[Oneshoot] Are You Cinderella?

Title                       : Are You Cinderella?

Author                 : Dara Daroen (@dara_daroen)

MainCast             :

  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Na Min Ra (OC)

Support Cast      : Find By Yourself

Genre                    : Romance, Drama

Rating                   : General

Length                  : Oneshoot

Summary            : ‘Kau cantik dan menawan. Apakah kau Cinderella?’

Disclaimer          : Imagination and story is mine, but the cast belong to God.

Please NO PLAGIATOR!

The Story © 2012 DaraDaroen

 

Bacotan  Author :

Annyeong^^ ini lagi FF oneshoot ku. Kali ini cast nya Kyuhyun hihihi. Gatau kenapa aku suka banget pake cast nya dia. Meski FF yang aku buat yg castnya Kyu itu cuma ini sama Eternal doang hehe.

Btw mianhae ya untuk yg FF eternal buat yg chap 4 nya bakal agak lama. nah karena buat ngisi kejenuhan readers yg nunggu FF eternalku itu, aku bawain FF ini deh hehehe. Keep waiting ya buat Etenal chap 4 nya^^

 

Oh ya cerita ini terinspirasi bgt dari kisah Cinderella. Aku lagi nostalgia aja sama jaman-jamannya aku suka nonton Cinderella, eh tiba-tiba muncul ide buat bikin FF. yaudah deh lahir FF ini (?)

Langsung ajadeh dibaca, semoga semua suka ya^^

Happy Reading!^^

                ~ Cho Kyuhyun’s Point Of View ~

 

Tak ada yang menarik dari pesta ini. Sungguh membosankan. Sedari tadi begitu banyak wanita yang memintaku untuk berdansa bersama. Tapi aku hanya berkali-kali tersenyum dan menolak mereka perlahan. Ku rasa tak ada yang bisa membuatku nyaman.

“Cho Kyuhyun? Mengapa kau hanya diam? Ayolah ikut berdansa seperti kami,” seru Leeteuk –kakakku yang paling tua- padaku. Ya memang, dia sedang asyik berdansa bersama yeojanya, Taeyeon.

“Aku tak tertarik,” jawabku seraya menyeruput minuman yang dari tadi aku pegang.

Leeteuk hanya mengangkat bahunya dan kembali menikmati pesta bersama Taeyeon. Aku hanya kembali membenarkan posisiku untuk duduk dengan nyaman lebih lama. Sepertinya aku memang hanya harus duduk saja hingga pesta berakhir.

Meski pesta ini adalah pesta yang dibuatkan untukku. Tapi aku tak merasa ini hebat dan special. Karena memang tak ada yang hebat dan special.

Mengapa ibu dan ayahku begitu kurang kerjaan membuat pesta seperti ini? Bahkan hanya untuk mencarikanku jodoh? Ah, menggelikan.

~ ~

Pukul 11.30 p.m

 

Sudah beberapa jam aku hanya melewati pesta ini dengan terduduk. Padahal pesta sudah berlangsung sejak pukul enam tadi. Entahlah, aku begitu jenuh di sini.

Berpuluh-puluh, bahkan mungkin beratus-ratus wanita terus saja menghampiriku hanya untuk berdansa. Aku tetap melakukan hal yang sama untuk menolaknya.

Tapi tunggu.

Klek.. Klek.. Klek..

Bunyi suara sepatu yang begitu nyaring saat seorang yeoja baru saja masuk ke istana ini. Langkah kakinya begitu anggun. Gaun putih bersih yang ia kenakan begitu memperindah penampilannya. Rambutnya yang terurai panjang namun itu membuatnya semakin anggun. Saat ia berjalan, semua mata tertuju padanya. Begitupun aku.

Bagaimana tidak?

Selain suara sepatunya yang begitu indah. Saat ku pandangi dirinya dari bawah sepatunya sampai atas, hatiku meleleh. Entahlah, rasanya begitu menebarkan hati ini.

Semua mata masih tertuju padanya dan suasana pesta seketika sunyi saat kedatangan gadis itu. Perlahan dia berjalan lagi menuju tengah-tengah kerumunan orang. Wajahnya yang ditutupi topeng putih bermotif kupu-kupu ini membuatku tak tahan untuk melihat siapa di balik topeng itu. Yang membuatnya nampak membohongi wajah aslinya di balik topeng itu.

Aku perlahan beranjak dari dudukku dan segera menghampiri yeoja itu.

Dance with me?” seruku seraya menjulurkan tangan padanya.

Gadis itu pun menerima juluran tanganku seraya melukiskan senyum dari bibirnya itu.

Musik pun kembali teralun, mengiringi langkah dan gerakanku dalam berdansa bersama yeoja satu-satunya yang membuatku tertarik ini. Aku merasa semua mata hanya tertuju pada kami yang seakan menguasai pesta untuk saat ini. Beberapa cibiran para wanita begitu terngiang jelas. Ku rasa mereka iri pada yeoja yang bersamaku ini.

Hah, tentu saja aku pilih dia. Dia yang begitu membuatku terpesona bahkan hanya mendengar suara sepatunya dan menatap anggunnya dirinya.

