[Chapter] On Rainy Days (part 2)

Title                 : On Rainy Days (part 2)

Author             :  Dara Daroen (@dara_daroen)

Main Cast        :

  • Yang Yoseob (B2ST)
  • Bae Min Ra (OC)
  • Suzy (Miss A)

Support Cast    :

  • Bae Ka Rin ak.a eomma Suzy & Min Ra

Genre              : Romance, Angst, AU, Tragedy

Rating              : Teenager/PG-13

Length             : Chapter

Disclaimer       : Imagination and story is mine, but the cast belong to God.

Please NO PLAGIATOR!

The Story © 2012 DaraDaroen

 

Bacotan Author :

Annyeong! Annyeong! Ini dia FF ‘On Rainy Days’ ku yang part 2. Kali ini makin banyak konflik. Nanti di part selanjutnya pun lebih banyak. Makanya, jangan ketinggalan. Ikutin terus aja sampai end nya.

Okay, saatnya membaca😀

Happy Reading! ^^

Previous Story :           | Teaser | Part 1 |

~ ~

~ Suzy’s POV ~

Akhirnya aku mengatakannya kepada Yoseob oppa. Ini yang sudah ku tahan dari sejak lama. Perasaan yang begitu sesak untuk selalu ku simpan di hati.

Aku memutuskannya, entah mengapa begitu banyak rasa penyesalan dalam diriku. Padahal sudah tiga tahun lamanya ku perjuangkan cintaku dan ku kejar cintanya, dan kini aku dengan sia-sia menyudahinya. Tapi mungkin memang ini yang sepantasnya aku lakukan. Aku tak ingin Yoseob oppa begitu memaksakan cintanya untukku.

Kini aku tengah menghempaskan tubuhku di kasur. Sepertinya tekanan batin memberikan efek pada tekanan fisikku juga.

Namun di saatku ingin terlelap tidur, terdengar suara ketukan pintu kamarku dari luar sana.

“Suzy! Cepat keluar, ada yang menantimu di ruang bawah,” teriak eommaku di balik pintuku.

Aku segera membuka pintu kamarku.

Nugu?” tanyaku pada eomma.

“Yang Yoseob,” ujar eomma.

“Ah, bilang saja aku sudah tidur. Ada perlu apa dia ke sini, seperti masih peduli saja,” seruku kesal.

“Hey, kau tak boleh seperti itu. Memangnya ada apa kau dengannya?”

“Nanti saja ku ceritakan. Sekarang, ku mohon eomma, suruh dia pergi dan bilang aku sudah tidur,” ujarku.

“Baiklah, sebaiknya kau istirahat, eomma akan sampaikan padanya,” ujar eomma. Aku mengangguk kecil dan segera menutup pintu.

~ Yoseob’s POV ~

Setelah berpikir sebentar di taman tadi, ku rasa aku harus berbicara sesuatu pada Suzy. Aku ingin benar-benar meminta maaf, karena aku takut ia belum memaafkanku dengan tulus.

Aku segera pergi menuju rumah Suzy.

Tok tok tok..

Ku ketuk pintu kayu milik rumah Suzy itu. Beberapa saat kemudian muncul seorang ibu dari balik pintu, yang tak lain itu adalah eomma nya Suzy.

Annyeong ahjumma!” seruku seraya membungkuk.

“Ah, ne Yoseob. Silahkan masuk,” ujar ahjumma.

Ia segera mempersilahkanku duduk di sofa.

“Ingin perlu bertemu Suzy kah? Aku akan panggilkan dia sebentar,” serunya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil.

Ahjumma segera beranjak menaiki tangga menuju kamar Suzy.

Beberapa menit kemudian, ia kembali dan duduk di sebelahku.

“Yoseob, Suzy sudah tidur. Sepertinya ia sangat lelah. Begitu pulang tadi ia langsung berlari cepat ke kamarnya, bahkan belum sempat menerima ajakanku untuk makan malam dulu,” ujarnya.

“Ah, jeongmal? Sepertinya ia benar-benar marah padaku,” seruku.

“Memang kau ada masalah apa dengannya? Bisa kau ceritakan padaku?”

“Aku, terlalu bodoh.”

Wae?

“Aku menyakiti anakmu, maafkan aku.”

“Ah, ne gwaenchana. Mungkin itu awal yang baik untuknya, supaya lebih dewasa.”

