[Chapter] On Rainy Days (part 1)

Title                 : On Rainy Days (part 1)

Author           : Dara Daroen (@dara_daroen)

Cast                 :

  • Yang Yoseob (B2ST)
  • Suzy (Miss A)
  • Some one

Genre              : Romance, Tragedy, AU

Rating             : Teenager/PG-13

Length            : Chapter

Disclaimer    : Imagination and story is mine, but the cast belong to God.

Please NO PLAGIATOR!

The Story © 2012 DaraDaroen

Previous Story :           | Teaser |

~ ~

When the world turns dark

And the rain quietly falls

Everything is still

Even today, without a doubt

I can’t get out of it

I can’t get out from the thoughts of you


~ ~

~ Yoseob’s POV ~

 

Hujan..

Aku menengadah menatap langit yang sudah menjatuhkan butir-butir air ke bumi. Ku tengadahkan pula telapak tanganku, merasakan tetesan hujan yang menyentuh lembut tanganku.

Di kala hujan seperti ini, hanya satu bayangku yang tak pernah lepas dari benakku ini. Yaitu kejadian lima tahun yang lalu.

 

~ flash back ~

 

1st May 2007, 21.00 p.m

 

Hujan.

Aku membuka payungku yang ku simpan di dalam tas. Jaket yang ku kenakan dari tadi pun ku eratkan lagi menahan dinginnya air hujan yang menerpaku.

Kini sudah begitu malam, langit tampak gelap apalagi ditambah hujan deras seperti ini. Aku menjadi menyesal mengikuti kuliah malam tadi.

Ku telusuri tepi jalan raya menuju apartementku yang letaknya tak begitu jauh dari tempatku berada saat ini.

Begitu sampai di tempat pertokoan yang sudah tutup, ku dengar suara isak tangis yang begitu sedu. Ku cari-cari asal suara itu, ku gunakan telingaku untuk mendengar suara itu lebih tajam lagi.

Aku terkejut begitu telah menemukan seorang yeoja yang mungkin seumuran SMA, di lorong pertokoan ini. Ternyata dia lah yang mengeluarkan suara tangis itu.

 

Gwaenchana?” seruku pada gadis itu. Ia menelungkupkan kepalanya di antara kedua lututnya.

“Ah, baik. Nona, apa kau baik-baik saja? Mengapa kau menangis?” tanyaku lagi mencoba lebih mendekatinya.

“Jangan dekati aku!” seru gadis itu tanpa menatapku.

“Tapi apa kau tak apa-apa, sepertinya tak baik jika kau sendiri di sini. Hari sudah malam, dan hujan turun begitu deras, kau akan sakit,” ujarku seraya membungkuk mendekati badannya.

 

Gadis itu hanya terdiam tapi masih dengan isaknya yang ia pelankan.

Uljihma.. Apa kau ada masalah?” ujarku.

 

Gadis itu kini mengangkat kepalanya dan menatapku. Tatapannya, begitu menghangatkan. Entah mengapa hatiku bergejolak menatap wajahnya ini. Wajah putihnya begitu cantik meski tampak pucat. Bibir tipisnya yang biru kedinginan dan matanya yang sayu.

“Kau kedinginan?” seruku lagi.

Ia hanya menggeleng pelan dengan masih menatapku.

“Tapi kalau kau di sini terus, kau akan kedinginan. Ayo, ikut aku,” seruku seraya menarik tangannya yang dingin.

Gadis itu melonjak dan menepis kasar tanganku.

YA! Apa pedulimu? Biarkan aku di sini. Kau, pergi sana cepat! Menjauh dariku,” bentak yeoja itu padaku.

“Tapi kau..”

“Pergi atau aku yang akan pergi,” seru gadis itu lagi.

Tanpa berkutik lagi, aku perlahan meninggalkannya. Gadis itu hanya terdiam dan kembali menyembunyikan kepalanya di antara kedua lututnya itu.

Meski aku tak tega meninggalkannya, tapi langkahku terpaksa menjauh darinya.

 

~ end flashback ~

 

Gadis itu, bahkan aku belum sempat bertanya siapa namanya. Sungguh aku ingin sekali mengenalinya.

 

~ ~

 

Hari ini hari Minggu, untung saja kuliahku libur untuk hari ini. Aku sedang malas keluar apartement. Ku rasa tubuhku ini lemas hampir tak berdaya, mungkin karena aku sempat kehujanan tadi malam.

