Beside You

Beside You pict

-Beside You-

Author by Icha @angelofcha

Genre : Romance, Angst, Sad

Rating : G

Park Jungsoo [Super Junior]

Lee Hyeorin [OC]

Lee Donghae [Super Junior] as a cameo

Choi Siwon [Super Junior] as a cameo

Disclaim : FF ini adalah milik saya seorang >< dan terbukti keasliannya dan ke originalannya dari pemikiran saya langsung, FF ini juga ada di blog saya sendiri http://elfplaygirlz.wordpress.com. Jadi mohon semohon mohonnya (?) jangan plagiat FF ku ini ya >< Super Junior KRY milik saya seorang.  #abaikan.

 

NB: Annyeong readers semua, hohoho..entah apa yang ada di otak author sekarang. Rasanya fanfict ini begitu aneh, gaje, dan ga dapet feelnya sama sekali T.T aigoo…

(readers: thor!!! Kalo ga seru ga usah di publish!! #ditimpuk) mianhae ya readers…tapi biar bagaimanapun, tetap RCL ya😀

‘Just feel that I always beside you’

 

[Hyeorin POV]

“Hyeorin-ah..Hyeorin-ah ireona..” Terdengar suara lembut merasuki indra pendengaranku.

“Hmmm..” gumamku tak jelas dengan kedua mata yang masih terpejam rapat, rasanya sungguh sangat malas untuk membuka kedua kelopak mataku itu. Dan kemudian aku merasakan sentuhan yang hangat di wajahku, tepatnya di pipiku.

“Ireona..ireona chagiya,,lihatlah matahari sudah bersinar.” Katanya lagi masih dengan suara yang lembut. Aku tidak perlu membuka mataku untuk mengetahui siapa yang berbicara, bahkan kalaupun dia berbicara dalam hati aku pasti tahu siapa dia.

Aku terpaksa membuka mataku untuknya, untuk seseorang yang sedari tadi berusaha membangunkanku. Oh bahkan dari tadi malam ia telah bermain – main dalam mimpiku. Aku memijat keningku sesaat sambil berusaha beradaptasi dengan cahaya matahari yang sudah menyeruak menyinari kamar serba putih yang berukuran sedang ini. Hembusan angin pagi yang segar pun menyapaku dari jendela yang sudah setengah terbuka.

Aku tersenyum ketika mendapati dirinya tengah duduk di pinggir kasurku, di sebelah tubuhku.

“Kau akhir – akhir ini menjadi pemalas.” Celutuknya seraya mengulum senyuman, senyuman berlesung pipi yang sangat ku sukai. Ia mengacak rambutku kemudian mengecup keningku. “Mandilah, setelah ini kita jalan – jalan, eotthae?”

Mataku berkilat bersemangat. “Jinjja oppa? Tentu saja!!!! Chankamman, aku mandi dulu.” Seruku seraya menyambar handuk putih yang terlipat rapih diatas nakas kecil disamping tempat tidurku lalu berlari menuju kamar mandi yang terletak satu ruangan dengan kamarku.

Dan masih dapat ku dengar teriakannya dari belakangku “Hati – hati Hyeo-ah, kau bisa terpeleset!”

Aku menggandeng lengan namja disampingku ini dengan mesra. Tak pernah sedetikpun aku berniat untuk melepasnya, terkesan posesif memang. Tapi aku memang tidak dapat kehilangannya, tak mampu ku bayangkan hari – hariku jika tanpa dirinya, aku pasti akan gila. Namja ini sudah seperti jiwaku sendiri, aku bahkan terlalu mencintainya melebihi diriku.

Ia merangkul pinggangku sambil sesekali mengusap rambutku yang di permainkan oleh angin pagi, cahaya matahari yang hangat menyorot tepat di wajah namja tercintaku, sesaat wajahnya terlihat bagaikan permata, berkilauan dan sangat menenangkan. Entah ada apa dengan diriku ini, bahkan hanya dengan melihat wajahnya saja, hatiku sudah cukup tenang.

“Udara pagi memang segar…” ucapku riang, aku memejamkan kedua mataku lalu menghirup udara dalam – dalam, berusaha untuk memasukkan sebanyak mungkin udara pagi yang masih bersih kedalam paru – paruku. Lagi, ia mengacak rambutku.

“Aisshhh..Jungsoo oppa, kenapa kau suka sekali membuat rambutku berantakan eoh? Tidakkah angin itu saja sudah cukup membuat rambutku seperti orang gila?” Keluhku pura – pura kesal. Pura – pura? Tentu saja, siapa yang tidak suka di perlakukan lembut oleh pasangan sendiri?

