(Freelance) The Real Side Part 2

The Real Side Part 2

 

Title : The Real Side

Author : Qey.yeonSone/kikiy

Cast : Still full of SNSD Girls’ Generation member

-and other cast-

Genre : Mystery, fantasy, thriller

Rating : PG-15

Length : Double shot 2/2

Disclaimer : all is mine except the cast!

***

~haruskah kujemput kematian itu? Ataukah aku harus menunggu kematian itu datang menjemputku?~

***

 

Normal PoV

 

Taeyeon berjalan gontai. Menyeret kakinya dengan enggan layaknya sebuah beban besar menempel pada kakinya. Entah sudah berapa ribu tetes air matanya mengalir berkelok di pipinya. Lalu jatuh ke bawah menghantam lantai sepanjang yang ia lalui.

 

Taeyeon tidak lagi terkejut, mendapati mayat-mayat bergelimpangan di sekitar kakinya. Taeyeon sudah mengetahuinya. Hanya seperti mengulang kembali dalam bentuk yang lebih nyata. Taeyeon berharap ini semua hanya mimpi. Dan suatu saat seorang datang untuk membangunkannya. Tapi ia tidak yakin, ada orang yang bersedia untuk membangunkannya dari mimpi buruk ini.

 

Taeyeon tersaruk melewati bangkai-bangkai manusia dari orang-orang yang sangat ia kenal. Mulai dari para staff, sunbaenim, hingga para hoobaenya telah menjadi mayat yang bahkan beberapa sudah tidak berbentuk lagi. Ia tidak akan sangsi jika suatu saat kelak gedung tempatnya bekerja ini akan menjadi gedung hantu karena terjadi pembantaian besar-besaran seperti ini. Pembantaian besar oleh tangannya sendiri.

 

Tubuhnya sakit. Bahkan tangan kanannya tidak henti-hentinya mengalirkan darah segar dari luka koyakannya. Tapi Taeyeon nampak tidak begitu memperdulikannya. Satu-satunya yang ia perdulikan saat ini adalah luka di dadanya. Tepatnya dihatinya. Terlalu sakit untuk dibandingkan dengan luka fisiknya.

 

Entah sudah berapa puluh meter lorong yang ia tempuh dan beberapa ribu anak tangga yang Taeyeon tempuh. Bahkan Taeyeon pun tidak mengetahuinya. Pikirannya terlalu kacau untuk memikirkan hal sesepele itu.

 

Taeyeon tiba-tiba berhenti. Dengan mata sembabnya, ia mengitari ruangan besar yang ada di depannya. Bahkan ia tidak sadar jika sekarang ia sudah ada di lobby lantai 1 gedung SMent. Belum lagi ia hendak melangkahkan kakinya, ia sudah ambruk. Seolah tersandung oleh kebodohannya sendiri. Taeyeon menatap datar lantai dibawahnya. Tak urung, air matanya pun sebentar saja sudah membentuk genangan lingkaran kecil.

 

Taeyeon menggigit bibirnya yang sudah merah karena terluka. Badannya sedikit tergetar saat sebuah tekad tiba-tiba terlintas di benaknya. Taeyeon kembali membangkitkan tubuhnya yang semula terkulai dengan susah payah. Ia berjalan terseok menuju front desk receptionist. Seperti apa yang pernah ia lihat sebelumnya, dua receptionist yang seharusnya duduk manis di front desk, sudah terkapar lemah di lantai.

 

Taeyeon berjalan ke sisi front desk, mencari sesuatu di sana. Telepon. Satu-satunya ide normal yang muncul diantara kegalauannya adalah menelpon polisi.

 

***

 

Leeteuk tercengang kaget saat mendapati gedung SMent di depannya sudah dipadati oleh lautan manusia. Di tambah lagi police line kuning khas yang membentanginya, membentengi orang asing untuk masuk ke dalamnya. Leeteuk berusaha untuk kembali fokus setelah sebelumnya otaknya mengosong. Membuatnya hampa.

 

Leeteuk berjalan mendekati kerumunan orang terdekat sembari merapatkan maskernya. Ia menepuk salah satu pundak namja paruh baya yang berdiri memunggunginya. Orang yang merasakan tepukan Leeteuk berbalik. Lantas memandang Leeteuk dengan pandangan bertanya.

 

 

“Oh, ya nak? Ada apa?” tanya namja itu.

 

Leeteuk menarik nafasnya sebelum ia melontarkan kalimatnya. “Apa yang terjadi di sana, Tuan?” tanya Leeteuk, berusaha menjaga nada suaranya.

 

“Mengerikan.” cerca Namja paruh baya sembari menilik gedung sekilas yang pelatarannya sudah bertebaran mobil polisi. Leeteuk masih terdiam, menunggu kemungkinan sang pria kembali melanjutkan kalimatnya. “Terjadi pembantaian besar di sana. Puluhan orang mati secara tragis disana.” lanjut namja itu. Hanya merupakan penggabungan dari dua kalimat. Tapi memiliki makna yang menurut Leeteuk sangat luar biasa.

 

Kepala Leeteuk seolah berdenyut kencang mengikuti denyutan jantungnya. Oksigen di sekitar Leeteuk seolah bermetamorfosis menjadi karbon dioksida. Membuat Leeteuk harus bekerja ekstra dua kali lipat untuk memanjakan paru-parunya yang kekurangan oksigen. Leeteuk menggigit bibirnya, seraya menggeleng kecil. Masih belum percaya dengan sesuatu yang menghantuinya.

 

“Kau tidak apa-apa nak?” tegur namja paruh baya itu sembari menepuk lengan Leeteuk.

Leeteuk mengangguk kecil. Lalu detik berikutnya, kakinya terayun tidak mampu menahan gejolak rasa penasarannya.