“Tapi, aku benar-benar bodoh menyakitinya. Aku takut dia tak memaafkanku dengan tulus.”

“Kau tak usah khawatir, akan ku coba berbicara padanya.”

Kamsahamnida ahjumma.” Kini aku tersenyum meski masih ada rasa belum lega.

Tiba-tiba seseorang datang, dan itu seorang yeoja.

“Ah, kau pulang Min Ra-ah,” seru ahjumma kepada yeoja itu.

“Apa dia saudara Suzy? Ia eonninya atau adiknya?” tanyaku pada ahjumma.

“Dia kakaknya Suzy, sebenarnya dia bukan kakak kandungnya, begitupun dia bukan anak kandungku,” ujarnya.

“Lalu?”

Yeoja itu lalu datang menghampiri ahjumma. Badannya basah kuyup dan ku lihat wajahnya yang sangat familiar bagiku, Omo! Dia gadis itu, gadis yang ku temui saat hujan.

“Min Ra-ah, ayo duduk dulu. Kenalkan ini Yang Yoseob,” ujar ahjumma pada gadis bernama Min Ra itu. Kini aku tau namanya.

Ne. Choi Min Ra imnida. Emm ani, maksudku Bae Min Ra imnida,” seru gadis itu padaku seraya duduk di samping ahjumma.

“Oh, jadi namamu Min Ra. Senang berkenalan denganmu Min Ra-ah,” seruku padanya.

Gadis itu hanya tersenyum padaku. Oh tuhan, baru kali ini aku diberi senyum olehnya. Tubuhku membeku melihat senyumnya yang sangat manis itu.

“Baiklah, cepat kau mandi sana. Badanmu basah sekali, pasti kau hujan-hujanan lagi. Cepat lah bergegas,” ujar ahjumma pada Min Ra. Gadis itu segera beranjak ke kamarnya.

Ahjumma, tadi maksudmu dia bukan anak kandungmu itu apa?” seruku selepas perginya Min Ra.

“Aku menemukan dia lima tahun lalu.”

~ Flashback ~

 

1st May 2007, 22.00 p.m

 

Hujan masih sangat deras. Nampak seorang ibu tengah berlari-lari dengan payung yang menjadi peneduh untuknya.

Ibu itu berhenti untuk meneduh sebentar di pertokoan yang sudah tutup. Saat ia sedang menutup payungnya, ia mendengar suara tangisan seorang yeoja.

Ia menelusuri lorong pertokoan yang sangat sepi, dan begitu melihat seorang gadis tengah menelungkupkan kepalanya di antara kedua lututnya, ibu itu nampak kaget. Ia menghampiri gadis itu.

“Nak, apa kau baik-baik saja?” seru ahjumma seraya berjongkok di depan gadis yang menangis itu.

“Aku, tidak apa-apa,” ujar gadis itu tanpa menoleh kemanapun.

“Sebaiknya kau jangan lama-lama di sini, kau nampak kedinginan, nanti kau bisa masuk angin,” ujar ahjumma lembut. Gadis itu tak berkutik.

“Apa kau mau ikut denganku? Aku akan mengurusmu,” ujar ahjumma lagi.

Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap ibu itu.

“Apa kau peduli denganku?” seru gadis itu lirih.

“Tentu saja, ayo ikut aku.”

Gadis itu pun menurut di saat ia dibawa pergi oleh ahjumma tadi, yang tak lain adalah eomma Suzy.

Sesampainya di rumah, ibu itu mempersilahkan gadis tadi duduk di sofanya. Lalu ia berlari menuju dapur dan kembali dengan membawa secangkir teh hangat untuk gadis itu.

“Kau kedinginan pastinya, habiskan teh hangat ini. Kau akan segera baikan.”

Gomawo ahjumma.”

“Siapa namamu anak muda? Dan, berapa umurmu?”

“Choi Min Ra imnida. Aku masih 17 tahun.”

“Oh kau muda sekali, hampir seumur dengan putriku.”

“Tapi aku muak dengan nama margaku, apa kau bisa menggantinya?” seru gadis itu.

“Maksudmu?”

“Aku benci dengan nama Choi ini. Ini marga dari keluarga yang jahat, aku muak,” ujar gadis itu.

“Apa masalahmu, nak? Bisa kau ceritakan padaku?”

Gadis itu pun mulai bercerita.