“Biarlah, toh tidak akan mengurangi kecantikanmu chagiya.” Timpalnya, ia terkekeh geli.

“Tidak usah kau ragukan oppa, kekasihmu ini memang cantik.”

Jungsoo oppa makin terkekeh. “Kau yeoja paling cantik di dunia ini yang pernah ku temui chagi.” Jawabnya dengan mimik wajah yang serius.

“Kau mulai menggombal lagi oppa.” Keluhku, aku pun mengusap pipinya perlahan. Jungsoo oppa memejamkan matanya seolah menikmati sentuhanku.

“Aniyo chagi.” Ia membuka kedua matanya, lalu menatapku dengan pandangan teduhnya, pandangan yang sangat teramat lembut, yang membuatku selalu berfikir bahwa dia sesungguhnya adalah jelmaan dari seorang malaikat. “Aku serius dengan ucapanku, dan kau tahu chagiya? Kau adalah cinta terakhirku.”

Kedua pipiku memanas, aku yakini wajahku sudah semerah tomat sekarang. Akhir – akhir ini, entah sejak kapan lebih tepatnya, Jungsoo oppa sudah berkali – kali mengatakan hal seperti itu. “Kau sedang mencoba untuk melamarku oppa?” Tanyaku.

Ia tersenyum, “Mungkin.” Jawabnya singkat, ia menyingkirkan beberapa helai rambutku yang menutupi dahiku lalu mendaratkan sebuah ciuman hangat disana.

“Yaaa..oppa..jangan menciumku didepan umum seperti itu, lihatlah kita jadi bahan perhatian sekarang.” Kataku dengan wajah yang bersemu. Memang sejak kami berada di sini, di taman ini, orang – orang yang kebetulan lewat di dekat kami selalu saja memperhatikan kami. Atau mungkin hanya memperhatikan Jungsoo oppa? Sudah ku katakana sebelumnya bukan? Jungsoo oppa itu seperti seorang malaikat.

“Ah, biarlah. Mereka hanya iri dengan kita chagiya.”

Jungsoo oppa menggamit pergelangan tanganku dan mulai mengajakku berjalan kembali. Menyusuri jalan setapak yang di penuhi bunga – bunga yang indah dan berwarna – warni. Pandanganku pun teralih pada sebuah toko bunga yang cukup ramai di pinggir taman.

“Mmmh..oppa..” Panggilku, sengaja ku gantungkan kalimatku.

Ia menaikkan sebelah alisnya. “Kau ingin bunga chagiya? Kajja, kita beli bunga yang kau mau.” Katanya telak, seolah dapat membaca apa yang ada dalam pikiranku.

Aku bertepuk tangan kecil, tanpa di ajak dua  kali, aku menarik – narik tangannya menuju toko bunga tersebut. Jungsoo oppa hanya tertawa kecil dan pasrah ketika aku menarik tangannya seperti anak kecil yang menarik tangan appanya untuk menuju kedai es krim.

“Bunga yang itu bagus, oppa.” Tunjukku pada sebuket bunga lily putih.

Jungsoo oppa menganggukkan kepalanya seolah menyetujui pendapatku.

Dan lagi – lagi orang yang berlalu lalang di dekat kami memperhatikan kami sambil berbisik – bisik. Aku merasa risih dengan hal itu, aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan – pelan.

“Oppa, apakah baju yang ku kenakan sekarang tidak bagus? Atau ada yang kotor?” tanyaku lirih pada Jungsoo oppa.

“Dae? Aniyo, dress mu ini sangat bagus chagi, cocok untukmu. Dan….” Jungsoo oppa memutar – mutar badanku. “Tidak ada yang kotor ataupun robek, waegurae chagiya?”

Aku menggigit bibir bawahku. “Orang – orang selalu memperhatikan kita, apa ada yang salah dengan bajuku?”

“Kau terlalu cantik chagiya, mereka pasti iri denganmu.” Katanya menyemangati. Ia menepuk kepalaku pelan.

“Annyeonghaseyo, selamat datang di toko bunga sapphire flower.” Sapa seorang pegawai toko, ia membungkukkan badannya dengan sopan. ” Jeoneun Choi Siwon imnida, ada yang bisa saya bantu nona?”

“Ah, ya..Choi Siwon-ssi, berapa harga untuk sebuket bunga lily putih itu?” Tanyaku pada pegawai itu, aku menunjuk bunga yang ku maksud, namja berperawakan tinggi itu sedikit menoleh untuk melihat bunga yang ku maksudkan.

