That Day (So, Why did You Love Me?)

Author : Kim Hyora

Tittle : That Day (So, Why did You Love Me?)

Rating : PG 17

Genre : Romance, Sad

Cast : – Park Hyejin

– Shin Dong Ho

– Sung Ha Jung

Disclaimer : Entah ini couple milik siapa u.u

 

***

 

Meeting you was fate

Becoming your friend was a choice

But, fallin’ in love with you…

 

***

 

” Hujan lagi…”

 

Hyejin menghela napas, terdengar seperti lelah karena beberapa hari ini hujan selalu mengganggu aktivitasnya. Kadang-kadang ia membenci hujan, namun begitu menyukainya. Tapi akhir-akhir ini hujan selalu terlihat mengganggu.

 

Sebenarnya aktivitas yang ia jalani tidak begitu penting atau mengesankan. Bahkan terdengar seperti melamun atau seperti orang gila. Sungguh, hanya menatap halte pemberhentian bus di depan cafè langganannya. Itu bisa membuatnya senang.

 

Setiap hari, cowok itu selalu berdiri disana. Ya, kalian tahu kan di mana cowok itu berdiri? Tidak? Tebak saja sendiri atau minta Hyejin memberitahumu. Yang jelas, cowok itu yang selalu membuat Hyejin tersenyum senang. Penggambaran cowok itu? Manis. Tentang mengapa Hyejin suka cowok itu? Tanyakan saja padanya.

 

Dan hujan di beberapa hari ini membuatnya tidak bisa melihat cowok itu. Entah kenapa perasaannya kosong setiap kali cowok itu tidak ada. Padahal ia tahu persis kalau cowok itu tak mengenalnya, dan ia sendiripun begitu. Ia hanya tahu kalau cowok itu selalu duduk di halte itu untuk menunggu bus saat jam 12 siang.

 

Hyejin melirik arloji-nya. Sudah 1 jam dia hanya duduk di cafè. Dan ia sudah pasti akan ketinggalan mata pelajaran Kimia kalau tidak segera beranjak. Atau bahkan akan terlambat dan kena marah Mr. Kim. Sebenarnya Hyejin tidak mau itu terjadi, tapi ia sungguh malas masuk ke sekolah.

 

Ia mengambil jadwal pelajaran siang. Jadi ia cukup santai kalau harus menatap cowok itu dari cafè. Ia juga jarang ketinggalan mata pelajaran Kimia karena ia hanya 30 menit memandang cowok itu hingga naik bus. Lalu ia sendiri menjalankan sepeda motornya menuju sekolah.

 

Kau dimana? Mr. Kim hari ini tidak masuk.

 

Hyejin menutup flip ponselnya dan tersenyum. Hujan seharusnya tidak membuatnya menunggu seperti ini. Apalagi dia juga tidak bertemu dengan cowok idamannya itu kan? Ah, ini hanya membuang waktu saja.

 

” Nona, cafè kami penuh, bisakah kau membagi meja-mu dengan satu tamu lain?” seorang pelayan membuat Hyejin agak terkejut. Karena ia sedang melamun dan mencari alasan kenapa ia tidak masuk sekolah. Ini hujan!

 

Hyejin tersenyum dan mengangguk. Sebagai pengunjung cafè yang baik, ia mempersilakan pelayan itu mengajak satu tamu untuk bergabung dengannya. Setelah menatap ke sekeliling, ia mendapati seorang cowok tegap dengan senyum manisnya itu sedang berdiri di hadapan Hyejin.

 

Shock. Hyejin bahkan tidak membalas senyuman cowok itu. Terlalu kaget. Senangpun sepertinya tidak sempat karena terhalang rasa kagetnya itu. Berlebihan bukan? Yah, Hyejin memang begitu. Ia terlalu berlebihan dalam menyikapi sesuatu yang sebenarnya biasa saja.

 

” Nona, apa kau keberatan duduk bersamaku?” tanya cowok itu. Ya, itu cowok yang selama ini hanya bisa Hyejin lihat dari jauh. Tapi sekarang? Lihat! membalas senyum cowok itu saja tidak dilakukan oleh cewek menyebalkan ini. ” Nona?” cowok itu berusaha mengembalikan Hyejin ke alam sadar. Tapi Hyejin? ” Kalau kau memang keberatan aku tidak apa-apa, Nona.”

 

Cowok itu beranjak dan segera merapikan kembali barangnya. Ia kembali menatap Hyejin yang masih diam. Agak takut juga karena Hyejin begitu menyeramkan. Ada sosok misterius. Ya, misterius yang konyol. Cowok itu benar-benar tampankah sehingga membuat Hyejin sampai seperti ini bodohnya? Lagipula, mana ada cowok tampan membuat cewek bodoh menjadi lebih bodoh?

 

Sesaat kemudian, cowok itu juga tersadar. Lalu ia membenahi tas punggung-nya sebelum pergi. Dan baru satu langkah, sebuah tangan menahannya. Ah, tangan bergelang banyak begitu siapapun tahu pemiliknya. Itu kan tangan Hyejin. Cewek yang mendadak menjadi lebih bodoh dari sebelumnya ketika melihat seorang cowok idamannya duduk di hadapannya.

 

” Kau kenapa, Nona? Apakah aku membawa salah satu barangmu?” tanya cowok itu saat Hyejin menahannya pergi. Hyejin menggeleng. Cukup terlihat bodoh dari yang tadi. ” Lantas?”

 

” Eung, aku tidak keberatan jika kau duduk di sini. Aku hanya sedang merasa tidak enak badan. Maaf.” jelas Hyejin ragu. Tidak enak badan bagaimana? Badan kurusnya segar begitu. Kenapa Hyejin selalu menciptakan nuansa bodoh hari ini? Apa karena ada cowok itu di dekatnya?

