Twins – [Chap.5 – Poison]

Twins

[Chap.5 – Poison]

Author by Icha

Genre Siblings, Friendship, Romance

Rating G

Cho Kyuhyun [Super Junior]

Gui Xian Cho [Kyuhyun’s mandarin name]

Cho Ahra [Kyuhyun’s noona]

Lee Sungmin [Super Junior]

Kim Cheonsa [OC]

Park Jung Soo [Super Junior]

And the other cast at the other chapter.

Disclaim : FF ini adalah milik saya seorang >< dan terbukti keasliannya dan ke originalannya dari pemikiran saya langsung, FF ini juga ada di blog saya sendirihttp://elfplaygirlz.wordpress.com. Jadi mohon semohon mohonnya (?) jangan plagiat FF ku ini ya >< Super Junior KRY milik saya seorang.  #abaikan.

TYPO bertebaran di mana – mana.

Previous Chap. Hello Gui XianSomething WeirdFeel The DifferentThe Feelings

Cheonsa berdiri didepan cermin, sesekali ia merapihkan poninya dan membetulkan letak dasi hitamnya agar lebih pas. Ia menghela nafas panjang lalu meletakkan satu telapak tangannya di depan dadanya, ia merasakan debaran jantungnya sendiri yang berdetak cepat.

“Aku sudah tidak bisa menunggu terlalu lama.” Batinnya. “Bagaimana kalau sampai hari kelulusan nanti namun aku belum mengatakannya? Aku tidak mau kehilangannya.”

Hari ini Cheonsa sudah bertekat bulat untuk menyatakan perasaannya pada Kyuhyun. Sekali lagi ia memastikan penampilannya, lalu mendadak rasa gugup melanda dirinya, telapak tangannya pun berkeringat.

Kasak – kusuk suara dari pintu depan kamar mandi mengagetkan Cheonsa, sepertinya toilet wanita ini akan menjadi ramai, dan benar saja, segerombolan murid perempuan yang mengenakan seragam olahraga mulai memenuhi toilet wanita, satu per satu mereka berdatangan untuk berganti baju. Cheonsa pun keluar dari toilet itu dengan segera.

Koridor sekolah yang sedikit ramai cukup membuat Cheonsa pusing mencari keberadaan Kyuhyun. Pasalnya ia telah mencari namja itu di kelasnya namun sosoknya tak terlihat sama sekali.

“Jeosonghamnida, apa kau melihat Cho Kyuhyun-ssi?” Tanya Cheonsa pada seorang murid yang tak ia kenal. Ia tidak perduli pada siapa ia bertanya, toh semua orang mengenal Kyuhyun.

“Oh, tadi aku melihat sunbae ada didalam perpustakaan.” Jawabnya seraya menunjuk sebuah ruangan perpustakaan yang tertutup rapat.

“Kamsahamnida.” Ucap Cheonsa lalu membungkukkan badannya. Cheonsa berlari kecil menuju perpustakaan setelah siswa itu membalas bungkukkan badannya. Saat tangannya memegang handle pintu, ia kembali merasakan debaran jantung yang berdetak tak karuan. Hingga saat pintu perpustakaan terbuka, Cheonsa berusaha untuk  menghirup oksigen sebanyak – banyaknya.

Gotcha!! Ia menemukan Kyuhyun sedang duduk di pojokan perpustakaan hanya seorang diri, hal yang luar biasa langka mengingat biasanya Sungmin selalu berada di samping Kyuhyun.

Cheonsa melangkah dengan ragu, menghampiri Kyuhyun. Setiap kakinya melangkah, tiap kali itu juga debaran jantungnya bertambah kencang dua kali lipat.

“Kyuhyun oppa.” Panggil Cheonsa lirih.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang ia baca. “Eoh, Cheonsa-ya, wae?” Tanyanya datar. Cheonsa yang sedang gugup hanya dapat terdiam sambil meremas – remas jemarinya hingga telapak tangannya memerah.”Kau kenapa? Duduklah.” Kyuhyun menarik pelan lengan Cheonsa hingga yeoja mungil itu terduduk di kursi kosong disebelah Kyuhyun.

“O-oppa…aku….aku…” ucapnya terputus – putus, ia lalu menggigit bibir bawahnya. ‘Oh ayolah Cheonsa…ini kesempatan yang bagus…’ ratapnya dalam hati.

“Kau gugup sekali, coba tarik nafas dalam – dalam lalu keluarkan perlahan.” Ujar Kyuhyun, nada bicaranya yang tak sedater tadi menambah keyakinan dalam diri Cheonsa. Cheonsa akhirnya mengikuti instruksi yang Kyuhyun berikan.