 

***

 

“Bisakah saya masuk ke dalam?” tanya Leeteuk pada seorang polisi yang memiliki wewenang tertinggi daripada polisi yang lain. Ditandai dengan penampilannya yang terlihat paling mencolok diantara lainnya.

 

Polisi yang dimaksud, menyerit kecil. Keningnya berkerut mengiringi langkahnya mendekat ke arah Leeteuk.

 

“Siapa anda?” tanyanya kemudian.

 

Leeteuk mengambil kartu tanda penduduknya, kartu nama, juga kartu keanggotaan SMent *?*. Ia menyerahkan semuanya pada polisi. Juga ia membuka maskernya. Polisi itu sontak terkejut menatap wajah Leeteuk.

 

“Ah, kau penyanyi itu, bukan? Baiklah silahkan masuk, tapi sebelumnya. Aku akan menyuruh anak buahku untuk menggeledahmu.”

 

***

 

“Berapa korban tewas yang ada di sini?” tanya Leeteuk setelah digeledah dan tidak terbukti membawa senjata apapun.

 

“Baru ditemukan sekitar 35. Sepuluh diantaranya mendapat luka tembakan. Dan sisanya dibunuh menggunakan parang besar. Kami masih berusaha mencari yang lain, karena mayat yang kami temukan kebanyakan korban mutilasi dan organnya tercerai-berai. Anehnya, tidak ada sisa sidik jari pelaku selain sidik jari korban-korban sendiri.” jelas polisi yang menggiring Leeteuk ke gedung. Leeteuk menelan ludah, menahan diri untuk tidak mengeluarkan isi perutnya.

 

“Ahya, maaf sebelumnya. Aku juga melihat beberapa temanmu di dalam.” ujar si polisi hati-hati.

 

Leeteuk sudah bisa mengartikannya. ‘Ada di dalam’. Dada Leeteuk terasa lebih tertekan. Ia sekuat tenaga menahan diri lagi. Kali ini agar dia tidak menangis.

 

“Dan, sebenarnya ada korban selamat. Dan dia yang menghubungi kami. Eung~ dia juga penyanyi.”

 

Sejenak Leeteuk meninggalkan pikiran frustasinya dan memfokuskan diri pada kata-kata polisi di sampingnya.

 

“Tubuhnya penuh dengan luka. Bajunya berlumuran darah. Beberapa saat lalu dia sempat pingsan. Tapi sudah siuman kembali. Sayangnya dia belum bisa bicara. Dia terlihat sangat terpukul. Namanya Kim Tae… Tae… Siapa itu? Anak bungsuku sangat mengidolakannya.”

 

Leeteuk tercengang seketika. Ia menahan nafasnya? Kim Tae? Itu sudah cukup membuktikan bahwa yeoja yang dimaksud adalah Kim Taeyeon! Gadisnya. Leeteuk sedikit terhuyung ke depan, mungkin ia akan jatuh jika polisi itu tidak menahan tubuhnya. Badan Leeteuk bergetar. Membayangkan nasib Taeyeon. Orang yang sangat dicintainya.

 

“Dimana? Dimana dia sekarang?” sergah Leeteuk panik sembari mengguncang bahu sang polisi.

 

“Dia ada di sudut sana, beberapa rekanku tengah menemaninya.”

 

Usai sang polisi menyelesaikan kalimat terakhirnya, tanpa komando, Leeteuk berlari kencang ke arah yang ditujukan polisi itu. Ia menyibakkan kerumunan orang. Dan berusaha menutup telinganya untuk tidak mendengarkan suara-suara pilu seperti sirine mobil ambulans dan polisi, tangis pilu dan lain-lain. Ia berusaha mengabaikan pemandangan-pemandangan mengerikan layaknya mayat-mayat yang digotong dengan tandu, orang-orang yang menangis, bahkan orang-orang yang tengah mengabadikan moment mengerikan ini dengan kamera. Leeteuk berusaha mengabaikan semua itu. Karena saat ini, ia memfokuskan semua inderanya untuk satu nama. Taeyeon…

 

***

 

Gadis itu…

Gadis yang sangat ia cintai…

Gadis ceria yang biasanya mewarnai harinya…

Gadis yang selalu mengangkatnya dari keterpurukan…

Justru kini nampak sangat terpuruk. Bahasa tubuhnya tak ubahnya sebuah boneka manequin pajangan etalase. Sayangnya, penampilannya tidak, tidak ada manequin yang berpakaian bermandikan darah. Matanya menerawang kosong ka depan, memperlengkap penampilan.

 

“Yeon-a?” panggil Leeteuk. Terasa getir.

 

Gadis yang dipanggil Yeon-a itu bergeming. Entah karena menganggap panggilan itu sebagai angin belaka, atau karena ia memang tidak mendengarnya. Tidak ada yang tau.

 

“Yeon-a?” panggil Leeteuk sekali lagi. Ia mendekat ke arah Yeon-a atau Taeyeon lalu berjongkok di depannya. Mensejajarkan wajahnya dengan Taeyeon. Kedua tangan Leeteuk mencengkram erat lengan atas Taeyeon.

 

Taeyeon memiringkan sedikit kepalanya. Namun tatapannya tetap sama. Kosong dan tidak berarti.

 

“Yeon-a? Kau takut?” bisik Leeteuk getir. Bahkan untuk mengatakan satu kalimat, Leeteuk hanya mampu melontarkannya melalui bisikan. Leeteuk merasakan bibirnya bergetar, sebelum akhirnya matanya mengalirkan sungai kecil.

 

“Ah… jussi?” sendat Taeyeon lirih. Kini matanya terlihat memerah. Menahan sesuatu.

