The Howler

Author : Ghaizain

Cast :  – Minwoo

–          Jayoung

–          Donghyun

–          Jinyoung (cameo)

Genre : Romance, Angst (?)

Rating : PG

Length : Oneshoot

All cast isn’t Mine ex : Jayoung. Cover is mine. Story is mine. No Copy, No Bash, No Siders! Happy Read and comment please (sorry for typo) J

-Author POV-

“Apa? Penjara? Ini tidak mungkin bagaimana bisa Minwoo masuk penjara? Ini mustahil!” ucap Donghyun. “Polisi menemukannya di TKP dengan pakaian berlumuran darah. Menurut berita yang kudengar, Minwoo dituduh membunuh seorang laki-laki paruh baya. Entah apa yang mendasari kasus ini.” Jelas Jinyoung.

“Tapi kenapa harus Minwoo? Mungkin saja Minwoo bukan pembunuhnya kan? Siapa tahu saja pembunuhnya itu orang lain.” Bantah Donghyun. “Tapi bukti yang ditemukan polisi sangat kuat. Pertama, saat polisi mendatangi TKP, mereka menemukan Minwoo bersimpuh disamping korban. Kedua, baju Minwoo berlumuran darah. Dan ketiga yang paling membuat semua bukti ini menjadi semakin kuat yaitu, Minwoo memegang sebilah pisau ditangan kirinya.” Jelas Jinyoung panjang lebar.

Donghyun mendesah. “Tapi aku yakin bukan Minwoo pelakunya.” Gumamnya. “Aku juga berharap semua ini salah. Aku harap Minwoo tidak bersalah. Dia terlalu polos dan baik untuk membunuh orang.” Gumam Jinyoung.

Mereka meneruskan makan siang mereka. Siang ini begitu terik di Dongdaemun. Kafe pinggir jalan ini menjadi tempat yang paling sejuk di Dongdaemun siang ini. Donghyun menyesap kopinya. Masalah yang muncul hari ini benar-benar membuatnya pusing dan frustasi. Bagaimana bisa sahabatnya, Minwoo bisa dijebloskan ke penjara.

Donghyun kenal benar bagaimana Minwoo. Minwoo anak yang baik dan taat. Ia selalu berbuat baik. Jadi, berita ini benar-benar membuat Donghyun syok.

Apa alasan Minwoo membunuh laki-laki itu? Pertanyaan tersebut terus menggerayangi pikiran Donghyun.

-Donghyun POV-

Tapi, kenapa Minwoo memegang pisau dengan tangan kiri? Setahuku Minwoo sama sekali tidak kidal. Ah mungkin saja ia memindahkan pisau itu ke tangan kirinya selesai ‘membunuh’ laki-laki itu.

“Kapan pembunuhan itu terjadi?” tanyaku. Jinyoung meletakkan cangkirnya. “Sekitar jam 5 sore.” Jawab Jinyoung. “Jam 5 sore.” Gumamku. “Hari apa?” tanyaku lagi. “Senin.” Jawab Jinyoung singkat. Itu berarti pembunuhan baru terjadi kemarin. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi kemarin. Jam 5 sore… ah! Aku sedang membaca dan Minwoo.. meminta izin untuk pergi ke suatu tempat. Tapi kemana?

Aku memejamkan mataku berusaha mengingat-ngingat lagi apa yang terjadi. Apa yang saat itu Minwoo katakan padaku?

Ah! Ia izin menemui pacarnya.

-Jayoung POV-

Aku berjalan dan terus berjalan. Kepalaku tertunduk. Pacarku, Minwoo dijebloskan ke penjara. Apa yang harus aku lakukan? Ketakutan menyelubungiku. Aku merasa tiba-tiba dunia akan menelanku kapanpun.

Semuanya hampir membuatku frustasi. Kenyataan ini tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Kenapa harus Minwoo. Kenapa bukan.. ah,. Sudahlah. Aku membenarkan syalku. Membiarkannya menutupi sebagian wajahku. Aku merasa seperti teroris. Seakan-akan aku menjadi pusat perhatian. Semua orang terlihat begitu mencurigakan bagiku. Satu-satunya yang kutakuti kini adalah sebuah KEBENARAN.

Apa daya. Semua telah terjadi. Aku tidak bisa berbuat apapun. Semua ini takdir yah.. takdir Tuhan yang memang seharusnya terjadi. Aku harus terima ini. Lagipula aku –tidak- bersalah. Aku tidak perlu takut.

Aku terus menyemangati diriku. Kejadian kemarin itu memang sudah di atur Tuhan.

-Flashback-

-Author POV-

Kau sedang apa?

Membaca buku bersama Donghyun hyung. Kau jagi?

Berkirim pesan dengan pangeranku.

Siapa pangeranmu?😉

Jangan paksa aku menyebutkannya -.-

Ayolah sekali saja.

Ah. Kau tahu siapa pangeranku.

Aku tidak tahu u.u

Sudah tak usah dibahas.

Baiklah -.-

Hei. Sore ini kita jadi.. kau tahu bertemu di tempat biasa dan berbicara.

Yap. Kau berdandan yang cantik. Aku tidak mau putriku terlihat jelek.

Tanpa berdandanpun aku cantik.

Iya iya..terserah.

Sudah dulu jagiya. Aku harus bersiap-siap. Kau tahu.. wanita menghabiskan banyak waktu hanya untuk berdandan.

Ok. Sampai ketemu jam 17.00..

Saranghae

Joddo.

