Goodbye Dio

Author: @Shfllyy3424

Title: { CHaptered} Goodbye Dio

Genre:  PG-13, Romantic, Drama, OOC, a little angst.

Rating: Teen

 Cast:

  • Do Kyungsoo (Exo K D.O or Dio)
  • Lee HyeKyung (OC)

Other cast:

  • SM’s Member
  • Cari sendiri

Ps:       satu kalimat, saya sedang galau. Silahkan dibaca saja._.

Desclaimer: All cast belong to their self and god. PLOT IS MINE ATHIYA064! Kesamaan tempat dan nama hanya sebuah rekayasa ataupun kebetulan!

Contact me on:

  1. fb: athiya almas
  2. wp: athiya064.wordpress.com

 

Cerita ini hanya untuk yang menyukainya. Kalo gak suka jangan dibaca ya, DON’T BE A PLAGIATOR! TIDAK TERIMA BASH… this is just my imagination. RCL please^^

Happy reading ♥

Seorang gadis hanya duduk merenung, ia bersandar pada sebuah pohon yang cukup rindang dan entah mengapa membuatnya merasa begitu nyaman untuk sejenak beristirahat di bawah pohon itu. Ia melipat kakinya, sembari kedua bola mata cokelatnya yang bak lelehan cokelat itu memandang lurus-lurus ke arah tenangnya air danau di hadapannya. Sinar matahari tidak terlalu terik, bahkan langit cenderung kelabu mungkin langit itu bersedia menemani dan ikut memahami perasaannya.

Terkadang seperti tanpa mengenal rasa terima kasih kepada Tuhan yang mengizinkannya hidup dan mengenal segala keindahan duniawi, gadis itu merasa begitu menyesal mengapa umurnya masih saja berjalan dan bertambah. Atau lebih daripada itu, mengapa Tuhan dahulu memutuskan ia untuk lahir ke dunia?

Ia hanya gadis biasa, bahkan ia bagaikan tenggelam dalam dunianya sendiri. Tidak ada alasan mendalam bagi seseorang untuk mengetahui sosoknya itu, keberadaannya bahkan mungkin tak lebih dari angin lalu. Di sekolah, di kehidupan bermasyarakat, tidak ada kedudukan sama sekali.

Tapi mungkin lebih dari itu, Tuhan memberinya kelebihan di otak. Memang ia bukan penyabet berbagai medali atau piagam kemenangan, namun ia termasuk gadis yang memiliki otak yang cemerlang. Dan, sepertinya Tuhan juga tidak membiarkannya terus bermuram durja sembari menyesali kekurangannya sendiri. Tuhan mengirim seseorang bak malaikat yang menemaninya, dan dapat mengerti dirinya lebih dari ia sendiri.

Kekasih, rasanya keberadaan orang itu lebih nyata daripada orangtuanya sendiri. Orangtuanya ada namun seperti tak pernah nampak bagi gadis itu sendiri, bagi gadis itu ada atau tidaknya orangtua di dekatnya tidak berbeda jauh. Ia bahkan kerap kali tidak menyadari kehadiran orangtuanya sendiri, atau apa mungkin hanya karena ia tenggelam dalam dunianya sendiri lagi?

.

..

“Bersandarlah.” Bisik seseorang dengan lembut, gadis dengan rambut lurus sepunggung berwarna kecokelatan itu menoleh. “Dio..” panggilnya lemah. Lelaki itu –Dio- tersenyum ramah, ia duduk di sebelah kekasihnya itu dan ikut memandang ke arah tenangnya air. “Kenapa aku selalu bisa menemukanmu di sini? Kau ini punya rumah, atau.. jangan-jangan kau ini putri ikan?”

“Ya! Kalau aku putri ikan, kau apa? Pangeran katak?” protes gadis itu tidak terima. Dio hanya tertawa ringan, saat ini lelaki itu masih belum berganti baju setelah pulang dari sekolah. Ia hanya mengenakan sweater berwarna hitam yang membalut tubuhnya. “Maaf aku terlambat, tadi aku harus latihan vocal terlebih dahulu.”