 

Leeteuk mengangguk. “Ne, ini aku. Ahjussi-mu. Ahjussi kesayanganmu.” air mata Leeteuk semakin deras, membuat pipinya lembap karenanya.

 

Dengan gerakan tiba-tiba, Taeyeon mengangkat tangannya. Menyapu bekas aliran air mata di pipi Leeteuk dengan tangannya. Seraya itu, rupanya bendungan air mata Taeyeon pun jebol. Dan mulai mengalir ke pipinya.

 

“Jangan, jangan menangis di depanku.” kalimat terpanjang Taeyeon setelah Leeteuk datang.

 

“Yeon-a.” haru Leeteuk sebelum ia berhasil merengkuh bahu Taeyeon. Menarik tubuhnya ke dekapan hangat Leeteuk.

 

Tangis Taeyeon semakin pecah. Ia merasa tidak punya lagi alasan untuk menahannya.

 

“Bagaimana aku tidak menangis melihatmu seperti ini? Andaikan aku bisa bertukar tempat denganmu dan menggantikan posisimu maka aku akan lakukan.” ujar Leeteuk diantara isakannya.

 

“Tidak perlu. Aku bisa menghadapinya sendiri.” balas Taeyeon. Terdengar kemantapan disana.

 

***

 

Leeteuk membawa Taeyeon dengan mobilnya menjauhi kekacauan yang ada di gedung SMent. Ia mengendarai mobilnya dengan cepat agar ia bisa melarikan Taeyeon dari tempat yang membuat Taeyeon sangat trauma itu.

 

“Kita pulang ke rumahmu.” cetus Leeteuk memecah keheningan yang sempat melanda diantara mereka.

 

“Baiklah…”

 

“Apa kau baik-baik saja? Apa kau melihat sesuatu?” tanya Leeteuk hati-hati. Berusaha menjaga perasaan Taeyeon.

 

“Hmm… Aku tidak baik. Banyak yang kulihat disana. Dan hal itu ingin ku-enyahkan dari pikiranku.”

 

DDRRRRTTT… DDRRTTT… Ponsel Taeyeon bergetar. Bahkan Taeyeon tidak ingat memiliki ponsel. Taeyeon merogoh saku hoodienya. Merasa penasaran dengan siapa si penelponnya. Nomor pribadi. Taeyeon bimbang.

 

“Kenapa tidak diangkat?” tanya Leeteuk.

 

“Ah, ne. Aku baru saja akan mengangkatnya.” elak Taeyeon. Dengan tangan bergetar, ia menekan tombol hijau disana.

 

“Yeoboseyo?” lirih Taeyeon.

 

“Apa kau sudah melihat hasil pekerjaanmu, Taeng?” suara yeoja yang sangat familiar ditelinga Taeyeon. Suara Tiffany.

 

“Ya.”

 

“Good work honey. Bisakah kita bertemu?”

 

Taeyeon menggigit bibirnya untuk kesekian kalinya. Kendati jelas di bibirnya sudah terpatri bekas gigitan. Bertemu? Ya, harusnya Taeyeon memang menyelesaikan masalah ini. Bukan lari. Siapapun itu. Yang menyebabkan kekacauan besar ini… Harus dilenyapkan.

 

 

“Baiklah, eodiga?”

 

Diseberang sana, si penelpon menyunggingkan senyum misterius. “Bisakah kau menemuiku di pantai Busan, besok?”

 

Taeyeon menghela nafas. Sekedar untuk meyakinkan hatinya.

“Dengan senang hati, Miyoung.”

 

*Normal PoV END*

 

***

 

*Taeyeon PoV*

 

Aku tercenung saat mobil Leeteuk melintasi gerbang rumahku. Tak kusangka aku akan bisa kembali ke rumah ini. Sebuah perasaan haru yang luar biasa secara sontak memenuhi rongga dadaku. Dapat kutilik, dari balik kaca mobil Leeteuk. Eomma, appa, dan Hayeon berdiri di beranda. Menunggu kedatanganku. Aku tahu, sebelumnya Leeteuk sudah menghubungi Eomma dan Appa, terang saja mereka sudah menantiku. Hey? Tapi dimana Ji Woong Oppa?

 

Leeteuk menghentikan mobilnya. Ia mengusap kepalaku sejenak, sebelum akhirnya ia keluar dari mobil. Ia mengitari separuh mobilnya hingga ada di samping pintu untuk membukakan pintuku. Aku membuka safety belt-ku sembari pandanganku masih terpancang di antara Eomma, Appa dan Hayeon.

 

Terang sekali Eomma berusaha menyembunyikan tangisannya di depanku. Pula Appa, hanya saja ia nampak lebih tegar dari Eomma. Aku melipat kedua bibirku sembari mendekat ke arah mereka. Menahan air mataku seperti yang dilakukan Eomma. Setidaknya tidak di hadapan mereka.

 

Berhenti. Aku ada di hadapan mereka. Terpaku. Saling menatap satu sama lain. Rupanya Eomma tidak lebih kuat dariku. Ia mengeluarkan isakannya. Badanku tergetar kecil saat Eomma melingkarkan tangannya untuk memelukku. Sesaat aku ingin melepaskan bentengku untuk menangis. Tapi tidak, aku sungguh tidak ingin mereka sedih karenaku.

 

“Apa yang terjadi padamu?” bisik Eomma ditelingaku. Aku semakin menggigit bibirku.

 

Tanpa menjawabnya, aku hanya membenamkan kepalaku di balik pundak eomma, yang dulunya sering kulakukan saat aku masih kecil. Sejenak menikmati kehangatan pelukan seorang ibu.

