DREAMING GIRL

Dreaming Girl Pict

DREAMING GIRL

Author by Icha @angelofcha

Genre : Romance, Comedy [maybe], Friendship

Rating : PG, G

Lee Kiseop [U KISS]

Lizzy [After School]

Aron Kwak [NU’EST]

Disclaim : FF ini adalah milik saya seorang >< dan terbukti keasliannya dan ke originalannya dari pemikiran saya langsung, FF ini juga ada di blog saya sendiri http://elfplaygirlz.wordpress.com. Jadi mohon semohon mohonnya (?) jangan plagiat FF ku ini ya >< Super Junior KRY milik saya seorang.  #abaikan.

Senin pagi yang cerah, awal dari hari yang baru, namun bagi sebagian siswa dan siswi Pledis High School hari senin merupakan sebuah bencana. Berbagai macam tugas sekolah dan kegiatan lain menumpuk yang harus mereka kerjakan.

Seorang yeoja berseragam sekolah khusus Pledis High School memasuki gerbang sekolah yang maha luas itu dengan langkah riangnya. Matanya berbinar – binar dan senyuman ceria yang tak pernah lepas dari bibirnya.

Lupakanlah segala macam tugas dan kegiatan sekolah tersebut, hal ini lebih penting bagi dirinya, Lizzy nama yeoja itu, baru saja mendapatkan sebuah mimpi indah baginya dan hidupnya. Mimpi tentang seorang namja bernama Lee Kiseop yang di taksirnya dari kelas 1 hingga kelas 3 sekarang, sayangnya cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan.

Kedua bola mata indahnya mengelilingi koridor sekolah, mencari sosok sahabatnya sedari kecil, Aron. Ia menemukannya, namja yang blasteran Korea-Amerika itu sedang berbincang – bincang dengan temannya. “Aron-ah!!!” teriak Lizzy dari kejauhan, membuat namja itu terpaksa menolehkan ke sumber suara yang menurutnya sedikit mengganggu indera pendengarannya itu.

Aron Nampak menepuk bahu temannya itu, sepertinya mereka mengakhiri pembicaraan mereka atau lebih tepatnya terpaksa mengakhiri. Setengah berlari, Lizzy menghampiri Aron yang tengah menunggunya seraya memasukkan sebelah tangannya kedalam saku celana sekolahnya. “Pagi Aron-ah..” sapa Lizzy dengan senyuman mengandung sejuta makna, Aron pun mendelik curiga.

“Waegurasseo? Tidak biasanya kau menyapaku seheboh ini.” Tanya Aron, namun yang di tanya hanya senyum – senyum tidak jelas sambil bergelayut manja pada lengannya.

“Aisshhh…kau seperti tidak tahhu diriku saja.”

“hmmh…” Aron mendengus “Memimpikan Kiseop-ssi lagi eoh?”

Lizzy mengangguk senang. Terkadang Aron suka bingung dengan yeoja yang satu ini, kalau dibilang tidak normal, tapi kelakuannya normal. Yang tidak normal hanyalah mimpi – mimpinya itu.

Aron mengajak Lizzy pergi ke taman sekolah yang berada tepat di pinggir lapangan basket, sinar matahari pagi yang hangat menerpa tubuh mereka, pepohonan yang rindang serta bunga – bunga indah bermekaran di iringi dengan beberapa helai dedaunan berjatuhan menambah kuat kesan musim semi tahun ini. Keduanya duduk di bangku taman yang tersisa, karena sebagian lainnya telah penuh oleh siswa siswi yang lainnya.

“Kali ini apa lagi?” Tanya Aron yang ternyata sudah terlanjur penasaran, Aron selalu menganggap mimpi – mimpi Lizzy adalah penghiburnya di pagi hari sebelum menjalani aktivitas sekolah yang dapat membuat ketampanannya berkurang menurutnya.

Lizzy kembali memamerkan senyumannya, senyuman seorang yeoja periang yang kuat, yang tidak pernah menampakkan kesedihan meskipun hidupnya dilanda masalah yang sangat berat. Aron sangat salut dengan Lizzy yang tidak pernah mengeluh dengan hidupnya. Selain itu juga Lizzy adalah seorang yang perhatian dan baik pada semua orang. Itulah sebabnya persahabatan mereka bertahan hingga saat ini. Aron pun telah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga Lizzy kapanpun dan dimanapun.

