[Chapter] On Rainy Days (part 3)

Title                 : On Rainy Days (part 3)

Author            : Dara Daroen (@dara_daroen)

Main Cast       :

  • Yang Yoseob (B2ST)
  • Bae Min Ra (OC)
  • Suzy (Miss A)

Support Cast    : Find By Yourself

Genre                : Romance, Tragedy, Sad, AU

Rating               : Teenager/PG-13

Length              : Chapter

Disclaimer      : Imagination and story is mine, but the cast belong to God.

Please NO PLAGIATOR!

The Story © 2012 DaraDaroen

Bacotan Author :

Jrejeeeeng! Ini lagi lanjutan FFku yang part 3, kali ini makin panjang ceritanya. Aku aja ampe ga nafas nerusin ini cerita #lebay._.

Langsung aja yaaa, silahkan dibaca😀

Happy Reading ^^

Previous Story :           | Teaser | Part 1 | Part 2 |

Min Ra’s POV ~

Aku lupa dengan namja di sampingku ini, sebelumnya aku pernah berkenalan dengannya, tapi aku tak ingat siapa namanya.

“Hhhm.” Aku bergumam. Namja di sampingku ini menoleh.

“Aku lupa namamu,” seruku.

“Ah, aku Yoseob,” jawabnya.

“Oh, ne, Yoseob.”

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” seruku lagi.

Ia menengadahkan tangannya dan membiarkan air hujan jatuh menyentuh lembut telapak tangannya.

“Ya, kau benar. Saat hujan,” serunya kemudian.

“Oh iya. Saat kau menabrakku waktu itu,” seruku.

Ne, tapi sebelumnya pun kita pernah bertemu.”

Aku mengernyitkan dahiku.

“Kapan?”

“Saat hujan..”

Sekali, lagi ku kernyitkan dahiku. Aku benar-benar tak mengerti maksudnya.

“Tepatnya pada tanggal yang sama dengan hari ini,” serunya lagi.

Maksudnya apa? Sekarang, tanggal 1 May. Lalu?

“Ah, hujan sudah mulai reda Min Ra-ah,” seru Yoseob padaku seraya menarik tanganku dan membawaku ke motornya. Aku segera menaiki motornya setelah ia duluan yang menaikinya.

~ ~

Gomawo sudah mengantarku pulang, Yoseob-shi,” ujarku Yoseob setelah kami sampai di depan rumahku.

Ne, bahkan aku senang bisa mengantarmu,” serunya.

Aku hanya tersenyum padanya.

“Baiklah, aku pulang dulu ya, Min Ra-ah!” seru Yoseob kemudian.

Aku hanya mengangguk. Ia berlalu dan melambaikan tangannya. Aku pun melambaikan tangan kembali padanya.

Setelah itu, aku masuk ke rumah.

Eonni! Kau sudah pulang?” seru Suzy tiba-tiba saat aku baru masuk.

Aku segera menghampirinya yang sedang duduk di sofa.

“Hey, bukankah kau ada kelas seni di kampusmu? Mengapa sudah pulang duluan?” seruku pada Suzy.

“Dosenku tadi tak hadir, makanya aku pulang duluan,” jawabnya.

Aku hanya mengangguk-angguk.

“Apa tadi kau pulang diantar Yoseob oppa?” seru Suzy.

“Ah, bagaimana kau tau?”

“Jaket yang kau kenakan itu. Aku kenal jaket itu.” Suzy menatap jaket Yoseob yang ku kenakan ini.

“Ya kan, kau pulang bersamanya? Bagaimana bisa?” serunya lagi.

“Kami hanya tak sengaja bertemu di kantin kampus tadi, lalu ia menawarkan untuk mengantarku pulang,” seruku.

“Oh begitu,” seru Suzy datar.

“Kau jangan cemburu seperti itu Suzy-ah. Aku hanya baru kenal dengannya,” seruku lagi.

Aniya, untuk apa aku cemburu? Dia bukan siapa-siapaku,” ujar Suzy.

“Ya, setidaknya aku tau kau masih mencintainya.”

“Entahlah, tapi ku harap tidak.”

“Ah, sudahlah adik manis, aku mau mandi dan berganti pakaian dulu ya,” seruku seraya mengelus lembut rambut Suzy. Gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk kecil.

