidaknya, ini membuatku sedikit melupakan masalah kemarin.

“Kau harus melupakan masalah kemarin, di sini kita akan bersenang-senang. BABY  tak akan senang melihatmu menangis.” Nasihat Yongguk Hyung sebelum keluar dari pesawat. Ya, aku akan berlaku seolah tak memunyai masalah apapun. Aku adalah Zelo yang imut dan periang. Bukan Junhong yang tengah menghadapi berbagai macam masalah.

Kini, di depanku Yongguk Hyung tengah bermain dengan sebuah kamera di tangannya. Jadi, ‘B.A.P Diary’ ini akan dilakukan dengan selca? Sepertinya akan menarik.

Kami akan menghabiskan waktu tiga hari kami di Singapura untuk melakukan showcase TS’s Family’. Tiga hari, waktu yang cukup sebentar untuk menikmati keindahan negara tropis ini. Aku pernah ke Malaysia sebelumnya, bersama Yongguk Hyung. Sekarang, tak jauh dari Malaysia, kami sedang berada di Singapura. Mungkin, sebentar lagi kami akan bergerak ke negara yang tak jauh dari Malaysia dan Singapura. Indonesia, kudengar negara itu sangat indah. Aku ingin ke sana.

Sudah satu minggu sejak berita itu menjadi headline di surat kabar. Keadaan sudah membaik, bashing yang di alamatkan ke twitter-ku sudah hampir tak ada. Kurasa, Noona juga sudah tak menerima teror apapun. Dia mengganti nomor ponselnya, dan tak memberitahuku. Meski aku tak benar-benar tahu bagaimana keadaannya yang sebenarnya sekarang. Tapi, aku merasa dia baik-baik saja. semoga firasatku kali ini benar.

Hari ini juga, aku bisa berangkat ke sekolah. Aku sudah terlalu lama tak masuk sekolah, terlalu banyak pelajaran tertinggal, apalagi gara-gara persiapan album baru kami ini. Semakin tak ada waktu yang tersisa untuk melakukan hal lain. Padahal, statusku masihlah seorang pelajar. Yaa! Aku pelajar yang baik. Aku masih punya semangat sekolah meskipun B.A.P sudah bisa menjaminku. Tapi, aku juga tak mau kalah dari Yongguk Hyung dan Youngjae Hyung. Mereka mendapat peringkat di kelas. Aku? Aku juga harus bisa mendapatkannya!

Satu lagi yang membuatku semangat berangkat ke sekolah. Aku bisa bertemu Noona di sekolah. Setidaknya, meskipun aku tak bisa menyentuhnya dan berbicara dengannya secara leluasa. Tapi, melihatnya saja sudah cukup mengobati rasa rinduku.

Apa yang kurasakan padanya, benar-benar mencerminkan lirik lagu ‘Secret Love’. Terutama bagian rapp-ku; ‘Kita lebih sering mengucapkan, “Aku merindukanmu”. Daripada, “Aku mencintaimu”’. Memang itulah yang kami rasakan.

“Zelo-ya…” Seruan dari segerombolan gadis-gadis langsung menyambutku ketika kulangkahkan kakiku menapaki koridor utama sekolah ini.

Kutunjukkan senyumku kearah mereka, membalas sapaan mereka dengan sekaligus. Aku lebih suka mereka menganggapku sebagai murid biasa daripada meneriakiku seperti ini. Ini di sekolah, bukan tempatnya jika aku dianggap sebagai seorang idola di sini.

Pelajaran masih mulai sekitar tigapuluh menit lagi. Kurasa, atap sekolah bisa sedikit menenangkanku. Kulangkahkan kakiku menuju tangga ketika kulihat Noona yang tengah berdiri di tengah-tengah beberapa gadis. Apa yang mereka lakukan? Kenapa tangan salah satu dari mereka menggenggam rambut Noona?

“Kami tahu Zelo tak punya saudara perempuan. Jadi, berhentilah mendekati Zelo kami. Aro?!” Seru salah satu gadis yang berambut cokelat. Dia yang menggenggam rambut Noona dan menatapnya dengan mata yang hampir keluar.