Kini langkah kakiku dan yeoja ini begitu sama, karena memang ini saatnya kami menyamakan gerakan dansa. Gadis ini sangat terampil dalam hal menari rupanya. Aku tak salah memilih pasangan dansa untuk malam ini.

“Boleh aku melihat wajah indah seperti apa di balik topeng putih ini?” ujarku padanya dengan masih meneruskan dansa kami.

“Emm.”

“Aku hanya ingin melihat wajah cantikmu,” ujarku seraya perlahan membuka topengnya itu. Meski gadis itu menahan tanganku, tapi aku tetap membukanya perlahan. Gadis itu pun hanya menahan pelan.

 

Apakah ini bidadari yang turun dari langit? Oh tuhan, ini seperti mimpi bertemu dengan putri dari surga.’

 

Aku melempar topeng putih yang dari tadi menutupi wajahnya itu. Gadis itu sempat mengelonjak, namun kembali ku tahan dan membawanya ke pelukanku.

“Kau tak perlu memakai topeng itu,” seruku.

Gadis itu kini melepas pelukanku.

“Aku hanya malu jika melepaskan topeng itu.”

“Malu? Malu dengan wajah cantikmu itu?”

Gadis itu hanya tertunduk menatap sepatu kacanya di bawah. Aku mengangkat dagunya lembut.

“Kau tak perlu malu. Kau punya wajah indah seperti itu. Bahkan kau tau? Kau adalah yeoja pertama yang ku ajak berdansa malam ini,” ucapku. Dia pun tersenyum menatapku, membuatku meleleh habis-habisan.

“Dan senyumanmu, membuatku pertama kali bahagia di malam ini,” ucapku lagi.

“Aku, aku hanya wanita biasa,” ujarnya.

“Tapi di mataku kau bukan biasa.”

Mata gadis itu begitu berbinar. Entahlah, yang bisa ku baca sepertinya dalam hatinya ia berkata, ‘Jeongmal?’.

“Sungguh, kau benar-benar yang berbeda dari semua yang di sini,” ucapku lagi.

Gadis itu hanya tersenyum dan lagi-lagi membuat hatiku berdebar.

Teng.. Teng.. Teng..

Pukul 12.00 p.m

 

Gadis di hadapanku ini sekarang nampak panik. Ia mencari topengnya yang aku lempar tadi dan dengan segera ia memakainya lagi. Setelah itu ia berlari meninggalkanku.

“Hey tunggu!” teriakku.

Mianhaeyo, aku harus cepat pulang,” teriak gadis itu seraya keluar dari istana. Aku segera mengejarnya keluar.

Ah, bahkan sedari tadi kami berdansa aku belum tau sama sekali namanya.

“Hey! Siapa namamu?” teriakku lagi.

“Raminna!” teriak gadis itu.

Raminna? Aku tak pernah mendengar nama seperti itu.

“Ah, siapapun itu namamu, tunggu dulu! Hey!” teriakku lagi seraya mengejarnya.

“Aku ingin kau tau, ku mohon jangan pergi. Aku hanya ingin mengenalmu lebih akrab,” seruku seraya memeluk gadis itu yang telah berhasil kuraih tangannya ini.

“Ku mohon, aku harus cepat pulang,” serunya. Dia melepaskan pelukanku begitu cepat dan segera pergi. Aku hanya terdiam dan terpaku.

Aku melihat sekejap wajah gadis itu yang berubah total dari wajahnya yang begitu indah saat pesta tadi. Wajah indah itu seakan menghilang dari dirinya itu.

Tunggu.

Sepatunya?

~ ~

Na Min Ra’s Point Of View ~

Bodoh, aku benar-benar bodoh. Ini memang salahku dari awalnya. Mengapa aku harus datang ke pesta itu? Bahkan kini aku begitu menyesal telah berani-beraninya datang ke istana tadi.

Dengan cepat aku berlari lagi menjauhi istana dan kembali melumuri wajahku dengan debu-debu. Wajahku kembali menjadi wajah usang yang biasanya terpampang di mukaku ini. Dan ini memang yang sebenarnya pantas.

Namun tiba-tiba aku teringat sesuatu yang membuat hatiku bergetar.

“Boleh aku melihat wajah indah seperti apa di balik topeng putih ini?” ujar lelaki itu padaku dengan masih meneruskan dansa kami.

“Emm.”

“Aku hanya ingin melihat wajah cantikmu,” ujarnya lagi seraya perlahan membuka topengku. Aku menahan tangannya yang mencoba membuka topengku, tapi ia tetap membukanya perlahan.

 

Setelah itupun ia melempar topeng putih yang dari tadi menutupi wajahku ini. Aku sempat mengelonjak, namun lelaki itu membawaku ke pelukannya.

“Kau tak perlu memakai topeng itu,” serunya.

Aku segera melepas pelukannya.

“Aku hanya malu jika melepaskan topeng itu,” ujarku.

“Malu? Malu dengan wajah cantikmu itu?”

Aku hanya tertunduk menatap sepatu kacaku di bawah. Namun lelaki itu mengangkat daguku.