~ ~

Baru saja aku selesai mandi, handphoneku bordering menandakan ada panggilan masuk, ternyata dari Yoona, sahabatku. Aku segera mengangkatnya.

“Ne, Yobosseo?”

Ya! Min Ra-ah. Cepat kau ke Hospital Seoul Center, cepat.”

“Memangnya ada apa, Yoona-ah?”

“Ini gawat. Cepat kau kemari, bawa pula Suzy.”

“Baiklah, baik. Aku segera kesana.”

~ tuuuttt ~

Sebenarnya ada apa. Mengapa Yoona tampak panik? Hah, bahkan dia belum memberi tahuku sebabnya aku disuruh ke Rumah Sakit sekarang.

Aku segera turun ke bawah dan menghampiri Suzy yang sedang menonton TV.

“Suzy-ah. Kita disuruh ke Hospital Seoul Center oleh Yoona. Entah untuk apa, sebaiknya kita cepat,” seruku padanya.

“Ah, ingin apa sih? Aku sedang malas keluar rumah,” ujar Suzy.

“Sudahlah, ayo ikut saja,” seruku.

Tiba-tiba di TV ku mendengar berita sekilas yang membuatku terpaku dan membeku.

Annyeong haseyo para pemirsa. Dikabarkan oleh reporter kami, bahwa di gedung restoran sebuah café, yaitu di café Victoria, terjadi kebakaran hebat. Banyak korban jiwa bergelimpangan di sana, karena pengunjung saat itu sangat banyak. Dikabarkan pula, seorang ahjumma yang menjadi karyawan, tepatnya koki di sana, ia mengalami luka yang paling parah, dikhawatirkan ahjumma itu akan segera kehabisan nafasnya, maka dengan segera tim medis membawanya ke Hospital Seoul Center. Untuk saat ini, hanya demikian berita yang dapat saya sampaikan. Kamsahamnida…”

 

 

Deg.

Hatiku terasa teriris dan tersayat pisau tajam yang habis diasah sepuluh ribu kali.

“Kau dengar itu eonni?” seru Suzy dengan suara lirih, nampaknya ia pun sama sepertiku.

Aku segera menarik tangannya dan bergegas pergi ke Rumah Sakit.

Suzy’s POV ~

“Kau dengar itu eonni?” seruku dengan lirik kepada kak Min Ra setelah mendengar berita menyesakkan di TV tadi.

Eonni segera menarikku dan kami bergegas menuju Rumah Sakit.

Hatiku ditumbuhi begitu banyak rasa khawatir. Sepanjang perjalanan kami menuju Rumah Sakit, yang kurasa hanya takut dan cemas. Aku takut jika yang diberitakan itu adalah eommaku.

Eommaku itu bekerja di café Victoria yang diberitakan di TV tadi, ku harap orang yang mengalami luka parah itu bukan eomma. Aku harap, eomma hanya luka bakar ringan saja.

Aku mencoba untuk tenang dan tabah, sama seperti eonni yang sedari tadi hanya diam saja sepanjang perjalanan, meski ku tau hatinya sama sepertiku saat ini.

Sesampainya di Rumah Sakit, segera kami menelusuri koridor Rumah Sakit. Eonniku nampak memeluk seorang yeoja ketika kami telah sampai di depan salah satu kamar Rumah Sakit.

Eothokkhae Yoona-ah? Apa benar itu eommaku?” seru Min Ra eonni pada sahabatnya yang ia peluk itu, Yoona eonni.

“Benar Min Ra-ah. Dia, dia korban yang mengalami luka paling parah,” seru Yoona eonni.

Oh, tuhan. Aku sesak, sangat sesak.

Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari salah satu ruangan dan sepertinya itu ruangan eomma dirawat. Aku segera berlari ke arahnya.

“Bagaimana dokter? Eommaku, apa ia baik-baik saja? Ia masih bertahan kan?” seruku.

“Maafkan aku, nak. Aku tak bisa mengusahakannya. Fisiknya tak kuat lagi untuk bertahan,” seru dokter itu.

Tanpa menjawabnya, aku segera masuk ke ruang eomma itu. Butiran bening dari mataku ini langsung terjatuh menderas melihat seseorang dengan tubuh yang ditutupi kain putih. Perlahan aku hampiri dirinya, dan kubuka kain yang menutupi wajahnya itu.

Eomma? Ini kah kau?” seruku lirih.