“Tidak apa-apa, lagipula kita kan memang tidak berjanji apa-apa. Hanya kau yang terlalu bersikukuh ingin menemuiku.” Lagi-lagi Dio hanya bisa menampilkan senyum kecilnya. “Tadi aku menyusul ke rumahmu, aku melihat ibumu di teras. Setelah bertanya, ibumu bilang tidak tahu kau pergi ke mana. Sudah pasti kau akan ke tempat ini bukan?”

“Setidaknya di sini aku mendapat ketenangan.” Dio menatap wajah kekasihnya itu yang tertutup oleh poni, cukup lama tanpa berkata apa-apa. Beberapa saat kemudian, sepertinya gadis itu mulai jengah karena pandangan Dio. Gadis itu menatap Dio balik, pandangannya menjelajahi wajah tampan di hadapannya itu.

Dio terlihat sangat tampan meski ia tahu Dio tidak menyukai bersolek, lelaki itu memiliki pandangan yang cukup khas dari matanya yang belo’ itu. Mata Dio hitam kelam, membuat siapapun yang menatapnya seolah-olah bisa tenggelam dalam kekelaman tatapan lelaki itu. Namun gadis itu merasa, apapun yang Dio lakukan lelaki itu memberikannya rasa nyaman dan aman yang berlebih.

“Kau mau ke tempatku?” tawar Dio, gadis itu hanya diam masih mengagumi wajah Dio sendiri. “Ya, Kyungie?” panggil lelaki itu menyadarkan, akhirnya gadis itu mengangguk. “Boleh juga, sepertinya hari ini orang tuaku akan pergi entah ke mana lagi. Buat apa mereka pulang kalau mereka juga akan pergi kembali.” Dengus Kyungie kesal. Dio hanya memaklumi kata-kata gadisnya itu, ketidakdekatan hubungan gadisnya dengan kedua orangtuanya memang sudah tercium semenjak awal Dio mengenal Kyungie.

@Dio’s house

Sudah beberapa kalinya Kyungie mengunjungi rumah Dio yang mewah, Dio tinggal sendirian di rumah itu. Semenjak kedua orangtua lelaki itu telah meninggal saat Dio masih duduk di bangku SMP, ia memilih untuk tinggal di Korea sendiri. Pamannya yang bertugas untuk menjamin keberlangsungan hidupnya termasuk biaya-biaya yang ia perlukan, ia juga memiliki seorang kakak. Dan kakaknya itu memilih untuk tinggal bersama pamannya di Amerika, Dio sendiri masih betah untuk menetap di Korea.

Dio adalah lelaki yang sangat popular, di sekolah mereka hampir tidak ada yang tidak mengenal lelaki itu. Tampan, kaya –almarhum orangtua Dio adalah pemilik tiga perusahaan terkenal di Seoul-, pintar, ramah, pandai menyanyi, dan entah masih banyak hal yang menunjang kesempurnaan lelaki itu. Penggemar Dio yang mengetahui lelaki itu menjalin kasih dengan HyeKyung tentu saja tidak terima, bagi mereka HyeKyung hanya gadis kemarin yang belum pantas bersanding dengan pangeran mereka.

Tapi bagi Dio, HyeKyung adalah orang pertama yang membuatnya menjadi dirinya sendiri. Terlepas dari embel-embel popular yang selama ini tergantung pada dirinya. Kepribadian lelaki itu sangat baik, saking baiknya HyeKyung tak pernah berhenti untuk menyebut dalam hati jikalau lelaki itu adalah salah satu figur Malaikat yang nyata.

“Kau mau pasta?” tawar Dio, HyeKyung hanya mengangguk sekilas. Ya, selain cukup manly, Dio memiliki bakat yang seharusnya dimiliki oleh kaum wanita. Rapi, dan pandai memasak. HyeKyung selalu menyukai apapun hasil olahan tangan Dio, rasanya enak. Dan mengingatkannya pada masakan ibunya, yang dulu menjadi favoritnya. Dulu.. sebelum ia kehilangan waktu orangtuanya itu.