Tiba-tiba di saatku tengah berusaha untuk tidur kembali, handphoneku berdering, tanda telepon masuk. Dengan enggan segera aku mengangkatnya.

 

“Ne. Yobosseo?” seruku memulai pembicaraan.

Ne, oppa. Hey, apa kau masih terbaring di kasurmu? Apa kau sedang bermalas-malasan hari ini? Bisakah kau temani aku? Aku ingin ke toko buku dan membeli beberapa hal yang ku perlukan. Ayolah oppa.”

Ah, sepertinya aku memang malas kemana-mana hari ini Suzy-ah. Kau pergi sendiri saja ya.”

Oppa. Apa kau tega membiarkan ku sendiri pergi? Kau jahat.”

“Kau harus lebih mandiri. Janganlah kau selalu bergantung padaku.”

Ah, oppa. Ayolah, kali ini saja.”

“Baiklah, aku akan menjemputmu.”

 

~ tuuuttt ~

 

Hah, gadis itu. Suzy namanya, Bae Suji. Dia ini yeojachinguku. Entahlah, aku sebenarnya tak memiliki rasa cinta sedikitpun padanya. Bahkan, aku tak berniat menjadi namjachingunya.

 

Suzy mengenalku sejak kami sama-sama duduk di bangku SMA. Dia adik kelasku yang sebenarnya dia dulu hanya ku anggap sebagai adik saja. Namun, ia menyukaiku sejak tiga tahun yang lalu. Dia selalu mengejar-ngejarku. Berkali-kali ku tolak cintanya tapi tetap saja ia tak menyerah.

Sehingga sekitar satu bulan yang lalu, karena aku merasa semangat yeoja itu tak pernah pudar dan ku rasa ia yeoja yang tangguh meski ia sangat manja. Aku mencoba membuka hatiku untuknya.

~ ~

 

Aku benar-benar malas untuk hari ini. Tapi Suzy mengajakku menemaninya pergi, aku terpaksa mengiyakan.

Aku turun dari kasurku dengan enggan dan beranjak ke kamar mandi.

Seusainya, ku kenakan kemeja putih dan celana jeansku juga sepatu sport hitamku. Dengan malas, aku melangkah keluar kamarku menuju bagasi.

Ku kendarakan motorku dan segera menjemput Suzy.

 

Sesampainya ku di depan rumah Suzy, hujan turun. Entahlah, sepertinya hujan suka sekali turun akhir-akhir ini, mungkin memang sekarang saatnya musim penghujan.

Aku berlari meneduh di depan pintu rumah Suzy seraya mengetuk pintunya.

 

Tok tok tok..

Beberapa saat kemudian,  seseorang membukakan ku pintu dan ternyata Suzy yang di balik pintu itu.

“Ah, oppa! Akhirnya kau datang. Apa kau kehujanan? Hujannya mulai sedikit deras, ayo masuk dulu saja nanti kau kedinginan di luar,” seru Suzy dengan bawelnya.

Ani Suzy-ah. Sepertinya ini hanya hujan sesaat, nanti juga reda. Aku tunggu di luar saja, biar kau yang masuk,” ujarku.

“Baiklah, aku akan menemanimu,” seru Suzy.

 

Kami duduk di bangku panjang di depan rumah Suzy yang diteduhi oleh atap. Ku lirik Suzy yang bergidik dan melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Kau kedinginan?” seruku.

Suzy menggeleng pelan.

“Bibirmu sudah biru pucat seperti itu kau bilang kau tidak kedinginan?” seruku lagi.

Ia menyentuh ujung bibirnya.

Aniyo oppa. Aku hanya, hanya merasa tidak hangat,” serunya.

“Hah kau ini. Itu namanya kedinginan,” seruku.

Gadis itu hanya tertawa kecil.

“Sini, mendekat padaku supaya kau tak kedinginan,” ujarku seraya membawanya ke dalam pelukanku. Ia hanya tersenyum.

 

Aku jadi teringat pada yeoja lima tahun lalu yang bertemu denganku. Saat itu aku tau ia kedinginan dan bahkan aku tak sempat memberikan kehangatan untuknya. Ku rasa gadis itu tengah ada suatu masalah besar sehingga kepadaku saja ia begitu kasar. Tapi tetap, wajah manisnya itu terlihat lembut meski saat itu ia memarahiku.

