Love Between Us [Walkin’-Yoori POV]

Tittle : Love Between Us [Walkin’-Yoori POV]

Author : Hotaru Yuhime aka Dyanita Baharti Putri; Ideas by Hotaru Yuhime ft Minhye harmonic (double FF project)

Genre : romance

Status : Oneshoot

Rating : General

Casts : Cho Kyuhyun _ Super Junior; OC : Choi Minhye, Kim Yoori

Bahasa : Indonesia, sedikit Inggris

Theme song : Walkin’_Super Junior, Shine_DB5K

Disclaimer : This story is only a fiction. We don’t make money from this, so please, don’t sue us. Do NOT copy-paste without permission. NOT for SILENT READERS. Comments are needed ^^d

=========

Musim semi. Entah bagaimana musim ini identik dengan romansa dan kisah-kisah cinta, tapi tidak bagiku. Bukan karena aku pernah patah hati di musim ini—tidak sepenuhnya begitu. Hanya saja, tak ada yang istimewa. Tak ada yang berubah. Seoul masih sama—mungkin terdapat berbagai perubahan infrastruktur di sana-sini, tapi musim seminya masih sama. Persis seperti saat terakhir aku berada di sini. Berapa tahun yang lalu? 4? 5?

Kulangkahkan kakiku menyusuri jalanan sepi. Tak terlalu jauh dari rumah, dan aku sudah terbiasa melalui setapak ini sedari kecil. Sejenak, sekelebat memori terkenang—serupa video yang dimainkan nyata dihadapanku.

“Yoori! Kau lambat sekali~” sesosok gadis kecil berhenti tak jauh dihadapanku, menyerukan sesuatu. Namaku. Aku tahu gadis itu.

“Uuuh… kau itu kakinya kelewat panjang, Minhye-ah.. tunggu! Aku capek.”

Di sana, Yoori kecil—diriku yang masih sekolah dasar—berlari terengah.

“Salah sendiri kau tidak suka minum susu. Kan kakimu jadinya pendek!” ejek sosok pria mungil yang tadinya berlari di sisi Minhye. Bocah itu— Bocah beracun itu—aku ingat sekali siapa dia!

“Kau jahat sekali, Hyunnie,” kesal Yoori kecil yang kini sibuk mengatur nafas. Namun segera saja ia bersikap awas saat Hyunnie mendekat. “Sana jauh-jauh! Aku sebal! Aku capek! Tinggalkan saja aku!!”

Bocah jahil itu tertawa keras, semakin menggoda Yoori kecil, berpura-pura hendak menyerangnya. Yoori kecil berteriak-teriak makin kesal sementara Minhye ikut menertawakan penderitaannya. Ia terus berteriak-teriak sampai serak—hingga kemudian, si bocah tengil itu tiba-tiba merunduk.

“Ayo naik, kalau menunggumu berjalan nanti keburu malam. Kau kan lambat seperti siput.”

Meskipun kesal, Yoori kecil yang memang sudah kelelahan itu akhirnya menurut, naik ke punggung si bocah setan. Dan sejenak kemudian, ia—mereka—berlari melewati Minhye begitu saja.

“Aku duluan!!” tawa Yoori kecil penuh kemenangan.

“Hei! Tunggu! Kau curang, Yoori-ah! Hyunnie~!!”

Kakegaenai taisetsu na hito hoka no dare ni mo Kawarenai yo my precious You—

Terkesiap, bayangan itu menghilang. Buru-buru kuraih ponselku yang berteriak-teriak minta di jawab. Telepon dari seberang benua.

Hallo?”

Aku meneruskan langkahku yang sempat terhenti barusan sembari mendengarkan baik-baik dan mengiyakan sedikit-sedikit yang si penelepon—manajerku—coba sampaikan. Sebuah tawaran perpanjangan kontrak kerja di seberang benua sana. Paris. Tempatku melanjutkan studi selama beberapa tahun terakhir. Aku baru saja pulang ke Seoul dan dia sudah mencari-cariku. Ck. Tawaran itu bukan kesempatan yang bisa datang dua kali, aku sadar. Tapi… banyak hal yang begitu kurindukan di kota ini—negara ini.

Saat telepon berakhir, kudapati diriku berada di sebuah taman tempatku biasa bermain dulu.

Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, sembari menduduki salah satu ayunan yang tergantung sepi disana.

Hm, jadi ingat. Dulu, terkadang, jika tidak pulang telat, aku selalu duduk di ayunan ini hanya untuk memandangi mereka—Minhye dan Hyunnie. Memasuki masa SMP, kami lebih sering berkumpul di kafe di seberang taman ini karena kami berbeda sekolah. Keberadaanku akan terhalang semak jika dilihat dari kafe, tapi aku bisa melihat ke arah kafe dengan jelas jika aku berayun. Dan lagi, kami selalu menempati tempat duduk yang sama—di tepi jendela.

Bahkan saat ini pun aku seolah bisa melihat kedua sahabatku itu tengah tertawa-tawa di seberang sana.

Hyunnie pandai membuat orang tertawa, meskipun kadang ia bermulut pedas. Makanya aku sering mengatainya bocah beracun—hanya untuk candaan, tentu saja. Dan Minhye, dia menyukai Hyunnie.