“Besok aku ada lomba menyanyi, ku harap kau bisa datang dan mendukungku.” Kata Dio, sembari fokus pada pastanya. “Hmm, di mana lombanya?” tanya Kyungie. “Aula Universitas xx, di pusat kota.” HyeKyung mengangguk. “Baiklah, akan kuusahakan untuk datang. Fighting~” Kyungie mengepalkan tangannya lalu tersenyum lembut pada gadis itu. Dio balas tersenyum kemudian mengacak rambut gadis di hadapannya itu.

“Terkadang aku berpikir, kau tinggal di rumah sebesar ini sendirian. Apa tidak kesepian?” mata Kyungie menjelajahi rumah Dio yang luas, ia kemudian menatap sebuah akuarium yang ada di sudut tembok. Akuarium itu menempel di tembok, ikan-ikan kecil berenangan ke berbagai arah. Lucu sekali, batin gadis itu.

“Itu pasti, tapi.. aku tidak mungkin pergi ke Amerika. Korea lebih nyaman untukku.” Lagi-lagi Dio melontarkan alasan yang sama. “Apa kau tidak mau beristirahat? Kau harus tampil segar esok hari di lomba. Kau istirahat saja, biar aku yang mencuci piring. Aku juga bisa pulang sendiri.” Entah mengapa, beberapa hari ini kantong mata Dio semakin jelas untuk dilihat. Mungkin lelaki itu kelelahan karena terlalu banyak berlatih. “Kajima..

Kyungie yang sudah akan pergi ke dapur menoleh menatap lelaki itu, Dio hanya memandang tanpa ekspresi. “Dio?” panggil Kyungie. “Kau, menginaplah di sini sampai esok. Besok aku akan mengantarmu pagi-pagi sekali untuk berganti baju dan mengambil buku pelajaran.” Pinta Dio lagi, iris mata hitamnya menatap Kyungie dengan pandangan sedikit memohon? Sebenarnya Kyungie bisa-bisa saja, toh orangtuanya tidak akan perduli ia pulang atau tidak. Beberapa kali Kyungie memang sering menginap di rumah Dio, ia bukan lelaki jahat yang memanfaatkan tubuhnya. Dio sendiri berarti banyak untuk Kyungie juga, seperti seorang sahabat dan kakak yang mampu menjaganya juga. Tapi ekspresi Dio seperti bukan lelaki itu yang biasanya, ada sesuatu yang berbeda yang ditangkap oleh Kyungie. Tapi gadis itu tidak terlalu memperdulikannya, mungkin Dio butuh penyemangat.

“Baiklah, aku akan menghubungi orangtuaku.” Kyungie menyentuh layar touchscreen ponsel miliknya, kemudian menghubungi orangtuanya. ‘Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada di luar jaringan. Silahkan coba beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan setelah bunyi..’ Kyungie langsung mengakhiri panggilan, sebelum operator itu akan mengulangi kalimatnya lagi dengan bahasa lain. “Mungkin ibuku sedang dalam pesawat.” Putus Kyungie. Ia segera meninggalkan Dio dan memilih untuk mencuci piring.

.

..

“Kemana dia?” gumam Kyungie. Ruang makan itu sunyi senyap, Kyungie datang dengan segelas susu hangat di nampan yang ia bawa. Gadis itu setelah mencuci piring memilih untuk membuatkan Dio susu hangat, yang mungkin akan mengembalikan keceriaan lelaki itu. Setelah mencari, Kyungie menemukan Dio yang tertidur pulas di kamarnya. Pintu kamar itu terbuka sedikit sehingga membebaskan Kyungie untuk masuk. Kyungie meletakkan susu tadi di meja nakas di samping ranjang tidur Dio.

Kemudian gadis itu berjongkok di samping Dio yang terlelap, gadis itu menyingkirkan surai-surai hitam Dio yang menutupi dahi dan mata lelaki itu. “Apa kau hari ini sangat kelelahan? Kuharap kau baik-baik saja, minumlah susu itu kalau kau bangun nanti. Ini tidak seperti kau yang biasanya, kembalilah ceria. Aku tinggal dulu ya, kau perlu banyak waktu untuk beristirahat. Selamat tidur..” sebelum meninggalkan kamar itu, Kyungie menyempatkan diri untuk mengecup dahi kekasihnya itu. Kemudian ia berjalan keluar kamar, dan menutup pintunya perlahan.