“Agak aneh..ceritanya aku jadi seorang puteri di sebuah kerajaan, lalu Kiseop oppa datang menggunakan seekor kuda putih yang sangat bagus, lalu dia bilang dia sayang padaku. Akhirnya kita jalan – jalan mengelilingi kerajaan naik kuda putih itu. Kau tau Aron-ah, kuda itu mirip seperti unicorn, begitu indah dan gagah..aahh..so sweet..” ucap Lizzy mengakhiri ceritanya.

Aron terdiam, berusaha mencerna cerita Lizzy dan mengolahnya dalam otaknya.

Lizzy terdiam menunggu reaksi Aron.

Setelah merasa dapat mencerna seutuhnya, Aron membuka mulutnya selama beberapa detik, terbengong mendengar cerita Lizzy yang begitu tinggi dan diluar akal sehat itu.

“Bwahahahahahahaha..ahahahahaha…”  tawa Aron meledak, bahkan namja itu sampai turun dari bangkunya, membungkuk – bungkuk menahan tawa serta memukul – mukul bangku taman dengan tawa yang membahana hingga mendapatkan perhatian dari siswa siswi yang juga berada di taman itu.

“Ya!!! Menyebalkan!!!! Mengapa kau tertawa begitu keras!!! Aishhh!!!” bentak Lizzy yang wajahnya sudah merah padam akibat menahan malu.

“Mi-mianhae…ahahahahhha…ceritamu..kau..ahahahah.” komentar Aron sambil menghapus air matanya, air mata yang di hasilkan akibat rasa euforianya mendengar cerita dari sang sahabat. Tapi ia buru – buru menghentikan tawanya ketika ia melihat yeoja itu cemberut.

“Dae, aku tahu kok ceritaku aneh. Akupun juga aneh.” Lizzy mendengus kesal, ia bangkit dari kursinya lalu meninggalkan Aron sambil menghentak – hentakkan kakinya, tanda ia kesal.

“Aigoo..Lizzy-ah..mianhae..aku hanya bercanda,…” bujuk Aron.

Lizzy tidak memperdulikan Aron di sampingnya yang terus berusaha membujuknya dan mengikutinya sampai didalam kelas. “Lizz..ayolah..”

“Cih..” dengus Lizzy. Ia meletakkan tasnya dengan kasar ke atas mejanya sampai – sampai membuat isi kelas itu terperangah kaget.

“Lizzy-ah…” pinta Aron memelas, namun dewi fortuna belum berpihak padanya, bel tanda masuk sekolah telah berbunyi. Aron menyumpahi sang pemencet bel sekolah itu dengan sumpah serapah yang berasal dari separuh kewarganegaraannya, Amerika. Dengan wajah kecewa, Aron terpaksa kembali ke kelasnya sendiri.

“Aigoo, pagi – pagi kalian sudah bertengkar.” Sebuah suara menggodanya dari belakang, tidak perlu menengok untuk memastikan siapa yang menggodanya. Lizzy sudah sangat hafal di luar kepala akan suara itu. Suara milik namja yang di taksirnya, siapa lagi kalau bukan Lee Kiseop.

Jantung Lizzy mendadak berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, ia merasakan aliran darahnya mengalir berpusat pada satu titik, pipinya. Ia yakini pipinya sudah sangat merah sekarang. ‘Omo..Kiseop oppa menggodaku.’ Jerit Lizzy kegirangan dalam hati.

Lizzy memutar tubuhnya kebelakang, bermaksud untuk membalas godaan Kiseop dengan candaan. Hajiman…apa yang dia lihat????

Bel sekolah berdentang dua kali, tanda istirahat telah dimulai, seluruh siswa dan siswi berhamburan keluar dari kelas termasuk Lizzy. Yeoja itu dengan langkah terburu – buru berlari menuju kelas Aron yang berbeda 3 kelas darinya.

“Aron-ah……” panggil Lizzy dari depan pintu kelas, Aron yang masih berkutat dengan bukunya itu merasa ada yang berbeda dari suara sahabat kecilnya.