Minwoo tersenyum lalu meletakkan kembali handphonenya ke saku kemejanya. “Apa yang membuatmu tersenyum gila seperti itu No Minwoo?” tegur Donghyun. Minwoo tetap tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Donghyun.
“Ah. Pasti Jayoung. Baru berpacaran 5 bulan dan kau sudah dibuatnya gila.” Canda Donghyun. Minwoo tak menghiraukan candaan Donghyun. entah kenapa hari ini sangat menyenangkan. Apa karena ia akan bertemu Jayoung? Memang ia sering bertemu Jayoung. Tapi, setiap pertemuan Minwoo anggap pertemuan pertama sehingga terasa special.

Minwoo melirik jam tangannya. Jam 16.30.

“Hyung aku pergi dulu. Mungkin aku akan pulang larut malam.” Pamit Minwoo. “Mau kemana?” Tanya Donghyun. “Biasa hyung.” Ucap Minwoo. “Oh. Jayoung. Hah~ sudah sana. Hati-hati.” Ucap Donghyun.

-Jayoung POV-

Aku baru akan memakai lipstick saat laki-laki itu mendobrak pintu apartemenku. “Siapa kau? Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku panik.

“Aku hanya mengunjungimu cantik.” Ucap laki-laki itu sambil menyeringai. Aku semakin panik. Aku merogoh tas tanganku mencari handphone. Tepat saat akan mengetik nomor telpon Minwoo, laki-laki itu menepis tanganku membuat handphoneku terjatuh.

“Biarkan aku melakukan tugasku gadis cantik.” Ucap laki-laki itu. Aku berusaha melepaskan tangan kananku yang kini sedang digenggam laki-laki itu. Sial! Dia mengeluarkan sebilah pisau dari saku celananya.

“A-apa yang akan kau lakukan?” tanyaku cemas. “Membunuhmu tentu. Ini mudah. Kau mati dan aku bisa melanjutkan hidupku.” Ucap laki-laki itu. “Itu tidak akan terjadi.” Ucapku sambil berusaha melepaskan tanganku yang masih terjebak.

Kencang sekali genggamannya. Ah! Akhirnya terlepas. Aku segera menampar laki-laki itu sekuat tenaga. Saat ia memegangi pipinya, segera aku ambil pisau dari tangannya dan tanpa sadar aku..aku menusukkan pisau itu di.. perutnya.

Laki-laki itu terjatuh. Ia menatapku tajam hingga akhirnya tatapan itu hilang. Apa yang telah kulakukan? Aku membunuh laki-laki itu.

Tubuhku mulai gemetar. Aku terus memandangi tanganku yang berlumuran darah. Aku bersimpuh didekat mayat laki-laki itu terus berfikir apa yang akan kulakukan. Aku takut dituduh membunuh. Kejadian tadi sama sekali tidak memiliki saksi. Sial! Kenapa aku melakukan ini. Seharusnya aku memukulnya saja.

Pisau itu masih menancap di perut laki-laki itu. Aku baru berpikir akan pergi dari tempat ini saat Minwoo masuk ke apartemenku.

“Jagi. Kau baik-baik saja?” Tanya Minwoo panik. Aku memeluk Minwoo. Tubuhku masih gemetar. “A..aku membunuh laki-laki itu Minwoo. Sungguh aku hanya ingin membela diri. Ia akan membunuhku. Aku takut lalu membunuhnya. Sekarang aku takut dituduh membunuh kemudian dijebloskan ke penjara Minwoo.. bagaimana ini aku takut sekali.” Jelasku pada Minwoo.

Minwoo melepaskan pelukanku. Ia memegang kedua pundakku. “Kalau begitu, pergi sekarang.” Perintah Minwoo. “Ayo.” Ajakku. Aku merapihkan pakaianku. “Aku akan tetap disini menggantikanmu.” Ucap Minwoo sambil tersenyum. “Tapi, Minwoo.. kau bisa. Lagipula kita bisa meninggalkan mayat itu dan polisi tidak akan tahu siapa pembunuhnya.” Ucapku membujuk.

“Di pisau itu ada sidik jarimu.. dan ini, apartemenmu. Polisi dapat dengan mudah menemukannya. Jika aku tetap disini, polisi tidak akan mencari-cari lagi dan mereka akan langsung menuduhku. Percaya padaku jagi. Aku akan baik-baik saja.” Jelas Minwoo membuat air mataku terjatuh.

“Tapi, Minwoo.. aku.” Belum sempat aku meneruskan kata-kataku, Minwoo memotong. “Cepat pergi, polisi pasti sebentar lagi akan datang.” Ucapnya.

“S-saranghae Minwoo..” ucapku lalu berlari keluar apartemen. Aku akan pergi sejauh-jauhnya.

-Minwoo POV-

Aku berjalan menuju mayat yang berbaring kaku di lantai. Kemudian aku bersimpuh disamping mayat tersebut. Melumuri pakaianku dengan darah yang mengalir dari tubuh mayat itu.

Aku mencabut pisau yang masih tertancap dan memegangnya dengan tangan kiriku supaya drama ini semakin terlihat seperti nyata.

Demi Jayoung.. Jayoung.. Jayoung. Aku terus menguatkan hatiku.

Kini aku menunggu.. menunggu mereka datang menangkapku dan membiarkan seseorang disana hidup tenang.

Beberapa lama kemudian…

“ANGKAT TANGAN! LETAKKAN PISAU ITU DI LANTAI!!” teriak laki-laki berpakaian seragam itu dengan pistol diarahkan kepadaku. Aku mengikuti perintah laki-laki itu. Ya, inilah saatnya.

Beberapa di antara gerombolan laki-laki itu menghampiriku. Tanganku akhirnya di borgol.

Sebagian polisi membawaku ke penjara, sebagian lagi mengerumuni mayat itu.

-TAMAT-

This story inspired from Big Bang’s MV :  Lies . with some change.

2 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s