 

Cowok itu tersenyum dan kembali duduk. ” It’s okay. Itu bukan masalah besar.” katanya sambil memanggil pelayan dan memesan sebuah coffee milk.

 

Hyejin diam lagi. Ia benar-benar merasa speechless berdekatan dengan cowok ini. Pasalnya, cowok ini sekarang ada dihadapannya. Tepat di depan kedua bola matanya. Dan semua lekuk-lekuk wajahnya yang sempurna   menurut Hyejin  itu dapat Hyejin lihat secara mendetail dan tidak dari jarak yang jauh.

 

Cowok itu bergerak membuka sebuah buku. Hyejin sedikit mengintip dan ternyata cowok itu membaca novel. Hyejin memutar bola matanya. Kenapa ada cowok seperti dia? Suka novel? Bukankah novel hanya untuk remaja cewek yang doyan memakan buku ya?

 

Hyejin sendiri tidak menyukai bacaan tebal seperti itu. Baca komik saja sudah untung, yang penting mau membaca. Lagipula bagi Hyejin, novel itu hanya membuat semua orang yang membacanya mengkhayal. Tidak bersikap realistis dan selalu dramatis. Herannya, banyak sekali peminat novel-novel bersifat tidak realistis dan dramatis seperti itu.

 

Hyejin kembali menatap novel yang dibaca cowok itu. Twilight Saga : New Moon. Hyejin mengerutkan keningnya. Ia baru tahu film itu ada bukunya. Apakah pembuat novel ini mengambil cerita dari filmnya? Ah, entahlah. Kenapa Hyejin sebodoh ini?

 

Detik demi detik, menit demi menit berlalu. Hyejin menelungkupkan kepalanya di meja. Hujan belum juga berhenti. Padahal duduk di sini sepanjang hujan bersama cowok yang doyan baca novel seperti ini membuatnya bosan. Padahal coffee milk yang dipesan cowok itu sudah di antar beberapa menit yang lalu. Tapi cowok itu masih juga betah membaca buku setebal itu.

 

” Memang apa yang menarik dari membaca buku tebal seperti itu?” tanya Hyejin spontan. Cowok itu tertawa, membuat Hyejin bingung hingga mengerutkan keningnya.

 

Dan pada akhirnya, Hyejin mengerti kenapa cowok dihadapannya ini menyukai buku dan sejenisnya. Baginya, tidak ada yang spesial dari membaca buku. Apapun yang diucapkan cowok itu tentang buku, Hyejin tidak tertarik. Sama sekali tidak. Hyejin lebih tertarik pada lekuk-lekuk wajah yang bergerak seiring dengan gerakan cowok itu ketika sedang berbicara.

 

Tak lama, Hujan berhenti. Hyejin segera bergegas dan pulang ke rumah. Untung saja di rumah tidak ada siapa-siapa. Jadi tidak mungkin ada yang mencurigainya kenapa jam segini sudah pulang ke rumah.

 

” Uhm, Nona, boleh tahu namamu?” tanya cowok itu sambil menahan tangan Hyejin.

 

” Tentu.”

 

***

 

Hyejin memandang langit yang cerah lama kelamaan menjadi abu-abu gelap. Ia yakin sebentar lagi turun hujan. Hyejin cepat-cepat mengayuh sepedanya dan melewati cafè tempat ia selalu menunggu datangnya Dongho di halte itu. Sekarang? Ia sudah tak melakukannya lagi sejak satu bulan yang lalu.

 

Dongho, nama cowok yang selalu ditunggu Hyejin. Yang selalu menunggu bus di halte itu. Entah kenapa, ia selalu malas datang ke cafè itu. Ia selalu ingin cepat-cepat pulang dan tidak ingin menghabiskan uangnya dengan duduk di cafè itu selama satu jam seperti orang bodoh   yang benar-benar bodoh.

 

Belum sampai jauh Hyejin melewati halte, hujan turun langsung deras. Dan tanpa pikir panjang, Hyejin langsung berbalik dan masuk ke dalam halte untuk berteduh. Hanya ada satu orang di dalam halte selain dia. Dan itu Dongho.

 

” Dongho-ssi?” panggil Hyejin sambil mendekati Dongho yang sedang mendekap kedua tubuhnya. Agak heran, karena tadi ia tidak melihat siapa-siapa di halte itu.

 

Dongho terlihat kedinginan dan basah kuyup. Mungkin ia juga baru datang saat hujan turun langsung deras. Hyejin menatap Dongho yang terus mendekap tubuhnya. Sepertinya tidak mendengar bahwa Hyejin memanggilnya.

 

” Kau kedinginan? Pakai saja jaketku, Dongho-ssi.” kata Hyejin sambil membuka jaketnya dan menyelimuti Dongho dengan itu.

 

Dongho menoleh dan tersenyum. Hyejin pikir ia akan bilang terima kasih. Tapi, ” Jaketmu kan juga basah Hyejin-ssi. Bagaimana ini menghangatkanku?” ledek Dongho, Hyejin langsung salah tingkah. Ah, Hyejin memang benar-benar bodoh.

 

” Huh, tapi setidaknya membuatmu agak hangat! Lagipula basahnya tidak sebasah dirimu, Dongho-ssi.” elak Hyejin kesal. Dongho tertawa keras.

 

Hyejin diam. Tawa Dongho sangat keras tapi mampu membuat Hyejin tertegun. Wajah tampannya dan juga matanya yang menyipit itu membuat jantung Hyejin berdebar sangat kencang. Jatuh cintakah ia pada Dongho? Tidak mungkin.

 

” Kenapa diam?” tanya Dongho yang sudah berhenti tertawa. Habis rasanya aneh juga tertawa sendirian. Padahal ada Hyejin yang duduk disampingnya.