Eomma, mengapa kau tak menungguku? Atau, mengapa kau tak mengajakku pergi bersamamu? Mengapa kau tak mengajakku untuk bersamamu?” seruku dengan airmata semakin menderas.

Min Ra eonni menghampiriku dan mengelus punggungku dengan lembut.

~ ~

Min Ra’s POV ~

Aku begitu sesak begitu melihat siapa dibalik kain putih yang dibuka Suzy itu. Ku rasa, aku ingin ikut pergi bersamanya saat itu juga. Airmataku terurai begitu deras, sama derasnya dengan tangisan Suzy.

Eomma? Ini kah kau?” seru Suzy lirih.

Eomma, mengapa kau tak menungguku? Atau, mengapa kau tak mengajakku pergi bersamamu? Mengapa kau tak mengajakku untuk bersamamu?” serunya lagi dengan airmata semakin menderas.

Aku mengelus punggungnya lembut. Membuatnya menjadi lebih tenang lagi. Aku tau perasaan dia yang paling sesak karena dialah anak kandungnya, sedangkan aku hanya diangkat.

Dalam hatiku, aku hanya mengucap banyak terimakasih pada wanita ini. Dia yang sangat berarti bagiku, yang membuat hidupku menjauh dari kesengsaraan.

Ku genggam tangan eommaku ini erat, sangat erat. Juga ku genggam erat tangan Suzy.

“Kita harus sabar menghadapi ini. Aku yakin dia akan bahagia di alam sana, aku harap dia segera pergi ke surga, bahagia abadi di sana. Dan kita pun harus menyusulnya suatu saat nanti,” seruku.

Suzy memelukku dengan erat, masih dengan tangisannya yang menjadi-jadi.

~ ~

Ku taburi bunga dari keranjang yang ku bawa ini, menghiasi makam eommaku yang ku cinta ini. Ditemani dengan Suzy di sampingku, yang sedari tadi hanya memeluk lengan kananku.

“Mari, kita panjatkan doa untuk kebahagiaannya di sana,” ujarku pada Suzy seraya menelungkupkan kedua tanganku.

Suzy pun bangkit dan mengikutiku.

Eonni, berarti kita hanya tinggal berdua sekarang?” seru Suzy saat kami telah keluar dari area pemakaman.

Ya memang benar, selain eomma, kami tak memilik appaAppa sudah meninggal sejak eomma mengandung Suzy dulu.

“TidakSuzy-ah. Kita masih punya eomma, ia tetap bersama kita meski sudah bahagia di atas sana,” ujarku seraya merangkulnya.

Tiba-tiba seorang namja yang terengah-engah berlari menghampiri kami.

“Ah, kalian. Aku cari di rumah, kalian tak ada. Ternyata sudah ke pemakaman duluan. Mianhae, aku telat dan tak ikut menemani kalian menabur bunga,” seru namja itu, Yoseob.

Gwaenchana Yoseob-shi,” seruku.

Ku lirik Suzy, ia hanya diam saja tak berkutik maupun tak bereaksi dengan datangnya Yoseob.

“Sudahlah Suzy-ah, jangan dipikirkan lagi, cobalah kau tegar sepertiku, aku yakin kau mampu,” seruku seraya mengelus lembut rambut Suzy. Gadis itu hanya memelukku dengan erat.

“Aku turut berduka. Aku bisa merasakan hal yang sama seperti kalian,” ujar Yoseob. Aku hanya tersenyum.

“Mau ku antar kalian pulang? Kebetulan, aku membawa mobil,” seru Yoseob kemudian.

“Sebenarnya mungkin merepotkanmu Yoseob, tapi melihat kondisi Suzy yang sepertinya lemas sekali ini, baiknya kami ikut denganmu,” ujarku.

“Baiklah, tak apa. Kajja!” Yoseob pun beranjak menuju mobilnya.

Aku dan Suzy pun mengikutinya.

Kami pun menuju rumah.

Namun, tiba-tiba saat di perjalanan, Suzy mengeluh padaku.

Eonni, aku tak kuat,” desahnya.

Ku lihat wajahnya begitu pucat, apa mungkin dia sakit?

Gwaenchana, Suzy-ah? Kau kenapa?”

Tiba-tiba, tubuh kecilnya itu runtuh di pangkuanku.