“Waegurae?” Tanya Aron bingung, ia mengira bahwa Lizzy masih marah padanya. Namun Lizzy hanya menggelengkan kepalanya dengan lesu. “Arraseo, kita ke taman saja.” Ajaknya lalu menggamit lengan Lizzy dengan lembut, di tariknya yeoja itu menuju taman sekolah seperti biasanya. Taman itu memang tempat favorit mereka.

“Geurom, malhaebwa.” Tutur Aron sabar, ia mengamati wajah Lizzy. Dan entah ada angin apa tiba – tiba saja Lizzy langsung memeluk Aron sambil menangis terisak – isak. “Ya!!! Neo waegurae?? Gwenchana??” Aron mulai cemas.

“Tadi…tadi…hiks…”

“Wae?? Bicara yang jelas..”

“Tadi di kelas,,.aku…aku melihatnya..melihatnya…melihat Kiseop oppa bermesraan dengan Gaeun..geurom, aku baru dengar dari teman – teman kalau mereka sedang berpacaran..eotteokhae…eotteokhae……….” cerita Lizzy di sela tangisannya. Selama dari kelas 1 sampai kelas 3 ini, Kiseop memang tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun, tentu lah hal ini sangat membuat Lizzy shock berat. Lizzy tidak pernah perduli apabila cintanya bertepuk sebelah tangan karena Kiseop tidak pernah menyadari perasaan Lizzy padanya. Namun lain ceritanya jika Kiseop telah memiliki pasangan.

“Mwoya?? Kau serius? Kiseop dengan Gaeun? Rasanya mereka tidak pernah terlihat jalan bersama atau sekedar pendekatan.” Aron mulai ikutan bingung.

Lizzy menghapus air matanya dengan punggung tangannya, “Ya sudahlah, mau di apakan lagi.” Keluhnya pelan seraya berdiri dan membalikkan badannya lalu mulai melangkahkan kakinya untuk beranjak pergi, tapi sebuah batu luput dari pandangannya.

‘Duak!!!’

Lizzy terkapar dengan dahi yang mengeluarkan darah.

“LIZZY!!!! LIZZY-AH!!!!!”

Perlahan Lizzy membuka matanya, kepalanya sungguh terasa berat dan bau menyengat obat – obatan menyeruak merasuki penciumannya, yeoja itu mengernyit lalu meringis kesakitan, kepalanya benar – benar terasa sakit. “Euuuh…nan eoddiga…” Tanya Lizzy lirih, setengah sadar matanya mengelilingi ruangan yang di dominasi warna putih itu.

“Lizzy-ah, ya Tuhan..syukurlah kau sudah sadar.” Ucap Aron lembut, tangannya terulur mengusap pelan kepala Lizzy.  “Kau ada di UKS sekarang, tadi kau terjatuh dan kepalamu terantuk batu. Apa kau tidak mengingatnya?” Tanya Aron cemas, ia takut kalau kejadian tadi mengakibatkan Lizzy amnesia.

Lizzy mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu menggelengkan kepalanya. Membuat Aron menggigit bibir bawahnya, perasaan takut mulai menjalari dirinya. “Kau tidak ingat apa – apa? Apa kau mengingat diriku?”

“Aigoo..pertanyaan bodoh itu, tentu saja aku ingat kau. Aku hanya tidak ingat kenapa aku bisa di sini.” Lizzy mendengus kesal.

Aron menghembuskan nafas lega. “Aku sangat takut, ku pikir aku gagal menjagamu.”

“Lizzy-ah, kau sudah sadar? Kau tidak apa – apa?” terdengar suara Kiseop dari balik punggung Aron, Lizzy mengerutkan keningnya, begitupun dengan Aron yang langsung emutar badannya dan melihat sosok Kiseop berada di hadapannya. Aron menatap Kiseop dengan tatapan sedang-apa-kau-di-sini?

“Ah..nan..nan gwenchana..” Jawab Lizzy gugup, ia begitu takjub dengan sosok Kiseop yang hadir secara langsung mengkhawatirkan dirinya. “Eoh, kau hanya sendiri oppa? Mana Gaeun-ssi?”