 

” Eung, hujannya sudah reda. Bagaimana kalau kita pulang? Rumahmu ke arah mana?” tanya Hyejin tanpa memedulikan ucapan Dongho.

 

” Aku tidak ingin pulang. Boleh aku ikut ke rumahmu?” tanya Dongho meminta izin. Hyejin terkejut. Baru kali ini ada cowok yang main ke rumahnya. Bahkan cowok-cowok teman sekelasnya saja tidak pernah ia bawa ke rumah, hanya teman cewek. ” Kau keberatan Hyejin-ssi?”

 

” Ah? Ti, tidak kok. Ayo ikut aku.”

 

Hyejin dan Dongho berjalan beriringan di jalan yang basah. Terkadang, ada saja satu titik embun yang jatuh ke rambut mereka dan membuat sejuk mereka. Tapi entah kenapa, mereka malah diam-diaman seperti ini. Seperti canggung, padahal daritadi di halte hanya berdua saja.

 

Apa karena Hyejin gugup? Atau bahkan Dongho lebih gugup lagi? Rasanya aneh kalau Hyejin yang cerewet begini jadi pendiam jika di dekat Dongho. Ingat kan saat pertama kali mereka bertemu? Benar-benar Hyejin yang bodoh.

 

Sampai di rumah Hyejin, tidak ada orang. Ia memarkirkan sepeda-nya lalu mengambil kunci di rak sepatu. Yeah, hari ini Hyejin memakai sepeda dan bukannya sepeda motor yang biasa ia pakai sekolah. Dongho mengikuti Hyejin begitu Hyejin masuk ke dalam rumah.

 

” Duduk Dongho-ssi. Aku akan membuatkan minuman hangat untukmu.” kata Hyejin sambil berjalan menuju dapur. Tapi sebelumnya ia mengambilkan sebuah handuk hangat untuk Dongho.

 

Di dapur, Hyejin membuatkan secangkir hot coffee milk untuk Dongho. Hyejin mengambil kesimpulan bahwa Dongho menyukai hot coffee milk karena saat pertama kali bertemu, minuman itulah yang dipesan Dongho. Sambil melamun, tanpa sadar Hyejin mengaduk minuman buatannya terlalu lama.

 

” Hyejin-ssi! Kau lama sekali?” teriak Dongho dari ruang tamu. Hyejin segera tersadar dan buru-buru menyelesaikan minuman untuk Dongho.

 

Hyejin kembali ke ruang tamu dan mendapati Dongho tengah menyelimuti dirinya dengan handuk yang ia berikan tadi. Rambut basahnya belum kering sepenuhnya. Tapi itu cukup membuat jantung Hyejin berdebar untuk yang kedua kalinya.

 

” Kau membuatkan aku hot coffee milk?” tanya Dongho seperti baru diberikan kejutan besar yang sangat mengecewakan.

 

” Eung, ya. Waeyo? Kupikir kau menyukainya.” jawab Hyejin agak merasa bersalah karena melihat raut wajah Dongho.

 

” Aku hanya menyukainya ketika aku rindu pada ibuku.” kata Dongho. Wajahnya sangat sedih. Hyejin benar-benar merasa tidak enak dan langsung merutuki kebodohan dirinya.

 

” Mi, mianhae Dongho-ssi. Aku akan segera menggantinya dengan teh.” Hyejin buru-buru mengambil cangkir di meja dan membawanya ke dapur. Tapi belum sampai dapur, kakinya terpeleset hingga cangkirnya terlempar ke atas.

 

Dongho dengan cepat melindungi tubuh Hyejin dari serangan cangkir dan air panas dari hot coffee milk itu dengan cara memeluk Hyejin sehingga Dongho lah yang terkena panasnya minuman dan timpukan cangkir beserta piringnya. Untung saja tidak pecah dan hanya retak sedikit.

 

” Mianhae, seharusnya aku melarangmu.” bisik Dongho ditelinga Hyejin yang masih dalam pelukannya. Sekali lagi, shockdan tidak bisa bicara apa-apa kecuali diam. Ia kaget bukan karena terpeleset dan jatuh   merupakan hal biasa untuk Hyejin   tapi karena pelukan Dongho yang hangat dan benar-benar melindunginya.

 

Dongho melepaskan pelukannya dan menatap Hyejin yang masih diam. Ia menyadari bahwa Hyejin terlihat sangat cantik jika dilihat dari dekat. Lekukan wajahnya yang terasa sempurna di mata Dongho. Dagunya dan hidungnya yang membuat Dongho tidak ingin berhenti menatap Hyejin. Bibir Hyejin yang pink agak mungil itu juga amat menggemaskan baginya.

 

Dongho mendekatkan wajahnya ke wajah Hyejin. Membuat jantung Hyejin bekerja 2 kali lebih keras dari sebelumnya. Ia bingung apa yang harus dilakukan. Dongho masih asing untuknya, belum kenal sepenuhnya. Tapi, kenapa berani sekali ingin menciumnya?

 

” Badanku seperti melepuh.” bisiknya lagi. Hyejin dengan sigap berdiri dan membantu Dongho bangun. Ia mendudukan Dongho di sofa dan mengambil sebuah lotion pereda luka bakar. Semoga saja lotion ini bekerja dengan baik. Harapnya dalam hati.

 

Ia mengambil handuk yang menyelimuti tubuh Dongho dan mengangkat baju Dongho sehingga terlihatlah merah besar di punggung bagian kanan atas. Hyejin mengoleskan pada tangannya kemudian dibalurkan ke punggung Dongho yang memerah.

 

Dongho mendesis agak panjang ketika kulit tangan Hyejin menyentuh kulitnya. Perih sekali rasanya. Juga panasnya Lotion langsung bekerja. Hyejin yang mendengar suara desisan Dongho langsung memelankan pekerjaannya agar meringankan rasa sakit Dongho.