“Kau tak perlu malu. Kau punya wajah indah seperti itu. Bahkan kau tau? Kau adalah yeoja pertama yang ku ajak berdansa malam ini,” ucapnya. Entahlah, itu sangat membuatku meleleh. Aku hanya tersenyum membalasnya.

“Dan senyumanmu, membuatku pertama kali bahagia di malam ini,” ucapnya lagi.

“Aku, aku hanya wanita biasa,” ujarku kemudian.

“Tapi di mataku kau bukan biasa,” serunya lagi.

Hatiku begitu bergejolak mendengar pernyataannya.

 

Tanpa sadar kedua sudut ujung bibirku tertarik, mengulas senyum karena memikirkan hal tadi. Baru kali ini aku merasakan hal yang berbeda dari hidupku. Mendapat pujian yang begitu melelehkan hatiku. Seumur hidup, hidupku hanya dipenuhi hinaan dan cacian. Namun lelaki itu mengubahnya dengan mengukir sejarah baru dalam hidupku.

Ah aku ingat nama namja itu. Pasti dia Cho Kyuhyun. Siapa yang tak kenal dia? Sungguh mustahil jika seisi kota tak tau siapa dia. Pangeran tampan yang terlahir terdidik di istana megah dan anak dari tiga bersaudara yang merupakan keturunan bangsawan yang terkenal. Sungguh beruntung yang bisa mengenal dia bahkan bisa dekat dengannya.

‘Kau adalah yeoja pertama yang ku ajak berdansa malam ini.’

‘Dan senyumanmu, membuatku pertama kali bahagia di malam ini.’

 

Aku yang menjadi pertama baginya malam ini? Ah, itu bodoh. Ku pikir masih banyak wanita lain yang lebih baik dariku. Aku hanya wanita biasa. Bahkan lebih rendah dari biasa. Mana mungkin seorang Cho Kyuhyun bisa menganggapku menjadi yang pertama baginya?

~ ~

Aku meneruskan perjalanan menuju rumah. Sekarang sudah pukul 12 malam lewat. Ah, bodoh. Sebentar lagi pasti Ny. Virly akan bangun dari tidurnya dan menyuruhku cepat mengambil air ke sungai. Aku harus cepat, karena aku takut Ny. Virly tau apa yang ku lakukan malam ini. Bisa-bisa pagi nanti akan ada banyak goresan luka di tangan dan kakiku bekas pukulan kayu rotannya.

Kakiku begitu sakit dari tadi berlari. Apalagi hanya mengenakan sepatu sebelah. Ah, ya!

Sepatuku?

Sepatu kacaku? Hilang sebelah? Sepertinya aku meninggalkannya saat aku cepat-cepat berburu pergi dari istana. Saat itu aku memang ingin cepat pergi, karena aku harus cepat pulang. Selain itu, ketika langsung keluar dari istana aku segera menghapus make up yang ku kenakan dan melumurinya dengan sedikit debu-debu agar wajahku menjadi seperti biasa lagi. Jadi aku cepat pergi sebelum lelaki itu tau wajahku yang berdebu ini.

Ah, tapi sepatuku? Itu sepatu kaca. Aku membelinya dengan susah payah. Hingga berbulan-bulan aku mengumpulkan uang hanya untuk sepatu itu. Aku pasti akan merindukan sepasang sepatu kaca ini. Karena saat ini hanya ada sepatu yang sebelah kanannya saja yang aku pegang.

~ ~

Cho Kyuhyun’s Point Of View ~

Aku kembali masuk ke dalam istana dengan membawa sepatu kaca sebelah kiri yang digunakan gadis tadi. Entahlah, meski hanya sepatunya yang dapat ku bawa, tapi ini cukup membuatku puas untuk selalu mengingatnya.

Pesta masih berlangsung namun aku sudah tak bersemangat mengikutinya lagi. Aku pun segera pergi ke kamarku dan menaruh sepatu istimewa itu di kotak bening yang besar di samping kasurku. Aku hanya memandang sepatu kaca yang indah itu.

Aku akan selalu ingat gadis yang memikat hatiku itu. Meski kini hanya sepatunya yang dapat ku bawa. Aku yakin suatu saat nanti, gadis itu lah yang akan ku bawa.’

 

 

Tok.. Tok.. Tok..

“Kyuhyun? Kau di dalam?” teriak seseorang dari luar kamarku.

“Ya, masuk saja,” jawabku kemudian.

Pintu kamarku pun terbuka dan seseorang masuk. Ah, kakakku, Ryewook.

“Kau tak ikut pesta lagi? Di luar masih ramai,” serunya seraya duduk di kursi di samping kasurku.

“Tidak. Tidak ada lagi yang menarik untukku.”

“Selain gadis itu?”

Tanpa sadar, seulas senyum terlukis di bibirku. Mendengar Ryewook menyebut gadis itu.

“Raminna namanya, hyung,” seruku kemudian.

“Apa? Aku baru mendengar nama seperti itu. Aneh sekali.”

Aku pun hanya tersenyum lagi.

Ryewook pun memukul lenganku seraya tertawa lepas.

“Hey, wae?” seruku.