 

Oppa, apa kau memikirkan sesuatu? Mengapa kau menyuekkanku sedari tadi? Apa kau tak mendengar apa yang ku ucapkan?” seru Suzy tiba-tiba mengagetkanku.

“Ah, ne. Kau bilang apa Suzy-ah?”

“Tidak, tidak jadi,” seru Suzy seraya melepaskan pelukanku.

Sudut bibirnya ia majukan. Sebenarnya ia tampak lucu jika sedang seperti ini.

“Baiklah, mian aku sedang tak konsen tadi. Kau tadi mengatakan apa padaku?” seruku.

Gadis itu terdiam tanpa menoleh ke arahku.

“Suzy-ah, apa kau tau seberapa jeleknya dirimu jika sudut bibirmu maju seperti itu?” seruku seraya merangkul pundaknya.

Oppa, jangan mengejekku!” seru gadis itu seraya memukul pelan lenganku.

~ Suzy’s POV ~

Kini aku berada di pelukan Yoseob oppa. Entahlah, aku merasa sangat senang karena jarang-jarang sekali ia berlaku mesra padaku.

 

Oppa, langitnya tidak terlalu gelap. Berarti apakah hujan akan berhenti turun?” seruku padanya.

Ku lirik Yoseob oppa yang hanya terdiam dan matanya menatap lurus ke depan. Ku rasa ia sedang melamun.

Oppa..” seruku lagi.

Dia masih terdiam tanpa meresponku.

Aku mendesah pelan.

 

Oppa, apa kau memikirkan sesuatu? Mengapa kau menyuekkanku sedari tadi? Apa kau tak mendengar apa yang ku ucapkan?” seruku dengan nada tinggi pada Yoseob oppa.

Lalu, ia langsung tersadar dari lamunannya.

“Ah, ne. Kau bilang apa Suzy-ah?” serunya.

“Tidak, tidak jadi,” seruku seraya melepaskan pelukannya.

Kini aku mengalihkan tatapanku darinya dan memajukan sudut bibirku.

“Baiklah, mian aku sedang tak konsen tadi. Kau tadi mengatakan apa padaku?” serunya.

Aku hanya terdiam.

“Suzy-ah, apa kau tau seberapa jeleknya dirimu jika sudut bibirmu maju seperti itu?” seru Yoseob oppa seraya merangkul pundakku.

Oppa, jangan mengejekku!” seruku itu seraya memukul pelan lengannya.

“Baiklah, sepertinya hujan sudah mulai reda. Kita berangkat sekarang,” serunya seraya beranjak dari tempak duduknya, diikuti juga olehku.

Yoseob oppa menaiki motornya. Aku segera duduk di belakangnya. Kami pun berangkat menuju toko buku.

 

~ ~

 

Oppa. Carikan aku buku biologi, aku ingin baca-baca novel di sana,” seruku manja pada Yoseob oppa yang sibuk membaca buku sastra.

“Kau cari saja sendiri Suzy-ah. Kan kau yang memerlukannya,” serunya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya itu.

Aku mendengus kesal dan berusaha mencari buku yang kuperlukan itu.

 

 

Aku tak tau apakah Yoseob oppa mencintaiku tulus selama ini. Ku rasa perhatiannya padaku begitu kurang, aku merasa dia bagaikan bukan namjachinguku. Aku seperti diasingkan olehnya. Padahal, tiga tahun ini aku mencintainya dengan setulus hati.

Bahkan hanya untuk membantuku mencari buku yang ku perlukan saja ia sangat enggan. Seakan ia tidak memperdulikanku.

 

Aku telah menemukan buku biologi yang ku butuhkan ini. Setelah itu aku kembali menghampiri Yoseob oppa yang masih asyik membaca buku.

“Aku sudah dapat bukunya, oppa!” seruku.

Namun, Yoseob oppa tetap tidak bergeming, ia benar-benar asyik membaca bukunya.

Oppa, seserius itukah sampai kau benar-benar mengacuhkanku?” seru lagi.

Mian, Suzy. Aku tertarik pada buku ini, aku ingin membacanya hingga usai dua bab saja,” serunya tanpa menatapku.

“Ah, tak seru, kau asyik sendiri tanpa memperdulikanku,” ujarku kesal.

“Kau cari keasyikanmu sendiri saja Suzy-ah, jangan menggangguku,” ujarnya.