 

” Mianhae, aku membuatmu begini.” ucap Hyejin sambil kembali menurunkan baju Dongho yang sudah agak kering.

 

” Gwenchanayo. Tapi ngomong-ngomong, lotionnya yang panas atau suhu tubuhmu yang panas ya?” tanya Dongho. Karena begitu Hyejin melepaskan sentuhannya, Dongho merasakan seperti biasa saja, tidak panas sama sekali.

 

” Ah, mungkin karena aku belum ganti baju. Tunggu ya Dongho-ssi, aku akan berganti baju sebentar.” Hyejin pun pergi ke kamarnya untuk berganti baju. Seketika, ia ingat baju laki-laki yang pernah di belinya untuk seseorang.

 

***

 

I want to keep looking at you

I wanna feel you more

I wanna hold you forever

I wanna feel you more

Since the day I meet you

I haven’t told you about my feelings!

But today…

 

***

 

” Hyejin-ah, main kerumahmu yuk.” ajak Krystal sambil menggandeng Sulli disampingnya. Hyejin yang sedang membereskan bukunya langsung memandang kedua temannya itu. Teringat Dongho yang menunggu di taman.

 

” Aku ada janji dengan Dongho.” kata Hyejin sambil nyengir.

 

Krystal dan Sulli langsung berpandangan dan ikut tersenyum lebar. ” Selalu saja kencan. Memang kalian sudah jadian?”

 

Pertanyaan Sulli tadi membawa bencana besar untuk otaknya. Ketika mengendarai sepedapun konsentrasinya buyar karena pertanyaan Sulli yang benar-benar menjurus itu. Benar, Dongho memang belum menembaknya. Mengutarakan saja belum.

 

Sampai di taman, Hyejin langsung mencari-cari sosok Dongho. Taman sore ini ramai sekali, sehingga menyulitkan Hyejin untuk mencari Dongho. Ia juga tidak punya nomor ponsel Dongho, juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan dalam keadaan begini.

 

Tiba-tiba seseorang menutup matanya dari belakang. Hyejin tersenyum, dari wanginya, Hyejin sudah tahu siapa yang menutup matanya begitu. Tapi tumben Dongho melakukannya? Karena bagi Hyejin, hanya satu orang yang selalu melakukan itu untuknya.

 

Hyejin berbalik dan, ” Taemin?” Hyejin diam. Cowok ini, cowok berambut agak kemerahan dengan senyum yang dulu sangat ia damba-dambakan.

 

Hyejin kecewa, kenapa Dongho belum muncul juga? Memangnya Dongho lupa dengan janji yang dia buat sendiri? Dengan agak kesal, Hyejin menjauh dari Taemin. Tapi Taemin segera menahannya dan menarik Hyejin ke dalam pelukannya. Lalu Taemin menatap wajah Hyejin dalam.

 

Hyejin balas menatap Taemin. Mata yang pernah ia damba-dambakan, teduh dan hangat. Hidung yang selalu ia sentuh. Pipi yang tak pernah luput dari cubitannya. Juga semua lekuk wajah yang selalu Hyejin suka. Kenapa Taemin harus kembali di saat seperti ini? Saat semuanya telah berubah.

 

” Jeongmal bogoshippeo, Hyejin-ah.” ucap Taemin. Hyejin diam saja. Ia tidak merindukan Taemin, sangat tidak merindukannya. Entah kenapa.

 

” Nado..” kalimat itu baru saja keluar dari bibirnya. Tidak diinginkan dan keluar seenaknya saja.

 

” Jinjja?”

 

” Sudahlah, Taemin-ah, aku mau mencari temanku dulu. Bye~”

 

Hyejin pergi begitu saja meninggalkan Taemin yang menatapnya sendu. Dalam hati, Hyejin merutuki dirinya yang begitu bodoh bersikap seperti itu pada orang yang pernah ia sayang. Tapi mau bagaimana lagi? Rasa itu benar-benar sudah hilang.

 

Hyejin memutari taman untuk mendapatkan Dongho. Tapi setelah 30 menit, Hyejin tidak juga melihat Dongho. Menyerah, Hyejin pulang dengan kesal.

 

Sebelum sampai rumah, hujan sudah turun dengan derasnya. Untung tidak jauh dari tempatnya, ada halte yang biasa Dongho gunakan untuk naik bus. Ah, mengingat Dongho sama saja mengingat kesalahannya hari ini. Menyebalkan!

 

Seperti biasa, halte selalu sepi saat hujan. Kali ini dia hanya sendiri. Hujan, halte, mengingatkan Hyejin akan Dongho. Kenapa rasanya hari ini Hyejin sangat merindukan Dongho? Padahal hampir setiap hari mereka berjanji untuk bertemu.

 

Hyejin akhirnya memilih diam tanpa mengingat apa-apa tentang Dongho. Ia ingin berhenti menyalahkan Dongho, karena ini bukan sepenuhnya salah Dongho. Salah mereka yang tidak meminta nomor ponsel masing-masing.

 

” Hyejin-ah?” seseorang memegang bahunya. Hyejin mengenal suara itu, itu suara Dongho. Ia mendongak.

 

” Wae? Kenapa kau tidak pergi ke taman?!” omel Hyejin kesal. Dongho terdiam.

 

” Aku, aku sudah pergi ke taman tadi.” ucap Dongho pelan. ” Dan aku melihatmu.”

 

” Lalu, kenapa kau tidak menghampiriku? Kau hanya ingin mempermainkan aku saja?” Hyejin tersengar masih sewot.

 

” Ani, bukan gitu. Aku tidak ingin mengganggumu dengan pacarmu.” Dongho semakin memelankan suaranya, namun tetap saja Hyejin mampu mendengar suara kecil Dongho.