“Kau itu bodoh atau gila? Hanya satu gadis yang kau ajak berdansa pada pesta ini? Dari begitu banyak gadis lain?” kata Ryewook.

“Karena memang gadis itulah yang paling menarik untuk ku ajak berdansa.”

Aku masih teringat wajahnya itu di balik topeng saat kami berdansa bersama. Dia begitu cantik dan anggun. Juga senyumnya yang menggetarkan hatiku ini. Melihatnya saja pun sebenarnya sangat membuatku membeku. Sungguh, dia gadis yang begitu mempesona.

“Hey, bahkan kau dari tadi hanya tersenyum sendiri. Ku rasa kau memang gila,” seru Ryewook lagi.

“Memang. Aku gila karena cintanya,” ucapku seraya berbaring di kasurku dan menatap sepatu kaca gadis itu lagi.

Kilauannya membuatku selalu mengingat kilauan mata beningnya. Sepatu itu pun mengingatkanku saat pertama kalinya aku mendengar suara indah sepatu itu saat gadis itu mengenakannya dengan anggun. Hentakan kaki gadis itu saat berdansa denganku, saat sepatunya pun ikut berbunyi seakan mengiringi alunan musik yang bergema. Sungguh indah.

“Itu sepatu milik gadis itu kan?” seru Ryewook lagi seraya mendekati kotak sepatu itu.

Andwae! Jangan dekati sepatu indah itu!” seruku.

Ryewook pun hanya mencibir namun ia hanya memandangi sepatu kaca itu. Ia mengangguk-angguk pelan dan tersenyum.

“Kau tak salah pilih. Dia memang gadis yang anggun. Aku mendukungmu,” ujar Ryewook seraya menepuk pundakku. Setelah itu, ia beranjak pergi ke luar dari kamarku.

Aku hanya terdiam masih mengembangkan senyumku. Ku pandangi lagi sepatu indah itu. Rasanya tak pernah bosan untuk memandanginya. Bagaimana mungkin aku bosan? Jika melihat sepatu itu, bayangan indah wajahnya selalu muncul di benakku.

‘Aku memang tak salah pilih. Gadis itu memang pilihanku, pilihan tepatku.’

~ ~

Keesokan harinya, aku berniat keluar sejenak dari istana. Rasa bosan menghantuiku selalu karena di istana pun tak ada yang bisa ku lakukan selain duduk terdiam, atau kadang kala hanya mengobrol dengan kedua orang tuaku. Selain itu mungkin aku hanya keliling istana hanya untuk memandangi seisi istana.

Aku selalu iri dengan kedua kakakku, Leeteuk dan Ryewook. Mereka bisa bebas melakukan apapun di luar sana. Atau memang karena mereka sudah dewasa? Hey, aku pun sudah dewasa, bahkan aku sudah berumur 24 tahun sekarang. Ryewook pun hanya berbeda satu tahun denganku, tapi bahkan dia sudah boleh dibebaskan.

Atau karena aku pun anak bungsu? Cih, aku benci dibeda-bedakan.

Aku segera menuju gerbang istana. Kali ini aku tak membawa apapun yang perlu ku bawa pergi. Aku juga hanya ingin berkeliling sebentar keluar istana. Mungkin hanya ke taman dan pasar kota saja.

“Eh.. Tuan. Kau mau kemana? Bukankah kau tak boleh keluar istana?” seru penjaga gerbang saat baru saja aku ingin lolos keluar gerbang.

Aku mendesah pelan dan meliriknya tajam. Namun beberapa saat kemudian, aku tersenyum padanya.

“Apa kau melarangku?” seruku kemudian.

Penjaga pintu itu menunduk dan menggeleng pelan.

“Emm. Baiklah, silahkan tuan,” serunya.

Aku pun melangkah menjauhi gerbang. Hanya dengan tatapan dan senyuman juga dengan tiga buah kata yang terlontar saja penjaga itu dengan mudahnya mempersilahkanku.

Biasanya jika aku keluar dari istana, selalu aku tunggangi kuda kesayanganku. Tapi untuk sekarang ini, kudaku itu jatuh sakit. Sudah dari tiga hari yang lalu bahkan. Padahal jika dia sudah pulih, aku bisa menungganginya pula untuk mengejar gadis tadi malam.

Lagi-lagi seulas senyum muncul dari bibirku. Mengingat gadis itu lagi. Sepertinya ia sudah menguasai pikiranku saat ini. Memikirkannya akan menjadi kegemaran baru untukku.

~ ~

Pasar kota yang kini ku kunjungi sangat ramai. Entahlah, aku agak asing di sini meski aku sering mengunjunginya. Biasanya memang aku ini selalu di kawal penjaga istana. Tapi untuk kali ini aku tak ingin, karena aku mencoba untuk sendiri.

Ku eratkan topeng yang ku kenakan ini agar menutupi wajahku lebih kencang. Aku tak mungkin melepas topeng ini. Jika iya, bahaya untukku nantinya.

Semua orang seisi kota mengenalku, sangat mengenalku. Jika mereka bertemu denganku, sudah pastinya suasana pasar kota ini mendadak menjadi lebih ramai dari sebelumnya. Bisa-bisa aku diserbu dan dikerumuni mereka semua. Ah, itu gila.