“Igo? Sebuket lily putih itu kami hargai 10 won nona.” Jawabnya sambil tersenyum, senyuman yang agak aneh menurutku.

“Baiklah, aku ingin bunga lily itu, ya kan oppa?”

Pegawai toko itu tersenyum kikuk. “Nona dapat mengambil bunga ini di kasir setelah membayarnya.” Sambar Choi Siwon cepat, ia lantas mengambil bunga lily pilihanku dan buru – buru menuju kasir seolah menghindariku.

Aku menghentakkan kakiku kesal. “Ada apa dengan semua orang hari ini? Apakah aku terlihat jelek oppa?” Rengekku pada Jungsoo oppa. “Atau aku bau oppa? Aku kan sudah mandi tadi.”

Jungsoo oppa tersenyum, sementara itu pandangannya menerawang entah kemana. “Kau hanya tidak tahu saja chagiya, kajja kita bayar bunga itu lalu kita pergi ke danau, tempat favorit kita.”

Aku menghirup wangi bunga lily yang berada dalam genggamanku, sementara itu setelah kami keluar dari toko bunga, sang pegawai Choi Siwon masih memperhatikan kami dengan wajah yang bisa dibilang khawatir.

Berkali – kali aku menoleh kebelakang, dan namja itu masih tetap berada didepan pintu toko memperhatikan kami. “Oppa lihatlah, orang itu masih memperhatikan kita oppa.”

“Biarkan saja chagiya, dia pasti terpesona olehmu. Sudah jangan di pikirkan lagi.”

Setelah berjalan cukup lama dengan keheningan yang meliputi kami, kami pun sampai di sebuah danau yang jaraknya memang agak jauh dari taman. Rasa kesalku menguap begitu saja ketika pemandangan indah tersaji dihadapanku.

Aku berlari – lari kecil menuju pinggir danau.

“Hati – hati chagiya, kau bisa jatuh nanti.” Serunya.

Aku melambaikan tanganku pada namja yang paling ku cintai itu. Jungsoo oppa menghampiriku lalu memelukku dari belakang, ia mengecup pipiku sekilas. “Kau tunggu disini, aku mau ke kamar mandi.” Katanya, dan aku mengangguk patuh.

“Oppa pergi jangan terlalu lama, dae?”

Jungsoo oppa terdiam, bisa ku rasakan helaan nafasnya di ceruk leherku. “Chagiya, dengarkan aku, kau harus mematuhi apa yang Donghae oppamu katakan padamu. Arraseo? Jangan pernah membantahnya apapun yang ia perintahkan padamu.”

Aku tertegun, bisa – bisanya ia memikirkan hal seperti itu disaat kami sedang berduaan.

“Berjanjilah.” Katanya lagi.

“Dae oppa, yaksok.”

Ia mengecup pipiku lagi. “Kalau begitu aku pergi dulu.”

“Ya!!!!! Lee Hyeorin!!!!!” panggil seseorang dari belakangku.

Aku merasa aku sangat mengenal suaranya. Itu seperti suara…”Donghae oppa???”

Donghae oppa menghampiriku dengan nafas yang tersengal – sengal. “Kenapa kau keluar eoh? Sudah ku katakan berulang kali padamu jangan pernah kau keluar sendirian, terlalu berbahaya untukmu Hyeo-ah.”

Aku mendengus kesal menghadapi tingkah protective oppaku yang satu ini. “Aku tidak keluar sendirian oppa, aku bersama Jungsoo oppa. Kau ini terlalu berlebihan oppa.” Sergahku.

“D-dae?? Jungsoo hyung?” Donghae oppa mengerang. “Kau lihat disana mobil oppa terpakir? Kau pergilah duluan dan masuk kedalam mobil sekarang.” Titahnya.

“Mwo?? Hajiman oppa, Jungsoo oppa sedang ke kamar mandi, ia memintaku menunggunya.”

“Jungsoo hyung menelfonku tadi, katanya ia ada urusan mendadak jadi ia meminta kau pulang denganku Hyeo-ah. Cepat masuk kedalam mobil.”

Aku memeluk buket bunga yang Jungsoo oppa belikan untukku. “Lalu oppa mau apa?”

“Oppa mau ke kamar mandi sebentar. Sudah jangan banyak bertanya. Ppali.”

“Aish.. Jungsoo oppa tega sekali pergi di saat kencan denganku.” Rutukku kesal.