 

Hyejin diam saja, ia tidak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa menatap Dongho yang basah kuyup di hadapannya. Ah, pasti dia melihat dirinya dan Taemin berpelukan tadi.

 

” Dia, dia bukan pacarku, Dongho-ah!” Hyejin berteriak kesal. ” Aku benci sekali padanya! Pokoknya dia bukan pacarku!”

 

” Lantas, kenapa kau mau dipeluk olehnya? Di tatap seperti itu olehnya?” pertanyaan Dongho semakin memojokkan. Ia tidak bisa menolak pelukan dari Taemin, tidak bisa menghindari tatapan Taemin. Jika Dongho yang melakukannya, sudah pasti Hyejin akan melakukan lebih.

 

Tiba-tiba Dongho menggenggam tangannya dan mendekat ke arahnya. Ia menaikkan dagu Hyejin agar bisa menatap ke dalam matanya. Hyejin diam, membalas tatapan Dongho yang menusuk ke dalam matanya. Dongho memindahkan tangannya dari dagu Hyejin ke dahinya, membenarkan letak poni-nya yang agak berantakan.

 

Dongho mendekatkan wajahnya ke wajah Hyejin. Lalu melewati wajahnya dan memeluk pinggang Hyejin, menaruh dagunya di bahu Hyejin dan tangan yang tadinya menggenggam Hyejin sekarang beralih pada rambut Hyejin yang basah. Mengusapnya pelan.

 

Nyaman, sangat nyaman. Pelukan Dongho benar-benar membuatnya nyaman dan hangat. Tanpa di rencanakan, air mata Hyejin turun begitu saja.

 

” Kau menangis?” tanya Dongho tanpa melepaskan pelukannya. Hyejin diam, maka Dongho mengendurkan pelukannya. Namun ditahan oleh Hyejin. Jadi Dongho tetap memeluknya. Ia tidak ingin Dongho melihat air matanya.

 

Hyejin melepas pelukan Dongho dan menatap Dongho, lalu tersenyum sangat manis. Bibir pink mungilnya membentuk lengkungan yang sangat cantik. Dongho mengusap bibir mungil pink itu. Ia merapatkan tubuhnya dan tubuh Hyejin, menaruh kedua tangan Hyejin ke belakang lehernya dan ia sendiri memeluk pinggang Hyejin. Lambat, Dongho mulai menghapus sedikit demi sedikit jarak yang mereka ciptakan dan akhirnya hilang.

 

” Hyejin-ah, saranghae.. I’m promise to take care of you and loving you forever…”

 

***

 

One day

I caught myself smilling for no reasons

Then I realized

I was thinking of you…

 

***

 

Mr. Kim lagi-lagi tidak masuk kelas. Tapi itu bukan masalah untuk murid-murid kelas IPA 5. Yang jelas hari ini mereka tidak perlu belajar untuk ulangan Kimia yang selalu dilakukan oleh Mr. Kim seminggu sekali.

 

Hyejin diam saja ketika teman-temannya mulai ribut dengan berbagai celotehan. Ia asyik dengan dunia yang ia ciptakan sendiri. Asyik dengan pikiran yang selalu memenuhi otaknya sejak kemarin.

 

Dongho dan Hyejin memang kemarin resmi berpacaran. Setelah Dongho berjanji akan selalu menjaganya dan mencintainya selamanya. Semoga saja hal itu benar. Semoga Dongho tidak mengingkari janji yang dia buat sendiri.

 

” Hyejin-ah, kenapa kau tersenyum sendiri?” tanya Krystal sambil menatap wajah Hyejin yang berseri-seri.

 

” Euh? Aku senyum-senyum sendiri? Aniyo! Tidak mungkin aku tersenyum-senyum sendiri.” elak Hyejin sambil tertawa kecil.

 

” Kalau tidak percaya lihat saja ini. Dari tadi wajahmu tidak berubah.” kata Sulli sambil menunjukkan kamera-nya pada Hyejin. Yeah, foto itu memang dirinya yang sedang tersenyum sambil menopang dagunya. Kadang-kadang ia juga tertawa.

 

Hyejin diam. Dari tadi ia hanya mengingat kejadian kemarin dan ciuman pertamanya dengan Dongho. Juga hari-hari yang biasa ia lalui bersama Dongho. Senyumnya di foto itu sangat bahagia. Sangat menyenangkan dan tanpa apapun yang menyelip di raut wajahnya.

 

Hyejin tersenyum lagi, kali ini lebih manis dari yang sebelumnya. Lalu menatap kedua temannya dengan tatapan bahagia.

 

” Aku dan Dongho…”

 

***

 

1st Month Anniv

 

Hujan, Hyejin mendengus kesal. Padahal ia dan Dongho sudah berencana akan pergi. Sementara itu kakaknya, Hyora dan pacarnya, Kevin, sedang bermesraan di kamar. Ia dan Dongho? Di ruang tamu sambil menatap jendela yang mulai berembun karena hujan.

 

Hyejin menekuk lutunya dan menaruh dagunya diatas lutut. Tangan kanannya mengetuk-ngetuk kaca jendela. Bibirnya mengerucut, kesal. Dongho yang disampingnya hanya tertawa kecil sambil mengusap rambut Hyejin yang agak berantakan.

 

Bosan, Hyejin menyandarkan badannya ke dada Dongho. Posisi Hyejin membelakangi Dongho sehingga mereka berdua menghadap ke arah yang sama. Punggung Hyejin rapat dengan dada Dongho yang bidang. Dan kepala Hyejin tepat di bahu Dongho. Tangan Dongho pun melingkar di perut Hyejin.

 

” Begini juga tidak masalah. Tidak usah pergi ya, chagi..” Dongho mengecup pipi kiri Hyejin yang chubby itu.