~ ~

Aku menunggu Suzy diperiksa dokter di ruang tunggu bersama Yoseob. Aku harap Suzy tidak kenapa-napa. Fisiknya begitu lemah, entah karena memikirkan apa.

“Min Ra-ahgwaenchana?” seru Yoseob mengagetkanku.

“Ah, ne gwanechana. Aku hanya khawatir Suzy kenapa-napa,” seruku.

“Tenang saja,” serunya lagi seraya menggenggam tanganku.

Entah mengapa, perasaanku menjadi sangat campur aduk saat ini.

Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang rawat Suzy. Aku segera masuk ke ruangan itu, diikuti oleh Yoseob.

“Suzy-ah, sadarlah. Aku eonnimu di sini,” seruku pelan pada Suzy yang terbujur kaku di ranjangnya. Namun, Suzy tetap tak berkutik dan tak membuka matanya.

“Yosoeb-shi, kau pulang saja. Aku akan menunggunya di sini. Gomawo, jeongmal gomawo sudah membantuku,” seruku pada Yoseob di belakangku.

“Baiklah, jaga diri baik-baik. Aku permisi,” seru namja itu seraya perlahan pergi meninggalkanku dan Suzy.

~ ~

Oppa, oppa..

Aku terbangun dari tidurku mendengar suara Suzy mengigau di saat tidurnya.

Oppa.. Yoseob, Yoseob oppa,” seru Suzy lagi.

Ku rasa, gadis ini masih sangat mencintai namja bernama Yoseob itu. Aku yakin, Suzy memang benar-benar mencintainya bahkan sampai ia tidur saja, masih menyebut nama namja itu.

~ ~

Keesokan paginya..

“Suzy-ah, bangun. Sudah pagi,” seruku seraya membuka jendela kamar rumah sakit.

Ku hampiri gadis itu yang sedang mencoba membuka matanya.

Eon, eonni? Aku dimana?”

“Kau di Rumah Sakit, kemarin kau pingsan. Mungkin kau banyak tekanan batin sehingga fisikmu pun tertekan. Apa ada yang kau pikirkan?”

Ani, hanya saja, eomma aku hanya memikirkannya.”

“Hanya tentangnya saja? Bukankah aku sudah menyuruhmu tegar? Kau harus bisa tenang dan jangan terlalu dipikirkan, itu hanya membuat eomma terusik di alam sana,” ujarku.

“Entahlah eon.”

“Apa ada yang kau pikirkan lagi selain itu? Ceritakan saja padaku,” ujarku seraya mengeggam tangannya.

Molla. Mungkin di saat aku benar-benar tau apa yang ku pikirkan ini, aku akan ceritakan padamu,” seru Suzy.

“Ah, baiklah. Sekarang, lebih baik kau cepat makan bubur ini, aku baru saja membeli ini untukmu. Sehabis itu, kita pulang ke rumah,” ujarku.

~ ~

~ Yoseob’s POV ~

Semenjak tadi malam, aku tak henti memikirkannya. Ternyata dia amat bijak dan penuh kasih sayang. Sikapnya yang begitu mengangumkan yang membuatku yakin dengan kepribadannya itu. Kini aku makin mengenalinya, dan ku harap aku bisa lebih mengenalnya.

Aku beranjak dan pergi ke kampus, hari ini ada mata pelajaran sastra yang kemarin ditunda. Selain itu, aku harus mengurusi acara pentas seni yang diadakan dua hari lagi. Sialnya, aku menjadi leader untuk kepanitiaan pentas itu.

Ku kendarai mobilku menuju Seoul University. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku menjadi sering menggunakan mobil untuk pergi.

Sesampainya di kampus, aku segera memasuki kelas yang ternyata sudah banyak mahasiswa yang datang. Beruntunglah, aku tak terlambat.

Beberapa menit kemudian, dosen sastraku pun masuk dan mulai memberikan pelajarannya.

Tiba-tiba seseorang masuk ke kelasku dengan terburu-buru, dan sepertinya ia terlambat.

“Ah, mianhaeyo seonsaengnim aku terlambat, aku baru saja selesai mengurus adikku yang sakit,” serunya seraya membungkuk pada dosen. Setelah diberi maaf oleh dosennya, ia mencari tempat duduk.

“Min Ra-ah! Sini saja,” seruku padanya, setelah ku taui bahwa yang datang itu ternyata Min Ra.