“Oppa, jika aku mengatakan sesuatu, apakah kau akan terkejut?” Tanya Cheonsa polos.

Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya, kemudian ia terkekeh ringan. “Tergahntung dengan apa yang kau katakan nantinya.” Cheonsa mengangguk – anggukkan kepalanya, membuat Kyuhyun sedikit tersenyum melihat tingkah yeoja disampingnya ini. “Jadi, apa yang ingin kau katakan?” kejar Kyuhyun, namja itu mulai dilanda rasa penasaran.

“Oppa, aku….aku menyukaimu..” kata Cheonsa dengan lirih, namun masih dapat terdengar oleh Kyuhyun.

“Hanya itu?” Kyuhyun memberikan tanggapan singkat.

Wajah Cheonsa memanas, ia yakin wajahnya kini sudah berubah menjadi merah seperti kepiting rebus, ia kembali menarik nafas panjang. “Bisakah..bisakah aku menjadi yeojachingumu oppa?”

Keduanya terdiam, kesunyian pun melanda sepasang manusia yang kini tengah duduk bersebelahan didalam perpustakaan itu. Masing – masing masih sibuk dalam pikiran sendiri. Terlebih lagi Cheonsa, ia tidak mau angkat bicara sedikitpun, ia menanti Kyuhyun yang memulainya terlebih dahulu walaupun rasanya tidak akan mungkin.

“Aku tidak bisa menjawabnya sekarang, biasakah kau menunggu jawaban dariku?”

Cheonsa berlari – lari menuju sesosok namaja yang sedang duduk dibawah pohon rindang, ada yang berbeda kali ini, biasanya namja itu selalu bermain PSP disini. Tapi ia kini tengah menatap langit biru, seolah sedang menikmatinya.

Cheonsa sengaja duduk dengan tiba – tiba di samping namja itu, membuat namja itu tersentak dari lamunannya.

“Oppa, apa yang kau lamunkan?” Tanya Cheonsa seraya ikut memandang langit biru, ia kembali teringat tragedy pernyataan cintanya tadi dan wajahnya mendadak merona merah.

Gui Xian mengerutkan keningnya heran, ia merasa bahwa sinar matahari siang ini tidak begitu terik namun mengapa wajah yeoja disampingnya ini memerah?

“Neo gwenchana?”

Kali ini Cheonsa yang mengerutkan keningnya, ia menatap Gui Xian dengan tatapan ‘apa maksudmu?’

“Wajahmu memerah, kau demam?” lanjut Gui Xian yang menjawab semua keheranan Cheonsa yang ia lontarkan hanya dengan  tatapan matanya tadi.

“A-anniyo, nan gwenchana oppa.” Jawab Cheonsa gugup.

Entah mengapa, Cheonsa nampak lebih cantik berkali – kali lipat dari biasanya pada hari ini. Jantung Gui Xian berdetak dengan tidak sewajarnya ketika semilir angin mempermainkan helaian rambut Cheonsa. Butiran keringat mulai mengalir dari pelipisnya. Ia harus mengatakannya hari ini.

“Oppa – Cheonsa, ada yang ingin ku bicarakan.” Kata mereka bersamaan, keduanya saling berpandangan satu sama lain, disusul dengan gelak tawa.

“Sebaiknya oppa lebih dulu.” Kata Cheonsa yang masih di iringi tawa kecil, Gui Xian menggeleng pelan.

“Anniyo, kau saja dulu.” Tolak Gui Xian halus. ‘Dan aku mau mempersiapkan mentalku dulu.’ Lanjut Gui Xian dalam hati. Gui Xian tersenyum lembut pada Cheonsa yang sedang menyeka air mata akibat tawanya yang tak kunjung henti. Beginilah Cheonsa, sedikit candaan saja akan membuatnya tertawa terpingkal – pingkal hingga mengeluarkan air mata.

“Shireo, oppa duluan.” Cheonsa tetap bersikeras pada pendiriannya.

“Andwaeyo, aku masih punya etika Kim Cheonsa, ladies first, right?” Gui Xian akhirnya mengeluarkan kalimat sakti tersebut untuk mengakhiri perdebatan.

Cheonsa tersenyum kecut, Gui Xian selalu saja mengatakan hal itu. “Kata – katamu membuatmu terlihat seperti seorang cassanova oppa.” Cibir Cheonsa.

Tawa Gui Xian kembali meledak, ia lalu mengusap pucuk kepala Cheonsa dengan ringan. “Geumanhae, aku tidak mau memulai perdebatan ronde kedua, lalu apa yang ingin kau ceritakan?”