Terkadang aku muak menjadi pangeran istana. Aku muak menjadi anak bangsawan yang begitu terkenal. Ini tidak bisa membuatku terbebas untuk hidup. Sedangkan aku ini cinta kebebasan.

Kini aku menghampiri sebuah toko atau lebih tepatnya restoran kecil. Aku ingat pagi ini aku belum sama sekali menyentuh makanan. Begitu aku masuk, betapa banyaknya orang-orang di dalam sini. Rupanya restoran kecil ini begitu banyak peminatnya. Aku segera menepati sebuah kursi kosong di ujung restoran.

Brukk..

“Aduh..”

Belum sampai aku duduk di kursi kosong itu, seorang wanita menabrakku dan sepertinya dia pelayan di sini. Minuman yang tengah ia bawa dengan nampan pun terjatuh mengenai kemeja putihku. Bahkan topengku sampai terlepas karena ditabraknya. Aku mendengus kesal namun tetap menahan amarah.

Kini semua mata tertuju pada kami. Semua orang dalam restoran ini pun berbisik-bisik. Mungkin membicarakanku. Ah, sial. Identitasku kini ketahuan.

Gadis pelayan itu pun bangkit dari posisi jatuhnya dan mengambil gelas yang isinya sudah tumpah semua ke bajuku. Dengan enggan aku membantunya berdiri. Gadis itu sempat terkejut melihatku. Lalu ia mencoba membersihkan noda minuman yang tumpah ke bajuku ini.

Mianhaeyo,” serunya kemudian seraya membungkukkan badannya.

Aku mencoba tersenyum dan tertawa kecil. Gadis itu menatapku.

“Tidak apa-apa. Lain kali jika berjalan gunakan lah matamu, jangan hanya menggunakan kakimu. Arasseo?” seruku masih dengan senyumku.

Gadis itu mengangguk pelan. Tiba-tiba seorang wanita pun menghampiri gadis ini. Ia bertubuh besar dengan pernak-pernik perhiasan menghiasi leher, tangan, kaki dan telinganya. Sudah ku duga pasti ia yang memiliki restoran ini, dan pastinya ia adalah majikan pelayan ini.

Aku tersenyum pada wanita itu.

“Ah, Tuan Kyuhyun? Ma-maafkan dia ku mohon, ku rasa ia tak sengaja. Akan ku marahi dia nanti karena telah mudahnya membuat kemejamu kotor. Mianhaeyo,” seru wanita itu seraya membungkukkan badannya.

Aku pun tersenyum seikhlasnya, “Aku sudah bilang tidak apa-apa. Kau hanya perlu mendidik pelayan ini untuk selalu memakai matanya untuk berjalan.”

“Tentu saja, Tuan.”

Wanita itu pun segera menarik gadis pelayan tadi.

“Gadis bodoh! Ayo ikut aku,” serunya pada gadis itu. Lalu ia dan pelayan itu pergi meninggalkanku setelah sebelumnya wanita itu tersenyum dan membungkukkan badannya lagi padaku.

Aku pun segera duduk di kursi yang hendak ku duduki tadi. Pelayan yang lain menghampiriku dan menanyakan keinginanku. Aku hanya menjawab ingin menu makanan untuk sarapan pagi. Setelah itu, pelayan itu bergegas meninggalkanku dengan tersenyum penuh ceria. Entahlah, mungkin ia begitu senang bertemu denganku.

Sungguh bodoh. Ini bodoh sekali. Topengku terbuka dan ketahuanlah diriku ini, bahkan saat sedang tak ada pengawal yang menjagaku. Sial sekali. Gadis tadi benar-benar membuatku kesal meski aku masih bisa menahan amarahku.

Tapi wajah gadis itu membuatku teringat pada wajah gadis pada malam pesta itu. Wajah gadis itu nampak berdebu dan kotor, seperti apa yang ku lihat saat gadis semalam itu yang ingin pergi meninggalkan istana. Wajah gadis yang semalam yang berbeda sebelumnya dari wajah indahnya saat berdansa bersamaku.

Ah, gila. Mana mungkin gadis pelayan tadi adalah gadis yang datang dalam pesta semalam. Bahkan pakaian yang gadis tadi kenakan begitu berantakan dan kotor. Wajahnya pun seperti tak pernah di urus. Dia bukan putri yang datang semalam.

~ ~

Na Min Ra’s Point Of View ~

 

Plak..

Entah ini sudah berapa kalinya tangan kasar Ny. Virly menghantam pipiku hingga pipiku bahkan sudah berdarah-darah. Aku terus menerus meringis kesakitan meski ia tak peduli.

“Kau ini bodoh! Kau tak tau ia itu Cho Kyuhyun? Kau membuatku malu!” teriak Ny. Virly padaku.

Aku hanya semakin menundukkan kepalaku, “Mianhaeyo, a-aku, tak sengaja.”

Plak..

“Arrghh..”