“Dae??? Kenapa kau menanyakan Gaeun-ssi? Kau ingin bertemu dengannya?” Kiseop balik bertanya dengan wajah yang menunjukkan rasa heran.

“Mwo? A-anio, maksudku dia itu kan yeojachingumu oppa, mengapa tidak berjalan bersama?”

“Dae? Yeojachinguku? Nugu??”

Aron menepuk dahinya, kesal dengan pemikiran lemot Kiseop yang seperti computer Pentium 1 itu. “Gaeun-ssi, dia itu yeojachingumu kan?” Jelas Aron setengah berteriak.

“Siapa yang bilang kalau Gaeun-ssi yeojachinguku? Aigoo…kalian dengar berita itu dari siapa?”

“Kiseop oppa, goejimal..” Pinta Lizzy. Matanya mulai memerah menahan tangis, ia merasa Kiseop tengah mempermainkan perasaannya dengan menyembunyikan status hubungannya dengan Gaeun.

Kiseop menunudukkan kepalanya, ia mengambil nafas dalam – dalam lalu menatap mata Lizzy. “Kau mau aku jujur?”

Lizzy mengangguk dengan cepat walaupun kejujuran Kiseop akan sangat menyiksa batinnya.

“Jujur, aku menyukaimu Lizzy-ah..sudah lama, sejak kita kelas 1.” ucap Kiseop, yang membuat Lizzy dan Aron terperangah kaget mendengarnya. “Wae? Kalian seperti tidak percaya padaku.” Lanjut Kiseop setelah melihat reaksi yang di buat oleh kedua sahabat itu.

“Ya tentu saja aku tidak percaya oppa, kau kan dengan Gaeun-ssi, lalu tiba – tiba saja kau menyatakan cinta padaku. Apa hal itu bisa di percaya.” Sangkal Lizzy yang masih sibuk menata debaran jantungnya. Percaya atau tidak, Lizzy sangat gembira meskipun pada akhirnya Kiseop akan tertawa lalu mengatakan aku hanya bercanda atau lain sebagainya.

“lagi – lagi Gaeun-ssi.” Gerutu Kiseop, ia mengacak – acak rambutnya frustasi. “Berapa kali aku harus mengatakannya, aku tidak punya hubungan apa – apa dengannya. Siapa yang membuat berita seperti itu?”

“Lalu kenapa kau baru mengatakannya sekarang?” Sambung Aron yang seolah sudah mengetahui apa isi hati Lizzy dan apa yang hendak ingin yeoja itu ucapkan.

Kiseop mencibir ucapan Aron, ia menatap Aron dengan tatapan kesal. “Neottaemune.” Tunjuk Kiseop pada Aron.

“Mwo????” Aron membulatkan matanya. “Naega wae???” Aron menunjuk dirinya sendiri. Sementara itu Lizzy kebingungan melihat perdebatan dua namja yang ada di depannya.

“Karena kau selalu bersamanya, ku kira kau adalah kekasihnya.”

“Cih..paboya.” Celutuk Aron, tak terima jika di katakan penghalang hubungan orang. “Seantero sekolah tahu kalau kami bersahabat, kau saja yang ketinggalan zaman.” Sindir Aron sinis.

“Ya!!! Ya!!! Kalian berdua ini kenapa eoh? Dwaesseo!!!.” Lerai Lizzy.  “KIseop oppa, eottheokae?”

“Kau mau jadi yeojachinguku, Lizzy-ah?” pinta Kiseop dengan tatapan yang sangat lembut, menusuk jauh kedalam manik mata yeoja di hadapannya, bak tersihir, Lizzy pun menganggukkan kepalanya dengan senyuman paling manis yang pernah ia miliki. Cintanya tak lagi bertepuk sebelah tangan.

Dan Lizzy tak perlu lagi bermimpi tentang Kiseop, karena semua mimpinya telah jadi kenyataan.

Seperti biasa, Lizzy pulang sekolah bersama dengan Aron. Padahal Kiseop sudah memaksanya untuk pulang bersama, tapi Lizzy tetap tidak menerima ajakannya.

Bukan tanpa alasan Lizzy menolak ajakan Kiseop untuk pulang bersama, sesungguhnya dia sangat ingin sekali, tapi Lizzy malu. Ya, dia malu dengan kondisi keluarganya yang dimana appa dan ummanya selalu bertengkar setiap saat. Dan hanya Aron yang mengerti akan kondisi itu.