Lalu aku?

Bocah tengil itu—dia selalu mengejek tubuhku yang mungil. Aku tahu dia suka wanita tinggi, dan Minhye memiliki kriteria itu. Selain itu dia cantik dan pintar—dan yang terpenting, dia menyayangi Hyunnie.

Jika saja itu gadis lain…

Eh? Apa yang barusan kupikirkan? Tunggu, tunggu! Aku seperti orang patah hati!

Sesosok bocah laki-laki kecil melintas sontak menyadarkanku dari lamunan. Tidak, itu bukan Hyunnie, bocah itu nyata dan bukan imajinasiku. Aku baru hendak bangkit menuju ke kafe saat kudengar bocah kecil itu menangis. Ah, ia pasti jatuh di balik semak itu. Aku bergegas bangkit namun kuurungkan langkahku mendekati si bocah malang.

Sesosok pria nampak membantu bocah itu bangun. Bocah itu masih saja menangis. Pria itu memungut mainan robot si bocah kecil. Mainan plastik itu tercerai berai, dan aku rasa, ketimbang karena sakit, bocah kecil itu menangis lebih karena mainannya rusak. Pria itu membujuk bocah kecil itu dengan senandung kecil, sembari memunguti serpihan robot yang ternyata tidak benar-benar rusak itu. Dan ajaib, bocah itu langsung terdiam.

Sama terdiamnya denganku yang tiba-tiba berdebar mendengar suara nyanyiannya.

Apa ini? Barusan aku memikirkan seorang pria, dan kini tiba-tiba aku jatuh cinta pada orang lain yang bahkan tidak kutahu rupanya—dia memunggungiku. Suaranya lembut sekali. Selembut caranya memperlakukan bocah kecil dan mainannya itu.

Sebelum aku benar-benar sadar, pria itu sudah bangkit dan melambai pada bocah itu—yang entah sejak kapan sudah memegang mainannya yang telah utuh lagi. Dan kesadaranku kembali tertelan saat pria itu berbalik.

“Yoo-chan?”

Aku tenggelam. Dalam manik mata pekat itu, dalam suara berat tapi lembut itu, dalam caranya memanggilku.

Memanggilku?

“Kyu..hyunnie??” Kering. Suaraku menyangkut di tenggorokan. Aku perlu air.

***

“Jadi… kau baru kembali dari Paris?”

“Kau juga…baru kembali dari Jepang?” kulirik backpack yang tergeletak manis di kursi di sampingnya. Kalau dulu, kursi itu selalu jadi tempat duduk Minhye.

“Hum.”

“Beruntung sekali,” gumamku, tersenyum samar.

“Yap. Beruntung sekali. Boleh aku minta nomor ponselmu? Aku tidak ingin kehilangan kontak seperti beberapa tahun terakhir.”

Senyumku makin lebar. “Kau merindukanku?” tanyaku iseng, sembari tanganku memasukkan nomor ponselku ke ponselnya.

“Yah, gadis mungil yang menyenangkan untuk di bully sepertimu itu langka, kau tahu.”

“Terserah katamu, lah,” aku merajuk. Dia tertawa. Ternyata dia masih setan yang dulu.

Kakegaenai taisetsu na hito hoka no dare ni mo Kawarenai yo my precious You—

“Itu nomor ponselku. Ringtone-mu lagu Jepang? Oh, kau merindukanku?”

“Yah, cowok narsis menyebalkan yang bisa dimanfaatkan untuk mengerjakan PR matematikaku sepertimu itu langka, kau tahu?” balasku tak kalah pedas. Dia tertawa lagi. Tawa menyenangkan, persis seperti yang tersimpan dalam memoriku.

“Oh iya. Tadi aku bertemu Minhye. Dia juga sudah kembali dari Inggris. Kau sudah bertemu dengannya?” Aku menggeleng pelan. Oh, tidak. Jangan bicarakan ini. “Dia tak banyak berubah, bahkan bertambah cantik. Lain kali kita harus berkumpul bersama seperti dulu. Oh, atau aku ajak sekarang saja?” dan pria di hadapanku itu kembali sibuk sengan ponselnya. Bibirnya bersenandung kecil sembari jemarinya lincah menuliskan pesan pendek untuknya—Choi Minhye.

Aku memejamkan mata sejenak, menekan dalam-dalam perasaanku yang tadinya membuncah. Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada orang yang sama berkali-kali? Bagaimana aku bisa menghadapi Minhye, sahabatku itu jika aku terus begini?

Dan senandungnya—Tuhan… begitu memabukkan. Bagaimana aku harus menghadapi sahabatku satu lagi itu nantinya, jika hatiku terus begini?

Jika saja gadis itu bukan dia… Jika dia bukan sahabatku…

I’m walkin’ to the day, I’m walkin to the day….”

Aku ikut bersenandung kecil. Rasanya, aku sudah menemukan jawaban untuk tawaran manajerku mengenai kontrak kerja di Paris tadi.

I’m walkin till that someplace that will come tomorrow. Where is that someplace?

*FIN*

cerita ini ada dua bagian. bagian pertama Yoori POV.

bagian kedua Minhye POV🙂

OK, sampai jumpa di Love Between Us [Honestly-Minhye POV] minggu depan

2 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s