“Kau mudah sekali bilang itu tak sengaja. Sekarang, cepat kau ke sungai untuk mengambil air sebanyak sepuluh ember. Setelah itu kembali bekerja. Dan ingat, seharian ini kau tak akan ku beri makan karena ulahmu yang bodoh tadi,” seru Ny. Virly seraya meninggalkanku.

Kini aku menumpahkan airmata yang sudah terbendung di pelupuk mataku. Sesak sekali rasanya. Tak hanya pipiku saja yang sakit karena tamparan ganas Ny. Virly, namun sekujur tubuhku pun serasa sakit. Ku rasa aku juga akan bertambah sakit nantinya karena hari ini aku tak akan dapat makanan.

Perlahan aku mulai melangkah menuju keluar dari dapur restoran membawa satu ember air menuju sungai Han. Letak sungai itu lumayan jauh dari toko ini. Ku rasa aku bisa mati di jalan jika seperti ini, apalagi harus bolak balik sepuluh kali. Ingin rasanya aku menghelakan nafas terakhir.

Seketika aku teringat lelaki tadi.

 

Aku membawa nampan dengan satu gelas minuman jus. Karena sibuk memerhatikan minuman ini, aku tak melihat jalan hingga menabrak seorang lelaki.

“Mianhaeyo,” seruku kemudian padanya setelah aku mencoba bangun dari posisi jatuhku.

Lelaki itu mencoba tersenyum dan ia tertawa kecil. Entahlah, ia begitu tidak tulus dengan senyumannya. Sepertinya ia menyembunyikan kekesalannya karena aku menumpahkan minuman yang ku bawa ke kemejanya itu. Aku menatap lelaki itu.

Tunggu wajah itu. Familiar sekali.

Cho Kyuhyun?

“Tidak apa-apa. Lain kali jika berjalan gunakan lah matamu, jangan hanya menggunakan kakimu. Arasseo?” serunya masih dengan senyumannya itu.

 

Hah, beruntung saja ia tak tau bahwa aku ini yang berdansa bersamanya di pesta semalam. Jika iya, matilah aku saat itu juga.

Tapi, aku sungguh tak percaya melihat dia sekarang ini. Aku melihat senyuman munafik dari seorang Cho Kyuhyun. Mungkin itu adalah senyuman kesalnya untukku. Ah, berbeda sekali dengan senyuman indahnya yang tulus tadi malam.

Sudahlah, itu tak penting untuk kupikirkan. Dia hanya lelaki yang berada di anganku. Dan aku pun tak ingin mengharapkannya. Aku tau ia itu adalah mustahil untukku.

~ ~

Hari sudah malam. Pekerjaanku untuk mengambil air sebanyak sepuluh ember dari sungai sudah selesai dari sejak siang tadi. Kini aku terduduk di tepi sungai Han ini. Untung saja Ny. Virly sedang pergi ke luar kota untuk bisnis besarnya. Aku pun bisa bebas semalaman di sini meski rasa lapar terus menghantuiku.

Ingin rasanya aku menangis. Namun ku rasa airmata ini akan habis jika terus ku pakai. Setiap hari tak pernah aku bolos untuk menangis. Airmata selalu terkurai begitu deras. Setiap hari disiksa tanpa belas kasihan, apa itu mampu untukku? Apa mampu untuk menahan tangisan?

Akhirnya butiran bening itu jatuh lagi dari mataku. Aku tak tau sudah berapa liter air yang keluar dari mataku ini. Apa mungkin sama banyaknya dengan air sungai yang ada di hadapanku saat ini?

Aku membenamkan kepalaku di antara kedua lututku. Mencoba menangis dengan begitu lepas. Menguras segala tetesan airmata hingga habis selagi ku mampu. Aku ingin ini menjadi tangisan terakhirku.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.

~ ~

Cho Kyuhyun’s Point Of View ~

 

Hari sudah malam. Seharian sudah aku berkeliling kota, dan seharian pula aku sudah meninggalkan istana. Setidaknya aku bisa merasakan bebas sekarang ini. Tak peduli dengan niatku tadi pagi bahwa aku hanya ingin pergi sejenak dari istana.

Malam ini pun aku ingin menghabiskan waktu di sungai Han. Mencoba menikmati keindahan yang terpancar dari pemandangan sekitar sungai ini. Aku pun menelusuri setiap sudut sungai. Hingga aku sampai di tepi sungai, aku melihat seorang gadis yang tengah membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya, sepertinya ia sedang menangis. Suara isak tangisnya terdengar jelas. Aku pun datang mendekatinya.

Ku tepuk pelan pundak gadis itu.

Gwaenchana?” seruku padanya.

Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatapku.

“K-Kyu, Kyuhyun?”

“Ah, maksud, maksudku. Tuan Cho Kyuhyun?” serunya.

“Kita bertemu lagi,” seruku sambil tersenyum padanya.

Gadis itu lagi. Si pelayan restoran yang tadi pagi menumpahkan minuman ke kemejaku. Bahkan nodanya masih ada di bajuku ini meski sudah ku tutupi dengan blazer hitamku.

Aku ikut duduk di samping gadis itu.

“Maafkan aku atas ulahku tadi pagi, tuan. Aku memang bodoh,” seru gadis itu seraya tertunduk.