“Kedua orang tuaku tak peduli lagi padaku. Mereka baru saja bercerai, dan keduanya bilang padaku sama-sama tidak lagi membutuhkanku. Mereka menelantarkanku dan tak memperdulikanku lagi,” seru Min Ra.

“Jadi begitu. Beruntunglah ada aku yang membawamu. Apa kau mau tinggal di sini bersamaku?” seru ahjumma dengan lembut.

“Dengan senang hati, dan jika kau juga peduli denganku,” seru Min Ra.

“Tentu saja aku peduli. Kau akan ku angkat menjadi anakku, dan oh ya, namaku Bae Ka Rin. Nah, jadi apa kau mau mengubah namamu?” seru ibu yang bernama Ka Rin itu.

“Pasti, jadi namaku Bae Min Ra,” seru Min Ra.

Ne. Semoga kau betah tinggal bersamaku,” seru Ka Rin.

Gadis itu memeluk erat tubuh ibu yang menjadi eommanya saat itu.

~ Flashback end ~

Aku mengangguk-angguk seusai mendengar cerita ahjumma tentang gadis bernama Min Ra itu. Aku tak menyangka ia menemukan Min Ra di tempat dan dihari yang sama denganku saat aku pun bertemu dengannya.

Ahjumma, aku pun sama sepertimu. Aku menemukan dia lima tahun yang lalu. Di hari yang sama, di tempat yang sama, dan dikeadaan yang sama. Aku pun sama sepertimu, mengajaknya pergi bersamaku. Tapi saat itu, ia menolak ajakanku. Mengapa denganmu ia mau?” seruku.

Mwo? Kau pun bertemu dirinya dulu? Ah, aku baru ingat.”

~ Flashback ~

“Tidak! Tidaaak, jangan dekati aku!” seru Min Ra yang sepertinya sedang mengigau dalam tidurnya. Ka Rin pun menghampiri anak angkatnya itu.

“Min Ra, Min Ra-ah, waeyo?”

“Tidaaak! Pergi kau, jauh, jauhi aku!” teriak Min Ra lagi masih mengigau.

“Nak, bangunlah. Ada apa, Min Ra-ah? Ayo bangun,” seru Ka Rin lagi.

Lalu, Min Ra terbangun dari tidurnya. Melihat eomma nya ada di sampingnya itu, ia langsung mendekap erat tubuh hangatnya.

Eomma, aku takut,” seru Min Ra dalam pelukan eommanya.

Wae Min Ra-ah?”

Min Ra melepaskan pelukannya dan bercerita pada Ka Rin.

Namja itu datang lagi. Aku benci dia, dia kenapa harus hadir di mimpiku,” seru Min Ra lirih.

Nugu? Sudahlah, tenang dulu,” ujar Ka Rin.

“Dia lelaki keparat yang membuat hidupku hancur,” seru Min Ra seraya tertunduk.

“Dia pernah memintaku menjadi yeojachingunya, aku pun menerimanya. Tapi, ia begitu jahat. Di saat aku mulai mencintainya dengan tulus, ia malah sudah bertunangan dan akan menikah dengan yeoja lain,” ujar Min Ra, kini airmatanya sudah berada di ujung pelupuk matanya.

“Aku muak! Aku benci dengannya! Bahkan karena dialah aku tak dianggap oleh orangtuaku. Dia terlalu membuatku menjadi sesat sehingga hubungan keluargaku pun hancur berantakan. Dia namja babo, bajingan,” seru Min Ra lagi, dan kini ia sudah menjatuhkan butiran air matanya.

“Syutt. Sudahlah, Min Ra-ah. Jangan ingat-ingat itu lagi jika kau memang membencinya. Biarkanlah itu berlalu, kau harus bisa lebih tenang lagi ke depannya tanpa beban kebencian itu,” ujar Ka Rin pada anaknya itu.

“Aku sedang mengusahakannya, aku yakin dia akan benar-benar pergi dari hidupku. Tapi, karena inilah, aku menjadi benci dengan semua namja. Aku benci jika melihat lelaki, apalagi jika ia mendekatiku,” seru Min Ra.

Ka Rin hanya menghembuskan nafas panjang dan mencoba menenangkan putrinya itu.

~ Flashback end ~

Ahjumma menghembuskan nafas panjang di akhir ceritanya. Aku tertunduk lesu.