Cheonsa membiarkan Gui Xian mengusap kepalanya, tangan Gui Xian yang hangat dapat menjadi obat penenang bagi Cheonsa. Senyuam kembali terukir di bibir Cheonsa, kepalanya mendongak untuk memandang langit untuk kesekian kalinya.

“Aku tak tahu apakah aku harus senang atau tidak hari ini oppa.” Mata Cheonsa bergerak – gerak mengikuti pergerakan laju awan di langit. “Tapi yang pasti aku sangat lega karena telah mengungkapkannya.”

“Mengungkapkan apa?” Tanya Gui Xian kaget.

“Mengungkapkan perasaanku pada Kyuhyun oppa.” Jawab Cheonsa tanpa menyadari sedikitpun perubahan nada bicara Gui Xian. Pikiran Cheonsa melayang – layang pada Kyuhyun.

Membuat Gui Xian tak mampu berbicara, membuat nafasnya seakan terhenti beberapa saat, membuat pikirannya kosong tiba – tiba. Ia hanya mampu menatap nanar pada Cheonsa. Tidak, Gui Xian bahkan tidak mampu menatap Cheonsa, ia menatap bahu yeoja itu dengan tatapan mata yang kosong, seolah tak ada lagi kehidupan didalamnya.

“Oppa?” panggil Cheonsa ketika ia merasa tak mendapat respon apapun dari lawan bicaranya.

“Sejak kapan?” Tanya Gui Xian, ia masih tak percaya dengan apa yang telah di dengarnya. Semenjak tersadar dari kekosongan pikirannya, hanya dua kata itulah yang menempel di otaknya. Ya, sejak kapan Cheonsa menaruh hati pada hyungnya? Mereka tidak pernah terlihat bersama, bahkan jika bertemu, bertegur sapa pun sangatlah jarang.

Cheonsa tampak berpikir sejenak. “Aku menyukai Kyuhyun oppa sejak oppa  mengenalkanku padanya. Namun makin lama perasaanku makin bertambah padanya.”

Gui Xian tersenyum, tersenyum miris menerima kenyataan pahit yang menimpanya. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak cepat bertindak. Kalau saja ia lebih dulu mengungkapkan perasaannya pada Cheonsa, besar kemungkinan Cheonsa akan merubah hatinya.

Tangan Gui Xian yang sedikit bergetar terulur, ia meraih wajah Cheonsa lalu menangkup pipi tirus yeoja itu. Satu tangannya terangkat untuk merapihkan poni yang menutupi mata hazel nan indah milik Cheonsa, Gui Xian menyibakkan poni Cheonsa kemudian memaksakan dirinya untuk tersenyum.

Sungguh sangat menyakitkan ketika dimana harus memaksakan diri untuk tersenyum seperti ini. Hatinya perih, bahkan ia ingin menangis kalau bisa. Lagi – lagi ia harus mengalah pada hyungnya.

“Berbahagialah dengan hyung.” Ucapnya parau.

Cheonsa memandangi manik hitam pekat namja yang ada dihadapannya, ia menangkap sesuatu yang ia tidak dapat memahami. Cheonsa membalas senyuman Gui Xian. “Kyuhyun oppa memintaku untuk menunggu jawabannya.”

“Hyung pasti akan menerimamu.”

“Kau jangan memberikanku harapan palsu oppa.” Cheonsa menggembungkan pipinya kesal. “Lalu apa yang ingin kau ceritakan oppa?”

“Oh, aku hampir lupa.” Gui Xian mencoba sekuat tenaga untuk kembali seperti biasanya. “Sebenarnya bukan sebuah cerita, aku hanya ingin mengajakmu untuk  membantuku pindah kamar.” Kata Gui Xian berbohong. Kalimat ‘saranghae’ itu kini hanya ia simpan rapat – rapat.

Kediaman keluarga Cho hari itu mendadak ramai, ketika Sungmin dan Cheonsa tiba, Jungsoo pun tiba dengan mobilnya membawa sebuah selimut tebal dan alat pemanas ruangan.

“Ini akan membuat ruanganmu tetap hangat Gui Xian-ah.” Kata Jungsoo saat Gui Xian dengan halusnya menolak alat pemanas ruangan itu dengan alas an tidak mau merepotkan.

Dan ke empat namja itu, Jungsoo, Gui Xian, Sungmin, dan Kyuhyun mulai sibuk bolak – balik dari kamar Kyuhyun menuju kamar baru Gui Xian sambil membawa barang – barang pribadi Gui Xian. Terkecuali Jungsoo, ia sibuk memperbaiki beberapa sudut kamar.