“Tak apa. Aku tak marah dan tak menganggapmu bodoh,” jawabku.

Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatapku lagi.

“Tapi senyummu..”

Aku mengernyitkan dahiku. Gadis itu kembali tertunduk.

“Ada apa dengan senyumku?” seruku.

“Tidak.”

Beberapa saat kemudian, suasana mendadak sunyi. Kami berdua hanya saling terdiam satu sama lain. Aku pun bingung, aku sangat canggung dekat dengannya. Ah, ada apa ini?

“Ah, ya. Apa kau tau? Wajahmu begitu familiar bagiku,” seruku kemudian. Gadis itu tertawa kecil. Bisa ku bilang tawanya ini begitu lucu. Ah, aku jadi teringat senyum gadis yang datang ke pesta saat itu.

“Tentu saja. Kita kan bertemu tadi pagi,” serunya masih dengan tawanya.

“Kau benar. Ya, memang. Benar.” Aku pun ikut tertawa bersamanya. Gadis itu pun kini menyeka airmatanya.

Matanya kelihatan begitu sembab. Ku rasa ia habis menangis hebat. Aku jadi ingat wanita bertubuh besar yang mungkin dia adalah majikan gadis ini. Ku rasa gadis ini telah disiksa oleh wanita itu. Dapat ku lihat dengan jelas, pipinya ini terdapat bekas merah.

Batinku merasa iba dengannya. Hidupnya pasti begitu suram dengan dihantui siksaan dari majikannya itu.

“Mengapa kau menangis?” seruku kemudian.

Dia menoleh padaku dan mengusap matanya.

“Aku, aku tidak menangis. Apa ini kelihatan menangis?”

“Tentu saja. Matamu begitu sembab, mana mungkin bisa dikatakan kau tidak menangis.”

“Tidak menangis, hanya saja mengeluarkan airmata,” serunya.

Aku tertawa kecil mendengarnya.

“Itu sama saja intinya menangis. Kau ini, lucu juga,” seruku masih dengan tawaku.

Gadis itu hanya tersenyum kecil.

~ ~

“Emm, tuan. Apa kau tidak merasa risih berjalan berdua bersama pelayan sepertiku?” seru gadis itu padaku. Kami masih berjalan menelusuri sungai Han.

“Memangnya harus begitu? Aku nyaman-nyaman saja dekat denganmu. Bahkan aku senang ada yang menemaniku malam ini,” jawabku.

Gadis itu hanya tersenyum.

Senyumnya begitu manis. Itu menghiasi wajahnya yang berdebu dan kotor. Senyumnya itu indah. Aku, jadi teringat lagi gadis di pesta malam itu. Senyumnya sama manisnya dengan gadis yang bersamaku saat ini.

Tunggu dulu.

Aku ingat di saat terakhir aku melihat wajah gadis di pesta malam itu. Saat hendak pergi, wajahnya terlihat berdebu dan kotor. Entah mungkin ia sengaja menghilangkan wajah indahnya itu. Tapi, wajah kotornya saat itu sama persis, sama persis dengan wajah gadis yang di sampingku ini.

“Raminna..” gumamku.

Gadis di sebelahku menoleh ke arahku. Aku pun menatapnya. Tatapannya, tatapan hangat penuh cinta saat itu.

“Kau? Raminna?”

“A-Apa? Siapa? Raminna? Maksud, Maksudmu?”

“Aku sangat kenal wajahmu ini.”

Gadis itu tertunduk menatap kakinya di bawah. Aku pun ikut melihat ke bawah, ke arah kakinya.

Kilauan itu. Kilauan yang membuatku gila. Ya benar, kilauan sepatu kaca itu. Ah, ini terasa seperti dejavu.

Aku menatap gadis di hadapanku ini dengan dalam.

“Apa kau pemilik sepatu ini?” seruku seraya mengeluarkan sepatu kaca yang ku bawa dan ku taruh di kantung blazerku. Gadis itu segera merebut sepatu kaca yang ku pegang.

“Ah, akhirnya ini kembali juga. Tak ada yang tau bagaimana susahnya aku membeli ini,” serunya seraya memeluk sepatu kaca itu.

Aku pun memeluk gadis ini.

“Kyuhyun?” serunya seraya melepas pelukanku.

“Akhirnya aku menemukanmu.”

Gadis itu hanya terbelalak.

Aku mengambil sepatunya yang ia pegang itu.

“Boleh aku memakaikan sepatu kacamu ini di kakimu? Agar melengkapi keindahannya,” seruku. Ia hanya tersenyum penuh keraguan.

Aku pun mengganti sepatu sebelah kiri yang digunakan gadis ini dengan sepatu kaca yang sepasang dengan sepatu sebelah kanannya. Betapa senangnya aku melihat keanggunan ini lagi. Melihat anggunnya kaki ini dengan mengenakan sepatu kaca yang berkilauan.

Aku bangkit lagi dan kembali memeluk gadis ini.