Aku menunjukkan kursi kosong yang ada di sebelahku. Min Ra segera menghampiriku dan duduk di kursinya.

“Apa kau sibuk mengurusi Suzy? Apa dia masih sakit?” tanyaku pada Min Ra yang sedang mengeluarkan alat tulisnya.

“Iya, dia masih sakit, kondisinya belum 100% pulih,” ujar Min Ra.

“Aku akan menjenguknya nanti sepulang dari kampus. Kau ikut?”

“Sepertinya tidak, aku akan mengikuti rapat pentas seni dulu. Entah mengapa, aku dipilih menjadi panitia, padahal aku baru di sini,” seru Min Ra.

“Ah, jeongmal? Aku juga ikut rapat itu,” seruku.

“Hey, di belakang sana! Yang Yoseob dan Bae Min Ra, masih inginkah kalian ikuti pelajaranku? Jika tidak, silahkan keluar,” seru dosenku tiba-tiba.

Aku segera menulis lagi apa yang diterangkannya di buku catatanku sambil sesekali melirik Min Ra yang ternyata tengah melirikku pula. Kami tertawa kecil.

~ ~

“Min Ra-ah!” seruku pada Min Ra saat kami telah keluar dari kelas.

Min Ra menoleh ke arahku.

“Apa kau ingin ke ruang seni? Aku ikut,” seruku.

“Baiklah, kajja!”

Ruang seni sudah begitu ramai, ternyata tak hanya ada panitia pentas seni di sini. Ada pula beberapa mahasiswa baru jurusan seni yang nampaknya akan ikut serta dalam pentas seni nanti.

Ha! Ini dia, leader kita sudah datang, ayo cepat berkumpul,” seru seseorang saat mendapati aku masuk ke dalam ruangan.

“Silahkan, hyung!” serunya padaku. Aku hanya mengangguk.

Semua anggota panitia dan peserta pentas seni sudah berkumpul di hadapanku di kursinya masing-masing. Kini aku berdiri di hadapan mereka semua, bersiap-siap membuka rapat.

“Baiklah, semuanya. Kita langsung saja buka rapat kali ini.”

~ ~

Min Ra’s POV ~

Aku menuju ruang seni bersama Yoseob. Begitu memasuki ruangannya, memang nampak asing bagiku, karena aku baru di sini. Cukup ramai juga di ruang ini, sepertinya tak hanya seluruh panitia saja ada di sini, tapi beberapa mahasiswa yang akan ikut serta pun berkumpul.

Ha! Ini dia, leader kita sudah datang, ayo cepat berkumpul,” seru seseorang saat mendapati Yoseob masuk ke dalam ruangan.

Oh, jadi Yoseob adalah ketua kepanitiaan ini.

Aku mengambil tempat duduk di samping Yoona, untunglah ada dia di sini.

“Aku baru tau kau jadi panitia juga Min Ra-ah, bukankah kau baru di sini?” seru Yoona padaku.

“Entahlah, aku pun hanya ditunjuk,” seruku.

“Baiklah, semuanya. Kita langsung saja buka rapat kali ini,” seru Yoseob dengan lantangnya di hadapan kami semua.

“Pada pentas kali ini tema kita itu, hujan. Karena mungkin event nya sangat tepat dengan kondisi Seoul akhir-akhir ini yang di landa hujan. Konsepnya mudah, mungkin kita hanya menampil theateryang tentunya bertema keadaan hujan. Selain itu, aku akan mengadakan vocal group dan duet. Pesertanya akan ku tentukan nantinya bersama para panitia,” jelas Yoseob.

Ku rasa, pemilihan tema seperti ini hanya dia yang menentukan. Karna ku rasa sebelumnya para panitia lain belum ada yang mengusul padanya. Tapi pemilihannya sangat tepat, ia cukup pintar juga memahami kondisi.

“Sedangkan untuk MC pula akan ku bicarakan bersama dengan panitia. Jadi untuk semuanya, bersiap diri saja, karena semua peserta yang ada di sini, pasti akan diikut sertakan semuanya,” jelas Yoseob lagi.

“Ada pertanyaan?”

Seorang yeoja mengacungkan tangannya dengan sigap.

“Ya?”

Oppa! Dengan vocal group itu, apa lagunya ditentukan oleh panitia? Atau dibuat oleh group itu sendiri?”