 

***

 

Aku tersaruk melintasi ruang tengah menuju ke dapur. Hendak membersihkan diri. Hayeon menuntunku. Eomma dan Appa ada di ruang tamu bersama Leeteuk. Leeteuk tengah mencoba menjelaskan yang terjadi padaku. Walau aku yakin yang ia ceritakan sangat menyimpang jauh dari cerita yang asli. Karena aku rasa, pun jika aku menceritakan keadaan sejatinya. Tak urung semuanya akan berakhir dengan tawa tak percaya.

 

“Taeng?” aku dan Hayeon berhenti. Pula lamunan panjangku. Tatkala kami mendengar suara rendah seorang namja. Aku mengangkat wajahku dengan enggan. Aku mengenali suara itu. Dan sesungguhnya aku tidak menghendaki jika aku bertemu dengan si pemilik suara dengan keadaan sedemikian buruk.

 

Namja itu berjalan rapuh kearahku. Seolah seluruh badannya ikut lemah sepertiku saat menyaksikanku *?*. Kutangkap raut wajahnya sangat mudah ditebak. Ia gundah. Tersirat jelas mata beningnya, kini sudah berlapiskan air mata dan siap jatuh sewaktu-waktu.

 

“Ji Woong?” panggilku pelan.

 

“Oppa!” ujarnya membenarkan. Betapapun demikian, tetap saja nadanya bergetar.

 

Aku memaksakan seulas senyum tabah. Meski yang kuyakini tergambar adalah senyum rentan.

“Ji Woong Oppa?”

 

“Kau pul… ang?” bergulir. Seiring bergulirnya kata terakhir, bergulir pula air matanya. Ia menepuk pundakku. Sembari mengeluarkan suara kekehan aneh. Kekehan yang dipaksakan.

 

Aku sedikit merentangkan tanganku. “Aku pulang.”

 

Sedetik setelah aku menyelesaikan kalimatku. Kurasakan badanku menghangat. Ji Woong memelukku. Ia tetap menepuk-nepuk perlahan punggungku. Seolah mengalirkan rasa sayangnya agar perasaanku lebih tenang. Agaknya ia berhasil. Sejenak aku lupa dengan masalahku, dan berharap seumur hidup aku menghabiskannya dengan dipeluk seperti ini.

 

***

 

Semua orang disini memanjakanku. Eomma memasakkanku semua masakan kesukaanku. Bahkan Appa rela membolos kerja demi kepulanganku. Begitupun Hayeon dan Ji Woong. Mereka tidak berangkat sekolah. Padahal aku tahu persis, Ji Woong sedang sibuk-sibuknya dengan tugas kuliahnya. Hayeon bermanja-manja denganku. Ia bahkan sesekali menyuapkan buah-buahan segar padaku.

 

Betapa indah hidup di sebuah keluarga bahagia seperti ini. Tidak ada masalah. Tidak ada ketegangan. Tidak ada darah. Tidak ada mayat. Seolah itu semua terserap black hole yang membuat mereka hilang seketika. Apabila esok hari kembali aku dihadapkan oleh masalah semacam itu, aku hanya berharap biarkan aku menikmati masaku saat ini terlebih dahulu…

 

Leeteuk sudah pulang. Dia bilang dia harus ada di SMent building untuk melihat siapa tahu ada ‘temannya’ disana. Mungkin beberapa saat kedepan, Leeteuk akan sangat memahami perasaanku. Saat kehilangan beberapa bagian dari dirinya. Dongsaengnya. Mungkin ia masih cukup bisa bertahan karena hanya beberapa dongsaengnya yang meninggalkannya. Bagaimana jika keadaannya sudah mencapai fase seperti apa yang kualami? Bahwa semua dongsaengku saling membunuh, dan bahkan beberapa kubunuh dengan tanganku sendiri? Akankah ia akan setegar aku?

 

“Taeng? Apa itu sakit?” tanya Ji Woong sembari menatap ngeri luka-luka disekujur tubuhku.

 

Aku terkekeh pelan menatap wajah anehnya. “Menurutmu?” timpalku sarkastik.

 

“Menurutku itu sakit. Apa tidak lebih baik kau ke rumah sakit saja?” sarannya.

 

“Tidak perlu. Aku sudah dirawat di rumah sakit Gangnam beberapa waktu lalu.”

 

Aku merapatkan bibirku saat kurasakan rasa nyeri yang luar biasa dari punggungku. Nyeri itu datang kembali. Sakit yang sama dengan saat aku ada di kereta. Saat kulihat Ji Woong tengah berkonsentrasi dengan TV di depannya, aku mengatupkan kedua tanganku. Merasa sesuatu akan meledak dari kerongkonganku.

 

Aku bangkit ke kamar mandi. Berusaha menahan gelagatku agar terlihat sebiasa mungkin. Aku menahan batukku setidaknya hingga aku sampai di kamar mandi.

 

“Mau kemana?” tanya Ji Woong. Aku menoleh, mungkin terlihat kaku dimatanya.

 

“Kamar mandi. Mau ikut?”

 

***

 

Aku menghambur ke wastafel saat aku merasa tidak mampu lagi menahan sesuatu itu. Aku terbatuk keras dan sukses memuntahkan banyak darah dari kerongkonganku. Aku memandangnya nanar sembari membuka keran wastafel. Membasuh tangan dan mulutku. Merasa tak ada larangan untuknya, aku menangis tertahan. Apa yang terjadi padaku?

 

“Tiffany akan menemuimu besok.”

 

Aku terkesiap dan mendongkak. Menatap cermin diatas wastafel yang terlihat mengatakan sesuatu. ‘Dia’ muncul lagi. Aku mencoba menyikapinya dengan biasa saja.

 

“Ya, aku tahu.”

