You & I (PART ONE)

Author : Miyuyu

Genre : Romance

Main Cast : Xi Lu Han. Han Re Na

NB : gw cuma ngambil Lu Han dari semua member EXO. jadi disini fokus sama Lu Han. Ga ada member EXO lain. Terus ini beda banget sama Real Life-nya. Gunakan imajinasimu, guys!😉

PART ONE

we don’t know each other. we don’t know the destiny will be.


Gadis itu terdiam di depan layar komputernya. Matanya yang hitam bulat tersorot penuh pada layar komputer yang menyala terang di dalam kamarnya. Komputer itu sangat berpengaruh dalam kamar itu, karena sinar terang itu hanya berasal dari komputer tuanya. Sejarahnya sangat panjang mengenai bagaimana gadis berambut panjang itu lebih menyukai gelap daripada terang, bagaimana gadis itu membiarkan lampu rumahnya tak berfungsi sama sekali, dan bagaimana gadis itu menghabiskan sisa hidupnya didepan layar komputernya.

Cting! sebuah pemberitahuan muncul di dalam layar komputernya. Gadis itu tersenyum dan mengarahkan kursornya pada pemberitahuan itu.

aku sudah siap, eonnie..

Gadis itu memantapkan hatinya, lalu beranjak dari kursinya dan melesat cepat keluar dari rumahnya. Tangannya menyambar sebuah buku yang selalu ia letakkan disamping pintu rumahnya. Buku yang selama ini membuatnya tersenyum senang.

—-You & I—-

“Xi Lu Han, seorang artis pemula yang kemampuan aktingnya tidak bisa diremehkan, mendadak mundur dari drama yang sedang ia bintangi. Tidak ada keterangan dari pihak Xi Lu Han sendiri. Bahkan sutradara yang menangani drama itu hanya mengedikkan bahu saat ditanya soal kemunduran Xi Lu Han. Terlihat bahwa ia sangat marah oleh keputusan mendadak itu.”

“Sudah puas?”

Tanpa menolehpun Lu Han tahu itu adalah suara Manager Park. Hatinya selalu tersayat saat melihat berita tentangnya, tapi entah mengapa jarinya tidak bisa menekan tombol power ketika sakit itu mendera. Seperti tayangan kartun yang tak pernah ia bisa tinggalkan sebelum ia menggeluti dunia entertain.

“Maafkan aku.”

“Aku sudah bosan mendengar itu. Lebih baik kau pikirkan saja dirimu sendiri, kau itu sudah tidak punya apa-apa, jangan berlagak kau adalah artis karpet merah dan menyalahkan dirimu sendiri.”

Lu Han menundukkan kepalanya. Menatap sofa merah kesayangannya. Ia sudah tak punya harta sebanyak saat ia berhasil membintangi drama perdana-nya dan langsung laris di pasaran. Karena suatu hal Lu Han harus mundur dan membayar semua kerugian yang terjadi karena keputusan yang mendadak.

“Aku akan pergi, dan aku tidak mungkin mengunjungimu lagi. Senang bekerja denganmu selama 2 tahun ini, Xi Lu Han.”

“Jaga dirimu, hyung.” sahut Lu Han pelan. Manager Park tersenyum kecil, lalu menepuk pundak lelaki muda itu pelan, menyalurkan segala semangat yang ada.

“kau juga.”

Lu Han mendesah berat sepeninggal Manager Park. Ia menatap apartemen mewahnya yang seperti sekejap mata ia dapatkan. Terasa hampa.  Lu Han mengimpikan sebuah keluarga yang bisa ia datangi di saat terpuruk seperti ini.

Ia teringat kata Ibunya saat ia masih dibangku SMP yang termasuk masa ternakalnya, “Keluarga itu akan selalu menerimamu apapun bentukmu. Entah kau menjadi seorang yang kaya raya, ataupun seorang gelandangan.”

Lu Han tersenyum mengingat kalimat itu lagi. Jika saja kecelakaan pesawat itu juga menewaskan dirinya, ia pasti sedang berbahagia dengan keluarganya yang tewas pada kecelakaan itu pula. Lu Han meremas rambutnya kasar, ia tak boleh mengutuk Tuhan. Bagaimanapun terpuruknya hidupku, aku tak akan pernah mengutuk Tuhan, batinnya.

Ia menatap layar ponselnya. Sebanyak 200 sms belum ia buka sedikitpun. Sms itu menumpuk sejak ia memutuskan untuk mundur, dipaksa mundur lebih tepatnya. Ia bisa menduga apa saja yang akan dilontarkan orang-orang padanya. Sebelumnya, ia adalah artis yang sangat dekat dengan fans-nya.

Bahkan Lu Han mengumumkan nomor ponselnya dengan gratis di situs jejaring sosial miliknya. 200 sms yang ia dapatkan biasanya ia sambut dengan senang hati, tapi tidak untuk kali ini. Ia tahu ia membuat fans-nya kecewa, dan itu adalah suatu titik terhancur dari seorang artis. Membuat fans kecewa, itu adalah mimpi buruk Yong Jin setelah kecelakaan yang menimpa keluarganya.