 

” Ne. Begini saja ya sampai malam. Haha!” canda Hyejin sambil menggenggam tangan Dongho. Mengusapkan punggung telapak tangan Dongho dengan ibu jarinya.

 

” Tidak masalah.”

 

2nd Month Anniv

 

Cafè tempat Hyejin dan Dongho bertemu memang tidak pernah sepi. Selalu saja ramai. Beruntung, tempat pertama kali bertemu tidak ada yang menduduki. Hyejin tersenyum senang dan langsung menarik Dongho ke tempat duduk itu.

 

Hyejin segera memesan Hot Chocholate Vanilla dan Dongho Hot Coffee Milk. Hyejin menatap Dongho dengan senyum. Ia tahu cowok dihadapannya ini sedang rindu akan ibunya. Tangan kanannya terulur dan mengusap pipi Dongho pelan.

 

Senyum Hyejin memang jadi segalanya untuk Dongho. Manis dan berkesan, apalagi jika melihat bibir mungilnya yang berwarna pink itu, Hyejin jadi semakin manis. Dongho, melihat Hyejin tersenyum, hati dan bibirnya ikut tersenyum. Perasaannya menjadi hangat dan tenang.

 

Tak lama, pesanan mereka datang. Dan seorang pelayan memberikan kotak Tiffany berbentuk hati dan berwarna pink. Dongho memberi isyarat terimakasih dan pelayan itu pergi. Hyejin memperhatikan kotak itu dengan seksama. Itu untuk siapa?

 

Dongho membuka kotak itu dan mengeluarkan seuntai kalung berinisial DH sebagai bandulnya. Hyejin terkejut senang. Dongho baik sekali padanya. Hyejin mengambil kalung itu dan menatapnya. Ia bergumam, cantik.

 

” Kau menyukainya?” tanya Dongho sambil tersenyum manis. Hyejin mengangguk.

 

3rd Month Anniv

 

” Sudah beberapa hari ini Dongho tidak mengunjungi ya?” Hyora bergumam pelan sambil mengaduk teh-nya. Hyejin menatap lesu kakaknya. Memang sudah hampir 1 minggu Dongho tidak mengunjunginya.

 

Hyejin tidak tahu Dongho kemana. Ponselnya tidak aktif selama satu minggu. Dongho juga tidak mengirimi kabar apapun untuknya. Hyejin rindu oppa… ucapnya dalam hati. Ia tak mempedulikan Hyora yang kini tengah bermain laptop dengan Kevin.

 

” YA! Hyejin-ah, lebih baik kau berfoto bersama kami saja! Lebih seru daripada memikirkan Dongho.” ajak Kevin. Hyejin tetap diam, biar saja.

 

Tiba-tiba pintu rumah terketuk. Hyejin langsung berlari menuju pintu. Siapa tahu itu Dongho. Dengan cepat, ia membuka kunci pintu dan membuka pintunya. Kecewa, tentu saja. Yang ada di hadapannya bukan Dongho, tapi tukang pos. Ada apa malam-malam tukang pos mengantar surat? Aneh.

 

Tukang pos itu memberikan sebuah kotak cantik berbentuk hati serta sebuah kado bulat yang entah apa isinya. Setelah mengatakan terimakasih, Hyejin membuka kotak cantik itu. Isinya surat dengan wangi apel dan sebuah buku. Hyejin menatap buku itu dengan seksama. Lalu beralih ke kado bulat besar ditangan satu lagi. Ia buka dan isinya boneka. Sebuah boneka beruang yang sedang memeluk bantal hati.

 

Lagi, Hyejin beralih ke kertas yang ada di kotak. Ia membukanya dan membacanya beberapa menit. Kemudian menangis. Dengan cepat ia pergi ke kamar dan mengambil cardigan.

 

” Hyejin-ah? Mau kemana?!”

 

***

 

Lift berhenti di lantai lima. Suasana sepi dan dingin membuat Hyejin merapatkan cardingan kesayangannya. Ia mencari sebuah kamar yang disebutkan dalam kotak tadi. 502, 503, 504… Hyejin berhenti di depan pintu nomor 506. Dengan ragu, ia membuka pintu itu.

 

Hening. Hyejin melangkah masuk dan menutup pintu. Semua yang ada di ruangan besar VIP itu terlihat sembap. Kecuali beberapa laki-laki. Hyejin pikir, ini semua adalah keluarga besar Dongho. Hyejin melangkah ke tempat tidur tempat Dongho berbaring. Ia tak kuasa menahan tangisnya begitu melihat Dongho.

 

Oppa, oppa pucat sekali. Waeyo? Apa yang terjadi pada oppa? Hyejin menjerit dalam hati, ia sudah tak bisa bicara lagi melihat Dongho seperti ini. Oppa, aku disini, katakan padaku, kau kenapa oppa? ia menggenggam erat tangan Dongho yang masih hangat. Napasnya naik turun dengan teratur. Kenapa tidak memberitahuku sejak awal, oppa?

 

Hyejin merasa ada yang memeluknya. Tapi sama sekali tidak merasa tenang. Ia ingin Dongho bangun, itu saja.

 

” Sejak kecil, Dongho memang selalu sakit. Tapi kami semua tidak tahu kalau sakitnya akan mematikan seperti ini. Kami kurang perhatian terhadapnya karena menganggap dia baik-baik saja.” seorang cewek dengan kacamata mendekatinya. ” Aku kakak Dongho, namaku Sooyoung.”

 

” Dokter memvonis hidupnya takkan lama.” kata seorang cowok gendut dengan anting-anting di telinganya. Hyejin semakin menangis keras.

 

Oppa, begitukah? Kau akan meninggalkan aku?

 

***

 

Do you remember that day?

The day when we’ve met for the first time?

I still remember it. Those words you’ve promised.

You said you would care and protect me and only me.

You said you wouldn’t ever leave me.