“Aku yakin dia benar-benar phobia berat dengan seorang namja. Tapi aku selalu berusaha untuk menghilangkannya, karena dia pun kelak akan hidup dengan seorang namja nantinya,” seru ahjumma.

“Oh, ya benar mungkin itu sejenis ketakutan yang teramat dalam baginya. Pantas saja saat aku mau menolongnya itu, ia malah membentakku dengan begitu kasar,” seruku.

Ne. Tapi, ku rasa dia akan tenang-tenang saja jika terhadap namja yang tidak terlalu macam-macam padanya,” seru ahjumma.

Aku hanya mengangguk pelan.

~ ~

Ku hempaskan tubuhku ke kasurku. Hari ini begitu melelahkan. Aku mencoba memejamkan mata ini meski sebenarnya ada yang sedang ku pikirkan.

Satu detik, dua detik, tiga detik..

Ah, aku tak bisa tidur.

Ku langkahkan kakiku menuju washtafell. Aku segera mencuci muka.

Ku tatap suasana di luar jendela kamarku ini, di luar masih hujan. Bayangan itu kembali merasukiku.

Yeoja itu, kini aku tau namanya, Min Ra.

Min Ra, gadis yang selama ini membuat hatiku getar getir tak menentu. Yang selalu menghantui fikiranku. Aku sedikit kecewa dengan cerita ahjumma tadi. Min Ra phobia dengan seorang namja. Ah, itu gila.

Padahal, aku ingin sekali mencoba untuk dekat dengannya. Tapi bagaimana bisa jika Min Ra begitu takut terhadap namja.

Kini aku terduduk di sofa dekat jendela kamar apartementku. Mencoba lagi memejamkan mata dengan fikiran masih membayangkan yeoja itu.

~ ~

Ku buka mataku perlahan, secercik cahaya masuk ke mataku, makin lama makin banyak. Rupanya hari sudah pagi. Ku sadarkan lagi diriku yang belum sepenuhnya bangun dari alam tidur.

Perlahan aku beranjak dari sofa tempat tidurku semalaman. Ku tengok jam yang menempel di dinding, telah menunjukkan pukul 07.00 a.m. Aku harus segera pergi ke kampus, ada mata pelajaran bahasa hari ini.

Sesampainya di kampus, baru saja sampai di gerbang aku bertemu Suzy. Segera ku kejar yeoja itu.

“Suzy-ah!” seruku setelah berhasil meraih lengannya. Aku segera menariknya dan membawanya ke taman sekolah.

“Ada apa lagi, Yoseob-shi?” seru Suzy dingin kepadaku.

“Aku hanya ingin meminta maaf. Benar-benar meminta maaf padamu,” seruku.

“Sudah ku bilang, aku telah memaafkanmu,” serunya.

“Tapi aku takut kau tak tulus memberi maaf, sedangkan aku tau berjuta kalinya aku membuatmu amat teramat sakit,” ujarku.

Kini Suzy meraih kedua tanganku, menggenggamnya erat dan menatap mataku dalam-dalam.

“Pemberian maafku selalu tulus, sama seperti ketulusan cintaku padamu selama tiga tahun ini,” serunya. Aku hanya terdiam dan terpaku.

“Tapi kini aku tersadar, dan mungkin aku akan berhenti. Berhenti memberi ketulusan cinta untukmu. Jadi, sekarang aku hanya bisa memberikan ketulusan maaf untukmu,” seru Suzy.

“Baiklah. Terimakasih Suzy-ah. Terimakasih atas ketulusanmu selama ini,” ujarku.

Suzy tersenyum manis dan nampaknya dia benar-benar tulus.

“Baiklah, aku ada kelas seni sekarang. Bolehkah aku pergi?” seru Suzy.

“Ah, baiklah. Silahkan,” ujarku.

Gadis itu pun berlalu dan melambaikan tangannya padaku.

~ ~

Kuliahku pagi ini dibatalkan. Dosenku tak hadir hari ini. Baguslah, aku pun sedang tak semangat belajar untuk hari ini. Akhirnya, aku pun menuju kantin karena perutku belum ku isi makanan sejak bangun pagi tadi.

Sesampainya di kantin, ku lihat seorang yeoja tengah duduk sendirian di salah satu bangku kantin. Dan aku terkejut ternyata dia, Min Ra.

Segera ku hampiri dia.