 

Aku bingung, sudah jelas aku yang mengajaknya ke sini, tapi mengapa sekarang dia yang asyik sendiri. Bahkan akupun seperti tak dianggap ada olehnya.

 

Aku segera ke kasir untuk membayar buku yang ku beli. Setelah itu, aku segera meninggalkan toko buku dan pergi ke halte bus di dekat toko ini.

Jika Yoseob oppa tak peduli denganku, aku pun bisa seperti itu padanya. Aku tak ingin selalu diinjak-injak olehnya. Mungkin dia memang benar ingin aku lebih mandiri. Maka baiklah, aku bisa tanpanya.

 

~ Yoseob’s POV ~

 

Hah, buku ini benar-benar bagus. Sepertinya aku butuh ini tak hanya membacanya satu atau dua bab saja, aku ingin baca semuanya. Baiklah, aku beli saja buku ini.

Kini mataku menyapu seisi toko buku. Ku cari yeoja itu, Suzy. Aku sempat dengar tadi ia perlu buku biologi dan ingin membaca novel. Aku menghampiri tempat buku-buku itu. Namun, ternyata Suzy tak ada.

Aku menghampiri kasir dan membayar buku yang ku beli. Tapi, aku belum menemukan Suzy. Ah, kemana dia? Menyusahkan saja.

 

Tapi tunggu, di sana, di luar dan di dekat halte bus itu, bukankah itu Suzy? Ah, mengapa ia keluar duluan. Sepertinya ia marah padaku.

 

Aku segera berlari keluar toko dan menghampiri Suzy.

“Suzy! Suzy! Tunggu!” teriakku padanya yang sedang berdiri menunggu bus.

Tapi sia-sia, ketika aku sampai di haltenya, Suzy segera menaiki bus yang sudah sampai di depannya. Gadis itu pasti marah padaku.

 

Aku kembali ke depan toko buku. Ku taiki motorku yang terparkir di sana. Aku bingung, apa aku harus mengejarnya? Atau aku pulang saja?

Aku sudah bosan melihatnya terus-menerus marah padaku. Padahal aku hanya ingin dia mandiri dan tidak manja.

 

Lebih baik aku pulang, aku malas bertemu dengannya lagi.

 

~ ~

Ketika aku sampai di pertokoan dekat apartementku, hujan turun lagi.

Aku segera menaikkan kecepatan, tiba-tiba aku menabrak seorang gadis.

“Ah, mian. Aku tak sengaja,” seruku pada gadis itu.

Gadis itu terjongkok dan tertunduk di depan motorku sambil meringis kesakitan. Aku segera turun dari motorku dan menghampirinya.

Gwaenchana?” seruku.

Ku lihat lutut gadis itu terluka, darah begitu banyak mengalir dari kakinya itu.

“Kakimu terluka parah, kau harus diobati. Ayo ikut aku, aku akan mengobatinya sebagai tanggung jawabku telah menabrakmu,” seruku lagi.

 

Gadis itu kini mengangkat kepalanya dan menatapku. Tatapannya, tatapan hangat itu. Entah mengapa hatiku bergejolak menatap wajahnya ini. Wajah cantik itu, wajah cantik nan pucat yang kutemui lima tahun yang lalu.

 

“Aku, tidak apa-apa. Tak usah pedulikanku. Mian, permisi,” seru gadis itu seraya beranjak pergi meninggalkanku.

Aku hanya terdiam kaku, bahkan aku tak bisa mengejarnya. Aku hanya bisa memperhatikannya yang jalan dengan begitu susah payahnya dan dengan kaki yang pincang.

 

Meski begitu, tapi hati ini serasa tumbuh kembali. Aku menemukannya lagi, aku bertemu dia lagi. Yeoja di saat hujan pada lima tahun lalu. Yang berhasil merebut hatiku dan membuatku rindu setiap saat.

Meski aku belum bertanya siapa namanya dan aku belum sempat membantunya.

Ku harap aku bisa mengetahui siapa dirinya nanti.

 

~ ~

Sesampaiku di apartement, segera ku hempaskan tubuhku ini ke kasur. Aku tidak lemas sekarang ini. Padahal tadi pagi aku begitu malas bahkan untuk membuka mata sekalipun.

Gadis itu, ia membuatku segar kembali meski hanya menatap mata indahnya. Setidaknya aku bisa melepas rindu selama lima tahun ini kepadanya.