 

“Dia akan menemuimu dengan dia yang sebenarnya. Bukan aku.”

 

Aku memperbesar keran air. Setidaknya agar suara percakapan kami teredam olehnya.

 

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?” tukasku.

 

“Tentu saja. Kau lebih mengenalnya. Watak kami sangat berbeda. Aku hanya memberimu kesempatan untuk bercakap dengannya. Karena kau tahu? Dia sangat ingin hidup dengan tubuhnya.”

 

“Maksudmu?”

 

“Tentu. Beberapa waktu yang lalu, tubuhnya kukuasai, karena di jiwanya yang asli telah kuracuni saat di apartement membuatnya kehilangan kesadaran. Dan itu membuatku bebas memakai tubuhnya. Tapi, saat di rumah sakit, dokter berhasil menyedot racun yang ada ditubuhnya. Membuatnya bisa kembali ke tubuhnya.”

 

“Lantas?” potongku mulai janggal dengan arah pembicaraan kami.

 

“Dia ingin hidup tanpa aku, jadi…”

 

“Jadi?”

 

Tawanya meledak, masih kupertahankan ekspresi bingungku. “Jadi, bagaimana dengan tubuhmu, baby?”

 

Aku membulatkan mataku. “Jadi kausuruh aku menjadi bayanganmu, dan kau memiliki tubuhku begitu?”

 

“Tepat. Tapi sayang sekali, kau bukan menjadi bayanganku. Tapi pergi selama-lamanya agar aku bisa menguasai tubuhmu.” timpalnya licik.

 

Aku melipat bibirku. Menahan diri agar tidak menggerutukkan bibirku karena geram. “Kau… Kau memanfaatkanku!” tegasku.

 

Bayanganku tersenyum kecil. “Kenapa tidak? Sebetulnya semua itu ada ditanganmu. Kau bisa memilih mempertahankan tubuhmu. Dan aku akan hidup dalam tubuh Tiffany. Dan itu otomatis memupuskan harapannya untuk hidup dengan tenang.”

 

Aku mengepalkan tanganku. Hingga kurasakan rasa kebas diantara perbukuan jariku. “Aku bisa memecahkan kaca untuk kedua kalinya dengan tangan terluka.” gertakku.

 

“Kuberi waktu untuk berfikir. Eung~ lima hari?”

 

“Kau gila!” nyaris saja aku memekik.

 

“Tiga hari?”

 

“Hey! Kau…”

 

“Terlalu cepat? Dua?”

 

“Mana mungkin aku?”

 

“Satu hari?”

 

“Oke! Oke! Dua hari! Kau puas?!”

 

Bayanganku kembali tersenyum puas. Seolah membuatku semakin sengsara adalah pekerjaan menyenangkan. Sejenak aku memandangnya. Sudah jelas wajahnya sangat mirip denganku. Tapi kenapa hatinya bisa sebusuk bangkai? Ah, tidak. Setidaknya burung gagak masih mau memakan bangkai. Tapi aku sangsi jika ada burung yang bersedia menyantap bangkai busuk hatinya.

 

“Apa kau bisa menjamin hidup Tiffany setelah kau memiliki tubuhku?” tanyaku meyakinkan.

 

“Tentu. Aku sudah tidak membutuhkannya. Aku sudah punya kau.”

 

“Kau janji tidak akan mengganggunya lagi?”

 

“Seperti yang kau inginkan.”

 

“Bisakah aku meminta satu permintaan?”

 

Sejenak ia nampak berfikir serius. “Hmm? Tergantung apa itu.” balasnya sarkastik akhirnya setelah lama berfikir.

 

Aku membuka mulut untuk mengutarakan maksudku.

 

***

 

“Permintaan yang menyebalkan, tapi baiklah. Kita bertemu lagi disini dua hari lagi. Temui Tiffany besok.” balasnya setelah aku berhasil menyampaikan permintaanku.

 

Ia menghilang. Digantikan bayangan biasa yang sama persis denganku. Aku menggenggam tanganku sendiri. Karena aku rasa tidak akan ada lagi yang menggenggam tanganku besok.

 

***

 

“Mau kemana? Bukankah kau masih sakit?” tanya Ji Woong sembari membuntutiku di belakang.

 

Aku mengepak barang-barang kecil di backpack-ku tanpa mengindahkan pertanyaan Ji Woong.

 

“Taeng?”

 

Aku mengalihkan sepintas konsentrasiku dari backpack-ku. “Aku akan kembali nanti. Kau tak perlu khawatir.”

 

“Bagaimana aku tidak khawatir? Kau sakit. Dan sekarang mau pergi. Bahkan kau tidak mengatakan kemana kau pergi.” balasnya sembari mengguncang lenganku.

 

“Ke Busan. Kau puas?”

 

Ji Woong membelalakkan matanya. “MWO!!? BUSAN???”

 

Sudah kuduga akan begini reaksinya. Aku menghela nafas. Lalu berusaha menyusun kata-kata agar Ji Woong membiarkanku pergi. “Aku hanya menemui teman lama. Aku akan kembali nanti sore. Jangan bilang eomma ataupun appa. Jebal?”

 

“Tapi…”

 

“Tidak lebih dari jam makan malam. Yaksoke~ jebal?”

 

Ji Woong mendengus kesal. Aku tahu rayuanku hampir berhasil. “Baiklah. Appa akan membunuhku jika kau tidak datang tepat waktu.”

 

Aku tersenyum lega. Lalu mengecup pipinya. “You’re the best.” pujiku.

 

“Yak! Sejak kapan kau jadi menjijikan seperti ini?”

 

Aku hanya terkekeh menanggapinya.