I believed you. I believed your lied.

 

***

 

Tanpa sepatah kata-pun yang terucap, Dongho pergi begitu saja setelah Hyejin menciumi seluruh wajahnya dan berkatasaranghae ditelinganya. Tiba-tiba alat pendeteksi jantung Dongho berbunyi nyaring. Sangat amat nyaring dan membuat Hyejin seperti benar-benar kehilangan nyawanya.

 

Diam, tak bergerak.

 

Oppa, benarkah ini? tak pernah berhenti Hyejin menyebut kalimat itu. Ia benar-benar tak percaya jika semua ini terjadi. Dongho pergi meninggalkannya tanpa sedikitpun ada kata yang keluar dari bibirnya. Juga sama sekali tidak merespon genggaman tangannya. Ia pergi begitu saja.

 

Tangis Hyejin pecah begitu Dongho sudah rapi dan tampan. Itu adalah Dongho yang dilihatnya setiap hari. Dongho yang selalu ia rindukan. Hanya saja, senyum itu tidak tampak dari bibirnya, juga matanya yang teduh itu tidak terlihat. Oppa, bagaimana caranya kau melihat aku kalau matamu terpejam? Hyejin bicara dalam hati seolah-olah Dongho mendengarnya.

 

Setelah berdoa untuk Dongho, Hyejin ikut ke pemakaman untuk melihat Dongho dikuburkan. Hyejin terus menangis ketika peti Dongho sudah tak terlihat. Kini ia dan Dongho benar-benar jauh. Tidak bisa lagi melihat senyum manis Dongho, juga matanya yang indah dan teduh.

 

Oppa, kau bohong padaku kan? Kau bilang kau tidak akan meninggalkanku! tangisnya pun tidak berhenti saat sampai dirumah. Melihat hal itu, Hyora jadi ikut merasakan kesedihan adiknya. Seminggu tidak diberi kabar dan ditinggalkan dengan cara yang menyakitkan.

 

Dongho-ah, beraninya kau membuat adikku menangis! Hyora mengumpat dalam hati. Meskipun sebenarnya ia juga merindukan Dongho. Selama ini, Hyora sudah menganggap Dongho sebagai adiknya sendiri. Harapannya, Dongho bisa menjadi adik iparnya, namun Tuhan sudah berkehendak.

 

Hyejin tidak beranjak dari sofa dekat jendela. Ia terus melihat keluar dan mengetuk-ngetukkan kaca jendela dengan telunjuknya. Hujan. Sejak Hyejin pulang dari makam, hujan turun dengan deras. Seolah ikut merasakan kesedihan Hyejin.

 

Oppa, aku ingin menyusulmu. Bolehkah? Hyejin memasukkan kepalanya diantara lutut dan tangannya yang tertekuk. Ia benar-benar merasa kehilangan atas Dongho. Baru 3 bulan dan hari ini terjadi sangat cepat. Secepat itukah aku harus kehilanganmu, Oppa? Hyejin terus bergumam dalam hati.

 

Hyejin teringat buku yang diberikan Dongho padanya. Ia membuka buku itu dan langsung membacanya sambil memeluk boneka pemberian Dongho yang diantarkan lewat pos. Buku itu berkisah tentang seorang wanita yang berjuang keras melawan kesedihannya karena ditinggal pergi oleh suaminya. 6 bulan pertama badan wanita itu sangat kurus saking jarangnya makan. Lalu 6 bulan berikutnya, ia mulai mau makan dan belajar hidup tanpa suaminya. Mereka tak memiliki anak. Dan 6 bulan berikutnya lagi, senyum mengembang di bibir cantiknya. Ia sudah menerima kepergian suaminya.

 

Oppa, bagaimana caranya aku merelakanmu? Hyejin tidak berhenti berbicara dalam hatinya. Terus-terusan bicara dalam hati seolah Dongho bisa mendengarnya. Semoga Tuhan mendengar aku. Aku ingin beretemu dengan oppa.

 

***

 

For me everything changed

But for you, it’s still been the same since you left

Holding on the phone, I’m telling myself

I can’t do anything else because you might call me

 

***

 

1 bulan kepergian Dongho. Hyejin masih saja berduka. Ia selalu menangis ketika melihat Dongho. Tidak pernah mau lewat halte, juga tidak mau pergi ke taman. Baginya, itu semua menyakitkan.

 

Sepi, dia tak bisa lagi memeluk Dongho. Tidak bisa lagi melakukan apapun berdua. Ia benar-benar kehilangan Dongho. Seringkali, ia menjenguk Dongho di pemakaman. Memberikannya sebuket bunga dan mengecup nisannya seolah-olah nisan itu kepala Dongho.

 

Perawat makam Dongho sampai iba dibuatnya. Bagaimana tidak, Hyejin selalu datang dengan wajah murung. Tidak pernah tersenyum dan selalu menangis saat berhadapan dengan makam Dongho. Sudah 1 bulan, tapi bayangan Dongho, senyumannya, tawanya, matanya, masih melekat erat dalam ingatannya.

 

Matanya sudah lelah, tapi ia sendiri tidak bisa menghentikan tangis yang selalu datang. Ia terlalu mencintai Dongho-kah? Mengingat seberapa sering ia menepis perasaan itu. Perasaan yang tidak pernah mau dia akui sebelum Dongho menembaknya. Memintanya untuk menjadi kekasihnya.

 

Oppa, jeongmal bogoshippeo!

 

***

 

You were my reasons to life

You were everything I’ve ever wanted

You it’s me. Who used to care about no one else but you

Why? Why are you leaving from my side?

So, Why did you love me?!

 

***

 

Karena kamu adalah alasan kenapa aku bertahan hidup.

Kamu adalah alasan kenapa aku masih bisa bernapas.