Annyeong, Min Ra-ah!” sapaku padanya seraya duduk di sampingnya.

Gadis itu nampak terkejut, bahkan sangat terkejut. Ia agak menggeserkan posisi duduknya dariku.

Ne,” jawabnya singkat.

Aku memanggil pelayan kantin dan memesan beberapa menu makanan breakfast.

“Apa kau tak makan?” tanyaku pada Min Ra.

“Ah, tidak. Aku sudah makan barusan,” jawabnya tanpa menoleh ke arahku.

Beberapa saat kemudian, ia menoleh juga kepadaku, dan menatapku dengan tatapan yang entah tak bisa ku baca.

Wae?” tanyaku.

“Apa kau seorang namja?” tanyanya.

“Tentu sajalah. Kau kira aku apa?”

“Wajahmu terlalu cantik untuk menjadi namja,” seru Min Ra. Aku hanya mendengus kesal.

Min Ra tertawa kecil. Aku senang melihatnya tertawa padaku. Seakan, aku melupakan dirinya yang phobia terhadap seorang lelaki.

“Kau kuliah di sini, Min Ra-ah?” tanyaku di sela makanku.

“Hmm,” jawabnya hanya dengan gumaman.

“Tapi, sepertinya aku baru melihatmu sekarang ini,” seruku.

Ne, aku baru di sini. Aku baru punya uang untuk bersekolah di sini.”

Aku mengangguk-angguk kecil, meski Min Ra tak melihatku karena ia sedang asyik dengan laptopnya.

Lalu, ia menoleh ke arahku.

“Apa kau pacarnya Suzy?” serunya.

Aku tersedak. Segera ku ambil minumku dan meminumnya.

“Ah, mian,” serunya lagi.

“Tak apa. Hhmm, tidak. Aku bukan pacarnya lagi, dia memutuskanku kemarin,” ujarku.

Min Ra hanya mengangguk-angguk.

“Setelah ini, apa kau ada keperluan lain?” tanyaku padanya.

“Tidak,” jawabnya singkat.

“Lalu, kau mau kemana?”

“Aku ingin pulang.”

“Mau ku antar?”

“Tak perlu.”

“Tak apa, aku hanya pulang sendiri.”

“Hhmm, terserahmu lah.”

~ ~

Aku mengantar Min Ra pulang. Entahlah, aku sangat senang bisa seperti ini. Aku agak bingung, dia tak sedikit pun takut berdekatan denganku.

Ketika baru sampai di pertokoan pinggir jalan, hujan turun dan tiba-tiba deras. Aku segera menuju ke pinggiran jalan.

“Ayo, meneduh dulu di sini, hujan deras sekali,” seruku pada Min Ra.

Hujan.

Biasanya, bayangan itu selalu hadir dalam benakku. Tapi kini, tak hanya bayangannya saja, bahkan wujudnya pun sedang berada di sampingku saat ini.

Ku lirik Min Ra yang bergidik, kedua tangannya dilipat menutupi dadanya.

“Kau kedinginan?” seruku.

Gadis itu mengangguk kecil.

“Ini, pakai.” Aku memberi jaket yang ku kenakan padanya.

“Tidak, kau saja yang pakai. Aku tidak apa-apa,” serunya.

“Tak usah, kau saja. Aku tak memerlukan ini,” seruku seraya mengenakan jaketku ke tubuhnya.

Gomawo,” serunya. Aku hanya tersenyum membalasnya.

“Hhhm.” Ku dengar Min Ra bergumam, aku menoleh ke arahnya.

“Aku lupa namamu,” serunya.

“Ah, aku Yoseob,” jawabku.

“Oh, ne, Yoseob.”

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” serunya lagi.

Ku tengadahkan tanganku dan membiarkan air hujan menyentuh lembut telapak tanganku.

“Ya, kau benar. Saat hujan,” seruku kemudian.

“Oh iya. Saat kau menabrakku waktu itu,” serunya.

Ne, tapi sebelumnya pun kita pernah bertemu.”

Gadis itu mengernyitkan dahinya.

“Kapan?”

“Saat hujan..”

To Be Continued

Mian ya, kalo ceritanya gaje, feelnya ga dapet, trus juga alurnya kecepetan. Tunggu terus aja ya next partnya^^

Langsung aja, ayooo saatnya kalian beri reviewnya^^

Gomawo^^

3 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s