~ ~

Na Min Ra’s Point Of View ~

Kyuhyun menarikku menuju tepi sungai. Aku sedikit bingung dengan lelaki ini. Sebenarnya ada apa. Oh tuhan. Bahkan aku sangat malu ketika dia tau aku pemilik sepatu kaca itu. Ingin sekali aku cepat pergi menjauh dari sisinya.

Kyuhyun menggenggam tanganku, dan tangannya yang lain mengambil air dari sungai Han ini.

“Kau mau apa Kyuhyun-shi?” seruku.

“Aku ingin melihat wajah indah di balik topeng ini,” ucapnya. Aku pun hanya terbelalak lebar.

Ia membasuh wajahku dengan air sungai ini. Aku sempat menahan tangannya, namun ia tetap mengambil lagi air sungai dan membasuhkan lagi wajahku. Ia menghapus semua noda-noda yang melumuri mukaku.

Setelah itu, ia membuka kuncir rambutku dan mengurai rambut panjangku. Aku hanya membiarkan apa yang ia lakukan.

Aku pun segera berdiri. Ia mengikutiku dan kemudian memelukku dengan erat.

“Aku benar-benar menemukanmu. Putri cantik yang membuatku bahagia di malam itu,” serunya kemudian.

“Aku, tidak mengerti maksudmu,” ujarku.

Ia pun melepas pelukannya dan menatapku.

“Siapa namamu?” tanyanya kemudian.

“A-Aku?”

Ia hanya menatap lekat mataku.

“Namaku Na Min Ra.”

Kini lelaki itu nampak berpikir sesuatu. Beberapa saat kemudian, senyum manisnya terlukis jelas di bibirnya.

“Na Min Ra, Raminna. Kau sangat pintar membuatku penasaran,” serunya lagi. Aku hanya menyeringai.

“Tapi, apa kau yang datang sewaktu pesta malam kemarin?” tanyanya lagi. Aku pun hanya mengangguk pelan.

Kyuhyun pun tersenyum lagi dengan begitu manisnya. Senyum pangeran yang berdansa denganku di malam pesta itu. Aku bertemunya lagi, bahkan berhadapan lagi dengannya.

“Kau tau? Aku selalu memikirkanmu,” seru Kyuhyun lagi.

Aku hanya tersenyum.

Kyuhyun pun memegang daguku dan sedikit mengangkatnya.

Saranghae Raminna,” ucapnya lagi.

Aku lagi-lagi hanya tersenyum. Ingin sekali rasanya aku mengucap, ‘Na Do Saranghae Cho Kyuhyun.’

Wajah tampan Kyuhyun pun mendekati wajahku. Bahkan kami kini saling merasakan nafas masing-masing. Aku seakan mengerti dirinya, menutup perlahan mata ini. Hingga akhirnya hidungnya pun menyentuh hidungku yang dilanjutkan dengan tersentuhnya bibirku oleh bibir manisnya.

Ia hanya mengecup bibirku pelan sesaat. Namun setelahnya, ia menciumku dengan begitu dalam. Dan aku pun tanpa sadar membalas ciuman hangatnya itu. Sensasi yang jarang aku rasakan ketika bibirnya ini mengulum lembut bibirku. Rasa yang tak pernah aku temukan dalam semasa hidupku. Ah, lagi-lagi lelaki itu mengukir sejarah baru dalam hidupku.

Semakin dalam ciumannya ini, semakin membuatku yakin dengan dalamnya cinta kami masing-masing yang tanpa sadar kali ini cinta ini menyatu begitu manis.

Kyuhyun melepas perlahan bibirnya yang dari tadi bertengger manis di bibirku. Setelahnya ia membawaku lagi ke dekapannya. Ia mengelus lembut rambut panjangku.

“Kau cantik dan menawan. Apakah kau Cinderella?” ucapnya.

Aku hanya tertawa kecil dalam pelukannya.

Cinderella katanya? Kalau dia yang menjadi pangerannya itu pun sangat cocok. Tapi aku? Menjadi Cinderella? Sungguh mustahil.

“Kau adalah Cinderellaku. Kau sangat cocok menjadi Cinderella,” seru Kyuhyun lagi seakan tau isi pikiranku.

Lagi-lagi aku hanya tersenyum.

~

Bagaikan kisah nyata antara putri dan pangeran kerajaan yang menjalin hubungan cinta. Bagaikan dongeng Cinderella yang menjadi cerita sungguhan di dunia nyata. Aku dan Cho Kyuhyun, kamilah yang merangkai cerita nyata ini.

 

                ~ ~

                – Are You Cinderella? –

– The End –

*muncul gandeng Kyuhyun*

Hai haiiii!

Gimana nih FF ini? Hehe semua suka kah? Ku harap iya ya hehe.

Oh ya, inget ya. Nama koreaku itu Na Min Ra loh. Jadi, yang di dalam cerita ini, yang jadi yeojanya itu tentulah aku :p

Aku suka banget bikin FF yang cast nya Kyuhyun. Nah karena ketagihan jadinya aku lahirkan FF ini dengan Kyuhyun yang kupakai sebagai pasanganku kali ini whahha.

Okelah, sekarang, mohon RCL nya yaa^^

Don’t Be Silent Readers!

Gomawo^^

36 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s