Sementara itu Ahra dan Cheonsa sibuk membuat makanan dan minuman. Obrolan ringan hadir di antara mereka berdua, Ahra terlihat begitu menyukai Cheonsa, Cheonsa yeoja yang sopan dan manis menurut Ahra.

“Kau cocok sekali dengan Gui Xian, saeng-ah.” Celutuk Ahra

“Aigoo,,eonni, tapi aku menyukai Kyuhyun oppa.” Jawab Cheonsa malu – malu, tangannya sibuk mengiris bawang merah. “Tapi eonni, aku tidak tahu apakah Kyuhyun oppa menyukaiku atau tidak.”

“Eoh? Kau menyukai kyunnie? Dia pasti sangat beruntung jika bisa bersamamu, kau sangat manis dan baik. Aku yakin kyunnie juga pasti menyukaimu saeng.” Puji Ahra.

Cheonsa tersenyum, ia melihat Ahra yang dengan cekatannya melakukan beberapa perkerjaan sekaligus. Memasak sup, memanaskan kimchi, membuat teh hijau untuk Jungsoo, dan membuat sirup dingin untuk sisa manusia yang sedang meramaikan rumahnya sore itu.

“Kyuhyun oppa dan Gui Xian oppa juga sangat beruntung eonni, mereka memiliki noona yang sehebat Ahra eonni. Pasti Jungsoo oppa juga merasa demikian.” Cheonsa tak berbohong, ia memang sangat kagum dengan sosok Cho Ahra yang selama ini hanya dapat ia dengar dari Gui Xian. Ketika bertemu muka seperti ini, Cheonsa sangat ingin bisa menjadi seperti Ahra.

“Ya!!! Kau ini bisa saja.” Kata Ahra sambil berlalu menuju meja makan dengan sepanci sup daging di tangannya.

Tanpa terasa sudah empat jam para namja itu bekerja, membuat dua yeoja di rumah tersebut harus mati kebosanan menunggu mereka hingga akhirnya mereka memilih untuk bergosip ria.

“Aigoo…lelahnya….noona, aku mau minum!!!” teriak Kyuhyun dari anak tangga ketiga dari atas, ia meregangkan otot – ototnya. Tak jauh beda dengan Sungmin di belakangnya yang sedang memijat – mijat tengkuknya sendiri.

“Minumlah, setelah itu kalian semua mandi dulu baru kita makan bersama.” Titah Ahra yang langsung di sambut serbuan namja – namja kehausan. Satu teko penuh sirup dingin yang di sediakan langsung habis begitu saja.

“Harusnya eonni memasang harga untuk segelas sirup.” Canda Cheonsa.

“Aku setuju!!!” sahut Ahra sambil tertawa ringan.

Gui Xian lah yang pergi mandi terlebih dahulu, dikarenakan kamar mandi di rumah ini hanya ada satu, maka para namja itu harus menggunakannya secara bergantian. Kyuhyun dan Sungmin telah berbaring tak berdaya diatas karpet sedangkan Jungsoo mengambil tempat duduk di sebelah kiri yeojachingunya.

Setelah Gui Xian selesai, dengan bergiliran Kyuhyun, Sungmin, dan Jungsoo memasuki kamar mandi. Dan setelahnya, acara makan malam yang meriah pun di mulai.

“Ahra noona, bolehkan aku menginap disini? Karena kelas kami sedang ada beberapa tugas bersama.” Pinta Sungmin dengan wajah aegyonya.

“Tentu saja, tapi apa kau bisa tidur di ranjang sempit itu?” kata Ahra dengan mulut yang penuh nasi. Setelah di lihat – lihat, badan Sungmin yang memang agak lebih padat di bandingkan dengan badan kedua namdongsaengnya itu akan memakan cukup banyak tempat di kasur.

“Tenang saja noona, itu bisa di atur.” Sungmin menjentikkan jari telunjuknya dengan ibu jarinya. Ahra mengangguk member izin pada Sungmin untuk menginap. “Gomawo noona yang cantik.”

“Chagi…aku juga mau menginap disini, aku tidak masalah kok kalau harus seranjang denganmu di ranjang yang sempit juga.” Rengek Jungsoo manja, tujuannya hanyalah menggoda Ahra.

“Ya!!!! Hyung!!!!” hentak Kyuhyun, Gui Xian dan Sungmin secara serempak. Dan Jungsoo hanya bisa menyeringai tidak jelas sambil membuat tanda V dengan jarinya.

”Eonni, sudah malam, aku harus pulang. Gomawo atas makan malamnya, masakan eonni sangat lezat.” Pamit Cheonsa pada Ahra.