[Author POV]

“Hyung, apalagi yang harus ku katakan padamu? Tidak bisakah kau membantu Hyeorin untuk sembuh? Kalau kau terus – terusan menemuinya seperti ini, dia tidak akan bisa sembuh hyung.” Ucap Donghae sinis pada sosok yang ada di hadapannya.

Jungsoo tertunduk lesu. “Aku..aku tidak bisa meninggalkannya Donghae-ah.”

“Kalau kau mencintainya hyung, tinggalkan dia. Biarkan ia sembuh.”

“Kau ingat aku pernah melakukannya, dan apa hasilnya?” Jungsoo menengadahkan kepalanya, menatap Donghae penuh dengan pengharapan.

“Penyembuhannya tidak akan semudah membalikkan telapak tangan hyung, butuh waktu dan proses yang cukup lama. Biarkan aku yang menanggung semuanya hyung, dia yeodongsaengku. Aku bertanggung jawab penuh atas dirinya.”

Kedua namja itu terdiam, hanya terdengar suara – suara yang di hasilkan oleh binatang – binatang kecil penghuni danau.

“Aku mohon hyung, pergilah. Jangan khawatirkan dirinya lagi. Keberadaanmu di sini juga tidak baik untukmu hyung. Aku ingin kau tenang dan bahagia.”

Jungsoo terdiam, kedua tangannya mengepal.

“Jika kau mencintainya hyung, biarkan dia sembuh tanpa bayang – bayangmu. Apa kau mau dia terus – terusan seperti ini hyung? Kau tidak kasihan padanya?” lanjut Donghae lirih.

Donghae merasakan sebuah cahaya yang menyilaukan membutakan matanya dan angin kencang menampar pipinya, ia memicingkan matanya.

“Geurom, jika aku pergi, jawaban apa yang akan kau berikan padanya jika ia bertanya tentangku?”

Donghae mengerjapkan matanya berulang kali. Kini sosok itu sudah terlihat wujud aslinya. Park Jungsoo telah mengeluarkan kedua sayap putihnya yang lebar dan bersih. Tubuhnya pun telah sedikit terangkat dari tanah, kakinya tak lagi menapak.

“Biarkan aku yang mengurusnya, hyung. Kau tidak perlu memikirkannya. Kembalilah hyung, tinggallah disana dengan tenang.”

Jungsoo mengalihkan pandangannya dari Donghae, bibirnya terkatup rapat. “Bisakah kita membuat sebuah perjanjian Donghae-ah? Kau tahu aku terlalu mencintai yeodongsaengmu itu.”

Donghae menghela nafas, “Perjanjian seperti apa hyung?” jawabnya, ia mengalah. Memang sungguh sulit menghadapi sifat keras kepala hyungnya yang sudah ia kenal semasa hidupnya itu.

“Biarkan aku tetap disamping Hyeorin, menjaganya dan menuntunnya tanpa perlu menunjukkan wujudku. Hanya sedikit memberikannya sentuhan agar dia tenang. Dan kau jangan lagi memintaku untuk pergi kesana.”

Donghae mengerutkan keningnya, jelas sekali ia sedang berfikir keras tentang perjanjian itu. Dengan ragu ia menganggukkan kepalanya. “Baiklah hyung, asalkan kau tidak sedetikpun menunjukkan wujudmu dalam bentuk apapun.”

Kemudian cahaya menyilaukan itu perlahan mulai meredup lalu menghilang.

[Epilog]

“Hei..kau lihat tidak? Yeoja itu berbicara sendirian..” bisik seorang yeoja pada temannya, ia melirik kearah yeoja yang sedang berada di depan meja buket bunga lily.

“Ya, aku melihatnya, apakah dia orang gila?”

“Tapi yeoja itu terlalu rapih dan bersih untuk ukuran orang gila.”

“Mungkin dia orang gila dari keluarga kaya raya. Lihat saja dia membawa uang untuk membeli bunga.”

“Kasihan sekali yeoja itu, ia nampaknya berhalusinasi berbicara dengan kekasihnya.”

“Pasti kekasihnya telah meninggal dunia. Kasihannya dia, semoga Tuhan memberkatinya.”

[END]

 

16 responses

  1. sedih bgt sih ceritanya?? LeeTeuk knp dah meninggal sih, kan jd ga bisa bersatu deh,,,#nangis dipojokan ambil ngelap ingus,,,,,JOROK# Plaakk,,,,

Comment Please ^^ Don't Be Siders okay ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s