Saranghae.” Bisikan itu tertelan dalam kesunyian, tanpa ada yang menyadarinya.

.

..

Kyungie telah berganti sebuah kaos milik Dio yang sebenarnya cukup kebesaran di tubuhnya. Ia tidur di kamar yang dulunya adalah kamar hyung Dio sendiri. Kamar itu yang memang sedari dulu ia tempati ketika menginap ke rumah lelaki itu. Ia memilih untuk mendengar lagu dari ponselnya, dan mencoba untuk tertidur.

***

“Dio hyung, kau tidak apa-apa?” tanya seseorang. Yang ditanya hanya menggeleng dan mengibaskan tangannya. “Dio hyung, kalau kau tidak dalam kondisi yang baik kau bisa beristirahat. Ini hanya perlombaan biasa, jangan memaksakan fisikmu. Kau terlihat seperti mayat hidup.” Dio menatap orang yang mencerewetinya itu kesal. “Sehun-ah, diamlah. Aku baik-baik saja, aku tampil untuk Kyungie.”

Hyung..” Dio hanya menatap kesal, kemudian meninggalkan lelaki yang lebih muda darinya satu tahun itu. Dio berjalan ke toilet terdekat, ia membasuh wajahnya di wastafel. Lalu menatap ke cermin, bibirnya memutih. Ia benar-benar terlihat begitu pucat saat ini. “Kau, mengganggu saja.” Rutuk Dio ke cermin di hadapannya.

“Aaa~” Dio mencoba melakukan adlib dasar, namun sesuatu dalam dirinya tidak mau bekerja sama. “Sial.” Rutuk lelaki itu. Hanya untuk melakukan adlib dasar saja ia tidak yakin bisa sempurna, bagaimana dengan lagu yang ia bawakan nanti. “Tidak, aku bisa! Aku bisa! Kyungsoo, kau bisa!”

.

..

“Peserta selanjutnya, seseorang yang datang dari Melody high school, sekolah yang baru di dirikan dua tahun ini itu telah memiliki banyak group vocal yang sangat berbakat. Dan peserta kita kali ini adalah salah satu soloist paling handal dari sana. Mari kita sambut, Byun Baekhyun!”

Semua mata penonton langsung memandang takjub ke lelaki yang baru saja menaiki panggung itu, wajahnya sangat imut. Ia beberapa kali melempar senyuman manis kepada penonton. “Annyeonghasseyo, Byun Baekhyun imnida.” Ucapnya. Tak lama kemudian dentingan piano mengawali lagunya, ia menyanyikan sebuah lagu dari soloist legendaris ‘Kangta’ lagu berbahasa Inggris dengan judul ‘For The First Time

I Love You, the first time i saw you. Now my heart will fall always stay true.

***

Mataku menatap ke arah sesosok gadis yang saat ia tersenyum beberapa detik yang lalu, ia mampu mengalihkan duniaku. Seakan segala sesuatu di sekitarnya berubah menjadi semu, dan hanya ialah titik fokus pandanganku. Ia memang duduk di depan, tapi ia tidak tepat di hadapanku saat ini. Namun entah mengapa mataku terpaku padanya, jantungku berdegup cukup kencang. Apa ini.. cinta pada pandangan pertama?

‘Ya, Baekhun-ah fokus! Fokus!’ aku merutuki diriku sendiri dalam hati. Aish, ia menatapku pula. Wajar sih, aku akan bernyanyi tapi.. ya Tuhan, aku gila. Aku sudah harus mulai bernyanyi, kudekatkan microphone ke bibirku. “I Love You, the first time i saw you. Now my heart will fall always stay true.” Entah mengapa lirik lagu ini terasa begitu benar untuk saat ini.

The beauty of your smile, it brings tears into my eyes. So grateful for the days we shared.” Aku terus bernyanyi, dan selama itulah aku tidak dapat mengalihkan pandanganku darinya. Siapa gadis itu? Aku bahkan belum pernah melihatnya sebelum ini. Namun ia telah menyita segala perhatianku, menyita akal sehatku.