“Untuk itu, sepertinya kami serahkan pada kalian. Menurut semua, eothokkae?”

Seorang namja mengacungkan tangannya.

“Kurasa lebih baik kalau vocal group itu ditentukan lagunya sendiri oleh groupnya, hyung. Karena dengan lirik lagu sendiri, akan mempermudah yang menyanyikannya,” serunya.

“Ah, dia benar. Bagaimana, semua setuju dengan pendapatnya?” seru Yoseob.

Semuanya berseru setuju, begitupun aku.

“Baiklah, ada lagi yang bertanya?”

Semuanya terdiam.

“Karena tidak ada, maka baiklah. Untuk para peserta diharapkan keluar ruangan karena sehabis ini, hanya panitia yang berkumpul. Untuk para peserta, kalian menunggu saja info selanjutnya tentang pentas ini,” seru Yoseob dengan bijak.

Kamsahamnida atas perhatiannya,” serunya lagi.

Semua peserta segera keluar dari ruangan.

“Baiklah, yang tersisa hanya para panitia kan?” seru Yoseob lagi saat begitu banyak orang telah keluar dari ruangan.

“Apa ada wakil panitia di sini? Aku lelah berbicara di depan sedari tadi,” seru Yoseob lagi seraya duduk lemas di bangku.

“Hah, kau ini. Mana ada wakil di sini, kami semua hanya percaya padamu Yoseob-shi,” seru seorang namja.

“Baiklah, aku tunjuk Min Ra saja sebagai wakilku,” seru Yoseob dengan gampangnya.

Semua mata tertuju padaku sekarang.

Ya! Mengapa harus aku? Aku baru di sini,” seruku.

“Sudah tak apa, aku yakin kau punya jiwa kepemimpinan juga,” seru Yoseob.

“Sudah sana Min Ra-ah, tak apa, aku yakin kau bisa memimpin,” seru Yoona pula.

Dengan enggan aku maju ke depan. Sesekali aku melirik ke arah Yoseob yang dengan enaknya duduk terdiam. Ia tertawa kecil melihatku. Aku hanya mencibir.

“Baiklah, aku lanjutkan memimpin rapat ini meski rada enggan untuk berdiri di sini, aku masih baru jadi rada asing dan malu untuk berkata-kata pada kalian,” seruku.

“Tak apalah, Min Ra. Kau punya wajah yang cantik untuk bisa percaya diri di depan sana,” teriak seorang namja padaku.

“Benar, penampilanmu yang perfect juga membuat kami betah jika kau di depan sana,” seru seorang namja lagi dengan tawa puasnya.

Aku agak risih seperti ini. Ha, mereka kira aku apa.

“Hey, hey sudahlah bisakah kalian diam? Jangan buat Min Ra risih, atau kalian mau tak ada yang memimpin rapat ini?” seru Yoseob dengan nada yang seperti membelaku.

Semua langsung terdiam dan aku melanjutkan berkata-kata.

“Baiklah, dengan tema yang sudah ditetapkan Yoseob, yaitu hujan. Itu memang tema yang bagus, karena memang kondisi sekarang ini musim penghujan. Para aundience pun nanti akan terhanyut dengan semua pertunjukkan yang ditampilkan,” jelasku.

“Untuk penampilannya, yang sesuai dengan apa yang dikatakan Yoseob. Kita menampilkan theater bertema hujan, juga vocal group dan duet untuk menyanyikan beberapa lagu. Untuk theater, mungkin aku tak bisa menunjuk siapa saja pesertanya, karena aku tak mengenal siapa saja peserta di sini, tapi yang pasti ku pikir jika drama seperti itu kita tetapkan saja 10 orang pemain utama dan 5 atau beberapa pemain figuran, eothokkae?” jelasku lagi.

“Aku setuju, sepertinya itu tidak terlalu kurang maupun lebih,” seru seseorang di belakang.

“Nah, lalu untuk vocal group seperti umumnya kita tetapkan saja 6 orang. Dan untuk duet yang sudah tentu hanya berdua, itu terserah bagi kalian siapa yang kalian pilih,” seruku lagi.

“Untuk duet, aku setuju jika Yoseob yang bernyanyi, tapi siapa pasangan yang tepatnya?” seru Yoona.

Aku melirik Yoseob yang tersenyum padaku.