“Sampai kapan kau akan menolak ajakan Kiseop-ssi untuk pulang bersama Lizzy-ah?” Tanya Aron membuka percakapan ketika keheningan melanda mereka berdua di jalan setapak menuju rumah mereka yang jaraknya tidak begitu berjauhan.

Lizzy mengangkat kedua bahunya, lalu menurunkannya dengan lesu. “Aku perlu waktu untuk menceritakan kondisi keluargaku. Aku malu.” Kata Lizzy getir.

“Kau malu karena kau anak dari keluarga yang broken home?”

Pertanyaan yang sukses menohok hati Lizzy, tapi yeoja itu tersenyum. “Seperti itulah kira – kira. Kau tahu kan selama ini aku tidak pernah bercerita pada siapapun tentang keluargaku, aku tidak pernah mengizinkan siapapun untuk bermain ke rumahku. Hanya kau, hanya kau yang mengerti.”

“Tentu saja mereka tidak akan pernah mengerti tentangmu, kau selalu mengenakan topeng kebahagiaan di balik kesedihanmu. Bukalah topeng itu Lizzy-ah, biarkan dia mencintaimu apa adanya.”

Mereka berhenti di depan sebuah rumah dengan tinggi pagar yang menjulang keatas, rumah Lizzy.

“Tidak semudah yang kau bayangkan, biarkan kami mengenal jauh lebih dalam, dan lambat laun ia akan mengerti tentang diriku, sama seperti kau mengerti tentangku.”

Aron menepuk – nepuk kepala Lizzy dengan lembut. “Tidak semudah yang kau pikirkan Lizzy-ah, butuh bertahun – tahun bagiku untuk mengerti tentang dirimu sebagai sahabatku.” Aron mengecup dahi Lizzy hati – hati, hal yang biasa mereka lakukan sedari mereka kecil. “Lihatlah, apa ia akan mengerti saat aku mengecup dahimu seperti ini? Ku rasa jika ia melihatnya, aku akan babak belur besok.” Kata Aron di selingi tawa renyahnya.

“Aigoo, kau ini. Selalu saja dapat membalikkan ucapanku. Terserah kau sajalah.” Lizzy menjulurkan lidahnya pada Aron lalu menggembungkan pipinya.

“Sudahlah, kau beristirahatlah. Jika terjadi sesuatu padamu, atau lukamu sakit lagi, cepat hubungi aku. Ingat, meskipun kau telah memiliki namjachingu sekarang, keadaan tetap tidak boleh berubah. Aku lah yang harus pertama kali tahu mengenai dirimu.”

Lizzy tersenyum menaggapi tingkah protective sang sahabat. “Aku tak yakin aku bisa beristirahat, kau tahu kan? Mungkin dalam waktu beberapa jam kedepan lagi aku akan menelfonmu seperti biasa sambil menangis.” Kali ini bukan senyuman manis yang Lizzy sunggingkan di bibirnya, melainkan senyuman kepedihan dan luka yang mendalam.

“Aku selalu siap untuk itu. Cha!! Masuklah.” Perintah Aron yang langsung di turuti oleh Lizzy. Aron masih setia menanti sahabatnya itu di depan pagar hingga yeoja itu benar – benar telah masuk kedalam rumahnya.

Lizzy melangkahkan kakinya dengan gontai masuk kedalam rumahnya tanpa mengucapkan salam sedikitpun. Percuma saja ia menghabiskan suaranya walau hanya untuk sekedar mengucapkan salam, toh tidak akan ada yang menjawabnya.

Ia melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu yang terletak di samping pintu rumah. Dengan langkah yang sama, ia mulai masuk jauh lebih dalam ke ruangan keluarganya. Sungguh Lizzy yang sangat berbeda 180 derajat dengan Lizzy yang berada di sekolah. Seperti inilah dia ketika ia telah sampai di rumah, sesosok yeoja yang kesepian dengan luka batin yang mendalam di karenakan kedua orang tuanya yang tidak pernah akur.