 

***

 

-“Kita bertemu di pantai Busan.”-

Aku membaca pesan singkat dari Tiffany yang ia kirimkan via ponsel. Aku mengangguk. Dan sedetik kemudian menyadari kebodohanku. Mana mungkin Tiffany bisa melihat anggukanku. Aku menyisir perkampungan kecil di pesisir pantai. Menuju pantai. Aku pernah kesini saat aku masih kecil bersama Ji Woong.

 

Aku berhenti tatkala aku merasakan pasir pantai yang familiar terinjak di kakiku. Aku tersenyum. Aku sangat menyukai pantai. Apalagi bau asin dan suara khas pasir saat kuinjak. Itu menjadi daya tarik tersendiri untukku.

 

Kembali ke permasalahan. Aku menelisir pandanganku ke sekeliling pantai yang dapat kujangkau dengan mataku. Aku terpancang pada sosok yeoja yang tengah duduk di pasir pantai. Meluruskan kakinya, sembari menikmati ombak kecil yang menyapu ujung telapak kakinya. Saat jarak antara aku dan sosok itu tersisa hanya tinggal sekitar 3 meter, sosok itu menoleh. Tiffany.

 

Ia membulatkan matanya terkejut. Lantas bangkit dan merengkuhku. Badannya terasa sekali bergetar. Ia menangis di bahuku.

 

“Kau kemana saja? Kau tahu? Aku takut! Aku sendirian! Semuanya terjadi sangat aneh dan aku hanya seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.” raungnya mencaciku. Seolah menyalahkanku atas dirinya.

 

Aku sendiri hanya terkejut. Dan bingung untuk menyikapi ini. Aku belum terlalu yakin ini Tiffany.

 

Tiffany menarik tubuhnya. “Aku bangun di rumah sakit dan tidak tahu apa-apa. Karena ingatan terakhirku adalah saat kita pindah apartement.” sendatnya masih menyisakan sedikit tangisan.

 

“Tiffany? Apa itu kau?” hanya itu yang mampu kuucapkan.

 

Beberapa detik Tiffany nampak bingung. Lalu tiba-tiba ia menatapku berang. “YA! Kau fikir siapa??” tegasnya sembari memukul kepalaku.

 

“Eung~ kalau begitu jawab aku. Kapan kita bertemu?” tanyaku.

 

“Untuk apa?” tanyanya bingung.

 

“Sudah jawab saja~”

 

“Eung~ kita bertemu karena kita mengikuti audisi bersamaan, juga diterima secara bersamaan. Awalnya kita tidak terlalu mengenal satu sama lain. Saat kita menjalani trainee beberapa bulan, aku mendapatimu menangis malam-malam di ruang dance sendirian. Saat itu, aku bertanya padamu. Ternyata kau lelah menjalani trainee. Dan malam itu kau menceritakan tentang perasaanmu. Dan sejak saat itu, kita menjadi akrab satu-sama lain. Lalu…”

 

Belum usai ceritanya, aku sudah memeluknya. Aku yakin ini Tiffany. Karena yang ia ceritakan hanya aku dan Tiffany yang tahu. Bagaimana kami menjadi akrab, malam itu. Hanya kami berdua yang tahu.

 

“Bogoshipo…” lirihku.

 

“Me too.” ia tersenyum simpul. Kami sama-sama mengalihkan pandang ke arah laut. Menilik matahari yang terkatung berat di arah barat.

 

“Aku baru menyadari betapa indahnya hidup ini.” celetuk Tiffany tiba-tiba. Aku memutar sendi kepalaku menatapnya. “Semenjak Mom pergi. Aku tidak pernah menghargai orang disekitarku. Aku membangkang Dad dan kabur dari rumah ke kampung halaman Mom, Korea. Aku mengikuti audisi SM karena kupikir itu satu-satunya cara agar aku bisa mendapat uang. Setelah aku sukses dan berhasil mencapai titik ini. Aku tidak pernah memikirkan orang lain. Satu-satunya yang menjadi hal terpenting dalam hidupku adalah diriku sendiri. Mendapat uang, menghamburkannya. Memikirkan bagaimana cara memanjakan diriku sendiri. Aku bersyukur, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk kembali mencicipi dunia ini dalam segi lain. Aku mulai merasakan bagaimana hidup saling membagi kasih kepada orang lain.” akunya panjang lebar.

 

Aku sendiri. Hanya menatapnya sedih. Lantas kau pikir bagaimana caranya menyikapi orang yang tengah bercerita tentang hidupnya padamu? Bukankah satu-satunya cara terbaik adalah mendengarkannya?

 

Mata yang semula menerawang garis cakrawala di ujung jangkauan matanya kini tersapu menatapku. Ia tersenyum kecil. “Leo menemukanku di rumah sakit. Ia hendak membawaku kembali ke Diamond Bar.” ungkapnya dengan raut bahagia.

 

“Tapi… Kau tahu? Akhir-akhir ini aku merasa aneh dengan tubuhku sendiri Taeyeon. Terkadang aku tiba-tiba mengunjungi tempat yang bahkan aku belum pernah mengunjunginya, secara tidak sadar. Bahkan terkadang, saat aku bercermin, aku merasa bayanganku terlihat sangat menyeramkan menatapku.” tambahnya lagi. Aku hanya menatapnya maklum. Sangat mengerti apa yang dirasakannya.

 

“Hmm… Entahlah, aku pikir aku sudah gila. Tapi Leo menenangkanku, ia bilang aku hanya berkhayal dan berjalan dalam tidur. Apa kau sependapat, Taeng?” ujarnya meminta pendapatku.

 

Aku mengangguk miris. “Aku rasa ucapan kakakmu ada benarnya.”