“Menurut kalian?” tanyaku.

“Ah, di sini kualitas suara anak seni tak ada yang tinggi. Hanya Yoseob saja yang menguasai dan memahami dunia tarik suara. Jika mau dipasangkan dengan seorang yeoja pun tak ada satupun yeoja yang bersuara emas di sini,” seru seorang namja.

Ya! Sama saja kau mengejek para yeoja di sini!” seru Yoona pada namja itu.

“Ah, baiklah sudah. Mengapa kita tak mengundang soloist saja dari beberapa entertainment, kita tinggal meng-copy proposal dan memberikannya pada pihak perusahaan entertainment,” ujarku.

“Sebaiknya jangan. Pentas akan lebih seru jika pesertanya itu dari sini juga, kita tak mungkin mengundang artis dari luar sana,” seru Yoseob yang kini berdiri di sampingku.

“Sudahlah, mengapa tak Min Ra saja? Dia pernah ingin direkrut oleh YG entertainment bahkan di JYP entertainment pula, tapi ia menolak. Padahal, produsernya tau Min Ra itu memiliki suara emas dengan kualitas begitu tinggi,” teriak Yoona.

“Ah, jeongmal?” seru seisi ruangan. Aku tertunduk.

“Apa benar Min Ra-ah? Wah, kau hebat sekali,” seru Yoseob kemudian.

“Ah, ani. Suara menyanyiku hanya sekadar penyanyi yang masih pemula,” seruku.

“Bohong,” seru Yoona. Aku meliriknya sinis, dia mencibir.

“Baiklah, ku tetapkan. Teman duetku nanti, Min Ra. Semua setuju?” seru Yoseob.

“Setuju!” seru seisi ruangan.

Aku mendengus kesal.

~ ~

Ya! Yoseob-shi, mengapa harus aku yang menjadi teman duetmu? Aku tak bisa bernyanyi,” seruku pada Yoseob saat aku dengannya menuju kantin sekolah.

“Karena aku tau kau punya suara yang indah,” serunya dengan senyum jahilnya yang membuatku geli.

Aku duduk di salah satu bangku kantin, sedangkan Yoseob menuju tempat pemesanan makanan. Ia kembali membawa dua buah cake chocomint dan milk cappuccino.

“Ini, kau satu,” serunya seraya memberiku satu cake chocomint dan milk cappuccino.

Gomawo,” seruku.

“Nah, jadi kau siapkan untuk berduet denganku nanti?” seru Yoseob.

“Siap tak siap, aku harus siap,” ujarku.

Yoseob tertawa kecil. Aku mendengus kesal.

~ ~

Yoseob’s POV ~

Aku menuju tempat pemesanan makanan. Lalu kembali menghampiri Min Ra dengan membawa dua buah cake chocomint dan milk cappuccino.

“Ini, kau satu,” serunku seraya memberinya satu cake chocomint dan milk cappuccino.

Gomawo,” serunya.

“Nah, jadi kau siapkan untuk berduet denganku nanti?” seruku.

“Siap tak siap, aku harus siap,” ujarnya.

Aku tertawa kecil. Ia mendengus kesal.

Setidaknya, aku senang sekali bisa berduet dengannya nanti. Aku tak sabar mendengar suaranya yang ku yakin, pasti terdengar begitu indah.

Tiba-tiba handphone ku bergetar, ada yang menelfon. Ku lihat layar handphoenku, Lee Gikwang is calling..

“Yobosseo, Gikwang?”

Ne yobosseo….”

 

Min Ra’s POV ~

Yoseob membuka handphonenya, sepetinya ada yang menelfonnya.

“Yobosseo, Gikwang?” serunya pada penelfon.

Tunggu dulu, Gikwang?

– To Be Continued –

Mianhae ya buat yg nunggu chap lanjutan ini lama._.v dan sepertinya chap 4 nya jg bakal terbit agak lama lagi. Mianhae sekali lagi.

Dan mianhae juga kalo cerita di chap ini makin gaje atau alurnya kecepetan dan feel nya ga dapet. Aku udah yakin kok chap kali ini hancur lebur -_- Mianhae, jeongmal mianhae. Kritik dan sarannya berikan aja ya untukku, aku terima kok dengan segala kelapangan hati :>

Please leave your comment ^^

Gomawo ^^

4 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s