When I see my love reflected in your smile, It’s so magical that words cannot describe. I feel like a child looking at the sky, Baby you’re the reason why.. In your love I cannot lie, For the first time~.”

Alunan musik pun berakhir, aku perlahan memulihkan kesadaranku dan membungkukkan badan sembari mengucap ‘terima kasih’.

“Prok.. prok prok proookkk!!!” suara tepuk tangan membahana, aku sempat terkejut dengan kerasnya tepuk tangan itu. Mungkin akal sehatku telah kembali, duniaku telah kembali normal. “Baekhyun-ssi, yang baru saja adalah penampilan yang sangat baik! Penjiwaan yang kau lakukan benar-benar keren! Waaaa~ daebak!” MC berkomentar di sampingku, aku hanya menatap MC itu bingung namun kemudian aku bisa mengendalikan diriku.

Kamsahabnida..” ucapku, lalu tersenyum. Lagi-lagi tepuk tangan membahana, mungkin aku memang menyanyi dengan baik. Entahlah, aku hanya menyanyi sembari menatap gadis itu. Sekarang gadis itu tersenyum dan sesekali berbicara bersama temannya. “Baekhyun-ssi, kau baik-baik saja?” aku menggelengkan kepalaku. “Ah, ya.. aku baik-baik saja.” Setelah mengatakan itu aku menuruni panggung dan masuk ke ruangan khusus.

“Baekki!” aku menoleh menatap sahabat dekatku Chanyeol, kami berasal dari sekolah yang sama dan juga teman sebangku. “Hei..” sapaku pelan, fikiranku masih dibayang-bayangi gadis tadi. “Bagaimana kau bisa tampil sesempurna itu? Aku melihatmu saat berlatih, namun yang tadi begitu berbeda. Pasti ada sesuatu, kau mau bercerita padaku?”

“Sebenarnya, ada seorang gadis..” kata-kataku menggantung. “Mwo? Kau jatuh cinta? Nuguya? Kenapa tidak bercerita padaku?” aku menatap malas. “Dengar dulu, gadis itu baru kulihat saat aku akan bernyanyi tadi. Dan entahlah, aku merasa aku bernyanyi untuknya. Aku merasa hanya ia yang menonton penampilanku tadi, seperti tidak ada orang lain yang menyaksikanku.”

“Cinta pada pandangan pertama? Huh, aku tidak menyangka masih ada hal yang seperti itu. Mana gadis itu? Aku mau lihat orang seperti apa yang kau sukai.”

Igeo! Yang duduk di depan sana, membawa balon. Yang rambutnya diurai dan berwarna cokelat kau lihat?” Baekhyun menunjukkan jari-jarinya ke arah sebuah gadis. “Jangan bilang yang memakai jaket ungu muda? Yang berseragam SM high school ?” tanya Chanyeol, Baekhyun mengangguk.

“Hei, kau sekalinya menyukai orang tidak tepat sasaran! Kau tahu dia adalah kekasih Do Kyungsoo! Lawan terberat sekolah kita di bidang tarik suara, yang festival lalu menang sebagai juara satu. Aigoo, kalian ini sudah sama-sama berebut gelar di bidang menyanyi sekarang memperebutkan seorang gadis. Begini saranku, di gedung ini hampir 75% adalah gadis, pilih salah satu kecuali Lee Hyumin kekasihku dan Lee HyeKyung itu arachi?

Mwoya? Bagaimana kau bisa tahu banyak hal?” Baekhyun menatap Chanyeol malas. “Kau tahu kan sahabatmu ini memiliki banyak koneksi?” Baekhyun memutar bola matanya. “Sudah suka kepada gadis lain saja, tidak ada yang namanya cinta pada pandangan pertama.”

“Tapi buktinya aku ada, begini saja.. kalau aku menang festival hari ini. Maka aku tidak akan pernah berhenti mengejar gadis itu, dan itu berarti suatu hari nanti ia mungkin akan menjadi jodohku hmm..” kata Baekhyun. “Ya! Byun Baekhyun kau gila!”

Well, aku gila karena gadis itu. Lee HyeKyung? Nama yang menarik.” Gumam Baekhyun, Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya heran dengan sahabatnya itu.

3 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s