 

Tiffany mengangkat kedua tangannya ke atas. “Haaah… Aku sudah tidak sabar menemui Michelle dan Dad. Kau tahu? Sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu mereka berdua. Aku sangat merindukan mereka.”

 

Tiba-tiba Tiffany menoleh padaku. Menatapku pilu. “Taeng? Bukankah itu artinya kita akan berpisah?” nafasnya tercekat, nyaris terisak kembali. Begitupula aku.

 

“Kita masih bisa chatting, mengirim e-mail, dan mengobrol lewat cam.” hiburku. Sebelum aku sempat meneruskan kalimatku, Tiffany memelukku erat.

 

“Aku akan merindukanmu, Taeng.” isaknya keras. Aku terhenyak saat mendapati air mataku pun ikut mengalir karena ucapannya. Aku membalas pelukannya. Saat ini, bibirku terasa lebih kaku, dan lidahku terasa kelu. Suasana yang tidak mendukung untuk membalas perkataannya.

 

Tiffany… Jangan sia-siakan pengorbananku untukmu. Hiduplah dengan tenang dan bahagia. Jangan biarkan aku menyesal memberikan hidupku padamu. Karena kau tahu? Hidupku adalah hal paling perharga yang pernah kumiliki.

 

***

 

“Taeng? Kau tidak mendengarkanku?” sahut Ji Woong.

 

Aku tersadar dari lamunanku. Mengerjap beberapa kali. “Nde? Kau bilang apa?”

 

Ji Woong mendengus. Lalu membanting sumpit dan sendoknya. “Jangan bilang kau tidak mendengar ceritaku dari awal.” hardiknya.

 

Aku hanya meniliknya bingung. Lalu menunduk. Menatap gumpalan-gumpalan nasi di mangkukku yang sama sekali belum berkurang. “Maaf, aku tidak…” sendatku, tidak mampu meneruskan kalimatku.

 

“Apa yang kau pikirkan?” selidik Ji Woong tajam. Aku mendongkak, menatapnya sendu. Membayangkan aku tidak akan lagi melihat ‘Taeyeon versi namja’ di depanku. Aku hanya menggeleng lalu kembali menunduk, mengaduk semangkuk nasiku.

 

“Waegurae?” kini nadanya melembut. “Kau tahu? Mana mungkin aku percaya saat kau bilang tidak apa-apa jika sikapmu jadi seperti zombie seperti ini?”

 

Aku menggigiti bibirku. Merasakan luka bibirku yang sudah mulai kering kembali mengeluarkan air asin. Air mataku jatuh. Yang semula tergenang melapisi mataku. Kini jatuh menghantam pahaku. “A… Aku sedih.” bisikku nyaris tidak terdengar.

 

Ji Woong mengangkat daguku. “Kenapa? Apa karena Eomma dan Appa sedang pergi ke Seoul untuk urusan pekerjaan? Dan meninggalkanmu yang baru kembali?”

 

Salah satunya itu. Bayangkan! Di hari terakhirku. Aku tidak bisa melihat Eomma dan Appa untuk terakhir kalinya. Adakah yang lebih buruk dari itu?

 

“Tidak ada yang tahu apa yang terjadi padamu sebelumnya. Tapi yang jelas, semua temanmu…”

 

“Ya.” potongku sebelum Ji Woong sempat melanjutkannya. Aku tidak ingin membahasnya lagi.

 

Ji Woong mendesah. Ia menatapku iba. “Jangan sedih lagi. Mereka semua, hanya sekeping masa lalumu. Lupakan apapun itu yang kau alami sebelumnya dan hidup baik-baik setelah ini dengan mengubur dalam-dalam memori kejadian itu.”

 

Aku menatap Ji Woong berkaca. Lalu menggeleng. Tidak Ji Woong! Kau tidak mengerti. Setelah ini aku akan pergi. Tepatnya besok. Aku akan pergi entah kemana. Mungkin mati. Atau hanya hidup dalam kegelapan menjadi bayangan.

 

***

 

“Ah, Taeyeon. Masuklah.” ajak Sungmin Oppa yang baru saja membukakan pintu dorm-nya. Mata Sungmin Oppa sembab, aku rasa ia baru saja menangis. Yeah, kau tahu sendiri? Hal yang pernah terjadi pada SNSD pula. Dan yang menyebabkannya menangis adalah ‘aku’. Ah, lupakan itu dan kembali ke rumusanku. Hari ini aku pergi ke Seoul, menemui Leeteuk Oppa. Menyiratkan kenangan terakhirku untuknya.

 

Aku mengangguk kaku. Lalu membalas senyumnya sekuat tenaga. Setelah malam dimana aku menangis di pelukan Ji Woong, sangat sukar bagiku untuk kembali menarik kedua ujung bibirku untuk menghasilkan senyum tulus. Aku mengekori Sungmin Oppa masuk ke dorm terhangat yang pernah ada itu. Namun saat itu, dorm terasa beku. Leeteuk keluar dari kamarnya setelah Sungmin Oppa memanggilnya. Aneh memang, aku jarang memanggil Leeteuk dengan embel-embel ‘Oppa’. Padahal ia paling berumur dibandingkan dengan member Super Junior yang lain, yang justru kupanggil Oppa. Tapi dia tidak pernah keberatan, karena menurutnya itu adalah sesuatu yang spesial karena aku hanya mengkhususkan diriku memanggilnya tanpa kata ‘Oppa’. Justru aku sering memanggilnya ahjussi.

 

“Yeon-a. Kau sudah datang? Duduklah. Chankaman.” perintahnya.

 

Aku hanya mengangguk singkat. Tanpa berniat mengutarakan jawaban untuknya. Aku duduk di sofa. Suasana dorm begitu hening. Ada dua faktor yang menyebabkan keheningan disini. Pertama, karena sebagian membernya ‘kau tahu sendiri’. Dan sebagian lainnya memang pergi dengan sengaja dari sini.