Kamu adalah alasan kenapa aku masih bisa tersenyum

kamu adalah alasan kenapa aku tidak merasa sakit

Kamu adalah segalanya untuk hidupku Hyejin-ah

Aku tidak ingin menyakitimu

Aku tidak ingin membuatmu menangis

Aku tidak ingin membuatmu bersedih

Mianhae. Aku menyakitimu

Mianhae. Aku melihat air matamu

Mianhae. Aku meninggalkanmu.

Seandainya Tuhan memberitahuku tentang engkau sebelum kita bertemu, aku pasti bisa bertahan untuk hidup lebih lama lagi Hyejin chagiya..

Seandainya aku menyadari kehadiranmu jauh sebelum hari itu, kita pasti akan lebih lama bersama Hyejin chagiya..

Mianhaeyo, aku tidak bisa lagi menjagamu dengan tanganku

Mianhaeyo, aku tidak bisa lagi tersenyum untukmu

Mianhaeyo, aku mencintaimu lebih dari yang bisa aku katakan

Kamu adalah alasan untuk semuanya Hyejin Chagiya.

Saranghae~

Salam sayang, Dongho.

 

***

 

Rain fall and I know you, you know me.

Rain fall and I believe you are my friend.

Rain fall and I and you became we.

Rain fall and we just stayed at home.

Rain fall and you left.

Rain fall and I and him meet.

Like we are last time…

 

***

 

” Nona, cafè kami sedang penuh. Bisakah kau membagi tempatmu dengan tamu lain?” tanya seorang pelayan pada Hyejin yang sedang membaca sebuah novel.

 

Hyejin mendongak, lalu mengangguk dan tersenyum. Tak lama, seorang cowok duduk dihadapannya sambil tersenyum. Hyejin tertegun, cowok dihadapannya benar-benar mirip Dongho. Matanyapun begitu. Kenapa cowok ini bisa mirip sekali dengan Dongho?

 

Apakah cowok dihadapannya ini adalah pengganti Dongho dari Tuhan? Ah, aniyo! Hyejin sama sekali tidak berniat untuk berdekatan dengan cowok di hadapannya ini. Lagipula, penampilannya jelas jauh berbeda dengan Dongho. Dongho lebih rapi, namun santai. Kalau cowok di hadapannya ini terkesan cuek dan berantakan.

 

Tapi, cowok dihadapannya ini mirip sekalo dengan Dongho. Hyejin menyesap Hot Coffee Milk yang dipesan tadi. Lalu kembali membaca novel. Tapi sayangnya, Hyejin sulit berkonsentrasi. Cwowok dihadapannya ini tidak mengganggu, tapi entah kenapa membuatnya sulit untuk berkonsentrasi.

 

Hyejin menyesap lagi Hot Coffee Milk miliknya. Sudah menjadi kebiasaan Hyejin untuk meminum Hot Coffee Milk sebelum ia berangkat kuliah. Ia ingin selalu mengingat Dongho. Juga dengan sebuah novel. Semenjak kepergian Dongho, Hyejin lebih sering menghabiskan waktu dengan novel dan juga Hot Coffee Milk. Jika Dongho meminumnya karena rindu ibunya, maka Hyejin meminumnya karena rindu Dongho.

 

“ Nona, kau baca novel?” tanya cowok itu. Hyejin hanya tersenyum lalu mengangguk. “ Memang apa yang kau lihat dari novel? Tidak realistis begitu.” Cibir cowok itu, Hyejin diam saja. Bukan karena kesal. Terlebih karena ia teringat akan prinsipnya dulu, sama dengan cowok dihadapannya ini.

 

Lagi, Hyejin hanya tersenyum, lalu kembali melanjutkan bacanya. Sementara cowok dihadapannya hanya meminum jus-nya sambil sesekali melihat keluar jendela. Diam-diam, Hyejin menatap cowok dihadapannya. Lekuk wajahnya mirip dengan Dongho, itulah yang membuatnya sulit kosentrasi. Juga mata dan senyumnya.

 

“ Oh ya, namaku Sungha, kau?”

 

***

 

Hujan, dengan cepat Hyejin berlari menuju halte terdekat. Ternyata halte tempat dulu Dongho selalu menunggu bus. Ia menghela napas, ini sudah satu tahun semenjak kepergian Dongho. Bahkan Hyora sudah menikah dengan Kevin. Sekarang Hyora sedang hamil, sementara Hyejin? Ia baru masuk kuliah satu bulan yang lalu. Tepatnya saat ia bertemu dengan Sungha.

 

Ah iya, Sungha. Cowok yang mirip dengan Dongho. Yang bertemu dengannya di cafe sekitar satu bulan yang lalu. Hyejin jadi tersenyum sendiri jika mengingat hal itu. Itu benar-benar mirip pertemuannya dengan Dongho.

 

” Nona Hyejin?”

 

Hyejin menoleh. Cowok itu, yang baru saja masuk ke dalam pikirannya, tiba-tiba ada di hadapannya. Kali ini gaya pakaiannya lebih rapi, sepertinya baru pulang kuliah. Hyejin melihat Dongho ada dalam diri Sungha. Namun, cepat-cepat ia tepis pikiran itu. Dongho tetaplah Dongho!

 

” Nona kau kedinginan? Ini pakai saja jaketku.” Sungha melepas jaketnya yang basah dan menyelimuti ke punggung Hyejin. Hyejin tertawa kecil. ” Wae? Kenapa kau tertawa?”

 

” Bagaimana caranya menghangatkanku? Jaketmu basah, Sungha-ssi…”

 

***

 

The End

5 responses

  1. Aaaaa ceritanya sedih :”( tapi syukur hyejin bisa tetep berjuang(?)’-‘)/ ohiya,itu castnya ada pacarku ;A; sungha jung._.v ohya,nice fanfiction min^^ keep writing ne😉

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s