“Fans bukan keluarga. Fans bukan teman sejati. Walau kau berikrar akan menjadi artis yang dekat dengan fans, bukan berarti kau bisa menceritakan segala hal tentangmu. Fans bukanlah orang yang bisa dengan ikhlas menerimamu apa adanya. Kau hanya perlu mengingat itu saja.”

Lu Han mengusap wajahnya. Kalimat Manager Park membuatnya mengangguk saat ini. Benar, fans bukanlah keluarga yang seperti Ibu katakan. Fans adalah fans, mereka menuntutku untuk menjadi yang terbaik dimata mereka, bukan sebagai orang mengecewakan seperti ini, batinnya sedih.

Lu Han mengutuk dirinya. Kini tak ada yang tersisa. Hanya ada ia dan dunianya seperti dulu. Tidak akan ada peluk hangat seorang Ibu, tidak ada suara histeris fans setiap ia lewat atau sekedar melambaikan tangan. Tidak, semuanya sudah hilang. Dan itu karena ulahnya sendiri. Bukan Tuhan yang seharusnya dikutuk, tapi dirinya sendiri.

Ia berjalan kearah balkon apartemennya. Menghela nafas, lalu menghirup dalam-dalam angin malam, merasakan dinginnya menusuk hidung dan terus berputar di dalam saluran pernafasannya sebelum akhirnya ia meloloskan udara itu kembali ke angkasa. Sudut matanya menangkap sesosok gadis berambut hitam terurai, yang sedang tersenyum entah kepada siapa. Senyum biasa, tapi membuat hatinya sedikit terasa hangat, setidaknya itu yang ia rasakan sebelum ia merasa otot-ototnya serasa lemas mendadak dan akhirnya ia terjatuh. Dan jujur, seorang Xi Lu Han sangat membenci gelap.

—-You & I—-

“tidak ada pesan?” Gadis bermata hitam itu bertanya pada seorang gadis berambut cokelat di hadapannya. Gadis bernama Jung Ki Rei itu menghela nafas.

“tidak ada, eonnie.. aku hanya ingin mengakhiri ini semua.” jawab Rei, panggilan gadis berambut cokelat itu.

Han Re Na mengangguk. Lalu memilih diam menatap Rei yang sedang menyiapkan mentalnya. Rei menghela nafas lagi, memandang tanah dibawah mereka yang berjarak 20 kaki. Gadis itu membalikkan badanya menghadap Re Na yang masih menatapnya dalam diam.

“apa aku membantumu?” Re Na akhirnya bersuara. Membuat Rei menatap lurus kedua bola mata hitam yang menenangkan dihadapannya.

“ya, gomawo eonnie. kau sangat membantuku.” jawab Rei sambil membungkukkan badanya sopan. Re Na tersenyum lalu ikut membungkuk. Di detik yang sama saat Re Na mengembalikan posisi badannya, wajah putih pucat milik Rei sudah tidak ada.

Re Na menghela nafas. lalu menuliskan sesuatu didalam bukunya. Setelah itu ia mendengar keramaian yang terjadi di bawah sana. Tanpa melihatpun Re Na tahu apa yang menyebabkan keramaian itu terjadi. Paling-paling stasiun TV akan meliputnya lagi, sama seperti yang sudah-sudah. Bunuh Diri. Tapi mereka tidak pernah mengambil kesimpulan bahwa hidup di dunia ini sangatlah susah, butuh pengorbanan untuk mereka yang ingin mencapai keberhasilan, dan itu hanyalah sebuh kebohongan besar bagi Re Na. Menurut pengalamannya, ia hanya menemukan jalan buntu dan membantu orang menemukan ujungnya.

Tidak ada yang namanya keberhasilan di dunia ini, begitu pikirnya.

Ia menutup matanya sejenak, mencari ketenangan diantara hatinya yang kacau. Gadis itu akan selalu merasa sakit sekaligus senang setelah mendengar sirene mobil ambulan. perasaan sakit karena itu membuatnya teringat bagaimana ia tidak berguna untuk siapapun, dan rasa senang akhirnya tugas membantu-nya selesai. Ia telah membantu orang, meski cara dan aplikasinya sangat tidak wajar.

Ia, seorang Han Re Na, adalah seseorang yang membantu semua orang yang sudah kehilangan semangat hidupnya, dan tidak menginginkan tinggal di dunia ini lebih lama lagi.

—-You & I—-

Di Korea ini tradisi bunuh diri sudah seperti tradisi di Jepang. Orang-orang yang ingin mengakhiri hidupnya akan bertemu bareng dan mereka akan bunuh diri bersama. Atau sebuah cara lain seperti yang dilakukan seorang gadis bernama Rei tempo hari. Re Na adalah seseorang dibalik kasus beberapa bunuh diri. Klien-nya akan memberitahu Re Na dimana ia akan bunuh diri, dan tugasnya hanya menemani mereka di saat-saat terakhir, seperti yang dilakukannya pada Rei.