Jadi, Noona begini gara-gara aku?

“Kenapa kau tak menjawab? Kau tak ingin menjauh darinya huh?!

Yaa! Dengar ini. Kami tahu kau juga menyukai Zelo. Tapi, lihat dirimu. Kau pantas berada di sampingnya? Siapa kau gadis jelek?”

“Menjauhlah dari Uri Zelo!”

Berbagai cercaan keluar dari bibir gadis-gadis kejam itu. Mereka membentak Noona, bahkan menjambak rambutnya sampai Noona mengangkat kepalanya. Benar-benar tak punya perasaan! Padahal, mereka tak punya hak untuk mengatur perasaan Noona. Dan lagi, kenapa Noona tak melawan ataupun menjawab mereka? Bukankah itu pasti menyakitkan?

“Aku mendengar namaku disebut.” Tak tahan dengan tingkah mereka, kuputuskan untuk menghentikan semuanya dengan mendekat ke arah mereka.

“Zelo-ya…” Seperti sulap, ekspresi mengerikan mereka berubah menjadi semanis mungkin ketika aku muncul. Hanya Noona yag masih terlihat dingin. Kepalanya menunduk, membenarkan rambutnya yang teracak-acak.

“Aku tak suka jika ada orang lain yang menyakiti Noona-ku. Kkaja pergi Noona.

Kuraih lengan kecil itu, kemudian membawanya berjalan bersamaku menuju atap sekolah. Meninggalkan gerombolan gadis itu yang tengah mencoba menjelaskan sesuatu, entah apa aku tak ingin mendengarnya.

“Terimakasih sudah menolongku, Namsaeng.” Ujarnya ketika kami berhasil mencapai atap.

Namsaeng’? Jadi, dia juga sudah menganggapku sebagai adiknya?

Uhm, ne Noona.”

Kaki kecilnya melangkah menuju pinggir atap, tempat favoritnya. Dia bilang, dari situ dia bisa melihat ke seluruh penjuru sekolah, tanpa ada orang lain yang mengetahui. Karena mengikutinya, tempat itu juga menjadi tempat favoritku.

Hening. Tak ada yang mencoba memulai pembicaraan dari kami. Sebenarnya, ada banyak hal di dalam otakku yang ingin kukatakan padanya. Tapi, aku tak tahu harus memulai dari mana untuk mengatakannya. Yang kini kulakukan adalah, berdiri di sampingnya, menatapnya.

“Kau tahu, Namsaeng?” Akhirnya, suara renyah itu memecah keheningan.

Mwoji?”

Everland, aku ingin ke sana.” Manik hitam itu masih enggan menatapku. Sepertinya, pemandangan yang ada di depannya lebih menarik untuk mata indahnya.

DItariknya nafas pendek, kemudian melanjutkan kalimatnya, “Aku ingin ke sana bersama seorang pria. Kami akan berjalan dengan santai, tanpa ada seorangpun yang akan bermasalah dengan hubungan kami. Kemudian, dia akan membelikanku permen kapas yang sangat besar. Kami akan berjalan berdampingan, aku menggamit lengannya, dengan permen kapas di tanganku yang lain. Kami menceritakan banyak hal, memainkan banyak wahana, dan tertawa bersama. Kemudian, pria itu akan memanggilku dengan nama kecilku, dan aku akan memanggilnya dengan ‘Oppa’. Pasti menyenangkan.”

Sesuatu yang bening terlihat meleleh di pipinya ketika kepala berpahat wajah cantik itu tertunduk dalam. Sementara, yang kulakukan hanya menatapnya. Tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Aku tak bisa mewujudkan impiannya. Aku hanya membuat semuanya lebih buruk. Apa yang harus kukatakan untuk menjawabnya?

Hhh… Mianhae. Tak seharusnya aku mengatakan ini padamu.” Badannya berbalik, kemudian punggung itu bersandar hingga akhirnya dia terduduk di lantai atap, dengan wajah yang penuh airmata.

Apa yang telah kau lakukan Junhong?! Kau telah membuat gadis yang kau cintai begini terluka. Apa kau pantas bersamanya?