 

“Kajja.”

 

Aku mendongkak. Mendapati Leeteuk sudah mengenakan pakaian yang lain dari terakhir kali aku melihatnya. Aku tersenyum getir, lantas mengangguk. Leeteuk mengulurkan tangannya. Dan aku menyambutnya dengan sukarela.

 

***

 

Kami hanya duduk. Bersandar di bahu kami masing-masing. Begitu hangat. Tangannya terkait erat disela buku jemariku. Hangat. Nyaman. Jika aku diperkenankan, maka dengan menggebu aku ingin waktu berhenti untuk saat ini pula. Entah kapan lagi aku bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan tangan ini. Kami memandangi riak dari sungai Han yang menggelegak lembut di mata kami. Kendati hari masih terlalu siang untuk menikmati pemandangan, namun entah mengapa seakan dunia ini berubah menjadi sesuatu hal yang sangat menakjubkan bagiku. Semuanya terasa indah…

 

Genggamannya menarikku lembut ke sudut lengang dari pinggiran sungai Han. Aku tersenyum kecil. Setidaknya memberikan suatu kebahagiaan kecil sebelum aku pergi.

 

“Kau senang?” bisiknya ditelingaku. Hembusan hangatnya membuatku sesaat lupa akan ketetapan yang sebentar lagi mulai berlaku padaku.

 

“Hmm…” balasku seraya mengangguk.

 

“Jika begitu, aku pun demikian.” balas Leeteuk tulus. Hatiku seolah tengah tersayat oleh sesuatu yang dingin yang melintas diatas gumpalan hatiku.

 

Aku mengerling kearahnya. Menarik nafas selembut mungkin agar sistem pernapasanku kembali bekerja normal. Memaksakan seulas senyum untuknya. Entah karena suasana atau apa, yang selanjutnya kurasakan adalah bibirnya sudah mencapai bibirku dengan mengejutkan. Aku gamang. Hanya bisa mengalirkan beberapa tetes air mata sembari membalas ciumannya…

 

***

 

Aku menatap tumpukan amplop warna-warni di meja riasku. Ada sekitar sepuluh. Untuk Eomma, untuk Appa, untuk Leeteuk, untuk Ji Woong, untuk Hayeon, untuk Tiffany, dan masih beberapa lagi untuk orang-orang terdekatku. Aku menjejerkan surat-surat itu dengan rapi, lalu menyemprotkan parfum vanilla. Aku tersenyum dalam hati. Karena aku tidak yakin bibirku bisa kembali difungsikan untuk tersenyum.

 

Aku memandang cermin di depanku. Menunggu saat-saat aku ‘pergi’. Sejenak terbesit sejuta wajah yang kukenal melintas rapi di anganku. Aku kembali tersenyum lalu melirik deretan amplop-amplop yang ada di sana. Aku pun melirik koper yang ada di atas tempat tidurku. Ya, aku menyuruh-‘nya’ untuk pergi menjauh dari semua orang yang dekat denganku. Hidup jauh dari jangkauan mereka. Aku membebaskannya memakai tubuhku untuk apapun. Tapi tidak untuk menyakiti salah satu dari orang yang pernah dekat denganku. Menghilang selamanya dari hadapan orang terdekatku terutama keluargaku.

 

Tatkala kurasakan gerakan yang tidak kulakukan tergambar di cerminku. Kurasakan nyeri mulai mendera dadaku. Dengan sigap, kutahan semua nyeri itu dengan bersikap pura-pura acuh. Kurasakan jiwaku seperti mulai melayang dan terasa seperti tersedot blackhole entah dimana. Aku mulai menutup mata. Merasakan sensasi baru yang seumur hidup baru pertama kurasakan.

 

Untuk siapapun yang pernah mengenalku. Terimakasih dan Maaf… Hiduplah dengan baik. Aku mencintai kalian…

 

 

 

 

***

END of The Real Side

***

 

hehe~ sebuah ending yang jauh dari kata ‘happy’. Adakah yang mau komplain? Sebenernya, critanya endingnya mau kubikin mati semua trus taeyeon bunuh diri. Tapi kok kayaknya tragis amat =..=

 

nah, buat yang gak ngeh sama ceritanya. Gini, jadi anak2 snsd itu punya ‘sisi lain’ ato ‘other side’ mreka. Sisi jahat mereka *udah dijelasin di other side part 10* itu pengen menguasai tubuh snsd. Dan yg jadi sasaran utama sebenernya taeyeon, bukan tiffany. So, dia bikin perjanjian biar dia bisa menguasai tubuh taeyeon sepenuhnya. Jadi setelah ini sebenernya tubuh Taeyeon masih idup. Tapi dengan sisi yang jahat itu, bukan Taeyeon yang sebenernya. Jadi sifatnya kek bertukar tempat sama bayangannya alias sisi jahatnya.

 

Yasudah, RCL-nya tetap ditunggu. Buat FF saia yang lain silahkan cek kikiyeonniee.wordpress.com

ingat double n dan double e. Belum saia post semua sih, soalnya masih baru. Plus masi sepi banget juga.

 

Akhir kata, jigeumeun so nyeo shi dae!

Qey.yeon

 

6 responses

  1. Bknnya gk ngeh.. Tp terkhirx itu g mna?
    Mksdx.. Ehm taeyeonnya itu ttp hidup sma kluargax atau menghilang pergi ketempat2 lain?

    Klw sma kluargax, brti.. Other side taeyeon slalu berbuat jhat donk? Jd apa reaksi kluargax dn leeteuk oppa?
    Hho maaf bayak bacok aku y? Hhe

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s