Tapi pemandangan yang ia lihat kali ini cukup membuatnya tersentak kaget, berkali – kali ia menepuk kedua pipinya bahkan hampir menampar pipinya sendiri. Tak lupa ia mengusap – usap kedua matanya berharap bahwa ia hanya berhalusinasi atau setidaknya ia melihat fatamorgana yang terjadi akibat dari rasa haus akan kasih sayang sebuah keluarga yang harmonis.

Lizzy mendapati kedua orang tuanya sedang duduk berdampingan dengan mesranya sambil menikmati secangkir minuman. Sesekali terdengar mereka tertawa dengan bahagia.

“Lizzy-ah, kau sudah pulang? Mengapa tak mengucapkan salam eoh?” suara sang appa menyadarkan Lizzy dari kekagetannya.

“M-mwo? Ah..dae.. a-aku pulang..appa..umma..”

Umma Lizzy meletakkan cangkirnya di atas meja lalu menghampiri Lizzy yang masih berdiri dengan kaku beberapa meter darinya. “Kau cepatlah ganti baju lalu kita makan siang bersama, umma sudah menyiapkan sup ayam kesukaanmu.” Kata umma Lizzy dengan lembut.

Mata sang umma mengiringi kepergian anaknya menuju kamarnya. Di perjalanan menuju kamar, Lizzy mengaduk – aduk tasnya dengan panik, mencari sebuah benda mungil yang di namakan handphone untuk menghubungi Aron.

“Yeoboseyo?” Suara merdu Aron terdengar di deringan ke 2. Namja itu memang selalu cepat mengangkat telfon dari Lizzy, ia khawatir terjadi sesuatu dengan Lizzy jika ia terlambat mengangkat telfon.

“Aron-ah, kau harus tahu sesuatu.” Kata Lizzy antusias, dan mulailah ia bercerita dengan panjang lebarnya tentang apa yang barusan ia alami.

“Kau tidak habis bermimpi eoh?”

Mendengar tanggapan Aron yang di luar harapan membuat Lizzy menggigit handphonenya, membayangkan bahwa yang ia gigit adalah lengan Aron yang kurus itu. “Bagaimana mungkin, kau baru saja beberapa menit yang lalu dari depan rumahku. Apa kau pikir aku adalah putri tidur yang bisa tertidur dimanapun dan kapanpun?”

Aron terkekeh geli, namja itu membaringkan tubuhnya di kasur ukuran king size miliknya. “Geurom, harusnya kau merasa senang.” Kata Aron sambil tersenyum, ia begitu bahagia mendengar kabar baik ini.

“Dae, tapi aku agak merasa aneh..”

“Chagiya, cepat turun, makan dulu. Kau bisa menelfon sehabis makan.” Teriak umma Lizzy dari luar pintu kamar Lizzy.

“Eh, ah..dae umma, chankamman!!! Aron-ah, nanti aku sambung lagi. Annyeong!!!”

Rasa – rasanya, sudah cukup lama Lizzy menjalani kehidupan bahagianya. Ia dan namjachingunya, Kiseop selalu akur dan mesra setiap saat. Begitu pula dengan kedua orang tuanya hingga Lizzy akhirnya memberanikan diri untuk mengenalkan Kiseop pada appa dan ummanya yang disambut baik oleh mereka.

Hanya Aron yang tidak memiliki perubahan sama sekali.

Tetapi hal yang Aron takutkan tempo hari benar – benar terjadi, karena setelah Aron pulang mengantarkan Lizzy ke rumahnya, dan pada keesokan harinya Aron masuk sekolah dengan wajah yang babak belur.

Hari ini sedikit berbeda, malam ini Kiseop tampak bad mood entah apa sebabnya. Padahal Lizzy sudah membujuknya mati – matian untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, namun Kiseop hanya terdiam dan melampiaskan rasa bad moodnya pada cara mengendarai mobilnya yang ugal – ugalan.

“Ya!!! Oppa-ya, neo michesseo?!!” hentak Lizzy panik, yeoja itu ketakutan dengan cara menyetir Kiseop yang seperti orang kesetanan.

“Kau tidak mengerti, aku sedang kesal.”

“Dae oppa, arraseoyo. Tapi kau tidak perlu seperti ini. Kau mau kita berdua mati muda eoh??”