Noona…” Entah sejak kapan, aku sudah berjongkok di depannya. Melihat wajah menangisnya dengan lebih jelas.

Mianhamnida, aku tak bisa mengabulkan impianmu.” Kuberanikan untuk menyentuh pipinya dengan kedua tanganku, kemudian mengangkat wajahnya perlahan agar dia bisa menatapku.

“Aku tak bisa membawamu berjalan-jalan dengan santai dan tenang. Apa yang coba kulakukan kemarin, malah membuat semuanya menjadi kacau. Aku hanya bisa menyusahkanmu Noona. Aku tak pernah belajar untuk memanggil nama kecilmu, dan aku tak pernah belajar untuk menjadi seorang pria dewasa di depanmu. Yang bisa kulakukan untukmu tak lebih dari sekedar kekacauan yang sangat mengganggumu. Jeongmal jeosonghamnida Noona-ya.”

Seperti mendapat dorongan, kugerakkan wajahku mendekat kearahnya, mengurangi jarak di antara kami dengan perlahan tapi pasti. Noona tak menjawab apapun. Yang dilakukannya hanyalah terdiam dan menatapku dengan matanya yang sudah benar-benar basah.

Bibirnya yang berbalut lip gloss terasa manis ketika menempel dengan bibirku. Semua perasaannya, seolah tersalur melalui sentuhan ini. Bahkan airmatanya, menetes membasahi pipiku. Meninggalkan jejak di sana.

DUK.

Dorongan itu membuatku melepas ciuman kami. Tangan Noona-lah yang sudah mendorongku menjauh darinya. Kepalanya tertunduk, sementara tangannya masih berada di dadaku. Posisi yang sama ketika dia mendorongku tadi. Kugenggam tangannya hangat, mencoba menenangkannya.

“Aku berbohong. Aku berbohong jika kukatakan aku tak menginginkanmu. Aku berbohong jika kubilang aku benar-benar bukan siapapun bagimu, aku tak menyukaimu, aku tak mencintaimu, aku tak pernah melihatmu lebih dari sekedar Namsaeng bagiku. Itu semua kebohongan. Jeonbu geojitmariya! Karena kenyataannya, aku menginginkanmu, Choi Junhong! Kita saling mencintai. Tapi, kenapa ini semua begitu sulit untuk kita?” Suaranya masih bergetar ketika tiap-tiap kalimat itu meluncur dari bibirnya. Sebentar kemudian, kakinya membawa tubuh itu bangkit dari posisinya. Kuikuti bangkit dari dudukku demi menatap matanya.

“Kini, lebih baik kita buat semuanya mudah untuk kita. Berhentilah mencari satu sama lain. Luka ini memang perih. Tapi, aku percaya luka ini akan sembuh dengan mudah. Ini hanya sebuah cidera kecil yang biasa kau alami ketika berlatih dance. Jadi, kita pasti kuat menghadapi ini.” Tangan yang kugenggam, perlahan lepas dari genggamanku begitu saja, bersamaan dengan senyumnya yang melengkung tipis.

Sementara, aku tak bisa menjawab apapun. Yang bisa kulakukan hanya terus memandanginya. Jika itu bisa membuatnya merasa lebih baik, aku akan menurutinya.

Annyeong, Junhong-ah.” Kakinya melangkah pasti melewatiku, menuju pintu keluar atap.

Dia semakin jauh. Aku tak bisa menjangkaunya. Yang bisa kulakukan hanyalah menatapnya dan membiarkannya pergi menghadapi hidupnya yang lebih baik lagi. Aku yakin, ini yang terbaik untuk kami.

Seperti apa yang baru saja di katakannya, “Luka ini memang perih. Tapi, aku percaya luka ini akan sembuh dengan mudah. Ini hanya sebuah cidera kecil yang biasa kau alami ketika berlatih dance. Jadi, kita pasti kuat menghadapi ini.”

Kami pasti bisa mengobati luka ini sendiri.

*) Nama fandom B.A.P

**) Planet yang diceritakan sebagai asal B.A.P di acara ‘Ta-Dah It’s B.A.P’ dengan Secret’s Hyosung sebagai Governor.

4 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s