“Chankamman, tidak baik jika kau pulang sendiri. Kyu, antarkan Cheonsa.” Tukas Ahra pada Kyuhyun, ia memang melakukannya dengan sengaja, sementara itu Gui Xian menatap noonanya dalam diam.

Kyuhyun menatap tajam pada Cheonsa. “mian noona, kami banyak tugas sekolah.” Tolak Kyuhyun datar, Sungmin diam – diam tersenyum puas.

“Noona, bagaimana kalau Gui Xian saja yang mengantarkan Cheonsa? Mianhae noona, tugas kami benar – benar sangat banyak.” Sungmin menambahkan alas an yang telah Kyuhyun buat sebelumnya.

Gui Xian ingin sekali meninju wajah Sungmin jika saja ia tidak ingat statusnya. Ia melemparkan tatapan tidak suka pada Sungmin. “Tentu saja hyung. Jungsoo hyung, boleh aku meminjam mobilmu?”

“Silahkan, kuncinya ada di situ.” Tunjuk Jungsoo pada kunci mobil yang tergeletak di atas meja kecil dengan dagunya.

“Gomawo hyung, Cheonsa-ya, kajja.” Gui Xian menarik pergelangan tangan Cheonsa.

“Ah, nde, annyeong eonni, annyeong oppadeul.” Cheonsa berpamitan dan membungkukkan badannya pada semuanya.

“Annyeong Cheonsa, hati – hati, sampai berjumpa di sekolah.” Sungmin melambaikan tangannya dengan senyuman manis nan imut menghiasi wajahnya.

“Palsu.” Bisik Gui Xian tepat di telinga Sungmin begitu Gui Xian lewat di samping namja aegyo itu. Sungmin tertegun dan menatap punggung Gui Xian yang makin menjauh. Memang tidak ada orang yang dapat mendengar ucapan Gui Xian barusan, hanya antara dirinya, dan Gui Xian.

‘Cih, aku harus mulai berhati – hati melangkah.’

Sungmin membuka tasnya yang berisikan beberapa buku pelajaran yang telah ia persiapkan dari rumahnya. Dengan gerakan lambat ia mengambil sebuah buku lalu menghela nafas, tanpa sadar ia mendekap buku tersebut. Ia terpikirkan oleh bisikan Gui Xian tadi.

Kyuhyun yang baru masuk ke kamar memperhatikan Sungmin tanpa Sungmin sadari, sejenak Kyuhyun tersenyum melihatnya. “Hyung!!” seru Kyuhyun.

“Eoh, Kyunnie, kau mengagetanku. Baiklah, kita mulai darimana?” Tanya Sungmin, ia mengalihkan perhatiannya dengan membolak – balik lembaran buku. Kakinya melangkah menuju hamparan karpet di tengah kamar Kyuhyun. Sungmin duduk di samping Kyuhyun yang sedang tidur dengan posisi tengkurap beralaskan sebuah bantal yang menumpu dadanya agar tidak sakit.

“Cih…jangan bicarakan pelajaran sekarang.” Kyuhyun merajuk, ia merasa kesal waktu istirahatnya di ganggu, setidaknya ia ingin berbaring beberapa jam setelah menguras tenaga untuk membantu Gui Xian.

Sungmin meleletkan lidahnya kemudian tangannya mengacak – acak rambut Kyuhyun dengan gemas. “Arraseo, kau pemalas.” Ejek Sungmin.

Kyuhyun membalas leletan lidah Sungmin. “Hyung, ada yang ingin ku ceritakan.”

Merasa aura Kyuhyun berbeda, Sungmin akhirnya ikut berbaring, hanya saja berbeda posisi. “Waegurae?” Tanya Sungmin penuh selidik.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari Sungmin, “Kemarin Cheonsa men yatakan cinta padaku. Apa harus ku terima?”

Tanpa sepengetahuan Kyuhyun, Sungmin menyeringai licik. “Terimalah dia Kyunnie, itu sangat menguntungkan kita.”

“Hajiman, aku pun berpikiran demikian.” Sergah Kyuhyun. “Tapi aku takut kau marah hyung, makanya aku cerita dulu padamu.” Kyuhyun mengecilkan volume suaranya.

Sungmin mengusap rambut Kyuhyun dengan penuh kasih. “Hubunganmu dengannya bisa menutupi semuanya Kyunnie-ah.” Bisik Sungmin.

“Arraseo, hanya saja ku peringatkan padamu, apapun yang ku lakukan semuanya hanyalah acting semata.”

“Aku tahu, aku harap kau tidak jatuh cinta padanya.”

[TBC]

13 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s