Bagaimana mereka bisa bertemu? Tidak mungkin kan, mereka dipertemukan oleh takdir? Bukan hanya pemaksaan, tapi itu seperti kemustahilan. Maka dari itu, jawaban tersederhana adalah komputer tua milik Re Na. Re Na memang memiliki sejumlah website untuknya berinteraksi dengan berbagai macam klien-nya. Yang tentu saja tidak akan ada kata pelanggan. Re Na membuatnya dengan jumlah banyak karena sewaktu-waktu pemerintah Korea melakukan pemeriksaan website, dan setelahnya pemerintah akan menghapus website terlarang seperti website ‘bunuh diri’ yang dikelola Re Na.

Hanya dengan cara membantu orang yang putus asa, Re Na merasa hidupnya berguna bagi orang lain. Hanya dengan seperti itu, Re Na bisa kembali tersenyum. Sejenak melupakan kejadian masa lalunya yang kelam. Dan entah kenapa, diotaknya selalu berputar berbagai pertanyaan menyangkut dirinya sendiri. Yang sampai saat ini, ia bahkan belum menemukan jawabannya. Atau mungkin tidak? Gadis itu hanya berusaha berpikir sejauh ia bisa.

Gadis dengan alis mata yang tebal itu akhirnya sampai dirumah mungilnya, setelah berkeliling sebentar disebuah pusat perbelanjaan yang ia bahkan tak tahu namanya. Mungkin ia pernah tahu, tapi lupa. Han Re Na memang berikrar untuk melupakan segalanya. Dan ia berhasil. Semua ingatan masa kecilnya hilang, kecuali suara sirene, lampu terang benderang, dan satu lagi, genggaman tangan yang melemah. 3 hal itu yang membuatnya seperti antisosial.

Re Na melirik pintu kamarnya yang terbuka. Masih ada pendar sinar dari komputer tuanya. Lalu ia merebahkan tubuhnya di sofa yang lumayan empuk dibandingkan dengan kasurnya yang sekeras baja. Re Na memang jarang tidur dikasurnya, ia lebih suka tertidur saat ia menonton tv, atau tengah menatap layar komputer tuanya. Tangannya menggapai benda bernama remote dan langsung menekan tombol power, lalu mengatur tempatnya senyaman mungkin.

“….Tidak ada siapapun yang ambil suara tentang masalah yang menimpa Xi Lu Han. Tim wartawan kami pun hanya mendapatkan suara TV yang terdengar saat mereka berkunjung ke apartemen pribadi milik Lu Han. Saat diteriakkan namanya, tidak seorangpun menyahut, pihak apartemen pun lebih memilih untuk bungkam. Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Xi Lu Han sampai-sampai ia harus mengurung diri? Nantikan liputannya setelah jeda pariwara berikut ini.”

Re Na mengerjapkan matanya yang setengah merah. Ia mengucek matanya sembarang. Siapapun itu Xi Lu Han, yang jelas gadis itu tidak mau tahu. ia menyalakan TV hanya untuk menemaninya tidur. Sebelum ia benar-benar memutuskan untuk tidur, satu slide foto Xi Lu Han muncul di TV, dan itu membuat otaknya dengan tak sengaja menyimpan memori itu di bagian otak terdalam. Entah, yang jelas Re Na hanya ingin tidur.

—-You & I—-

Lu Han mendapati dirinya menggigil karena kedinginan. Ia segera beranjak dari balkon kamarnya lalu segera melesat masuk kedalam untuk mencari kehangatan. Ingatannya masih terasa segar. Mengapa ia terjatuh, mengapa ia merasa otot-ototnya melemas seketika, dan mengapa ia bisa tak sadarkan diri.

Lu Han tersenyum saat ingatannya kembali pada sesosok gadis yang sedang tersenyum entah kepada siapa. Lambat laun tubuhnya terasa hangat hanya karena mengingat gadis itu. Rasa kesal yang tadi mampir di dalam dirinya langsung menguap saat ia fokus mengingat sosok gadis itu. Gadis dengan rambut hitam terurai, yang sedang tersenyum.

Ia melirik ponselnya dengan pandangan menyedihkan. Ponsel malangnya, sudah berapa sms yang masuk saat ia tertidur tadi? Ia menghela nafasnya berat, lalu memilih untuk mematikan ponselnya. Tidak menggubris salah satu sms yang entah dari siapa datangnya. Kepalanya terlalu berat untuk berpikir apa yang harus ia lakukan untuk mengisi malamnya yang panjang. Dan sungguh, ia benci gelap.

—-You & I—-

RCL yaaa….!!!! x)

 

4 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s