 

Tiba-tiba di saat ku tengah merenungkan yeoja itu, handphone ku berdering. Dan terpampang di layar handphoneku, ‘Suzy is calling..’

Ah, iya, aku lupa dengan dirinya. Oh tuhan, maafkan aku.

 

“Yobosseo Suzy?”

“Aku ingin bertemu kau di taman biasa. Terserah kau ingin datang atau tidak, yang pasti aku akan menunggu di sana.”

 

~ tuuuttt ~

 

Belum sempat aku menjawabnya ia sudah menutup telefonnya. Sepertinya ia benar-benar marah padaku.

Aku segera pergi ke taman.

Ku sapu pandanganku mengelilingi sesisi taman, mencari keberadaan Suzy. Dan pandanganku berhenti ketika ku temukan seorang yeoja tengah tertunduk di salah satu bangku taman, ia Suzy. Aku segera menghampirinya.

 

“Suzy-ah,” seruku seraya duduk di sampingnya.

Gadis itu hanya terdiam tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.

“Ah, baiklah. Maafkan aku, maaf. Aku tak bermaksud mengacuhkanmu,” seruku lagi.

Suzy tetap terdiam, tak berkutik maupun tak bergerak. Tapi ku lihat, setitik butiran air muncul di pelupuk matanya. Lalu, butiran itu jatuh sedikit demi sedikit.

“Suzy-ah, uljihma. Mianhamnida,” seruku lagi seraya berjongkok di hadapannya.

Aku genggam tangannya dengan erat.

“Aku pantas diacuhkan. Aku memang seperti ini, aku pantas seperti ini. Aku tak perlu dipedulikan,” serunya dengan isak tangisnya yang dalam.

Ani, maafkan aku Suzy, ku mohon. Aku benar-benar tak maksud mengacuhkanmu, aku peduli padamu,” ujarku.

“Peduli? Itu kah peduli? Mengacuhkanku setiap kali aku perlu dirimu, bermalas-malasan setiap kali aku ingin bertemu denganmu. Itu kah peduli?” seru Suzy.

 

Aku terbelalak mendengar perkataannya ini. Ia begitu jarang berkata seperti ini padaku. Semarah-marahnya pun dia padaku, ia tak pernah seperti ini.

“Ku rasa, aku ingin ini berakhir. Aku lelah, aku benci seperti ini, aku sakit Yoseob-shi!” seru Suzy kini dengan nada tingginya. Aku makin terbelalak mendengarnya.

“Ma-Maksudmu?”

“Lebih baik aku seperti dulu saja, hanya menjadi adikmu, sekadar adik. Aku sadar, aku tak bisa menjadi lebih dari itu untukmu,” serunya.

Aku mengangkat kepalanya yang tertunduk, ku hapus airmatanya yang begitu deras mengalir membasahi pipinya.

“Maafkan aku. Aku tau aku membuatmu teramat sakit, aku tau aku memang begitu bodoh memperlakukanmu seperti ini. Tapi kumohon maafkan aku,” ujarku seraya mengelus pipi lembut Suzy.

“Aku sudah memaafkanmu. Tapi yang ku pinta hanya lah putus. Aku tak ingin keterpaksaan darimu, ini sebenarnya sudah ku inginkan sejak dulu, tapi aku hanya berani menyatakannya kali ini. Terimakasih, Yoseob-shi. Kau mau berusaha membuka hatimu untukku, meski hanya sekejap,” ujar Suzy dan beranjak meningalkanku.

 

Aku terdiam begitu terpaku. Aku memang namja bodoh yang hanya bisa menyakiti perasaan wanita. Suzy sangat tersakiti, aku menyesal telah membuatnya menderita. Ku harap ia tulus memaafkanku.

 

 

To Be Continued

 

Yeaaah ini dia lanjutan dari teaser ‘On Rainy Days’. Untuk part 1 kali ini, aku sengaja hanya buat konflik yang masih sedikit. Nanti di next part, bakalan banyak hal lainnya.

Nah, ditunggu aja ya next partnya^^

Sekarang saatnya review kalian, ayo katakan komentarmu di bawah ini. Kalo banyak yg komentar, aku semakin semangat lanjutin FF nya. Kalo ga banyak yang comment, aku ga lanjutin deh. padahal ceritanya masih panjang banget loh :p huahahha *evil laugh*

Don’t be silent readers yaaa😀

Gomawo ^^

23 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s