“Mwo?!! Kau beraninya berkata seperti itu padaku???”

Kejadian itu terjadi begitu cepat, Lizzy hanya mendengar suara rem yang berdecit, benda yang bertabrakan, suara sirine, bau anyir darah, dan suara bising lainnya.

“Lizzy-ah, kau sudah sadar??? Syukurlah.. akhirnya..” Ucap Aron dengan wajah yang panik, cemas, dan bahagia bercampur menjadi satu.

“Aron-ah..Ki-Kiseop oppa bagaimana keadaannya?” Tanya Lizzy dengan suara parau, kepalanya berdenyut – denyut hebat, membuatnya meringis menahan perih yang menghujam kepalanya. Ia merasa kepalanya bagaikan di tusuk oleh ribuan jarum.

“Kiseop-ssi? Dia baik – baik saja. Aigoo.. kenapa kau menanyakan orang lain di situasi seperti ini? Yang perlu di tanyakan itu dirimu sendiri.”

“Benarkah baik – baik saja? Apa parah?” Lizzy melanjutkan introgasinya tanpa mendengarkan omelan Aron yang hanya dianggapnya angin lalu.

“Parah? Parah mwo??” Aron mengerutkan keningnya.

“Lukanya…” jawab Lizzy seadanya. Ia terlalu malas menjawab pertanyaan Aron yang terlalu basa – basi.

“Heeeee??? Memangnya apa yang terjadi dengan Kiseop-ssi??”

Lizzy mendecak, “Kau ini bagaimana? Dia kan kecelakaan bersamaku kan?”

“Mwo???? Memangnya kau kapan pergi bersamanya? Aish..kau masih setengah sadar eoh??”

“Aisshh..sudahlah lupakan, aku akan mencarinya sendiri nanti. Apa kau membencinya sekarang karena ia yang menyebabkan kecelakaan ini terjadi? Sekarang mana appa dan ummaku?”

Lama Aron terdiam menatap sahabatnya ini, ia cukup khawair dengan kondisinya sekarang, dan apa yang sedang ia racaukan benar – benar membuatnya khawatir. Ia sangsi apakah ia harus mengatakan dimana kedua orang tuanya itu sekarang. “Yaaa!!!!” jerit Lizzy.

“Ah, mereka..appa dan ummamu sedang mengurus surat perceraian di kantor ummaku.”

“Goejimal!!!!! Kemarin mereka sudah akur Aron-ah, aku sudah menelfonmu kan? Aku sudah menceritakannya padamu kan? Dan kau sendiri pun pernah melihatnya secara langsung!!! Kau tidak ingat kau makan malam bersama dengan Kiseop oppa dan appa ummaku waktu itu???” teriak Lizzy frustasi. “Kau jangan mengerjaiku seperti ini, kau keterlaluan!!!”

“Lizzy-ah, untuk apa aku bohong?? Kapan kau menelfonku? Kapan kita makan malam bersama dengan Kiseop-ssi dan orang tuamu? Sedangkan kau sendiri sudah 4 hari tidak sadarkan diri. Kau membuatku khawatir kau tahu? Tetapi orang tuamu tidak menjengukmu sama sekali, mereka hanya mengirimi uang untuk biaya rumah sakit dan lain sebagainya.” Jelas Aron panjang lebar.

“4 hari? Apakah aku medapat luka yang cukup parah?”

“Dae.. kau salah langkah di taman sekolah, kau terjatuh dan kepalamu membentur batu. Kau membuatku hampir mati berdiri.”

“Mwo??? Bukankah aku kecelakaan bersama Kiseop oppa?”

“Apa sih yang kau bicarakan dari tadi? Kiseop-ssi, kecelakaan, aku tidak mengerti Lizzy-ah. Lebih baik kau beristirahat sekarang. Aku akan memanggilkan dokter untukmu.”

Setelah berkata demikian, Aron pun keluar dari ruang rawat inap Lizzy untuk memanggil dokter yang menangani Lizzy.

Dan Lizzy hanya menatap tembok putih ruangannya dengan tatapan kosong. “Jadi apa yang aku alami selama ini hanyalah sebuah mimpi?” Gumamnya.

[END]

13 responses

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s